Category Archives: Penyakit-penyakit pada Masa Kehamilan

Anemia Ibu Hamil

Wanita hamil atau dalam masa nifas dinyatakan menderita anemia bila kadar hemoglobinnya di bawah 10 g/dl. Perubahan fisiologis yang terjadi pada kehamilan sering menyulitkan diagnosis dan penatalaksanaan penyakit-penyakit kelainan darah. Penurunan kadar Hb pada wanita sehat yang hamil disebabkan ekspansi volume plasma yang lebih besar daripada peningkatan volume sel darah merah dan hemoglobin. Hal ini terutama terjadi pada trimester kedua.

 

Pada akhir kehamilan, ekspansi plasma menurun sementara hemoglobin terus meningkat. Pada saat nifas, bila tidak terjadi kehilangan darah dalam jumlah besar, konsentrasi hemoglobin tidak berbeda dengan saat hamil. Biasanya hal ini bertahan selama beberapa hari sebelum akhimya meningkat ke nilai sebelum hamil.

 

Etiologi

Penyakit yang menyebabkan anemia dalam kehamilan:

Yang didapat: anemia defisiensi besi, anemia akibat perdarahan, anemia akibat radang atau keganasan, anemia megaloblastik, anemia hemolitik didapat, anemia aplastik atau hipoplastik.

 

Yang diturunkan/herediter: talasemia, hemoglobinopati sel sabit, hemoglobinopati lain, anemia hemolitik herediter.

Dua penyebab yang paling sering ditemukan adalah anemia akibat defisiensi besi dan akibat perdarahan.

 

Komplikasi

Abortus, persalinan preterm, partus lama karena inersia uteri, perdarahan pascapersalinan karena atonia uteri, syok, infeksi intra persalinan maupun pascapersalinan, payah jantung pada anemia yang sangat berat, hingga kematian bagi ibu. Janin yang dikandungnya dapat mengalami kematian, prematuritas, cacat bawaan, hingga kekurangan cadangan besi.

 
Anemia Defisiensi Besi
Pemeriksaan awal yang dilakukan adalah pemeriksaan darah tepi lengkap, sediaan apus darah tepi, pengukuran konsentrasi besi serum, dan/atau feritin serum. Gambaran morfologi eritrosit mikrositik hipokrom lebih jarang ditemukan pada wanita hamil daripada wanita biasa dengan Hb sama. Diagnosis pada wanita dengan anemia sedang biasanya berdasarkan penghapusan penyebab anemia yang lain. Jika wanita tersebut diberikan terapi besi adekuat, terdapat peningkatan hitung retikulosit.

 

Penatalaksanaannya berupa pemberian Fe sulfat, fumarat, atau glukonat secara oral dengan dosis 1 x 200 mg. Jika perlu diberikan asam askorbat atau sari buah. Jika tidak dapat secara oral, berikan secara parenteral. Untuk memenuhi cadangan besi, terapi sampai 3 bulan setelah anemia diperbaiki.

 

Jarang dilakukan transfusi kecuali terdapat juga hipovolemia atau harus dilakukan operasi.

 
Anemia Akibat Perdarahan
Biasanya lebih jelas ditemukan pada masa nifas, dapat disebabkan plasenta previa atau solusio plasenta, atau anemia sebelum melahirkan. Pada awal kehamilan sering disebabkan aborsi, kehamilan ektopik, dan mola hidatidosa. Perdarahan masif harus segera ditangani untuk mengembalikan dan mempertahankan perfusi organ vital. Setelah hipovolemia teratasi dan hemostasis tercapai, lakukan terapi pemberian Fe. Pada wanita dengan anemia sedang yang Hbnya > 7 g/dl, tidak demam, dan stabil tanpa risiko perdarahan berikutnya. Terapi Fe selama 3 bulan lebih baik daripada transfusi darah.

 
Anemia Megaloblastik
Biasanya disebabkan defisiensi asam folat, sering ditemukan pada wanita yang jarang mengkonsumsi sayuran hijau segar atau makanan dengan protein hewani tinggi. Gejalanya meliputi mual, muntah, dan anoreksia yang bertambah berat.

 

Pada pemeriksaan sediaan apus darah, ditemukan tanda awal berupa hipersegmentasi neutrofil. Sesuai perkembangan anemia, produksi eritrosit menurun, makrositik, meskipun bilia sebelumnya terdapat mikrositik karena anemia defisiensi besi. Dalam keadaan demikian, makrositik yang baru terbentuk tidak dapat dideteksi dengan pengukuran HER, tapi melalui pemeriksaan sediaan apus darah tepi. Pada sumsum tulang terjadi eritropoesis megaloblastik dan bila anemia bertambah berat, dapat terjadi trombositopenia dan leukopenia. Fetus tidak terpengaruh oleh anemia yang diderita ibu, namun dapat menderita cacat bawaan.

 

Penatalaksanaanya berupa pemberian asam folat 1 mg/hari secara oral, diet yang bergizi, dan besi. Biasanya 4-7 hari setelah terapi dimulai, hitung retikulosit mulai meningkat dan leukopenia serta trombositopenia yang terjadi terkoreksi.

 

Pencegahannya melalui pemberian asam folat 4 mg/hari sebelum dan selama kehamilan.

 

Tuberkulosis

Penyakit ini merupakan penyakit rakyat yang sering dijumpai dan kehamilan tidak banyak mernberikan pengaruh. Gejala yang tampak sesuai dengan penyakit tuberkulosis (TBC). Pada pasien yang dicurigai menderita TBC paru lakukan pemeriksaan tes tuberkulin dengan PPD (purified protein derivate) 5 unit dan bila hasilnya positif (lebih dari 15 mm pada kasus dengan/tanpa faktor risiko) lanjutkan dengan foto toraks. Janin harus dilindungi terhadap sinar rontgen. Pemeriksaan ini ditujukan terutama untuk pasien dengan perubahan tes tuberkulin dari negatif menjadi positif, serta untuk pasien dengan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik yang sesuai, namun hasil tes tuberkuhn negatif.

 

Dilakukan pemeriksaan sputum BTA pada penderita dengan TBC paru aktif untuk diagnosis pasti sekaligus uji sensitivitas.

 

Bila diobati dengan baik, tidak ditemukan pengaruhnya pada ibu yang sedang hamil.

 

Janin dengan TBC kongenital jarang ditemukan, biasanya janin baru tertular setelah lahir karena dirawat atau disusui oleh ibunya.

 

Penatalaksanaan

Berikan penjelasan dan pendidikan kepada pasien bahwa penyakitnya bersifat kronik sehingga diperlukan pengobatan yang lama dan teratur. Ajarkan untuk menutup mulut dan hidungnya bila batuk, bersin, dan tertawa.

 

Sebagian besar obat anti tuberkulosis aman untuk wanita hamil, kecuali streptomisin yang bersifat ototoksik bagi janin dan harus diganti dengan etambutol pada kehamilan. Pasien hamil dengan TBC paru yang tidak aktif tidak perlu mendapat pengobatan. Untuk pasien dengan TBC paru aktif, gunakan dua macam obat atau lebih agar tidak terjadi resistensi. Isoniazid adalah obat terpilih karena paling aman untuk kehamilan, efektivitasnya tinggi, dan harganya lebih murah.

 

Obat yang dapat dipakai isoniazid (INH) 300 mg, etambutol 15-20 mg, streptomisin 1 g, dan rifampisin 600 mg selama 6 bulan. Yang harus diperhatikan adalah efek samping dari obat terhadap kehamilan. Laporan efek samping etambutol terhadap kehamilan sangat sedikit dan pada janin belum ada. Rifampisin memberikan efek teratogenik pada binatang percobaan sehingga sebaiknya tidak diberikan pada trimester pertama kehamilan.

 

Setelah 1-2 bulan pengobatan, lakukan pemeriksaan sputum ulang. Bila masih positif, ulang tes sensitivitas kuman.

 

Bila pasien sudah sembuh, lakukan persalinan secara biasa. Pasien TBC aktif harus ditempatkan dalam kamar bersalin terpisah, persalinan dibantu ekstraksi vakum atau forseps. Usahakan pasien tidak meneran, berikan masker untuk menutupi mulut dan hidung agar kuman tidak menyebar. Dalam masa nifas pun, obat harus terus diberikan dan pasien dirawat di ruang isolasi.

 

Karena bayi cukup rentan terhadap penyakit ini, sebagian besar ahli menganjurkan pemisahan dari ibu jika dicurigai menderita TBC aktif

 

Pasien TBC yang menyusui harus mendapat regimen pengobatan yang penuh. Semua obat antituberkulosis sesuai untuk laktasi sehingga pasien dapat tetap melanjutkan pemberian laktasi pada bayinya dengan aman secara normal. Bayi harus mendapat profilaksis INH dan imunisasi BCG.

 

Asma Bronkial

Insidensi asma dalam kehamilan adalah sekitar 0,5-1% dari seluruh kehamilan. Serangan asma biasanya timbul pada usia kehamilan 24-36 minggu, jarang pada akhir kehamilan.

 

Pengaruh kehamilan pada asma bervariasi pada tiap individu, bahkan untuk kehamilan berbeda dari individu yang sama. Frekuensi dan beratnya serangan akan mempengaruhi hipoksia pada ibu dan janin. Penegakan diagnosis serupa dengan asma di luar kehamilan.

Komplikasi

Keguguran, persalinan prematur, pertumbuhan janin terhambat.

 

Penatalaksanaan

Hindari faktor pencetus seperti infeksi saluran napas atas, alergen, udara dingin, dan faktor psikis.

 

Gunakan obat lokal seperti aminofilin atau kortikosteroid inhalasi atau oral pada serangan asma ringan. Obat antiasma modern umumnya tidak berpengaruh negatif terhadap janin selama digunakan sesuai anjuran dokter, kecuali adrenaline. Adrenalin mempengaruhi pertumbuhan janin akibat penyempitan pembuluh darah ke janin yang dapat mengganggu oksigenisasi pada janin tersebut. Namun, harus diingat aminofilin dapat menyebabkan penurunan kontraksi uterus.

 

Pada serangan asma akut, penanganan sama dengan wanita tidak hamil, yaitu berikan cairan intravena, encerkan cairan sekresi di paru, berikan O2 (setelah pengukuran PO2, PCO2 ) sehingga tercapai PO2 > 60 mmHg dengan kejenuhan 95% oksigen atau normal, cek fungsi paru, cek bayi, dan berikan obat kortikosteroid.

 

Pada status asmatikus dengan gagal napas, jika setelah pengobatan intensif selama 30-60 menit tidak tejadi perubahan, secepatnya lakukan intubasi. Berikan antibiotik bila terdapat dugaan terjadi infeksi.

 

Upayakan persalinan secara spontan. Namun, bila pasien berada dalam serangan, lakukan ekstraksi vakum atau forseps. Seksio sesarea atas indikasi asma jarang atau tak pernah dilakukan. Teruskan pengobatan reguler asma selama proses kelahiran. Jangan diberikan analgesik yang mengandung histamin, tapi pilihlah morfin atau analgesik epidural. Hati-hati pada tindakan intubasi dan penggunaan prostaglandin E2 karena dapat menyebabkan bronkospasme.

 

Dokter sebaiknya memilih obat yang tidak mempengaruhi air susu. Aminofilin dapat terkandung dalam air susu sehingga bayi mengalami gangguan pencernaan, gelisah, dan gangguan tidur. Namun, obat antiasma lainnya dan kortikosteroid umumnya tidak berbahaya karena kadarnya dalam air susu sangat kecil.

 

Diabetes Melitus Gestasional

Definisi

Diabetes melitus gestasional (DMG) adalah intoleransi karbohidrat ringan (toleransi glukosa terganggu) maupun berat (diabetes melitus), terjadi atau diketahui pertama kali saat kehamilan berlangsung. Definisi ini mencakup pasien yang sudah mengidap diabetes melitus (tetapi belum terdeteksi) yang baru diketahui saat kehamilan ini dan yang benar-benar menderita DM akibat hamil (DMG sesuai definisi lama WHO 1980). Sesudah kehamilan selesai, kondisi pasti ditentukan berdasarkan tes toleransi glukosa oral (TTGO).

 

Di Indonesia dengan menggunakan kriteria diagnosis O’Sullivan-Mahan dilaporkan prevalensi DMG antam 1,9-3,6 %.

 

Patofisiologi

Selain perubahan hormonal dan metabolik yang normal, pada kehamilan didapatkan jumlah/fungsi insulin ibu yang tidak optimal sehingga terjadi berbagai kelainan yang menyebabkan berbagai komplikasi pada ibu dan janin.

 

Diagnosis

Deteksi dini sangat diperlukan untuk menjaring DMG agar dapat dikelola sebaik-baiknya. Terutama dilakukan pada ibu dengan faktor risiko berupa beberapa kali keguguran, riwayat pernah melahirkan anak mati tanpa sebab jelas, riwayat pernah melahirkan bayi dengan cacat bawaan, pernah melahirkan bayi > 4.000 g, riwayat preeklampsia, dan polihidramnion. Juga terdapat riwayat ibu: umur ibu hamil > 30 tahun, riwayat DM dalam keluarga, riwayat DMG/TGT pada kehamilan sebelumnya, obesitas, riwayat berat badan lahir > 4500 g, dan infeksi saluran kemih berulang selama hamil. PERKENI menganjurkan pemeriksaan sejak awal asuhan antenatal dan diulang pada usia kehamilan 26-28 minggu (hasil positif tertinggi) bila hasilnya negatif. Pemeriksaan berdasarkan modifikasi WHO-PERKENI yang dianjurkan adalah pemeriksaan kadar glukosa 2 jam pasca beban glukosa 75 g dan hasilnya digolongkan dalam kriteria sebagai berikut:

 

Glukosa darah Kriteria

>200 mg/dl Diabetes melitus

140-200 mg/dl Toleransi glukosa terganggu:

<140 mg/dl Normal

 

Komplikasi

Maternal: infeksi saluran kemih, hidramnion, hipertensi kronik, preeklampsia, kematian ibu.

Fetal: abortus spontan, kelainan kongenital, insufisiensi plasenta, makrosomia, kematian intrauterin.

Neonatal: prematuritas, kematian intrauterin, kematian neonatal, trauma lahir, hipoglikemia, hipomagnesemia, hipokalsemia, hiperbilirubinemia, sindroma gawat napas, polisitemia.

 

Penatalaksanaan

Prinsipnya adalah mencapai sasaran normoglikemia, yaitu kadar glukosa darah puasa < 105 mg/dl, dua jam sesudah makan <120 mg/dl, dan kadar HbA1c < 6%. Selain itu juga menjaga agar tidak ada episode hipoglikemia, tidak ada ketonuria, dan pertumbuhan fetus normal. Pantau kadar glukosa darah minimal 2 kali seminggu dan kadar Hb glikosilat. Ajarkan pasien memantau gula darah sendiri di rumah dan anjurkan untuk kontrol 2-4 minggu sekali, bahkan lebih sering lagi saat mendekati persalinan.

 

Untuk mencapai sasaran tersebut dapat dilakukan perencanaan makan yang sesuai dengan kebutuhan, pemantauan glukosa darah sendiri di rumah, dan pemberian insulin bila perlu. Obat hipoglikemik oral tidak dipakai saat hamil dan menyusui mengingat efek teratogenitas dan dikeluarkan melalui ASI.

 

Trimester pertama usahakan kenaikan berat badan 1-2,5 kg, dan selanjutnya sekitar 0,5 kg per minggu. Secara umum pada akhir kehamilan berat badan ibu naik sekitar 10- 12 kg.

 

Perencanaan Makan

Sampai saat ini belum ada daftar perencanaan makan untuk wanita hamil versi Indonesia. Cara yang disusun sama dengan perencanaan makan pasien diabetes yang tidak hamil, yaitu makanan yang seimbang.

 

Jumlah kalori yang dianjurkan 35 kal/kg BB ideal, kecuali pada penderita gemuk, pertimbangkan kalori yang sedikit lebih rendah. Kebutuhan kalori merupakan jumlah keseluruhan kalori yang diperhitungkan dari kalori basal 25 kal/kg BB ideal, kalori untuk kegiatan jasmani 10-30%, dan penambahan kalori untuk pertumbuhan janin yang sedang dikandung 300 kal/hari, bila menyusui 500 kal/hari.

 

Komposisi dan pembagian porsi makanan selama sehari sama dengan yang dianjurkan pada wanita tidak hamil.

 

Insulin

Bila dengan perencanaan makan selama dua minggu tidak tercapai sasaran normoglikemia, insulin harus segera dimulai. Cara pemberian sama dengan pasien DM lain, tujuannya mencapai kadar glukosa sebaik mungkin sampai sasaran yang ditentukan, tanpa episode hipoglikemia. Untuk mencegah timbulnya antibodi terhadap insulin yang dapat menembus sawar ari, harus dipakai insulin manusia. Dimulai dengan dosis kecil, bertambah dengan meningkatnya usia kehamilan.

 

Umumnya pada DMG cukup diberikan insulin kerja menengah dosis rendah satu atau dua kali sehari.

 

Penatalaksanaan Obstetri

Pantau ibu dan janin dengan mengukur tinggi fundus uteri mendengar bunyi jantung janin, dan secara khusus memakai USG dan KTG. Nilai janin secara menyeluruh dengan skor fungsi dinamik janin plasenta (FDJP). Skor kurang dari 5 merupakan tanda gawat janin. Lakukan penilaian setiap akhir minggu sejak usia kehamilan 36 minggu. Adanya makrosomia, pertumbuhan janin terharnbat, dan gawat janin merupakan indikasi seksio sesaria. Janin sehat (skor FDJP lebih dari 9) dapat dilahirkan pada umur kehamilan cukup waktu (40-42 minggu) dengan persalinan biasa.

 

Ibu hamil dengan DMG tidak perlu dirawat bila keadaan diabetesnya terkendali baik, namun harus selalu diperhatikan gerak janin (normal >20 kali/12 jam). Bila diperlukan terminasi kehamilan, lakukan amniosentesis dahulu untuk memastikan kematangan janin (bila usia kehamilan kurang dari 38 minggu). Kehamilan dengan DMG yang berkomplikasi harus dirawat sejak usia kehamilan 34 minggu dan biasanya memerlukan insulin.

 

Penyakit Jantung pada Kehamilan

Etiologi

Sebagian besar disebabkan demam reumatik. Bentuk kelainan katup yang sering dijumpai adalah stenosis mitral, insufisiensi mitral, gabungan stenosis mitral dengan insufisiensi mitral, stenosis aorta, insufisiensi aorta, gabungan insufisiensi aorta dan stenosis aorta, penyakit katup pulmonal, dan trikuspidal.

 

Faktor Predisposisi

Peningkatan usia pasien dengan penyakit jantung hipertensi dan superimposed preeklampsia atau eklampsia, aritmia jantung atau hipertrofi ventrikel kiri, riwayat dekompensasi kordis, anemia.

 

Patofisiologi

Terjadi hidremia (hipervolemia) dalam kehamilan, yang sudah dimulai sejak umur kehamilan 10 minggu dan mencapai puncak pada usia 32-36 minggu. Uterus yang semakin besar mendorong diafragma ke atas, kiri, dan depan sehingga pembuluh-pembuluh darah besar dekat jantung mengalami lekukan dan putaran. Kemudian 12-24 jam pascapersalinan terjadi peningkatan volume plasma akibat inhibisi cairan dari ekstravaskular ke dalam pembuluh darah, kemudian diikuti periode diuresis pascapersalinan yang menyebabkan hemokonsentrasi. Jadi penyakit jantung akan menjadi lebih berat pada pasien yang hamil dan melahirkan, bahkan dapat terjadi gagal jantung.

 

Manifestasi Kilnis

Mudah lelah, napas terengah-engah, ortopnea, dan kongesti paru adalah tanda dan gejala gagal jantung kiri. Peningkatan berat badan, edema tungkai bawah, hepatomegali, dan peningkatan tekanan vena jugularis adalah tanda dan gejaia gagal jantung kanan. Namun gejala dan tanda ini dapat pula terjadi pada wanita hamil normal. Biasanya terdapat riwayat penyakit jantung dari anamnesis atau dalam rekam medis.

 

Perlu diawasi saat-saat berbahaya bagi penderita penyakit jantung yang hamil, yaitu:

o Antara minggu ke-12 dan 32. Terjadi perubahan hemodinamik, terutama minggu ke-28 dan 32, saat puncak perubahan dan kebutuhan jantung maksimum.

o Pada saat persalinan. Setiap kontraksi uterus meningkatkan jumlah darah ke dalam sirkulasi sistemik sebesar 15-20 % dan ketika meneran pada partus kala II, saat arus balik vena dihambat kembali ke jantung.

o Setelah melahirkan bayi dan plasenta. Hilangnya pengaruh obstruksi uterus yang hamil menyebabkan masuknya darah secara tiba-tiba dari ekstremitas bawah dan sirkulasi uteroplasenta ke sirkulasi sistemik.

o Empat sampai lima hari setelah persalinan. Terjadi penurunan resistensi perifer dan emboli pulmonal dari trombus iliofemoral

 

Gagal jantung biasanya terjadi perlahan-lahan, diawali ronki yang menetap di dasar paru dan tidak hilang setelah menarik napas dalam 2-3 kali.

 

Gejala dan tanda yang biasa ditemui adalah dispnea dan ortopnea yang berat atau progresif, paroxysmal nocturnal dyspnea, sinkop pada kerja, nyeri dada, batuk kronis, hemoptisis, jari tabuh, sianosis, edema persisten pada ekstremitas, peningkatan vena jugularis, bunyi jantung I yang keras atau sulit didengar, split bunyi jantung II, ejection click late systolic click, opening snap, friction rub, bising sistolik derajat III atau IV, bising diastolik, dan kardiomegali dengan heaving ventrikel kiri atau kanan yang difus.

 

Pemeriksaan Penunjang

Selain pemeriksaan laboratorium rutin juga dilakukan pemeriksaan:

o EKG untuk mengetahui kelainan irama dan gangguan konduksi, adanya kardiomegali, tanda penyakit perikardium, iskemia, atau infark. Bisa ditemukan tanda-tanda aritmia.

o Ekokardiografi. Metode yang aman, cepat, dan terpercaya untuk mengetahui kelainan fungsi dan anatomi dari bilik, katup, dan perikardium.

o Pemeriksaan radiologi dihindari dalam kehamilan, namun jika memang diperlukan dapat dilakukan dengan memberikan pelindung di abdomen dan pelvis.

 

Diagnosis

Burwell dan Metcalfe mengajukan 4 kriteria. Diagnosis ditegakkan bila ada satu dari kriteria:

o Bising diastolik presistolik atau bising jantung terus-menerus.

o Pembesaran jantung yang jelas.

o Bising sistolik yang nyaring, terutama bila disertai thrill

o Aritmia berat.

 

Berdasarkan gejalanya dan sebagai penilaian fungsi jantung pasien hamil dengan penyakit jantung digolongkan dalam klasifikasi New York Heart Association yang digunakan dalam penatalaksanaan. Bila terdapat gejala dekompensasi jantung, pasien harus digolongkan satu kelas lebih tinggi dan segera dirawat.

 

Komplikasi

Pada ibu dapat terjadi gagal jantung kongestif, edema paru, hingga kematian. Dapat terjadi abortus pada kehamilan muda. Pada janin dapat terjadi lahir prematur, berat badan lahir rendah, hipoksia, gawat janin, lahir mati, nilai APGAR rendah, dan pertumbuhan janin terhambat.

 

Penatalaksanaan

Sebaikknya dilakukan dalam kerjasama dengan ahli penyakit dalam atau ahli jantung. Secara garis besar penatalaksanaan mencakup menguragi beban kerja jantung dengan tirah baring, menurunkan preload dengan diuretik, meningkatkan kontraktilitas jantung dengan digitalis, menurunkan afterload dengan vasodilator.

 

Penatalaksanaan dilakukan berdasarkan klasifikasinya, yaitu:

Kelas I. Tidak memerlukan pengobatan tambahan.

Kelas II. Umumnya tidak perlu pengobatan tambahan, hanya harus menghindari aktivitas yang berlebihan terutama kehamilan 28-32 minggu. Pasien dirawat bila terdapat perburukan.

 

Kedua kelas ini dapat meneruskan kehamilan sampai cukup bulan dan melahirkan pervaginam, namun harus diawasi dengan ketat. Pasien harus tidur malam cukup, 8-10 jam, istirahat baring minimal setengah jam setelah makan, diet rendah garam, tinggi protein, membatasi masuknya cairan (75 ml/jam), dan membatasi kegiatan. Lakukan pemeriksaan antenatal 2 minggu sekali dan seminggu sekali setelah 36 minggu. Rawat pasien di rumah sakit sejak 1 minggu sebelum waktu kelahiran. Lakukan persalinan pervaginam kecuali terdapat kontraindikasi obstetri. Metoda anestesi terpilih adalah epidural.

 

Kala persalinan biasanya tidak berbahaya. Lakukan pengawasan dengan ketat. Pengawasan pada kala I setiap 10- 15 menit dan kala II tiap 10 menit. Bila terjadi takikardi, takipnea, dan sesak napas (ancaman gagal jantung), berikan digitalis berupa suntikan sedilanid intravena dengan dosis awal 0,8 mg. Dapat diulang 1-2 kali dengan selang 1-2 jam. Selain itu dapat diberikan oksigen, morfin (10- 15 mg), dan diuretik.

 

Pada kala II anak dapat dilahirkan spontan bila tidak ada gagal jantung dan ibu sedapatnya dilarang meneran. Bila telah berlangsung 20 menit dan ibu tidak dapat dilarang meneran, akhiri dengan ekstraksi cunam atau vakum dengan segera.

 

Tidak boleh dipakai ergometrin karena kontraksi uterus yang bersifat tonik akan menyebabkan pengembalian darah ke sirkulasi sistemik dalam jumlah besar.

 

Rawat pasien sampai hari ke-14, lakukan mobilisasi bertahap dan pencegahan infeksi. Dapat dianjurkan sterilisasi atau metode kontrasepsi lainnya bagi pasien setelah keadaan stabil. Bila secara fisik memungkinkan, pasien dapat menyusui.

 

Kelas III. Dirawat di rumah sakit selama hamil, terutama pada usia kehamilan 28 minggu. Dapat diberikan diuretik.

 

Kelas IV. Harus dirawat di rumah sakit.

Kedua kelas ini tidak boleh hamil karena risiko terlalu berat. Pertimbangkan abortus terapeutik pada kehamilan di bawah 12 minggu. Jika kehamilan dipertahankan, pasien harus terus berbaring selama hamil dan nifas. Bila terjadi gagal jantung, mutlak harus dirawat dan berbaring terus sampai anak lahir. Dengan tirah baring, digitalis, dan diuretik biasanya gejala gagal jantung akan cepat hilang.

 

Pemberian oksitosin cukup aman. Umumnya persalinan pervaginam lebih aman, namun kala II harus diakhiri dengan cunam setelah syarat-syaratnya terpenuhi atau vakum. Setelah kala III selesai, awasi dengan ketat untuk menilai terjadinya dekompensasi jantung atau edema paru. Laktasi dilarang bagi pasien kelas III dan IV.

 

Operasi pada jantung untuk memperbaiki fungsi sebaiknya dilakukan sebelum hamil. Pada wanita hamil saat yang paling baik adalah trimester II, namun berbahaya bagi bayinya karena setelah operasi harus diberikan obat anti pembekuan terus-menerus dan akan menyebabkan bahaya perdarahan pada persalinannya. Obat terpilih adalah heparin secara subkutan.

 

Hati-hati memberikan obat tokolitik pada pasien dengan penyakit jantung karena dapat menyebabkan edema paru atau iskemia miokard, terutama pada kasus stenosis aorta atau mitral.

 

Prognosis

Tergantung klasifikasi, usia, penyulit lain yang tidak berasal dari jantung, penatalaksanaan, dan kepatuhan pasien. Angka kematian berkisar 1-5%, bagi yang berat 15%. Kelainan yang paling sering menyebabkan kematian adalah edema paru akut pada stenosis mitral. Prognosis hasil konsepsi lebih buruk akibat dismaturitas dan gawat janin waktu persalinan.