Category Archives: Autopsi

Teknik Autopsi Forensik

Terdapat 4 teknik autopsi dasar yaitu, teknik Virchow, Rokitansky, Letulle, dan Ghon. Perbedaan terutama saat pengangkatan keluar organ, baik dalam urutan maupun jumlah/kelompok organ yang dikeluarkan pada satu saat, serta bidang pengirisan organ yang diperiksa.

 

Pada teknik autopsi modifikasi Letulle, organ tidak dikeluarkan sekaligus (en masse), tapi dalam 2 kumpulan. leher dan dada menjadi satu kumpulan, kemudian usus diangkat mulai dari perbatasan duodenojejunal sampai rektosigmoid, baru kumpulan kedua dipisah yaitu antara organ-organ pencernaan dan urogenital.

 

Berikut ini diuraikan teknik pemeriksaan luar. Teknik pemeriksaan dalam (pembedahan mayat) akan diuraikan pada bab selanjutnya.

 
Pemeriksaan Luar
Sistematika pemeriksaan luar adalah:

1. Memeriksa label mayat (dari pihak kepolisian) yang biasanya diikatkan pada jempol kaki mayat. Gunting pada tali pengikat, simpan bersama berkas pemeriksaan. Catat warna, bahan, dan isi label selengkap mungkin. Sedangkan label rumah sakit, untuk identifikasi di kamar jenazah, harus tetap ada pada tubuh mayat.

2. Mencatat jenis/bahan, warna, corak, serta kondisi (ada tidaknya bercak/pengotoran) dari penutup mayat.

3. Mencatat jenis/bahan, warna, corak, serta serta kondisi (ada tidaknya bercak/ pengotoran) dari bungkus mayat. Catat tali pengikatnya bila ada.

4. Mencatat pakaian mayat dengan teliti mulai dari yang dikenakan di atas sampai bawah, dari yang terluar sampai terdalam. Pencatatan meliputi bahan, warna dasar, warna dan corak tekstil, bentuk/model pakaian, ukuran, merk penjahit, cap binatu, monogram/inisial, dan tambalan/tisikan bila ada. Catat juga letak dan ukuran pakaian bila ada tidaknya bercak/pengotoran atau robekan. Saku diperiksa dan dicatat isinya.

5. Mencatat perhiasan mayat, meliputi jenis, bahan, warna, merek, bentuk serta ukiran nama/inisial pada benda perhiasan tersebut.

6. Mencatat benda di samping mayat.

7. Mencatat perubahan tanatologi:

a. Lebam mayat; letak/distribusi, warna, dan intensitas lebam.

b. Kaku mayat; distribusi, derajat kekakuan pada beberapa sendi, dan ada tidaknya spasme kadaverik.

c. Suhu tubuh mayat; memakai termometer rektal dan dicatat juga suhu ruangan pada saat tersebut.

d. Pembusukan.

e. Lain-lain; misalnya mumifikasi atau adiposera.

8. Mencatat identitas mayat, seperti jenis kelamin, bangsa/ras, perkiraan umur, warna kulit, status gizi, tinggi badan, berat badan, disirkumsisi/tidak, striae albicantes pada dinding perut.

9. Mencatat segala sesuatu yang dapat dipakai untuk penentuan identitas khusus, meliputi rajah/tatoo, jaringan parut, kapalan, kelainan kulit, anomali, dan cacat pada tubuh.

10. Memeriksa distribusi, warna, keadaan tumbuh, dan sifat dari rambut.

11. Memeriksa mata, seperti apakah kelopak terbuka atau tertutup, tanda kekerasan, kelainan. Periksa selaput lendir kelopak mata dan bola mata, warna, cari pembuluh darah yang melebar, bintik perdarahan, atau bercak perdarahan. Kornea jernih/tidak, adanya kelainan fisiologik atau patologik. Catat keadaan dan warna iris serta kelainan lensa mata. Catat ukuran pupil, badingkan kanan dan kiri.

12. Mencatat bentuk dan kelainan/anomali pada daun telinga dan hidung.

13. Memeriksa bibir, lidah, rongga mulut, dan gigi geligi. Catat gigi geligi dengan lengkap, termasuk jumlah, hilang/patah/tambalan, gigi palsu, kelainan letak, pewarnaan, dan sebagainya.

14. Pemeriksaan alat kelamin dan lubang pelepasan. Pada pria dicatat kelainan bawaan yang ditemukan, keluarnya cairan, kelainan lainnya. Pada wanita dicatat keadaan selaput dara dan komisura posterior, periksa sekret liang sanggama. Perhatikan bentuk lubang pelepasan.

15. Perlu diperhatikan kemungkinan terdapatnya tanda perbendungan, ikterus, sianosis, edema, bekas pengobatan, bercak lumpur atau pengotoran lain pada tubuh.

16. Bila terdapat tanda-tanda kekerasan/luka harus dicatat lengkap:

a. letak luka: regio anatomis dan koordinat terhadap garis/titik anatomis terdekat.

b. jenis luka: luka lecet, memar, atau terbuka.

c. bentuk luka: termasuk bentuk luka terbuka setelah dirapatkan.

d. arah luka: melintang, membujur, atau miring.

e. tepi luka: rata atau tidak beraturan.

f. sudut luka: runcing, membulat, atau bentuk lain.

g. dasar luka: jaringan bawah kulit, otot, tulang, atau rongga badan.

h. sekitar luka: pengotoran atau luka/tanda kekerasan lain di sekitarnya.

i. ukuran luka: untuk luka terbukajuga diukur setelah dirapatkan.

j. saluran luka: penentuan in situ mengenai perjalanan serta panjang luka baru dapat ditentukan pada saat pembedahan mayat.

k. lain-lain: misalnya pada luka lecet jenis serut diperiksa pola penumpukan kulit ari untuk menentukan arah kekerasannya, pada memar dicatat warnanya.

17. Pemeriksaan ada tidaknya patah tulang, serta jenis/sifatnya

 

 

Autopsi

Definisi
Autopsi adalah pemeriksaan terhadap tubuh mayat, yang meliputi pemeriksaan terhadap bagian luar maupun dalam, dengan tujuan menemukan proses penyakit dan atau adanya cedera, melakukan interpretasi atas penemuan-penemuan tersebut, menerangkan penyebab kematian serta mencari hubungan sebab akibat antara kelainan-kelainan yang ditemukan dengan penyebab kematian.

 

Berdasarkan tujuannya, autopsi terbagi atas :

1. Autopsi Klinik

Dilakukan terhadap mayat seseorang yang diduga terjadi akibat suatu penyakit. Tujuannya untuk menentukan penyebab kematian yang pasti, menganalisis kesesuaian antara diagnosis klinis dan diagnosis postmortem, patogenesis penyakit, dan sebagainya. Untuk autopsi ini mutlak diperlukan izin keluarga terdekat mayat tersebut. Sebaiknya autopsi klinik dilakukan secara lengkap, namun dalam keadaan amat memaksa dapat dilakukan juga autopsi parsial atau needle necropsy terhadap organ tertentu meskipun pada kedua keadaan tersebut kesimpulannya sangat tidak akurat.

2. Autopsi Forensik/Medikolegal

Dilakukan terhadap mayat seseorang yang diduga meninggal akibat suatu sebab yang tidak wajar seperti pada kasus kecelakaan, pembunuhan, maupun bunuh diri. Tujuan pemeriksaan autopsi forensik adalah untuk:

a. membantu penentuan identitas mayat

b. menentukan sebab pasti kematian, mekanisme kematian, dan saat kematian

c. mengumpulkan dan memeriksa benda bukti untuk penentuan identitas benda penyebab dan pelaku kejahatan

d. membuat laporan tertulis yang obyektif berdasarkan fakta dalam bentuk visum et repertum

Autopsi forensik harus dilakukan sedini mungkin, lengkap, oleh dokter sendiri, dan seteliti mungkin.

3. Autopsi Anatomi

Dilakukan terhadap mayat korban meninggal akibat penyakit, oleh mahasiswa kedokteran dalam rangka belajar mengenai anatomi manusia. Untuk autopsi ini diperlukan izin dari korban (sebelum meninggal) atau keluarganya. Dalam keadaan darurat, jika dalam 2 x 24 jam seorang jenazah tidak ada keluarganya maka tubuhnya dapat dimanfaatkan untuk sutopsi anatomi.

 
Persiapan Sebelum Autopsi Forensik
1. Melengkapi surat-surat yang berkaitan dengan autopsi yang akan dilakukan, termasuk surat izin keluarga, surat permintaan pemeriksaan/pembuatan visum et repertum.

2. Memastikan mayat yang akan diautopsi adalah mayat yang dimaksud dalam surat tersebut.

3. Mengumpulkan keterangan yang berhubungan dengan terjadinya kematian selengkap mungkin untuk membantu mernberi petunjuk pemeriksaan dan jenis pemeriksaan penunjang yang harus dilakukan.

4. Memastikan alat-alat yang diperlukan telah tersedia.

 
Sebab, Cara, dan Mekanisme Kematian
Sebab kematian adalah penyakit, cedera, atau luka yang dianggap bertanggung jawab atas terjadinya kematian. Cara kematian adalah macam kejadian yang menimbulkan penyebab kematian. Cara kematian dikatakan wajar jika terjadi akibat suatu penyakit semata-mata dan disebut tidak wajar jika terjadi akibat cedera/luka atau keracunan. Mekanisme kematian adalah gangguan fisiologis dan atau biokimiawi yang ditimbulkan oleh penyebab kematian sedemikian rupa sehingga seseorang tidak dapat terus hidup. Contoh mekanisme kematian adalah infeksi, perdarahan, emboli, dsb.