Category Archives: Resusitasi Jantung Paru

Komplikasi Resusitasi

Penyulit yang dapat terjadi akibat RJP adalah edema paru (46,0%), fraktur iga (34,0%), dilatasi lambung (28,0%), fraktur sternum (22,2%), vomitus orofaring (9,5%), vomitus trakea (8,9%), darah masuk ke dalam perikard (8,1%), salah penempatan pipa endotrakeal 3,9%), ruptur hati (1,9%), aspirasi (1,3%), ruptur lambung (0,1%), atau kontusio miokardial (1,3%).

 

Keputusan untuk Mengakhiri Upaya Resusitasi

Dalam keadaan darurat, resusitasi dapat diakhiri bila terdapat salah satu dari berikut ini:

1. Telah timbul kembali sirkulasi dan ventilasi spontan yang efektif.

2. Ada orang lain yang mengambil alih tanggung jawab.

3. Penolong terlalu capai sehingga tidak sanggup meneruskan resusitasi.

4. Pasien dinyatakan mati.

5. Setelah dimulai resusitasi, ternyata kemudian diketahui bahwa pasien berada dalam stadium terminal suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan atau hampir dipastikan bahwa fungsi serebral tidak akan pulih, yaitu sesudah ½ – 1 jam terbukti tidak ada nadi pada normotermia tanpa RJP.

 

Pasien dinyatakan mati bila:

1. Telah terbukti terjadi kematian batang otak.

2. Fungsi spontan pernapasan dan jantung telah berhenti secara pasti/ireversibel.

 

Petunjuk terjadinya kematian otak adalah pasien tidak sadar, tidak ada pernapasan spontan dan refleks muntah, serta terdapat dilatasi pupil yang menetap selama 15-30 menit atau lebih, kecuali pada pasien hipotermik, di bawah efek barbiturat, atau dalam anestesi umum. Sedangkan mati jantung ditandai oleh tidak adanya aktivitas listrik jantung (asistol) selama paling sedikit 30 menit walaupun dilakukan upaya RJP dan terapi obat yang optimal. Tanda kematian jantung adalah titik akhir yang lebih baik untuk membuat keputusan mengakhiri upaya resusitasi.

 

 

Resusitasi pada Bayi dan Anak

Prinsip BHD pada bayi dan anak sama dengan pada orang dewasa. Perbedaannya terjadi karena ketidaksamaan ukuran sehingga diperlukan modifikasi teknik.

 

Ekstensi kepala yang berlebihan dapat menyebabkan sumbatan jalan napas pada bayi dan anak kecil. Kepala hendaknya dijaga dalam posisi netral dengan tetap diusahakan membuka jalan napas.

 

Pada bayi dan anak kecil, ventilasi mulut ke mulut dan hidung lebih sesuai daripada ventilasi mulut ke mulut atau mulut ke hidung. Pemberian ventilasi harus lebih kecil volumenya namun frekuensi ventilasi harus ditingkatkan menjadi 1 ventilasi tiap 3 detik untuk bayi dan 1 ventilasi tiap 4 detik untuk anak-anak.

 

Pukulan punggung dengan pangkal tangan dapat diberikan pada bayi di antara 2 skapula dengan korban telungkup dan mengangkang pada lengan penolong. Hentakan dada diberikan dengan bayi telentang, kepala terletak di bawah melintang pada paha penolong. Pukulan punggung pada anak yang lebih besar dapat diberikan dengan korban telungkup melintang di atas paha penolong dengan kepala lebih rendah dari badan. Hentakan dada dapat diberikan dengan anak telentang di atas lantai.

 

Kompresi dada luar hendaknya diberikan dengan 2 jari pada 1 jari di bawah titik potong garis puting susu dengan sternum pada bayi dan pada pertengahan bawah midsternum pada anak karena jantung terletak sedikit lebih tinggi dalam rongga toraks. Penekanaa sternum 1,5 – 2,5 cm efektif untuk bayi, tetapi pada anak diperlukan penekanan 2,5 – 4 cm. Pada anak yang lebih besar, hendaknya digunakan pangkal telapak tangan untuk kompresi dada luar.

 

Selama henti jantung, pemberian kompresi dada luar harus minimal 100 kali per menit pada bayi dan 80 kali per menit pada anak-anak. Perbandingan kompresi terhadap ventilasi selalu 5 : 1.

 

Tahap-tahap Resusitasi

Bantuan Hidup Dasar (Basic Life Support)

Bantuan hidup dasar atau disebut juga ABC RJP bertujuan melakukan oksigenisasi darurat. Pada awal langkah ABC RJP dilakukan penilaian kesadaran dengan memberikan goncangan dan teriakan. Bila tidak ada tanggapan, korban/pasien diletakkan dalam posisi telentang dan bantuan hidup dasar segera diberikan. Sementara itu penolong dapat meminta pertolongan dan bila mungkin mengaktiikan sistem pelayanan medis darurat.

 

A. Airway Control (pembebasan jalan napas)

Pada pasien yang tidak sadar umumnya terjadi sumbatan jalan napas oleh lidah yang menutupi dinding posterior faring karena terjadi penurunan tonus. Hal ini dapat diatasi dengan tiga cara:

o Ekstensi kepala: ekstensikan kepala korban/pasien dengan satu tangan, bila perlu ganjal bahu.

o Ekstensi kepala dan mengangkat dagu: ekstensikan kepala dan angkat dagu ke atas.

o Ekstensi kepala dan mendorong mandibula: ekstensikan kepala, pegang angulus mandibula pada kedua sisi, kemudian dorong ke depan.

Ketiga hal di atas dikenal sebagai triple airway manouver dari Safar. Metode kedua atau ketiga lebih efektif dalam membuka jalan napas atas daripada metode pertama.

 

Bila diketahui atau dicurigai ada trauma kepala dan leher, korban hanya digerakkan/dipindahkan bila memang mutlak perlu. Pada dugaan patah tulang leher, pendorongan mandibula saja tanpa ekstensi kepala merupakan metode paling aman untuk menjaga agar jalan napas tetap terbuka. Bila belum berhasil, dapat dilakukan sedikit ekstensi kepala.

 

Bila terdapat pernapasan spontan dan adekuat (tidak ada sianosis), letakkan pasien dalam posisi miring mantap untuk mencegah aspirasi. Saat itu kita dapat meminta pertolongan ambulans. Sedangkan bila ventilasi adekuat tetapi napas tidak adekuat (ada sianosis), korban/pasien perlu berikan oksigen lewat kateter nasal atau sungkup muka.

 

B. Breathing Support (ventilasi buatan dan oksigenasi paru secara darurat)

Setelah jalan napas terbuka, segera nilai apakah korban/pasien dapat bernapas spontan dengan merasakan aliran udara pada daun telinga atau punggung tangan penolong, mendengarkan bunyi napas dari hidung dan mulut korban/pasien, serta memperhatikan gerak napas pada dadanya. Ventilasi buatan dilakukan bila pernapasan spontan tidak ada (apnu). Ventilasi dapat dari mulut ke mulut, mulut ke hidung, atau mulut ke stoma (trakea).

 

Pada saat melakukan ventilasi mulut ke mulut, penolong mempertahankan kepala dan leher korban dalam posisi jalan napas tebuka dengan menutup hidung korban/pasien dengan pipi penolong atau memencet hidung dengan satu tangan. Selanjutnya lakukan dua kali ventilasi dalam, segera raba denyut nadi karotis atau femoralis. Bila tetap henti napas tetapi masih teraba denyut nadi, diberikan ventilasi dalam setiap lima detik.

 

Tanda-tanda jalan napas bebas saat diberikan ventilasi buatan yang adekuat adalah bila dada terlihat naik turun dengan amplitudo cukup, ada udara yang keluar melalui hidung dan mulut selama ekspirasi, serta tidak terasa tahanan dan compliance paru selama pemberian ventilasi.

 

Bila ventilasi mulut ke mulut atau ke hidung tidak berhasil baik walaupun jalan napas terbuka, periksa faring untuk melihat adanya sumbatan oleh benda asing atau sekresi.

 

Bila diduga ada sumbatan benda asing, lakukan hentakan punggung di antara dua skapula. Bila tidak berhasil, lakukan hentakan abdomen (abdominal thrust, manuver Heimlich), atau hentakan dada (chest thrust) untuk pasien anak atau ibu hamil. Urutan gerakan Heimlich adalah memberikan 6 – 10 kali hentakan abdomen, membuka mulut dan melakukan sapuan jari, reposisi korban/pasien, membuka jalan napas, dan mencoba memberikan ventilasi buatan. Urutan diulang sampai benda asing keluar dan ventilasi buatan berhasil diberikan. Teknik hentakan dada dapat dilakukan pada korban/pasien yang telentang. Teknik ini sama dengan kompresi dada luar.

 

Bila ada sekresi, lakukan penyapuan dengan jari. Bila gagal, lakukan hentakan abdo­men atau hentakan dada. Pada tindakan jari menyapu, gulingkan korban/pasien pada salah satu sisi. Sesudah membuka mulut korban/pasien dengan satu tangan memegang lidah dan rahangnya, masukkan jari telunjuk dan jari tengah tangan yang lain dari penolong ke dalam satu sisi mulut korban/pasien. Melalui bagian belakang faring kedua jari menyapu dan keluar lagi melalui sisi lain mulut korban/pasien dalam satu gerakan.

 

Bila sesudah dilakukan gerakan tripel (ekstensi kepala, membuka mulut, dan mendorong mandibula) serta pembersihan mulut dan faring, masih ada sumbatan, pasang pipa jalan napas (oropharyngeal airway atau nasopharyngeal airway). Bila belum berhasil, lakukan intubasi trakea. Bila tidak dapat dilakukan intubasi, sebagai alternatifnya adalah krikotirotomi atau pungsi membran krikotiroid dengan jarum berlumen besar (misalnya kanula intravena 14G). Bila masih ada sumbatan di bronkus, lakukan pengeluaran benda asing (padat, cair) dari bronkus atau terapi bronkospasme dengan aminofilin atau adrenalin.

 

 

C. Circulation Support (bantuan sirkulasi)

Pemberian ventilasi buatan dan kompresi dada luar diperlukan pada keadaan henti jantung. Aliran darah selama kompresi dada luar didasari oleh dua mekanisme yang berbeda, yaitu kompresi jantung antara sternum dan tulang belakang serta perubahan tekanan intratoraks global.

 

Korban/pasien telentang pada permukaan yang keras saat dilakukan kompresi dada luar. Penolong berlutut di samping korban dan meletakkan pangkal sebelah tangannya di atas pertengahan 1/3 bawah sternum korban/pasien, sepanjang sumbu panjangnya dengan jarak dua jari sefalad dari persambungan sifoid-sternum. Tangan penolong yang lain diletakkan di atas tangan pertama. Dengan jari-jari terkunci, lengan lurus, dan kedua bahu tepat di atas stemum korban/pasien, berikan tekanan vertikal ke bawah yang cukup untuk menekan sternum 4 – 5 cm dengan berat badan penolong. Setelah kompresi harus ada relaksasi, tetapi kedua tangan tidak boleh diangkat dari dada korban/pasien. Dianjurkan lama kompresi sama dengan lama relaksasi. Bila hanya ada satu penolong, 15 kompresi dada luar (laju: 80-100x/menit = 9 – 12 detik) harus diikuti dengan pemberian dua kali ventilasi dalam (2 – 3 detik). Dalam satu menit harus ada empat daur kompresi dan ventilasi, yaitu minimal 60 kompresi dada dan 8 ventilasi. Jadi 15 kali kompresi ditambah 2 ventilasi harus selesai maksimal dalam 15 detik. Bila 2 penolong, kompresi dada diberikan oleh satu penolong dengan laju 80 – 100 kali per menit dan 1 kali ventilasi dalam (1 – 1,5 detik) diberikan oleh penolong kedua sesudah kompresi kelima. Dalam 1 menit minimal ada 60 kompresi dada dan 12 ventilasi. Jadi, 5 kompresi ditambah 1 ventilasi maksimal dalam 5 detik.

 

Kompresi dada dilakukan secara lembut dan berirama. Bila dilakukan dengan benar, kompresi dada luar dapat menghasilkan tekanan sistolik lebih dari 100 mmHg dan tekanan rata-rata 40 mmHg pada arteri karotis. Antara dua kompresi dada tidak boleh terputus lebih dari 5 detik, kecuali pada waktu intubasi trakea dan transportasi (naik turun tangga) dapat sampai 15 detik. Sesudah 4 daur kompresi dan ventilasi (4 menit), lakukan reevaluasi pasien dengan memeriksa apakah denyut karotis sudah timbul (5 detik). Bila tidak ada, RJP dimulai lagi dengan 2 ventilasi diikuti dengan 15 kompresi. Bila sudah ada denyut, pernapasan diperiksa selama 3 – 5 detik. Bila ada pernapasan dan nadi pantau dengan ketat. Bila tidak ada pemapasan, lakukan ventilasi buatan 12 kali/menit dan pantau nadi dengan ketat. Bila denyut dan pernapasan belum ada, RJP dilanjutkan. Sesudah 4 daur, periksa kembali apakah sudah timbul nadi dan ventilasi spontan, dan begitu seterusnya.

 

ABC RJP yang dilakukan pada korban dengan henti jantung dapat memberikan kemungkinan hasil:

o Korban/pasien menjadi sadar kembali.

o Korban/pasien dinyatakan mati.

o Korban/pasien belum dapat dinyatakan mati dan belum timbul denyut jantung spontan. Dalam hal ini perlu diberi pertolongan lebih lanjut (bantuan hidup lanjut).

o Denyut jantung spontan timbul, tetapi korban/pasien belum pulih kesadarannya. Ventilasi spontan bisa ada atau tidak.

 

 

Selain kompresi dada luar, yang juga termasuk bantuan sirkulasi adalah penghentian perdarahan dan penentuan posisi untuk mengatasi syok, yaitu dengan meletakkan kepala lebih rendah daripada kaki.

 

Bantuan Hidup Lanjut (Advanced Life Support)

Bantuan hidup lanjut (BHL) bertujuan memulai kembali sirkulasi spontan dan mempertahankan sistem jantung paru dengan cara memulihkan transpor oksigen arteri mendekati normal. BHL diberikan setelah dilakukan ABC RJP dan belum timbul denyut jantung spontan. Yang termasuk dalam BHL adalah DEF RJP, yaitu :

 

D. Drugs and Fluids Intravenous Infusion (pemberian obat-obatan dan cairan melalui infus intravena tanpa menunggu hasil EKG)

1. Adrenalin 0,5 – 1,0 mg dosis untuk dewasa, 10 µg/kg pada anak-anak. Pemberian dapat dilakukan secara intravena (iv), intratrakeal melalui pipa endotrakeal (1 ml adrenalin 1o/oo diencerkan dengan 9 ml akuades steril) atau intrakardiak. Pemberian secara intrakardiak hanya dilakukan oleh tenaga yang terlatih dan saat ini sudah tidak dianjurkan lagi. Setiap 5 menit diulang dengan dosis sama sampai timbul denyut jantung spontan atau mati jantung.

2. Bila setelah 3 kali pemberian adrenalin tidak ada sirkulasi spontan, pikirkan pemberian natrium bikarbonat intravena dengan dosis awal 1 mEq/kg BB (bila henti jantung lebih dari 2 menit) dapat diulang tiap 10 menit dengan dosis 0,5 mEq/kg sampai timbul denyut jantung spontan atau mati jantung. Hati-hati pada pemberian pada anak-anak dan bayi.

 

E. Electrocardioscopy (cardiography)

Monitoring EKG dilakukan untuk melihat bentuk henti jantung apakah asistol ventrikular, fibrilasi ventrikular atau kompleks aneh yang lain seperti (disosiasi elektromekanis)

 

F. Fibrillation Treatment (terapi fibrilasi/defribrilasi)

Langkah ini merupakan cara mengatasi fibrilasi. Bila mulanya hentijantung disaksikan dengan EKG, lakukan precordial thumb. Bila tidak berhasil, lakukan defibrilasi ekstemal dengan syok listrik dan obat-obatan. Bila awalnya tidak disaksikan, langsung dengan defibrilasi eksternal. .

 

Elektroda dipasang di sebelah kiri puting susu kiri dan sebelah kanan sternum bagian atas. Defibrilasi luar diaktifkan dengan menggunakan arus searah 100 – 360 Wsec (joule) untuk dewasa, 100 – 200 Wsec untuk anak, dan 50 – 100 Wsec untuk bayi. Ulangi syok balik (countershock) bila perlu.

 

Bila belum berhasil, dapat diberi lignokain (lidokain) 1 – 2 mg/kg BB IV untuk menurunkan ambang rangsang. Bila diperlukan dapat diteruskan dengan tetesan infus (1 – 4 mg/menit). Kemudian ulangi syok listrik. Bila belum berhasil juga, dapat diberi prokainamid 1 – 2 mg/kg BB IV dengan tetap mengulangi syok listrik. Bila gagal juga, dapat diberikan bretilium 5 mg/kg BB IV dengan syok listrik tetap diulangi lagi. Bila belum berhasil juga, dosis bretilium dapat ditinggikan hingga 10 mg/kg BB sampai dosis total 30 mg/kg BB. Bretilium ini merupakan obat terakhir yang tersedia saat ini. Bila dengan obat ini juga tidak berhasil maka ditegakkan diagnosis kematian jantung.

 

Bila pada EKG terdapat asistol ventrikular atau disosiasi elektromekanis, ulangi tahap D, yaitu dengan memberikan kalsium, dan vasopresor seperlunya. Dosis kalsium klorida 10% : 500 mg/70 kg BB IV, bila perlu diulang tiap 10 menit. Pemakaian kalsium saat ini merupakan hal yang kontroversial.

 

Selain obat-obat tersebut di atas, yang juga berguna selama resusitasi jantung paru ialah isoproterenol, digoksin, noradrenalin, metaraminol, dopamin, dobutamin, atropin, natrium nitropusid, nitrogliserin, furosemid, efedrin, metoksamin, praktolol, heparin, dekstrose, garam faal, metoheksiton, diazepam, suksametonium, dan pankuronium.

 
Bantuan Hidup Jangka Panjang
Bantuan hidup jangka panjang merupakan pengelolaan intensif pascaresusitasi termasuk resusitasi otak. Jenis pengelolaan yang diperlukan pasien bergantung sepenuhnya pada hasil resusitasi. Yang termasuk bantuan hidup jangka panjang adalah GHI RJP, yaitu :

 
G. Gauging
Langkah ini dilakukan untuk menentukan dan memberi terapi penyebab henti jantung dan menilai tindakan selanjutnya, apakah penderita dapat diselamatkan atau tidak. Pasien yang tidak mempunyai defisit neurologis dan tekanan darah terpelihara normal tanpa aritmia hanya memerlukan pemantauan intensif dan observasi terus-menerus terhadap sirkulasi, pernapasan, fungsi otak, ginjal, dan hati. Pasien yang mengalami kegagalan satu atau lebih sistem organ memerlukan bantuan ventilasi atau sirkulasi, terapi aritmia, dialisis, atau resusitasi otak.

 
H. Human Mentation
Mentasi manusia diharapkan dapat dipulihkan dengan tindakan resusitasi otak yang baru. Tindakan-tindakan ini meliputi penggunaan agen vasoaktif untuk memelihara tekanan darah sistemik yang normal, penggunaan steroid untuk mengurangi sembab otak, dan penggunaan diuretik untuk menurunkan tekanan intrakranial. Obat yang dianjurkan adalah tiopental dengan dosis 30 mg/kgBB dengan 1/3 dosis diberikan secara bolus intravena dan 2/3 dosis dengan infus/drip lambat. Oksigen tambahan hendaknya diberikan dan hiperventilasi derajat sedang juga membantu (PaCO2 25 – 30 mmHg). Beberapa pengarang menganjurkan diberikan pada pasien yang mengalami koma barbiturat dan hipotermia sedang, tetapi keuntungannya masih kontroversial.

 
I. Intensive Care
Langkah ini merupakan pengelolaan intensif berorientasi otak pada penderita dengan kegagalan organ multipel pascaresusitasi.

 

Indikasi Resusitasi

Indikasi dilakukannya resusitasi adalah henti napas (apnu) dan henti jantung (cardiac arrest)

1. Henti napas (apnu)

Henti napas dapat disebabkan oleh sumbatan jalan napas atau akibat depresi pernapasan, baik di sentral maupun perifer. Bila terjadi henti napas primer, jantung dapat terus memompa darah selama beberapa menit selama ada sisa oksigen di dalam paru yang beredar ke otak dan organ vital lain. Penanganan dini pada pasien dengan henti napas atau sumbatan jalan napas dapat mencegah henti jantung.

 

Sumbatan jalan napas dapat dikenali dengan cara berikut ini:

a. Sumbatan jalan napas total

o Aliran udara di mulut atau hidung tidak dapat didengar atau dirasakan.

o Pada gerakan napas spontan terlihat retraksi supraklavikula dan sela iga serta tidak ada pengembangan dada pada inspirasi.

o Adanya kesulitan inflasi paru dalam usaha memberikan ventilasi buatan.

o Pada bayi, sering ditemui pernapasan paradoksal.

b. Sumbatan jalan napas parsial

o Terdengar suara napas tambahan, yaitu bunyi dengkur (snoring) yang menandakan sumbatan parsial hipofaring yang disebabkan oleh adanya jaringan lunak, misalnya jatuhnya dasar lidah, hipertrofi tonsil, dsb. Bunyi lengking (crow­ing) yang menandakan laringospasme; bunyi kumur (gargling) yang menandakan adanya benda asing berupa cairan; dan bunyi bengek (wheezing) yang menandakan terdapat sumbatan jalan. napas bawah setelah bronkiolus respiratorius.

o Dapat juga disertai retraksi.

Gejala akibat sumbatan jalan napas yang segera dapat diketahui dari keadaan klinis:

o Hiperkarbia, yaitu penunman kesadaran. Dipastikan dengan peninggian PCO2 arteri.

o Hipoksemia, yaitu takikardia, gelisah, berkeringat, atau sianosis. Pada hipoksemia, terjadinya sianosis tergantung Hb reduksi >5 g% akan terjadi sianosis. Keadaan hipoksemia dipastikan dengan penurunan PO2 arteri.

 

2. Henti jantung (cardiac arrest)

Bila terjadi henti jantung primer, oksigen tidak beredar dan oksigen yang tersisa dalam organ vital akan habis dalam beberapa detik.

 

Henti jantung dapat disebabkan oleh faktor intrinsik atau ekstrinsik. Faktor intrinsik berupa penyakit kardiovaskular seperti asistol, fibrilasi ventrikel, dan disosiasi elektromekanik. Faktor ekstrinsik adalah kekurangan oksigen akut (henti napas sentral/perifer, sumbatan jalan napas, dan inhalasi asap); kelebihan dosis obat (digitalis, kuinidin, antidepresan trisiklik, propoksifen, adrenalin, dan isoprenalin); gangguan asam basal elektrolit (hipo/hiperkalemia, hipo/hipermagnesia, hiperkalsemia, dan asidosis); kecelakaan (syok listrik, tenggelam, dan cedera kilat petir); refleks vagal; anestesi dan pembedahan; terapi dan tindakan diagnostik medis; dan syok (hipovolemik, neurogenik, toksik, dan anafilaktik).

 

Tanda-tanda henti jantung adalah sebagai berikut:

o Hilangnya kesadaran dalam waktu 10-20 detik setelah henti jantung.

o Henti napas (apnu) atau megap-megap (gasping) yang muncul setelah 15-30 detik henti jantung.

o Terlihat seperti mati (death like appearance) dengan warna kulit pucat sampai kelabu.

o Pupil dilatasi dalam waktu 45 detik setelah henti jantung.

o Tidak teraba denyut arteri besar, yaitu arteri femoralis dan karotis pada orang dewasa atau brakialis pada bayi dan anak kecil. Tanda ini muncul segera setelah henti jantung.

 

Diagnosis henti jantung sudah dapat ditegakkan bila pasien tidak sadar dan tidak teraba denyut arteri besar. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah :

o Tekanan darah sistolik 50 mmHg mungkin tidak menghasilkan denyut nadi yang dapat diraba.

o Aktivitas elektrokardiogram (EKG) mungkin terus berlanjut meskipun tidak ada kontraksi mekanis terutama pada asfiksia.

o Gerakan kabel EKG dapat menyerupai irama yang tidak mantap.

 

Resusitasi harus dilakukan pada infark jantung kecil yaiig mengakibatkan kematian listrik, serangan Adams-Stokes, hipoksia akut, keracunan dan kelebihan dosis obat­-obatan, sengatan listrik, refleks vagal, tenggelam, dan kecelakaan-kecelakaan lain yang masih memberikan peluang hidup.

 

RJP tidak dilakukan pada:

1. Kematian normal yang biasa terjadi pada penyakit akut atau kronis yang berat. Pada keadaan ini denyut jantung dan nadi berhenti pertama kali pada suatu saat.

2. Stadium terminal suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan lagi.

3. Bila hampir dapat dipastikan bahwa fungsi serebral tidak akan pulih, yaitu setelah ½ – 1 jam terbukti tidak ada nadi pada normotermia tanpa RJP

 

Resusitasi Jantung Paru

Definisi
Resusitasi jantung paru (RJP) adalah metode untuk mengembalikan fungsi pernapasan dan sirkulasi pada pasien yang mengalami henti napas dan henti jantung yang tidak diharapkan mati pada saat itu. Metode ini merupakan kombinasi pernapasan buatan dan bantuan sirkulasi yang bertujuan mencukupi kebutuhan oksigen otak dan substrat lain sementara jantung lan paru tidak berfungsi.

 

Keberhasilan RJP dimungkinkan oleh adanya interval waktu antara mati klinis dan mati biologis, yaitu sekitar 4 – 6 menit. Dalam waktu tersebut mulai terjadi kerusakan sel-sel otak rang kemudian diikuti organ-organ tubuh lain. Dengan demikian pemeliharaan perfusi serebral merupakan tujuan utama pada RJP.

 

Mati klinis merupakan periode dini suatu kematian yang ditandai dengan henti napas dan henti jantung/sirkulasi serta terhentinya aktivitas otak yang bersifat sementara reversibel. Mati biologis mengikuti mati klinis bila tidak dilakukan RJP atau bila RJP tidak berhasil. Pada mati biologis terjadi proses nekrotisasi semua jaringan. Proses ini dimulai dari neuron-neuron serebral yang seluruhnya akan rusak dalam waktu _+ 1jam dan diikuti organ-organ lain, seperti jantung, ginjal, dan hati yang akan rusak dalam _+ 2 jam.

 

Dikenal pula istilah mati sosial, yaitu suatu kerusakan otak yang hebat dan ireversibel sehingga pasien tidak sadar dan tidak responsif, tetapi EEG aktif dan beberapa refleks masih utuh. Pernapasan bisa spontan atau dibantu dengan alat bantu napas (respirator). Kesadaran koma, kadang-kadang seperti bangun dan membuka mata, tetapi tidak bisa kontak dengan dunia luar.