Category Archives: Identifikasi Personal

Penggalian Mayat

Definisi
Penggalian mayat/kubur atau ekshumasi dilakukan bila terdapat kecurigaan terhadap kematian seseorang timbul setelah penguburan dilaksanakan.

 
Persiapan Penggalian Mayat
o Penyidik menghubungi dokter, petugas pemakanan, dinas pemakaman, dan pihak keluarga/ahli waris korban

o Sarana yang diperlukan adalah tenda, meja pemeriksaan darurat, air, kantong plastik besar dan kecil, alat dokumentasi (kamera)

o Daerah tempat pemeriksaan diamankan

 
Pelaksanaan Penggalian Mayat
o Penggalian dihadiri penyidik, dokter, pemuka masyarakat setempat, pihak keamanan, petugas pemakaman, serta penggali kubur

o Kuburan yang digali dipastikan dahulu

o Penggalian dilakukan dengan hati-hati agar tidak menambah kerusakan pada mayat akibat alat penggalian.

o Contoh tanah diambil dengan jarak 30 cm di keempat sisi mayat

o Bila mungkin, sebelum mayat diangkat, buat foto mayat dan foto peti

 
Pemeriksaan Mayat
Diusahakan agar mayat dapat dibawa ke instalasi kedokteran forensik untuk diperiksa. Namun bila lokasi penguburan sulit dicapai dan jauh dari instalasi kedokteran forensik maka pemeriksaan jenazah dilakukan di tempat.

 

Tempat Kejadian Perkara

Definisi
Tempat kejadian perkara (TKP) adalah tempat ditemukannya benda bukti dan/atau tempat terjadinya peristiwa kejahatan atau yang diduga kejahatan menurut suatu kesaksian. Dasar pemeriksaan TKP adalah menjawab 6 pertanyaan (heksameter) yaitu apa yang terjadi, siapa yang tersangkut, di mana dan kapan terjadi, bagaimana terjadinya, dan dengan apa melakukannya, serta mengapa terjadi peristiwa tersebut.

 

Persiapan dokter sebelum ke TKP adalah:

1. Mendapat permintaan pemeriksaan TKP danjelas akan hal-hal siapa yang memintanya datang ke TKP, bagaimana permintaan tersebut sampai ke tarigan dokter, waktu permintaan tersebut dibuat, dan lokasi TKP.

2. Informasi tentang kasus yang terjadi

3. Perlengkapan yang sebaiknya dibawa: kamera, lampu kilat, film berwarna dan hitam­ putih (untuk ruangan gelap), lampu senter, lampu ultraviolet, termometer rektal, termometer ruangan, amplop, kantong plastik, pinset, skalpel, jarum, tang, kapas, kertas saring, kaca pembesar, label, dan alat tulis

 

Tindakan yang dikerjakan dokter di TKP adalah:

1. Menentukan korban masih hidup atau telah mati.

2. Bila masih hidup maka tindakan pertama dan utama dokter adalah menyelamatkan jiwa korban.

3. Bila korban telah mati, maka tugas dokter menegakkan diagnosis kematian, memperkirakan saat kematian, menemukan dan mengamankan benda bukti biologis dan medis. Saat kematian diperkirakan dari penurunan suhu tubuh, lebam mayat, kaku mayat, dan perubahan postmortal lain. Mayat yang ditemukan dibungkus dengan plastik atau kantung khusus mayat

4. Menentukan identitas korban

5. Menentukan jenis luka dan jenis kekerasan serta perkiraan sebab kematian

6. Membuat sketsa sederhana keadaan TKP

7. Mencari dan mengumpulkan benda-benda bukti biologis. Benda bukti berupa pakaian, bercak mani, bercak darah, rambut, obat, anak peluru, selongsong peluru, senjata diamankan dengan dimasukkan ke dalam kantong plastik secara hati-hati tanpa meninggalkan jejak sidik jari baru. Benda bukti cair dimasukkan ke dalam tabung reaksi kering. Benda bukti bercak kering di atas dasar keras harus dikerok dan dimasukkan ke dalam amplop atau kantong plastik, bercak pada kain diambil seluruhnya atau bila sangat besar, benda bukti tersebut digunting dan dimasukkan ke dalam amplop atau kantung plastik. Semua benda bukti diberi label dengan keterangan tentang jenis benda, lokasi penemuan, saat penemuan, dan keterangan lain.

 

Selanjutnya mayat dan benda bukti biologis dikirim ke instalasi kedokteran forensik atau ke rumah sakit umum setempat. Benda bukti bukan biologis dapat langsung dikirim ke laboratorium kriminil/forensik kepolisian daerah setempat.

Hindari tindakan yang dapat mempersulit pemeriksaan/penyidikan seperti:

o memegang benda di TKP tanpa sarung tangan

o mengganggu bercak darah

o membuat jejak baru

o memeriksa sambil merokok

 

Identifikasi Forensik

Definisi
Identifikasi forensik merupakan salah satu upaya membantu penyidik menentukan identitas seseorang yang identitasnya tidak diketahui baik dalam kasus pidana maupun kasus perdata. Penentuan identitas seseorang sangat penting bagi peradilan karena dalam proses peradilan hanya dapat dilakukan secara akurat bila identitas tersangka atau pelaku dapat diketahui secara pasti.

 

Identifikasi forensik dapat dilakukan dengan metode-metode sebagai berikut:

1. Metode visual yang dilakukan dengan memperlihatkan korban kepada anggota keluarga atau teman dekatnya untuk dikenali.

2. Pemeriksaan dokumen seperri kartu tanda penduduk (KTP), surat izin mengemudi (SIM), kartu golongan darah, paspor, atau tanda pembayaran yang ditemukan dalam dompet, saku pakaian, tas korban, atau di samping korban.

3. Pemeriksaan perhiasan yang dikenakan korban seperti anting-anting, kalung, gelang, atau cincin. Pada perhiasan tersebut mungkin dapat ditemukan merek atau nama pembuat, atau inisial nama pemilik atau pemberi perhiasan tersebut.

4. Pemeriksaan pakaian meliputi bahan yang dipakai, model pakaian, tulisan-tulisan merek pakaian, penjahit, laundry, atau inisial nama.

5. Identifikasi medis meliputi pemeriksaan dan pencarian data bentuk tubuh, tinggi dan berat badan, ras, jenis kelamin, warna rambut, warna tirai mata, cacat tubuh/kelainan khusus, jaringan parut bekas operasi/luka, tato (rajah), dsb.

6. Pemeriksaan serologis dilakukan untuk menentukan golongan darah korban dari bahan darah/bercak darah, rambut, kuku, atau tulang.

7. Pemeriksaan sidik jari dengan membuat sidik jari langsung dari jari korban atau pada keadaan di mana jari telah keriput, sidik jari dibuat dengan mencopot kulit ujung jari yang mengelupas dan mengenakan pada jari pemeriksa yang sesuai lalu dilakukan pengambilan sidikjari.

8. Pemeriksaan gigi meliputi pencatatan data gigi (odontogram) dan rahang secara manual, radiologis, dan pencetakan gigi dan rahang. Odontogram memuat data jumlah, bentuk, susunan, tambalan, protesa gigi, dsb.

9. Metode eksklusi dilakukan jika terdapat korban yang banyak dengan daftar tersangka korban pasti seperti pada kecelakaan masal penumpang pesawat udara, kapal laut (melalui daftar penumpang). Bila semua korban kecuali satu yang terakhir telah dapat ditentukan identitasnya dengan metoda identifikasi lain, maka korban yang terakhir tersebut langsung diidentifikasikan dari daftar korban tersebut.

 

Identitas seseorang dipastikan bila minimal dua metode yang digunakan memberi hasil positif (sesuai), di mana salah satunya adalah metode identifikasi medis. Peran dokter dalam identifikasi personal terutama dalam identifikasi secara medis, serologis, dan pemeriksaan gigi.

 

Identifikasi Potongan Tubuh Manusia (Kasus Mutilasi)

Pemeriksaan dalam kasus ini bertujuan untuk menentukan apakah potongan tersebut berasal dari manusia atau binatang. Bila berasal dari manusia, ditentukan pula apakah potongan­-potongan tersebut berasal dari satu tubuh.

 

Pemeriksaan meliputi penentuan jenis kelamin, ras, umur, tinggi badan dan keterangan lain seperti cacat tubuh, penyakit yang pernah diderita, status sosial ekonomi, kebiasaan-­kebiasaan tertentu, sebab dan mekanisme kematian serta cara dan saat dilakukan pemotongan tubuh apakah sebelum atau setelah meninggal.

 

Untuk memastikan bahwa potongan tubuh berasal dari manusia dapat digunakan beberapa pemeriksaan seperti pemeriksaan secara makroskopik, mikroskopik, pemeriksaan serologi berupa reaksi antigen-antibodi (reaksi presipitin), serta dengan pemeriksaan DNA.

 

Penentuan jenis kelamin dilakukan dengan pemeriksaan makroskopik, antropologi, dengan pemeriksaan mikroskopik (pemeriksaan kromatin seks wanita seperti drum stick pada leukosit dan Barr body pada sel atau pemeriksaan y fluorescein body pada sel), serta pemeriksaan DNA.

 

Identifikasi Kerangka

Upaya identifikasi pada kerangka bertujuan untuk membuktikan bahwa kerangka tersebut adalah kerangka manusia, ras, jenis kelamin, perkiraan umur, tinggi badan, parturitas (riwayat persalinan), ciri-ciri khusus, deformitas, dan bila memungkinkan dapat dilakukan superimposisi serta rekonstruksi wajah. Dicari pula tanda kekerasan pada tulang. Perkiraan saat kematian dilakukan dengan memperhatikan keadaan kekeringan tulang.

 

Bila terdapat dugaan berasal dari seseorang tertentu, maka dilakukan identifikasi dengan membandingkan data-data hasil pemeriksaan dengan data-data antemortem. Bila terdapat tulang tengkorak yang utuh dan terdapat foto terakhir wajah orang tersebut semasa hidup, maka dapat dilakukan metode superimposisi, yaitu dengan menumpukkan foto Rontgen tulang tengkorak di atas foto wajah yang dibuat berukuran sama dan diambil dari sudut pemotretan yang sama. Dengan demikian dapat dicari adanya titik-titik persamaan. Pada keadaan tersebut dapat pula dilakukan pencetakan tengkorak tersebut lalu dilakukan rekonstruksi wajah dan kepala pada cetakan tengkorak tersebut dengan menggunakan materi lilin atau gips sehingga dibentuk rekaan wajah korban. Rekaan wajah tersebut kemudian ditunjukkan kepada tersangka keluarga korban untuk dikenali.

 

Pemeriksaan antropologi dilakukan untuk memperkirakan apakah kerangka adalah kerangka manusia atau bukan. Jika dengan pemeriksaan tersebut masih diragukan, misalnya jika yang ditemukan hanya sepotong tulang saja, maka perlu dilakukan pemeriksaan serologi (reaksi presipitin), histologi (jumlah dan diameter kanal-kanal Havers), dan bahkan dengan pemeriksaan DNA.

 

Penentuan ras dilakukan dengan pemeriksaan antropologi pada tengkorak, gigi geligi, dan tulang panggul atau tulang lainnya. Tonjolan pipi dan gigi insisivus atas pertama yang berbentuk seperti sekop serta adanya torus palatinus yang menonjol memberi petunjuk ke arah ras Mongoloid.

 

Jenis kelamin ditentukan berdasarkan pemeriksaan tulang panggul, tulang tengkorak, serta luka-luka lainnya. Pada hampir semua tulang dapat dijumpai adanya perbedaan bentuk dan ukuran antara pria dan wanita (dimorfisme seksual).

 

Perkiraan umur dapat pula diperiksa melalui pemeriksaan gigi dilakukan dengan melihat pertumbuhan dan perkembangan gigi (intrauterin, gigi susu 6 bulan-3 tahun, masa statis gigi susu 3-6 tahun, geligi campuran 6-12 tahun).

 

Tinggi badan seseorang dapat diperkirakan dari panjang tulang-tulang atau bagian­bagian tubuh tertentu dengan menggunakan faktor multiplikasi, rasio atau proporsi, serta rumus yang menghubungkan antara panjang bagian tersebut terhadap tinggi badan. Tulang yang diukur dalam keadaan kering biasanya lebih pendek 2 mm dari tulang yang segar, sehingga dalam menghitung tinggi badan perlu diperhatikan.