Abses Retrofaring

  • Sharebar

Definisi

Abses retrofaring adalah kumpulan nanah yang terbentuk di ruang retrofaring. Biasanya pada anak 3 bulan-5 tahun karena ruang retrofaring masih berisi kelenjar limfe.

 

Etiologi

Kuman penyebab infeksi biasanya merupakan campuran aerob dan anaerob. Sumber infeksi berasal dari infeksi akut saluran napas atas yang secara langsung atau secara limfogen menyebabkan infeksi kelenjar limfe retrofaring, trauma benda asing, atau tuberkulosis servikal.

 

Manifestasi Klinis

Demam, leher kaku, nyeri dan sukar menelan. Posisi kepala hiperekstensi dan miring ke arah yang sehat. Anak kecil akan menangis terus dan tidak mau makan atau minum. Dapat timbul sesak napas, stridor, dan perubahan suara. Pada dinding belakang faring ­tampak benjolan hiperemis yang teraba lunak. Pada anak jangan dipalpasi untuk mencegah abses pecah spontan.

 

Komplikasi

Dehidrasi, penjalaran ke ruang parafaring dan ruang vaskular visera, mediastinitis, obstruksi jalan napas sampai asfiksia, pneumonia aspirasi, dan abses paru.

 

Pemeriksaan Penunjang

Pada foto jaringan lunak leher lateral terdapat penebalan jaringan lunak di depan vertebra servikal atau gambaran udara atau air fluid level pada jaringan lunak retrofaring, serta berkurangnya lordosis vertebra pada foto biasa. Bila ragu, dapat dilakukan dengan barium enema. Dengan tomografi komputer dapat jelas dibedakan abses dengan selulitis, letaknya, dan perluasan ke sekitar.

 

Diperlukan pula pemeriksaan kultur dan Gram.

 

Diagnosis Banding

Adenoiditis, hematoma, tumor, dan aneurisma aorta.

 

Penatalaksanaan

Terapi medikamentosa diberikan antibiotik dosis tinggi untuk kuman aerob dan anaerob secara parenteral. Sebelum ada hasil kultur dan resistensi, diberikan antibiotik terhadap kuman anaerob dan aerob, berupa penisilin G 300.000-1.200.000 unit, atau amoksisilin 25-50 mg/kg BB, atau sefalosporin 25-50 mg/kg BB, atau gentamisin 1-2 x 20-80 mg sehari. Kloramfenikol 50 mg/kg BB. Metronidazol diberikan perinfus/oral/rektal 3 x 62,5-500 mg. Pada infeksi tuberkulosis diberikan tuberkulostatik. Bila perlu diberikan antipiretik dan analgesik.

 

Dilakukan pungsi dan insisi abses dengan laringoskop langsung pada penonjolan yang paling berfluktuasi dalam posisi pasien Trendelenburg, baik dalam analgesik lokal atau anestesi umum. Pus yang keluar segera diisap untuk menghindari aspirasi. Pasca tindakan dipasang pipa hidung-lambung, dan pasien dirawat inap sampai gejala dan tanda infeksi reda.

 

Bila terdapat sumbatan jalan napas dapat dilakukan trakeostomi.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

IMPORTANT! To be able to proceed, you need to solve the following simple math (so we know that you are a human) :-)

What is 10 + 7 ?
Please leave these two fields as-is: