Category Archives: Praanestesi

Persiapan Hari Operasi

o Pembersihan dan pengosongan saluran pencernaan untuk mencegah aspirasi isi lambung karena regurgitasi/muntah. Pada operasi elektif, pasien dewasa puasa 6-8 jam namun pada anak cukup 3-5 jam.

o Gigi palsu, bulu mata palsu, cincin, dan gelang dilepas serta bahan kosmetik (lipstik, cat kuku) dibersihkan sehingga tidak mengganggu pemeriksaan.

o Kandung kemih dikosongkan dan bila perlu lakukan kateterisasi.

o Saluran napas dibersihkan dari lendir.

o Pembuatan informed consent berupa ijin pembedahan secara tertulis dari pasien atau keluarga.

o Pasien masuk kamar operasi mengenakan pakaian khusus (diberi tanda dan label terutama pada bayi).

o Pemeriksaan fisis dapat diulang di ruang operasi.

o Pemberian obat premedikasi secara intramuskular atau oral dapat diberikan ½ -1 jam sebelum dilakukan induksi anestesi atau beberapa menit bila diberikan secara intravena.

 

Klasifikasi ASA

Berdasarkan status fisis pasien, American Society of Anesthesiologists (ASA) membuat klasifikasi pasien menjadi kelas-kelas:

1. Pasien normal dan sehat fisis dan mental

2. Pasien dengan penyakit sistemik ringan dan tidak ada keterbatasan fungsional

3. Pasien dengan penyakit sistemik sedang hingga berat yang menyebabkan keterbatasan fungsi

4. Pasien dengan penyakit sistemik berat yang mengancam hidup dan menyebabkan ketidakmampuan fungsi

5. Pasien yang tidak dapat hidup/bertahan dalam 24 jam dengan atau tanpa operasi

6. Pasien mati otak yang organ tubuhnya dapat diambil

 

E Bila operasi yang dilakukan darurat (emergency) maka penggolongan ASA diikuti huruf E (misalnya 1E atau 2E)

 

Perencanaan Anestesi

Setelah pemeriksaan dilakukan dan telah didapat gambaran tentang keadaan pasien selanjutnya dibuat rencana pemberian obat dan teknik anestesi yang digunakan. Dengan perencanaan anestesi yang tepat, kemungkinan terjadinya komplikasi saat operasi dan pascaoperasi dapat dihindarkan.

 

Rencana anestesi meliputi hal-hal:

1. Premedikasi

2. Jenis anestesi

a. Umum: perhatikan manajemen jalan napas (airway), pemberian obat induksi, rumatan, dan relaksan otot.

b. Anestesi lokal/regional: perhatikan teknik dan zat anestetik yang akan digunakan

3. Perawatan selama anestesi: pemberian oksigen dan sedasi

4. Pengaturan intraoperasi meliputi monitoring, keracunan, pengaturan cairan, dan penggunaan teknik khusus

5. Pengaturan pascaoperasi meliputi pengendalian nyeri dan perawatan intensif (ventilasi pascaoperasi dan pengawasan hemodinamik)

 

 

Persiapan Praanestesi

Pasien yang akan menjalani anestesi dan pembedahan (elektif/darurat) harus dipersiapkan dengan baik. Kunjungan praanestesi pada bedah elektif dilakukan 1-2 hari sebelumnya dan pada bedah darurat sesingkat mungkin. Kunjungan praanestesi bertujuan mempersiapkan mental dan fisis pasien secara optimal, merencanakan dan memilih teknik dan obat-obat anestetik yang sesuai, serta menentukan klasifikasi yang sesuai (berdasarkan klasifikasi ASA).

 

Pemeriksaan praoperasi anestesi

I. Anamnesis

1. Identifikasi pasien yang terdiri dari nama, umur, alamat, pekerjaan, agama, dll.

2. Keluhan saat ini dan tindakan operasi yang akan dihadapi.

3. Riwayat penyakit yang sedang/pernah diderita yang dapat menjadi penyulit anestesi seperti alergi, diabetes melitus, penyakit paru kronis (asma bronkial, pneumonia, dan bronkitis), penyakit jantung (infark miokard, angina pektoris, dan gagal jantung, hipertensi, penyakit hati, dan penyakit ginjal.

4. Riwayat obat-obatan yang meliputi alergi obat, intoleransi obat, dan obat yang sedang digunakan dan dapat menimbulkan interaksi dengan obat anestetik seperti kortikosteroid, obat antihipertensi, antidiabetik, antibiotik, golongan aminoglikosida, digitalis, diuretika, obat antialergi, trankuilizer (obat penenang), monoamino oxi­dase inhibitor (MAO), dan bronkodilator.

5. Riwayat anestesi/operasi sebelumnya yang terdiri dari tanggal, jenis pembedahan dan anestesi, komplikasi, dan perawatan intensif pascabedah.

6. Riwayat kebiasaan sehari-hari yang dapat mempengaruhi tindakan anestesi seperti merokok, minum alkohol, obat penenang, narkotik, dan muntah.

7. Riwayat keluarga yang menderita kelainan seperti hipertermia maligna.

8. Riwayat berdasarkan sistem organ yang meliputi keadaan umum, pernapasan, kardiovaskular, ginjal, gastrointestinal, hematologi, neurologi, endokrin, psikiatrik, ortopedi, dan dermatologi.

9. Makanan yang terakhir dimakan.

 

II. Pemeriksaan Fisis

1. Tinggi dan berat badan. Untuk memperkirakan dosis obat, terapi cairan yang diperlukan, serta jumlah urin selama dan sesudah pembedahan.

2. Frekuensi nadi, tekanan darah, pola dan frekuensi pernapasan, serta suhu tubuh.

3. Jalan napas (airway). Daerah kepala dan leher diperiksa untuk mengetahui adanya trismus, keadaan gigi geligi, adanya gigi palsu, gangguan fleksi ekstensi leher, deviasi trakea, massa, dan bruit.

4. Jantung, untuk mengevaluasi kondisi jantung.

5. Paru-paru, untuk melihat adanya dispnu, ronki, dan mengi.

6. Abdomen untuk melihat adanya distensi, massa, asites, hernia, atau tanda regurgitasi.

7. Ekstremitas, terutama untuk melihat perfusi distal, adanya jari tabuh, sianosis, dan infeksi kulit, untuk melihat di tempat-tempat pungsi vena atau daerah blok saraf regional.

8. Punggung bila ditemukan adanya deformitas, memar, atau infeksi.

9. Neurologis, misalnya status mental, fungsi saraf kranial, kesadaran, dan fungsi sensorimotorik.

 

III. Pemeriksaan Laboratorium

1. Rutin: darah (hemoglobin, leukosit, hitung jenis leukosit, golongan darah, masa perdarahan, dan masa pembekuan), urin (protein, reduksi, dan sedimen), foto dada (terutama untuk bedah mayor), elektrokardiograf (untuk pasien berusia di atas 40 tahun).

2. Khusus, dilakukan bila terdapat riwayat atau indikasi:

§ elektrokardiografi pada anak

§ spirometri dan bronkospirometri pada pasien tumor paru

§ fungsi hati pada pasien ikterus

§ fungsi ginjal pada pasien hipertensi