Bartolinitis

  • Sharebar

Patofisiologi

Sumbatan duktus utama kelenjar Bartolin menyebabkan retensi sekresi dan dilatasi kistik. Kelenjar Bartolin membesar, merah, nyeri, dan lebih panas dari daerah sekitarnya. Isi di dalam berupa nanah dapat keluar melalui duktus atau bila tersumbat (biasanya akibat infeksi), mengumpul di dalam menjadi abses.

 

Manifestasi Klinis

Keluhan pasien umumnya adalah benjolan, nyeri, dan dispareunia. Penyakit ini cukup sering rekurens. Dapat terjadi berulang, akhirnya menahun dalam bentuk kista Bartolin. Kista tidak selalu menyebabkan keluhan, tapi dapat terasa berat dan mengganggu koitus.

 

Penatalaksanaan

Jika usia pasien sudah lanjut, adanya benjolan harus dicurigai sebagai keganasan meskipun jarang, kemudian dilakukan pemeriksaan yang seharusnya. Yang tepat adalah biopsi. Diberikan antibiotik yang sesuai (umumnya terhadap Klamidia, Gonokok, Bakteroides, dan Escherichia coli) bila belum terjadi abses. Jika sudah bernanah, harus dikeluarkan dengan sayatan.

 

Jika terbentuk kista yang tidak besar dan tidak mengganggu, tidak perlu dilakukan apa-apa. Pernbedahan berupa ekstirpasi dapat dilakukan bila diperlukan. Yang dianjurkan adalah marsupialisasi, yaitu sayatan dan pengeluaran isi kista diikuti penjahitan dinding kista yang terbuka pada kulit vulva yang terbuka pada sayatan. Tindakan ini terbukti tak berisiko dan hasilnya memuaskan. Jika terdapat hubungan keluar yang permanen, infeksi rekurens dapat dicegah.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

IMPORTANT! To be able to proceed, you need to solve the following simple math (so we know that you are a human) :-)

What is 9 + 7 ?
Please leave these two fields as-is: