Category Archives: Bedah Tumor

Kanker Tiroid

Kanker tiroid menempati urutan ke-9 dari sepuluh keganasan tersering. Lebih banyak pada wanita dengan distribusi berkisar antara 2 : 1 sampai 3 : 1. Insidensnya berkisar antara 5,4-­30%. Berdasarkan jenis histopatologi, sebarannya adalah kanker tiroid jenis papilar (71,4%); kanker tiroid jenis folikular ( 16,7%); kanker tiroid jenis anaplastik (8,4%); dan kanker tiroid jenis medular (1,4%). Berdasarkan usia kanker tiroid jenis papilar biasanya pada pasien yang berusia kurang dari 40 tahun, berbeda dengan kanker tiroid folikular yang banyak pada usia di atas itu. Sedangkan kanker jenis medular sering ditemukan pada usia tua (50-60 tahun).

 
Etiologi
Etiologi yang pasti belum diketahui. Yang berperan khususnya untuk well differentiated carcinoma (papilar dan folikular) adalah radiasi dan goiter endemis dan untuk jenis medular adalah faktor genetik. Belum diketahui suatu karsinogen yang berperan untuk kanker anaplastik dan medular. Diperkirakan kanker tiroid anaplastik berasal dari perubahan kanker tiroid berdiferensiasi baik (papiler dan folikuler) dengan kemungkinan jenis folikuler dua kali lebih besar. Sedangkan limfoma pada tiroid diperkirakan karena perubahan-perubahan degenerasi ganas dari tiroiditis Hashimoto.

 
Manifestasi Klinis
Gejala karsinoma tiroid adalah sebagai berikut:

1. Kista bisa cepat membesar, nodul jinak perlahan, sedang nodul ganas agak cepat, dan nodul anaplastik cepat sekali (dihitung dalam minggu), tanpa nyeri.

2. Terdapat faktor risiko, yaitu:

  1. Masa kanak pernah mendapat terapi sinar di daerah leher atau sekitarnya
  2. Anggota keluarga lainnya menderita kelainan kelenjar gondok (endemis)
  3. Tetangga atau penduduk sekampungnya ada yang menderita kelainan kelenjar gondok (endemis).

3. Merasakan adanya gangguan mekanik di daerah leher, seperti gangguan menelan yang menunjukkan adanya desakan esofagus, atau perasaan sesak yang menunjukkan adanya desakan/infiltrasi ke trakea.

4. Pembesaran kelenjar getah bening di daerah leher (mungkin metastasis).

5. Penonjolan/kelainan pada tulang tempurung kepala (metastasis di tengkorak).

6. Perasaan sesak dan batuk-batuk yang disertai dahak berdarah (metastasis di paru-paru bagi jenis folikular).

 

Dari pemeriksaan fisis didapatkan:

1. Pemeriksaan tiroid. Nodul soliter pada tiroid kemungkinan ganasnya 15 – 20%, sedang nodul multipel mempunyai kemungkinan 5%. Kadang-kadang nodul soliter yang ganas lama-lama dapat berubah menjadi bernodul-nodul. Pembesaran difus mungkin merupakan suatu tirotoksikosis.

2. Pemeriksaan pada tempat-tempat kemungkinan terdapatnya penyebaran tumor (pembesaran kelenjar getah bening, dan organ-organ). Metastasis jauh karsinoma tiroid ialah paru-paru, tulang (pelvis, vertebra, sternum, tengkorak, dan humerus), hati, ginjal, dan otak. Bagian tulang yang terkena ialah yang spongiosa dan kaya vaskularisasi.

 
Pemeriksaan Penunjang
Langkah pertama yang dianjurkan adalah menentukan status fungsi tiroid dengan memeriksa TSH (sensitif) dan T4 bebas. Pada keganasan tiroid umumnya fungsi tiroid normal. Tetapi abnormalitas fungsi tiroid tidak dengan sendirinya menghilangkan kemungkinan keganasan.

 

Pemeriksaan laboratorium tidak ada yang spesifik, kecuali pemeriksaan kadar kalsitonin untuk pasien yang dicurigai karsinoma medular. Pengukuran kadar human thyroglobulin, suatu petanda tumor untuk keganasan tiroid yang berdiferensiasi baik, terutama untuk monitoring setelah terapi pembedahan total tiroidektomi. .

 

Pemeriksaan ultrasonografi untuk menentukan apakah nodul padat atau kistik dan sebagai penuntun pada biopsi jarum halus. Nodul padat cenderung ganas.

 

Pemeriksaan sidik tiroid, dapat dilakukan jika terdapat fasilitas kedokteran nuklir. Bila nodul menangkap yodium lebih sedikit dari jaringan tiroid yang norma) disebut nodul dingin (cold nodule). Bila sama afinitasnya, disebut nodul hangat (warm nodule). Bila afinitasnya lebih, disebut nodul panas (hot nodule). Karsinoma tiroid sebagian besar termasuk nodul dingin. Sekitar 10 – 17% struma dengan nodul dingin ternyata suatu keganasan. Bila akan dilakukan pemeriksaan sidik tiroid, obat-obatan yang mengganggu penangkapan yodium oleh tiroid harus dihentikan selama 2 – 4 minggu sebelumnya.

 

Biopsi jarum dapat dilakukan dengan cara needle core biopsy atau biopsi aspirasi jarum halus (fine needle aspiration biopsy = FNAB). Hasil ketepatan diagnostik FNAB masih diperdebatkan.

 

Pemeriksaan radiologis dilakukan untuk mencari metastasis. Dilakukan foto paru posterior-­anterior; foto polos jaringan lunak (soft tissue technigue) leher antero-posterior dan lateral dengan posisi leher hiperekstensi bila tumornya besar; esofagogram bila secara klinis terdapat tanda-tanda adanya infiltrasi ke esofagus; dan foto tulang bila ada tanda-tanda metastasis ke tulang yang bersangkutan.

 
Diagnosis
Secara klinis ditegakkan diagnosis struma nodosa dengan persangkaan jinak atau ganas. Diagnosis yang diperoleh dapat berupa:

1. kelainan yang bukan neoplasma

2. neoplasma jinak

3. neoplasma ganas. Bila diagnosisnya suatu proses keganasan tiroid, maka harus dinilai apakah masih operabel ataukah sudah inoperabel.

Diagnosis pasti dengan histopatologi. Sediaan dapat diperoleh dengan pemeriksaan potong beku atau pemeriksaan dengan parafin coupe (gold standard).

 
Klasifikasi
Klasifikasi histopatologi karsinoma tiroid epitelial adalah:

1. Adenokarsinoma berdiferensiasi baik, terdiri dari:

  • papiler
  • folikuler
  • campuran papiler dan folikuler.

2. Adenokarsinoma berdiferensi buruk, terdiri dari:

3. Karsinoma meduler.

4. Karsinoma sel skuamosa

Sedangkan klasifikasi histopatologi karsinoma tiroid non epitelial adalah limfoma, sarkoma, netastatik tumor, teratoma malignan, dan tumor yang tidak dapat diklasifikasikan.

 
Diagnosis Banding
1. Struma difusa toksik (Basedow = Grave’s disease) merupakan pembesaran kelenjar tiroid yang umunya difus. Terdapat gejala hipertiroid yangjelas berupa berdebar-debar, gelisah, palpitasi, banyak keringat, kulit halus dan hangat, tremor, kadang-kadang dijumpai eksoftalmus, dll.

2. Struma nodosa non toksik, dapat multinodosa atau soliter dan uninodosa. Disebabkan kekurangan masukan iodium dalam makanan (biasanya di daerah pegunungan) atau dishormogenesis (= defek bawaan).

3. Tiroiditis subakut, biasanya sehabis infeksi saluran pernapasan. Pembesaran yang terjadi simetris dan nyeri dengan gejala-gejala penurunan berat badan, nervositas, disfagia, dan otalgia.

4. Tiroiditis Riedel, terutama terdapat pada wanita berusia < 20 tahun. Gejalanya terdapat nyeri, disfagia, paralisis laring, dan pembesaran tiroid unilateral yang keras seperti batu atau papan yang melekat ke jaringan sekitarnya.

5. Struma Hashimoto, sering pada wanita. Merupakan penyakit autoimun. Biasanya ditandai oleh adanya benjolan struma difusa disertai keadaan hipotiroid, tanpa rasa nyeri. Pada kasus yang jarang dapat terjadi hipertiroid.

6. Adenoma paratiroid, biasanya tidak teraba dan terdapat perubahan kadar kalsium dan fosfor.

7. Karsinoma paratiroid, biasanya teraba, terdapat metastasis ke tulang, kadar kalsium naik, dan batu ginjal bisa ditemukan.

8. Metastasis tumor.

9. Teratoma, biasanya pada anak-anak dan berbatasan dengan kelenjar tiroid .

10. Limfoma malignum.

 
Stadium
Stadium kanker ini tidak saja berdasarkan histopatologi, ekstensi lokal, regional, dan me­tastasis jauh; tetapi juga pada umur dan jenis kelamin.

 
Penatalaksanaan
1. Pembedahan

Bila diagnosis kemungkinan telah ditegakkan dan operabel, operasi yang dilakukan adalah lobektomi sisi yang patologik (Kaplan), atau lobektomi subtotal dengan risiko bila ganas kemungkinan ada sel-sel karsinoma yang tertinggal. Pembedahan umumnya berupa tiroidektomi total.

 

Enukleasi nodulnya saja adalah berbahaya karena bila ternyata nodul tersebut ganas, telah terjadi penyebaran (implantasi) sel-sel tumor dan operasi ulang untuk tiroidektomi secara teknis akan menjadi lebih sukar.

 

Bila ada fasilitas pemeriksaan dengan sediaan beku dan ada persangkaan keganasan, pemeriksaan preparat sediaan beku dilakukan dengan potongan-potongan ke beberapa arah.

 

Bila hasilnya jinak, lobektomi tersebut sudah cukup. Bila ganas, lobus kontra lateral diangkat seluruhnya (tiroidektomi totalis). Dapat pula dilakukan near total thyroidectomy.

 

Keterangan: Tiroidektomi artinya mengangkat kelenjar tiroid, bisa sebelah (dekstra atau sinistra) atau keduanya (bilateral).

Tiroidektomi subtotal artinya mengangkat sebagian besar tiroid lobus kanan dan sebagian besar lobus kiri dari jaringan tiroid dengan sisa masing-masing 3 gram.

Tiroidektomi totalis artinya semua kelenjar tiroid diangkat.

Lobektomi artinya mengangkat satu lobus saja, aisu secara rinci:

  • lobektomi totalis dekstra atau lobektomi totalis sinistra
  • lobektomi subtotal dekstra, artinya mengangkat sebagian besar lobus kanan, sisa 3 gram.

Ismolobektomi artinya mengangkat satu lobus dan ismus juga.

Near total thyroidectomy artinya ismolobektomi dekstra dan lobektomi subtotal sinistra, atau sebaliknya.

Bila dari hasil pemeriksaan kelenjar getah bening dicurigai adanya metastasis, dilakukan diseksi radikal kelenjar getah bening pada sisi yang bersangkutan. Komplikasi-komplikasi operasi antara lain terputusnya nerws laringeus rekurens dan cabang eksterna dari nervus laringeus superior, hipoparatirodisme, dan ruptur esofagus.

 

2. Radiasi

Bila tumor sudah inoperabel atau pasien menolak operasi lagi untuk lobus kontralateral, dilakukan:

  1. Radiasi interna dengan I131. Hanya tumor-tumor berdiferensiasi baik yang mempunyai afinitas terhadap I131 terutama yang folikular. Radiasi interna dilakukan dengan syarat jaringan tiroid normal yang afinitasnya lebih besar harus dihilangkan dulu dengan operasi atau ablasio dengan pemberian I131 dosis yang lebih tinggi sehingga jaringan tiroid normal rusak semua, baru sisa I131 bisa merusak jaringan tumor.

 

Radiasi interna juga diberikan pada tumor-tumor yang telah bermetastasis atau terdapat sisa tumor.

 

  1. Radiasi eksterna, memberikan hasil yang cukup baik untuk tumor-tumor inoperabel atau anaplastik yang tidak berafinitas terhadap I131. Sebaiknya dengan sinar elektron 15-20 MW dengan dosis 4000 rad. Sumsum tulang harus dilindungi. Radiasi eksterna diberikan juga untuk terapi paliatif bagi tumor yang talah bermetastasis.

 
Prognosis
Prognosis pasien dengan kanker tiroid berdiferensiasi baik tergantung pada umur (semakin buruk dengan bertambahnya umur); adanya ekstensi (menurunkan survival rate 20 tahun dari 91% menjadi 45%); adanya lesi metastasis (menurunkan survival rate 20 tahun dari 10% menjadi 46%); diameter tumor; dan jenis histopatologi (pada papilar survival rate 20 tahunnya 93% dan folikular survival rate 20 tahunnya 83%).

 

Kanker Payudara

Kanker payudara merupakan salah satu kanker yang terbanyak ditemukan di Indonesia. Biasanya kanker ini ditemukan pada umur 40 – 49 tahun dan letak terbanyak di kuadran lateral atas.

 
Etiologi
Etiologi kanker payudara tidak diketahui dengan pasti. Namun beberapa faktor risiko pada pasien diduga berhubungan dengan kejadian kanker payudara, yaitu:

o Umur > 30 tahun

o Melahirkan anak pertama pada usia > 35 tahun

o Tidak kawin dan nulipara

o Usia menars < 12 tahun

o Usia menopause > 55 tahun

o Pernah mengalami infeksi, trauma, atau operasi tumor jinak payudara

o Terapi hormonal lama

o Mempunyai kanker payudara kontralateral

o Pernah menjalani operasi ginekologis misalnya tumor ovarium

o Pernah mengalami radiasi di daerah dada

o Ada riwayat keluarga dengan kanker payudara pada ibu, saudara perempuan ibu, saudara perempuan ibu, saudara perempuan, adik/kakak

o Kontrasepsi oral pada pasien tumor payudara jinak seperti kelainan fibrokistik yang ganas

 
Manifestasi Klinis
Pasien biasanya datang dengan keluhan benjolan/massa di payudara, rasa sakit, keluar cairan dari puting susu, timbulnya kelainan kulit (dimpling, kemerahan, ulserasi, peau d’orange), pembesaran kelenjar getah bening, atau tanda metastasis jauh. Setiap kelainan pada payudara harus dipikirkan ganas sebelum dibuktikan tidak.

 

Dalam anamnesis juga ditanyakan adanya faktor-faktor risiko pada pasien, dan pengaruh siklus haid terhadap keluhan atau perubahan ukuran tumor.

 

Untuk meminimalkan pengaruh hormon estrogen dan progesteron, sebaiknya pemeriksaan dilakukan kurang lebih 1 minggu dihitung dari hari pertama haid. Teknik pemeriksaan fisis adalah sebagai berikut:

1. Posisi duduk.

Lakukan inspeksi pada pasien dengan posisi tangan jatuh bebas ke samping dan pemeriksa berdiri di depan dalam posisi lebih kurang sama tinggi. Perhatikan keadaan payudara kiri dan kanan, simetris/tidak; adakah kelainan papila, letak dan bentuknya, retraksi puting susu, kelainan kulit berupa peau d’orange, dimpling, ulserasi, atau tanda-tanda radang. Lakukan juga dalam keadaan kedua lengan diangkat ke atas untuk melihat apakah ada bayangan tumor di bawah kulit yang ikut bergerak atau adalah bagian yang tertinggal, dimpling dan lain-lain.

 

2. Posisi berbaring.

Sebaiknya dengan punggung diganjal bantal, lakukan palpasi mulai dari kranial setinggi iga ke-2 sampai distal setinggi iga ke-6, serta daerah subaerolar dan papila atau dilakukan secara sentrifugal, terakhir dilakukan penekanan daerah papila untuk melihat apakah ada cairan yang keluar.

 

Tetapkan keadaan tumornya, yaitu lokasi tumor berdasarkan kuadrannya; ukuran, konsistensi, batas tegas/tidak; dan mobilitas terhadap kulit, otot pektoralis, atau dinding dada.

 

3. Pemeriksaan KGB regional di daerah:

a. Aksila, yang ditentukan kelompok kelenjar:

o mamaria eksterna di anterior, di bawah tepi otot pektoralis

o subskapularis di posterior aksila

o sentral di pusat aksila

o apikal di ujung atas fasia aksilaris.

b. Supra dan infraklavikula, serta KGB leher utama.

 

4. Organ lain yang diperiksa untuk melihat adanya metastasis yaitu hepar, lien, tulang belakang, dan paru. Metastasis jauh dapat bergejala sebagai berikut :

o otak: nyeri kepala. mual, muntah, epilepsi, ataksia, paresis, paralisis

o paru: efusi, sesak napas

o hati: kadang tanpa gejala, massa ikterus obstruksi

o tulang: nyeri, patah tulang.

 
Pemeriksaan Penunjang
Dapat dilakukan pemeriksaan ultrasonografi (USG) payudara, mammografi, dan aspirasi jarum halus (FNAB) untuk menunjang diagnosis. Untuk menentukan metastasis dapat dilakukan foto toraks, bone survey, USG abdomen/hepar.

 

Pemeriksaan USG hanya dapat membedakan lesi/tumor yang solid dan kistik. Pemeriksaan mammografi terutama berperan pada payudara yang mempunyai jaringan lemak yang dominan serta jaringan fibroglandular yang relatif lebih sedikit. Pada mammografi, keganasan dapat memberikan tanda-tanda primer dan sekunder. Tanda primer berupa fibrosis reaktif, comet sign (Stelata), adanya perbedaan yang nyata antara ukuran klinis dan radiologis, adanya mikrokalsifikasi, adanya spikulae, dan distorsi pada struktur arsitektur payudara. Tanda sekunder berupa retraksi, penebalan kulit, bertambahnya vaskularisasi, perubahan posisi papila dan areola, adanya bridge of tumor, keadaan daerah tumor dan jaringan fibroglandular tidak teratur, infiltrasi dalam jaringan lunak di belakang mamma, dan adanya metastasis ke kelenjar (gambaran ini tidak khas). Pemeriksaan gabungan USG dan mammografi memberikan ketepatan diagnostik yang lebih tinggi.

 
Diagnosis
Diagnosis pasti hanya ditegakkan dengan pemeriksaan histopatologis yang dilakukan dengan:

1. Biopsi eksisi, dengan mengangkat seluruh jaringan tumor beserta sedikit jaringan sehat di sekitarnya bila tumor < 5 cm.

2. Biopsi insisi, dengan mengangkat sebagian jaringan tumor dan sedikit jaringan sehat, dilakukan untuk tumor-tumor yang inoperabel atau lebih besar dari 5 cm.

 

Klasifikasi TNM Kanker Payudara (AJCC 1992)

Tx: Tumor primer tidak dapat ditentukan

T0: Tidak terbukti adanya tumor primer

Tis – Kanker in situ

- Kanker intraduktal atau lobular in situ

- Penyakit Paget pada papila tanpa teraba tumor

T1: Tumor < 2 cm

T1a tumor < 0,5 cm

T1b tumor 0,5 – 1 cm

T1c tumor 1-2 cm

T2: Tumor 2 – 5 cm

T3: Tumor > 5 cm

T4: Berapapun ukuran tumor, dengan penyebaran langsung ke dinding dada atau kulit. Dinding dada termasuk kosta, otot interkostal, otot seratus anterior. Tidak termasuk otot pektoralis.

T4a melekat pada dinding dada

T4b edema, peau d’orange, ulserasi kulit, nodul satelit pada daerah payudara yang sama

T4c T4a dan T4b

T4d karsinoma inflamatoir = mastitis karsinomatosis

Nx: Pembesaran kelenjar regional tak dapat ditentukan

N0: Tidak teraba kelenjar aksila

Nl: Teraba pembesaran kelenjar aksila homolateral yang tidak melekat

N2: Teraba pembesaran kelenjar aksila homolateral yang melekat satu sama lain atau melekat pada jaringan sekitarnya

N3: Terdapat pembesaran kelenjar mamaria interna homolateral.

Mx: Metastasis jauh tidak dapat ditentukan

M0: Tidak ada metastasis jauh

M1: Terdapat metastasis jauh, termasuk ke kelenjar supraklavikula.

 
Stadium Kanker Payudara
Stadium I: tumor terbatas pada payudara dengan ukuran < 2 cm, tidak terfiksasi pada kulit atau otot pektoralis, tanpa dugaan metastasis aksila.

Stadium II: tumor dengan diameter < 2 cm dengan metastasis aksila atau tumor dengan diameter 2 – 5 cm dengan/tanpa metastasis aksila.

Stadium IIIa: tumor dengan diameter > 5 cm tapi masih bebas dari jaringan sekitarnya dengan/tanpa metastasis aksila yang masih bebas satu sama lain; atau tumor dengan me­tastasis aksila yang melekat.

Stadium IIIb: tumor dengan metastasis infra atau supraklavikula atau tumor yang telah menginfiltrasi kulit atau dinding toraks.

Stadium IV: tumor yang telah mengadakan metastasis jauh.

 
Penatalaksanaan
Batasan stadium yang masih operabel/kurabel adalah stadium IIIa. Sedangkan terapi pada stadium IIIb dan IV tidak lagi mastektomi, melainkan pengobatan paliatif.

 

Tindakan operatif tergantung pada stadium kanker, yaitu:

1. Pada stadium I dan II lakukan mastektomi radikal atau modifikasi mastektomi radikal. Setelah itu periksa KGB, bila ada metastasis dilanjutkan dengan radiasi regional dan kemoterapi ajuvan. Dapat pula dilakukan mastektomi simpleks yang harus diikuti radiai tumor bed dan daerah KGB regional. Pada T2N1 dilakukan mastektomi radikal dan radiasi lokal di daerah tumor bed dan KGB regional. Untuk setiap tumor yang terletak pada kuadran sentral atau medial payudara harus dilakukan radiasi pada rantai KGB regional.

 

Alternatif lain pada tumor yang kecil dapat dilakukan teknik Breast Conserving Therapy, berupa satu paket yang terdiri dari pengangkatan tumor saja (tumorektomi), ditambah diseksi aksila dan radiasi kuratif (ukuran tumor < 3 cm) dengan syarat tertentu. Metode ini dilakukan dengan eksisi baji, reseksi segmental, reseksi parsial, kwadranektomi, atau lumpektomi biasa, diikuti dengan diseksi KGB aksila secara total.

 

Syarat teknik ini adalah:

o Tumor primer tidak lebih dari 2 cm

o N1b kurang dari 2 cm

o Belum ada metastasis jauh

o Tidak ada tumor primer lainnya

o Payudara kontralateral bebas kanker

o Payudara bersangkutan belum pernah mendapat pengobatan sebelumnya (kecuali lumpektomi)

o Tidak dilakukan pada payudara yang kecil karena hasil kosmetiknya tidak terlalu menonjol

o Tumor primer tidak terlokasi di belakang puting susu

 

2. Pada stadium IIIa lakukan mastektomi radikal ditambah kemoterapi ajuvan, atau mastektomi simpleks ditambah radioterapi pada tumor bed dan KGB regional.

Pada stadium yang lebih lanjut, lakukan tindakan paliatif dengan tujuan:

1. Mempertahankan kualitas hidup pasien agar tetap baik/tinggi dan menganggap bahwa kematian adalah proses yang normal.

2. Tidak mempercepat atau menunda kematian.

3. Menghilangkan rasa nyeri dan keluhan lain yang mengganggu.

 

Perawatan paliatif pun dilakukan berdasarkan stadium, yaitu:

1. Pada stadium IIIb dilakukan biopsi insisi, dilanjutkan radiasi. Bila residu tidak ada, tunggu. Bila relaps, tambahkan dengan pengobatan hormonal dan kemoterapi. Namun, bila residu setelah radiasi tetap ada, langsung diberikan pengobatan hormonal sebagai berikut:

a. Pada pasien premenopause dilakukan ooforektomi bilateral.

b. Pada pasien sudah 1 – 5 tahun menopause periksa efek estrogen. Bila positif, lakukan seperti (a). Bila negatif, lakukan seperti (c). Observasi selama 6 – 8 minggu. Bila respons baik, teruskan terapi, tetapi bila respons negatif dilakukan kemoterapi dengan CMF (CAF) minimal 12 siklus selama 6 minggu.

c. Pada pasien pascamenopause lakukan terapi hormonal inhibitif/aditif.

2. Pada stadium IV

a. Pada pasien premenopause dilakukan ooforektomi bilateral. Bila respons positif, berikan aminoglutetimid atau tamofen. Bila relaps/respons negatif, berikan kemoterapi CMF/CAF.

b. Pada pasien sudah 1 – 5 tahun menopause, periksa efek estrogen. Efek estrogen dapat diperiksa dengan estrogen/progesteron reseptor (ER/PR). Bila positif, lakukan seperti (a). Bila negatif, lakukan seperti (c).

c. Pada pasien pascamenopause berikan obat-obat hormonal seperti tamoksifen, es­trogen, progesteron, atau kortikosteroid.

Keterangan: C= cyclophosphamide, M= methotrexate, F= 5- fluourasil.

 
Diagnosis Banding
1. Fibroadenoma mamae (FAM), merupakan tumor jinak payudara yang biasa terdapat pada usia muda ( 15-30 tahun), dengan konsistensi padat kenyal, batas tegas, tidak nyeri, dan mobil. Terapi pada tumor ini cukup dengan eksisi.

2. Kelainan fibrokistik, merupakan tumor yang tidak berbatas tegas, konsistensi padat kenyal atau kistik, terdapat nyeri terutama menjelang haid, ukuran membesar, biasanya bilateral/multipel. Terapi tumor ini dengan medikamentosa simtomatis.

3. Kistosarkoma filoides menyerupai FAM yang besar, berbentuk bulat lonjong, berbatas tegas, mobil, dengan ukuran dapat mencapai 20-30 cm. Terapi tumor ini dengan mastektomi simpel.

4. Galaktokel, merupakan massa tumor kistik yang timbul akibat tersumbatnya saluran/duktus laktiferus. Tumor ini terdapat pada ibu yang baru/sedang menyusui.

5. Mastitis, yaitu infeksi pada payudara dengan tanda radang lengkap, bahkan dapat berkembang menjadi abses. Biasanya terdapat pada ibu yang menyusui.