Category Archives: Kontrasepsi

Kontrasepsi Mantap untuk Wanita

Definisi

Tubektomi adalah setiap tindakan pada kedua saluran telur yang menyebabkan wanita bersangkutan tidak akan mendapat keturunan lagi. Tubektomi merupakan alat kontrasepsi yang paling efektif dengan angka kegagalan kurang dari 1%.

 

Tubektomi dapat dilakukan pascakeguguran, pascapersalinan, atau pada masa interval. Tubektomi pascapersalinan sebaiknya dilakukan 48 jam setelah melahirkan karena belum dipersulit dengan edema tuba, infeksi, dan alat-alat genital belum menciut. Dikenal 2 tipe yang sering dipergunakan dalam pelayanan tubektomi, yaitu minilaparotomi dan laparoskopi.

 

Teknik minilaparotomi pascapersalinan dengan tubektomi cara modifikasi Pomeroy:

o Calon akseptor yang sudah dipuasakan 6-8 jam sebelum tindakan diminta berbaring. A/antisepsis lapangan operasi sekitar pusat. Tutup dengan kain steril berlubang di tengah.

o Anestesi umum dengan ketalar atau anestesi lokal dengan lidokain.

o Dengan posisi operator di kiri calon akseptor dan asisten di kanannya, buat insisi kecil sepanjang 2 cm setinggi fundus. Bila fundus setinggi pusat, sayatan dilakukan di lipatan kulit bawah pusat. Bila lebih tinggi, sayatan di lipatan kulit atas pusat. Kulit disayat melintang sampai tampak fasia dengan menegangkan lipatan kulit dengan 2 doek klem di daerah tersebut terlebih dahulu. Fasia dijepit dengan 2 klem arteri dan disayat melintang sampai hampir menembus peritoneum. Tembus sekaligus dengan gunting bengkok, lalu lebarkan lubangnya hingga cukup besar untuk dimasuki sebuah jari telunjuk dan sebuah tang tampon.

o Jika fundus terletak di bawah pusat pada 3-5 hari pascapersalinan, lakukan insisi mediana setinggi 2 jari di bawah fundus uteri sepanjang 1-2 cm. Tembus kulit perut dengan pisau, potong lemak dengan gunting Mayo sampai fasia otot rektus abdominis. Jepit fasia dengan 2 klem sampai tampak melalui lubang sayatan, lalu gunting atau sayat dengan pisau. Sisihkan otot dengan ujung jari telunjuk sampai teraba peritoneum yang berlandaskan korpus uteri. Jepit peritoneum dengan 2 klem, lalu potong dengan pisau atau gunting dan jepit pinggirnya dengan klem tadi atau langsung pasang retraktor abdomen.

o Tampilkan tuba dengan menarik retraktor ke arah tuba yang akan dicapai, atau dengan mendorong uterus dan tuba dengan jari lewat lubang sayatan. Jepit bagian tuba yang terlihat dengan pinset atau klem Babcock dan tarik perlahan-lahan keluar lubang.

o Jepit 1/3 bagian proksimal tuba dengan klem Babcock, kemudian angkat sampai melipat. Ikat dasar lipatan dengan catgut no.0 atau Dexon no.0 masing-masing pada lumen kiri dan kanan. Lakukan juga pengikatan di bawah ikatan tadi melingkari kedua lumen kiri dan kanan. Potong lipatan tuba di atas ikatan catgut tadi. Jika tak tampak perdarahan, gunting sisa catgut dan lepaskan tuba kembali ke rongga perut. Lakukan tindakan serupa pada tuba sisi lain.

o Tutup peritoneum dengan jahitan jelujur catgut no.00 dan kulit dengan 1-2 jahitan sutera atau catgut no.00 subkutis.

 

Kontrasepsi Hormonal

Estrogen sebagai kontrasepsi bekerja dengan jalan menghambat ovulasi melalui fungsi hipotalamus-hipofisis-ovarium, mengharnbat perjalanan ovum atau implantasi. Sedangkan progesteron bekerja dengan cara membuat lendir serviks lebih kental, hingga penetrasi dan transportasi sperma menjadi sulit, menghambat kapasitasi sperma, perjalanan ovum dalam tuba, implantasi, dan menghambat ovulasi melalui fungsi hipotalamus-hipofisis-ovarium.

 

Kontraindikasi

Mutlak: kehamilan, tumor-tumor yang dipengaruhi estrogen, pernah mengalami kelainan serebrovaskular, dan diabetes melitus.

Relatif: depresi, migren, mioma uteri, hipertensi, oligomenore, dan amenore.

 

Efek Samping

Efek samping pemberian kontrasepsi hormonal sesuai dengan kadar hormon yang dikandungnya. Kelebihan hormon estrogen dapat menimbulkan nausea, edema, keputihan, kloasma, disposisi lemak berlebihan, eksotrofia serviks, teleangiektasia, nyeri kepala, hipertensi, superlaktasi, dan buah dada tegang. Rendahnya dosis estrogen dapat menyebabkan spotting dan breakthrough bleeding antara masa haid. Sedangkan kelebihan progesteron dapat menimbulkan perdarahan yang tidak teratur, nafsu makan meningkat, cepat lelah, depresi, libido berkurang, jerawat, alopesia, hipomenore, dan keputihan. Kekurangan hormon progesteron menyebabkan darah haid yang lebih banyak dan lama.

 

Pil

Ada tiga macam pil kontrasepsi, yaitu minipil, pil kombinasi, dan pil pascasanggama (morning after pill). Yang umum digunakan ialah pil kombinasi antara estrogen dan progesteron. Minipil yang hanya mengandung progestin dosis rendah biasanya diberikan pada ibu yang menyusui (hingga kira-kira 9 bulan setelah melahirkan).

 

Cara Menggunakan Pil Kombinasi

Pil yang berjumlah 21-22 diminum mulai hari ke-5 haid tiap hari satu pil terus-menerus atau sesuai hari di dalam bungkus. Sebaiknya pil diminum dalam waktu yang kurang lebih sama tiap harinya, misalnya malam sebelum tidur. Beberapa hari setelah minum pil dihentikan, biasanya terjadi withdrawal bleeding, lalu pil bungkus ke-2 diminum mulai hari ke-5 perdarahan tersebut. Jika tidak terjadi withdrawal bleeding, pil bungkus ke-2 diminum mulai 7 dari setelah pil bungkus pertama habis. Sedangkan pil yang berjumlah 28 diminum terus menerus tiap malam. Tujuh pil terakhir mengandung zat besi atau gula.

 

Jika akseptor lupa minum satu pil, pil tersebut hendaknya diminum esok pagi dan pil untuk hari itu diminum seperti biasa. Jika 2 pil berturut-turut, dapat diminum 2 pil esok hari dan 2 pil lusanya. Selanjutnya dianjurkan memakai kontrasepsi lain selama sisa hari siklus yang bersangkutan, juga 2 minggu saat akseptor baru mulai menggunakan pil.

 

Suntik

Saat ini terdapat dua macam kontrasepsi suntikan, yaitu golongan progestin seperti Depo Provera®, Depo Geston®, Depo Progestin®, Noristerat®, dan golongan progestin dengan campuran estrogen propionat, seperti Cyclo Provera® (Cyclofem®).

 

Suntikan diberikan mulai hari ke-3 sampai ke-5 pascapersalinan, segera setelah keguguran, atau pada interval lima hari pertama haid. Hormon disuntikan secara intramuskular dalam di daerah gluteus maksimus atau deltoid. Selanjutnya suntikan Cyclofem® diberikan tiap bulan, Noristerat® tiap 2 bulan, dan Depo Provera® tiap 3 bulan sekali.

 

Susuk Norplant®

Ada dua macam susuk saat ini, yaitu Norplant® dan Implanon®. Norplant® merupakan metoda kontrasepsi berjarak 5 tahun yang terdiri atas 6 kapsul silastik silikon berisi masing-masing 36 mg levonorgestrel dan disusukkan di bawah kulit.

 

Saat optimal untuk pemasangan susuk ialah saat haid, dalam tenggang waktu 7 hari pascaabortus, dan saat laktasi (bila lebih 6 minggu pascapersalinan).

 

Alat dan Bahan

o larutan antiseptik

o duk steril

o obat anestesi lokal/lidokain

o spuit 5 ml

o trokar no.10

o kapsul implant 6

o kasa

o skapel no.11/15

o kapas

o alkohol 70%

o sarung tangan

o band aid plester

o pinset anatomi

o perban

o spidol waterproof

o tempat sampah ditutupi plastik

o larutan klorin 0,5% (Bayclin:air = 1:9)

o kipas (model Mack)

 

Cara

o Klien diminta mencuci lengan kirinya secara bersih dengan sabun sementara peralatan dipersiapkan.

o Klien diminta berbaring dan dilakukan konseling untuk memantapkan dan menjelaskan apa yang akan dilakukan, juga apakah menderita alergi.

o Cari daerah di lengan kiri yang tidak ada vena dan lembut 8 cm dari lipat siku, tandai titik-titik sesuai/seperti kipas atau sesuai model Mack dengan spidol.

o Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir kemudian keringkan dengan handuk bersih dan kering. Kenakan sarung tangan steril, bila diberi bedak maka hapus bedak dengan kasa yang telah dicelup dalam air steril.

o Lakukan a/antisepsis dengan kasa yang dibasahi Betadine® dengan gerakan melingkar ke arah luar 2-3 kali seluas 8-13 cm. Pasang duk steril.

o Suntikkan anestesi infiltrasi 0,4 ml tepat di bawah kulit pada tempat insisi yang telah ditentukan sampai insisi sedikit menggelembung. Teruskan suntikan ke lapisan di bawah kulit kurang lebih 4 cm dan masukkan anestesi antara garis 1-2, 3-4, 5-6 masing-masing 1 ml sambil ditarik keluar, kemudian di massase. Uji efek anestesinya sebelum melakukan insisi dengan skapel.

o Buat insisi dangkal dengan skapel selebar 2 mm. Masukkan trokar dan pendorongnya melalui tempat insisi dengan sudut 45o sambil mengungkit kulit, sampai garis batas pertama trokar tepat berada di luka insisi.

o Pendorong dikeluarkan dan diletakkan di tempat steril. Angkat tabung dengan jari telunjuk kanan.

o Tangkap tabung dengan tangan kiri dalam posisi menadah dengan rapat. Masukkan kapsul implant pertama dalam trokar. Masukkan pendorong dan dorong sampai terasa ada tahanan.

o Lepaskan kedua tangan, periksa kelurusan posisi trokar dan periksa tahanan pada pendorong dengan mendorong dari luar.

o Tahan pendorong di tempatnya dengan satu tangan, dan tarik keluar trokar sampai mencapai pegangan pendorong, dorong tiga kali.

o Tarik trokar dan pendorongnya secara bersamaan sampai batas tanda kedua (pada ujung trokar) terlihat pada luka insisi. Jangan sampai trokar keluar dari luka insisi.

o Tahan kapsul yang telah terpasang dengan satu jari dan masukkan kembali trokar serta pendorong ke arah kanan lalu ke kiri ke tujuan berikutnya sesuai gambar yang telah dibuat.

o Bila telah dipasang semua, periksa seluruh kapsul dari atas dan bawah (ingat-ingat, karena akan digambarkan dalam status). Pastikan tidak berada di dekat luka insisi. Keluarkan trokar dengan hati-hati.

o Tutup dan tekan luka bekas insisi dengan kasa, lepaskan duk. Bersihkan coretan spidol dan sekitar dengan kapas alkohol. Tarik kulit sekitar insisi agar luka tertutup dengan rapi kemudian tutup dengan plester. Tutup dengm kasa di atasnya.lalu balut sekitar lengan dengan perban.

o Setelah selesai, pasien diperbolehkan turun dan dinasehati untuk tidak terkena air sampai perban dilepas (3 hari kemudian), bila ada keluhan diminta secepatnya datang kembali, jangan berhubungan dengan suami dulu selama 3 hari kontrol seminggu lagi, dan diminta menunggu dulu 10-15 menit di ruang tunggu. Bila tidak ada keluhan, pasien boleh pulang.

 

Pencabutan Norplant®

Pencabutan dapat dilakukan setiap saat, namun memerlukan waktu lebih lama dan lebih sulit daripada pemasangan, terutama bila tidak terpasang dengan benar. Pencabutan harus dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih dan bila ada kesulitan harus dirujuk pada dokter yang terlatih.

 

Indikasi

o Masa penggunaan telah habis (5 tahun).

o Atas pennintaan pasien karena ada keluhan, hamil atau keadaan-keadaan khusus sehingga jenis kontrasepsi harus diganti.

 

Teknik

Persiapan

Alat dan bahan:

o tempat tidur periksa

o lengan penyangga (kalau ada)

o duk steril

o 3 mangkok kecil (isi: larutan antiseptik, air steril atau mendidih untuk merendam kapas/kasa dan menghilangkan bedak dari sarung tangan, larutan klorin 0,5% untuk dekontaminasi kapsul yang sudah dicabut).

o 1 pasang sarung tangan steril

o air dan sabun untuk cuci tangan

o antiseptik

o obat anestesi lokal (lidokain 1% tanpa epinefrin)

o spuit (5 atau 10 ml) dan jarum panjang 2,5 – 4 cm.

o skapel No.11

o klem Mosquito atau Crile

o klem pemegang implant (modifikasi klem vasektomi tanpa pisau) untuk teknik U (bila ada)

o penjepit (kalau ada)

o band aid atau kasa steril dengan plester

o kasa pembalut

o epinefrin (persiapan bila terjadi syok)

 

Konseling Sebelum Pencabutan

Tanyakan alasan mencabut dan mengenai kontrasepsi yang akan dipakai selanjutnya. Jelaskan mengenai proses pencabutan dan apa yang diharapkan setelahnya.

 

Prosedur Pencabutan Susuk dengan Teknik U

o Pasien mencuci seluruh lengan dan tangan dengan sabun dan air mengalir.

o Pasien berbaring dengan lengan lurus atau sedikit bengkok dan disangga dengan baik.

o Letakkan kain bersih dan kering di bawah lengan klien.

o Tentukan lokasi ke-6 kapsul melalui perabaan tanpa sarung tangan. Basahkan sedikit ujung jari dengan larutan antiseptik untuk menghilangkan gesekan antara ujung jari dengan kulit pasien. Tentukan tempat insisi di dekat lipatan siku. Bila tidak dapat meraba kapsul lihat lokasi pemasangan pada catatan medik pasien.

o Beri tanda setiap posisi kapsul di lengan dengan spidol.

o Siapkan peralatan steril secara baik dan benar di tempat yang mudah terjangkau.

o Cuci tangan dan keringkan dengan kain bersih, lalu pakai sarung tangan steril. Bila terdapat bedak, bersihkan dengan kasa steril yang direndam dengan air steril/mendidih.

o Usap tempat pencabutan dengan kapas atau kasa yang direndam dalam antiseptik yang dipegang klem. Lakukan dengan gerakan melingkar ke luar (8- 13 cm) dan biarkan kering.

o Tutup lengan sekitar dengan duk steril.

o Raba seluruh kapsul sekali lagi untuk menentukan lokasinya.

o Setelah yakin pasien tidak alergi terhadap obat, isi spuit dengan 3 ml obat anestesi. Masukkan jarum di bawah ujung kapsul yang terdekat dengan siku sampai sekitar sepertiga panjang kapsul pertama (1 cm), tarik perlahan hingga membentuk jalur sambil menyuntikkan sebanyak 0,5 ml. Tanpa mencabut jarum, geser ujung jarum ke arah kapsul berikut. Ujung kapsul akan terangkat.

o Ulangi prosedur hingga seluruh ujung keenam kapsul. Bila perlu dapat ditambahkan anestesi di bawah kapsul selama berlangsung proses pencabutan. Dosis total tidak boleh lebih dari 10 ml (10g/1).

o Pijat lengan agar penyebaran obat merata dan efektivitas obat meningkat. Cek efek anestesi dengan menyentuh tempat insisi perlahan dengan skapel.

o Tentukan lokasi insisi pada kulit: antara kapsul 3 dan 4 dengan jarak 5 mm di atas ujung kapsul dekat siku. Lokasi ini cukup bila akan dipasang kembali susuk yang baru.

o Buat insisi kecil (4 mm) dengan arah memanjang pada lokasi tersebut.

o Masukkan ujung klem pemegang susuk dengan hati-hati melalui luka insisi.

o Fiksasi kapsul terdekat pada luka insisi dengan jari telunjuk sejajar panjang kapsul.

o Masukkan klem lebih dalam sampai ujungnya menyentuh kapsul, buka klem, dan jepit kapsul dengan sudut yang tepat pada sumbu panjang kapsul sekitar 5 mm di atas ujung bawah kapsul. Tarik ke arah insisi, jatuhkan klem 180o ke arah bahu pasien untuk memaparkan ujung bawah kapsul.

o Bersihkan kapsul dari jaringan ikat sekeliling dengan kasa steril atau sisi tidak tajam skapel pada ujung bawah kapsul sehingga mudah dicabut.

o Gunakan klem lain untuk menjepit kapsul yang telah terpapar. Lepaskan klem pemegang susuk dan cabut susuk dengan perlahan dan hati-hati.

o Bila sulit dicabut, bersihkan kembali jaringan sekitar.

o Letakkan kapsul yang telah dicabut dalam mangkok kecil berisi larutan klorin 0,5%.

o Ulangi prosedur pada kapsul lain yang tersisa. Cabut yang tampak paling mudah dicabut. Periksa apakah kapsul dicabut utuh (bila utuh akan mengapung).

o Bila klien ingin melanjutkan pemakaian susuk, pasang kapsul baru melalui insisi dengan arah yang sama dengan terdahulu atau berlawanan, jangan terlalu dekat dengan siku karena mengganggu gerakan. Insisi baru hanya dilakukan bila terlalu banyak jaringan ikat pada tempat pemasangan pertama atau antara tempat insisi dan siku tidak tersedia cukup tempat. Bila tidak memungkinkan, lakukan pemasangan di lengan lain.

o Bila klien tidak ingin memakai susuk lagi, bersihkan daerah sekitar insisi dengan kasa antiseptik. Pegang kedua tepi luka dengan klem Mosquito untuk mengurangi perdarahan (10-15 detik).

o Dekatkan kedua tepi luka insisi kemudian tutup dengan band aid atau kasa steril dan plester. Periksa perdarahan.

o Tutup daerah insisi dengan balut tekan mengelilingi lengan untuk hemostasis dan mengurangi perdarahan bawah kulit.

 

Pencabutan Kapsul yang Sulit

Jangan dipaksa bila tidak semua kapsul dapat dicabut pada saat pencabutan yang pertama. Bila setelah 30-45 menit, pasien mengalami reaksi tidak enak, hentikan tindakan, dan pulangkan. Lakukan pencabutan kedua pada kedatangan setelah luka insisi sembuh (4-6 minggu). Untuk menghindari risiko hamil, berikan metode kontrasepsi lain seperti kondom atau pil.

 

Kapsul yang Tidak Dapat Diraba

Pada pemasangan yang terlalu dalam sehingga tidak teraba dapat dilakukan pemeriksaan sinar X atau USG.

 

Susuk Implanon®

Implanon® adalah jenis kontrasepsi susuk tidak terdegradasi yang terdiri dari simpai kopolimer etilen-viniasetat (EVA) sebagai pembawa substansi aktif senyawa progestin 3-keto-desogestrel (3-keto-DSG). Bentuknya batang putih lentur dengan panjang 40 mm dan diameter 2 mm dalam suatu jarum yang terpasang pada inserter khusus berbentuk semprit sekali pakai dalam kemasan steril kantong aluminium.

 

Implanon® dapat dipergunakan sedikitnya selama 3 tahun. Pemasangan sebagai suntikan subkutan biasa tanpa anestesi lokal.

 

Indikasi

Sebagai kontrasepsi jangka panjang untuk menjarangkan dan/atau mengakhiri kesuburan, selama laktasi, serta bila penggunaan estrogen merupakan kontraindikasi.

 

Kontraindikasi Relatif

Diduga atau diketahui hamil, tromboflebitis atau tromboemboli aktif, perdarahan vagina tanpa sebab yang jelas, penyakit hati akut, tumor hati jinak atau ganas, dan dugaan atau menderita kanker payudara.

 

Efek samping

Terutama berupa gangguan siklus haid, yaitu perdarahan tak teratur dan amenore.

 

Semua peringatan, efek samping, dan perhatian khusus yang berlaku untuk metode kontrasepsi yang hanya mengandung progestogen juga berlaku untuk Implanon®.

 

Cara Insersi Implanon®

o Bersihkan daerah suntikan dengan antiseptik. Lepaskan inserter steril sekali pakai dari pembungkus aluminium. Lepaskan penutup jarum.

o Masukkan jarum di bawah kulit di bagian dalam dan lengan atas (yang tidak dominan sampai dengan batas semprit).

o Lepaskan pengikat topangan pendorong suntikan dengan semprit sambil mempertahankan inserter dengan tangan yang lain.

o Putar pendorong suntikan 180o. Pertahankan pendorong suntikan di tempat dengan menekannya pada lengan dan tarik semprit dengan tangan yang lain untuk melepaskan susuk.

o Aplikasikan kasa steril dan balut tekan yang dipertahankan selama 3 hari.

 

Cara Pencabutan Implanon®

o Lokasikan susuk dengan perabaan. Cuci lengan klien secara aseptik.

o Lakukan anestesi lokal dengan 0,5-1 ml lidokain 1% pada tempat insisi akan dibuat, yaitu tepat di bawah susuk atau berbentuk V karena bila dilakukan tepat di atas susuk akan menyebabkan bengkak dan menyulitkan penentuan lokasi susuk.

o Buat insisi 2 mm. Lalu dorong dengan halus susuk ke arah insisi sampai ujungnya terlihat. Tangkap susuk dengan forseps (misalnya Mosquito forseps) dan cabutlah.

o Bila susuk tidak dapat didorong ke arah insisi, insersikan forseps tertutup ke dalam dan dengan halus diseksikan jaringan sekitar susuk. Pada saat bersamaan dorong susuk ke arah insisi dengan tangan yang lain.

o Tutup insisi dengan pembalut/band aid. Pasang balut tekan di atasnya dengan kasa steril.

 

Alat Kontrasepsi dalam Rahim (AKDR), Intra Uterine Device (IUD)

Ada berbagai jenis AKDR yang beredar di Indonesia. Secara umum, AKDR tersebut terdiri dari 3 tipe, yaitu:

1. Inert, dibuat dari plastik (Lippes Loop) atau baja antikarat (the Chinese Ring);

2. Mengandung tembaga seperti TCu 380A, TCu 200C, Multiload® (MLCu 250 dan 375), dan Nova T®;

3. Mengandung hormon steroid, seperti Progestasert® (hormon progesteron), dan Levonova® (Levonorgestrel)

 

Mekanisme Kerja

Sampai saat ini mekanisme kerja AKDR belum diketahui secara pasti. Pendapat terbanyak mengatakan AKDR menimbulkan reaksi radang endometrium dengan sebukan leukosit yang dapat menghancurkan blastokista atau sperma. AKDR yang mengandung tembaga (Cu) juga menghambat khasiat anhidrase karbon dan fosfatase alkali, memblok bersatunya sperma dan ovum, mengurangi jumlah sperma yang mencapai tuba falopii, dan menginaktifkan sperrna. AKDR yang mengeluarkan hormon juga menebalkan lendir serviks hingga menghalangi pergerakan sperma.

 

Kontraindikasi

Mutlak: kehamilan, infeksi aktif traktus genitalia, tumor traktus genitalia, metroragia.

Relatif: kelainan uterus (mioma, polip, jaringan parut bekas seksio), insufisiensi serviks uteri, tumor ovarium, gonore, servisitis, dismenore, stenosis kanalis servikalis, dan panjang kavum uteri kurang dari 6,5 cm.

 

Pemasangan AKDR

AKDR sebaiknya dipasang sewaktu haid atau pada hari-hari haid terakhir. Pemasangan dapat juga dilakukan sesudah melahirkan, sesudah abortus, atau setiap waktu selama siklus haid jika dapat dipastikan wanita tersebut tidak hamil.

 

Pemasangan IUD Coopper T380A

Alat dan Bahan

o IUD Coopper T380A

o sarung tangan 2 pasang

o spekulum cocor bebek

o cunam tampon

o tenakulum

o sonde uterus

o lampu sorot atau senter

o gunting

o kom berisi povidon iodin

o kasa

o klorin 0.5% (bayclin:air = 1:9) di dalam ember plastik dengan tutup

o tempat sampah dengan plastik

 

Cara

Persiapan pasien

o Lakukan konseling pada pasien agar mantap Minta pasien buang air kecil dulu dan membersihkan kemaluan dengan sabun. Siapkan peralatan, cek tanggal kedaluwarsa IUD.

o Cuci tangan selama 15-30 detik dengan air mengalir. Bersihkan tangan dengan handuk kering dan bersih. Kenakan sarung tangan dengan baik dan steril.

o Periksa genitalia eksterna, awasi adanya luka bernanah, kelenjar bartholin yang membesar, kelenjar getah bening yang membesar (jika ada, pemasangan harus ditunda dan pasien diobati dulu).

o Pasang spekulum dengan jari telunjuk kiri menekan bagian bawah. Pada inspekulo lihat porsio, awasi adanya erosi, fluor yang ada norrnal atau tidak (bila ada, pemasangan harus ditunda dan pasien diobati dulu). Tutup spekulum, miringkan, dan keluarkan.

o Lakukan periksa dalam bimanual, awasi adanya nyeri goyang, besar dan arah uterus, massa di adneksa (bila ada, pemasangan harus ditunda dan pasien diobati dulu).

o Bersihkan ujung sarung tangan dalam larutan klorin dalam ember, lepas, dan masukkan ke dalam ember.

 

Persiapan IUD

o Siapkan bagian-bagian alat: leher biru, pendorong, kertas pengukur, kertas transparan, kertas biasa, tabung, IUD. Yakinkan IUD berada pada tabung. Jika berada di luar, dorong masuk. Jika tali IUD keluar seluruhnya dari tabung, IUD tidak dapat dipakai. Letakkan di tempat bersih, keras, datar, dan IUD di sisi kiri.

o Buka kertas transparan sepertiga bagian, angkat ke atas vertikal, lipat bagian belakang seperti membuka pisang. Keluarkan pendorong (ujung tabung dan pendorong tidak boleh menyentuh apapun), masukkan ke dalam tabung IUD. Kembalikan kertas bagian belakang, letakkan di tempat datar lagi. Tahan kedua lengan IUD dengan ibu jari dan jari telunjuk tangan kiri. Dorong kertas pengukur ke atas sampai terasa ada tahanan. Dorong tabung, sampai kedua lengan terlipat. Tarik tabung ke bawah sedikit, angkat ke atas. Masukkan kedua lengan ke dalam tabung.

 

Pemasangan IUD

o Kenakan sarung tangan. Pasang spekulum dan kunci. Ambil kasa dengan cunam tampon, celupkan dalam povidon iodin, masukkan ke dalam dan bersihkan 2-3 kali.

o Pasang tenakulum pada porsio di jam 11 sekitar 1 cm dari porsio. Masukkan sonde dengan no touch technique, tarik tenakulum ke arah luar agar uterus dan saluran-salurannya berada dalam satu garis lurus, ukur panjang uterus. Keluarkan sonde dalam keadaan mendatar. Tera panjang uterus pada kertas pengukur IUD dengan meletakkan ujung sonde pada garis biru/merah dan memakai salah satu huruf sebagai ukuran batas.

o Letakkan tabung IUD sehingga leher biru bagian depan berada di batas ‘huruf’ di atas. Tahan leher biru dengan telunjuk. Dorong tabung sampai ujung T (IUD) sampai garis batas.

o Buka plastik (kertas transparan) seluruhnya. Ambil IUD dengan ibu jari dan telunjuk pada posisi mendatar/sejajar dan gunakan tiga jari sebagai alasnya.

o Masukkan ke dalam uterus (porsio) sampai terasa tahanan, tarik tenakulum. Pegang tenakulum dan pendorong dengan tangan kiri.

o Tahan pendorong, tarik tabung sampai bertemu pangkal pendorong. Keluarkan pendorong. Dorong tabung sampai terasa ada tahanan. Lepas tenakulum.

o Tarik tabung sampai terlihat benang 3-4 cm dari porsio. Potong dengan benang dengan gunting. Keluarkan tabung. Perhatikan bekas jepitan tenakulum berdarah atau tidak, bila perlu ditekan dengan kasa steril.

o Buka spekulum. Lepas sarung tangan, cuci tangan.

o Terangkan kepada ibu bahwa IUD dapat dipertahankan selama 10 tahun, 1 minggu lagi ibu harus datang untuk kontrol, atau ibu diminta segera datang bila panas, berdarah banyak, atau sakit; kemudian diminta menunggu 15-20 menit di ruang tunggu sebelum pulang bila tidak pusing. Diberitahu cara untuk merawat tali IUD yaitu dengan cara membersihkan kemaluan dengan sabun, jongkok, dan dengan jari raba apakah masih ada tali pada kemaluan.

o Catat dibuku: tanggal, jenis IUD, dan nama pemasang.

 

Pemasangan IUD Jenis Lippes Loop

o Lakukan pemeriksaan dalam untuk menentukan bentuk, ukuran, dan posisi uterus. Singkirkan kemungkinan kehamilan dan infeksi pelvik.

o Serviks dibersihkan beberapa kali dengan larutan antiseptik, misalnya merkurokrom atau jodium.

o Inspekulo, serviks ditampilkan dan bibir depan serviks dijepit dengan cunam serviks kira-kira 2 cm dari ostium uteri eksternum dengan satu gigi di dalam kanalis servikalis.

o Masukkan sonde uterus untuk menentukan arah sumbu kanalis servikalis dan uterus, panjang kavum uteri, dan posisi ostium uteri internum. Tentukan arah ante atau retroversi uteri. Jika sonde masuk kurang dari 5 cm atau kavum uteri terlalu sempit, insersi AKDR jangan dilakukan.

o Tabung penyalur dengan AKDR di dalamnya dimasukkan melalui kanalis servikalis sesuai dengan arah dan jarak yang didapat pada waktu memasukkan sonde.

o Sambil mengeluarkan tabung penyalur perlahan-lahan, pendorong (plugger) menahan AKDR dalam posisinya.

o Setelah tabung penyalur keluar dari uterus, pendorong juga dikeluarkan, cunam dilepaskan, benang AKDR digunting 2-3 cm keluar dari ostium uteri, dan akhimya spekulum diangkat.

o Pemeriksaan selanjutnya dilakukan setelah satu minggu, tiga bulan kemudian, dan selanjutnya tiap 6 bulan.

 

Efek Samping

Efek samping ringan yang dapat ditimbulkan ialah perdarahan (menoragia atau spotting menoragia), rasa nyeri dan kejang perut, sekret vagina lebih banyak, dan gangguan pada suami. Sedangkan efek samping yang lebih serius dan mungkin terjadi ialah perforasi uterus, infeksi pelvik, dan endometritis.

 

Kontrasepsi Barier

Kondom

Kondom adalah selaput karet yang dipasang pada penis selama hubungan seksual. Kondom terbuat dari karet sintetis tipis, berbentuk silindris, dengan muaranya berpinggir tebal, bila digulung berbentuk rata atau mempunyai bentuk seperti puting susu. Kondom juga membantu mencegah penularan Penyakit Menular Seksual (PMS), termasuk AIDS.

 

Instruksi Pemakaian

o Kondom digunakan pada penis yang ereksi sebelum penis masuk ke vagina.

o Jika kondom tak ada penampung di ujungaya, sisakan 1-2 cm di ujung kondom untuk menampung ejakulat.

o Lepaskan kondom sebelum penis selesai ereksi, pegang kondom pada pangkalnya dengan jari untuk mencegah sperma tumpah atau merembes.

o Tiap kondom hanya untuk sekali pakai dan langsung dibuang.

o Jangan menyimpan kondom di tempat panas, serta jangan memakai minyak goreng, baby oil atau jelly minyak untuk pelicin kondom, karena akan menyebabkan kerusakan kondom.

 

Diafragma

Diafragma adalah mangkuk karet yang fleksibel dengan pinggir yang mudah dibengkokkan dan disisipkan di bagian atas vagina, mencegah sperma masuk ke saluran reproduksi bagian atas, untuk mencegah terjadinya konsepsi. Supaya efektif, hendaknya dipakai jelly atau krim kontrasepsi, untuk membunuh sperma. Diafragma harus tetap tinggal di dalam vagina selama 6 jam setelah melakukan hubungan seksual. Untuk menggunakan diafragma, perlu diperiksa dahulu ukuran diafragma yang sesuai.

 

Obat-obat Spermatisid

Preparat spermatisid terdiri dari 2 komponen, yaitu zat kimiawi yang mampu mematikan sperma dan vehikulum yang dipakai untuk membuat tablet, krim, atau jelly. Spermatisid vaginal dipakai di vagina untuk menginaktifkan sperma sebelum melewati serviks karena mengandung bahan yang akan merusak membran sel sperma dan mempengaruhi mobilitas dan kemampuan sperma membuahi ovum. Spermatisid diletakkan di vagina sebelum sanggama.

 

Macam-macam obat spermatisid dan penggunaannya:

o Supositoria: Lorofin® supositoria, Rendel® pessaries. Supositorium dimasukkan sejauh mungkin ke dalam vagina sebelum senggama. Obat ini mulai aktif setelah 5 menit, lama kerjanya 20 menit sampai 1 jam.

o Jelly atau krim: Perseptin® vaginal jelly, Orthogynol® vaginal jelly, Delfen® vaginal creme. Untuk memasukkan kontrasepsi ini, isi satu aplikator sampai penuh. Masukkan aplikator ke dalam vagina sampai ujungnya mencapai dekat serviks, lalu dorong pengisap dan keluarkan jeli atau krim. Kontrasepsi ini bisa segera efektif tanpa menunggu. Aplikator hendaknya dicuci dengan sabun dan air hangat.

o Tablet busa: Sampoon®, Volpar®, Syn-A-Gen®. Kocok wadahnya 20-30 kali sebelum dipakai. Letakkan wadah pada posisi berdiri dan tempatkan aplikator dengan katup di atas. Letakkan aplikator di sisi wadah dan nantinya akan diisi tablet busa. Akseptor dalarn posisi berbaring, masukkan aplikator jauh ke dalam vagina dekat serviks. Pengisap didorong dan keluarkan busa. Tunggu 7-10 menit sebelum sanggama.

o Intravag (tisu KB). Untuk menggunakannya, buka lebar lipatannya, remas menjadi gumpalan kecil, masukkan ke dalam vagina dan dorong sampai menyentuh mulut rahim, lalu tunggu 2-5 menit supaya larut.

 

Kontrasepsi Alamiah

Dalam menggunakan kontrasepsi alamiah, dianjurkan untuk tidak menggunakan salah satu metode, tapi mengkombinasikan keduanya.

 

Pantang Berkala

Prinsip sistem ini ialah tidak melakukan sanggama pada masa subur. Ovulasi terjadi 14 + 2 hari sebelum hari pertama haid yang akan datang. Ovum mempunyai kemampuan untuk dibuahi dalam 24 jam setelah ovulasi. Yang disebut masa subur atau ‘fase ovulasi’ terjadi mulai 48 jam sebelum ovulasi hingga 24 jam setelah ovulasi. Karena itu, jika konsepsi ingin dicegah, sanggama harus dihindarkan sekurang-kurangnya 3 hari (72 jam), yaitu 48 jam sebelum ovulasi dan 24 jam setelah ovulasi terjadi.

 

Untuk menetapkan saat ovulasi, metoda yang dianjurkan ialah metoda lendir serviks, metoda suhu tubuh basal, dan palpasi serviks dengan pencatatan yang teratur. Metoda tradisional dan paling sederhana ialah metoda irama yang didasarkan pada perhitungan matematika, dengan cara:

o Untuk mengidentifikasikan masa subur, akseptor pertama-tama mencatat panjang siklus haid sekurang-kurangnya selama 6 siklus. Selama saat ini, akseptor dianjurkan menggunakan metoda kontrasepsi lain.

o Dari jumlah hari pada siklus terpanjang, kurangi dengan 11. Ini menunjukkan hari subur terakhir dalam siklus haid tersebut.

o Dari jumlah hari pada siklus terpendek, kurangi 8. Ini menunjukkan hari subur pertama dalam siklus haid tersebut.

 

Metoda Lendir Serviks

Dalam metode ini dilakukan penilaian lendir serviks. Sifat cairan vagina bervariasi selama siklus haid. Lendir di vagina diperiksa dengan cara memasukkan jari tangan klien sendiri ke dalam vagina dan mencatat bagaimana lendir itu dirasakan setiap hari.

 

Pola Lendir yang Khas

Setelah haid berakhir, umumnya wanita mengalami beberapa hari tidak ada lendir dan vagina kering. Ini dikenal sebagai hari-hari kering.

 

Setelah itu, seorang wanita mulai melihat adanya lendir. Lendir ini secara khas lengket, seperti bubur atau rapuh. Warnanya bervariasi dari kuning sampai putih. Karena lendir ini tidak seberapa lembab, daerah vagina masih dirasakan kering atau seperti lengket. Bila terdapat lendir jenis apapun sebelum ovulasi saat-saat ini dianggap sebagai masa subur. Walaupun lendir tersebut lengket dengan tipe seperti bubur, hari-hari subur telah dimulai karena jenis lendir yang basah di dalam leher rahim mungkin telah ada.

 

Saat ovulasi terjadi dan estrogen meningkat, lendir menjadi basah. Lendir ini jumlahnya bertambah secara bertahap dan warnanya semakin jernih. Lendir ini menjadi semakin basah, elastis, dan licin. Lendir ini menyerupai putih telur dan dapat diregangkan perlahan-lahan diantara dua jari. Umumnya wanita merasa basah di daerah vagina selama waktu-waktu ini. Ini adalah jenis lendir yang memungkinkan sperma hidup dan berenang menuju sel telur sampai selama lima hari.

 

Setelah ovulasi, progesteron meningkat dan lendir berubah lagi. Lendir serviks mulai kurang basah, lebih lengket, seperti bubur, serta jumlahnya berkurang. Sensasi vagina menjadi kering. Lendir jenis ini membuat sperma sulit bergerak dan hidup hanya untuk beberapa menit sampai beberapa jam. Lendir ini membantu mencegah masuknya sperma dan bakteri yang merugikan ke dalam uterus. Sejumlah wanita mungkin tidak mempunyai lendir lagi pada hari-hari akhir siklus haid.

 

Cara Kerja

Dimulai dari hari pertama setelah haid klien harus mencatat pola lendirnya terus menerus sampai 8-10 hari setelah hari terakhir dengan lendir yang licin dan basah atau hari puncak (peak day). Hari puncak menunjukkan bahwa ovulasi telah dekat atau bahkan sedang terjadi, dan pencatatan harus diteruskan sampai ia yakin bahwa ia telah tidak subur lagi. Ia harus terus mencatat pola lendirya setiap siklus sampai ia terbiasa memeriksa dan menilai pola lendirnya yang dapat memakan waktu beberapa bulan. Setelah terbiasa dengan hal ini, klien tidak perlu lagi memeriksa lendirnya setiap hari selama siklus haidnya, ia dapat berhenti setelah menjalankan Aturan Hari Puncak (Peak Day Rule) karena ia telah mencapai masa tidak subur. Karena lendir mungkin berubah sepanjang hari, yang terbaik adalah mencatatnya pada malam hari dan selalu mencatat lendir yang dirasakan paling subur pada hari itu.

 

Bila pasangan menginginkan kehamilan

o Bila pasangan menginginkan kehamilan, mereka harus melakukan sanggama pada saat-saat dimana lendirnya dirasakan elastis, basah, dan licin dalam siklus haidnya.

o Bila ia tidak hamil pada bulan itu, ia harus tetap memonitor lendir suburnya sehingga pasangan itu tahu kapan mereka harus melakukan sanggama.

 

Bila pasangan tidak menginginkan kehamilan

o Sebelum ovulasi, sanggama dapat di pada selang semalam hari-hari kering. Hal ini disebut sebagai Aturan Hari Kering Bergantian (Alternate Dry Day Rule). Suatu hari kering adalah hari saat tidak di lendir dan sensasi vagina menjadi kering. Pembatasan sanggama selang sehari kering memberi kesempatan bagi semen untuk keluar dari vagina selama hari pantang dan membedakanya dengan lendir jenis subur. Bila setelah hari pantang vagina kering lagi, sanggama boleh dilakukan.

o Hari pertama adanya lendir jenis apapun atau sensasi basah pada vagina merupakan mulainya fase subur. Pantang sanggama dilakukan sampai fase subur ini berakhir. Ini disebut Aturan Lendir Awal (Early Mucus Rule).

o Pantang sanggama harus dilakukan hingga 3 hari 3 malam sampai pagi hari keempat setelah hari puncak. Pada pagi hari keempat setelah hari puncak, fase tidak subur dimulai. Sanggama boleh dilakukan, sampai siklus haid berakhir dan perdarahan haid dimulai lagi. Ini disebut sebagai Aturan Hari Puncak (Peak Day Rule).

o Bila perdarahan terjadi sebelum Aturan Hari Puncak dikerjakan, pantang sanggama harus terus dilakukan selama perdarahan sampai 3 hari setelah perdarahan berakhir. Bila lendir timbul selama 3 hari tersebut, fase subur telah mulai. Bagaimanapun, bila hari-hari kering terus berlangsung sampai perdarahan selesai, ovulasi mungkin telah terjadi selama masa perdarahan tersebut. Aturan Hari Kering Bergantian harus diikuti karena seorang wanita tidak dapat memastikan apakah ia telah mengalami ovulasi.

 

Aturan-aturan ini harus dijelaskan kepada klien (atau pasangan) disertai alat peraga yang sesuai dan dapat dimengerti.

 

Catatan Sederhana dan Tepat Merupakan Pokok Keberhasilan

Sekelompok tanda (kode) digunakan untuk melengkapi catatan ini. Kode-kode ini harus sesuai dengan budaya setempat dan tersedia secara luas bagi peserta klien. Bisa berupa stiker berwarna, simbol tulisan tangan, atau di daerah tertentu digunakan stiker berwarna; di daerah lain lebih mudah memakai simbol-simbol yang ditulis tangan; sementara di daerah lainnya kedua metoda itu dapat dipadukan dengan hasil suatu simbol tulis tangan yang dicatat dengan tinta berwarna.

 

Menyimpan Catatan Harian

Catatan ini dimulai pada hari pertama instruksi. Periode haid menunjukkan akhir suatu siklus dan awal siklus berikutnya. Karena itu, biasanya awal suatu periode dimulai dengan garis baru.

o Perdarahan, termasuk perdarahan bercak yang disertai lendir, dicatat sebagai warna merah polos atau simbol *. Untuk mencegah kehamilan, selama waktu ini sanggama tidak dilakukan.

o Setelah perdarahan haid berhenti dan sebelum ada lendir, klien akan merasa kering dan tidak melihat adanya lendir. Hari-hari kering ini dicatat dengan warna hijau polos atau dengan huruf K. Pasangan dapat melakukan sanggama pada hari-hari kering secara selang-seling.

o Seorang klien dapat mengenali mulai timbulnya lendir dengan mengalami perasaan basah pada vaginanya atau tidak lagi merasa kering walaupun tidak melihat adanya lendir. Kadang-kadang perasaan kering dapat bertahan lebih lama meskipun sejumlah lendir mulai terlihat. Ia mencatat perasaan basah dan/atau adanya lendir meskipun berbeda dari lendir basah licin yang timbul saat mendekati ovulasi. Ini dicatat dengan huruf L. Pada siklus normal, lendir akan berubah dalam beberapa hari berikutnya, menunjukkan kualitas subur (basah, licin, elastis) dan dicatat sebagai L. Bila menggunakan warna untuk pencatatan, lendir kering yang lengket dicatat dengan warna kuning dan lendir subur dengan warna putih. Hindari sanggama saat terdapat lendir jenis apapun bila pasangan tidak menghendaki kehamilan.

o Hari terakhir saat perasaan pelumasan (lubrikasi) timbul, baik terlihat lendir atau tidak, ditandai dengan X pada semua pencatatan. Ini menunjukkan puncak tanda lendir, yang disebut hari puncak. Ovulasi umumnya terjadi satu dua hari sebelum puncak, pada hari puncak, atau sehari setelah hari puncak.

o Setelah ovulasi, lendir berubah menjadi kering dan lengket lagi, atau hilang semua. Lendir kering lengket ini dicatat dengan warna kuning atau huruf L. Bila tidak terdapat lendir, dipakai warna hijau atau huruf K. Pencatatan harus diteruskan sampai tiga hari tidak subur atau hari kering setelah hari puncak lewat untuk meyakinkan periode kesuburan sebenarnya telah dicapai. Tiga hari ini dapat ditandai dengan angka atau apa saja yang perlu untuk mengingatkan pasangan tersebut untuk terus menghindari sanggama. Pada pagi hari keempat, mereka dapat memulai hubungan seksualnya kembali dengan aman sampai awal periode haid berikutnya.

o Untuk setiap periode baru mulailah dengan garis baru pada catatan.

o Menandai episode sanggama pada catatan akan berguna untuk mengidentifikasi kesalahan pada saat mengikuti aturan.

o Bahas catatan klien setiap bulan (atau lebih sering bila perlu) sampai klien mengerti metoda ini dengan baik.

 

Catatan:

Dalam menentukan puncak, jumlah lendir bukan merupakan hal yang paling penting, jumlah lendir dapat berkurang sebelum puncak. Selama perasaan pelumasan, basah dan licin tetap ada, puncak masih belum dilewati.

 

Identifikasi puncak yang benar dibuktikan dengan terjadinya haid + 2 minggu kemudian. Saat ini klien dapat mempelajari catatannya kembali, terutama tentang lendir seputar waktu puncak. Latihan ini menolongnya untuk lebih percaya dalam mengidentifikasi saat puncak pada waktu-waktu yang akan datang.

 

Beberapa klien memiliki lendir yang amat encer sehari sebelum haid. Hal ini bukan tanda kesuburan. Tetapi, bila ia mengalami lendir jenis subur pada saat lain setelah hari puncak, ia harus menganggap hat tersebut sebagai hari puncak kedua dan suatu tanda kesuburan. Pantang sanggama harus dibedakan sampai ia mencapai tiga hari kering berikutnya.

 

Jangan menyamakan suatu siklus dengan siklus yang lain. Siklus bervariasi dalam panjang, sebagaimana periode haid itu sendiri, dan jumlah hari yang mungkin subur juga bervariasi. Pada siklus haid yang pendek ovulasi terjadi lebih awal. Pada siklus haid yang demikian, lendir dapat timbul sebelum periode berakhir. Karenanya, saat perdarahan haid dalam setiap siklus berkurang, perlu diamati apakah lendir telah timbul. Lendir tidak akan dihalangi oleh perdarahan ringan atau bercak perdarahan pada akhir periode. Pada siklus yang demikian, jangan mengadakan hubungan seksual sebelum tanda-tanda puncak, bila tujuannya adalah untuk mencegah kehamilan.

 

Karena mungkin terjadi ovulasi awal, sanggama harus dihindarkan selama hari-hari haid bila ingin mencegah kehamilan. ovulasi mungkin terjadi, bahkan sebelum periode berakhir, khususnya bila periode tersebut memanjang.

 

Peristiwa-peristiwa hormonal yang terjadi mendekati saat ovulasi dapat menghasilkan perdarahan sebelum ovulasi yang lebih sering dari pada sesudahnya. Perdarahan ini biasanya sedikit dan bersamaan dengan tingkat kesuburan yang tinggi dalam suatu siklus.

Ringkasan Petunjuk Penggunaan Metoda Lendir Serviks untuk Mencegah Kehamilan

o Segera mulai pencatatan. Setiap malam sebelum tidur, beri tanda yang menunjukkan tingkat kesuburan tertinggi pada catatan untuk hari itu. Pantang melakukan hubungan seksual sekurang-kurangnya dilakukan selama satu siklus sehingga dapat diketahui hari-hari lendir.

o Pada siklus berikutnya hindari sanggama selama hari-hari periode haid. Hari-hari tersebut tidak aman; pada siklus yang pendek ovulasi dapat terjadi selama periode tersebut.

o Bila terjadi hari-hari kering setelah periode haid, sanggama aman untuk dilakukan.

o Segera setelah terdapat lendir atau perasaan basah di vagina, hindari sanggama atau kontak seksual. Hari-hari lendir, terutama hari-hari lendir subur, adalah tidak aman.

o Tandai hari terakhir lendir yang elastis, jernih dan licin dengan X. Ini adalah hari puncak atau saat yang paling subur.

o Dimulai pada pagi hari kering keempat, masa ini aman untuk melakukan sanggama sampai periode haid berikutnya.

 

Metoda Suhu Tubuh Basal

Cara Kerja

Hormon progesteron, yang disekresi korpus luteum setelah ovulasi bersifat termogenik atau memproduksi panas. Ia dapat menaikkan suhu tubuh 0,05o sampai 0,2oC (0,4o sampai 1oF) dan mempertahankannya pada tingkat ini sampai saat haid berikutnya. Peningkatan suhu tubuh ini disebut sebagai peningkatan termal dan ini merupakan dasar dari Metoda Suhu Tubuh Basal (STB). Siklus ovulasi dapat dikenali dari catatan suhu tubuh.

 

Catatan:

STB diukur dan dicatat setiap pagi selama terdapat lendir serviks pada saat yang sesuai sepanjang hari dan dicatat setiap malam.

 

Instruksi Khusus

Klien harus melakukan pengukuran yang akurat dengan termometer khusus agar dapat mendeteksi peningkatan suhu yang kecil sekalipun. Karena suhu tubuh bereaksi terhadap banyak rangsangan, termasuk penyakit, stres, dan gangguan tidur, interpretasi pola suhu tubuh memerlukan penilaian khusus. Klien harus menandai pada catatannya saat merasa tidak enak badan, dalam kondisi yang tidak seperti biasanya, atau stres.

 

Petunjuk Penggunaan

Pantang dimulai pada hari pertama haid dan diakhiri saat diterapkan Aturan Peningkatan Termal. Untuk menerapkan Aturan Peningkatan Termal, harus diambil langkah-langkah sebagai berikut:

o Selama siklus haid, klien mengukur suhu tubuhnya setiap pagi sebelum bangun dari tempat tidur (kira-kira pada waktu yang sama) dan mencatat suhu tubuhnya pada lembar catatan yang telah disediakan.

o Dengan menggunakan pencatatan suhu tubuh pada lembar tersebut, ia mengidentifikasi suhu tertinggi dari suhu ‘normal, rendah’ (suhu tubuh harian yang dicatat dengan pola khusus tanpa adanya kondisi yang luar biasa) selama 10 hari pertama dari siklus haid, dengan mengesampingkan suhu tubuh tinggi yang abnormal akibat demam atau gangguan lainnya.

o Tariklah sebuah garis 0,05oC (atau 0,1oF) di atas suhu tertinggi dari 10 suhu tersebut di atas. Garis ini disebut sebagai garis penutup atau garis suhu.

o Tunggu 3 hari dari suhu yang lebih tinggi untuk memulai sanggama. Fase tidak subur dimulai pada malam ketiga dari 3 hari berturut-turut dengan suhu di atas garis suhu.

o Bila salah satu dari ketiga suhu tubuh tersebut turun atau di bawah garis suhu selama 3 hari penghitungan, ini mungkin tanda ovulasi belum terjadi. Jadi, klien harus menunggu sarnpai didapat 3 hari berturut-turut dengan suhu tubuh di atas garis suhu sebelum memulai sanggama.

o Setelah fase tidak subur dimulai, klien tidak perlu lagi mencatat suhu tubuh. Ia dapat berhenti mencatat sampai siklus haid berikutnya.

 

Bila pasangan tidak menghendaki anak, mereka harus pantang melakukan sanggama mulai awal siklus haid sampai hari ketiga dari 3 hari beturut-turut dengan suhu tubuh di atas garis suhu.

 

Kontrasepsi

Definisi

Kontrasepsi adalah upaya mencegah kehamilan yang bersifat sementara ataupun menetap. Kontrasepsi dapat dilakukan tanpa menggunakan alat, secara mekanis, menggunakan obat/alat, atau dengan operasi. Pemilihan jenis kontrasepsi didasarkan pada tujuan penggunaan kontrasepsi, yaitu:

1. Menunda kehamilan. Pasangan dengan istri berusia di bawah 20 tahun dianjurkan menunda kehamilannya.

o Ciri-ciri kontrasepsi yang diperlukan:

a. Reversibilitas yang tinggi karena akseptor belum mempunyai anak.

b. Efektivitas yang relatif tinggi, penting karena dapat menyebabkan kehamilan risiko tinggi.

o Kontrasepsi yang sesuai: pil, alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) mini, cara sederhana.

o Alasan:

§ Usia di bawah 20 tahun adalah usia di mana sebaiknya tidak mempunyai anak dulu. .

§ Prioritas penggunaan kontrasepsi pil oral karena peserta masih muda.

§ Penggunaan kondom kurang menguntungkan karena pasangan muda masih sering berhubungan (frekuensi tinggi) sehingga akan mempunyai angka kegagalan yang tinggi.

§ Penggunaan AKDR mini bagi yang belum mempunyai anak dapat dianjurkan, terutama pada akseptor dengan kontraindikasi terhadap pil oral.

 

2. Menjarangkan kehamilan (mengatur kesuburan). Masa saat istri berusia 20-30 tabuh adalah yang paling baik untuk melahirkan 2 anak dengan jarak kelahiran 3-4 tahun.

o Ciri-ciri kontrasepsi yang diperlukan:

a. Reversibilitas cukup tinggi.

b. Efektivitas cukup tinggi karena akseptor masih mengharapkan mempunyai anak.

c. Dapat dipakai 34 tahun.

d. Tidak menghambat produksi air susu ibu (ASI).

o Kontrasepsi yang sesuai: AKDR, pil, suntik, cara sederhana, susuk KB, kontraksi mantap (kontap).

o Alasan:

§ Usia 20-30 tahun merupakan usia terbaik untuk mengandung dan melahirkan.

§ Segera setelah anak lahir, dianjurkan untuk menggunakan AKDR sebagai pilihan utama.

§ Kegagalan yang menyebabkan kehamilan cukup tinggi namun tidak/kurang berbahaya karena akseptor berada pada usia yang baik untuk mengandung dan melahirkan.

 

3. Mengakhiri kesuburan (tidak ingin hamil lagi). Saat usia istri di atas 30 tahun, dianjurkan untuk mengakhiri kesuburan setelah mempunyai 2 anak.

o Ciri-ciri kontrasepsi yang diperlukan:

a. Efektivitas sangat tinggi karena kegagalan dapat menyebabkan kehamilan dengan risiko tinggi bagi ibu dan anak.

b. Reversibilitas rendah.

c. Dapat dipakai untuk jangka panjang.

d. Tidak menambah kelainan yang sudah ada.

o Kontrasepsi yang sesuai: kontrasepsi mantap (tubektom/vasektomi), susuk KB, AKDR suntikan, pil, dan cara sederhana.

o Alasan:

a. Ibu dengan usia di atas 30 tahun dianjurkan tidak hamil lagi atau tidak punya anak lagi karena alasan medis.

b. Pilihan utama adalah kontrasepsi mantap.

c. Pada kondisi darurat, kontap cocok dipakai dan relatif lebih baik dibandingkan dengan susuk KB atau AKDR.

d. Pil kurang dianjurkan karena usia ibu relatif tua dan mempunyai kemungkinan timbulnya efek samping dan komplikasi.