Abnormalitas EKG

  • Sharebar
Gangguan Irama
A. Aritmia atrial

o Denyut atrial prematur (ektopik). Gelombang P terjadi prematur dan diikuti oleh gambaran normal QRS-T. Interval PR pada denyut prematur tidak berbeda, lebih panjang atau lebih pendek daripada denyut konduksi sinus.

o Takikardi atrium. Aktivitas atrium teratur, interval PP konstan dan frekuensi atrium + 160-220.

o Flutter atrium. Didapatkan aktivitas atrium yang teratur, interval PP konstan, dan frekuensi atrium ± 260-320. Gelombang P merupakan konfigurasi gigi gergaji (sawtooth), biasanya menghilang dan terbalik di sadapan II, III, dan aVF. Blok AV dapat terlihat tersering 2:1 atau 4:1, menghasilkan irama ventrikel yang lebih lambat dan teratur. Kadang-kadang derajat blok AV bervariasi (2:1, 3:1, 4:1, dst) menghasilkan respons ventrikel yang iregular.

o Fibrilasi atrium. Aktivitas atrium amat cepat dan tidak teratur; terdapat multidefleksi pada gambaran EKG dasar. Irama ventrikel iregular. Fibrilasi atrium dengan irama ventrikel yang teratur menunjukkan adanya disosiasi lengkap dari AV. Frekuensi ventrikel biasanya dalam kisaran 50-100. Bila kompleks QRS lebar, bersambung atau bertakik, menunjukkan adanya irama idioventrikular dan frekuensi ventrikel biasanya < 50.

B. Aritmia ventrikel

o Denyut ventrikel prematur (ektopik). Ditunjukkan dengan adanya kompleks QRS yang lebar, bertakik atau bersambung di mana tidak didahului oleh gelombang P dan terjadi prematur dalam hubungannya dengan interval RR.

o Takikardi ventrikel. Frekuensi ventrikel biasanya dalam kisaran 140-200 dan biasanya sedikit iregular. Biasanya tidak terlihat adanya gelombang P atau terdapat disosiasi AV.

o Irama idioventrikel. Irama ventrikel teratur atau sedikit tidak teratur, frekuensi 30-40.

o Irama akselerasi idioventrikular. Sama seperti irama idioventrikular, kecuali frekuensi ventrikel 60-120.

o Fibrilasi ventrikel. Pencatatan gelombang EKG yang cepat dan tidak teratur. Keadaan ini merupakan henti jantung (cardiac arrest) karena praktis tidak terdapat sistolik ventrikel yang efektif

o Ventrikel asistolik. Tidak terdapat kompleks ventrikel selama beberapa detik sampai menit. Keadaan ini merupakan henti jantung.

 
Gangguan Hantaran
A. Right Bundle Branch Block (RBBB)

Kriteria untuk RBBB:

1. Interval QRS = 0,12 detik atau lebih (RBBB lengkap); 0,1-0,12 detik merupakan RBBB tidak lengkap.

2. Lebar, bersambung, dengan gelombang S di sadapan I, V5-6

3. Lebar, bertakik, atau bersambung, sering disertai gelombang R’ di sadapan V1-2 (kadang-kadang V3, RSR’).

4. Depresi ST dan gelombang T terbalik di V1 -2.

B. Left Bundle Branch Block (LBBB)

Kriteria untuk LBBB:

1. Interval QRS = 0,12 detik atau lebih (LBBB lengkap); 0,1-0,12 detik adalah LBBB tidak lengkap.

2. Tidak ditemukan gelombang Q di sadapan I, V5-6.

3. Kompleks QRS lebar, bertakik, atau bersambung, terutarna di V5-6.

4. QRS tegak (positif) di sadapan I, V5-6.

5. Depresi ST dan gelombang T terbalik di sadapan I, V5-6.

C. Bilateral Bundle Branch Block

1. RBBB + blok fasikular anterior kiri

a. Semua kriteria untuk RBBB ditambah

b. Aksis bidang frontal QRS > -30o

2. RBBB + blok fasikular posterior kiri

a. Semua kriteria untuk RBBB ditambah

b. Aksis bidang frontal QRS > + 110o

c. Tidak terdapat bukti klinis adanya hipertrofi ventrikel kanan/infark dinding jantung lateral.

3. RBBB + blok AV derajat 1

4. LBBB + blok AV derajat 1

5. RBBB + LBBB yang ditemukan bergantian pada pencatatan tunggal/serial

D. Blok AV

B. Derajat 1 – irama sinus, interval P-R > 0,21 detik

C. Derajat 2 – interval dapat teratur atau tidak teratur. Terdapat gelombang P yang tidak diikuti dngan kompleks QRS. Interval P-P konstan.

Mobitz I (Wenckebach) – dalam siklusnya terdapat pemanjangan progresif dari interval PR sampai gelombang P tidak diikuti dengan kompleks QRS.

Mobitz II – pada sekuensial yang teratur (2:1, 3:1) atau sekuensial yang tidak teratur (3:2, 4:3, dst), gelombang P tidak diikuti dengan QRS. Interval PR dalam hantarannya adalah konstan.

D. Derajat 3 – disosiasi lengkap antara irama atrium dan ventrikel. Irama atrium mungkin sinus normal atau aritmia ventrikel, tetapi tiap aktivitas atrium tidak berhubungan dengan aktivitas ventrikel.

E. AV junctional rhythm – irama atrial yang teratur dengan hantaran AV 1:1 dengan kecepatan 50-l00. Gelombang T terbalik disadapan II, III, dan aVF. Interval PR biasanya pendek, namun mungkin normal/gelombang P terletak sesudah kompleks QRS. Kadang-kadang gelombang P tersembunyi pada kompleks QRS, sehingga tidak terlihat.

F. Blok SA – bila tidak didapatkan adanya gelombang P dan aktivitas listrik total untuk waktu yang merupakan kelipatan bilangan bulat dari PP interval.

G. Ventrikel ekstrasistolik

Kriteria untuk ventrikel ekstrasistolik:

1. Interval RS melebihi 0,12 detik.

2. Beramplitudo besar.

3. Gelombang T berlawanan arah dengan kompleks QRS.

4. Terdapat masa kompensasi penuh, yaitu jarak antam dua siklus jantung termasuk denyut ekstrasistolik adalah sama dengan jarak antara 2 siklus.

5. Timbulnya QRS ini prematur atau lebih cepat dari seharusnya.

 
Kelainan Gelombang
A. Kelainan gelombang P

1. Kelainan bentuk atau konfigurasi

a. Luas, gelombang P bertakik di sadapan I, aVL, dan V4-6. Gelombang P bifasik dengan defleksi negatif yang lebar dan dalam di sadapan VI. Kelainan ini terjadi pada hipertrofi atrium kiri.

b. Gelombang P tinggi dan runcing disadapan II, III, dan aVF. Gelombang P runcing/bifasik di sadapan V1. Kelainan ini terjadi pada hipertrofi atrium kanan.

2. Kelainan arah

a. Gelombang P terbalik disadapan I. Gelombang P tegak (positif) disadapan aVR. Kelainan ini terjadi pada dekstrokardia.

b. Gelombang P terbalik di sadapan aVF (juga di II dan III); gelombang P tegak (positif) di aVR. Kelainan ini terjadi pada AV junction atau gelombang atrium ektopik dan low AV junctional rythm.

B. Kelainan kompleks QRS

1. Kelainan dalam arah bidang frontal dengan durasi QRS normal.

a. Kompleks QRS tegak lurus disadapan I. QRS bifasik; S>R disadapan II deviasi aksis kiri (atau superior) (blok fasikular anterior kiri). Kelainan ini terjadi pada penyakit pembuluh darah koroner, hipertrofi ventrikel kiri, dan emfisema.

b. Kompleks QRS tegak lurus, bifasik, atau terbalik di sadapan aVF. QRS bifasik; S>R di sadapan I (deviasi aksis kanan/RAD). Hal ini dapat normal pada bayi dan anak-anak. Kelainan ini terjadi pada hipertrofi ventrikel kanan, infark dinding posterior dengan blok fasikular posterior kiri.

2. Kelainan durasi QRS (> 0,12 detik)

a. Gelombang S lebar di sadapan I dan V4-6. Getombang R’’ lebar di sadapan V1. Kelainan ini terjadi pada RBBB.

b. Interval RR’ atau RSR’ yang lebar dan bertakik di sadapan I dan V4-6 dengan tidak ditemukannya gelombang Q. Kelainan ini terjadi pada LBBB.

c. Kompleks QRS yang lebar di seluruh sadapan. Kelainan ini terjadi pada hiperkalemia.

C. Kelainan gelombang Q

Gelombang Q dianggap abnormal bila berdurasi 0,04 detik atau lebih, dan > 25% dari gelombang R.

1. Kelainan gelombang Q di sadapan II, III dan aVF. Kelainan ini terjadi pada jantung inferior, emfisema pulmonal, atau hipertrofi ventrikel kanan.

2. Kelainan gelombang Q di sadapan I, aVL dan V4-6. Kelainan ini dapat terjadi pada infark jantung anterior.

3. Kelainan gelombang Q di sadapan V3R-V1, V1-2, V1-3, atau V1-4. Kelainan ini dapat terjadi pada infark jantung anteroseptal, hipertrofi ventrikel kiri hipertrofi ventrikel kanan, dan LBBB.

D. Kelainan gelombang R

1. Gelombang R > 13 mm di sadapan aVL, atau > 27 mm di sadapan V5 atau V6, atau > 35 mm di sadapan V5 (atau V6) ditambah gelombang S di sadapan V1. Kelainan ini dapat terjadi pada hipertrofi ventrikel kiri (dengan pengecualian).

2. Gelombang R > S pada sadapan V1 atau V2. Kelainan ini terjadi pada dekstrokardia.

3. Gelombang R > S di sadapan V1. Kelainan ini terjadi pada hipertrofi ventrikel kanan (terutama jika terdapat deviasi aksis kanan), dan infark jantung posterior.

E. Kelainan kompleks QS

1. Kompleks QS di sadapan V1-2, VI-3, atau V1-4. Kelainan ini dapat terjadi pada infark anteroseptal, hipertrofi ventrikel kiri, LBBB, dan hipertrofi ventrikel kanan.

2. Kompleks QS di sadapan I dan V1-3(4). Kelainan ini dapat terjadi pada infark jantung anterior, emfisema, dan hipertrofi ventrikel kanan.

3. Kompleks QS di sadapan II, III, dan aVF. Kelainan ini dapat terjadi pada infark jantung inferior, emfisema atau hipertrofi ventrikel kanan.

F. Kelainan segmen ST

1. Elevasi segmen ST 1 mm atau lebih.

a. Elevasi segmen ST pada semua sadapan, kecuali di aVR dan V1, dan sadapan aVL pada posisi jantung vertikal. Kelainan ini dapat terjadi pada perikarditis.

b. Elevasi segmen ST di sadapan II, III, dan aVF. Kelainan ini terjadi pada infark jantung inferior dan aneurisma ventrikel.

c. Elevasi segmen ST di sadapan I, aVL dan V4-6. Kelainan ini dapat terjadi pada infark jantung anterior, angina pektoris, dan aneurisma ventrikel.

2. Depresi segrnen ST

a. Depresi seginen ST oblik dan horizontal pada banyak sadapan, kecuali di sadapan aVR dan aVL dengan posisi jantung vertikal. Kelainan ini dapat terjadi pada angina (iskemia), infark subendokardial, obat-obatan seperti digitalis, dan tembakau.

b. Depresi segmen ST oblik dan horizontal pada sadapan V1, V2, dan V3. Kelainan ini dapat terjadi pada iskemia, hipertrofi ventrikel kanan, dan RBBB.

c. Depresi segmen ST oblik dan horizontal pada sadapan I, aVL, dan V4-6. Kelainan ini dapat terjadi pada iskemia, hipertrofi ventrikel kiri, LBBB, elevasi ST resiprokal dengan infark jantung inferior.

d. Depresi segmen ST oblik dan horizontal pada sadapan II, III, dan aVF. Kelainan ini dapat terjadi pada iskemia dan elevasi ST resiprokal dengan infark anterior.

G. Kelainan gelombang T

1. Inversi dalam dari gelombang T.

a. Gelombang T simetris pada banyak sadapan, kecuali di aVR dan aVL pada posisi jantung vertikal. Kelainan ini dapat terjadi pada infark, iskemia, dan perikarditis.

b. Gelombang T inversi yang simetris pada sadapan I, aVL, dan V4-6. Kelainan ini dapat terjadi pada infark jantung anterior.

c. Gelombang T simetris di sadapan II, III, dan aVF. Kelainan ini dapat terjadi pada infark jantung inferior.

2. Gelombang T tegak lurus

a. Gelombang T yang tinggi, runcing dan ramping terjadi pada semua sadapan, kecuali aVR dan aVL pada posisi jantung vertikel. Kelainan ini dapat terjadi pada hiperkalemia.

b. Gelombang T yang tinggi dan simetris disadapan V1-4. Kelainan ini dapat terjadi pada infark jantung posterior.

H. Kelainan gelombang U

1. Gelombang U tegak lurus, lebih tinggi dibanding gelombang T pada sadapan yang sama, terutama pada sadapan V2-4. Kelainan ini dapat terjadi pada hipokalemia.

 

Hipertrofi Jantung:

A. Hipertrofi atrium kiri

Gelombang P yang lebar, tegak, dan bertakik dapat ditemukan pada banyak sadapan bidang frontal dan V4-6. Hal terpenting adalah gelombang P bifasik di mana bagian terminal gelombang P adalah negatif (minimal 1 mm) dan lebar (minimal 0,04 detik).

B. Hipertrofi atrium kanan

Ditandai dengan gelombang P yang tinggi (lebih dari 2,5 mm) dan runcing di sadapan II, III, dan aVF.

C. Hipertrofi ventrikel kiri

1. Kriteria tegangan (voltage criteria) hanya dapat digunakan untuk umur > 35 tahun.

o RI + SIII > 26 mm.

o RaVL > 11 mm.

o RV5 / RV6 > 26 mm.

o SV1 + RV5 atau RV6 > 35 mm.

2. Depresi ST dan inversi gelombang T pada sadapan tersebut dengan tegangan QRS yang tinggi.

3. Aksis superior QRS pada bidang frontal -30 derajat; hal ini dapat saja ditemukan, tapi tidak terlalu esensial untuk menentukan diagnosis.

4. Perpanjangan ringan sampai sedang interval QRS (0,1-0,12 detik) mungkin dapat terlihat.

D. Hipertrofi ventrikel kanan

1. Deviasi aksis ke kanan (right axis deviation, RAD): rata-rata aksis QRS pada bidang frontal lebih dari +110 derajat pada bayi dan anak-anak, dan > +90 derajat pada dewasa > 40 tahun.

2. Gelombang R tinggi di V1 (dan V2); RV-1 > 5 mm dan rasio R:S di V1 > 1. Hal ini lebih sering terlihat pada anak-anak dan dewasa muda dengan penyakit jantung kongenital atau didapat yang dapat mengakibatkan hipertrofi ventrikel kanan.

3. Depresi ST dan gelombang T terbalik di V1 -3.

4. Kebalikan dari B di atas, hipertrofi ventrikel kanan didapat terlambat, seperti kor pulmonal pada dewasa > 60 tahun, biasanya mempunyai karakteristik yaitu gelombang R kecil atau tidak ada di V1 -3 dan EKG mirip dengan keadaan infark miokard anterior.

5. Penggabungan kriteria untuk hipertrofi atrium kiri atau kanan membantu dalam pengenalan hipertrofi ventrikel kanan.

 
Iskemia Miokardium
Iskemia miokardium secara klinis ditunjukkan sebagai angina pektoris, dengan perubahan segmen ST sesaat dan reversibel. Lebih umum dimanifestasikan dengan satu dari kriteria di bawah ini:

1. Depresi segmen ST > 1 mm pada satu atau lebih sadapan.

2. Depresi segmen ST horizontal atau menurun landai dan mempunyai durasi minimal 0,08 detik.

3. Penting untuk membedakan keadaan di atas dengan depresi ‘J point’ yang normal. Keadaan ini dimulai 1-3 mm di bawah garis isoelektrik, tetapi segmen ST langsung naik tajam pada arah ke atas.

4. Kriteria di atas juga digunakan untuk menentukan aktivitas EKG yang positif

 

Catatan:

o Jarang ditemukan EKG pada iskemia miokardium sualu elevasi segmen ST dengan angina spontan atau karena tes latihan. Elevasi segmen ST lebih dari 10 mm dapat saja ditemukan. Gambaran ini menghilang dalam hitungan menit bila nyeri atau latihan dihentikan. Keadaan di atas sering disertai aritmia ventrikel.

o Inversi gelombang T sesaat dapat terlihat selama periode-periode dari iskemia miokardium. Bagaimanapun, pada evaluasi aktivitas EKG, gelombang T dapat berubah sendiri. Bila tidak ditemukan keadaan di atas kriteria gambaran seamen ST- tidak dapat dijamin bahwa interpretasi tes adalah positif.

 
Infark Miokard
Gambaran khas yang terdapat pada EKG sebagai akibat dari infark transmural miokard diikuti oleh:

1. Elevasi segmen ST: hal ini merupakan tanda paling awal dari infark miokardium dan menetap selama beberapa hari sampai 2 minggu.

2. Besar (giant, hyperacute) gelombang T tegak lurus dapat dijumpai di banyak sadapan yang memperlihatkan adanya elevasi ST. Gambaran ini biasanya menghilang dalam 24 jam.

3. Setelah 1-3 hari, gelombang T menjadi terbalik. Hal ini biasanya mencapai puncaknya dalam 1-2 minggu, selama waktu tersebut gelombang T menjadi dalam dan terbalik simetris.

4. Dalam 1-3 hari, timbul gelombang Q abnormal yang menunjukkan adanya infark transmural. Gelombang Q abnormal ditentukan dari kriteria sebagai berikut:

a. Durasi Q = 0,04 detik atau lebih.

b. Rasio Q:R = 25% atau lebih.

c. Kompleks QS dapat dipertimbangkan ekuivalen dengan gelombang Q.

 

Catatan:

Kriteria di atas, jika ditemukan hanya di sadapan III, aVL, atau V1, tidak dapat digunakan untuk menentukan diagnostik infark.

 

Lokasi infark Sadapan

Anterior V2-4

Inferior aVF

Lateral I,V6

Posterior R tinggi, T tegak, V1 -2

 
Perikarditis
1. Pertama kali terdapat elevasi segmen ST pada semua sadapan, kecuali aVR, aVL (posisi jantung vertikal), V1, dan V2.

2. Setelah beberapa hari, segmen ST kembali kepada garis isoelektris dan gelombang T menjadi terbalik.

3. Aritmia atrium biasa ditemukan.

4. Tidak ada perubahan pada kompleks QRS dan konduksi intraventrikular (AV) tidak terganggu.

5. Keadaan perubahan ST-T di atas tidak terjadi pada keadaan perikarditis uremia.

 
Pengaruh Obat-obatan
A. Digitalis

1. Pengaruh: perubahan yang mengikuti EKG menunjukkan bahwa pasien memakai digitalis. Ini tidak memberikan tanda dari adanya toksisitas atau berkorelasi dengan derajat dari efektivitas klinis:

a. Depresi segmen ST, kadang terdapat scooped appearance

b. Frekuensi ventrikel melambat, terutama pada fibrilasi atrial

c. Interval QT memendek.

2. Toksisitas: hal-hal di bawah ini adalah tanda-tanda dari adanya keracunan digitalis:

a. Terdapat tanda-tanda sinus bradikardi, frekuensi di bawah 50.

b. Blok AV derajat 1, interval PR yang lebih dari 0,21 detik.

c. Blok AV derajat 2,3.

d. Takikardi atrial, biasanya dengan konduksi AV 2 : 1.

e. Denyut ventrikel ektopik; bigeminus.

f. Takikardi ventrikel.

B. Kuinidin

1. Pengaruh: hal-hal yang berpengaruh pada EKG dapat/tidak dapat menunjukkan adanya toksisitas. Evaluasi klinis penting dalam membuat keputusan:

a. Depresi ST dan gelombang T mendatar (flattening).

b. Repolarisasi ventrikel memanjang dengan gelombang U prominen.

2. Toksisitas. Hal-hal di bawah ini tanda pasti EKG untuk toksisitas kuinidin, yaitu:

a. Interval QRS memanjang: 50% peningkatan di atas terjadi pada interval pretreatment.

b. Blok AV derajat 1,2,3.

c. Disosiasi AV.

d. Denyut ventrikel ektopik.

e. Takikardi ventrikel.

Kecuali blok jantung derajat 1, gambaran di atas adalah kontraindikasi absolut untuk meneruskan terapi kuinidin.

C. Obat-obat lain seperti prokainamid, fenotiazin, dan antidepresan trisiklik mempunyai gambaran EKG yang mirip dengan kuinidin.

 
Gangguan Elektrolit
1. Hiperkalemia.

Peningkatan kalium dalam serum, perubahan yang dapat terlihat:

a. Gelombang T yang tinggi, ramping, dan runcing.

b. Defek konduksi AV.

c. Gelombang P menghilang.

d. Interval QRS melebar.

e. Takikardi ventrikel, fibrilasi.

2. Hipokalemia

Perubahan yang dapat terlihat:

a. Depresi ST dan gelombang T yang rendah.

b. Repolarisasi ventrikel yang memanjang, diikuti dengan gelombang U yang besar dan tegak, terbaik dilihat pada sadapan V2-4, U/T rasio > 1,0. Penemuan ini identik dengan yang dihasilkan oleh kuinidin.

3. Hiperkalsemia

Kadar kalsium serum > 12 mg/l00ml.

a. Ditandai dengan interval Q-T yang memendek.

b. Segmen ST yang merupakan periode isoelektris yang nyata, menghilang (tereliminasi), sehingga gelombang T langsung terdapat pada akhir kompleks QRS.

4. Hipokalemia

Ditandai dengan interval QT yang memanjang, terutama segmen ST.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

IMPORTANT! To be able to proceed, you need to solve the following simple math (so we know that you are a human) :-)

What is 12 + 12 ?
Please leave these two fields as-is: