Category Archives: Bedah Ortopedi

Spondilitis Tuberkulosis

Definisi
Spondilitis tuberkulosis disebut juga penyakit Pott bila disertai paraplegi atau defisit neurologis. Spondilitis ini paling sering ditemukan pada vertebra Th8 – L3, dan paling jarang pada vertebra C2. Spondilitis tuberkulosis biasanya mengenai korpus vertebra, tetapi jarang menyerang arkus vertebra.

 
Manifestasi Klinis
Adanya riwayat penyakit tuberkulosis. Gejala yang mendukung diagnosis adanya nyeri yang meningkat pada malam hari, makin lama makin berat, terutama pada pergerakan.

 

Pada tulang belakang dapat ditemukan gibus, abses retroperitoneal atau abses inguinal. Terdapat gangguan medula spinalis berupa paresis dan gangguan sensibilitas (anestesi, defekasi, dan miksi). Yang khas ialah paraplegia Pott yang merupakan komplikasi spondilitis tuberkulosis. Kedua kaki layu dan terjadi atrofi otot-otot tungkai bawah.

 
Pemeriksaan Penunjang
Reaksi tuberkulin biasanya meningkat, dan laju endap darah meningkat. Pada gambaran foto Rontgen tampak penyempitan sela diskus, gambaran abses paravertebral, dan destruksi tulang.

 
Penatalaksanaan
Terapi konservatif berupa istirahat di tempat tidur dilakukan untuk mencegah paraplegia, disertai pemberian tuberkulostatik. Dilakukan pencegahan untuk menghindari dekubitus, kesulitan miksi dan defekasi.

 

Bedah anterior fusi yang dilakukan berupa debrideman dan penggantian korpus verte­bra yang rusak dengan tulang spongiosis atau kortikospongiosis. Pada paraplegia terapi ini dilakukan untuk dekompresi medula spinalis.

 

Pada akhir-akhir ini dilakukan juga tindakan stabilisasi posterior tulang belakang untuk koreksi deformitas di samping tindakan debridemen dan anterior fusi.

 

Tuberkulosis Tulang dan Sendi

Penyakit ini tidak pernah primer, selalu sekunder terhadap fokus tuberkulosis di tempat lain. Tuberkulosis pada tulang paling banyak ditemukan di tulang panjang bagian metafisis dan di trokanter mayor. Tuberkulosis tulang dan sendi tersering pada vertebra, diikuti oleh sendi panggul dan lutut.

 
Manifestasi Klinis
Gejala-gejala penyakit tuberkulosis paru-paru harus dicari, berupa malaise, badan hangat, urus, keringat malam, dan batuk-batuk kronik. Mungkin proses di paru-paru sudah tenang, tetapi kuman menyebar ke tulang. Pada daerah sendi yang terkena tampak adanya pembengkakan, rasa sakit dan terbatasnya gerakan sendi, spasme otot. Kelenjar getah bening regional membesar dan nyeri.

 
Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaan darah tepi laju endap darah meninggi, Hb rendah. Uji tuberkulin dapat membantu menegakkan diagnosis.

 
Penatalaksanaan
Pasien diberikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein, juga diistirahatkan. Pada daerah yang terkena dilakukan pembidaian atau traksi untuk mengurangi spasme dari otot-otot. Dilakukan pemberian tuberkulostatik yang sesuai. Rejimen yang dianjurkan:

1. Rifampisin 10 mg/kg BB, dosis maksimum 600 mg per hari.

2. INH 20 mg/kg BB

3. Etambutol 25 mg/kg BB

Bila terapi konservatif gagal maka dilanjutkan dengan terapi operatif yaitu debridemen.

 

Osteomielitis

Definisi

Osteomielitis adalah infeksi pada tulang dan sumsum tulang yang dapat disebabkan oleh bakteri, virus, atau proses spesifik (M. tuberkulosa, jamur). Pembagian osteomielitis yang lazim dipakai:

1. Osteomielitis primer yang disebabkan penyebaran secara hematogen dari fokus lain. Osteomielitis primer dapat dibagai menjadi osteomielitis akut dan kronik.

2. Osteomielitis sekunder atau osteomielitis per kontinuitatum yang disebabkan penyebaran kuman dari sekitarnya, seperti bisul dan luka.

Osteomielitis selalu dimulai dari daerah metafisis karena pada daerah tersebut peredaran darahnya lambat dan banyak mengandung sinusoid. Penyebaran osteomielitis dapat terjadi:

1. Penyebaran ke arah korteks, membentuk abses subperiosteal dan selulitis pada jaringan sekitarnya.

2. Penyebaran menembus periosteum membentuk abses jaringan lunak. Abses dapat menembus kulit melalui suatu sinus dan menimbulkan fistel. Abses dapat menyumbat atau menekan aliran darah ke tulang dan mengakibatkan kematian jaringan tulang (sekuester).

3. Penyebaran ke arah medula.

4. Penyebaran ke persendian, terutama bila lempeng pertumbuhannya intraartikuler misalnya sendi panggul pada anak-anak. Penetrasi ke epifisis jarang terjadi.

 
Manifestasi Klinis
Fase akut ialah fase sejak terjadinya infeksi sampai 10 – 15 hari. Pada fase ini anak tampak panas tinggi dan sakit keras, nyeri tulang dekat sendi, tidak dapat menggerakkan anggota bersangkutan, pembengkakan lokal, dan nyeri tekan.

 

Pada osteomielitis kronik biasanya rasa sakit tidak begitu berat, anggota yang terkena merah dan bengkak atau disertai terjadinya fistel.

 
Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium

Pada fase akut ditemukan CRP yang meninggi, laju endap darah yang meninggi dan leukositosis

2. Pemeriksaan radiologik

Pada fase akut gambaran radiologik tidak menunjukkan kelainan. Pada fase kronik ditemukan suatu involukrum dan sekuester.

 
Penatalaksanaan
1. Perawatan di rumah sakit.

2. Pengobatan suportif dengan pemberian infus.

3. Pemeriksaan biakan darah.

4. Antibiotik spektrum luas yang efektif terhadap gram positif maupun gram negatif diberikan langsung tanpa menunggu hasil biakan darah secara parenteral selama 3 – 6 minggu.

5. Imobilisasi anggota gerak yang terkena.

6. Tindakan pembedahan.

Indikasi untuk melakukan tindakan pembedahan ialah

a. adanya abses

b. rasa sakit yang hebat

c. adanya sekuester

d. bila mencurigakan adanya perubahan ke arah keganasan (karsinoma epidermoid).

Saat yang terbaik untuk melakukan tindakan pembedahan adalah bila involukrum telah cukup kuat untuk mencegah terjadinya fraktur pascapembedahan.

 

Fraktur Kompresi Tulang Belakang

Biasanya merupakan fraktur kompresi karena trauma indirek dari atas dan dari bawah. Dapat menimbulkan fraktur stabil atau tidak stabil.

 
Manifestasi Klinis
Pada daerah fraktur biasanya didapatkan rasa sakit bila digerakkan dan adanya spasme otot paravertebra. Bila kepala ditekan ke bawah terasa nyeri. Perlu diperiksa keadaan neurologis serta kemampuan miksi dan defekasi.

 
Penatalaksanaan
1. Bila sederhana (stabil atau tak ada gejala neurologik):

a. Istirahat di tempat tidur, telentang dengan dasar keras dan posisi miring ke kiri dan ke kanan untuk mencegah dekubitus (5 pillow nursing) selama 2 minggu.

b. Bila sakit, diberikan analgetik.

c. Pada fraktur yang stabil, kalau tak merasa sakit lagi setelah 2 minggu latih otot-otot punggung dalam 1 -2 minggu. Dilanjutkan dengan mobilisasi; belajar duduk, jalan, memakai brace, dan bila tak ada apa-apa pasien dapat pulang. Pada fraktur yang tidak stabil ditunggu lebih lama 3 – 4 minggu.

2. Bila dengan kelainan neurologik:

Kelainan neurologik dapat timbul karena edema, hematomieli, kompresi dari fraktur, dan karena luksasi tulang belakang. Kelainan dapat komplit atau inkomplit. Kalau pada observasi keadaan neurologis memburuk, segera dilakukan operasi dekompresi, misalnya tindakan laminektomi dan fiksasi tulang belakang. Pada fraktur tulang belakang dengan defisit neurologis, indikasi tindakan operatif adalah untuk stabilisasi fraktur, untuk rehabilitasi dini (duduk, berdiri, dan berjalan). Pada fraktur tulang belakang dengan defisit neurologis yang dilakukan tindakan konservatif (tanpa operasi), setelah 6 minggu atau fraktur kuat, dilakukan mobilisasi duduk/berdiri dengan menggunakan external support seperti gips Bohler, gips korset, jaket Minerva, tergantung dari tempat fraktur. Pemasangan gips korset harus meliputi manubrium sterni, simfisis, daerah fraktur, dan di bawah ujung skapula.

Fraktur Kruris

Fraktur kruris merupakan akibat terbanyak dari kecelakaan lalu lintas.

 

Manifestasi Klinis

Gejala yang tampak adanya deformitas angulasi atau endo/eksorotasi. Daerah yang patah tampak bengkak, juga ditemukan nyeri gerak dan nyeri tekan.

 
Penatalaksanaan
Pada fraktur tertutup dilakukan reposisi tertutup dan imobilisasi dengan gips. Caranya pasien tidur terlentang di atas meja operasi. Kedua lutut dalam posisi fleksi 90°, sedang kedua tungkai bawah menggantung di tepi meja. Tungkai bawah yang patah ditarik ke arah bawah. Rotasi diperbaiki. Setelah tereposisi baru dipasang gips melingkar. Ada beberapa cara pemasangan gips, yaitu:

1. Cara long leg plaster. Gips dipasang mulai dari pangkal jari kaki sampai proksimal femur dengan sendi talokrural dalam posisi netral, sedang posisi lutut dalam fleksi 15-20°.

2. Cara Sarmiento. Pemasangan gips dimulai dari jari kaki sampai di atas sendi talokrural dengan molding sekitar maleolus. Setelah kering segera dilanjutkan ke atas sampai 1 inci di bawah tuberositas tibia dengan molding pada permukaan anterior tibia. Gips dilanjutkan sampai ujung proksimal patela.

Pada fraktur terbuka dilakukan debrideman luka. Kemudian dilakukan reposisi secara terbuka tulang yang patah, dilanjutkan dengan imobilisasi. Dapat digunakan cara long leg plaster, hanya saja untuk fraktur terbuka dibuat jendela di atas luka setelah beberapa hari. Dari lubang jendela ini luka dirawat sampai sembuh. Dapat juga dengan memakai pen di luar tulang untuk fraktur terbuka grade III (fiksasi eksterna), contohnya dengan fiksasi eksterna Judet, Roger Anderson, Hoffman, Screw dan metil metakrilat (INOE teknik).

 

Fraktur Kompresi Tulang Belakang

Biasanya merupakan fraktur kompresi karena trauma indirek dari atas dan dari bawah. Dapat menimbulkan fraktur stabil atau tidak stabil.

 
Manifestasi Klinis
Pada daerah fraktur biasanya didapatkan rasa sakit bila digerakkan dan adanya spasme otot paravertebra. Bila kepala ditekan ke bawah terasa nyeri. Perlu diperiksa keadaan neurologis serta kemampuan miksi dan defekasi.

 
Penatalaksanaan
1. Bila sederhana (stabil atau tak ada gejala neurologik):

a. Istirahat di tempat tidur, telentang dengan dasar keras dan posisi miring ke kiri dan ke kanan untuk mencegah dekubitus (5 pillow nursing) selama 2 minggu.

b. Bila sakit, diberikan analgetik.

c. Pada fraktur yang stabil, kalau tak merasa sakit lagi setelah 2 minggu latih otot-otot punggung dalam 1 -2 minggu. Dilanjutkan dengan mobilisasi; belajar duduk, jalan, memakai brace, dan bila tak ada apa-apa pasien dapat pulang. Pada fraktur yang tidak stabil ditunggu lebih lama 3 – 4 minggu.

2. Bila dengan kelainan neurologik:

Kelainan neurologik dapat timbul karena edema, hematomieli, kompresi dari fraktur, dan karena luksasi tulang belakang. Kelainan dapat komplit atau inkomplit. Kalau pada observasi keadaan neurologis memburuk, segera dilakukan operasi dekompresi, misalnya tindakan laminektomi dan fiksasi tulang belakang. Pada fraktur tulang belakang dengan defisit neurologis, indikasi tindakan operatif adalah untuk stabilisasi fraktur, untuk rehabilitasi dini (duduk, berdiri, dan berjalan). Pada fraktur tulang belakang dengan defisit neurologis yang dilakukan tindakan konservatif (tanpa operasi), setelah 6 minggu atau fraktur kuat, dilakukan mobilisasi duduk/berdiri dengan menggunakan external support seperti gips Bohler, gips korset, jaket Minerva, tergantung dari tempat fraktur. Pemasangan gips korset harus meliputi manubrium sterni, simfisis, daerah fraktur, dan di bawah ujung skapula.

Fraktur Kruris

Fraktur kruris merupakan akibat terbanyak dari kecelakaan lalu lintas.

 

Manifestasi Klinis

Gejala yang tampak adanya deformitas angulasi atau endo/eksorotasi. Daerah yang patah tampak bengkak, juga ditemukan nyeri gerak dan nyeri tekan.

 
Penatalaksanaan
Pada fraktur tertutup dilakukan reposisi tertutup dan imobilisasi dengan gips. Caranya pasien tidur terlentang di atas meja operasi. Kedua lutut dalam posisi fleksi 90°, sedang kedua tungkai bawah menggantung di tepi meja. Tungkai bawah yang patah ditarik ke arah bawah. Rotasi diperbaiki. Setelah tereposisi baru dipasang gips melingkar. Ada beberapa cara pemasangan gips, yaitu:

1. Cara long leg plaster. Gips dipasang mulai dari pangkal jari kaki sampai proksimal femur dengan sendi talokrural dalam posisi netral, sedang posisi lutut dalam fleksi 15-20°.

2. Cara Sarmiento. Pemasangan gips dimulai dari jari kaki sampai di atas sendi talokrural dengan molding sekitar maleolus. Setelah kering segera dilanjutkan ke atas sampai 1 inci di bawah tuberositas tibia dengan molding pada permukaan anterior tibia. Gips dilanjutkan sampai ujung proksimal patela.

Pada fraktur terbuka dilakukan debrideman luka. Kemudian dilakukan reposisi secara terbuka tulang yang patah, dilanjutkan dengan imobilisasi. Dapat digunakan cara long leg plaster, hanya saja untuk fraktur terbuka dibuat jendela di atas luka setelah beberapa hari. Dari lubang jendela ini luka dirawat sampai sembuh. Dapat juga dengan memakai pen di luar tulang untuk fraktur terbuka grade III (fiksasi eksterna), contohnya dengan fiksasi eksterna Judet, Roger Anderson, Hoffman, Screw dan metil metakrilat (INOE teknik).

 

Fraktur Tibia Proksimal

Fraktur ini disebut juga bumper fracture atau fraktur tibia plateau. Fraktur tibia proksimal biasanya terjadi akibat trauma langsung dari arah samping lutut dengan kaki yang masih terfiksasi ke tanah. Contohnya pada orang yang sedang berjalan lalu ditabrak mobil dari samping, yang disebut bumper fracture.

 
Manifestasi Klinis
Luka pada daerah yang cedera membengkak dan disertai rasa sakit, kadang-kadang ditemukan deformitas varus atau valgus pada lutut.

 
Penatalaksanaan
1. Nonoperatif

Untuk fraktur yang tidak mengalami dislokasi dapat ditanggulangi dengan beberapa cara, antara lain:

a. perban elastik (teknik Robert Jones)

b. memasang gips (long leg plaster)

c. traksi skeletal menurut cara Appley. Pasien tidur terlentang, pada tibia 1/3 proksimal dipasang Steinmann pin, langsung ditarik dengan beban yang cukup (> 6 kg). Sementara dilakukan traksi, lutut pasien yang cedera dapat digerakkan.

2. Operatif

Apabila terjadi dislokasi yang cukup lebar atau permukaan sendi tibia amblas lebih dari 2 mm, dilakukan reduksi terbuka dan dipasang fiksasi interna dengan butress plate dan cancellous screw.

 

Fraktur Femur

Dibagi menjadi:

1. Fraktur batang femur

2. Fraktur kolum femur

 

Fraktur Batang Femur

Fraktur batang femur mempunyai insidens yang cukup tinggi di antara jenis jenis patah tulang. Umumnya fraktur femur terjadi pada batang femur 1/3 tengah. Fraktur di daerah kaput, kolum, trokanter, subtrokanter, suprakondilus biasanya memerlukan tindakan operatif.

 
Manifestasi Klinis
Daerah paha yang patah tulangnya sangat membengkak, ditemukan tanda functio laesa, nyeri tekan, dan nyeri gerak. Tampak adanya deformitas angulasi ke lateral atau angulasi anterior, endo/eksorotasi. Ditemukan adanya perpendekan tungkai bawah. Pada fraktur 1/3 tengah femur, saat pemeriksaan harus diperhatikan pula kemungkinan adanya dislokasi sendi panggul dan robeknya ligamentum di daerah lutut. Selain itu periksa juga keadaan nervus siatika dan arteri dorsalis pedis.

 

Penatalaksanaan

Pada fraktur femur tertutup, untuk sementara dilakukan traksi kulit dengan metode ekstensi Buck, atau didahului pemakaian Thomas splint, tungkai ditraksi dalam keadaan ekstensi. Tujuan traksi kulit tersebut untuk mengurangi rasa sakit dan mencegah kerusakan jaringan lunak lebih lanjut di sekitar daerah yang patah.

 

Setelah dilakukan traksi kulit dapat dipilih pengobatan non-operatif atau operatif. Fraktur batang femur pada anak-anak umumnya dengan terapi non-operatif, karena akan menyambung baik. Perpendekan kurang dari 2 cm masih dapat diterima karena di kemudian hari akan sama panjangnya dengan tungkai yang normal. Hal ini dimungkinkan karena daya proses remodeling pada anak-anak.

a. Pengobatan non-operatif

Dilakukan traksi skeletal, yang sering metode Perkin dan metode balance skeletal trac­tion, pada anak di bawah 3 tahun digunakan traksi kulit Bryant, sedangkan pada anak usia 3 – 13 tahun dengan traksi Russell.

o Metode Perkin. Pasien tidur telentang. Satu jari di bawah tuberositas tibia dibor dengan Steinman pin, lalu ditarik dengan tali. Paha ditopang dengan 3 – 4 bantal. Tarikan dipertahankan sampai 12 minggu lebih sampai terbentuk kalus yang cukup kuat. Sementara itu tungkai bawah dapat dilatih untuk gerakan ekstensi dan fleksi.

o Metode balance skeletal traction. Pasien tidur telentang. Satu jari di bawah tuber­ositas tibia dibor dengan Steinman pin. Paha ditopang dengan Thomas splint, sedang tungkai bawah ditopang oleh Pearson attachment. Tarikan dipertahankan sampai 12 minggu atau lebih sampai tulangnya membentuk kalus yang cukup. Kadang-kadang untuk mempersingkat waktu rawat, setelah ditraksi 8 minggu, di pasang gips hemispica atau cast bracing.

o Traksi kulit Bryant. Anak tidur telentang di tempat tidur. Kedua tungkai dipasang traksi kulit, kemudian ditegakkan ke atas, ditarik dengan tali yang diberi beban 1 – 2 kg sampai kedua bokong anak tersebut terangkat dari tempat tidur.

o Traksi Russel. Anak tidur telentang. Dipasang plester dari batas lutut. Dipasang sling di daerah popliteal, sling dihubungkan dengan tali yang dihubungkan dengan beban penarik. Untuk mempersingkat waktu rawat, setelah 4 minggu ditraksi, dipasang gips hemispica karena kalus yang terbentuk belum kuat benar.

b. Operatif

Indikasi operasi antara lain:

o Penanggulangan non-operatif gagal

o Fraktur multipel

o Robeknya arteri femoralis

o Fraktur patologik

o Fraktur pada orang-orang tua.

 

Pada fraktur femur 1/3 tengah sangat baik untuk dipasang intramedullary nail. Terdapat bermacam-macam intramedullary nail untuk femur, di antaranya Kuntscher nail, AO nail, dan interlocking nail.

 

Operasi dapat dilakukan dengan cara terbuka atau cara tertutup. Cara terbuka yaitu dengan menyayat kulit-fasia sampai ke tulang yang patah. Pen dipasang secara retrograd. Cara interlocking nail dilakukan tanpa menyayat di daerah yang patah. Pen dimasukkan melalui ujung trokanter mayor dengan bantuan image intensifier. Tulang dapat direposisi dan pen dapat masuk ke dalam fragmen bagian distal melalui guide tube. Keuntungan cara ini tidak menimbulkan bekas sayatan lebar dan perdarahan terbatas.

 
Komplikasi
Komplikasi dini dari fraktur femur ini dapat terjadi syok, dan emboli lemak. Sedangkan komplikasi lambat yang dapat terjadi delayed union, non-union, malunion, kekakukan sendi lutut, infeksi, dan gangguan saraf perifer akibat traksi yang berlebihan.

 

Fraktur Kolum Femur

Dapat terjadi akibat trauma langsung, pasien terjatuh dengan posisi miring dan trokanter mayor langsung terbentur pada benda keras seperti jalanan. Pada trauma tidak langsung, fraktur kolum femur terjadi karena gerakan eksorotasi yang mendadak dari tungkai bawah. Kebanyakan fraktur ini terjadi pada wanita tua yang tulangnya sudah mengalami osteoroporosis.

 

Fraktur kurang stabil bila arah sudut garis patah lebih besar dari 30° (tipe II atau tipe III menurut Pauwel). Fraktur subkapital yang kurang stabil atau fraktur pada pasien tua lebih besar kemungkinannya untuk terjadinya nekrosis avaskular.

 
Manifestasi Klinis
Pada pasien muda biasanya mempunyai riwayat kecelakaan berat, sedangkan pasien tua biasanya hanya riwayat trauma ringan, misalnya terpeleset. Pasien tak dapat berdiri karena sakit pada panggul. Posisi panggul dalam keadaan fleksi dan endorotasi. Tungkai yang cedera dalam posisi abduksi, fleksi, dan eksorotasi, kadang juga terjadi pemendekan. Pada palpasi sering ditemukan adanya hematoma di panggul. Pada tipe impaksi biasanya pasien masih bisa berjalan disertai sakit yang tidak begitu hebat. Tungkai masih tetap dalam posisi netral.

 
Penatalaksanaan
Konservatif dengan traksi kulit selama 3 minggu, dilanjutkan latihan jalan dengan tongkat (do nothing) atau operasi prostesis Austin Moore hemi artroplasti (do something).

 

Fraktur Humerus

Dibagi menjadi:

1. Fraktur suprakondilar humerus

2. Fraktur interkondilar humerus

3. Fraktur batang humerus

4. Fraktur kolum humerus

 

Fraktur Suprakondilar Humerus

Berdasarkan mekanisme terjadinya fraktur:

a. Tipe ekstensi. Trauma terjadi ketika siku dalam posisi hiperekstensi, lengan bawah dalam posisi supinasi. Hal ini akan menyebabkan fraktur pada suprakondilar, fragmen distal humerus akan mengalami dislokasi ke anterior dari fragmen proksimalnya.

b. Tipe fleksi. Trauma terjadi ketika posisi siku dalam fleksi, sedang lengan bawah dalam posisi pronasi. Hal ini menyebabkan fragmen distal humerus mengalami dislokasi ke posterior dari fragmen proksimalnya.

Apabila terjadi penekanan pada arteri brakialis, dapat terjadi komplikasi yang disebut dengan iskemia Volkmanns. Timbulnya sakit, denyut arteri radialis yang berkurang, pucat, rasa kesemutan, dan kelumpuhan merupakan tanda-tanda klinis adanya iskemia ini (Ingat 5P: Pain, Pallor, Pulselessness, Puffyness, Paralyses).



Manifestasi Klinis
Pada tipe ekstensi posisi siku dalam posisi ekstensi. Pada tipe fleksi posisi siku dalam posisi fleksi (semifleksi).

 
Penatalaksanaan
Bila pembengkakan tak hebat, dapat dicoba reposisi dalam narkosis umum. Setelah tereposisi, posisi siku dibuat fleksi secara perlahan-lahan. Gerakan fleksi diteruskan sampai arteri radialis mulai tak teraba. Kemudian siku diekstensikan sedikit untuk memastikan arteri ra­dialis teraba lagi. Dalam posisi fleksi maksimal ini dilakukan imobilisasi dengan gips spalk (foreslab). Pascareposisi harus juga diperiksa denyut arteri radialis untuk menghindarkan terjadi komplikasi iskemia Volksmann.

 

Fraktur Interkondilar Humerus

Pada fraktur ini bentuk garis patah yang terjadi berupa bentuk huruf T atau Y

 

Manifestasi Klinis

Di daerah siku tampak jelas pembengkakan, kubiti varus atau kubiti valgus.

 
Penatalaksanaan
Permukaan sendi harus dikembalikan secara anatomis. Bila hanya konservatif, biasanya akan timbul kekakuan sendi (ankilosis). Untuk mengatasi keadaan ini dilakukan tindakan operasi reduksi dengan pemasangan fiksasi interna dengan lag-screw.


Fraktur Batang Humerus

Biasanya terjadi pada penderita dewasa, terjadi karena trauma langsung yang menyebabkan garis patah transveral atau kominutif.

 
Manifestasi Klinis
Terjadi functio laesa lengan atas yang cedera, untuk menggunakan siku harus dibantu oleh tangan yang sehat. Bila terjadi gangguan pada nervus radialis, akan terjadi wrist drop (drop hand).

 
Penatalaksanaan
Tindakan konservatif memberikan hasil yang baik karena fraktur humerus ini sangat baik daya penyembuhannya. Imobilisasi dengan gips berupa U-slab atau hanging cast selama 6 minggu.

 

Fraktur Kolum Humerus

Sering terjadi pada wanita tua karena osteoporosis. Biasanya berupa fraktur impaksi.

 
Manifestasi Klinis
Sakit di daerah bahu tetapi fungsi lengan masih baik karena fraktur impaksi merupakan fraktur yang stabil.

 

Penatalaksanaan

Pada fraktur impaksi tidak diperlukan reposisi, lengan yang cedera cukup diistirahatkan dengan memakai gendongan (sling) selama 3 minggu. Bila disertai dislokasi abduksi, dilakukan reposisi dan diimobilisasi dengan gips spica, posisi lengan dalam abduksi posisi overhead.