Category Archives: Bedah Plastik

Keloid

Definisi
Keloid adalah pembentukan jaringan parut yang berlebihan yang tidak sesuai dengan beratnya trauma.

 

Kecenderungan terjadinya keloid berdasarkan ras dan bagian tubuh tertentu misalnya sternum, bahu, pinggang, cuping telinga, dan wajah. Keloid tumbuh melewati batas tepi luka, aktif dan menunjukkan tanda radang seperti kemerahan, gatal, dan nyeri ringan. Pertumbuhan keloid bersifat progresif. Perlu dibedakan dengan parut hipertrofik yang besarnya masih sesuai dengan batas tepi luka.

 
Penatalaksanaan
Secara konservatif dengan penyuntikan suspensi triamsinolon (10 mg/ml) intrakeloid. Penyuntikan diulang 2 – 3 minggu sekali sampai efek yang diinginkan tercapai. Bila pasien tidak dapat menahan sakit saat disuntik dan atau ukuran keloid terlalu luas dan tebal, dilakukan tindakan bedah berupa eksisi dan penutupan primer atau cangkok kulit diikuti dengan kortikosteroid intralesi.

 

Catatan istilah lesi kulit lainnya:

Kalus merupakan hiperkeratosis setempat yang umumnya berbentuk kurang lebih bundar akibat gesekan kronik. Biasanya timbul di atas penonjolan tulang dan akan hilang sendiri bila gesekan kronik dihentikan.

 

Klavus adalah kalus lokal di plantar pedis atau jari kaki, yang tumbuh ke dalam. Dasar klavus berada di permukaan, sedangkan puncaknya menuju ke dalam kulit. Dasar yang berada di permukaan kulit berupa cekungan dikelilingi daerah keratinisasi tebal yang teraba keras. Puncak klavus dapat menimbulkan nyeri akibat tertekan pada waktu berjalan atau berdiri.

 

Keratosis seboroika adalah hiperkeratosis setempat yang sering timbul di muka, badan, dan tangan. Sering terjadi pada usia pertengahan ke atas. Lesinya berbatas tegas, kurang lebih bulat, bentuknya mirip kembang kol, berwarna gelap dengan permukaan kasar dan rapuh seperti lilin.

 

Hemangioma

Definisi
Hemangioma merupakan tumor yang terdiri dari pembuluh darah.

 
Klasifikasi
Klasifikasi hemangioma (Benton): ­

1. Hemangioma intradermal (Portwine hemangiomal/stain/nevus, nevus venosus)

Merupakan pelebaran pembuluh darah dermis yang letaknya superfisial, dengan dinding pembuluh darah dibentuk oleh sel endotel dewasa sehingga resisten terhadap radiasi. Lesi merah kebiruan terutama di kepala dan leher, rata dengan permukaan kulit, jarang regresi spontan kecuali Salmon patches (Erythema Nuchae).

2. Kapiler (Strawberryhemangioma, involuting hemangioma of invacy, nevus hipertrofi, infantile mixed cavernous hemangioma)

Merupakan pelebaran pembuluh darah di bawah epidermis (papillary layer) masih dalam dermis, dengan dinding pembuluh darah yang dibentuk oleh sel endotel embrio­nal sehingga sensitif terhadap radiasi. Lesi merah di mana-mana terutama di kepala dan leher, menimbul dari permukaan kulit, dan bersifat progresif.

 

Jenis hemangioma ini terdiri dari nevus simpleks atau nevus buah arbei, dan nevus flameus.

 

Nevus simpleks kalau sudah terbentuk tampak seperti buah arbei menonjol, berwarna merah cerah dengan cekungan kecil. Perkembangannya dimulai dengan titik kecil pada waktu lahir, membesar cepat, dan menetap pada usia kira-kira delapan bulan. Kemudian akan mengalami regresi spontan dan menjadi pucat karena fibrosis setelah usia satu tahun. Proses regresi berjalan sampai usia 6-7 tahun.

 

Nevus flameus ada sejak lahir, menetap dan rata dengan kulit, kecuali bila teriritasi dapat menonjol di tepat yang teriritasi tersebut.

 

3. Hemangioma kavernosa

Merupakan pelebaran pembuluh darah subkutis yang kadang-kadang invasi ke fasia dan otot, membentuk rongga, dengan dinding pembuluh darah yang dibentuk oleh sel endotel dewasa. Kelainannya berada dijaringan yang lebih dalam dari dermis. Dari luar tampak sebagai tumor kebiruan yang dapat dikempeskan dengan penekanan tapi menonjol kembali setelah tekanan dilepaskan. Hemangioma ini tidak dapat mengalami regresi spontan, malah sering progresif. Jenis kavernosum ini bisa meluas dan menyusup kejaringan sekitarnya. Jaringan di atas hemangioma dapat mengalami iskemia sehingga mudah rusak oleh iritasi misalnya di daerah perineum dan menimbulkan tukak yang sulit sembuh dan kadang berdarah.

 

4. Hemangioma campuran

 
Penatalaksanaan
Konservatif
1. Ditunggu regresi (> 5-6 tahun) untuk hemangioma buah arbei. Tindakan pemasangan pembalut elastis dengan sedikit penekanan secara terus-menerus. Tindakan ini membantu mempercepat proses regresi.

2. Kamuflase dengan krem pewarna

3. Penyuntikan scleroting agent

4. Bila anak kecil sebaiknya dalam narkose. Sebelumnya dipasang jahitan untuk tie over.

Cara penyuntikan scleroting agent adalah sebagai berikut:

  • Lakukan aspirasi intralesi untuk memastikan suntikan masuk ke dalam rongga­-rongga. Tandanya adalah pada aspirasi keluar darah.
  • Depositkan scleroting agent sambil tangan lain (menggunakan kassa) menimbulkan tekanan di atas tumor. Sclerosing agent yang dapat digunakan adalah sodium morhuate 50%, quinine hidrochloride 20%, sodium salycilate 30%, NaCl hipertonik, atau air mendidih.
  • Pasang sofratulle dan kassa lembab untuk tie over
  • Lakukan pembalutan dengan elastic bandage.

 
Operatif
Indikasi:

o Recurrent bleeding

o Ulserasi yang sulit sembuh dengan terapi biasa

o Pain yang disebabkan oleh flebolit

o Lesi setelah > 1 tahun tidak menunjukan pertumbuhan dan tidak ada tanda-tanda regresi

o Lesi setelah > 2 tahun menunjukan progresivitas

o Lokasi khusus: mulut, jalan napas, sekitar mata, perineum

o Trombositopenia

Kadang-kadang diperlukan embolisasi pre operatif untuk mengecilkan tumor.

 
Terapi Lain
o Radiasi bukan merupakan indikasi, karena :

  • gangguan pertumbuhan tulang
  • komplikasi dermatitis, fibrosis kulit sehat disekitar
  • degenerasi maligna

o Steroid dapat digunakan untuk rapid enlarging haemangioma

o Terapi Laser

 

Hipospadia

Definisi
Hipospadia adalah suatu kelainan bawaan di mana meatus uretra eksterna terletak di permukaan ventral penis dan lebih ke proksimal dari tempatnya yang normal (ujung glans penis).

 
Etiologi
Penyebab kelainan ini adalah maskulinisasi inkomplit dari genitalia karena involusi yang prematur dari sel interstisial testis.

 
Manifestasi Klinis
Pada kebanyakan penderita terdapat penis yang melengkung ke arah bawah yang akan tampak lebih jelas pada saat ereksi. Hal ini disebabkan oleh adanya chordee, yaitu suatu jaringan fibrosa yang menyebar mulai dari meatus yang letaknya abnormal ke glans penis. Jaringan fibrosa ini adalah bentuk rudimenter dari uretra, korpus spongiosum dan tunika Dartos. Walaupun adanya chordee adalah salah satu ciri khas untuk mencurigai suatu hipospadia, perlu diingat bahwa tidak semua hipospadia rnemiliki chordee.

 
Klasifikasi
Klasifikasi hipospadia yang digunakan sesuai dengan letak meatus uretra yaitu tipe glan­dular, distal penile, penile, penoskrotal, skrotal dan perineal.

 

Semakin ke proksimal letak meatus, semakin berat kelainan yang diderita dan semakin rendah frekuensinya. Pada kasus ini, 90% terletak di distal di mana meatus terletak di ujung batang penis atau di glans penis. Sisanya yang 10% terletak lebih proksimal yaitu di tengah batang penis, skrotum atau perineum.

 
Penatalaksanaan
Dikenal banyak teknik operasi hipospadia, yang umumnya terdiri dari beberapa tahap yaitu:

1. Operasi penglepasan chordee dan tunnelling

Dilakukan pada usia 1½ – 2 tahun. Pada tahap ini dilakukan operasi eksisi chordee dari muara uretra sampai ke glans penis. Setelah eksisi chordee maka penis akan menjadi lurus akan tetapi meatus uretra masih terletak abnormal. Untuk melihat keberhasilan setelah eksisi dilakukan tes ereksi buatan intraoperatif dengan menyuntikkan NaCl 0,9 % ke dalam korpus kavernosum.

Pada saat yang bersamaan dilakukan operasi tunnelling yaitu pembuatan uretra pada gland penis dan muaranya. Bahan untuk menutup luka eksisi chordee dan pembuatan tunnelling diambil dari preputium penis bagian dorsal. Oleh karena itu hipospadia merupakan kontraindikasi mutlak untuk sirkumsisi.

2. Operasi uretroplasti

Biasanya dilakukan 6 bulan setelah operasi pertama. Uretra dibuat dari kulit penis bagian ventral yang di insisi secara longitudinal paralel di kedua sisi.

 

Beberapa tahun terakhir, sudah mulai diterapkan operasi yang dilakukan hanya satu tahap akan tetapi operasi hanya dapat dilakukan pada hipospadia tipe distal dengan ukuran penis yang cukup besar. Operasi hipospadia ini sebaiknya sudah selesai dilakukan seluruhya sebelum si anak masuk sekolah, karena dikhawatirkan akan timbul rasa malu pada anak akibat merasa berbeda dengan teman-temannya.

 
Komplikasi
Striktur uretra (terutama pada sambungan meatus uretra yang sebenarnya dengan uretra yang baru dibuat) atau fistula

 
Masalah pada Hipospadia
1. Masalah psikologis pada anak karena merasa malu akibat bentuk penis yang berbeda dengan teman bermainnya.

2. Masalah reproduksi karena bentuk penis yang bengkok menyebabkan penis susah masuk ke dalam vagina saat kopulasi; cairan semen yang disemprotkan melalui muara uretra pada tempat abnormal.

3. Kesulitan penentuan jenis kelamin terutama jika meatus uretra terletak di perineum dan skrotum terbelah dengan disertai kriptorkismus.

4. Biaya yang cukup besar karena prosedur operasi yang bertahap.

5. Kemungkinan adanya kelainan kongenital yang lain seperti kelainan ginjal sehingga perlu dianjurkan untuk pemeriksaan foto polos abdomen dan pielografi intravena.

 

 

Sumbing Bibir dan Langitan

Etiologi

Belum diketahui pasti. Hipotesis yang diajukan antara lain:

o Insufisiensi zat untuk tumbuh kembang organ selama masa embrional dalam hal kuantitas (pada gangguan sirkulasi feto-maternal) dan kualitas (defisiensi asam folat, vitamin C, dan Zn).

o Pengaruh obat teratologik, termasuk jamu dan kontrasepsi hormonal.

o Infeksi, khususnya viral (toksoplasma) dan klamidia.

o Faktor genetik.

 
Patofisiologi
Cacat terbentuk pada trimester pertama kehamilan, prosesnya karena tak terbentuknya mesoderm pada daerah tersebut sehingga bagian yang telah menyatu (prosesus nasalis aksilaris) pecah kembali.

 
Manifestasi Klinis
Bila cacat terbentuk lengkap sampai langit-langit, bayi tak dapat mengisap. Karena sfingter pada muara tuba Eustachii kurang normal, lebih mudah terjadi infeksi ruang telinga tengah. Kemungkinan ini harus selalu diingat supaya tidak sampai terjadi otitis media perforata.

 
Klasifikasi
Berdasarkan organ terlibat

§ celah bibir (labioskizis)

§ celah gusi (gnatoskizis)

§ langitan (palatoskizis)

Berdasarkan lengkap/tidaknya celah yang terbentuk:

§ inkomplit

§ komplit

 
Penatalaksanaan
Tindakan operasi pertama dikerjakan untuk menutup celah bibir berdasarkan kriteria rule of ten, yaitu umur > 10 minggu (3 bulan), >10 pon (5 kg), >10 g/dl, leukosit >10.000/ul. Cara operasi yang umum dipakai adalah cara Millard. Tindakan operasi selanjutnya adalah menutup langitan (palatoplasti), dikerjakan sedini mungkin (15-24 bulan) sebelum anat mampu bicara lengkap sehingga pusat bicara di otak belum membentuk cara bicara. Kalau operasi dikerjakan terlambat, sering hasil operasi dalam hal kemampuan mengeluarkan suara normal, tak sengau, sulit dicapai.

 

Setelah operasi, pada usia anak dapat belajar dari orang lain, speech therapist dapat diminta mengajar/melatih anak bicara yang normal.

 

Bila ini telah dilakukan tetapi suara yang keluar masih sengau dapat dilakukan faringoplasti. Operasi ini adalah membuat bendungan pada faring untuk memperbaiki fonasi., biasanya dilakukan pada umur 6 tahun ke atas.

 

Pada umur 8-9 tahun dilakukan tindakan operasi penambalan tulang pada celah alveo­lus/maksila untuk memungkinkan ahli ortodonti mengatur pertumbuhan gigi di kanan kiri celah supaya normal. Graft tulang diambil dari bagian spongius krista iliaka. Tindakan operasi terakhir yang mungkin diperlukan dikerjakan setelah pertumbuhan tulang-tulang muka mendekati selesai, pada umur 15-17 tahun.

 

Sering ditemukan hipoplasi pertumbuhan maksila sehingga gigi geligi depan atas/rahang atas kurang maju pertumbuhannya. Dapat dilakukan bedah ortognatik, memotong bagian tulang yang tertinggal pertumbuhannya dan mengubah posisinya maju ke depan.

 

Trauma Muka

Trauma yang mengenai muka dapat mengakibatkan:

1. Trauma jaringan lunak muka

2. Fraktur tulang muka

Trauma muka dapat menimbulkan gangguan jalan napas karena perdarahan yang banyak akibat jaringan lunak muka mengandung banyak pembuluh darah atau sumbatan oleh benda asing atau jaringan yang terlepas.

 

Cedera jaringan lunak biasanya disebabkan trauma tajam, akibat pecahan kaca pada kecelakaan lalu lintas atau pisau/golok pada perkelahian. Cedera yang meliputi rangka biasanya mencakup cedera jaringan lunak dan biasanya tersering disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas

 

Cedera pada muka dan kepala akibat kecelakaan lalu lintas yang melibatkan rangka dan jaringan lunak mungkin disertai cedera pada tulang belakang, terutama pada sisi servikal. Oleh karenanya harus selalu diperhatikan secara khusus, mengenai kemungkinan adanya cedera servikal. Perlakuan khusus ini termasuk pengamanan (fiksasi leher), transportasi penderita dari tempat kecelakaan ke fasilitas kesehatan/rumah sakit, dan tidak melakukan manipulasi terhadap muka/kepala khususnya dalam posisi fleksi/ekstensi kepala yang dapat mengakibatkan kematian.

 

Penatalaksanaan definitif berdasarkan indikasi dan kontraindikasi. Indikasinya adalah:

1. Pengembalian fungsi struktur/organ di muka (penglihatan, oklusi, dsb)

2. Pengembalian penampakan (fungsi estetik)

3. Indikasi didasari pada indikasi medik (ilmiah) ataupun nonmedik (atas keinginan pasien).

Secara relatif terdapat beberapa kontraindikasi, di antaranya: kondisi serebral/cedera kepala, cedera tulang belakang yang terjadi dan membahayakan kehidupan penderitanya; terutama bila dilakukan tindakan korektif/operasi untuk memperbaiki kerusakan akibat trauma muka.

 
Trauma Jaringan Lunak
1. Bedakan berdasarkan jenis luka dan penyebab, yaitu:

  • Ekskoriasi
  • Luka sayat, luka robek, luka bacok
  • Luka bakar
  • Luka tembak

2. Bedakan berdasarkan ada atau tidaknya kehilangan jaringan, yaitu:

  • Skin avulsion dan atau skin loss

3. Cantumkan lokasi cedera berdasarkan daerah anatomik dan unit estetik yang mengalami cedera yang berkenaan pula dengan struktur/organ penting yang berada di bawahnya (misalnya n. fasialis, kelenjar parotis, dsb.).

 
Penatalaksanaan
1. Hentikan perdarahan.

2. Bersihkan kotoran-kotoran.

3. Lakukan penutupan luka.

  • Bila terjadi luka sayat, luka robek atau luka bacok, jahit luka dengan menggunakan benang yang halus. Jahitan primer luka di muka dapat dikerjakan sampai 36 jam pasca trauma kecuali akibat gigitan. Ini disebabkan karena pendarahan di daerah muka yang sangat baik.
  • Luka di depan sudut mata mutlak dijahit.
  • Bila luka lebar dan tidak dapat ditutup langsung, jahit situasi terlebih dahulu.

4. Tutuplah luka dengan kain kassa steril dan basah/lembab agar mudah menyerap darah yang keluar dan bila sudah kotor diganti minimal 2 kali sehari.

 
Fraktur Tulang Muka
Semua tulang muka mempunyai bagian yang dilapisi mukosa yang melekat erat dengan tulang sehingga bila terjadi fraktur akan terjadi robekan mukosa dan perdarahan. Biasanya ditandai dengan perdarahan melalui hidung atau mulut pasca trauma. Asimetri muka karena hematoma atau edema jelas tampak setelah 4 jam pasca trauma. Ciri lain adalah adanya maloklusi dan dapat diraba adanya fragmen fraktur.

 
Klasifikasi
1. Dibedakan berdasarkan lokasi anatomik dan unit estetik tertentu menjadi:

  • Berdiri sendiri: seperti fraktur frontal, orbita, nasal, zigoma, maksila, mandibula dsb.
  • Bersifat multipel/mengenai satu atau beberapa lokasi: fraktur kompleks zigoma, rontonasal dan sebagainya.

2. Dibedakan berdasarkan kekhususan menjadi:

  • Fraktur blow-out (fraktur tulang dasar orbita)
  • Fraktur Le Fort I, II dan III (fraktur maksila)
  • Fraktur segmental mandibula

 
Penalaksanaan
Proses penyembuhan tulang muka lebih cepat dibanding dengan di tempat lain yaitu _+ 3 minggu. Oleh karena itu reposisi dan fiksasi sedini mungkin. Bila terlambat akan terjadi malunion. Dalam hal ini penatalaksanaan meliputi refrakturasi, reposisi, dan fiksasi.

 

Luka Bakar

Definisi
Luka bakar adalah luka yang disebabkan oleh kontak dengan suhu tinggi seperti api, air panas, listrik, bahan kimia, dan radiasi; juga oleh sebab kontak dengan suhu rendah (frost­bite). Luka bakar ini dapat mengakibatkan kematian, atau akibat lain yang berkaitan dengan problem fungsi maupun estetik.

 

Penyulit yang timbul pada luka bakar antara lain gagal ginjal akut, edema paru, SlRS (systemic inflammatory response syndrome), infeksi dan sepsis, serta parut hipertrofik dan kontraktur.

 

Prognosis dan penanganan luka bakar terutama tergantung pada dalam dan luasnya permukaan luka bakar; dan penanganan sejak awal hingga penyembuhan. Selain itu faktor letak daerah yang terbakar, usia, dan keadaan kesehatan penderita juga turut menentukan kecepatan penyembuhan. Luka bakar pada daerah perineum, ketiak, leher, dan tangan sulit dalam perawatannya, antara lain karena mudah mengalami kontraktur.

 
Patofisiologi
Cedera termis menyebabkan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit sampai syok, yang dapat menimbulkan asidosis, nekrosis tubular akut, dan disfungsi serebral. Kondisi-­kondisi ini dapat dijumpai pada fase awal/akut/syok yang biasanya berlangsung sampai 72 jam pertama.

 

Dengan kehilangan kulit yang memiliki fungsi sebagai barier (sawar), luka sangat mudah terinfeksi. Selain itu, dengan kehilangan kulit luas, terjadi penguapan cairan tubuh yang berlebihan. Penguapan cairan ini disertai pengeluaran protein dan energi, sehingga terjadi gangguan metabolisme.

 

Jaringan nekrosis yang ada melepas toksin (burn toxin, suatu lipid protein kompleks) yang dapat menimbulkan SIRS bahkan sepsis yang menyebabkan disfungsi dan kegagalan fungsi organ-organ tubuh seperti hepar dan paru (ARDS); yang berakhir dengan kematian.

 

Reaksi inflamasi yang berkepanjangan akibat luka bakar menyebabkan kerapuhan jaringan dan struktur-struktur fungsional. Kondisi ini menyebabkan timbulnya parut yang tidak beraturan (hipertrofik), kontraktur, deformitas sendi dan sebagainya.

 
Kedalaman Luka Bakar
1. Derajat 1 (luka bakar superfisial)

Luka bakar hanya terbatas pada lapisan epidermis. Luka bakar derajat ini ditandai dengan kemerahan yang biasanya akan sembuh tanpa jaringan parut dalam waktu 5 – 7 hari.

2. Derajat 2 (luka bakar dermis)

Luka bakar derajat dua mencapai kedalaman dermis tetapi masih ada elemen epitel yang tersisa, seperti sel epitel basal, kelenjar sebasea, kelenjar keringat, dan folikel rambut. Dengan adanya sisa sel epitel yang sehat ini, luka dapat sembuh sendiri dalam 10 – 21 hari. Oleh karena kerusakan kapiler dan ujung saraf di dermis, luka derajat ini tampak lebih pucat dan lebih nyeri dibandingkan luka bakar superfisial, karena adanya iritasi ujung saraf sensorik. Juga timbul bula berisi cairan eksudat yang keluar dari pembuluh karena permeabilitas dindingnya meninggi. Luka bakar derajat 2 dibedakan menjadi:

  • Derajat 2 dangkal, di mana kerusakan mengenai bagian superfisial dari dermis dan penyembuhan terjadi secara spontan dalam 10 – 14 hari
  • Derajat 2 dalam, di mana kerusakan mengenai hampir seluruh bagian dermis. Bila kerusakan lebih dalam mengenai dermis, subyektif dirasakan nyeri. Penyembuhan terjadi lebih lama tergantung bagian dari dermis yang memiliki kemampuan reproduksi sel-sel kulit (biji epitel, stratum germinativum, kelenjar keringat, kelenjar sebasea, dsb.) yang tersisa. Biasanya penyembuhan terjadi dalam waktu lebih dari 1 bulan.

3. Derajat 3

Luka bakar derajat tiga meliputi seluruh kedalaman kulit, mungkin subkutis, atau organ yang lebih dalam. Oleh karena tidak ada lagi elemen epitel yang hidup maka untuk mendapatkan kesembuhan harus dilakukan cangkok kulit. Koagulasi protein yang terjadi memberikan gambaran luka bakar berwarna keputihan, tidak ada bula, dan tidak nyeri.

 
Klasifikasi Luka Bakar
1. Berat/kritis bila:

  • Derajat 2 dengan luas lebih dari 25 %
  • Derajat 3 dengan luas lebih dari 10 %, atau terdapat di muka, kaki, dan tangan
  • Luka bakar disertai trauma jalan napas atau jaringan lunak luas, atau fraktur
  • Luka bakar akibat listrik.

2. Sedang bila:

  • Derajat 2 dengan luas 15-25 %
  • Derajat 3 dengan luas kurang dari 10 %, kecuali muka, kaki, dan tangan.

3. Ringan bila:

  • Derajat 2 dengan luas kurang dari 15 %.
  • Derajat 3 kurang dari 2 %

 
Luas Luka Bakar
1. Perhitungan luas luka bakar antara lain berdasarkan rule of nine dari Wallace, yaitu :

  • Kepala dan leher: 9 %
  • Ekstremitas atas: 2 x 9 % (kiri dan kanan)
  • Paha dan betis-kaki: 4 x 9 % (kiri dan kanan)
  • Dada, perut, punggung, bokong: 4 x 9 %
  • Perineum dan genitalia:1 %.

2. Rumus tersebut tidak digunakan pada anak dan bayi karena luas relatif permukaan kepala anak jauh lebih besar dan luas relatif permukaan kaki lebih kecil. Oleh karena itu, digunakan rumus 10 untuk bayi dan rumus 10-15-20 dari Lund dan Browder untuk anak (lihat gambar di bawah ini ).

Dasar presentasi yang digunakan dalam rumus-rumus tersebut di atas adalah luas telapat tangan dianggap = 1 %.

 
Penatalaksanaan
Prinsip penanganan luka bakar adalah penutupan lesi sesegera mungkin, pencegahan infeksi mengurangi rasa sakit, pencegahan trauma mekanik pada kulit yang vital dan elemen di dalamnya, dan pembatasan pembentukan jaringan parut.

 

Pada saat kejadian, hal pertama yang harus dilakukan adalah menjauhkan korban dan sumber trauma. Padamkan api dan siram kulit yang panas dengan air. Pada trauma bahan kimia, siram kulit dengan air mengalir. Proses koagulasi protein sel dijaringan yang terpajan suhu tinggi berlangsung terus walau api telah dipadamkan, sehingga destruksi tetap meluas. Proses tersebut dapat dihentikan dengan mendinginkan daerah yang terbakar dan mempertahankan suhu dingin ini pada jam pertama. Oleh karena itu, merendam bagian yang terbakar selama lima belas menit pertama sangat bermanfaat. Tindakan ini tidak dianjurkan pada luka bakar > 10%, karena akan terjadi hipotermia yang menyebabkan cardiac arrest.

 

Tindakan selanjutnya adalah sebagai berikut:

1. Lakukan resusitasi dengan memperhatikan jalan napas, pernapasan dan sirkulasi, yaitu:

  • Periksa jalan napas
  • Bila dijumpai obstruksi jalan napas, buka jalan napas dengan pembersihan jalan napas (suction, dsb), bila perlu lakukan trakeostomi atau intubasi
  • Berikan oksigen
  • Pasang iv line untuk resusitasi cairan, berikan cairan RL untuk mengatasi syok
  • Pasang kateter buli-buli untuk pemantauan diuresis
  • Pasang pipa lambung untuk mengosongkan lambung selama ada ileus paralitik
  • Pasang pemantau tekanan vena sentral (central venous pressurel/CVP) untuk pemantauan sirkulasi darah, pada luka bakar ektensif (> 40%)

2. Periksa cedera yang terjadi di seluruh tubuh secara sistimatis untuk menentukan adanya cedera inhalasi, luas dan derajat luka bakar. Dengan demikian jumlah dan jenis cairan yang diperlukan untuk resusitasi dapat ditentukan. Terapi cairan diindikasikan pada luka bakar derajat 2 atau 3 dengan luas > 25 %, atau pasien tidak dapat minum. Terapi cairan dihentikan bila masukan oral dapat menggantikan parenteral. Dua cara yang lazim digunakan untuk menghitung kebutuhan cairan pada penderita luka bakar, yaitu:

  1. Cara Evans. Untuk menghitung kebutuhan cairan pada hari pertama hitunglah:

o Berat badan (kg) x % luka bakar x 1 cc NaCl (1)

o Berat badan (kg) x % luka bakar x 1 cc larutan koloid (2)

o 2.000 cc glukosa 5% (3)

Separuh dari jumlah (1), (2), dan (3) diberikan dalam 8 jam pertama. Sisanya diberikan dalam 16 jam berikutnya. Pada hari kedua diberikan setengah jumlah cairan hari pertama. Pada hari ketiga diberikan setengah jumlah cairan hari kedua. Sebagai monitoring pemberian cairan lakukan penghitungan diuresis.

  1. Cara Baxter. Merupakan cara lain yang lebih sederhana dan banyak dipakai. Jumlah kebutuhan cairan pada hari pertama dihitung dengan rumus = % luka bakar x BB (kg) x 4 cc. Separuh dari jumlah cairan ini diberikan dalam 8 jam pertama, sisanya diberikan dalam 16 jam. Hari pertama terutama diberikan elektrolit yaitu larutan Ringer laktat karena terjadi hiponatremi. Untuk hari kedua diberikan setengah darijumlah pemberian hari pertama.

3. Berikan analgetik. Analgetik yang efektif adalah morfin atau petidin, diberikan secara intravena. Hati-hati dengan pemberian intramuskular karena dengan sirkulasi yang terganggu akan terjadi penimbunan di dalam otot.

4. Lakukan pencucian luka setelah sirkulasi stabil. Pencucian luka dilakukan dengan melakukan debridement dan memandikan pasien menggunakan cairan steril dalam bak khusus yang mengandung larutan antiseptik. Antiseptik lokal yang dapat dipakai yaitu Betadine® atau nitras argenti 0,5%.

5. Berikan antibiotik topikal pascapencucian luka dengan tujuan untuk mencegah dan mengatasi infeksi yang terjadi pada luka. Bentuk krim lebih bermanfaat daripada bentuk salep atau ointment. Yang dapat digunakan adalah silver nitrate 0,5%, mafenide acetate 10%, silver sulfadiazin 1%, atau gentamisin sulfat.

Kompres nitras argenti yang selalu dibasahi tiap 2 jam efektif sebagai bakteriostatik untuk semua kuman. Obat lain yang banyak dipakai adalah silversulfadiazin dalam bentuk krim 1%. Krim ini sangat berguna karena bersifat bakteriostatik, mempunyai daya tembus yang cukup, efektif terhadap semua kuman, tidak menimbulkan resistensi, dan aman.

6. Balut luka dengan menggunakan kassa gulung kering dan steril.

7. Berikan serum anti-tetanus/toksoid yaitu ATS 3.000 unit pada orang dewasa dan separuhnya pada anak-anak.

 
Indikasi Rawat Inap
1. Penderita syok atau terancam syok bila luas luka bakar > 10% pada anak atau > 15% pada orang dewasa.

2. Terancam edema laring akibat terhirupnya asap atau udara hangat.

3. Letak luka memungkinkan penderita terancam cacat berat, seperti pada wajah, mata, tangan, kaki, atau perineum.

 
Perawatan
a. Nutrisi diberikan cukup untuk menutup kebutuhan kalori dan keseimbangan nitrogen yang negatif pada fase katabolisme, yaitu sebanyak 2.500 – 3.000 kalori sehari dengan kadar protein tinggi.

b. Perawatan lokal dapat secara terbuka atau tertutup.

c. Antibiotik topikal diganti satu kali dalam satu hari, didahului hidroterapi untuk mengangkat sisa-sisa krim antibiotik sebelumnya. Bila kondisi luka sangat kotor atau dijumpai banyak krusta dan atau eksudat, pemberian dapat diulang sampai dengan 2 – 3 kali sehari.

d. Rehabilitasi termasuk latihan pernapasan dan pergerakan otot dan sendi.

e. Usahakan tak ada gangguan dalam penyembuhan; penyembuhan bisa dicapai secepatnya dengan:

  • Perawatan luka bakar yang baik
  • Penilaian segera daerah-daerah luka bakar derajat 3 atau 2 dalam. Kalau memungkinkan buang kulit yang non vital dan menambalnya secepat mungkin.

f. Usahakan mempertahankan fungsi sendi-sendi. Latihan gerakan atau bidai dalam posisi baik.

g. Aturlah proses maturasi sehingga tercapai tanpa ada proses kontraksi yang akan mengganggu fungsi. Bilamana luka bakar sembuh per sekundam dalam 3 minggu atau lebih selalu ada kemungkinan timbul parut hipertrofi dan kemungkinan kontraktur pada waktu proses maturasi. Sebaiknya dipasang perban ½ menekan, bidai yang sesuai dan anjuran untuk mengurangi edema dengan elevasi daerah yang bersangkutan.

h. Antibiotik sistemik spektrum luas diberikan untuk mencegah infeksi. Infeksi dapat memperburuk derajat luka bakar dan mempersulit penyembuhan. Yang banyak dipakai adalah golongan aminoglikosida yang efektif terhadap pseudomonas.

i. Suplementasi vitamin yamg dapat diberikan yaitu vitamin A 10.000 unit per minggu, vitamin C 500 mg dan sulfas ferosus 500 mg.

 
Tindakan Bedah
Eskaratomi dilakukan juga pada luka bakar derajat III yang melingkar pada ekstremitas atau tubuh. Hal ini dilakukan untuk sirkulasi bagian distal akibat pengerutan dan penjepitan dari eskar. Tanda dini penjepitan berupa nyeri, kemudian kehilangan daya rasa menjadi kebal pada ujung-ujung distal. Tindakan yang dilakukan yaitu membuat irisan memanjang yang membuka eskar sampai penjepitan bebas.

 

Debridemen diusahakan sedini mungkin untuk membuang jaringan mati dengan jalan eksisi tangensial.

 
Trauma Kimia
Trauma akibat bahan kimia diperlakukan sebagai luka bakar karena sama-sama menimbulkan efek panas seperti luka bakar.

 
Penatalaksanaan
Yang paling penting adalah penanganan harus segera dilakukan begitu terjadi trauma, meliputi perawatan luka lokal dan perawatan sistemik untuk menunjang kesembuhan . Urutan tindakan yang harus dilakukan:

1. Melepaskan pakaian dan irigasi dengan air dalam jumlah banyak. Pengenceran tersebut akan menghilangkan zat kimia dari tubuh sekaligus mengurangi reaksi antara zat kimia dengan jaringan tubuh.

2. Irigasi dilanjutkan selama 2 jam pada trauma asam dan 12 jam pada trauma basa.

3. Rehidrasi, karena trauma kimia dan luka bakar sama-sama menyebabkan keadaaan hipovolemia

 

Catatan:

Bahan kimia yang berupa asam/basa kuat menimbulkan reaksi tubuh, menyebabkan kerusakan jaringan yang hebat dan penyembuhan yang lama, sehingga menimbulkan deformitas bagian tubuh terkena. Hal yang perlu dicatat pada pertolongan; jangan memberikan antidotum (asam diberi basa atau sebaliknya) karena akan menimbulkan reaksi yang akan memperberat kerusakan yang terjadi.

Trauma Listrik

Kerusakan akibat listrik pada struktur yang lebih dalam tergantung pada resistensi jaringan, dengan urutan paling resisten adalah berturut-turut tulang, lemak, tendon, kulit, otot, pembuluh darah, dan syaraf.

 

Penatalaksanaan

1. Lakukan ABC traumatologi.

2. Perhatikan khusus pada kelainan yang merupakan dampak aliran listrik pada tubuh, antara lain:

  • Ensefalopati
  • Kardiomiopati
  • Gagal ginjal akut
  • Rabdomiolisis

3. Penatalaksanaan lainnya sebagaimana penanganan luka bakar pada umumnya. Namun karena kerusakan jaringan yang terjadi pada luka bakar listrik memiliki kekhususan maka penanganan luka tidak terlalu agresif.

4. Evaluasi status neurologis berulang selama masa penyembuhan, karena trauma listrik dapat disertai trauma tumpul dan trauma kepala.

5. Terapi cairan. Kerusakan jaringan yang luas akan menyebabkan hilangnya cairan (hipovolemi) dan asidosis metabolik maka diperlukan cairan kristaloid untuk rehidrasi dan natrium bikarbonat sebanyak 200- 400 mmol untuk mengoreksi asidosis.

 
Komplikasi
1. Neurologis

Trauma listrik dengan arus rendah akan menyebabkan satu atau lebih gejala neurologis pada separuh kasus, sementara arus tinggi akan menyebabkan defisit neurologis pada dua pertiga kasus.

  1. Trauma susunan saraf pusat

Gejala bervariasi mulai dari gangguan kesadaran, kejang, penurunan daya ingat, kelabilan emosi, gangguan belajar, dan sakit kepala.

  1. Trauma susunan saraf tepi

Hilangnya daya sensoris dan motoris, parestesi, paralisis, paresis, disestesia, caus­algia, dan distrofi refleks simpatis. Separuh kasus dengan neuropati perifer tidak akan mencapai kesembuhan sempurna.

2. Kerusakan pleura: efusi dan pneumonitis.

3. Trauma jantung, dapat terjadi aritmia namun tidak terlalu berbahaya pada pasien nor­mal.

4. Trauma abdomen dapat menyebabkan nekrosis atau perforasi saluran cerna.

5. Mata, hanya terjadi perubahan jaringan pada arus yang lebih dari 100 volt, paling sering berupa kekeruhan lensa.