Category Archives: Gangguan Mental Organik

Gangguan Akibat Alkohol dan Obat/Zat

Definisi
Konsep ketergantungan obat meliputi ketergantungan perilaku dan ketergantungan fisik. Ketergantungan perilaku menekankan pada aktivitas mencari-cari zat sedangkan ketergantungan fisik menekankan efek fisiologis dari penggunaan zat berulang.

 

Ketergantungan zat ditandai oleh sekurangnya satu gejala spesifik yang menyatakan bahwa penggunaan zat telah mempengaruhi kehidupan seseorang.

 

Etiologi

Ketergantungan zat disebabkan oleh pemakaian zat dalam pola yang berlebihan.

 

Manifestasi Klinis

Pada dasarnya terdapat dua konsep ketergantungan zat, yaitu ketergantungan perilaku dan ketergantungan fisik. Ketergantungan perilaku diperlihatkan dengan aktivitas mencari zat. Ketergantungan fisik diperlihatkan dari efek fisik dari episode multipel penggunaan zat.

 

Penatalaksanaan

Pendekatan pengobatan untuk penyalahgunaan zat bervariasi menurut zat, pola penyalahgunaan, tersedianya sistem pendukung dan ciri individual pasien. Tujuan utama pengobatan adalah abstinensi zat serta mencapai kesehatan fisik psikiatrik dan psikososial.

 

Pendekatan pengobatan awal dapat dilakukan dengan rawat inap atau rawat jalan. Pengobatan rawat inap diindikasikan pada adanya gejala medis atau psikiatrik yang parah, suatu riwayat gagalnya pengobatan rawat jalan, tidak adanya dukungan psikososial, atau riwayat penggunaan zat yang parah atau berlangsung lama.

 

Pada beberapa kasus penggunaan obat psikotropik mungkin diindikasikan untuk menghalangi pasien menggunakan zat yang disalahgunakan, untuk menurunkan efek putus zat, atau untuk mengobati suatu perkiraan gangguan psikiatrik dasar.

 

Kadang-kadang psikoterapi diperlukan.

 

 

 

 

 

Gangguan Amnesia

Definisi
Gangguan amnesia adalah suatu gangguan daya ingat yang ditandai adanya gangguan kemampuan mempelajari hal-hal baru atau mengingat hal-hal yang telah dipelajari sebelumnya serta menimbulkan hambatan pada fungsi sosial dan pekerjaan.

 

Amnesia dibedakan dari gangguan disosiatif (misalnya amnesia disosiatif, fugue disosiatif, dan gangguan identitas disosiatif) dengan adanya penyebab yang diduga berhubungan dengan kondisi medik umum, seperti adanya riwayat trauma kepala atau keracunan karbonmonoksida (CO).

 
Etiologi
Gangguan daya ingat umumnya diakibatkan kerusakan struktur neuroanatomi tertentu, pada satu atau dua belah hemisfer, namun lebih mudah timbul bila yang takena hemisfer kiri.

 

Gangguan anmesia dapat disebabkan banyak hal, antara lain:

1. Gangguan sistemik:

o Defisiensi tiamin (sindrom Korsakoff)

o Hipoglikemia.

2. Gangguan otak primer:

o Kejang, trauma kepala, tumor otak

o Penyakit serebrovaskular, ensefalitis karena virus Herpes Simpleks

o Hipoksia, sklerosis multipel

o Amnesia transien global

o Tindakan bedah otak, terapi syok listrik.

3. Obat-obatan: alkohol, neurotoksin, benzodiazepin dan sejenisnya.

 
Manifestasi Klinis
Gejala utamanya adalah ketidakmampuan mempelajari hal-hal baru (amnesia anterograd) atau mengingat hal-hal yang telah dipelajari sebelumnya (amnesia retrograd). Daya ingat jangka pendek biasanya terganggu, bahkan pada kasus yang berat, orientasi tempat dan waktu juga terganggu. Namun, orientasi orang jarang terganggu. Daya ingat jangka panjang yang meliputi pengalaman masa kecil tidak terganggu. Daya ingat segera masih baik. Gejala penyerta lainnya antara lain perubahan kepribadian, apatis, kurang inisiatif, agitasi, dan kebingungan. Pasien tidak mempunyai tilikan diri yang baik terhadap penyakitnya.

 

Perjalanan Penyakit dan Prognosis

Dapat timbul secara segera seperti pada trauma dan penyakit serebrovaskular. Dapat juga timbul secara bertahap seperti pada kekurangan nutrisi dan tumor otak. Durasinya dapat singkat, kurang dari sebulan (amnesia transien) atau lebih dari sebulan (amnesia persisten).

 

Penatalaksanaan

Terutama ditujukan kepada penyakit yang mendasarinya. Pendekatan bersifat suportif yang berkaitan dengan waktu dan tempat akan sangat membantu pasien dan mengurangi rasa cemasnya. Setelah episode amnesia teratasi, beberapa jenis psikoterapi (kognitif, psikodinamik, atau suportif mungkin dapat membantu pasien.

 

 

Demensia

Definisi
Demensia merupakan sindrom yang ditandai oleh berbagai gangguan fungsi kognitif tanpa gangguan kesadaran. Gangguan fungsi kognitif antara lain pada inteligensi, belajar dan daya ingat, bahasa, pemecahan masalah, orientasi, persepsi, perhatian dan konsentrasi. penyesuaian, dan kemampuan bersosialisasi.

 

Etiologi

Sebagian besar disebabkan oleh penyakit Alzheimer dan vaskular. Penyebab lain adalah penyakit Pick, Creutzfeldt-Jacob, Huntington, parkinson, HIV, dan trauma kepala.

 

Manifestasi Klinik

Pada stadium awal, pasien menunjukkan kesulitan untuk mempertahankan kinerja mental, fatig, dan cenderung gagal bila diberi suatu tugas baru atau kompleks. Ketidakmampuan melaksanakan tugas semakin bertambah berat dan meluas ke tugas-tugas harian, kadang perlu dibantu.

 

Orientasi, daya ingat, persepsi, dan fungsi intelektual pasien memburuk sejalan dengan memberatnya stadium penyakitnya. Perubahan pada afek dan tingkah laku sering ditemukan. Pasien tampak introvert dan kurang peduli terhadap akibat tingkah lakunya. Bila daerah frontal dan temporal otak terkena, pasien tampak iritabel dan eksplosif

 

Diperkirakan 20-30% pasien tipe Alzheimer mengalami halusinasi dan 30-40% mempunyai gejala waham, terutama waham curiga dan tidak sistematik. Pasien yang berwaham para­noid biasanya menjadi galak dan bersifat memusuhi terhadap orang terdekatnya.

 

Terdapat depresi dan ansietas pada sebagian besar pasien. Pasien dapat mengalami afasia, apraksia, dan agnosia. Kejang merupakan satu gejala yang dapat timbul. Pasien sulit menggeneralisasi suatu hal, membuat konsep, serta membuat persamaan dan perbedaan suatu konsep. Mungkin terdapat reaksi katastropik. Selain itu, terdapat sindrom sundowner, berupa mengantuk, kebingungan, ataksia, dan jatuh tiba-tiba.

 

Perjalanan Penyakit dan Prognosis

Muncul biasanya pada usia sekitar 50-60 tahun. Usia timbul dan beratnya deteriorasi tergantung pada tipe demensianya. Perjalanan penyakit yang klasik dimulai dengan timbulnya gejala-gejala yang samar atau tidak disadari, baik oleh pasien maupun oleh orang-orang yang dekat dengan pasien.

 

Gejala yang muncul secara bertahap ini terdapat pada demensia tipe Alzheimer, vaskular, tumor otak, endokrinopati, dan penyakit metabolik. Sebaliknya, demensia yang disebabkan trauma kepala, henti jantung dengan hipoksia otak, atau ensefalitis muncul tiba-tiba. Pada fase terminal, pasien mengalami disorientasi yang sangat berat, inkoheren, amnesia, serta inkontinensia urin dan feses. Gejala-gejala ini dapat berkurang bila telah diberikan terapi pada demensia yang reversibel.

 

Prognosis tergantung usia timbulnya, tipe demensia, dan beratnya deteriorasi. Pasien dengan onset yang dini dan ada riwayat keluarga dengan demensia mempunyai perjalanan penyakit yang lebih progresif.

 
Penatalaksanaan
Demensia dapat disembuhkan bila tidak terlambat. Secara umum, terapi pada demensia adalah perawatan medis yang mendukung, memberi dukungan emosional pada pasien dan keluarganya, serta farmakoterapi untuk gejala yang spesifik. Terapi simtomatik meliputi diet, latihan fisik yang sesuai, terapi rekreasional dan aktivitas, serta penanganan terhadap masalah-masalah lain.

 

Sebagai farmakoterapi, benzodiazepin diberikan untuk ansietas dan insomnia, antidepresan untuk depresi, serta antipsikotik untuk gejala waham dan halusinasi.

 

 

Delirium

Definisi
Delirium adalah suatu sindrom dengan gejala pokok adanya gangguan kesadaran yang biasanya tampak dalam bentuk hambatan pada fungsi kognitif.

 

Etiologi

Delirium mempunyai berbagai macam penyebab. Semuanya mempunyai pola gejala serupa yang berhubungan dengan tingkat kesadaran dan kognitif pasien. Penyebab utama adalah berasal dari penyakit susunan saraf pusat, penyakit sistemik, dan intoksikasi atau reaksi putus obat maupun zat toksik. Penyebab delirium terbanyak terletak diluar sistem saraf pusat, misalnya gagal ginjal dan hati.

 

Neurotransmiter yang dianggap berperan adalah asetilkolin, serotonin, serta glutamat. Area yang terutama terkena adalah formasio retikularis.

 

Faktor predisposisi terjadinya delirium, antara lain:

o Usia

o Kerusakan otak

o Riwayat delirium

o Ketergantungan alkohol

o Diabetes

o Kanker

o Gangguan panca indera

o Malnutrisi

 

Manifestasi Klinis

Gambaran dapat bervariasi tergantung pada masing-masing individu. Mood, persepsi, dan tingkah-laku yang abnormal merupakan gejala-gejala psikiatrik umum; tremor, asteriksis, nistagmus inkoordinasi, inkontinensia urin, dan disfasia merupakan gejala-gejala neurologik umum.

 

Gambaran utama adalah gangguan kesadaran berupa kesadaran yang berkabut dengan penurunan kemampuan untuk memusatkan, mencantumkan, dan mengalihkan perhatian. Keadaan ini berlangsung beberapa hari dengan berkembangnya ansietas, mengantuk, insomnia, halusinasi yang transien, mimpi buruk, dan kegelisahan.

 

Pasien delirium yang berhubungan dengan sindrom putus zat merupakan jenis hiperaktif yang dapat dikaitkan dengan tanda-tanda otonom, seperti flushing, berkeringat, takikardi, dilatasi pupil, nausea, muntah, dan hipertermia. Orientasi waktu seringkali hilang, sedangkan orientasi tempat dan orang mungkin terganggu pada kasus yang berat. Pasien seringkali mengalami abnormalitas dalam berbahasa, seperti pembicaraan yang bertele-tele, tidak relevan, dan inkoheren.

 

Fungsi kognitif lain yang mungkin terganggu adalah daya ingat dan fungsi kognitif umum. Pasien mungkin tidak mampu membedakan rangsang sensorik dan mengintegrasikannya sehingga sering merasa terganggu dengan rangsang yang tidak sesuai atau timbul agitasi. Gejala yang sering nampak adalah marah, mengamuk, dan ketakutan yang tidak beralasan. Pasien selalu mengalami gangguan tidur sehingga sering tampak mengantuk sepanjang hari dan tertidur di mana saja.

 

Pemeriksaan status mental berguna untuk mengetahui adanya gangguan kognitif dan bagaimana perjalanan penyakitnya. Pemeriksaan laboratorium disesuaikan dengan keadaan klinis. Elktroensefalografi (EEG) pada delirium menunjukkan perlambatan aktivitas.

 

Perjalanan Penyakit dan Prognosis

Biasanya delirium mempunyai muncul tiba-tiba (dalam beberapa jam atau hari). Perjalanan penyakitnya singkat dan berfluktuasi. Perbaikan cepat terjadi apabila faktor penyebabnya telah dapat diketahui dan dihilangkan.

 

Walaupun delirium biasanya terjadi mendadak, gejala-gejala prodromal mungkin telah terjadi beberapa hari sebelumnya. Gejala delirium biasanya berlangsung selama penyebabnya masih ada namun tidak lebih dari 1 minggu.

 

Penatalaksanaan

Bila kondisi ini merupakan toksisitas antikolinergik, digunakan fisostigmin salisilat 1-2 mg iv atau im dengan pengulangan dosis setiap 15-30 menit. Selain itu, perlu dilakukan terapi untuk memberi dorongan perbaikan pada fisik, sensorik, dan lingkungan.

 

Untuk mengatasi gejala psikosis digunakan haloperidol 2-10 mg im, yang dapat diulang setiap 1 jam. Insomnia sebaiknya diobati dengan benzodiazepin yang mempunyai waktu terapi pendek.