Category Archives: Kelainan pada Persalinan

lnfeksi Intrapartum

Definisi

Infeksi intrapartum adalah infeksi yang terjadi dalam persalinan. Infeksi dapat juga terjadi sebelum persalinan berupa korioamnionitis.

 

Faktor Predisposisi

Distosia, pemeriksaan dalam lebih dari 2 kali, keadaan umum lemah, ketuban pecan dini, servisitis, vaginitis.

 

Manifestasi Klinik

Suhu meningkat lebih dari 38oC, air ketuban keruh kecoklatan dan berbau, leukositosis lebih dari 15.000/mm3 pada kehamilan atau lebih dari 20.000/mm3 pada persalinan.

 
Diagnosis
o Diagnosis klinis ditegakkan pada pasien dengan:

a. Demam lebih dari 38oC tanpa ada sumber infeksi

b. Takikardi ibu atau janin.

c. Nyeri pada uterus.

d. Cairan amnion yang berbau.

e. Leukositosis lebih dari 15.000/mm3 pada kehamilan atau lebih dari 20.000/mm3 pada persalinan.

o Sepsis.

o Pemeriksaan cairan amnion.

o Kultur.

o Pemeriksaan jaringan.

 
Penatalaksanaan
Antibiotik diberikan sesuai penyebab. Dapat diberikan ampisilin 4 x 500 mg atau derivatnya. Persalinan diusahakan pervaginam. Seksio sesarea dilakukan bila ada indikasi seperti kelainan letak, distosia, atau gawat janin.

 

Perdarahan Pascapersalinan

Definisi
Perdarahan pascapersalinan adalah kehilangan darah melebihi 500 ml yang terjadi setelah bayi lahir. Perdarahan primer pascapersalinan dini terjadi dalam 24 jam sedangkan perdarahan sekunder (perdarahan masa nifas) terjadi setelah itu.

 
Etiologi
Etiologi perdarahan pascapersalinan ialah atonia uteri, retensio plasenta, trauma jalan lahir, inversio uteri, ruptur uteri, dan gangguan sistem pembekuan darah. Faktor predisposisi yang harus dipertimbangkan ialah riwayat perdarahan pascapersalinan sebelumnya, multiparitas, perdarahan antepartum, dan partus lama.
Diagnosis
o Perdarahan banyak yang terus-menerus setelah bayi lahir.
o Pada perdarahan melebihi 20% volume total, timbul gejala penurunan tekanan darah, nadi dan napas cepat, pucat, ekstremitas dingin, sampai terjadi syok.

o Perdarahan sebelum plasenta lahir biasanya disebabkan retensio plasenta atau laserasi jalan lahir. Bila karena retensio plasenta, perdarahan berhenti setelah plasenta lahir.

o Pada perdarahan setelah plasenta lahir, perlu dibedakan sebabnya antara atonia uteri, sisa plasenta, atau trauma jalan lahir. Pada pemeriksaan obstetrik mungkin kontraksi uterus lembek dan membesar jika ada atonia uteri. Bila kontraksi uterus baik, eksplorasi untuk mengetahui adanya sisa plasenta atau trauma lahir.

o Riwayat partus lama, partus presipitatus, perdarahan atau etiologi lain.

 
Komplikasi
Syok, KID, sindrom Sheehan (nekrosis hipofisis pars anterior).

 
Pemeriksaan Penunjang
o Darah: kadar hemoglobin, hematokrit, masa perdarahan, masa pembekuan.

o USG: bila perlu untuk menentukan adanya sisa jaringan konsepsi intrauterin.

 
Penatalaksanaan
o Pencegahan. Obati anemia dalam kehamilan. Pada pasien dengan riwayat perdarahan pascapersalinan sebelumnya, persalinan harus berlangsung di rumah sakit. Jangan memijat dan mendorong uterus ke bawah sebelum plasenta lepas. Berikan 10 unit oksitosin im setelah anak lahir dan 0,2 mg ergometrin im setelah plasenta lahir.

o Penanganan. Tentukan apakah terdapat syok, bila ada segera berikan transfusi cairan/darah, kontrol perdarahan dan berikan O2. Bila keadaan umum telah membaik, lakukan pemeriksaan untuk menentukan etiologi.

a. Pada retensio plasenta, bila plasenta belum lahir dalam 30 menit, lahirkan plasenta dengan plasenta manual. Bila terdapat plasenta akreta, segera hentikan plasenta manual dan lakukan histerektomi. Bila hanya sisa plasenta, lakukan pengeluaran plasenta dengan digital/kuretase, sementara infus oksitosin diteruskan.

b. Pada trauma jalan lahir, segera lakukan reparasi.

c. Pada atonia uteri, lakukan masase uterus dan penyuntikan 0,2 mg ergometrin intravena atau prostaglandin parenteral. Jika tidak berhasil, lakukan kompresi bimanual pada uterus dengan cara memasukkan tangan kiri ke dalam vagina dan dalam posisi mengepal diletakkan di forniks anterior; tangan kanan diletakkan di dinding perut memegang fundus uteri. Bila tetap gagal, dapat dipasang tampon uterovaginal, dengan cara mengisi kavum uteri dengan kasa sampai padat selama 24 jam, atau dipasang kateter Folley. Bila tindakan tersebut tidak dapat menghentikan perdarahan juga, terapi definitif yang diberikan adalah histerektomi, atau ligasi a.uterina.

d. Bila disebabkan gangguan pembekuan darah, berikan transfusi plasma segar.

 
Pada perdarahan pascapersalinan sekunder
o Kompresi bimanual sedikitnya selama 30 menit.

o Antibiotik spektrum luas.

o Oksitosin 10 U intramuskular tiap 4 jam atau 10-20 U/l intravena dengan tetesan lambat, 15-metil PGF2a 0,25 mg intramuskular tiap 2 jam atau ergot alkaloid tiap 6 jam sedikitnya selama 2 hari.

 

Ketuban Pecah Dini

Definisi
Ketuban pecah dini adalah pecahnya selaput ketuban sebelum ada tanda-tanda persalinan.

 
Etiologi
Etiologi ketuban pecah dini belum diketahui. Faktor predisposisi ketuban pecah dini ialah infeksi genitalia, serviks inkompeten, gemeli, hidramnion, kehamilan preterm, disproporsi sefalopelvik.

 
Manifestasi Klinis
o Keluar air ketuban warna putih keruh, jernih, kuning, hijau, atau kecoklatan sedikit-sedikit atau sekaligus banyak.

o Dapat disertai demam bila sudah ada infeksi.

o Janin mudah diraba.

o Pada periksa dalam selaput ketuban tidak ada, air ketuban sudah kering.

o Inspekulo: tampak air ketuban mengalir atau selaput ketuban tidak ada dan air ketuban sudah kering.
Pemeriksaan Penunjang
o Pemeriksaan leukosit darah: > 15.000/ul bila terjadi infeksi.

o Tes lakmus merah berubah menjadi biru.

o Amniosentesis.

o USG: menentukan usia kehamilan, indeks cairan amnion berkurang.

 
Komplikasi
Infeksi, partus preterm, prolaps tali pusat, distosia (partus kering).

 
Penatalaksanaan
Ketuban pecah dini pada kehamilan aterm atau preterm dengan atau tanpa komplikasi harus dirujuk ke rwnah sakit.

 

Bila janin hidup dan terdapat prolaps tali pusat, pasien dirujuk dengan posisi panggul lebih tinggi dari badannya, bila mungkin dengan posisi bersujud. Kalau perlu kepala janin didorong ke atas dengan 2 jari agar tali pusat tidak tertekan kepala janin. Tali pusat di vulva dibungkus kain hangat yang dilapisi plastik.

 

Bila ada demam atau dikhawatirkan terjadi infeksi saat rujukan atau ketuban pecah lebih dari 6 jam, berikan antibiotik seperti penisilin prokain 1,2 juta IU intramuskular dan ampisilin 1 g peroral. Bila pasien tidak tahan ampisilin, diberikan eritromisin 1 g peroral.

 

Bila keluarga pasien menolak dirujuk, pasien disuruh istirahat dalam posisi berbaring miring, berikan antibiotik penisilin prokain 1,2 juta IU intramuskular tiap 12 jam dan ampisilin 1 g peroral diikuti 500 mg tiap 6 jam atau eritromisin dengan dosis yang sama.

 

Pada kehamilan kurang dari 32 minggu dilakukan tindakan konservatif, yaitu tirah baring, diberikan sedatif berupa fenobarbital 3×30 mg. Berikan antibiotik selama 5 hari dan glukokortikosteroid, contoh deksametason 3×5 mg selama 2 hari. Berikan pula tokolisis. Bila terjadi infeksi, akhiri kehamilan.

 

Pada kehamilan 33-35 minggu, lakukan terapi konservatif selama 24 jam lalu induksi persalinan. Bila terjadi infeksi, akhiri kehamilan.

 

Pada kehamilan lebih dari 36 minggu, bila ada his, pimpin meneran dan akselerasi bila ada inersia uteri. Bila tidak ada his, lakukan induksi persalinan bila ketuban pecah kurang dari 6 jam dan skor pelvik kurang dari 5 atau ketuban pecah lebih dari 6 jam dan skor pelvik lebih dari 5, seksio sesarea bila ketuban 5 jam dan skor pelvik kurang dari 5.

 

Kehamilan Ganda

Definisi
Kehamilan kembar adalah kehamilan dengan dua janin atau lebih. Angka perbandingan kehamilan kembar dan tunggal (Hukum Hellin) adalah 1:89, untuk triplet 1:892, untuk kuadruplet 1:893, dst.

 
Faktor Prodisposisi
Kehamilan dizigotik: bangsa, herediter, umur, paritas, obat klomid dan hormon gonadotropin yang merangsang ovulasi. Semakin tinggi umur makin tinggi frekuensinya. Frekuensi kehamilan kembar juga meningkat dengan paritas ibu.

Kehamilan monozigotik: faktor penghambat yang mempengaruhi segmentasi sebelum blastula terbentuk.

 
Diagnosis
o Tanda tidak pasti: besarnya uterus melebihi besar yang sesuai dengan lamanya amenore, uterus tumbuh lebih cepat daripada biasanya pada pemeriksaan berulang, penambahan berat badan ibu secara mencolok yang tidak disebabkan oleh edema atau obesitas, banyak bagian kecil teraba, teraba 3 bagian besar janin, teraba 2 balotemen.

o Tanda pasti: teraba 2 kepala, 2 bokong, dan satu/dua punggung; terdengar dua denyut jantung yang letaknya berjauhan dengan beda kecepatan paling sedikit 10 denyut permenit, USG, foto polos abdomen.

 
Diagnosis Banding
Hidramion atau kehamilan dengan mioma uteri atau kistoma ovarii.

 
Penatalaksanaan
Semua persiapan untuk resusitasi dan perawatan bayi prematur disediakan. Golongan darah ibu sudah ditentukan dan persediaan darah diadakan mengingat kemungkinan perdarahan pascapersalinan lebih besar.

 

Rujuk pasien ke rumah sakit bila janin pertama letak lintang, terjadi prolaps funikuli, plasenta previa, dan interlocking. Perlakukan kala I seperti biasa bila letak anak pertama memanjang. Batasi pemakaian sedatif karena pada sebagian besar persalinan kembar, janin lahir prematur. Episiotomi mediolateral dikerjakan untuk memperpendek kala pengeluaran dan mengurangi tekanan pada kepala bayi.

 

Setelah bayi pertama lahir, segera lakukan pemeriksaan luar dan dalam untuk mengetahui letak dan keadaan janin kedua. Bila janin dalam letak memanjang, pecahkan selaput ketuban dan air ketuban dialirkan perlahan-lahan untuk menghindari prolapsus funikuli. Penderita dianjurkan meneran atau di tekanan terkendali pada fundus uterus agar bagian bawah janin masuk dalam panggul.

 

Bila janin kedua dalam letak lintang, denyut jantung janin tidak teratur, terjadi prolapsus funikuli, atau solusio plasenta, atau bila persalinan spontan tidak terjadi dalam 15 menit, lahirkan janin dengan tindakan obstetrik. Dicoba untuk melakukan versi luar. Bila tidak berhasil, segera lakukan versi ekstraksi tanpa narkosis. Bila letak janin memanjang, dapat dilakukan ekstraksi cunam. Pada letak sungsang, lakukan ekstaksi kaki.

 

Seksio sesarea pada kehamilan kembar atas indikasi janin pertama letak lintang, prolapsus funikuli, plasenta previa, dll.

 

Bila dua bagian besar kedua janin masuk pada panggul luas, kepala atau bokong janin yang belum masuk benar dalam rongga panggul dapat didorong ke atas untuk memungkinkan janin yang lain lahir lebih dahulu.

 

Bila terjadi interlocking janin pertama letak sungsang dan janin kedua presentasi kepala, dengan dahu janin pertama tersangkut pada leher dan dagu janin kedua, setelah bokong lahir, lepaskan sangkutan dagu janin. Bila tidak berhasil, lakukan dekapitasi atau seksio sesarea menurut keadaan janin.

 

Segera setelah anak kedua lahir, penderita disuntik 10 unit oksitosin dan tinggi fundus uteri diawasi. Bila tampak tanda-tanda plasenta lepas, lahirkan plasenta dan suntikkan 0,2 mg metergin intravena. Kala IV diawasi dengan cermat dan cukup lama.

 
Komplikasi
Pada ibu adalah anemia, hipertensi, partus prematur, atonia uteri, perdarahan pascapersalinan. Sedangkan pada janin adalah hidramnion, malpresentasi, plasenta previa, solusio plasenta, ketuban pecah dini, prolaps tali pusat, pertumbuhan janin terhambat, kelainan bawaan, morbiditas dan mortalitas perinatal meningkat.

 
Persalinan percobaan
o Persalinan percobaan dimulai saat penderita in partu, sedangkan penilaian kemajuan persalinan dimulai setelah persalinan dalam fase aktif dan dinilai, tiap 2 jam.

o Bila pada setiap penilaian dalam waktu 2 jam tersebut terdapat perubahan bermakna maka persalinan percobaan dikatakan ada kemajuan dan persalinan percobaan diteruskan. Sesudah 2 jam, dinilai lagi.

o Bila tidak ada kemajuan bermakna, persalinan percobaan dikatakan gagal dan diagnosis disproporsi sefalopelvik ditegakkan. Persalinan diakhiri dengan seksio sesarea.

o Persalinan percobaan harus dihentikan bila selama pengamatan didapat tanda-tanda gawat janin atau ruptur uteri membakat. Janin segera dilahirkan dengan seksio sesarea.

o Setelah persalinan percobaan dikatakan berhasil, persalinan dapat diakhiri dengan cara memimpin meneran, ekstraksi vakum, atau cunam.

 

Prolaps Tali Pusat

Definisi
Prolaps tali pusat (tali pusat terkemuka/menumbung) adalah tali pusat berada di samping atau melewati bagian terendah janin di dalam jalan lahir setelah ketuban pecah.

 
Etiologi
Letak lintang, letak sungsang yang terutama presentasi bokong kaki, disproporsi sefalopelvik, prematuritas.

 
Komplikasi
Hipoksia janin.

 
Penatalaksanaan
Bila tali pusat masih berdenyut, tetapi pembukaan belum lengkap dapat dilakukan reposisi tali pusat atau mengakhiri persalinan dengan seksio sesarea. Tindakan reposisi tali pusat hanya dilakukan bila seksio sesarea tidak mungkin dilakukan karena sulit.

 

Reposisi tali pusat. Masukkan gumpalan kain kasa tebal ke dalam jalan lahir, lilitkan dengan hati-hati ke tali pusat, kemudian dorong seluruhnya perlahan-lahan ke kavum uteri di atas bagian terendah janin. Tindakan lebih mudah dilakukan bila ibu dalam posisi Trendelenburg.

 

Seksio sesarea. Jaga tali pusat agar tidak mengalami tekanan dan terjepit oleh bagian terendah janin. Untuk hal ini, dengan pasien dalam posisi Trendelenburg, masukkan satu tangan ke dalam vagina untuk mencegah turunnya bagian terendah di dalam rongga panggul.

 

Hidrosefalus

Definisi
Hidrosefalus adalah penimbunan cairan serebrospinalis dalam ventrikel otak sehingga kepala menjadi lebih besar dan terjadi pelebaran sutura dan ubun-ubun.

 
Etiologi
Tidak lancarnya aliran serebrospinalis atau berlebihannya produksi cairan serebrospinalis.

 
Diagnosis
Pemeriksaan luar: kepala jauh lebih besar dari biasa serta menonjol di atas simfisis. Denyut jantung janin terdengar jelas di tempat yang lebih tinggi. Tulang kepala sangat tipis dan mudah ditekan.

Pemeriksaan dalam: teraba sutura-sutura dan ubun-ubun yang melebar dan tegang.

Pemeriksaan rontgen: kepala janin sangat besar dengan tulang-tulang yang sangat tipis. Muka janin sangat kecil dibandingkan tengkorak. Kepala berbentuk bulat, berbeda dengan kepala biasa yang berbentuk ovoid. Bayangan tulang kepala sangat tipis.

 
Penatalaksanaan
Pada hidrosefalus yang nyata, kecilkan kepala janin pada permulaan persalinan. Pada pembukaan serviks 3 cm, keluarkan cairan serebrospinalis dengan pungsi kepala menggunakan jarum spinal. Bila janin letak sungsang, lakukan pengeluaran cairan dari kepala yang tidak dapat lahir dengan pungsi atau perforasi melalui foramen oksipitalis magnum atau sutura temporalis.

 

Dianjurkan untuk melakukan ventrikulosentesis transabdominal dengan jarum spinal. Kosongkan kandung kencing lebih dahulu.

 

Letak Lintang

Definisi
Letak lintang adalah keadaan sumbu memanjang janin kira-kira tegak lurus dengan sumbu memanjang tubuh ibu. Bila sumbu memanjang itu membentuk sudut lancip, disebut letak lintang oblik, yang biasanya sementara karena kemudian akan berubah menjadi posisi longitudinal pada persalinan.

 

Pada letak lintang, bahu berada di atas pintu atas panggul. Kepala berada di salah satu fosa iliaka dan bokong pada fosa iliaka yang lain. Pada keadaan ini, janin biasanya berada pada presentasi bahu/akromion. Punggung janin dapat berada di depan (dorsoanterior), belakang (dorsoposterior), atas (dorsosuperior), atau bawah (dorsoinferior).

 

Bila persalinan dibiarkan tanpa pertolongan, bahu akan masuk ke dalam panggul sehingga rongga panggul seluruhnya terisi bahu dan bagian-bagian tubuh lainnya. Janin tidak dapat turun lebih lanjut dan terjepit dalam rongga panggul. Bila janin kecil, sudah mati, dan menjadi lembek, kadang-kadang persalinan dapat berlangsung spontan. Janin lahir dalam keadaan terlipat melalui jalan lahir (konduplikasio korpore) atau lahir dengan evolusio spontanea menurut cara Denman atau Douglas.

 
Etiologi
Relaksasi berlebih dinding abdomen akibat multiparitas, uterus abnormal (uterus arkuatus atau subseptus), panggul sempit, tumor daerah panggul, pendulum dari dinding abdomen, plasenta previa, insersi plasenta di fundus, bayi prematur, hidramnion, kehamilan ganda.

 
Diagnosis
o Pemeriksaan luar: uterus lebih melebar dan fundus uteri lebih rendah, tidak sesuai dengan umur kehamilan. Fundus uteri kosong, kepala janin berada di samping. Di atas simfisis juga kosong, kecuali bila bahu sudah turun ke dalam panggul. Denyut jantung janin ditemukan di sekitar umbilikus.

o Pemeriksaan dalam: teraba bahu dan tulang-tulang iga/ketiak/punggung (teraba skapula dan ruas tulang belakang)/dada (teraba klavikula). Kadang-kadang teraba tali pusat yang menumbung.

 
Komplikasi
Cedera tali pusat, timbul sepsis setelah ketuban pecah dan lengan menumbung melalui vagina, kematian janin, ruptur uteri.

 
Penatalaksanaan
Lakukan versi luar bila syarat versi luar terpenuhi. Ibu diharuskan masuk rumah sakit lebih dini pada permulaan persalinan. Pada permulaan persalinan masih dapat diusahakan untuk melakukan versi luar asalkan pembukaan masih kurang dari 4 cm dan ketuban belum pecah.

 

Pada primigravida, bila versi luar tidak berhasil, segera lakukan seksio sesarea. Pada multigravida, bila riwayat obstetri baik, tidak ada kesempitan panggul, dan janin tidak seberapa besar, dapat ditunggu dan diawasi sampai pembukaan serviks lengkap, kemudian dilakukan versi ekstraksi.

 

Pada letak lintang kasep, bila janin masih hidup, segera lakukan seksio sesarea. Bila janin sudah mati, lahirkan pervaginam dengan dekapitasi.

 
Prognosis
Bila terjadi ruptur uteri spontan atau ruptur traumatik akibat versi dan ekstraksi yang buruk/ terlambat, dapat terjadi kematian. Bila diagnosis berhasil ditegakkan secara dini dan penanganannya tepat, prognosis baik.

Letak Sungsang

Definisi
Letak sungsang adalah janin terletak memanjang dengan kepala di fundus uteri dan bokong di bagian bawah kavum uteri.

 

Pada letak sungsang, berturut-turut lahir bagian-bagian yang makin lama makin besar dimulai dari lahirnya bokong, bahu, kemudian kepala.

 

Etiologi

Multiparitas, prematuritas, kehamilan ganda, hidramnion, hidrosefalus, anensefalus, plasenta previa, panggul sempit, kelainan uterus dan kelainan bentuk uterus, implantasi plasenta di kornu fundus uteri.

 

Diagnosis

Anamnesis: kehamilan terasa penuh di bagian atas dan gerakan terasa lebih banyak di bagian bawah.

Pemeriksaan luar: di bagian bawah uterus tidak teraba kepala, balotemen negatif, teraba kepala di fundus uteri, denyut jantung janin ditemukan setinggi atau sedikit lebih tinggi daripada umbilikus.

Pemeriksaan dalam: setelah ketuban pecah teraba sakrum, kedua tuberositas iskii, dan anus. Bila teraba bagian kecil bedakan apakah kaki atau tangan.

 

Penatalaksaanaan

Lakukan versi luar pada kehamilan 34-38 minggu bila syarat versi luar terpenuhi. Bila pada persalinan masih letak sungsang singkirkan indikasi untuk seksio sesarea. Lahirkan janin dengan perasat Bracht. Bila bahu dan kepala tidak dapat dilahirkan dengan perasat Bracht, lakukan manual aid atau dibantu cunam.

 

Prognosis

Angka kematian bayi pada persalinan letak sungsang lebih tinggi dibandingkan dengan letak kepala menurut Eastman sebesar 12-14%.

 

Presentasi Dahi

Definisi
Presentasi dahi adalah kedudukan kepala di antara fleksi maksimal dan defleksi maksimal sehingga dahi merupakan bagian terendah. Pada umumnya presentasi dahi merupakan kedudukan sementara dan sebagian besar akan berubah menjadi presentasi muka atau belakang kepala.

 
Etiologi
Keadaan yang memaksa terjadi defleksi kepala, seperti panggul sempit, tumor di leher bagian depan atau keadaan yang menghalangi terjadinya fleksi kepala, seperti janin besar, anensefalus, dan kematian janin intrauterin.

 
Diagnosis
Pemeriksaan luar: dada teraba seperti punggung, denyut jantung janin terdengar lebih jelas di bagian dada, yaitu pada sisi yang sama dengan bagian-bagian kecil.

Pemeriksaan dalam: teraba sutura frontalis, yang bila diikuti, teraba ubun-ubun besar pada ujung yang satu dan pangkal hidung dan lingkaran orbita pada ujung yang lain.

 
Penatalaksanaan
Pada janin kecil dan panggul luas, penanganan sama seperti presentasi muka. Pada presentasi dahi dengan ukuran panggul dan janin yang normal, tidak dapat dilakukan persalinan spontan pervaginam sehingga harus dilakukan seksio sesarea. Maka, pasien dirujuk ke rumah sakit.

 

Bila persalinan maju atau ada harapan presentasi dahi dapat berubah menjadi presentasi belakang kepala atau muka, tidak perlu dilakukan tindakan. Bila pada akhir kala I kepala belum masuk rongga panggul, presentasi dapat diubah dengan perasat Thorn. Bila tidak berhasil, lakukan seksio sesarea. Bila kala II tidak mengalami kemajuan, meskipun kepala sudah masuk rongga panggul, lakukan pula seksio sesarea.

 

Presentasi Muka

Definisi
Presentasi muka adalah kepala dalam kedudukan defleksi maksimal sehingga oksiput tertekan pada punggung dan muka merupakan bagian terendah.

 

Kalau dagu di bagian belakang dan tidak dapat berputar ke depan waktu paksi dalam disebut posisi mentoposterior persisten dan janin tidak dapat lahir spontan.

 
Etiologi
Keadaan yang memaksa terjadi defleksi kepala, seperti panggul sempit, tumor di leher bagian depan atau keadaan yang menghalangi terjadinya fleksi kepala, seperti janin besar, anensefalus, dan kematian janin intrauterin.

 
Faktor Predisposisi
Multipara, perut gantung.

 

Diagnosis

Pemeriksaan luar: dada teraba seperti punggung, belakang kepala terletak berlawanan dengan letak dada, teraba bagian-bagian kecil janin dan denyut jantung janin terdengar lebih jelas pada dada.

Pemeriksaan dalam: teraba dagu, mulut, hidung, dan pinggir orbita bila muka sudah masuk ke dalam rongga panggul.

 
Penatalaksanaan
Tentukan ada/tidak disproporsi sefalopelvik. Bila tidak ada dan dagu berada di depan, diharapkan terjadi persalinan spontan. Rujuk pasien ke rumah sakit bila ada disproporsi sefalopelvik atau dagu berada di belakang.

 

Bila dagu berada di belakang, berikan kesempatan kepada dagu untuk memutar ke depan. Pada posisi mentoposterior persisten, usahakan untuk memutar dagu ke depan dengan satu tangan yang dimasukkan ke dalam vagina.

 

Presentasi muka diubah menjadi presentasi belakang kepala bila dagu berada di belakang atau kepala belum turun ke dalam rongga panggul dan masih mudah didorong ke atas dengan cara memasukkan tangan penolong ke dalam vagina kemudian menekan muka pada daerah mulut dan dagu ke atas.

 

Bila tidak berhasil, dapat dicoba perasat Thorn, yaitu satu tangan penolong dimasukkan ke dalam vagina untuk memegang bagian belakang kepala janin, kemudian menariknya ke bawah. Tangan yang lain berusaha meniadakan ekstensi tubuh janin dengan menekan dada dari luar.

 

Pada kala II yang berlangsung lebih dari 2 jam diindikasikan untuk ekstraksi cunam. Bila tidak berhasil atau didapatkan disproporsi sefalopelvik, lakukan seksio sesarea.

 
Prognosis
Pada umumnya persalinan berlangsung tanpa kesulitan. Kesulitan persalinan dapat terjadi karena adanya disproporsi sefalopelvik. Angka kematian perinatal pada presentasi muka ialah 2,5-5%.