Category Archives: Persalinan

Induksi Persalinan

Definisi

Induksi persalinan adalah tindakan terhadap ibu hamil untuk merangsang timbulnya kontraksi rahim agar terjadi persalinan.

 

Indikasi

Janin: postmaturitas, ketuban pecah dini, inkompatibilitas rhesus.

Ibu: intra uterin fetal death (IUFD).

Ibu dan janin: preeklampsia berat.

 

Kontraindikasi

Disproporsi sefalopelvik, riwayat seksio sesaria, malposisi dan malpresentasi janin, insufisiensi plasenta, grande multipara, gemeli, distensi rahim yang berlebihan (pada hidramnion), atau plasenta previa.

 

Metoda

o Pembedahan, yaitu dengan cara stripping (melepaskan/memisahkan kantung ketuban dari segmen bawah uterus), amniotomi (memecahkan kantung ketuban), rangsangan listrik, atau rangsangan pada puting susu.

o Medikamentosa, yaitu dengan menggunakan oksitosin, spartein sulfat, prostaglandin, atau cairan hipertonik intrauterin.

 

Stripping. Dapat dilakukan dengan cara menggunakan ibu jari untuk memisahkan kantung ketuban dari segmen bawah uterus atau dengan memasang kateter Folley no.24 melalui kanalis servikalis ke segmen bawah uterus dan balon kateter diisi cairan 100 ml.

 

Amniotomi. Keberhasilannya tergantung pematangan serviks (pelunakan, pendataran, pembukaan). Komplikasi yang dapat terjadi berupa prolaps tali pusat, solusio plasenta, dan infeksi.

 

Induksi oksitosin. Sifat farmakologi oksitosin adalah kontraksi bersifat ritmik sedikit bersifat diuretik, waktu paruh sangat singkat (3 menit), dan awal kerja 5 menit.

 

Syarat-syarat

Kehamilan aterm, ukuran panggul normal, tak ada disproporsi sefalopelvik, janin presentasi kepala, serviks sudah matang (porsio teraba lunak, mulai mendatar, dan mulai membuka). Induksi persalinan kemungkinan besar akan berhasil bila skor Bishop lebih dari 8.

 

Tabel Skor pelvik menurut Bishop

 

Cara

Tambahkan dan campurkan 5 IU oksitosin sintetik ke dalam 500 ml cairan dekstrosa 5%. Berikan cairan melalui infus, dosis 0,5-1,0 mu/menit sampai didapat respon berupa kontraksi dan relaksasi uterus yang cukup baik. Kontraksi terlalu kuat dengan relaksasi yang kurang, dapat berakibat buruk terhadap janin karena adanya gangguan sirkulasi utero-plasenter.

 

 

Pengawasan Persalinan dengan Partograf

Definisi

Partograf adalah catatan grafik kemajuan persalinan guna memantau keadaan ibu dan janin, dipakai untuk menemukan adanya persalinan abnormal, sebagai petunjuk untuk melakukan bedah kebidanan serta menemukan disproporsi kepala janin dan panggul ibu jauh sebelum persalinan menjadi macet.

 

Saat Partograf Diisi

1. Mereka yang masuk dalam persalinan.

o Fase laten (pembukaan < 3 cm) dengan his teratur frekuensi minimal 2 kali dalam 10 menit, lama < 20 detik.

o Fase aktif (pembukaan 3 cm) dengan his teratur frekuensi minimal l kali dalam 10, menit lama < 20 detik.

2. Mereka yang masuk dengan ketuban pecah spontan tanpa adanya his.

o Bila infus oksitosin dimulai.

o Bila persalinan mulai.

3. Mereka yang masuk untuk induksi persalinan.

o Pemecahan ketuban dengan atau tanpa infus oksitosin.

o Induksi medis (hanya infus oksitosin, pemasangan kateter Folley, pemberian prostaglandin). Partograf mulai diisi bila persalinan dimulai atau bila ketuban pecah (spontan/dibuat).

 

Saat Partograf Tidak Diisi

1. Pembukaan > 9 cm saat datang.

2. Seksio sesaria elektif.

3. Seksio sesaria darurat saat datang.

4. Usia kehamilan < 34 minggu.

 

Pengamatan yang Dicatat

1. Kemajuan persalinan: pembukaan serviks; turunnya kepala (dengan palpasi perut: seperlimaan kepala janin yang teraba); his (frekuensi/10 menit, lamanya).

2. Keadaan janin: frekuensi denyut jantung janin; warna, jumlah, dan lamanya ketuban pecah; molase kepala janin.

3. Keadaan ibu: nadi, tekanan darah, dan suhu; urin (volume, protein, dan aseton); obat-obatan dan cairan intravena; pemberian oksitosin.

 

Pembukaan Serviks

Kala I persalinan dibagi menjadi fase laten dan fase aktif. Fase laten (kurun lambat dari pembukaan) berlangsung dari pembukaan 0-3 cm dengan penipisan bertahap serviks. Fase aktif (kurun cepat pembukaan) berlangsung dari pembukaan 3-10 cm dengan kecepatan sekurang-kurangnya 1 cm/jam.

 

Di tengah partograf terdapat grafik. Sepanjang sisi kirinya terdapat angka 0-10 yang menunjukkan pembukaan 1 cm per kotak. Sepanjang sisi horizontal terdapat angka 0-24 yang setiap kotaknya menunjukkan waktu 1 jam. Catat pembukaan dengan tanda “X”. Lakukan periksa dalam pertama, mencakup pemeriksaan panggul, sewaktu masuk kamar bersalin. Selanjutnya periksa dalam setiap 4 jam.

 

Pada fase aktif terdapat 2 garis, yaitu garis waspada dan garis tindakan. Garis waspada (alert line) dilukiskan lurus mulai dari pembukaan 3 cm sampai 10 cm, sesuai kecepatan pembukaan pada fase ini sehingga ini ditempuh dalam waktu 7 jam. Apabila pembukaan serviks bergeser ke arah kanan garis waspada, berarti proses kemajuan persalinan lambat dan harus dipikirkan kemungkinan mengambil tindakan.

 

Garis bertindak (action line) digambarkan 4 jam dari garis waspada yang merupakan garis lurus dan sejajar garis waspada. Bila persalinan berjalan lancar, pembukaan senantiasa berada di sebelah kiri garis bertindak. Apabila pembukaan melewati garis ini, diperlukan keputusan yang tepat untuk melakukan tindakan.

 

Penurunan Kepala

Pada persalinan yang lancar, bertambahnya pembukaan akan disertai dengan turunnya kepala janin. Periksa turunnya kepala janin dengan pemeriksaan perut ibu memakai ukuran perlimaan di atas pintu panggul. Kepala yang masil berada di atas masih dapat diraba dengan lima jari rapat (5/5). Kepala yang sudah turun masih teraba sebagian di atas simfisis oleh beberapa jari (4/5, 3/5, dst.). Kepala yang sudah masuk pintu atas panggul (engaged) masih dapat diraba di atas simfisis dengan dua jari (2/5) atau kurang.

 

Di sisi kiri partograf terdapat tulisan “penurunan kepala” yang dibuat garis dari 5 ke 0. Turunnya kepala ditandai dengan 0 pada grafik pembukaan serviks.

 
Gambar Penurunan kepala janin
 

His

Pada persalinan normal, makin maju persalinan berlangsung, his akan makin lama, makin sering, dan makin sakit. Lakukan pengamatan his setiap jam pada fase laten dan setiap setengah jam pada fase aktif. Hal yang diamati adalah frekuensi (berapa sering yang dirasakannya dalam 10 menit) dan lama masing-masing his berlangsung (dalam detik).

 

Di bawah garis waktu ada lima kotak kosong melintang yang pada sisi kirinya tertulis his/10 menit. Satu kotak menggambarkan satu his. Kalau ada dua his dalam 10 menit, diarsir 2 kotak. Lamanya his digambarkan dengan arsiran yang berbeda dalam kotak. Lama his < 20 detik berupa titik-titik pada kotak, 20-40 detik berupa garis miring dan > 40 detik dihitamkan sepenuhnya.

 

Bunyi Jantung Janin

Waktu yang terbaik untuk mendengarkan BJJ ialah segera setelah fase terkuat his lewat. Dengarkan BJJ selama 1 menit, sedapat mungkin ibu dalam posisi miring.

 

Denyut jantung > 160/menit (takikardi) dan < 120/menit (bradikardi) merupakan indikasi adanya gawat janin. Bila terdengar BJJ abnormal, dengarkan setiap 15 menit selama 1 menit segera setelah his selesai. Bila BJJ tetap abnormal dalam 3 kali pengamatan, tindakan harus segera diambil kecuali bila persalinan sudah sangat dekat.

 

Denyut jantung 100/menit atau kurang menunjukkan adanya gawat janin hebat dan tindakan harus segera diambil.

 

Selaput dan Air Ketuban

Keadaan air ketuban membantu menentukan keadaan janin. Ada 4 pengamatan yang harus dicatat segera pada partograf tepat di bawah catatan denyut jantung janin, yaitu jika:

o selaput ketuban utuh tuliskan “U”.

o selaput ketuban sudah pecah dan air ketuban jernih “J”.

o air ketuban diwarnai mekonium “M”.

o tidak ada air ketuban/kering “K”.

 

Pengamatan ini harus dilakukan setiap periksa dalam. Bila terdapat mekonium kental atau air ketuban tidak ada saat selaput ketuban pecah/dipecahkan, dengarkan denyut jantung janin lebih sering karena hal itu dapat merupakan tanda gawat janin.

 

Molase Tulang Kepala Janin

Molase merupakan petunjuk penting adanya disproporsi kepala panggul. Molase yang hebat dengan kepala janin jauh di atas pintu atas panggul merupakan petunjuk adanya disproporsi kepala panggul yang hebat. Catatan dibuat tepat di bawah catatan keadaan air ketuban:

0 tulang-tulang kepala terpisah dan sutura masih teraba

+ tulang-tulang kepala saling menyentuh satu sama lain

++ tulang-tulang kepala saling bertumpang tindih

+++ tulang-tulang kepala saling bertumpang tindih hebat

 

Nadi, Tekanan Darah, dan Suhu

Nadi diperiksa setiap setengah jam, sedangkan tekanan darah dan suhu diperiksa setiap 4 jam atau lebih sering, tergantung indikasi.

 

Urin

Ibu dianjurkan miksi setiap 2-4 jam untuk mengukur volume urin. Selain itu, diperiksa pula protein dan aseton urin.

 

Obat-obatan dan Cairan lntravena

Dicatat dalam kolom di bawah his.

 

Pemberian Oksitosin

Ada kolom khusus untuk titrasi oksitosin di atas kolom obat dan cairan intravena.

 

Penanganan Persalinan Abnormal

1. Bila grafik pembukaan bergeser ke sebelah kanan garis waspada.

a. Dipuskesmas: segera rujuk ibu ke RS kecuali bila pembukaan hampir lengkap.Namun, bila kepala janin masih tinggi walau his baik dan pembukaan sudah memuaskan, ibu harus tetap dirujuk ke RS.

b. Di rumah sakit dengan alat kebidanan lengkap: periksa ulang persalinan secara cermat dan ambil keputusan untuk penanganan selanjutnya.

2. Bila grafik pembukaan mencapai garis tindakan, ada 3 pilihan, yaitu akhiri persalinan, percepat persalinan, atau amati ibu disertai pemberian terapi suportif.

 

Untuk mempercepat persalinan bila selaput ketuban masih utuh, pecahkan ketuban sebelum infus oksitosin dimulai.

 

Pada primigravida dengan his yang kurang efisien, lakukan hidrasi secukupnya. Catat pemberian hidrasi dalam kolom cairan intravena pada partograf. Berikan analgesik secukupnya dan catat dalam kolom obat-obatan pada partograf Lanjutkan dengan pemberian infus oksitosin. Infus harus dititrasi terhadap his dan ditingkatkan setiap setengah jam sampai his 34 kali/10 menit dengan lama 40-50 detik. Pertahankan keadaan infus selama persalinan kala II dan III. Catat dosis dan kecepatan pemberian pada partograf. Periksa keadaan persalinan, janin, dan ibu dengan lebih sering. Batasi waktu untuk mengakhiri persalinan 6-8 jam setelah infus oksitosin dimulai. Bila terjadi hiperaktivitas uterus atau gawat janin, infus oksitosin harus dikurangi atau dihentikan sama sekati.

 

Pada multigravida, berikan hidrasi dan analgesik secukupnya seperti pada primigravida. Bila diperlukan infus oksitosin, keputusan harus dibuat oleh dokter yang berpengalaman.

3. Bila selaput ketuban pecah lebih dari 12 jam dan persalinan masih lama, berikan antibiotik.

4. Bila terjadi gawat janin

a. Di puskesmas: ibu harus dirujuk ke rumah sakit dengan fasilitas tindakan kebidanan

b. Di rumah sakit: penanganan segera:

o Bila sedang diinfus oksitosin, hentikan infus.

o Ibu diminta berbaring di sisi kirinya.

o Periksa dalam untuk menyingkirkan prolaps tali pusat (menumbung) dan amati warna air ketuban.

o Berikan cairan secukupnya.

o Bila ada, berikan oksigen.

5. Bila fase laten berlangsung lama (lebih dari 8 jam), dokter yang bertugas harus mengambil tindakan. Tindakan yang diambil serupa dengan tindakan pada fase aktif bila garis tindakan tercapai.

 

Persalinan Normal

Definisi
Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari dalam uterus melalui vagina ke dunia luar. Persalinan imatur adalah persalinan saat kehamilan 20-28 minggu dengan berat janin antara 500-1.000 g. Persalinan prematur adalah persalinan saat kehamilan 28-36 minggu dengan berat janin antara 1.000-2.500 g.

 

Pada tiap persalinan ada 3 faktor yang perlu yang diperhatikan, yaitu jalan lahir (tulang dan jaringan lunak pada panggul ibu), janin, dan kekuatan ibu. Kelainan satu atau beberapa faktor di atas dapat menyebabkan distosia.

 

Proses persalinan dibagi menjadi 4 kala:

1. Kala I : Kala pembukaan serviks.

2. Kala II : Kala pengeluaran.

3. Kala III : Kala uri.

4. Kala IV : Hingga satu jam setelah plasenta lahir.

 

Kala I (Kala Pembukaan)

Proses pembukaan serviks pada primigravida terdiri dari 2 fase, yaitu:

1. Fase laten, berlangsung selama 8 jam sampai pembukaan 3 cm. His masih lemah dengan frekuensi his jarang.

2. Fase aktif

o Fase akselerasi: lamanya 2 jam, dengan pembukaan 2-3 cm;

o Fase dilatasi maksimal: lamanya 2 jam, dengan pembukaan 4-9 cm;

o Fase deselerasi: lamanya 2 jam, pembukaan lebih dari 9 cm sampai pembukaan lengkap.

His tiap 3-4 menit selama 45 detik.

Pada multigravida proses ini akan berlangsung lebih cepat.


Gambar Kurva Friedman

Kala II (Kala Pengeluaran)

Setelah serviks membuka lengkap, janin akan segera keluar. His terjadi tiap 2 menit, lamanya 60-90 detik. His sempurna dan efektif bila ada koordinasi gelombang kontraksi sehingga kontraksi simetris dengan dominasi di fundus uteri, mempunyai amplitudo 40-60 mmHg, berlangsung 60-90 detik dengan jangka waktu 2-4 menit, dan tonus uterus saat relaksasi kurang dari 12 mmHg. Pada primigravida kala II berlangsung kira-kira satu setengah jam dan pada multigravida setengah jam.

 

Kala III (Kala Pengeluaran Plasenta)

Berlangsung 6 sampai 15 menit setelah janin dikeluarkan.

 

Kala IV (Sampai Satu Jam Setelah Plasenta Keluar)

Kala ini penting untuk menilai banyaknya perdarahan (maksimum 500 ml) dan baik tidaknya kontraksi uterus.

 

Pertolongan Persalinan

Seorang ibu dikatakan dalam persalinan (inpartu) bila telah timbul his yaitu kontraksi yang teratur, makin sering, makin lama, dan makin kuat serta mengeluarkan lendir bercampur darah (bloody show). Bila ketuban telah pecah, ibu harus berbaring.

 

lbu yang merasakan dirinya dalam persalinan harus diperiksa secara cermat untuk mengetahui bahwa ia memang benar dalam persalinan dan dinilai adanya kelainan (misalnya disproporsi sefalopelvik, gangguan his). Beberapa prosedur yang harus dilakukan:

o Gali riwayat kesehatan saat pemeriksaan terakhir.

o Catat tanda vital, suhu, frekuensi nadi, frekuensi pernapasan, dan tekanan darah, menilai keadaan umum pasien dan segala kelainan fisik yang ditemukan.

o Bila terdapat fasilitas, periksa protein dan glukosa urin.

o Lakukan pemeriksaan fisik secara keseluruhan.

o Periksa abdomen, inspeksi adanya jaringan parut atau bekas trauma lama. Palpasi uterus dengan cara Leopold untuk menentukan presentasi janin, turunnya bagian terbawah janin, dan posisi janin. Hitung frekuensi detak jantung janin (misalnya dengan Laenec atau Doppler).

o Perhatikan frekuensi, keteraturan, kekuatan, dan lama kontraksi uterus.

o Jika ada perdarahan dari vagina atau keluarnya air ketuban, catat sifat (misalnya, warna, pH, dll.) dan jumlahnya.

o Lakukan pemeriksaan dalam untuk menilai pembukaan dan penipisan serviks, posisi bagian terbawah janin.

Penatalaksanaan selanjutnya tergantung proses persalinan yang terjadi. Berikut diuraikan langkah yang diambil sesuai tahap/proses persalinan.

 

Memimpin Persalinan Kala I

o Menilai kondisi ibu

1. Nilai keadaan umum dan kesadaran ibu.

2. Nilai tanda vital: tekanan darah, nadi, suhu, dan pernapasan.

3. Lakukan pemeriksaan secara sistematis: kepala, leher, dada, perut (tanda akut, cairan bebas), anggota gerak (edema).

o Melakukan pemeriksaan luar

1. Lakukan pemeriksaan Leopold I-IV.

2. Lakukan pemeriksaan detak jantung janin.

3. Tentukan kondisi janin: janin di dalam atau di luar rahim, jumlah janin, letak janin, presentasi janin, menilai turunnya kepala janin, menaksir berat janin.

4. Tentukan his: lama kontraksi (detik), simetri, dominasi fundus, relaksasi optimal, interval (menit), intensitas kontraksi.

o Melakukan pemeriksaan dalam

1. Lakukan pemeriksaan vulva/vagina.

2. Lakukan pemeriksaan colok vagina.

3. Nilai kondisi janin (presentasi, turunnya presentasi sesuai bidang Hodge, posisi, molase, kaput suksadeneum, bagian kecil di samping presentasi, dan anomali kongenital).

4. Nilai kondisi panggul dalam (promontorium, konjugata diagonalis, konjugata vera, linea inominata, tulang sakrum, dinding samping, spina iskiadika, arkus pubis, koksigis, panggul patologi, kesimpulan panggul dalam).

o Nilai adanya tumor jalan lahir.

o Tentukan imbang fetopelvik.

o Tentukan rencana persalinan

o Tetapkan diagnosis in partu.

o Pantau kemajuan persalinan, kondisi ibu dan janin seusai petunjuk partograf dan memasukkan hasil pemeriksaan ke lembar partograf. Bila kemajuan persalinan normal, lanjutkan pemantauan hingga tercapai kala II. Bila kemajuan persalinan tidak normal, tentukan tindakan yang perlu dilakukan atau rujuk ibu ke sarana medis yang memadai.

o Kosongkan kandung kemih dan rektum.

 

Set Partus (Steril)

2 pasang sarung tangan

1 gunting episiotomi

1 gunting tali pusat

2 klem tali pusat

1 pemecah ketuban

1 benang/pita tali pusat

1 kain duk steril

kasa steril

 

Memimpin Persalinan Kala II

o Ibu dipimpin mengejan saat ibu terus-menerus ingin mengejan, perineum teregang, anus terbuka, dan tampak bagian mukosa anus, kepala bayi mulai crowning (kepala bayi tampak di vulva dengan diameter 3-4 cm).

o Lakukan episiotomi medialis/mediolateralis bila diperlukan. Episiotomi dilakukan pada primipara atau multipara bila dinding introitus vagina kaku. Sebelumnya anestesi lokal infiltrasi di tempat episiotomi mennggunakan lidokain 1% 3-4 ml. Saat perineum sudah sangat tipis atau diameter pembukaan vulva 4-5 cm bertepatan dengan his, lakukan episiotomi dengan cara jari II dan III tangan kiri dirapatkan, dimasukkan antara kepala janin dan dinding vagina menghadap ke penolong. Pegang gunting episiotomi dengan tangan kanan, masukkan secara terbuka dengan perlindungan jari II dan III.

o Saat his, ibu diminta menarik napas dalam dan menutup mulut rapat-rapat kemudian mengejan pada perut dengan kekuatan penuh.

 

Memimpin Persalinan Kala III

o Lahirkan kepala bayi dengan cara menahan perineum menggunakan ibu jari dan jari II-III tangan kanan yang ditutup kain duk steril/DTT dan menekan ke arah kranial. Tangan kiri menahan defleksi maksimal kepala bayi dengan suboksiput sebagai hipomoklion, berturut-turut akan lahir dahi, mata, hidung, mulut, dan dagu. Bersihkan lendir di mulut dan hidung bayi.

o Biarkan kepala bayi mengadakan putaran paksi luar. Bila perlu bantu putaran paksi luar.

o Bila ada lilitan tali pusat pada leher bayi:

§ tali pusat kendor: longgarkan dan bebaskan tali pusat dengan bantuan jari penolong.

§ tali pusat ketat: jepit tali pusat dengan klem di dua tempat dan tali pusat dipotong di antara 2 klem tersebut dengan gunting tali pusat.

o Lahirkan bahu bayi dengan cara tetap memegang kepala bayi secara biparietal dan menarik cunam ke belakang untuk melahirkan bahu depan dahulu, kemudian ke arah depan untuk melahirkan bahu belakang.

o Lahirkan badan bayi dengan cara tetap memegang kepala bayi secara biparietal, melakukan tarikan searah lengkung panggul sampai lahir seluruh badan bayi. Bila terasa berat dapat dibantu dengan dorongan ringan pada fundus uteri oleh asisten atau dengan cara mengait ketiak bayi dan menariknya secara perlahan.

o Letakkan bayi pada kain duk steril di atas perut ibu.

o Lakukan resusitasi bayi baru lahir bila diperlukan dan tentukan nilai APGAR.

o Sesegera mungkin lakukan pembersihan mulut/jalan napas.

o Jepit tali pusat dengan klem Kohler I berjarak 5 cm dari perut bayi, tali pusat dikosongkan dari darah dengan diurut ke arah pita, kemudian dijepit dengan klem Kohler II, jarak 1-2 cm dari klem Kohler I ke arah plasenta. Tali pusat digunting di antara 2 klem Kohler. Ikat tali pusat dengan benang 2 kali berlawanan arah. Tali pusat dibalut dengan kasa steril yang dibasahi antiseptik ringan.

 

 

Tabel Nilai APGAR (appearance, pulse rate, grimace, activity, respiration)

 

Memimpin Persalinan Kala IV

Setelah bayi lahir lengkap dan digunting tali pusatnya, pegang kedua kaki bayi dan bersihkan jalan napas. Bila bayi belum menangis, rangsanglah supaya menangis, bila perlu dengan resusitasi. Selanjutnya rawat tali pusat dan sebagainya. Kemudian kosongkan kandung kemih ibu. Lahirkan plasenta 6-15 menit kemudian. Jangan tergesa-gesa menarik plasenta untuk melahirkannya bila plasenta belum lepas. Setelah plasenta lahir, periksa dengan cermat apakah ada selaput ketuban yang tertinggal atau plasenta yang lepas. Periksa ukuran dan berat plasenta.

 

Periksa lagi ke dalam rahim apakah masih ada perdarahan atau jaringan yang tertinggal. Periksa juga kontraksi uterus. Bila kontraksi baik, akan terlihat fundus uteri setinggi pusat dan keras seperti batu.


Gambar Resusitasi bayi baru lahir
 

Cara Mengetahui Lepasnya Plasenta

1. Perasat Kustner. Tangan kanan menegangkan tali pusat; tangan kiri menekan daerah di atas simfisis. Bila tali pusat tidak masuk lagi ke dalam vagina berarti plasenta telah lepas.

2. Perasat Strassman. Tangan kanan mengangkat tali pusat; tangan kiri mengetok fundus uterus. Bila terasa getaran pada tangan kanan, berarti plasenta belum lepas.

3. Perasat Klein. Ibu diminta mengejan, tali pusat akan turun. Bila berhenti mengejan, tali pusat masuk lagi, berarti plasenta belum lepas dari dinding uterus.

 

Pentingnya mengetahui apakah plasenta telah lepas atau belum ialah untuk melahirkan plasenta dengan komplikasi sekecil-kecilnya. Bila plasenta dipaksa untuk dilahirkan saat belum terlepas dari dinding uterus, retensio plasenta dapat terjadi.