Asfiksia Mekanik

  • Sharebar
Definisi
Asfiksia atau mati lemas adalah suatu keadaan yang ditandai dengan terjadinya gangguan pertukaran udara pernapasan dalam paru-paru yang mengakibatkan hipoksia dan hiperkapnia. Asfiksia dapat terjadi alami, akibat trauma mekanik, atau keracunan.

Mati lemas terjadi bila udara pernapasan terhalang memasuki saluran pernapasan oleh berbagai kekerasan yang bersifat mekanik, misalnya:

1. Penutupan lubang saluran pernapasan bagian atas, meliputi pembekapan dan penjeratan

2. Penekanan dinding saluran pernapasan, meliputi penjeratan, pencekikan, dan gantung

3. Penekanan dinding dada dari luar (asfiksia traumatik)

4. Saluran napas terisi air, meliputi tenggelam (drowning)

 

Pada orang yang mengalami asfiksia akan timbul gejala :

1. Fase dispnu: perangsangan medula oblongota karena kadar O2 rendah dan CO2 yang tinggi berupa amplitudo-frekuensi napas meningkat, nadi cepat, tensi tinggi, tanda-­tanda sianosis pada muka-tangan.

2. Fase konvulsi: rangsangan susunan saraf pusat akibat peningkatan CO2 berupa kejang klonik, lalu tonik, akhirnya opistotonus, pupil dilatasi, denyut jantung menurun, tensi turun.

3. Fase apnu: depresi pusat napas hingga berhenti, kesadaran turun, relaksasi sfingter.

4. Fase akhir: Paralisis pusat pernapasan lengkap. Jantung masih berdenyut beberapa saat sesudahnya.

 

Lama proses asfiksia sampai timbul kematian umumnya antara 4-5 menit.

o Pembekapan adalah penutupan lubang hidung dan mulut yang menghambat pemasukan udara ke paru-paru.

o Gagging dan Chocking terjadi jika jalan napas tersumbat oleh benda asing. Pada gag­ging sumbatan terdapat dalam orofaring, sedangkan pada chocking terdapat pada laringofaring.

o Pencekikan adalah penekanan leher dengan tangan yang menyebabkan dinding saluran napas bagian atas tertekan dan terjadi penyempitan saluran napas sehingga udara pernapasan tidak dapat lewat. Mekanisme kematian adalah asfiksia dan refleks vagal.

o Penjeratan adalah penekanan benda asing berupa tali, ikat pinggang rantai, stagen, kawat, kabel, kaos kaki dan sebagainya, melingkari dan mengikat leher yang makin lama makin kuat sehingga saluran napas tertutup. Mekanisme kematian adalah asfiksia atau refleks vagal.

o Gantung adalah penekanan benda asing berupa benda panjang melingkari leher dengan tekanan tenaga yang berasal dari barat badan korban sendiri. Mekanisme kematian berupa kerusakan batang otak dan medula spinalis, asfiksia, iskemi otak, dan refleks vagal. Diketahui beberapa jenis gantung: typical hanging (titik gantung pada garis pada garis pertengahan belakang dan tekanan pada arteri karotis paling besar), atypi­cal hanging (titik gantung di samping menimbulkan gambaran muka yang kebiruan), dan kasus dengan titik gantung di depan atau di dagu.

 
Pemeriksaan Jenazah
Pada pemeriksaan luar dapat ditemukan;

1. Sianosis pada bibir, ujung jari dan kuku

2. Lebam mayat merah kebiruan lebih gelap dan terbentuk lebih cepat dan lebih luas

3. Busa halus pada hidung dan mulut

4. Pelebaran pembuluh darah konjungtiva bulbi dan palpebra

5. Bintik-bintik perdarahan (Tardieu’s spot) pada konjungtiva bulbi dan palpebra

6. Tanda-tanda kekerasan dan tanda-tanda perlawanan. Pada kasus bekap dapat ditemukan luka lecet (goresan kuku, jenis tekan/geser) atau memar pada ujung hidung, bibir, pipi, dagu. Pada kasus penyumbatan akan ditemukan benda asing atau tanda kekerasan akibat benda asing. Pada kasus jerat dan gantung dapat ditemui tuka lecet sekitar jejas jerat, berupa kulit mencekung warna coklat-kaku dengan gambaran sesuai dengan pola permukaan tali.

7. Untuk kasus jerat, jelas biasanya mendatar, melingkari leher, setinggi/di bawah rawan gondok. Pada kasus gantung yang typical akan timbul hambatan total arteri sehingga muka pucat dan tidak terdapat petekie pada kulit-konjungtiva sedangkan pada yang atypical akan terjadi hambatan jalan nafas dan aliran vena sehingga terjadi bendungan di sebelah atas ikatan, pada kulit-konjungtiva masih terdapat petekie. Kadang pada tepi jerat akan terdapat sedikit perdarahan. Adanya bula dan vesikel di sekitar juga merupakan petunjuk bahwa kekerasan terjadi intravital. Jejas gantung biasanya lebih tinggi dibanding jejas pada kasus jerat. Lebam mayat pada gantung terdapat pada lengan bawah dan tungkai bawah.

 

Pada pemeriksaan dalam dapat ditemukan:

1. Darah berwarna lebih gelap dan lebih encer

2. Busa halus di saluran pernapasan

3. Perbendungan sirkulasi pada seluruh organ dalam tubuh, sehingga organ dalam tubuh menjadi lebih gelap dan lebih berat.

4. Petekie (Tardieu’s spot) pada mukosa organ dalam: perikardium, pleura viseralis paru terutama pada aorta lobus dan busur, kelenjar tiroid, kelenjar timus, pielum ginjal.

5. Edema paru

6. Kelainan-kelainan lain yang berhubungan dengan kekerasan, seperti resapan darah pada luka, fraktur tulang lidah, fraktur laring.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

IMPORTANT! To be able to proceed, you need to solve the following simple math (so we know that you are a human) :-)

What is 12 + 10 ?
Please leave these two fields as-is: