Category Archives: Pembedahan Mayat

Perawatan Mayat Setelah Autopsi

Setelah autopsi selesal, semua organ tubuh dimasukkan kembali ke dalam rongga tubuh. Lidah dikembalikan ke dalam rongga mulut sedangkan jaringan otak dikembalikan ke dalam rongga tengkorak.

 

Jahitkan kembali tulang dada dan iga yang dilepaskan pada saat membuka rongga dada. Jahitlah kulit dengan rapi menggunakan benang yang kuat, mulai dari bawah dagu sampai ke daerah simfisis.

 

Atap tengkorak diletakkan kembali pada tempatnya dan difiksasi dengan menjahit otot temporalis, baru kemudian kulit kepala dijahit dengan rapi.

 

Bersihkanlah tubuh mayat dari darah sebelum mayat diserahkan kembali pada pihak keluarga.

 

Pemeriksaan Organ/Alat Dalam

Pemeriksaan organ/alat tubuh biasanya dimulai dari lidah, esofagus, trakea dan seterusnya sampai meliputi seluruh alat tubuh. Otak biasanya diperiksa terakhir.

1. Pemeriksaan Lidah

Pada permukaan lidah, perhatikan adanya kelainan bekas gigitan baru atau lama. Bekas gigitan yang berulang dapat ditemukan pada penderita epilepsi. Bekas gigitan ini dapat pula terlihat pada penampang lidah. Pengirisan lidah sebaiknya tidak sampai teriris putus, agar setelah selesai autopsi, mayat masih tampak berlidah utuh.

 

2. Pemeriksaan Tonsil

Perhatikan permukaan maupun penampang tonsil, adakah selaput, gambaran infeksi, nanah dan sebagainya.

 

Ditemukannya tonsilektomi kadang-kadang membantu dalam identifikasi.

 

3. Pemeriksaan Kelenjar Gondok

Untuk melihat kelenjar gondok dengan baik, otot-otot leher terlebih dahulu dilepaskan dari perlekatannya di sebelah belakang. Dengan pinset bergigi pada tangan kiri, ujung bawah otot-otat leher dijepit dan sedikit diangkat, dengan gunting pada tangan kanan, otot leher dibebaskan dari bagian posterior. Setelah otot leher ini terangkat, maka kelenjar gondok akan tampakjelas dan dapat dilepaskan dari perlekatannya pada rawan gondok dan trakea.

 

Perhatikan ukuran dan beratnya. Periksa apakah permukaannya rata, catat warnanya, adakah perdarahan berbintik atau resapan darah. Lakukan pengikisan di bagian lateral pada kedua baga kelenjar gondok dan catat perangai penampang kelenjar ini.

 

4. Pemeriksaan Kerongkongan (Esofagus)

Esofagus dibuka dengan jalan menggunting sepanjang dinding belakang.

 

Perhatikan adanya benda-benda asing, keadaan selaput lendir serta kelainan yang mungkin ditemukan (misalnya striktura, varises). Setelah selesai diperiksa, esofagus dilepaskan dari perlekatannya dengan batang tenggorok mulai dari arah bawah.

 

5. Pemeriksaan Batang Tenggorok (Trakea)

Pemeriksaan dimulai pada mulut atas batang tenggorok, dimulai pada epiglotis. Perhatikan adakah edema, benda, asing, perdarahan dan kelainan lain. Perhatikan pula pita suata dan kotak suara.

 

Pembukaan trakea dilakukan dengan melakukan pengguntingan dinding belakang (bagian jaringan ikat pada cincin trakea) sampai mencapai cabang bronkus kanan dan kiri. Perhatikan adanya benda asing, busa, darah, serta keadaan selaput lendirnya.

 

6. Pemeriksaan Tulang Lidah, Rawan Gondok (Kartilago Tiroidea), dan Rawan Cincin (Kartilago Krikoidea)

Tulang lidah kadang-kadang ditemukan patah unilateral pada kasus pencekikan. Tulang lidah terlebih dahulu dilepaskan dari jaringan sekitarnya dengan menggunakan pinset dan gunting. Perhatikan adanya patah tulang, resapan darah. Rawan gondok dan rawan cincin seringkali juga menunjukkan resapan darah pada kasus dengan kekerasan pada daerah leher (pencekikan, penjeratan, gantung).

 

7. Pemeriksaan Arteri Karotis Interna

Arteri karotis komunis dan interna biasanya tertinggal melekat pada pemukaan depan ruas tulang leher. Perhatikan adanya tanda kekerasan pada sekitar arteri ini. Buka pula arteri ini, dengan menggunting dinding depannya dan perhatikan keadaan intima. Bila kekerasan pada daerah leher mengenai arteri ini, kadang-kadang dapat ditemukan kerusakan pada intima, di samping terdapatnya resapan darah pada permukaan luar arteri.

 

8. Pemeriksaan Kelenjar Kacangan (Timus)

Kelenjar kacang biasanya telah berganti menjadi thymic fat body pada orang dewasa, namun kadang-kadang masih dapat ditemukan (status thymicolymphaticus). Kelenjar kacangan melekat di permukaan depan kandung jantung. Pada permukaannya perhatikan akan adanya perdarahan berbintik serta kemungkinan adanya kelainan lain.

 

9. Pemeriksaan Paru-Paru

Kedua paru masing-masing diperiksa tersendiri. Tentukan permukaan paru-paru. Pada paru-paru yang mengalami emfisema, dapat ditemukan cekungan bekas penekanan iga. Perhatikan warnanya, serta adanya bintik perdarahan atau bercak perdarahan akibat aspirasi darah ke dalam alveoli (tampak pada permukaan paru-paru sebagai bercak berwama merah-hitam dengan batas tegas), resapan darah, luka, buih, dan sebagainya.

 

Perabaan paru-paru yang normal terasa seperti meraba spons/karet busa. Pada paru-­paru dengan proses peradangan, perabaan dapat menjadi padat atau keras. Penampang paru-paru diperiksa setelah melakukan pengirisan paru-paru yang dimulai dari apeks sampai ke basal, dengan tangan kiri memegang paru-paru pada daerah hilus.

 

Pada penampang paru ditentukan wamanya serta dicatat kelainan yang mungkin ditemukan.

 

10. Pemeriksaan Jantung

Jantung dilepaskan dari pembuluh darah besar yang keluar/masuk ke jantung dengan jalan memegang apeks jantung dan dengan kepalan tinju kanan mayat. Perhatikan akan adanya resapan darah, luka atau bintik-bintik perdarahan.

 

Pada autopsi jantung, ikuti sistematika pemotongan dinding jantung yang dilakukan dengan ‘mengikuti’ aliran darah di dalam jantung.

 

Pertama-tama jantung diletakkan dengan permukaan ventral menghadap ke atas. Posisi ini dipertahankan terus sampai autopsi jantung selesai. Vena kava superior dan inferior dibuka dengan jalan menggunting dinding belakang vena-vena tersebut. Dengan gunting buka pula aurikel kanan. Perhatikan akan adanya kelainan baik pada aurikel kanan maupun atrium kanan.

 

Dengan pisau panjang, masuki bilik jantung kanan sampai ujung pisau menembus apeks di sisi kanan septum dengan mata pisau mengarah ke lateral, lakukan irisan menembus tebal otot dinding sebelah kanan. Dengan demikian, rongga bilik jantung sebelah kanan dapat terlihat. Lakukan pengukuran lingkaran katup trikuspidal serta memeriksa keadaan katup, apakah terdapat penebalan, benjolan atau kelaman lain. Tebal dinding bilik kanan diukur dengan terlebih dahulu membuat irisan tegak lurus pada dinding belakang bilik kanan ini, 1 sentimeter di bawah katup.

 

Irisan pada dinding depan bilik kanan dilakukan menggunakan gunting, mulai dari apeks, menyusuri septum pada jarak setengah sentimeter, ke arah atas menggunting dinding depan arteria pulmonalis dan memotong katup semilunaris pulmonal. Katup diukur lingkarannya dan keadaan daun katupnya dinilai.

 

Pembukaan serambi dan bilik kiri dimulai dengan pengguntingan dinding belakang vv. pulmonales, yang disusul dengan pembukaan aurikel kiri. Dengan pisau panjang, apeks jantung sebelah kiri dari septum ditusuk, lalu diiris ke arah lateral sehingga bilik kiri terbuka. Lakukan pengukuran lingkaran katup mitral serta perulaian terhadap keadaao katup. Tebal otot jantung sebelah kiri diukur pada irisan tegak yang dibuat 1 sentimeter di sebelah bawah katup pada dinding belakang. Dengan gunting, dinding depan bilik kiri dipotong menyusun septum pada jarak ½ sentimeter, terus ke arah atas, membuka juga dinding depan aorta dan memotong katup semilunaris aorta. Lingkaran katup diukur dan daun katup dinilai.

 

Pada daerah katup semilunaris aorta dapat ditemukan dua muara a. koronaria, kiri dan kanan. Untuk memeriksa keadaan a. koronaria sama sekali tidak boleh menggunakan sonde, karena ini akan dapat mendorong trombus yang mungkin terdapat.

 

Pemeriksaan nadi jantung ini dilakukan dengan membuat irisan melintang sepanjang jalannya pembuluh darah. A. koronaria kiri berjalan di sisi depan septum, dan a.koronaria kanan ke luar dari dinding pangkal aorta ke arah belakang. Pada penampang irisan diperhatikan tebal dinding arteri, keadaan lumen serta kemungkinan terdapatnya trombus.

 

Septum jantung dibelah untuk melihat kelainan otot, baik merupakan kelainan yaug bersifat degeneratif maupun kelainan bawaan.

 

Nilai pengukuran pada jantung normal orang dewasa adalah sebagai berikut: ukuran jantung sebesar kepalan tangan kanan mayat, berat sebesar 300 gram, ukuran lingkaran katup serambi bilik kanan sekitar 11 cm, yang kiri sekitar 9,5 cm, lingkaran katup pulmonal sekitar 7 cm dan aorta sekitar 6,5 cm. Tebal otot bilik kanan 3-5 mm sedangkan yang kiri sekitar 14 mm.

 

11. Pemeriksaan Aorta Torakalis

Pengguntingan pada dinding belakang aorta torakalis dapat memperlihatkan permukaan dalam aorta. Perhatikan kemungkinan terdapatnya deposit kapur, ateroma atau pembentukan aneurisma. Kadang-kadang pada aorta dapat ditemukan tanda kekerasan merupakan resapan darah atau luka. Pada kasus kematian bunuh diri dengan jalan menjatuhkan diri dari tempat yang tinggi, bila korban mendarat dengan kedua kaki terlebih dahulu, seringkali ditemukan robekan melintang pada aorta torakalis.

 

12. Pemeriksaan Aorta Abdominalis

Bloc organ perut dan panggul diletakkan di atas meja potong dengan permukaan belakang menghadap ke atas. Aorta abdominalis digunting dinding belakangnya mulai dari tempat percabangan a. iliaka komunis kanan dan kiri. Perhatikan dinding aorta terhadap adanya penimbunan perkapuran atau ateroma.

 

Perhatikan pula muara dari pembuluh nadi yang keluar dari aorta abdominalis ini, terutama muara a. renalis kanan dan kiri. Mulai pada muaranya, a. renalis kanan dan kiri dibuka sampai memasuki ginjal. Perhatikan apakah terdapat kelainan penyempitan dinding pembuluh darah yang mungkin merupakan dasar dideritanya hipertensi renal oleh yang bersangkutan.

 

13. Pemeriksaan Anak Ginjal (Kelenjar Suprarenalis)

Kedua aqak ginjal harus dicari terlebih dahulu sebelum dilakukan pemeriksaan lanjut pada bloc alat rongga perut dan panggul. Hal ini perlu mendapat perhatian, karena bila telah dilakukan pemeriksaan atau telah dilakukan pemisahan alat rongga perut dan panggul, anak ginjal sukar ditemukan. Anak ginjal kanan terletak di bagian mediokranial dari kutub atas ginjal kanan, tertutup oleh jaringan lemak, berada antara permukaan belakang hati dan permukaan bawah diafragma. Untuk menemukan anak ginjal sebelah kanan ini, pertama-tama digunting otot diafragma sebelah kanan.

 

Pada tempat yang disebutkan di atas, lepaskan dengan pinset dan gunting jaringan lemak yang terdapat dan akan tampak anak ginjal yang berwarna kuning kecoklat-­coklatan, berbentuk trapesium dan tipis. Anak ginjal kemudian dibebaskan dari jaringan sekitamya dan diperiksa terhadap kemungkinan terdapatnya kelainan ukuran, resapan darah dan sebagainya.

 

Anak ginjal kiri terletak di bagian mediokranial kiri kutub atas ginjal kiri, juga tertutup dalam jaringan lemak, terletak antara ekor kelenjar liur perut (pankreas) dan diafragma. Dengan cara yang sama seperti pada pengeluaran anak ginjal kanan, anak ginjal kiri yang berbentuk bulan sabit tipis dapat dilepaskan untuk dilakukan pemeriksaan dengan seksama.

 

Pada anak ginjal yang normal, pengguntingan anak ginjal akan memberikan penampang dengan bagian korteks dan medula yang tampak jelas.

 

14. Pemeriksaan Ginjal, Ureter, dan Kandung Kencing

Kedua ginjal masing diliputi olehjaringan lemak yang dikenal sebagai kapsula adiposa ginjal. Adanya trauma yang mengenai daerah ginjal seringkali menyebabkan resapan darah pada kapsul ini. Dengan melakukan pengirisan di bagian lateral kapsula, ginjal dapat dibebaskan.

 

Untuk pemeriksaan lebih lanjut, ginjal digenggam pada tangan kiri dengan pelvis ginjal dan ureter terletak antara telunjuk dan jari tengah. Irisan pada ginjal dibuat dari arah lateral ke medial, diusahakan tepat di bidang tengah sehingga penampang akan melewati pelvis ginjal. Pada tepi insan, dengan menggunakan pinset bergigi, simpai ginjal dapat di”cubit” dan kemudian dikupas secara tumpul. Pada ginjal yang normal, hal ini dapat dilakukan dengan mudah. Pada ginjal yang mengalami peradangan, simpai ginjal mungkin akan melekat erat dan sulit dilepaskan. Setelah simpai ginjal dilepaskan, lakukan terlebih dahulu pemeriksaan terhadap permukaan ginjal. Adakah kelainan berupa resapan darah, luka-luka ataupun kista-kista retensi.

 

Pada penampang ginjal, perhatikan gambaran korteks dan medula ginjal. Juga perhatikan pelvis ginjal akan kemungkinan terdapatnya batu ginjal, tanda peradangan, nanah dan sebagainya.

 

Ureter dibuka dengan meneruskan pembukaan pada pelvis ginjal, terus mencapai vesika urinaria. Perhatikan kemungkinan terdapatnya batu, ukuran penampang, isi saluran serta keadaan mukosa.

 

Kandung kencing dibuka dengan jalan menggunting dinding depannya mengikuti bentuk huruf T. Perhatikan isi serta selaput lendirnya.

 

15. Pemeriksaan Hati dan Kandung Empedu

Pemeriksaan dilakukan terhadap permukaan hati, yang pada keadan biasa menunjukkan permukaan yang rata dan licin, berwarna merah-coklat. Kadangkala pada permukaan hati dapat ditemukan kelainan berupa jaringan ikat, kista kecil, permukaan yang berbenjol-­benjol, bahkan abses.

 

Pada perabaan, hati normal memberikan perabaan yang kenyal. Tepi hati biasanya tajam. Untuk memeriksa penampang, buatlah 2 atau 3 irisan yang melintang pada punggung hati sehingga dapat terlihat sekaligus baik bagian kanan maupun kiri. Hati yang normal menunjukkan penampang yang jelas gambaran hatinya. Pada hati yang telah lama mengalami perbendungan dapat ditemukan gambaran hati pala.

 

Pada kandung empedu diperiksa ukurannya serta diraba akan kemungkinan terdapatnya batu empedu. Untuk mengetahui ada tidaknya sumbatan pada saluran empedu, dapat dilakukan pemeriksaan dengan jalan menekan kandung empedu ini sambil memperhatikan muaranya pada duodenum (papilla Vateri). Bila tampak cairan coklat­ hijau keluar dari muara tersebut, ini menandakan saluran empedu tidak tersumbat. Kandung empedu kemudian dibuka dengan gunting untuk memperlihatkan selaput lendirnya yang seperti beludru berwarna hijau-kuning.

 

16. Pemeriksaan Limpa dan Kelenjar Getah Bening

Limpa dilepaskan dari sekitarnya. Limpa yang normal menunjukkan permukaan yang berkeriput, berwama ungu dengan perabaan lunak kenyal. Buatlah irisan penampang limpa, limpa normal mempunyai gambaran limpa yang jelas, berwama coklat-merah dan bila dikikis dengan punggung pisau, akan ikut jaringan limpa. Jangan lupa mencatat ukuran dan berat limpa.

 

Catat pula bila ditemukan kelenjar getah bening regional yang membesar.

 

17. Pemeriksaan Lambung, Usus Halus, dan Usus Besar

Lambung dibuka dengan gunting pada kurvatura mayor. Perhatikan isi lambung dan simpan dalam botol atau kantong plastik bersih bila isi lambung ini diperlukan untuk pemeriksaan toksikologi atau pemeriksaan laboratorium lainnya. Selaput lendir lambung disiram dan diperiksa terhadap kemungkinan adanya erosi, ulserasi, perdarahan/resapan darah.

 

Usus diperiksa akan kemungkinan terdapat darah dalam lumen serta kemungkinan terdapatnya kelainan bersifat ulseratif, polip dan lain-lain.

 

18. Pemeriksaan Kelenjar Liur Perut (Pankreas)

Pertama-tama lepaskan lebih dahulu kelenjar liur perut ini dari sekitarnya. Kelenjar liur perut yang normal mempunyai warna kelabu agak kekuningan dengan permukaan yang berbelah-belah dan perabaan yang kenyal. Perhatikan ukuran serta beratnya. Catat bila ada kelainan.

 

19. Pemeriksaan Otak Besar, Otak Kecil, dan Batang Otak

Perhatikan permukaan luar otak dan catat kelainan yang ditemukan. Adakah perdarahan subdural, perdarahan subaraknoid, kontusio jaringan otak atau laserasi.

 

Pada edema serebri, girus otak akan tampak mendatar dan sulkus tampak menyempit. Perhatikan pula akan kemungkinan terdapatnya tanda penekanan yang menyebabkan sebagian permukaan otak menjadi datar.

 

Pada daerah ventral otak, perhatikan keadaan sirkulus Willisi. Nilai keadaan pembuluh darah pada sirkulus, adakah penebalan dinding akibat kelainan ateroma, adakah penipisan dinding akibat aneurisma, adakah perdarahan. Bila terdapat perdarahan hebat, usahakan agar dapat ditemukan sumber perdarahan tersebut. Perhatikan pula bentuk serebelum. Pada keadaan peningkatan tekanan intrakranial akibat edema serebri misalnya, dapat terjadi herniasi serebelum ke arah foramen magnum, sehingga bagian bawah serebelum tampak menonjol dan edematous.

 

Pisahkan otak kecil dari otak besar dengan melakukan pemotongan pada pedunkulus serebri kanan dan kiri. Otak kecil ini kemudian dipisahkan juga dari batang otak dengan melakukan pemotongan pada pedunkulus serebeli.

 

Otak besar diletakkan dengan bagian ventral menghadap pemeriksa. Lakukan pemotongan otak besar secara koronal/melintang, perhatikan penampang irisan. Tempat pemotongan haruslah sedemikian rupa agar struktur penting dalam otak besar dapat diperiksa dengan teliti. Kelainan yang dapat ditemukan pada penampang otak besar antara lain adalah: perdarahan pada korteks akibat kontusio serebri, perdarahan berbintik pada substansi putih akibat emboli, keracunan barbiturat serta keadaan lain yang menimbulkan hipoksia jaringan otak, infark jaringan otak, baik yang bilateral maupun unilateral akibat gangguan pendarahan oleh arteri, abses otak, perdarahan intraserebral akibat pecahnya a. lenticulostriata dan sebagainya.

 

Otak kecil diperiksa penampangnya dengan membuat suatu irisan melintang, catat kelainan perdarahan, perlunakan dan sebagainya yang mungkin ditemukan.

 

Batang otak diiris melintang mulai daerah pons, medula oblongata sampai ke bagian proksimal medula spinalis. Perhatikan kemungkinan terdapatnya perdarahan. Adanya perdarahan di daerah batang otak biasanya mematikan.

 

20. Pemeriksaan Alat Kelamin Dalam (Genitalia Interna)

Pada mayat laki-laki, testis dapat dikeluarkan dari skrotum melalui rongga perut. Jadi tidak dibuat irisan baru pada skrotum Perhatikan ukuran, konsistensi serta kemungkinan terdapatnya resapan darah. Perhatikan pula bentuk dan ukuran dari epididimis. Kelenjar prostat perhatikan ukuran serta konsistensinya.

 

Pada mayat wanita, perhatikan bentuk serta ukuran kedua indung telur, saluran telur dan uterus sendiri. Pada uterus diperhatikan kemungkinan terdapatnya perdarahan, resapan darah ataupun luka akibat tindakan abortus provokatus. Uterus dibuka dengan membuat irisan berbentuk huruf T pada dinding depan, melalui saluran serviks serta muara kedua saluran telur pada fundus uteri. Perhatikan keadaan selaput lendir uterus, tebal dinding, isi rongga rahim serta kemungkinan terdapatnya kelainan lain.

 

21. Timbang dan catatlah berat masing-masing alat/organ.

Sebelum mengembalikan organ-­organ (yang telah diperiksa secara makroskopik) kembali ke dalam tubuh mayat, pertimbangkan terlebih dahulu kemungkinan diperlukannya potongan jaringan guna pemeriksaan histopatologik atau diperlukannya organ guna pemeriksaan toksikologik.

 

Potongan jaringan untuk pemeriksaan histopatologik diambil dengan tebal maksimal 5 mm. Potongan yang terlampau tebal akan mengakibatkan cairan fiksasi tidak dapat masuk ke dalam potongan tersebut dengan sempurna. Usahakan mengambil bagian organ di daerah perbatasan antara bagian yang normal dan yang mengalami kelainan.

 

Jumlah potongan yang diambil dari setiap organ agar disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kasus.

 

Potongan ini kemudian dimasukkan ke dalam botol yang berisi cairan fiksasi yang dapat merupakan larutan formalin 10% (= larutan formaldehid 4%) atau alkohol 90-96%, dengan jumlah cairan fiksasi sekitar 20-30 kali volume potongan jaringan yang diambil.

 

Jumlah organ yang perlu diambil untuk pemeriksaan toksikologi disesuaikan dengan kasus yang dihadapi serta ketentuan laboratorium pemeriksa. Bahan yang diambil untuk pemeriksaan toksikologi umumnya adalah urin, darah, isi lambung, dan organ-organ lain seperti hati, ginjal, dan sebagainya tergantung dari jenis dugaan racunnya. Sedapat mungkin setiap jenis organ ditaruh dalam botol tersendiri. Bila diperlukan pengawetan, agar digunakan alkohol 90%. Pada pengiriman bahan untuk pemeriksaan toksikologik, contoh bahan pengawet agar juga turut dikirimkan di samping keterangan klinik dan hasil sementara autopsi atas kasus tersebut.

 

Pengeluaran Alat Tubuh

Mayat diletakkan terlentang dengan bagian bahu ditinggikan (diganjal) dengari sepotong balok kecil sehingga kepala berada dalam keadaan ekstensi maksimal.

 

Setelah daerah leher tampak jelas, kulit diinsisi pada garis pertengahan badan mulai di bawah dagu ke arah umbilikus (berbentuk huruf I) dengan melingkari umbilikus di sisi kiri dan kembali mengikuti garis pertengahan badan sampai daerah simfisis pubis.

 

Pada daerah leher, dalamnya insisi hanya mencapai setebal kulit saja, sedangkan pada daerah dada, dalamnya insisi mencapai permukaan depan tulang dada (sternum) dan mulai di daerah epigastrium, insisi dilakukan hingga menembus ke dalam rongga perut.

 

Insisi pada dinding perut dimulai pada daerah epi­gastrium dengan membuat irisan pendek yang menembus sampai peritoneum.

 

Jari telunjuk dan jari tengah tangan kiri dimasukkan ke dalam lubang insisi tersebut. Dinding perut ditarik/diangkat ke atas sehingga pisau dapat diselipkan di antara dua jari tersebut dan insisi dapat diteruskan sampai ke simfisis pubis. Di samping berfungsi sebagai pengangkat dinding perut, kedua jari tangan kiri tersebut berfungsi sebagai pemandu (guide) pisau, serta melindungi alat­-alat dalam rongga perut dan kemungkinan teriris oleh pisau.

 

Dengan memegang dinding perut bagian atas dan memuntir dinding perut tersebut ke arah luar, dinding dada dilepaskan dengan memulai irisan pada otot-otot sepanjang arkus kosta. Pelepasan dinding dada dilakukan terus ke arah dada bagian atas sampai daerah tulang selangka dan ke samping sampai garis ketiak depan. Pengirisan terhadap otot dilakukan dengan bagian perut pisau dan bidang pisau (blade) yang tegak lurus terhadap otot. Catat kelainan yang ditemukan pada dinding dada yang telah dibebaskan dan otot-otot pektoralis, yang dapat berupa resapan darah, patah tulang maupun luka terbuka.

 

Lepaskan kulit daerah leher dari otot leher yang berada di bawahnya. Perhatikan adanya tanda kekerasan maupun kelainan lainnya.

 

Pada dinding perut, perhatikan dan catat keadaan dan tebal lemak bawah kulit serta otot-otot dinding perut, serta luka-luka bila ada.

 

Perhatikan keadaan alat-alat perut secara umum. Perhatikan apakah tirai usus (omentum) menyebar menutupi seluruh usus-usus kecil atau mengumpul pada satu tempat akibat adanya kelainan setempat. Periksa keadaan usus-usus, adakah kelainan volvulus, intususepsi, infark, tanda-tanda kekerasan lainnya. Bila mayat pemah mengalami operasi sebelumnya, perhatikan pula bagian/alat-alat perut yang mengalami penjahitan, reseksi, atau tindakan lainnya. Perhatikan adanya cairan dalam rongga perut, dan bila ada, catat sifat (serosa, purulen, darah atau cairan keruh) dan jumlahnya. Perhatikan keadaan selaput lendir dinding perut sebelah dalam. Selaput lendir yang normal tampak licin dan halus berwarna kelabu mengkilat. Pada kelainan peritonitis, akan tampak selaput lendir yang tidak rata, keruh dengan fibrin yang melekat. dan nanah.

 

Tentukan pula letak sekat rongga badan (diafragma), dengan membandingkan tinggi diafragma terhadap iga di garis pertengahan selangka atau garis midklavikula.

 

Rongga dada dibuka dengan jalan mengiris rawan-­rawan iga pada tempat setengah sampai satu sentimeter medial dari batas rawan tulang masing-masing iga. Dengan bagian perut pisau dan bidang pisau (knife blade) yang diletakkan tegak lurus, rawan iga dipotong mulai dari iga ke-2, terus ke arah kaudal. Pemotongan ini dapat dilakukan dengan mudah pada mayat yang masih muda karena bagian rawan belum mengalami penulangan. Dengan tangan kanan memegang gagang pisau dan telapak tangan kiri menekan punggung pisau, pisau digerakkan memotong rawan iga-iga tersebut mulai dari iga kedua sampai daerah arkus kosta. Lakukan hal yang sama pada sisi tubuh yang lain.

 

Dengan memotong insersi otot-otot diafragma yang melekat pada dinding dada bagian depan sebelah bawah, perlekatan sternum dengan perikardium dapat di­lepaskan.

 

Iga pertama dipotong dengan meneruskan irisan pada iga kedua ke arah kraniolateral, dengan demikian, irisan dihindarkan dari mengenai manu­brium sterni yang keras. Setelah rawan iga pertama terpotong, pisau dapat diteruskan ke arah medial menyusuri tepi bawah tulang selangka untuk mencapai sendi antara tulang selangka dan tulang dada (artiokulasio sternoklavikularis) dan memotongnya. Bila ini telah dilakukan pada kedua sisi, maka bagian depan dinding dada telah dapat dilepaskan.

 

Perhatikan pertama-tama letak paru-paru terhadap kandung jantung. Biasanya dengan mencatat bagian kandung jantung yang tampak antara kedua tepi paru­-paru. Kandung jantung yang tampak hanya 1 jari di antara paru-paru menunjukkan keadaan pengembangan paru­-paru yang berlebih (pada edema paru atau emfisema paru).

 

Periksa adanya kelenjar kacangan (timus) yang terletak di sebelah atas dinding depan kandung. Dengan tangan, paru-paru ditarik ke arah medial dan periksa rongga dada, apakah terdapat cairan, darah atau lainnya. Cairan yang ada disendok dan diukur volumenya. Kandung jantung dibuka dengan melakukan peng­guntingan pada dinding depan mengikuti bentuk huruf Y terbalik. Perhatikan apakah rongga kandung jantung terisi oleh cairan atau darah. Cairan yang ada diambil dengan sendok dan diukur volumenya. Periksa pula akan adanya luka baik pada kandung jantung maupun pada permukaan depan jantung.

 

Pada dugaan adanya trombosis a. pulmonalis, permukaan depan bilik jantung kanan diiris memanjang sejajar dengan septum jantung kurang lebih 1 sentimeter lateral dari sep­tum. Irisan ini kemudian diperpanjang dengan gunting ke arah a. pulmonalis.

 

Untuk pemeriksaau lebih lanjut, alat dalam leher akan dikeluarkan bersama-sama dengan alat dalam rongga dada, sedangkan usus halus mulai dari jejunum sampai rektum dilepaskan tersendiri dan kemudian alat dalam rongga perut dikeluarkan bersama alat dalam rongga panggul.

 

Pengeluaran alat dalam leher dimulai dengan melakukan pengirisan insersi otot-otot dasar mulut pada tulang rahang bawah. Irisan dimulai tepat di bawah dagu, menembus rongga mulut dari bawah. Insisi diperlebar ke arah kanan maupun ke arah kiri. Lidah ditarik ke arah bawah sehingga dapat dikeluarkan melalui tempat bekas irisan. Perhatikan keadaan rongga mulut dan catat kelainan yang mungkin ada, antara lain benda asing dalam rongga mulut. Perhatikan pula langit-langit mulut, baik palatum durum maupun palatum mole, untuk mencatat kelainan yang ditemukan. Palatum mole kemudian diiris sepanjang perlekatarmya dengan palatum durum yang kemudian diteruskan ke arah lateral kanan dan kiri, sampai bagian lateral dari plika faringea. Dengan meneruskan pemotongan sampai ke permukaan depan dari tulang belakang dan sedikit menarik alat-alat leher ke arah depan bawah, seluruh alat leher dapat dilepaskan dari perlekatannya.

 

Lakukan pemotongan terhadap pembuluh serta saraf yang berjalan di belakang tulang selangka dengan terlebih dahulu menggenggam pembuluh pembuluh dan saraf tersebut. Lepaskan perlekatan antara paru-paru dengan dinding rongga dada, bila perlu secara tajam. Dengan tangan kanan memegang lidah dan dua jari tangan kiri yang diletakkan pada sisi kanan dan kiri hilus paru, alat rongga dada ditarik ke arah kaudal sampai ke luar dari rongga paru.

 

Lepaskan esofagus bagian kaudal dari jaringan ikat sekitarnya dan buatlah dua ikatan di atas diafragma. Esofagus digunting di antara kedua ikatan tersebut di atas. Tangan kiri kini digunakan untuk menggenggam bagian bawah alat rongga dada tepat di atas diafragma dan lakukan pengirisan terhadap ‘genggaman tersebut’. Dengan demikian, alat dalam leher bersama alat dalam rongga dada dapat dikeluarkan seluruhnya.

 

Usus-usus dilepaskan dengan pertama-tama melakukan dua ikatan pada awal jejunum, dekat dengan tempat menembusnya duodenum dari arah retroperitoneal. Secara topografis, bagian duodenum ini terletak kaudal terhadap kolon transversum, kira-kira di garis pertengahan selangka. Pengguntingan dilakukan di antara dua ikatan yang dibuat, agar isi duodenum tidak tercecer. Dengan tangan kiri memegang pada ujung distal dan mengangkatnya, maka mesenterium yang melekatkan usus halus dengan dinding rongga perut dapat diiris dekat dengan usus. Pengirisan dilakukan dengan pisau organ yang bidang pisaunya (knife blade) diletakkan tegak lurus pada usus dan digerakkan maju mundur seperti gerakan menggergaji. Pengirisan demikian dilakukan sepanjang usus halus sampai daerah ileum terminalis. Pada daerah sekum pengirisan dilakukan terhadap mesokolon, dengan memotong mesokolon pada bagian lateral dan kolon asendens pada daerah ini. Pemotongan harus dilakukan dengan hati-hati, lapis demi lapis agar ginjal kanan serta duodenum pars retro-peritonealis tidak teriris.

 

Pada daerah kolon transversum, lepaskan perlekatan antara kolon dan lambung. Mesokolon kembali diiris di sebelah lateral dari kolon descendens dengan memisahkannya dari limpa dan ginjal kiri. Kolon sigmoid dapat dilepaskan dari dinding rongga perut dengan memotong mesokolon di bagian belakangnya.

 

Rektum dipegang dengan tangan kanan, mulai dari bagian distal dan mengurutnya ke arah proksimal, agar isi rektum dipindahkan ke arah kolon sigmoid dan rektum dapat diikat dengan dua ikatan, untuk kemudian diputus di antara dua ikatan tersebut. Setelah dilakukan pelepasan usus halus dan usus besar, dapat dilakukan pemeriksaan sepanjang usus tersebut untuk menemukan kelainan, baik yang akibatkan oleh kekerasan berupa luka, akibat penyakit dalam bentuk ulkus atau kelainan lainnya.

 

Untuk melepaskan alat rongga perut dan panggul, pengirisan dimulai dengan memotong diafragma dekat pada insersinya pada dinding rongga badan. Pengirisan diteruskan ke arah bawah, sebelah kanan dan kiri, lateral dari masing-masing ginjal, sampai memotong arteri iliaka komunis.

 

Alat rongga panggul dilepaskan dengan terlebih dahulu melepas peritoneum di daerah simfisis (alat rongga panggul terletak retroperitoneal). Kandung kencing serta alat lain dapat dipegang dalam tangan kiri sampai ke arah belakang bersama-sama rektum. Pemotongan melintang dilakukan dengan patokan setinggi kelenjar prostat pada mayat laki-laki dan setinggi sepertiga proksimal vagina pada mayat perempuan. Alat rongga panggul ini kemudian dilepaskan seluruhnya dari perlekatan dengan sekitamya dan dapat diangkat bersama-sama dengan alat rongga perut yang terlebih dahulu.

 

Pemeriksaan pada kepala dimulai dengan membuat irisan pada kulit kepala, dimulai dari prosesus mastoideus, melingkari kepala ke arah puncak kepala (verteks) dan berakhir pada prosesus mastoideus sisi lain. Pada mayat yang lebat rambut kepalanya, sebaiknya sebelum dilakukan pengirisan pada kulit kepala, dilakukan terlebih dahulu penyisiran pada rambut sehingga terjadi garis belahan rambut sepanjang kulit kepala yang akan diiris tersebut. Pengirisan dibuat sampai pisau mencapai peri­osteum. Kulit kepala kemudian dikupas, ke arah depan sampal kurang lebih 1-2 sentimeter di atas batas orbita (margo supraorbitalis) dan ke arah belakang sampai sejauh protuberantia oksipitalis ekstema. Perhatikan dan catat kelainan yang terdapat, baik pada permukaan dalam kulit kepala maupun permukaan luar tulang tengkorak. Kelainan yang biasa ditemukan adalah tanda kekerasan, baik merupakan resapan darah maupun garis retak/patah tulang. Untuk membuka rongga tengkorak, dilakukan penggergajian tulang tengkorak, melingkar di daerah frontal sejarak kurang lebih 2 sentimeter di atas margo supraorbitalis, di daerah temporal _+ 2 sentimeter di atas daun telinga. Pada daerah temporal ini, penggergajian dilakukan setelah otot temporalis dipotong dengan pisau terlebih dahulu. Pemotongan otot temporalis dimaksudkan agar otot tersebut setelah selesai pemeriksaan dapat digunakan sebagai pegangan/tempat jahitan menyatukan kembali atap tengkorak dengan bagian lain tengkorak tersebut. Pada daerah temporalis ini, penggergajian dilakukan melingkari ke arah belakang, _+ 2 sentimeter sebelah atas protuberantia oksipitalis eksterna, dengan garis penggergajian yang membentuk sudut _+ 120 derajat dari garis penggergajian terdahulu. Hal inl dilakukan agar setelah selesai pemeriksaan, atap tengkorak dapat terpasang kembali tanpa tergelincir/tergeser. Agar penggergajian tidak merusak jaringan otak, penggergajian harus dilakukan dengan hati-­hati dan dihentikan setelah terasa tebal tulang tengkorak telah terlampaui. Atap tengkorak selanjutnya dilepas dengan menggunakan pahat berbentuk T (T chisel) dengan jalan mendongkel pada garis penggergajian.

 

Setelah atap tengkorak dilepaskan, pertama-tama lakukan penciuman terhadap bau yang keluar sebab pada beberapa jenis keracunan, dapat tercium bau yang khas.

 

Kemudian perhatikan adanya kelainan baik pada permukaan dalam atap tengkorak maupun pada duramater yang kini tampak. Kelainan dapat berupa luka pada duramater, perdarahan epidural atau kelainan lain. Duramater kemudian digunting mengikuti garis penggergajian, dan daerah subdural dapat diperiksa akan adanya perdarahan, pengumpulan nanah dan sebagainya.

 

Otak dikeluarkan dengan pertama-tama memasukkan dua jari tangan kiri di garis pertengahan daerah frontal, antara bagian otak dan tulang tengkorak. Dengan sedikit menekan baga frontal akan tampak falks serebri yang dapat dipotong atau digunting sampai dasar tengkorak. Kedua jari tangan kiri tersebut kemudian dapat sedikit mengangkat bagian frontal dan memperlihatkan nn. olfaktorius, nn. optikus, yang kemudian dipotong sedekat mungkin pada dasar tengkorak. Pemotongan lebih lanjut dapat dilakukan pada aa. karotis interna yang memasuki otak, serta saraf saraf otak yang keluar pada dasar otak. Dengan memiringkan kepala mayat ke salah satu sisi, serta jari jari tangan kiri sedikit menarik/mengangkat baga pelipis (temporalis) sisi yang lain, tentorium serebeli akan jelas tampak dan mudah dipotong, dimulai dari klivus ke arah lateral menyusun tepi belakang tulang karang otak (os petrosum). Potong pula saraf saraf otak yang keluar pada dasar otak. Dengan cara yang sama, tentorium serebeli sisi lainnya juga dipotong. Perlu diperhatikan bahwa bila tentorium serebeli ini tidak dipotong, otak kecil niscaya akan tertinggal dalam rongga tengkorak.

 

Kepala kemudian dikembalikan pada posisi semula dan batang otak dapat dipotong melintang dengan memasukkan pisau sejauh-jauhnya dalam foramen magnum.

 

Dengan tangan kiri menyanggah daerah bagian oksipital, dua jari tangan kanan dapat ditempatkan di sisi kanan dan kiri batang otak yang telah terpotong, untuk kemudian menarik bagian bawah otak ini dengan gerakan memutar/meluksir hingga keluar dari rongga tengkorak.

 

Setelah otak dikeluarkan, duramater yang melekat pada dasar tengkorak harus dilepaskan dari dasarnya, agar dapat diperhatikan adanya kelainan pada dasar tengkorak.

 

Sarana dan Alat

Untuk melakukan pembedahan mayat diperlukan :

o Kamar autopsi agar dokter yang melakukan pemeriksaan jenazah dapat bekerja tanpa terganggu oleh orang yang tidak berkepentingan.

o Meja autopsi di mana terdapat tempat penampungan darah yang keluar saat melakukan bedah mayat serta air untuk melakukan pencucian.

o Alat-alat autopsi yaitu pisau, gunting, pinset bergigi, gergaji, pahat (Chissel-T), jarum jahit kulit, benang kasar, gelas ukur, semprit, serta jarum.

o Alat pemeriksaan tambahan, berupa beberapa botol kecil yang berisi formalin (formaldehid 10%) atau alkohol 70% sebagai pengawet untuk mengambil jaringan untuk pemeriksaan histopatologik, dan beberapa tabung reaksi atau kantong plastik untuk bahan pemeriksaan toksikologi.

o Alat dokumentasi berupa kertas atau formulir laporan obduksi dan peralatan fotografi berupa kamera.