Category Archives: Bedah Minor

Sirkumsisi

Definisi
Sirkumsisi adalah tindakan pengangkatan sebagian/seluruh prepusium penis dengan tujuan tertentu.

 

Indikasi

o Agama

o Sosial

o Medis:

  • Fimosis (prepusium tidak dapat ditarik ke belakang atau tidak dapat membuka)
  • Parafimosis (prepusium tidak dapat ditarik ke depan)
  • Kondiloma akuminata
  • Pencegahan terjadinya tumor (mencegah menumpuknya smegma yang diduga kuat bersifat karsinogenik)

 
Kontraindikasi
o Absolut: hipospadia, epispadia

o Relatif: gangguan pembekuan darah (misalnya hemofilia), infeksi lokal, infeksi umum, diabetes melitus

 

Komplikasi

Perdarahan, hematoma, infeksi

 

Peralatan (minimal)

o Gunting jaringan 1 buah

o Klem arteri lurus 3 buah

o Klem arteri bengkok 1 buah

o Pinset anatomis 1 buah

o Pemegang jarum (needle holder) 1 buah

o Jarum jahit kulit 1 buah

 
Perlengkapan
o Kapas

o Kassa steril

o Plester

o Kain penutup steril yang berlubang di tengahnya (duk)

o Semprit 3 ml atau 5 ml

o Benang plain cat gut ukuran 3.0

o Sarung tangan steril

o Larutan NaCl 0.9% atau aqua destilata

 

Obat-obatan

o Lidokain HCl 2% (tanpa campuran adrenalin)

o Larutan antiseptik: larutan sublimat, povidon iodine 10%, dan alkohol 70%. .

o Salep antibiotik (kloramfenikol 2% atau tetrasiklin 2%)

o Analgetik oral (antalgin atau parasetamol)

o Antibiotik oral (ampisilin/amoksisilin/eritromisin)

o Adrenalin 1:1.000

 

Tahap-tahap Sirkumsisi

1. Persiapan operasi

  1. Persiapan pasien. Sebelum dilakukan sirkumsisi, kita tentukan tidak ada kontraindikasi untuk melakukan tindakan sirkumsisi. Hal ini diketahui dengan melakukan anamne­sis dan pemeriksaan fisik. Dari anamnesis ditelusuri:

o Riwayat gangguan hemostasis dan kelainan darah

o Riwayat alergi obat, khususnya zat anestesi lokal, antibiotik, maupun obat lainnya

o Penyakit yang pernah/sedang diderita, misalnya demam, sakit jantung, asma

Pada pemeriksaan fisis dicari:

o Status generalis: demam, tanda stres fisik, kelainan jantung dan paru

o Status lokalis: hipospadia, epispadia, atau kelainan kongenital lainnya

Berikan penjelasan tentang tindakan yang akan dilakukan dan minta persetujuan tindakan sirkumsisi dari pasien/orang tua pasien (informed concent). Bila telah siap baringkan pasien di atas meja operasi.

  1. Persiapan alat dan obat-obatan sirkumsisi
  2. Persiapan alat dan obat-obatan penunjang hidup bila terjadi syok anafilaksis.

 

2. Asepsis dan antisepsis

  • Pasien telah mandi dengan mem­bersihkan alat kelamin (genitalia­nya) dengan sabun
  • Bersihkan daerah genitalia dengan alkohol 70% untuk menghilangkan lapisan lemak
  • Bersihkan daerah genitalia dengan povidon iodin 10% dengan kapas dari sentral ke perifer membentuk lingkaran ke arah luar (sentrifugal)

 

3. Anestesi lokal

Dilakukan anestesi lokal dengan menggunakan lidokain 2%

  • Lakukan anestesi blok pada n. dorsalis penis dengan menusukkan jarum pada garis medial di bawah simfisis pubis sampai menembus fascia Buck (seperti menembus kertas) suntikkan 1,5 ml, tarik jarum sedikit, tusukkan kembali miring ke kanan/kiri menembus fasia dan suntikkan masing-masing 0,5 ml; lakukan aspirasi dahulu sebelum menyuntik untuk mengetahui apakah ujung-jarum berada dalam pembuluh darah atau tidak. Jika darah yang teraspirasi maka pindahkan posisi ujung jarum, aspirasi kembali. Bila tidak ada darah yang teraspirasi, masukanlah zat anestesi.
  • Lakukan anestesi infiltrasi di lapisan subkutis ventral penis 0,5-0,75 ml untuk kedua sisi.

 

4. Pembersihan glans penis

Buka glans penis sampai sulkus korona penis terpapar. Bila ada perlengketan, bebaskan dengan klem arteri atau dengan kassa steril. Bila ada smegma, bersihkan dengan kasa mengandung larutan sublimat.

 

5. Periksa apakah anestesi sudah efektif

Caranya dengan melakukan penjepitan pada daerah frenulum dengan klem.

 

6. Pengguntingan dan penjahitan

  • Pasang klem pada prepusium di arah jam 6, 11, dan 1 dengan ujung klem mencapai _+ 1,5 cm dari sulkus korona penis. Tujuannya sebagai pemandu tindakan dorsumsisi dan sarana hemostasis
  • Lakukan dorsumsisi dengan menggunting kulit dorsum penis pada jam 12 menyusur dari distal ke proksimal sampai dengan 0,3 – 0,5 cm dari korona
  • Pasang jahitan kendali dengan menjahit batas ujung dorsumsisi kulit agar pemotongan kulit selanjutnya lebih mudah dan simetris
  • Gunting secara melingkar (tindakan sirkumsisi) dimulai dari dorsal pada titik jahitan jam 12 melingkari penis, sisakan mukosa sekitar 0,5 cm. Pada sisi frenulum, pengguntingan membentuk huruf V di kiri dan kanan klem. Pemotongan harus simetris, dan sama panjang antara kulit dan mukosa
  • Atasi perdarahan yang timbul ada jepitan klem, kemudian lakukan penjahitan hemo­stasis dengan benang catgut
  • Lakukan penjahitan aproksimasi kulit dengan mukosa. Jahit kiri dan kanan glans biasanya masing-masing 2-3 simpul. Prinsipnya adalah mempertemukan pinggir kulit dan pinggir mukosa
  • Jahit mukosa distal frenulum (jam 6) dengan jahitan angka 8 atau 0
  • Setelah penjahitan selesai, gunting mukosa frenulum di sebelah distal dari jahitan sebelumnya, dan bersihkan dengan iodine 10% lalu beri salep kloramfenikol 2%

 

7. Pembalutan

  • Gunakan kassa yang telah diolesi salep antibiotik
  • Jangan sampai penis terpuntir saat mem­balut

 

8. Pemberian obat-obatan

  • Analgesik oral (antalgin atau parasetamol)
  • Antibiotik oral (ampisilin,amoksisilin, eritromisin)
  • Pemberian obat-obatan ini dapat dimulai 2-3 jam sebelum sirkumsisi

 

9. Anjuran pascaoperasi

  • Penjelasan kepada pasien/orang tua
  • Balutan dibuka 4-5 hari kemudian setelah membasahi perban dengan rivanol. Perhatikan adanya infeksi, pus, hematom, atau luka yang belum menutup
  • Bila ada infeksi, pemberian antibiotik diteruskan hingga hari ke-6-7

 

Rosser Plasty

Definisi

Rosser Plasty adalah tindakan pengangkatan sebagian kuku yang tumbuh ke arah dalam (ingrown toenail removal) berikut matriks tunasnya, dilanjutkan reposisi jaringan lunak tepi kuku.

 

Indikasi

Inflamasi berulang pada kuku ibu jari yang tumbuh ke dalam dan disertai eritema dan pembengkakan di sepanjang tepi kuku. Seiring berkembangnya inflamasi, terbentuk jaringan granulamatosa sepanjang tepi kuku.

 

Kontraindikasi

Tidak ada
Alat dan Bahan
1. Gunting kuku kecil dan tajam atau pisau bedah no.10 atau 11

2. Karet penjepit ibu jari (torniket)

3. Klem/forsep

4. Kapas

5. Alkohol

6. Salep antibiotik

7. Kassa 2 cm x 2 cm

8. Perban (roll gauze)

 
Tindakan
Ada dua pilihan dalam penatalaksanaan kuku yang tumbuh ke dalam ini. Pertama, pengangkatan sementara dari kuku yang tumbuh ke dalam dan pembersihan (debridemen) lipatan kuku. Prosedur ini membutuhkan waktu sedikit dan menghilangkan keluhan pasien namun dapat terjadi kekambuhan. Prosedur kedua membutuhkan waktu yang lebih lama namun memberikan penyembuhan yang menetap.

 
Tahap Eksisi Sisi Kuku
a. Lakukan anestesi blok jari yang bersangkutan.

b. Pasang torniket di bagian proksimal kuku.

c. Gunakan gunting kuku yang tajam atau pisau bedah no. 10/11, secara hati-hati buang bagian tepi kuku yang tumbuh ke dalam termasuk matriks tunasnya dengan jarak 2 – 3 mm dari arah lipatan kuku. lakukan pemotongan kuku secara hati-hati terutama saat memotong/melewati permukaan bawah kuku sehingga tidak terjadi laserasi pada dasar kuku.

d. Buang kuku yang rusak ini dengan forsep atau klem dan perlahan tarik dan lepaskan dari dasar kuku; yakini matriks kuku terangkat/terbuang (agar tidak terjadi rekurensi).

e. Upayakan agar ujung tepi kuku tidak runcing.

f. Bersihkan kotoran (debris) keratotik dari lekukan sisi kuku.

g. Lakukan penjahitan dengan tehnik mengupayakan jaringan lunak kuku berada di bawah kuku.

h. Berikan salep antibiotik pada dasar kuku yang terpapar/terlihat

i. Balut dengan kassa kering

 
Komplikasi
Infeksi, nekrosis tepi-tepi luka, rekurensi. Pencegahan rekurensi dengan tidak memakai sepatu yang terlalu sempit dan tidak memotong kuku terlalu pendek.

 

Ekstirpasi

Definisi
Ekstirpasi adalah tindakan pengangkatan seluruh massa tumor beserta kapsulnya.

 
Indikasi
Kista Aterom. Kista aterom adalah kista retensi dari kelenjar sebasea akibat penutupan saluran pori rambut yang terdiri dari kapsul jaringan ikat padat dengan isi mengandung banyak lemak seperti bubur.

 

Pada pemeriksaan tampak sebagai tonjolan bulat, superfisial-subkutan, lunak-kenyal. Isi aterom kadang-kadang dapat dipijat keluar. Predileksi di bagian tubuh yang berambut (kepala, wajah, belakang telinga, leher, punggung, dan daerah genital).

 

Kista ini mempunyai diagnosis banding kista epitel, fibroma, lipoma.

 
Tindakan
o Ekstirpasi total dengan eksisi pada daerah bekas muara kelenjar, dengan indikasi kosmetik, rasa nyeri, mengganggu

o Insisi dan drainase bila ada infeksi atau abses

 

Alat dan Bahan

o Lidokain 2%

o Spuit

o Pisau insisi (skapel)

o Pinset

o Gunting jaringan

o Klem jaringan

o Needle holder

o Jarum dan benang

 
Teknik
1. Bersihkan daerah operasi (daerah kulit di atas kista)

2. Lakukan anestesi lokal (blok/infiltrasi) pada daerah operasi

3. Eksisi kulit di atas kista berbentuk bulat telur (elips) runcing dengan arah sesuai garis lipatan kulit. Panjang dibuat lebih dari ukuran benjolan yang teraba dan lebar kulit yang dieksisi ¼ garis tengah kista tersebut.

4. Gunakan gunting tumpul untuk melepaskan jaringan subkutan yang meliputi kista, pisahkan seluruh dinding kista dari kulit.

5. Usahakan kista tidak pecah agar dapat diangkat kista secara in-toto. Bila kista telah pecah keluarkan isi kista dan dinding kista. Jepit dinding kista dengan klem dan gunting untuk memisahkannya dengan jaringan kulit.

6. Jahit rongga bekas kista dengan jahitan subkutaneus

7. Jahit dan tutup luka operasi

 
Komplikasi
Kista residif

 

Eksisi

Definisi
Eksisi adalah suatu tindakan pengangkatan massa tumor dan jaringan sehat di sekitarnya.

 
Indikasi
1. Kista Dermoid

Kista dermoid adalah kista kongenital yang berasal dari kelainan pertumbuhan kulit pada masa embrio.

 

Pada pemeriksaan tampak berupa benjolan bulat pada lapisan subkutan dengan ukuran bervariasi hingga 10 cm seperti kista epidermoid dan terdiri dari kelenjar sebasea, folikel rambut yang rudimenter, elemen kelenjar keringat yang dekat pada garis epitelial. Letaknya terutama di sisi lateral alis mata, sepanjang akar hidung, leher, sublingual, daerah sternal, perineal, skrotum, dan sakral. Biasanya lepas, tak melekat pada kulit di atasnya tetapi sering melekat pada periosteum sehingga tidak lepas dari dasarnya. Dapat terjadi degenerasi ganas, tetapi lebih sering terjadi infeksi, terutama pada kista di daerah sakrum.

 

Bila terjadi perforasi spontan, sering timbul fistula yang sulit sembuh. Sebagai diag­nosis banding adalah sinus-pilinoidalis, suatu fistel di daerah sakrum karena masuknya rambut ke dalam kulit.

 

Pada kista yang terletak di atas alis mata, eksisinya harus hati-hati, karena dapat mencederai cabang saraf fasialis.

 

2. Kista Epidermoid

Kista epidermoid adalah kista yang berasal dari sel epidermis yang masuk dan tumbuh kejaringan subkutis akibat trauma tajam..

 

Pada pemeriksaan tampak benjolan subkutis bulat, maksimal sebesar kelereng, kenyal dan permukaan rata, yang biasanya ditemukan di telapak kaki/tangan, dan jari-jari sisi volarnya. Benjolan ini berisi massa seperti bubur yang merupakan produk keratin. Kadang-kadang kulit di atasnya terdapat jaringan parut yang merupakan tanda bahwa pernah ada trauma. Kulit di atasnya biasanya tipis karena tekanan yang terus menerus di atas hiperkeratosis yang menstimulasi penyebab utamanya. Bila pada perabaan terasa nyeri di daerah tersebut, maka hal ini merupakan petunjuk adanya kista ini.

 

Tonjolan ini berdinding putih, tebal dan jarang menjadi besar, tetapi cukup mengganggu karena letaknya

 

Tindakan yang dilakukan adalah eksisi total untuk menentukan diagnosis pasti (pemeriksaan PA) dalam menghilangkan keluhan serta indikasi kosmetis. Bila melekat pada periosteum, maka pexlu dilakukan kuretase tulang. Eksisi kista yang terletak di daerah sakral atau kista yang terinfeksi di unit rawat jalan tidak dianjurkan.

 

Alat dan Bahan

o Lidokain 2%

o Spuit

o Pisau insisi (skapel)

o Pinset

o Gunting jaringan

o Klem jaringan

o Needle holder

o Jarum dan benang

 

Teknik

1. Bersihkan daerah operasi (daerah kulit di atas kista dan sekitarnya).

2. Lakukan anestesi lokal (blok/infiltrasi) pada daerah operasi.

3. Eksisi kista di antara jaringan yang normal, eksisi berbentuk elips dengan sumbu panjang sesuai dengan arah ketegangan kulit. Bagian kulit yang telah terpotong kemudian dipreparasi (dibebaskan dari dasar, jaringan subkutis) dengan memakai skapel.

4. Dilakukan kuretase tulang, jika kista melekat pada periosteum.

5. Hentikan perdarahan yang terjadi dengan kompresi dan dilakukan jahitan kulit. Jahitan dilakukan dengan jahitan klasik sederhana yaitu simpul satu per satu dengan jahitan ulang alik.

6. Setelah eksisi yang luas, kadang-kadang perlu dilakukan pembebasan kulit tepi luka dari dasarnya (undermining) untuk mendapatkan jahitan tanpa ketegangan kulit.

7. Tutup luka operasi.

 

Biopsi

Definisi
Biopsi adalah pengambilan dan pemeriksaan jaringan dari pasien hidup untuk menentukan diagnosis.

 
Biopsi Kulit
Alat dan Bahan

o Lidokain 2%

o Spuit

o Pisau insisi (skapel)

o Pinset sirurgis

o Gunting jaringan

o Klem jaringan

o Needle holder

o Jarum dan benang

 
Teknik Biopsi Insisi
o Tentukan daerah yang akan dibiopsi.

o Rancang garis eksisi dengan memperhatikan segi kosmetik.

o Buat insisi bentuk elips dengan skalpel nomor 15.

o Angkat tepi kulit normal dengan pengait atau pinset bergerigi halus.

o Teruskan insisi sampai diperoleh contoh jaringan. Sebaiknya contoh jaringan ini jangan sampai tersentuh.

o Tutup dengan jahitan sederhana memakai benang yang tidak dapat diserap.

 
Teknik Biopsi Eksisi
o Rancang garis eksisi, bila perlu dengan zat pewarna, agar terletak pada RSTL dan sebaiknya panjang elips empat kali lebarnya. Lebar maksimum ditentukan oleh elastisitas, mobilitas, serta banyaknya kulit yang tersedia di kedua tepi sayatan.

Banyaknya jaringan sehat yang ikut dibuang tergantung pada sifat lesi, yaitu:

§ Lesi jinak, seluruh tebal kulit diangkat berikut 1-2 mm kulit sehat di tepi lesi dengan sedikit lemak mungkin perlu dibuang agar luka mudah dijahit.

§ Karsinoma sel basal, angkat seluruh tumor beserta paling kurang 3 mm kulit sehat.

§ Karsinoma sel skuamosa, angkat seluruh tumor beserta paling kurang 5 mm kulit sehat.

Kedalaman eksisi tergantung pada ekstensivitas lesi, tapi paling kurang harus menyertakan seluruh lapisan lemak superfisial.

o Insisi dengan skalpel nomor 15 hingga menyayat seluruh tebal kulit.

o Beri jahitan pada salah satu ujung jaringan agar dapat dijadikan patokan oleh ahli patologi.

o Inspeksi luka dan atasi perdarahan.

o Lakukan jahitan subkutis dengan benang 3/0 yang dapat diserap untuk merapatkan lapisan lemak dan menghentikan perdarahan.

o Bila perlu buat sayatan horisontal di bawah kulit untuk mengurangi tegangan daerah luka.

o Tutup dengan jahitan sederhana menggunakan benang yang tidak dapat diserap.
Biopsi Kelenjar Getah Bening
Alat dan Bahan

o Lidokain 2%

o Spuit

o Pisau insisi (skapel)

o Pinset

o Gunting jaringan

o Klem jaringan

o Needle holder

o Jarum dan benang

 

Teknik

o Insisi dilakukan sekurang-kurangnya 2 kali diameter lesi dan dibuat pada RSTL.

o Lakukan sayatan lebih dalam sampai menembus lemak dan fasia superfisialis.

o Dengan bantuan retraktor dan diseksi tumpul, cari kelenjar dan pisahkan dari jaringan yang mengelilinginya.

o Pedikel di dasar kelenjar didiseksi dari jaringan sekitarnya memakai klem arteri bengkok, kemudian diklem, diikat, dan lakukan pemotongan antara klem dan ikatan. Kapsul kelenjar tidak boleh dijepit karena gambaran histologisnya dapat berobah.

o Lakukan jahitan subkutis dengan benang 3/0 yang dapat diserap untuk merapatkan lapisan lemak dan menghentikan perdarahan.

o Bila perlu buat sayatan horisontal di bawah kulit untuk mengurangi tegangan daerah luka.

o Tutup dengan jahitan sederhana menggunakan benang yang tidak dapat diserap.

 

Prinsip Insisi

Insisi harus cukup panjang agar operasi dapat leluasa dikerjakan tanpa retraksi yang berlebihan. Retraksi yang berlebihan akan meningkatkan rasa nyeri pasca bedah. Usahakan agar insisi dibuat hanya dengan satu sayatan, karena sayatan tambahan akan meninggalkan bekas yang lebih buruk.

 
Arah
Arah insisi harus direncanakan dengan teliti agar jaringan parut yang terbentuk tidak terlalu menyolok. Insisi sejajar garis Langer akan menyembuh dengan parut yang halus, karena kolagen kulit terarah dengan baik. Arah kolagen kulit diidentifikasi dengan relaxed skin tension lines (RSTL). RSTL diketahui dengan mencubit kulit dan melihat arah kerutan serta penonjolan yang terbentuk. Cubitan tegak lurus terhadap RSTL akan lebih mudah dikerjakan dan menghasilkan kerutan dan tonjolan yang lebih besar. Namun kadang-kadang keleluasaan operasi mengalahkan pertimbangan kosmetis.

 

Di lengan dan tungkai, insisi tidak boleh memotong lipat sendi secara tegak lurus. Ini dapat dihindari dengan:

1. Sayatan memotong lipat sendi ke arah miring. Contohnya insisi Brunner di permukaan ventral jari

2. Memasukkan lipat sendi sebagai bagian dari insisi. Di proksimal dan distal lipat sendi, insisi dapat dibuat longitudinal. Cara ini dikerjakan di fosa poplitea.

3. Jauhi lipat sendi. Contohnya insisi midlateral pada jari.

 

Di daerah wajah, kerutan-kerutan, lipatan kulit, serta garis-garis kontour bisa digunakan untuk menyembunyikan parut bekas luka.

 

Kadang-kadang insisi perlu dimodifikasi untuk menghindari trauma terhadap struktur neovaskular di bawahnya.

 

Sebisa mungkin hindari membuat insisi di daerah: bahu dan prasternal (sering menjadi keloid), di atas tulang yang terletak subkutis (penyembuhannya lambat), atau di dekat atau menyilang jaringan parut (vaskularisasinya mungkin tidak begitu baik).

 
Teknik
o Kulit disayat dengan satu gerakan menggunakan mata skalpel yang tajam. Lebih mudah bila kulit ditegangkan dengan ibu jari dan telunjuk tangan kiri, sementara skalpel disayatkan dari kiri ke kanan.

o Jika membuat insisi yang panjang dan lurus, gagang skalpel bermata no. 10 dipegang seperti menggenggam pisau dengan jari telunjuk diletakkan di sisi atas gagang agar pengendalian gerakan lebih mantap. Untuk insisi yang lebih kecil dan rumit (misalnya di daerah tangan), gagang skalpel bermata no. 15 dipegang seperti memegang pena sehingga perubahan arah insisi dapat dikerjakan dengan lebih halus.

o Tekanan sayatan di atur sedemikian rupa agar sayatan tepat membelah epidermis dan dermis. Luka akan merekah dan lemak subkutis dapat terlihat. Jika ragu-ragu, lebih baik menyayat dengan tekanan ringan, meregangkan kulit agar luka terbuka, kemudian memperdalam sayatan.

o Insisi harus tegak lurus kulit sehingga penutupannya lebih baik.

o Diseksi lebih dalam dilakukan dengan melakukan diseksi tajam ataupun tumpul menggunakan skalpel, gunting, atau klem arteri. Bila terdapat vena dan saraf permukaan yang melintas di lapangan operasi, insisi dapat dilakukan sejajar terhadap arah saraf atau pembuluh darah, sejauh tidak mengurangi ruang gerak dan pandangan di daerah operasi. Jika tidak mungkin, lebih baik potong saja daripada terkena cedera, teregang atau terputus secara tidak sengaja. Hal ini harus dipertimbangkan masak-masak.

 

 

Penanganan Luka Terinfeksi

Etiologi
Selulitis sering disebabkan infeksi streptokok. Bila terjadi pada luka yang dijahit primer biasanya disebabkan oleh stafilokok. Suatu infeksi yang berat kemungkinan merupakan infeksi Clostridial myositis (gangren gas dengan masa inkubasi _+ 48 jam) dan Clostridial cellulitis (masa inkubasi 3-4 hari).

 
Manifestasi Klinis
Luka dinyatakan terkena infeksi, menjadi abses atau selulitis bila terdapat tanda-tanda: tumor (massa, edema), kalor (kenaikan suhu), rubor (warna kemerahan/eritema), dan dolor (rasa nyeri). Selain itu luka yang terus-menerus mengeluarkan eksudat purulen atau luka kronis yang disertai infeksi juga menunjukkan terjadinya infeksi. Sebagian besar infeksi bermula sebagai selulitis, suatu infeksi jaringan kulit dan subkutis yang tidak terlokalisir.

 

Suatu infeksi yang berat oleh Clostridial myositis mula-mula ditandai dengan nyeri. Kulit di sekitar luka berwarna pucat, mengkilat, serta sembab. Biasanya disertai keluarnya cairan encer kecoklatan yang berbau busuk. Kadang-kadang disertai tanda-tanda sistemik seperti demam dan menggigil. Sementara infeksi terus berjalan, tekanan darah akan menurun dan pasien tampak sangat lemah. Krepitasi baru terjadi bila proses telah lanjut.

 

Sedangkan infeksi oleh Clostridial cellulitis adalah infeksi fasia dan jaringan ikat yang disertai krepitasi. Meski secara sistemik kurang toksik, kerusakan jaringan yang terjadi bisa sangat luas.

 
Penatalaksanaan
1. Pada tahap awal, atasi dengan pemberian antibiotik

2. Bila telah terjadi supurasi dan fluktuasi, lakukan insisi

 

Tindakan

1. Perlengkapan: cairan antiseptik, alat dan zat anestesi, skalpel bermata nomor 11, kuret, kassa, tampon, pembalut

2. Tindakan dilakukan sesuai prinsip asepsis dan antisepsis

3. Tindakan anestesi:

  • Pada abses yang dalam, lakukan infiltrasi tepat di atas abses
  • Bila letak abses di permukaan, lakukan anestesi dengan etil klorida yang disemprotkan sampai terbentuk lapisan putih mirip salju.

4. Tusukkan dan buat insisi lurus dengan mata skalpel ke dalam abses di tempat yang mempunyai fluktuasi maksimal. Bila rongga abses cukup besar dan kulit di atasnya mengalami nekrotik, lakukan insisi silang kemudian atap abses dibuang dengan mengeksisi sudut-sudutnya. Jika tidak ingin melakukan eksisi, sayatan harus cukup panjang agar luka terbuka lebar dan tidak terlalu cepat menutup kembali.

5. Keluarkan pus. Lokuli di dalam abses dapat dirusak dengan jari, sedangkan membrannya bisa dikeluarkan dengan hati-hati dengan alat kuret.

6. Setelah pus dikeluarkan seluruhnya, rongga diisi tampon. Dapat digunakasn tampon berupa pita yang bisa terbuat dari kasa yang telah dibasahi parafin atau potongan sarung tangan steril. Sisakan ujung pita di luar rongga. Tampon tidak boleh dijejalkan terlalu padat karena akan menghalangi keluarnya eksudat dan menghambat obliterasi luka.

7. Tutup luka dengan balutan yang menyerap cairan sebagai kompres basah dan memberikan tekanan yang lebih dibanding biasanya. Kompres dapat menggunakan larutan garam fisiologis atau antiseptik ringan. Balutan diganti minimal sehari 3 kali.

8. Periksa luka 24 – 48 jam kemudian dan angkat tampon. Bila eksudat masih mengalir ulangi tindakan ini tiap 48 – 72 jam sampai tanda-tanda penyembuhan mulai terlihat.

 

Penangangan Luka

Definisi
Luka adalah keadaan hilang/terputusnya kontinuitas jaringan,

 
Klasifikasi Luka
Dibedakan macam luka berdasarkan:

A. Berdasarkan penyebab, berhubungan dsngan kepentingan forensik, antara lain:

1. Ekskoriasi atau luka lecet atau gores adalah cedera pada permukaan epidermis akibat bersentuhan dengan benda berpermukaan kasar atau runcing.

2. Vulnus scissum adalah luka sayat atau luka iris yang ditandai dengan tepi luka berupa garis lurus dan beraturan.

3. Vulnus laceratum atau luka robek adalah luka dengan tepi yang tidak beraturan atau compang-camping biasanya karena tarikan atau goresan benda tumpul.

4. Vulnus punctum atau luka tusuk adalah luka akibat tusukan benda runcing yang biasanya kedalaman luka lebih daripada lebarnya.

5. Vulnus morsum adalah luka karena gigitan binatang.

6. Vulnus combutio atau luka bakar

B. Berdasarkan ada/tidaknya kehilangan jaringan:

1. Ekskoriasi

2. Skin avulsion, degloving injury

3. Skin loss

C. Berdasarkan derajat kontaminasi:

1. Luka bersih

o Luka sayat elektif

o Steril, potensial terinfeksi

o Tidak ada kontak dengan orofaring, traktus respiratorius, traktus alimentarius, traktur genitourinarius

2. Luka bersih tercemar

o Luka sayat elektif

o Potensi terinfeksi: spillage minimal, flora normal

o Kontak dengan orofaring, traktus respiratorius, traktus alimentarius, traktur genitourinarius

o Proses penyembuhan lebih lama

o Contoh: apendektomi, operasi vaginal, dsb.

3. Luka tercemar

o Potensi terinfeksi: spillage dari traktus alimentarius, kandung empedu, traktus genitourinarius, urin

o Luka trauma baru: laserasi, fraktur terbuka, luka penetrasi

4. Luka kotor

o Akibat pembedahan yang sangat terkontaminasi

o Perforasi visera, abses, trauma lama

 
Proses Penyembuhan Luka
Penyembuhan luka dapat terjadi secara:

1. Per primam yaitu penyembuhan yang terjadi setelah segera diusahakan bertautnya tepi luka biasanya dengan jahitan.

2. Per sekundam yaitu luka yang tidak mengalami penyembuhan per primam. Proses penyembuhan terjadi lebih kompleks dan lebih lama. Lukajenis ini biasanya tetap terbuka. Biasanya dijumpai pada luka-luka dengan kehilangan jaringan, terkontaminasi/terinfeksi. Penyembuhan dimulai dari lapisan dalam dengan pembentukan jaringan granulasi.

3. Per tertiam atau per primam tertunda yaitu luka yang dibiarkan terbuka selama beberapa hari setelah tindakan debridemen. Setelah diyakini bersih, tepi luka dipertautkan (4 – 7 hari).

 

Proses penyembuhan luka yang alami:

1. Fase inflamasi atau lag phase. Berlangsung sampai hari ke-5.

Akibat luka terjadi perdarahan. Ikut keluar trombosit dan sel-sel radang. Trombosit mengeluarkan prostaglandin, tromboksan, bahan kimia tertentu dan asam amino tertentu yang mempengaruhi pembekuan darah, mengatur tonus dinding pembuluh darah dan kemotaksis terhadap leukosit.

 

Terjadi vasokonstriksi dan proses penghentian perdarahan. Sel radang keluar dari pembuluh darah secara diapedesis dan menuju daerah luka secara kemotaksis. Sel mast mengeluarkan serotonin dan histamin yang meninggikan permeabilitas kapiler, terjadi eksudasi cairan edema. Dengan demikian timbul tanda-tanda radang. Leukosit, limfosit dan monosit menghancurkan dan memakan kotoran dan kuman.

 

Pertautan pada fase ini hanya oleh fibrin, belum ada kekuatan pertautan luka sehingga disebut fase tertinggal (lag phase).

2. Fase proliferasi atau fibroplasi. Berlangsung dari hari ke-6 sampai dengan 3 minggu. Terjadi proses proliferasi dan pembentukan fibroblas yang berasal dari sel-sel mesenkim.

 

Fibroblas menghasilkan mukopolisakarida dan serat kolagen yang terdiri dari asam­-asam amino glisin, prolin dan hidroksiprolin. Mukopolisakarid mengatur deposisi serat-­serat kolagen yang akan mempertautkan tepi luka.

 

Serat-serat baru dibentuk, diatur, mengkerut, yang tak diperlukan dihancurkan, dengan demikian luka mengkerut/mengecil.

 

Pada fase ini luka diisi oleh sel-sel radang, fibroblas, serai-serta kolagen, kapiler-­kapiler baru; membentuk jaringan kemerahan dengan permukaan tak rata disebut jaringan granulasi.

 

Epitel sel basal di tepi luka lepas dari dasarnya dan pindah menutupi dasar luka, tempatnya diisi hasil mitosis sel lain. Proses migrasi epitel hanya berjalan ke permukaan yang rata atau lebih rendah, tak dapat naik. Pembentukan jaringan granulasi berhenti setelah seluruh permukaan luka tertutup epitel dan mulailah proses pendewasaan penyembuhan luka: pengaturan kembali, penyerapan yang berlebih.

 

3. Fase remodeling atau fase resorpsi. Dapat bertangsung berbulan-bulan dan berakhir bila tanda radang sudah hilang. Parut dan sekitarnya berwarna pucat, tipis, lemas, tak ada rasa sakit maupun gatal.

 
Penatalaksanaan
Evaluasi Luka
1. Anamnesis

Penting untuk menentukan cara penanganan dengan menanyakan bagaimana, di mana, dan kapan luka terjadi. Hal ini dilakukan untuk memperkirakan kemungkinan terjadinya kontaminasi dan menentukan apakah luka akan ditutup secara primer atau dibiarkan terbuka.

2. Pemeriksaan Fisik

a. Lokasi. Penting sebagai petunjuk kemungkinan adanya cedera pada struktur yang lebih dalam.

b. Eksplorasi. Dikerjakan untuk menyingkirkan kemungkinan cedera pada struktur yang lebih dalam, menemukan benda asing yang mungkin tertinggal pada luka serta menentukan adanya jaringan yang telah mati.
Tindakan Antisepsis
Daerah yang disucihamakan harus lebih besar dari ukuran luka. Prinsip saat mensucihamakan kulit adalah mulai dari tengah dan bekerja ke arah luar dengan pengusapan secara spiral, di mana daerah yang telah dibersihkan tidak boleh diusap lagi menggunakan kasa yang telah digunakan tersebut. Larutan antiseptik yang dianjurkan adalah povidone iodine 10% atau klorheksidine glukonat 0,5%.
Pembersihan Luka
o Irigasi sebanyak-banyaknya dengan tujuan untuk membuang jaringan mati dan benda asing (debridement) sehingga akan mempercepat penyembuhan. Irigasi dilakukan dengan menggunakan cairan garam fisiologis atau air bersih. Lakukan secara sistematis dari lapisan superfisial ke lapisan yang lebih dalam.

o Hilangkan semua benda asing dan eksisi semua jaringan mati. Tepi yang compang-­camping sebaiknya dibuang.

o Berikan antiseptik.

o Bila perlu tindakan ini dilakukan dengan pemberian anestesi lokal.

 

Penjahitan Luka

Luka bersih dan diyakini tidak mengalami infeksi serta berumur kurang dari 8 jam boleh dijahit primer. Sedangkan luka yang terkontaminasi berat dan/atau tidak berbatas tegas sebaiknya dibiarkan sembuh per secundam atau per tertiam.

 

Jenis-jenis jahitan:

1. Jahitan kulit

a. Jahitan interrupted:

i. Jahitan simple interrupted (jahitan satu demi satu). Merupakan jenis jahitan yang paling dikenal dan paling banyak digunakan. Jarak antar jahitan sebaiknya 5-7 mm dan batas jahitan dari tepi luka sebaiknya 1-2 mm. Semakin dekat jarak antara tiap jahitan, semakin baik bekas luka setelah penyembuhan.

ii. Jahitan matras:

o Jahitan matras vertikal. Jahitan jenis ini digunakan jika eversi tepi luka tidak bisa dicapai hanya dengan menggunakan jahitan satu demi satu, misalnya didaerah yang tipis lemak subkutisnya dan tepi luka cenderung masuk ke dalam.

o Jahitan matras horizontal. Jahitan ini digunakan untuk menautkan fasia dan aponeurosis. Jahitan ini tidak boleh digunakan untuk menjahit lemak subkutis karena membuat kulit di atasnya terlihat bergelombang.

b. Jahitan continous:

i. Running suture, simple continuous, continuous over & over, atau jelujur. Jahitan jelujur lebih cepat dibuat, lebih kuat dan pembagian tekanannya lebih rata bila dibandingkan dengan jahitan terputus. Kelemahannya jika benang putus atau simpul terurai seluruh tepi luka akan terbuka. Jangan digunakan untuk menjahit luka terinfeksi karena dapat menghambat pengeluaran pus atau darah.

ii. Jahitan interlocking, feston

iii. yang khas: jahitan kantung tembakau (tabac sac)

c. Jahitan dengan stepler (skin steples)

2. Jahitan subkutis

a. Jahitan continuous: Jahitan terusan subkutikuler atau intradermal. Digunakan jika ingin dihasilkan hasil kosmetika yang baik setelah luka sembuh. Selain itu digunakan juga untuk menurunkan tegangan pada luka yang lebar sebelum dilakukan penjahitan satu demi satu.

b. Jahitan interrupted dermal stitch

3. Jahitan dalam

 

Pada luka infeksi misalnya insisi abses, dipasang dren. Dren dapat dibuat dari guntingan sarung tangan. Fungsi dren adalah mengalirkan cairan keluar (darah atau senun) pada dead space (jika terbentuk).
Penutupan Luka
Prinsip dalam menutup luka adalah mengupayakan kondisi lingkungan yang baik pada luka sehingga proses penyembuhan berlangsung optimal. Fungsi kulit adalah sebagai sarana pengatur penguapan cairan tubuh dan sebagai barier terhadap invasi bakteri patogen. Pada luka fungsi ini menurun oleh karena proses inflamasi atau bahkan hilang sama sekali (misalnya pada kehilangan kulit akibat luka bakar) sehingga untuk membantu mengembalikan fungsi ini, perlu dilakukan penutupan luka. Penutupan luka yang terbaik adalah dengan kulit (skin graft, flap). Bila tidak memungkinkan maka sebagai alternatif digunakan kassa (sampai luka menutup atau dilakukan penutupan dengan kulit)

 
Pembalutan
Fungsi balutan antara lain:

1. Sebagai pelindung terhadap penguapan, infeksi

2. Mengupayakan lingkungan yang baik bagi luka dalam proses penyembuban: menciptakan kelembaban, sebagai kompres, menyerap eksudat/produk lisis jaringan (adsorben)

3. Sebagai fiksasi, mengurangi pergerakan tepi-tepi luka sampai pertautan terjadi

4. Efek penekanan (pressure): mencegah berkumpulnya rembesan darah yang menyebabkan hematom

Pertimbangan dalam menutup dan membalut luka sangat tergantung pada penilaian kondisi luka. Luka sayat, bersih, ukuran kecil yang dapat mengalami proses penyembuhan per primam tidak memerlukan penutup/pembalut. Sebaliknya pada luka luas dengan kehilangan kulit atau disertai eksudasi dan produk lisis jaringan memerlukan penggantian balutan sampai 5-6 kali sehari.

 
Pemberian Antibiotik dan ATS/Toksoid
Prinsipnya adalah pada luka bersih tidak perlu diberikan antibiotik dan pada luka terkontaminasi atau kotor maka perlu diberikan antibiotik. Luka-luka yang merupakan me­dia yang baik bagi berkembang biaknya bakteri-bakteri anaerob (misalnya luka tusuk, luka menggaung, terkontaminasi bahan-bahan yang merupakan media yang baik dalam berkembangnya kuman-kuman anaerob seperti karat, kotoran kuda) memerlukan pemberian ATS/toksoid.

 
Pengangkatan Jahitan
Jahitan diangkat bila fungsinya sudah tidak diperlukan lagi. Sebagaimana diketahui fungsi jahitan adalah mempertautkan tepi-tepi luka. Bila pertautan tepi-tepi luka sudah cukup kuat, di mana terjadi perlekatan tepi-tepi luka dengan adanya serat-serat fibrin (jaring-jaring fibrin, fibrin mesh) yang secara klinis tampak luka sudah menutup, maka fungsi jahitan sudah tidak diperlukan lagi.

Hal ini tergantung pada beberapa faktor:

1. Vaskularisasi. Umumnya daerah yang memiliki vaskularisasi baik (misalnya muka) proses penyembuhan berlangsung cepat, sementara daerah/jaringan yang memiliki vaskularisasi kurang baik (misalnya tungkai, tendon) proses penyembuhan membutuhkan waktu lebih lama.

2. Pergerakan. Daerah-daerah yang relatif sering bergerak (misalnya sendi) proses penyembuhan terjadi lebih lama. Oleh karenanya proses penyembuhan luka pada sendi/ persendian diupayakan dengan:

§ mengistirahatkan sendi bersangkutan (mengurangi pergerakan) dengan pemasangan bidai atau perban elastik

§ mempertahankan jahitan lebih lama (dibandingkan tempat-tempat lain, misalnya sampai 2-3 minggu)

3. Ketegangan tepi-tepi luka. Pada daerah-daerah yang loose maka jahitan bisa lebih cepat diangkat, namun pada daerah yang tight (tegang) lebih lama.

4. Teknik penjahitan. Yang dimaksud dengan teknik penjahitan dalam hal ini adalah jahitan yang dilakukan pada lapisan-lapisan jaringan (misalnya jahitan otot, jahitan fasia, jahitan subkutis, dan jahitan intradermal menggunakan benang yang tidak diserap) sebelum menjahit kulit.

 

Peralatan Bedah Minor

Alat-alat yang digunakan antara lain pisau bedah, gunting, pinset, klem. Alat dan bahan untuk menjahit: pemegang jarum, jarum jahit dan benang jahit.

 
Instrumen
1. Instrumen pemotong

o Pisau bedah atau skalpel. Terutama digunakan untuk menyayat/insisi permulaan kulit. Tersedia dalam berbagai ukuran sesuai keperluan. Bilah no.10 untuk pemakaian umum, insisi sederhana dan untuk pengambilan tandur alih kulit. Bilah no.11 mempunyai ujung runcing dengan sisi tajam yang lurus untuk membuat tusukan, misalnya pada abses, sedangkan bilah no.15 untuk pekerjaan yang membutuhkan ketelitian tinggi misalnya operasi di tangan dan eksisi jaringan parut.

o Gunting. Gunting ada 4 macam yaitu gunting Mayo, gunting Metzenbaum, gunting runcing, dan gunting balutan. Gunting Mayo adalah gunting besar yang dirancang untuk memotong sruktur yang liat, misalnya fascia dan tendo. Gunting Metzenbaum berukuran lebih kecil dan digunakan untuk memotong jaringan. Gunting runcing digunakan untuk mendiseksi lebih cermat dan rapi. Gunting balutan adalah gunting khusus untuk memotong benang atau kain pembalut.

2. Instrumen pemegang

o Pinset. Pinset bergerigi (pinset sirurgis) banyak dipakai untuk memegang jaringan subkutis, otot, serta fascia pada saat mendiseksi dan menjahit. Pinset tak bergerigi (pinset anatomis) digunakan untuk memegang jaringan yang mudah robek, seperti mukosa, dll.

o Klem. Klem pengenggam (klem Kocher) dirancang untuk memegang kulit dengan kuat sehingga dapat ditarik dan tidak menimbulkan kerusakan jaringan, khususnya pembuluh darah. Klem hemostat (klem Pean) digunakan untuk menghentikan perdarahan, mempunyai gigi yang lebih halus agar dapat menjepit dengan cermat. Umumnya mempunyai bilah dengan bentuk melengkung atau lurus. Klem arteri berujung melengkung amat berguna untuk menjepit pembuluh darah dan mengikat simpul yang terletak jauh di dalam luka. Jika dibutuhkan kecermatan tinggi digunakan klem hemostat yang kecil dan melengkung disebut klem Mosquito.

o Pemegang jarum (needle holder). Mempunyai bilah yang kokoh, pendek dan lebar agar dapat menjepit dengan kuat.

3. Instrumen penarik

Retraktor banyak dipakai untuk menyisihkan jaringan yang menghalangi gerakan, juga untuk memberikan pemaparan yang lebih baik.

4. Instrumen penghisap

Digunakan bila perdarahan cukup banyak. Alat penghisap untuk prosedur minor adalah penghisap berujung Frazier.

 
Jarum
Jarum jahit bedah yang lurus atau lengkung, berbeda-beda bentuknya berdasarkan penampang batang jarum yang bulat atau bersegi tajam dan bermata atau tidak bermata. Jarum umumnya dapat dibedakan menurut dua cara yaitu atas dasar traumatis – atraumatis serta menurut bentuk ujung dan penampangnya yaitu cutting – noncutting.

 

Yang dimaksud jarum traumatis adalah jarum yang mempunyai ‘mata’ untuk memasukkan benang di bagian ujungnya yang tumpul. Disebut traumatis karena jarum ini pada bagian yang bermata ukuran penampangnya lebih besar dari bagian ujungnya yang tajam sehingga akan menimbulkan bekas luka yang lebih besar. Hal ini kurang menguntungkan jika digunakan pada jaringan yang halus seperti usus dan pembuluh darah atau jaringan kritis lainnya. Keuntungannya adalah jarum ini dapat dipakai berulang kali dan harganya lebih murah. Jarum atraumatis adalah jarum yang tidak bermata sehingga ujung jarum langsung dihubungkan dengan benang. Jarum ini mempunyai ukuran penampang yang hampir sama besar dengan ukuran benangnya. Kerugiannya jarum ini hanya bisa dipakai sampai benangnya habis dan harganya jauh lebih mahal dari jarum traumatis.

 

Jarum cutting adalah jarum yang penampangnya berbentuk segitiga atau pipih dan tajam, sehingga ketika dipakai dapat menyayat jaringan dan menimbulkan lubang yang lebih lebar. Jarum ini umumnya dipakai untuk menjahit kulit dan tendo karena keduanya adalah jaringan yang sangat liat. Jarum noncutting atau tappered adalah jarum yang penampangnya bulat dan ujungnya saja yang tajam, sehingga tidak menimbulkan sayatan yang lebar pada kulit. Jarum ini digunakan untuk menjahit jaringan lunak, fasia, dan otot.

 
Benang
Benang dapat dibagi menurut:

1. Penyerapan

a. Benang yang dapat diserap atau absorbable, contoh: catgut, asam poliglikolat (Dexon), asam poliglaktik (Vicryl) dan polidioksanone. Yang paling sering dipakai adalah catgut dan Vicryl.

b. Benang tidak dapat diserap atau non-absorbable. Contoh: sutera, katun, poliester, nilon, polypropilene (prolene), dan kawat tahan karat. Yang sering dipakai adalah sutera dan polypropilene.

2. Reaksi jaringan yang timbul terhadap materi yang digunakan untuk pembuatannya

a. Benang yang menimbulkan reaksi (besar), misalnya catgut, sutera, dan benang-benang multifilamen.

b. Benang yang menimbulkan reaksi minimal, misalnya nilon dan benag-benang monofilamen.

3. Filamen fisik

a. Benang multifilamen yang disusun/kepang (braided), misalnya sutera.

b. Benang monofilamen yang hanya terdiri dari satu filamen, misalnya nilon.

 


Jenis Benang yang Dapat Diserap
1. Catgut, terbuat dari usus halus kucing atau domba. Catgut merupakan benda asing bagi jaringan tubuh yang dapat mempengaruhi penyembuhan luka. Plain catgut memiliki waktu absorbsi sekitar 10 hari. Chromic catgut yang mengandung garam kromium memiliki waktu absorbsi yang lebih lama sampai 20 hari. Chromic catgut biasanya menyebabkan reaksi inflamasi yang lebih besar dibandingkan plain catgut. Tidak terbukti bahwa cat­gut dapat menyebabkan reaksi alergi. Catgut digunakan untuk mengikat pembuluh darah lapisan subkutaneus dan untuk menutup kulit di skortum dan perineum.

2. Benang sintetis

a. Multifilamen

o Asam poliglikolat atau Dexon adalah benang sintetis yang mempunyai kekuatan regangan sangat besar. Diserap habis setelah 60 – 90 hari. Efek reaksi jaringan yang dihasilkan lebih kecil daripada catgut. Digunakan untuk menjahit fasia otot, kapsul organ, tendon dan penutupan kulit secara subkutikulet Dexon tidak mengandung protein kolagen, antigen, dan zat pirogen sehingga menimbulkan reaksi jaringan yang minimal. Karena bentuknya yang berpilin jangan digunakan untuk menjahit di permukaan kulit karena dapat meningkatkan pertumbuhan bakteri sehingga mudah timbul infeksi.

o Asam poliglaktik atau vicryl adalah benang sintetis berpilin yang sifatnya mirip dengan dexon. Benang ini memiliki kekuatan regangan sedikit di bawah dexon dan dapat diserap habis setelah 60 hari pascaoperasi. Hanya digunakan untuk menjahit daerah-daerah yang tertutup dan merupakan kontraindikasi untuk jahitan permukaan kulit. Vicryl biasanya berwarna ungu.

Untuk menghasilkan kekuatan yang memuaskan Vicryl dan dexon disimpul minimal tiga kali. Vicryl dan dexon terutama digunakan untuk meligasi pembuluh darah, menautkan fasia, dan menjahit kulit secara subkutikular.

b. Monofilamen

Polidioksanone (PDS). Kekuatan regangannya bertahan selama 4 sampai 6 minggu dan diserap seluruhnya setelah 6 bulan. Karena monofilamen, benang ini sangat baik untuk menjahit daerah yang terinfeksi atau terkontaminasi.

 


Jenis Benang yang Tidak Dapat Diserap
1. Sutera atau silk adalah serat protein yang dihasilkan larva ulat sutera yang dipilin menjadi benang. Mempunyai kekuatan regangan yang besar, mudah dipegang dan mudah dibuat simpul. Kelemahannya, kekuatan regangan dapat menyusut pada jaringan yang berbeda-beda, umumnya timbul setelah 2 bulan pascapoperasi.

2. Poliester (dacron) merupakan serat poliester, berupa benang pilinan yang mempunyai kekutan regangan yang sangat besar. Sangat dianjurkan untuk penutupan fasia. Kerugiannya adalah tidak digunakan pada jaringan yang terinfeksi atau terkontaminasi karena bentuknya yang berpilin. Untuk kekuatan yang maksimal poliester disimpul minimal sebanyak lima kali.

3. Polipropilene (prolene) adalah material monofilamen yang sangat halus sehingga tidak banyak menimbulkan kerusakan dan reaksi jaringan. Biasanya berwarna biru. Pada beberapa merek prolene langsung bersambung dengan jarum berukuran diameter sama sehingga tidak menimbulkan trauma yang berlebihan. Merupakan pilihan utama untuk menjahit daerah yang terinfeksi atau terkontaminasi. Ukuran yang sangat kecil sering digunakan untuk bedah mikro. Kelemahannya benang ini sulit disimpul dan sering terlepas sendiri.

4. Kawat baja dibuat dari baja yang mengandung karbon rendah merupakan bahan inert (tidak bereaksi dengan jaringan). Menghasilkan kekuatan regangan yang terbesar dan reaksi jaringan yang minimal. Kesulitannya adalah dalam hal menjahit dan harus hati­-hati untuk mencegah supaya jaringan tidak terpotong atau terlipat (kinking). Digunakan untuk menyambung ligamen, tendon dan tulang.

 


Ukuran Benang
Benang ukuran terbesar yang tersedia adalah nomor 5 yang kira-kira berukuran seperti kawat biasa. Ukuran akan mengecil sampai ke nomor 1, yamg masih dianggap benang yang kasar. Ukuran yang lebih kecil lagi dimulai dari 1.0, kemudian 2.0 , 3.0 dan seterusnya sampai yang terkecil 10.0. Untuk kegunaan biasa ukuran 5.0 sampai 1.0 adalah ukuran baku. Ukuran 6.0 sampai 7.0 digunakan untuk anastomosis pembuluh darah halus, ukuran 8.0 sampai 10.0 untuk operasi mata dan bedah mikro, ukuran 0 – 1 cocok untuk menjahit fasia sedangkan ukuran 4.0 untuk menjahit tendon.

 

Anestesi Lokal

Anestesi lokal bekerja dengan memblok hantaran saraf. Profil tiap jenis anetesi lokal bergantung pada kelarutannya dalam lemak, ikatan protein, pKa, dan aktivitas vasodilatornya.

 

Tersedia pula campuran dengan vasokonstriktor, biasanya epinefrin, dengan konsentrasi tertentu. Penambahan vasokonstriktor mengurangi kecepatan penyerapan, sehingga toksisitas berkurang dan dosis total dapat ditingkatkan. Vasokonstriktor juga memperpanjang masa kerja (sekitar 50%) serta mengurangi perdarahan pada daerah operasi. Vasokonstriktor tidak boleh digunakan pada daerah-daerah ujung seperti jari, telinga, penis, di mana nekrosis mudah terjadi. Selain itu tidak boleh digunakan pada pasien dengan hipertensi, kelainan jantung, serta kelainan pembuluh darah perifer.

 
Infiltrasi Lokal
Untuk lesi yang kecil, batas luka yang akan dibuat ditentukan terlebih dahulu dan (kalau perlu) ditandai dengan tinta khusus. Setelah pasien diberitahu, jarum ditusukkan menembus kulit dengan sudut 45 derajat sampai mencapai jaringan lemak subkutis. Sementara obat disuntikkan, jarum didorong maju dengan arah horisontal.

 

Kecuali jika penyuntikan dilakukan di jaringan parut, seharusnya obat mudah didorong keluar. Tindakan aspirasi tidak perlu dikerjakan, asalkan jarum dijaga agar tetap bergerak. Kalaupun menembus pembuluh darah, hanya sebagian kecil obat yang akan masuk ke dalam sirkulasi. Sebelum sampai ke pangkalnya jarum ditarik dan diubah arahnya, atau ditusukkan kembali pada daerah yang telah dianestesi, hingga seluruh tepi lapangan operasi terinfiltrasi.

 

Keadaan-keadaan khusus:

1. Laserasi-penyuntikan dilakukan langsung kejaringan subdermal dari dalam luka. Jika luka terkontaminasi atau kulit bergerak sehingga sulit ditusuk, penyuntikan terpaksa dilakukan, walaupun akan terasa lebih nyeri.

2. Kulit kepala-infiltrasi dilakukan seperti biasa, ke dalam lemak subkutis. Jika ujung jarum masuk terlalu dalam sampai ke bawah aponeurosis epikranium (ditandai dengan hilangnya tahanan), anestesi tidak akan berjalan sempurna.

3. Jaringan parut, telapak kaki dan tangan, serta hidung. Di daerah-daerah ini tahanan akan terasa sangat besar karena kulit terikat erat pada jaringan lemak penunjang di bawahnya. Hialuronidase akan sangat membantu.

 
Blok Saraf Perifer
Terdapat 2 tipe blok saraf yaitu mayor dan minor. Blok pada satu buah saraf perifer misalnya blok saraf radialis disebut tipe minor, dan blok pada dua atau lebih saraf perifer atau pleksus saraf disebut tipe mayor.

 
Komplikasi
Obat-obat anestesi lokal secara farmakologis bersifat sangat kuat dan hanya boleh dipakai bila obat dan alat resusitasi tersedia. Keamanan dan keampuhannya tergantung pada:

1. Dosis yang tepat

2. Teknik yang benar: suntikkan secara lambat dengan aspirasi berulang kali.

3. Persiapan yang baik: obat-obat untuk darurat dan resusitasi harus tersedia

4. Kewaspadaan akan reaksi dan komplikasi yang mungkin terjadi

 

Komplikasinya terdiri dari:

1. Reaksi toksik

Terjadi pada dosis berlebih. Gejala awal: eksitasi dan gelisah, nyeri kepala, mual dan muntah, dan kontraksi otot-otot. Tanda awal: denyut nadi tidak teratur, frekuensi nadi meningkat, hipotensi, dan respirasi cepat dan dangkal

 

Gejala dan tanda awal ini dapat berubah dengan cepat menjadi serangan kejang, penurunan kesadaran, depresi pernapasan, serta kegagalan sirkulasi.

 

Penanganan dengan menghentikan pemberian obat anestesi dan segera berikan oksigen melalui masker. Nilai dan atasi kegagalan pernapasan dan sirkulasi. Hipotensi diatasi dengan pemberian fenilefrin (Neo-Synephrine) 1-2 mg dalam 10 ml larutan garam fisiologis intravena. Untuk hipotensi yang persisten, diberikan 20 mg fenilefrin dalam 500 cc dekstrose 5% secara intravena untuk menaikkan tekanan darah pasien. Kejang biasanya berakhir setelah pemberian oksigen. Bila berlanjut, berikan diazepam 5 mg intravena.

 

2. Reaksi hipersensitivitas

Reaksi ini terjadi hanya pada sebagian pasien dan tidak berhubungan dengan banyaknya obat yang disuntikkan. Dapat timbul segera atau beberapa saat setelah terpapar anti­gen. Reaksi ini dapat berkembang menjadi suatu kegawatan berupa syok, gagal napas, henti jantung, dan kematian mendadak.

 

Pada dasarnya penanganan tergantung tingkat keparahan. Yang penting harus segera dilakukan adalah penghentian obat anestesi dan evaluasi jalan napas dan sirkulasi. Pada yang ringan akan terjadi warna kemerahan pada permukaan kulit yang disertai rasa gatal, wheezing, hipotensi serta edema angioneurotik. Gatal, warna kemerahan serta edema akan menghilang dengan pemberian 25-50 mg difenhidramin (Benadryl) intravena.

 

Reaksi sensitivitas akan mengancam jiwa jika laring mengalami edema. Petanda bahayanya adalah rasa gatal pada tenggorok, suara serak yang makin bertambah, serta stridor saat inspirasi. Pada keadaan ini selain difenhidramin, harus ditambahkan epinefrin (0,3 – 0,5 ml, larutan 1:1.000) subkutan, yang dapat diulang bila diperlukan. Wheezing ringan akan berkurang dengan pemberian aminofilin (250 – 500 mg) intravena yang disuntikan perlahan.

 

Pada reaksi yang berat dapat terjadi kegagalan sirkulasi berupa syok anafilaktik. Terjadi hipoperfusi perifer dengan tanda kulit dingin, lembab dan sianosis; status men­tal terganggu yaitu kebingungan, agitasi, atau penurunan kesadaran; dan terjadi gejala gangguan sirkulasi yaitu tekanan darah rendah (sistolik < 100 mmHg atau > 10% dari tekanan darah yang telah diketahui) dan takikardia. Penanganannya dengan menghentikan pemberian obat anestesi. Jalan napas harus dijaga agar tetap lancar. Pada keadaan ini berikan larutan epinefrin 1:1.000 sebanyak 0,5 – 1 ml secara subkutan. Pasang infus dan suntikan 0,1 mg epinefrin (0,1 ml larutan 1 :1.000) secara perlahan. Jika tekanan darah masih rendah, tambahkan 300 mg metaramol bitartrat (Aramine) ke dalam cairan infus. Sesuaikan kecepatan pemberian cairan dengan respons tekanan darah.

 

Semua pasien yang mengalami hipotensi setelah pemberian obat anestesi harus dirawat di rumah sakit untuk pengawasan lebih lanjut. Pasien dengan reaksi ringan dapat berobat jalan, asalkan diberi antihistamin oral selama beberapa hari.