Category Archives: Traumatologi

Intravitalitas

Definisi
Intravitalitas atau reaksi vital terhadap luka. Merupakan reaksi tubuh manusia yang hidup terhadap luka. Reaksi ini penting untuk membedakan apakah luka terjadi pada saat seseorang masih hidup atau sudah mati. Reaksi vital yang umum berupa perdarahan yaitu ekimosis, petekie, dan emboli. Emboli lemak dapat terjadi pada kasus patah tulang dan trauma tumpul jaringan lemak, sedangkan emboli jaringan dapat terjadi jika alat dalam rusak. Kadar asam laktat darah juga merupakan tanda intravitalitas yang merupakan cerminan reaksi adrenergik akibat adanya stres premortal.

 

Luka bakar intravital bercirikan adanya eritema di sekeliling vesikel/bula dan secara mikroskopis dikenali berupa pelebaran kapiler, sebukan sel polimorfonuklear, perdarahan, dan edema. Adanya jelaga pada saluran napas, lambung , tingginya kadar CO-Hb darah, dan kadang sianida menunjukkan korban masih hidup saat terbakar.

 

Reaksi kimiawi terhadap trauma berupa peningkatan kadar histamin bebas dan seroto­nin pada jaringan yang terkena trauma. Demikian juga perubahan aktivitas enzimatik LDH jaringan luka, reaksi penyembuhan, jaringan granulasi, dan sebukan sel radang akut/kronik. Reaksi radang, sepsis, ulkus juga indikator intravitalitas.

 

 

Luka akibat Trauma Kimia

Definisi
Luka akibat trauma kimia terjadi akibat efek korosi dari asam kuat atau basa kuat. Asam kuat bersifat mengkoagulasikan protein sehingga luka korosinya kering, dan keras, sedangkan basa kuat membentuk reaksi penyabunan intra sel sehingga luka bersifat basah, licin, dan kerusakan akan terus berlanjut sampai dalam.

 

 

Luka akibat Trauma Fisika

I. Luka akibat Suhu Tinggi
Suhu tinggi dapat mengakibatkan terjadinya :

o Heat exhaustion primer akibat ketidak seimbangan antara darah sirkulasi dengan lumen pembuluh darah. Sering akibat pemaparan terhadap panas, kerja jasmani berlebihan, dan pakaian yang terlalu tebal.

o Heat exhaustion sekunder akibat kehilangan cairan tubuh yang berlebihan.

o Heat stroke merupakan kegagalan pusat pengatur suhu akibat terlalu tingginya temperatur pusat tubuh.

o Sun stroke akibat panas matahari yang menyebabkan hipertermia

o Heat cramps akibat menghilangnya NaCl darah dengan cepat akibat suhu tinggi.

 

Luka bakar terjadi akibat kontak kulit dengan benda bersuhu tinggi. Kerusakan tergantung pada tinggi suhu dan lama kontak. Derajat luka bakar terbagi atas:

I. Eritema, mulai terjadi pada suhu 35° C selama 120 detik

II. Vesikel dan bula, sudah.dapat terjadi pada suhu 53-57°C selama kontak 30-120 detik

III. Nekrosis koagulatif

 
IV. Karbonisasi
Kematian pada luka bakar terjadi karena syok neurogen, dehidrasi, atau infeksi

 
II. Luka akibat Suhu Rendah
Dapat menyebabkan kematian mendadak akibat kegagalan pusat pengatur suhu maupun rendahnya disosiasi Oxy-Hb. Bayi, orang tua, orang yang kelelahan, alkoholisme, hipopituitarism, miksedema, dan steatorea biasanya merupakan orang yang rentan terhadap dingin. Derajat luka yang terjadi pada kulit :

I. Hiperemia

II. Edema dan vesikel

III. Nekrosis

IV. Pembekuan disertai kerusakanjaringan

 

III. Luka akibat Trauma Listrik

Faktor yang berperan :

1. Tegangan (volt): tegangan sedang (65-1000 V) dapat mematikan. Tegangan tinggi justru tidak mematikan.

2. Kuat arus (ampere): makin besar arus, makin berbahaya bagi kelangsungan hidup. Sensitifitas terhadap arus listrik bolak balik (AC) 4-6 kali lebih besar dibanding arus listrik searah (DC). Arus lisrik AC 25-80 mA atau DC 80-300 mA akan terjadi penurunan kesadaran dan fibrilasi ventrikel, di atas 3 A menyebabkan henti jantung. Kuat arus yang masih memungkinkan untuk dilepaskan disebut let go current, berbeda tiap individu.

3. Tahanan kulit (ohm): tahanan tubuh dari yang terbesar yaitu kulit, tulang, lemak, saraf, otot, darah, dan yang terkecil cairan tubuh.

4. Arah aliran listrik: mematikan bila melintasi otak atau jantung.

5. Luas permukaan kontak : luas 50 cm2 dapat mematikan tanpa menimbulkan jejas listrik.

6. Lama kontak : menentukan kecepatan datangnya kematian.

Gambaran makroskopis: kerusakan lapisan tanduk berupa luka bakar dengan tepi yang menonjol, di sekitarnya pucat dikelilingi kulit yang hiperemis. Dapat ditemukan metalisasi dan magnetisasi terutama jika tegangan tinggi. Kematian terjadi karena fibrilasi ventrikel, kelumpuhan otot dan pusat pernapasan.

 
IV. Luka akibat Petir
Kematian dapat terjadi karena efek arus listrik, efek panas, dan efek ledakan gas panas yang timbul. Makroskopik akan ditemukan aborescent mark (kemerahan kulit seperti percabangan pohon), metalisasi (pemindahan partikel metal dari benda yang dipakai ke dalam kulit, magnetisasi (benda metal yang dipakai berubah menjadi magnet). Pakaian sering terbakar dan compang-camping akibat efek ledakan dan panas (blast effect).



V. Luka akibat Perubahan Tekanan Udara
Perubahan tekanan udara menyebabkan terjadinya perubahan volume gas di dalam tubuh yang dapat mengakibatkan terjadinya barotrauma aural, barotrauma pulmonal, atralgia hiperbarik, penyakit dekompresi, dan emboli udara. Kelainan lain yang dapat dijumpai adalah rasa nyeri pada gigi yang berkavitas, vertigo, gangguan penglihatan, gangguan pendengaran dan gangguan keseimbangan. Gangguan susunan saraf pusat yang dapat terjadi di antaranya tremor, konvulsi, somnolen, pusing, dan mual.

 

 

Luka akibat Tembakan Senjata Api

Definisi
Senjata api adalah senjata yang dengan menggunakan tenaga hasil peledakan mesiu, dapat melontarkan anak peluru dengan kecepatan tinggi. Dalam kasus kriminal senjata api yang biasa dipergunakan adalah senjata genggam beralur yang dibedakan atas :

o Senjata api dengan alur ke kiri

Senjata tipe COLT, kaliber 0.36, 0.38, dan kaliber 0.45. Anak peluru dari senjata api ini memiliki goresan dan alur yang memutar ke kiri bila dilihat dari bagian basis anak peluru.

o Senjata api dengan alur ke kanan

Senjata tipe SMITH dan WESON (SW), dengan kaliber 0.22, 0.36, 0.38, 0.45, dan 0.46. Anak peluru memiliki ciri terdapatnya goresan dan alur yang memutar ke kanan bila dilihat dari bagian basis anak peluru.

 

Keparahan luka tembak akibat anak peluru tergantung pada :

o Besar dan bentuk anak peluru

o Balistik (kecepatan, energi kinetik, stabilitas anak peluru)

o Kerapuhan anak peluru

o Kepadatan jaringan sasaran

o Vurnerabilitas jaringan sasaran

 

Pada luka tembak masuk, selain anak peluru, komponen lain yang terdapat pada proses tembakan juga berperan dalam membentuk ciri-ciri luka tembak. Berdasarkan ciri-ciri tersebut luka tembak masuk dibedakan dalam:

a. Luka tembak masuk (LTM) jarak jauh, dibentuk oleh komponen anak peluru. Luka berbentuk lubang dengan kelim lecet dan kelim kesat pada dindingnya.

b. LTM jarak dekat, dibentuk oleh komponen anak peluru dan butir-butir mesiu yang tidak habis terbakar dan jelaga. Luka berupa lubang dengan kelim lecet, kelim kesat, kelim tatoo, dan/atau kelim jelaga.

c. LTM jarak sangat dekat, dibentuk oleh komponen anak peluru, butir mesiu, jelaga dan panas/api. Luka seperti LTM jarak dekat dengan kelim api di tepi lubangnya.

d. LTM tempel, dibentuk oleh seluruh komponen tersebut (yang akan masuk seluruhnya atau sebagian ke dalam saluran luka) dan jejas laras. Saluran luka akan berwarna hitam danjejas laras akan tampak mengelilingi di luar luka tembak masuk sebagai luka lecet tekan.

 

Keterangan:

o Kelim lecet: bagian yang kehilangan kulit ari yang mengelilingi lubang akibat anak peluru yang menembus kulit.

o Kelim kesat: usapan zat yang melekat pada anak peluru (pelumas, jelaga, dan elemen mesiu) pada tepi lubang.

o Kelim tatoo: butir-butir mesiu yang tidak habis terbakar yang tertanam pada kulit di sekitar kelim lecet.

o Kelim jelaga: penampilan jelaga/asap pada permukaan kulit di sekitar lubang luka tidak masuk.

o Kelim api: daerah hiperemi atau jaringan yang terbakar yang terletak tepat di tepi lubang luka.

 

Luka tembak keluar (LTK): luka tembak yang terjadi akibat peluru meninggalkan tubuh korban. Umumnya LTK lebih besar dari LTM akibat deformitas anak peluru, bergoyangnya anak peluru, dan ikutnya jaringan tulang yang pecah keluar dari LTK. LTK dapat lebih kecil dari LTM bila luka tembak merupakan luka tembak tempel atau kecepatan peluru sewaktu akan menembus keluar berkurang atau terdapatnya benda yang menekan kulit pada tempat peluru akan keluar. Bentuk LTK tidak khas, tidak beraturan, dan tidak memiliki kelim .

 

Luka akibat Kekerasan Tajam

Definisi
Merupakan luka terbuka yang terjadi akibat benda yang memiliki sisi tajam atau ujung runcing. Luka berupa luka terbuka dengan tepi dan dinding luka yang rata, berbentuk garis, tidak terdapat jembatan jaringan, dasar luka berbentuk garis atau titik dengan keadaan sekitar luka bersih. Luka jenis ini dapat berupa:

1. Luka iris/sayat: luka lebar tapi dangkal, terjadi akibat kekerasan yang sejajar kulit.

2. Luka bacok: luka bacok mempunyai dalam luka kurang lebih sama dengan panjang luka, terjadi akibat kekerasan yang arahnya miring dengan kulit.

3. Luka tusuk: merupakan luka dengan kedalaman luka yang melebihi panjang luka, terjadi akibat kekerasan yang arahnya tegak lurus kulit. Sudut luka terbuka dapat menunjukkan arah benda penyebabnya. Bila satu sudut luka lancip dan yang lain tumpul berarti benda penyebab adalah benda tajam bermata satu, sedang bila kedua sudut luka lancip berarti benda tajam bermata satu atau dua. Benda tajam bermata satu dapat menimbulkan luka tusuk bermata lancip, bila hanya bagian ujung benda saja yang menyentuh kulit. Panjang luka umumnya tidak mencerminkan lebar benda dan panjang saluran luka tidak menunjukkan panjang benda tajam tersebut akibat faktor elastisitas jaringan dan gerakan korban.

 

Pada luka akibat kekerasan tajam dapat juga berupa :

o Luka tangkis: luka yang terjadi akibat perlawanan korban dan umumnya terdapat pada telapak, punggung tangan, jari tangan, punggung lengan bawah, dan tungkai.

o Luka percobaan: luka-luka sejajar dengan luka utama yang dalam, merupakan luka khas pada kasus bunuh diri dengan benda tajam. Umumnya berupa luka sayat yang berulang dan biasanya sejajar satu sama lain serta terdapat pada daerah leher atau pergelangan tangan.

 

Umumnya berdasarkan sifat, luka dapat membedakan cara kematian.

 

Pemeriksaan pada baju yang terkena pisau bertujuan untuk melihat interaksi pisau-kain­-tubuh, yaitu lokasi kelainan, bentuk robekan, adanya partikel besi (reaksi biru berlin dilanjutkan pemeriksaan spektroskopi), serat kain dan pemeriksaan terhadap adanya bercak darah.

 

Luka akibat Kekerasan Setengah Tajam

Definisi
Adalah cedera akibat kekerasan tumpul yang mempunyai tepi rata, ciri-ciri luka seperti luka akibat kekerasan tumpul tetapi bentuknya beraturan, contohnya jejas gigit.

 

Jejas gigit (bite-mark) dapat berupa luka lecet tekan berbentuk garis lengkung terputus-putus hematom atau luka robek dengan tepi rata. Pada korban hidup, luka gigitan umumnya masih baik strukturnya sampai 3 jam pascatrauma, setelah itu ia dapat berubah bentuk akibat elastisitas kulit.

 

Luka akibat Kekerasan Tumpul

1. Memar (kontusio, hematom)

Memar adalah suatu perdarahan dalam jaringan bawah kutis/kulit akibat pecahnya kapiler dan vena yang disebabkan oleh kekerasan tumpul. Letak, bentuk, dan luas memar dipengaruhi oleh besarnya kekerasan, jenis benda penyebab, kondisi dan jenis jaringan, usia, jenis kelamin, corak dan warna kulit, kerapuhan pembuluh darah, serta penyakit yang diderita. Bila kekerasan benda tumpul mengenai jaringan longgar, seperti di daerah mata, leher, atau pada bayi dan orang usia lanjut, maka memar cenderung lebih luas. Adanya jaringan longgar juga memungkinkan berpindahnya ‘memar’ ke daerah yang lebih rendah akibar gravitasi, seperti kekerasan benda tumpul pada dahi menimbulkan hematom palpebra. Informasi mengenai bentuk benda tumpul dapat diketahui jika ditemukan adanya ‘perdarahan tepi’, seperti bila tubuh korban terlindas ban. Pada ‘perdarahan tepi’ perdarahan tidak dijumpai pada lokasi yang bertekanan, tetapi perdarahan akan menepi sehingga bentuk perdarahan sesuai dengan bentuk celah antara kedua kembang yang berdekatan (cetakan negatif). Umur memar dapat dilihat dari warnanya. Pada saat perlukaan, memar berwarna merah, lalu berubah menjadi ungu atau hitam, dan setelah 4 sampai 5 hari akan berwarna hijau yang kemudian berubah menjadi kuning dalam 7 sampai 10 hari, dan akhirnya menghilang dalam 14 sampai 15 hari. Perubahan warna terjadi mulai dari tepi ke arah tengah. Hematom antemortem dapat dibedakan dari lebam mayat dengan melakukan penyayatan kulit. Pada hematoma ante­mortem akan dijumpai adanya pembengkakan dan infiltrasi darah merah kehitaman dalam jaringan, sedang pada lebam mayat warna merah tampak merata

 

2. Luka lecet (ekskoriasi, abrasi)

Merupakan luka kulit yang superfisial, akibat cedera pada epidermis yang bersentuhan dengan benda yang memiliki permukaan kasar atau runcing. Walaupun kerusakannya minimal tetapi luka lecet dapat memberikan petunjuk kemungkinan adanya kerusakan yang hebat pada alat-alat dalam tubuh. Sesuai mekanisme terjadinya luka lecet dibedakan dalam 3 jenis:

a. Luka lecet gores (scratch)

Diakibatkan oleh benda runcing yang menggeser lapisan permukaan kulit. Dari gambaran kedalaman luka pada kedua ujungnya dapat ditentukan arah kekerasan yang terjadi.

b. Luka lecet serut (graze)/geser (friction abrasion)

Adalah luka lecet yang terjadi akibat persentuhan kulit dengan permukaan badan yang kasar dengan arah kekerasan sejajar/miring terhadap kulit. Arah kekerasan ditentukan dengan melihat letak tumpukan epitel.

c. Luka lecet tekan (impression, impact abrasion)

Luka lecet yang disebabkan oleh penekanan benda tumpul secara tegak lurus terhadap permukaan kulit. Bentuk luka lecet tekan umumnya sama dengan bentuk permukaan benda tumpul tersebut. Kulit pada luka lecet tekan tarnpak berupa daerah kulit yang kaku dengan warna lebih gelap dari sekitarnya.

 

3. Luka robek (vulnus Iaseratum)

Merupakan luka terbuka yang terjadi akibat kekerasan tumpul yang kuat sehingga melampaui elastisitas kulit atau otot. Ciri luka robek bentuk tidak beraturan, tepi tidak rata, akar rambut tampak hancur atau tercabut bila kekerasannya di daerah yang berambut, sering tampak luka lecet, atau memar di sekitar luka.

 

4. Patah tulang

Dapat terjadi pada kekerasan tumpul yang cukup kuat. Patah tulang jenis impressi terjadi akibat kekerasan benda tumpul pada tulang dengan daerah persinggungan yang kecil. Bentuk impresi tulang dan dapat memberikan gambaran bentuk benda penyebabnya.

a. Cedera kepala

Selain kelainan kulit kepala dan patah tulang tengkorak, cedera kepala juga dapat mengakibatkan perdarahan epidural, subdural, dan subaraknoid, kerusakan selaput otak, dan jaringan otak, dengan penjelasan sebagai berikut:

1. Perdarahan epidural sering pada kekerasan tumpul pada daerah pelipis dan belakang kepala akibat garis patah melewati sulkus a. meningea. Pada keadaan tertentu perdarahan dapat juga terjadi tanpa disertai patah tulang.

2. Perdarahan subdural akibat robeknya sinus, vena jembatan, arteri basilaris atau berasal dari perdarahan subaraknoid.

3. Perdarahan subaraknoid biasanya berasal dari fokus kontusio/laserasi jaringan otak. Dapat terjadi spontan pada sengatan matahari, leukemia, tumor, keracunan CO, dan penyakit infeksi tertentu.

Pada kekerasan akibat kepala,bergerak mengenai benda diam, lesi otak selain ditemukan di daerah benturan (coup) juga ditemukan pada sisi lain dari titik benturan (contre coup) dan di antara keduanya (intermediate lesion). Lesi contre coup terjadi akibat gaya positif akselerasi, dorongan likuor, dan tekanan oleh tulang yang mengalami deformitas. Tekanan negatif akibat deformitas tulang dapat menyebabkan contre coup bila tekanan lebih dari 1 atm.

b. Cedera leher

Dapat terjadi bila korban tertabrak dari belakang di mana kepala mengalami percepatan mendadak sehingga terjadi hiperekstensi kepala yang disusul dengan hiperfleksi.

 

Traumatologi

Definisi
Traumatologi adalah ilmu yang mempelajari tentang luka dan cedera, hubungannya dengan jenis kekerasan serta efeknya terhadap manusia. Luka adalah suatu keadaan ketidak­sinambungan jaringan tubuh yang terjadi akibat kekerasan.