Category Archives: Gangguan Neurotik

Gangguan Neurotik Lainnya

Neurastenia

Diagnosis pasti memerlukan hal-hal berikut:

a. Adanya keluhan-keluhan yang menetap dan mengganggu berupa meningkatnya rasa lelah setelah sesuatu kegiatan mental, atau keluhan mengenai kelemahan badan dan kehabisan tenaga hanya setelah kegiatan ringan saja

b. Paling sedikit ada dua dari hal-hal tersebut di bawah ini:

o Perasaan sakit dan nyeri otot-otot

o Pusing kepala

o Sakit kepala

o Gangguan tidur

o Tidak dapat bersantai

o Peka/mudah tersinggung

o Dispepsia

c. Bila ditemukan gejala otonom ataupun depresi, keadaan tersebut tidak cukup menetap dan berat untuk dapat memenuhi kriteria gangguan tersebut agar dapat didiagnosis secara tersendiri.

 

Harus diusahakan terlebih dahulu menyingkirkan kemungkinan gangguan depresi atau gangguan ansietas.

 

Sindrom Desentralisasi-Depersonalisasi

Untuk diagnosis pasti harus ada salah satu atau dua-duanya dari (a) dan (b), ditambah (c) dan (d):

a. Gejala depersonalisasi, yaitu individu merasa bahwa perasaannya dan/atau pengalamannya terlepas dari dirinya, jauh, bukan dari dirinya, hilang, dsb

b. Gejala derealisasi, yaitu obyek, orang, dan/atau lingkungan menjadi seperti tidak sesungguhnya, jauh, semu, tanpa warna, tidak hidup, dsb

c. Memahami bahwa hal tersebut merupakan perubahan spontan dan subyektif serta bukan disebabkan oleh kekuatan luar atau orang lain

d. Pengindraan tidak terganggu dan tidak ada toxic confusional state atau epilepsi

 

Harus dapat dibedakan gangguan lain dengan gejala perubahan kepribadian.

 

Gangguan Somatoform

Definisi

Gangguan somatoform adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki gejala fisik di mana tidak dapat ditemukan penjelasan medis yang adekuat.

 

Etiologi

Terdapat faktor psikososial berupa konflik psikis di bawah sadar yang mempunyai tujuan tertentu. Ditemukan faktor genetik dalam transmisi gangguan ini. Selain itu, dihubungkan pula dengan adanya penurunan metabolisme (hipometabolisme) suatu zat tertentu di lobus frontalis dan hemisfer nondominan.

 

Manifestasi Klinis

Ciri utama gangguan ini adalah adanya keluhan-keluhan gejala fisik yang berulang disertai permintaan pemeriksaan medik, meskipun sudah berkali-kali terbukti hasilnya negatif dan juga telah dijelaskan oleh dokternya bahwa tidak terjadi kelainan yang mendasari keluhannya.

 

Keluhan dibedakan tiap subtipe, yaitu:

o Gangguan somatisasi, ditandai oleh banyak keluhan fisik yang mengenai banyak sistem organ

o Gangguan konversi, ditandai oleh satu atau dua keluhan neurologis

o Hipokondriasis, ditandai oleh fokus gejala yang lebih ringan daripada kepercayaan pasien bahwa ia menderita penyakit tertentu

o Gangguan dismorfik tubuh, ditandai oleh kepercayaan palsu atau persepsi yang berlebihan bahwa suatu bagian tubuh mengalami cacat

o Gangguan nyeri, ditandai oleh gejala nyeri yang semata-mata berhubungan dengan faktor psikologis atau secara bermakna dieksaserbasi oleh faktor psikologis.

 

Pasien juga menyangkal dan menolak untuk membahas kemungkinan kaitan antara keluhan fisiknya dengan problem atau konflik dalam kehidupan yang dialaminya, bahkan meskipun didapatkan gejala-gejala ansietas dan depresi.

 

Tidak adanya saling pengertian antara dokter dan pasien mengenai kemungkinan penyebab keluhan-keluhannya menimbulkan frustasi dan kekecewaan pada kedua belah pihak.

 

­

Perjalanan Penyakit dan Prognosis

Gangguan somatisasi berlangsung kronik, umumnya dimulai sebelum usia 30 tahun. Prognosis umumnya sedang sampai buruk.

 

Prognosis gangguan konversi baik apabila timbul tiba-tiba, stresor mudah dikenali, penyesuaian pramorbid yang baik, tidak ada gangguan psikiatrik atau medis komorbid, dan tidak ada tuntutan yang terus menerus.

 

Hipokondriasis berlangsung episodik. Setiap episode berlangsung beberapa bulan sampai beberapa tahun dan dipisahkan oleh episode tenang yang sama panjangnya. Prog­nosis baik berhubungan dengan status sosioekonomi yang tinggi, awal yang tiba-tiba, tidak adanya gangguan kepribadian, dan tidak adanya kondisi medis nonpsikiatri yang menyertai.

 

Gangguan dismorfik tubuh biasanya muncul bertahap. Namun dapat berlangsung kronik jika tidak diobati. Prognosis belum diketahui secara pasti.

 

Nyeri pada gangguan nyeri biasanya berlangsung secara tiba-tiba selama beberapa minggu atau beberapa bulan selanjutnya. Biasanya berlangsung kronik dengan prognosis bervariasi. Prognosis buruk bila terdapat gangguan depresi, gangguan kepribadian tergantung atau histrionik, dan penyalahgunaan alkohol atau zat lain.

 

Penatalaksanaan

Gangguan somatisasi ditatalaksana dengan ikatan terapeutik, perjanjian teratur, dan intervensi krisis.

 

Penatalaksanaan untuk gangguan konversi adalah sugesti dan persuasi dengan berbagai teknik. Strategi penatalaksanaan pada hipokondriasis meliputi pencatatan gejala, tinjauan psikososial, dan psikoterapi.

 

Gangguan dismorfik tubuh diterapi dengan ikatan terapeutik, penatalaksanaan stres, psikoterapi, dan pemberian antidepresan.

 

Terapi pada gangguan nyeri mencakup ikatan terapeutik, menentukan kembali tujuan terapi, dan pemberian antidepresan.

 

 

Gangguan Disosiatif (Konversi)

Definisi

Gangguan disosiatif adalah suatu kelompok gangguan dengan gejala utama kehilangan sebagian atau seluruh integrasi normal (di bawah kendali kesadaran) antara ingatan masa lalu, kesadaran identitas dan penginderaan segera, serta kontrol terhadap gerakan tubuh.

 

Pada gangguan disosiatif kemampuan kendali di bawah kesadaran dan kendali selektif tersebut terganggu sampai taraf yang dapat berlangsung dari hari ke hari atau bahkan dari jam kejam.

 

Yang termasuk gangguan disosiatif adalah:

o Amnesia disosiatif

o Fugue disosiatif

o Stupor disosiatif

o Trans dan kesurupan

o Gangguan motorik disosiatif

o Konvulsi disosiatif

o Anestesia dan kehilangan sensorik

o Gangguan disosiatif campuran

o Gangguan disosiatif lainnya

 

Etiologi

Pada seseorang dengan gangguan amnesia disosiatif terdapat kompleksitas pembentukan dan pengumpulan ingatan. Pendekatan psikoanalitik menyatakan amnesia terutama sebagai mekanisme pertahanan di mana orang mengubah kesadarannya sebagai cara untuk menghadapi suatu konflik emosional atau stresor eksternal.

 

Etiologi dari fugue disosiatif diduga psikologis. Faktor predisposisinya adalah:

o Keinginan untuk menarik diri dari pengalaman yang menyakitkan secara emosional,

o Berbagai stresor dan faktor pribadi, seperti finansial, perkawinan, pekerjaan, atau peperangan,

o Depresi,

o Usaha bunuh diri,

o Gangguan organik (khususnya epilepsi),

o Riwayat penyalahgunaan zat.

 

Perjalanan Penyakit dan Prognosis

Gejala amnesia disosiatif biasanya pulih tiba-tiba dan lengkap dengan sedikit rekurensi. Klinis harus memulihkan ingatan pasien sesegera mungkin.

 

Fugue biasanya singkat, beberapa jam sampai beberapa hari. Umumnya pemulihan cepat dan jarang rekurens.

 

Diagnosis

Untuk diagnosis pasti, maka hal-hal di bawah ini harus ada:

o Gambaran klinis sebagai berikut:

o Amnesia disosiatif, dengan ciri utama hilangnya daya ingat

o Fugue disosiatif, memiliki ciri-ciri amnesia, melakukan perjalanan tertentu melampaui hal yang umum dilakukannya sehari-hari, dan kemampuan mengurus diri yang dasar tetap ada, termasuk melakukan interaksi sosial sederhana dengan orang yang belum dikenal

o Stupor disosiatif, sangat berkurangnya atau hilangnya gerakan-gerakan volunter dan respons normal terhadap rangsangan luar

o Gangguan trans dan kesurupan, adanya kehilangan sementara aspek penghayatan atas identitas diri dan kesadaran atas lingkungannya

o Gangguan motorik disosiatif, bentuk yang paling umum adalah ketidakmampuan menggerakkan seluruh atau sebagian anggota gerak

o Konvulsi disosiatif, dapat sangat mirip dengan kejang epileptik dalam gerakan­-gerakannya dan tidak dijumpai kehilangan kesadaran

o Anestesia dan kehilangan sensorik disosiatif

o Tidak ada bukti adanya gangguan fisik yang dapat menjelaskan gejala-gejala tersebut

o Bukti adanya penyebab psikologis dalam bentuk hubungan kurun waktu yang jelas dengan problem dan peristiwa yang menimbulkan stres atau hubungan interpersonal yang terganggu (meskipun hal tersebut disangkal oleh pasien).

 
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan dengan menggali kondisi fisik dan neurologiknya. Bila tidak ditemukan kelainan fisik/neurologik, perlu dijelaskan pada pasien dan dilakukan pendekatan psikologik terhadap penanganan gejala-gejala yang ada.

 

Barbiturat kerja sedang dari kerja singkat, seperti tiopental dan natrium amobarbital diberikan secara intravena, dan benzodiazepin dapat berguna untuk memulihkan ingatannya yang hilang.

 

Pengobatan terpilih untuk fugue disosiatif adalah psikoterapi psikodinamika suportif ekspresif.

 

 

Gangguan Penyesuaian

Definisi

Gangguan penyesuaian adalah reaksi maladaptif jangka pendek terhadap apa yang disebut orang awam sebagai nasib malang pribadi atau apa yang disebut dokter psikiatrik sebagai stresor psikososial.

 
Etiologi
Gangguan penyesuaian dicetuskan oleh satu atau lebih stresor. Beratnya stresor tidak selalu meramalkan keparahan gangguan. Penelitian psikoanalitik telah menekankan peranan ibu dan lingkungan membesarkan anak. Inti dalam mengerti gangguan penyesuaian adalah sifat stresor, arti sadar dan bawah sadar dari stresor, dan kerentanan pasien.

 

Manifestasi Klinis

Sampai tiga bulan mungkin ditemukan stresor dan perkembangan gejala. Gejala tidak selalu menghilang segera setelah stresor menghilang. Jika stresor berlanjut, gangguan mungkin menjadi kronik. Gangguan dapat terjadi pada setiap usia.

 

Gejalanya sangat bervariasi, dengan depresi, kecemasan, dan gangguan campuran adalah yang paling sering pada orang dewasa. Manifestasi juga termasuk perilaku menyerang dan kebut-kebutan, minum berlebihan, melarikan diri dari tanggungjawab hukum, dan menarik diri. Presentasi klinis dapat sangat bervariasi, berupa kecemasan, depresi, gangguan tingkah laku, campuran gangguan emosi dan konduksi, serta campuran kecemasan dan depresi.

 

Perjalanan Penyakit dan Prognosis

Prognosis baik dengan pengobatan yang sesuai. Sebagian besar pasien kembali ke tingkat fungsi sebelumnya dalam 3 bulan. Remaja biasanya memerlukan waktu pulih lebih lama dibanding orang dewasa.

 
Diagnosis
o Diagnosis tergantung pada evaluasi terhadap hubungan antara:

  • bentuk, isi, dan beratnya gejala
  • riwayat sebelumnya atau corak kepribadian
  • kejadian, situasi yang penuh stres, atau krisis kehidupan

o Adanya ketiga faktor di atas harus jelas dan mempunyai bukti yang kuat bahwa gangguan tersebut tidak akan terjadi bila tidak mengalami hal tersebut.

o Manifestasi gangguan bervariasi dan mencakup afek depresi, ansietas, campuran depresi ansietas, gangguan tingkah laku disertai adanya disabilitas dalam kegiatan rutin sehari­-hari.

o Biasanya mulai terjadi dalam satu bulan setelah terjadinya kejadian yang penuh stres, dan gejala-gejala biasanya tidak bertahan melebihi 6 bulan kecuali dalam hal reaksi depresi berkepanjangan.

 
Penatalaksanaan
Psikoterapi tetap merupakan pengobatan terpilih untuk gangguan penyesuaian. Terapi kelompok dapat sangat berguna. Tipe terapi singkat, intervensi krisis ditujukan untuk membantu orang dengan gangguan penyesuaian memecahkan situasi dengan cepat dengan teknik suportif, sugesti, penentraman, modifikasi lingkungan, dan bahkan perawatan di rumah sakit. Fleksibilitas penting dalam pendekatan ini.

 

 

Pasien mungkin berespons terhadap obat antiansietas atau antidepresan, tergantung jenis gangguan. Bila cemas berat mungkin dapat digunakan dosis kecil medikasi antipsikotik. Pasien dengan manifestasi menarik diri mungkin mendapat manfaat dari medikasi psikostimulan singkat.

 

Reaksi terhadap Stres Berat

Pada gangguan ini harus terdapat suatu stres emosional yang besar yang akan traumatik bagi semua orang.

 

Etiologi

Respons subyektif terhadap trauma lebih berperan daripada beratnya stres. Faktor predisposisi yang membuat seseorang rentan adalah:

1. Adanya trauma masa anak-anak

2. Sifat gangguan kepribadian ambang, paranoid, dependen, atau antisosial

3. Sistem pendukung yang tidak adekuat

4. Kerentanan genetik

5. Perubahan hidup penuh stres yang baru terjadi

6. ­Persepsi lokus kontrol eksternal, bukan internal

7. Penggunaan alkohol yang baru.

 

Manifestasi Klinis

Gambaran klinis utama adalah pengalaman ulang peristiwa yang menyakitkan, suatu pola menghindar dan kekakuan emosional, serta kesadaran berlebihan yang hampir menetap.

 

Karakteristik dari kategori ini tidak hanya atas identifikasi dasar simtomatologi dan perjalanan penyakit, akan tetapi juga atas dasar salah satu dari dua faktor pencetus:

1. Suatu stres kehidupan yang luar biasa yang menyebabkan reaksi stres akut, atau

2. Suatu perubahan penting dalam kehidupan, yang menimbulkan situasi tidak nyaman yang berkelanjutan dengan akibat terjadi gangguan penyesuaian.

 

Gangguan dalam kategori ini selalu merupakan konsekuensi langsung dari stres akut yang berat atau trauma yang berkelanjutan.

 

Stres yang terjadi atau faktor tidak nyaman yang berkelanjutan merupakan faktor penyebab utama dan tanpa hal itu gangguan tersebut tidak akan terjadi.

 

Gangguan-gangguan ini dapat dianggap sebagai respons maladaptif terhadap stres berat atau stres berkelanjutan di mana mekanisme penyesuaian tidak berhasil mengatasi sehingga menimbulkan masalah dalam fungsi sosialnya.

 

Perjalanan Penyakit dan Prognosis

Kira-kira 30 % pasien pulih dengan sempurna, 40 % terus menderita gejala ringan, 20 % terus menderita gejala sedang, dan 10 % tidak berubah atau memburuk.

 

Umumnya orang yang sangat muda atau sangat tua lebih mengalami kesulitan.

 
Terapi
Pendekatan utama adalah mendukung, mendorong untuk mendiskusikan peristiwa, dan pendidikan tentang berbagai mekanisme mengatasinya.

 

Uji klinik menyatakan imipramin dan amitriptilin baik. Obat lain yang mungkin berguna adalah SSRI, MAOI, dan antikonvulsan.

 

Gangguan Obsesi-kompulsi

Definisi

Obsesi adalah pikiran, perasaan, ide, atau sensasi yang mengganggu. Kompulsi adalah pikiran atau perilaku yang disadari, dibakukan, dan rekurens, seperti berhitung, memeriksa, atau menghindari.

 
Etiologi
Terdapat hipotesis bahwa ada keterlibatan disregulasi serotonin. Pada PET ditemukan peningkatan aktivitas di lobus frontalis, ganglia basalis, dan singulum.

 

Tiga puluh lima persen pasien gangguan ini memiliki sanak saudara derajat pertama dengan gangguan yang sama.

 

Teori psikodinamis menyatakan adanya hubungan dengan beberapa mekanisme pertahanan, antara lain isolasi, undoing reaksi formasi.

 

Manifestasi Klinis

Gejala mungkin bertumpang-tindih dan berubah sesuai dengan berjalannya waktu. Gangguan ini memiliki 4 pola gejala utama, yaitu obsesi terhadap kontaminasi, obsesi keragu-raguan diikuti oleh pengecekan yang kompulsi, pikiran obsesional yang mengganggu, dan kebutuhan terhadap simetrisitas atau ketepatan.

 

Gejala-gejala obsesi harus mencakup hal-hal berikut:

a. Harus disadari sebagai pikiran atau impuls diri sendiri

b. Sedikitnya ada satu pikiran atau tindakan yang tidak berhasil dilawan, meskipun ada lainnya yang tidak lagi dilawan oleh pasien

c. Pikiran untuk melakukan tindakan tersebut di atas bukan merupakan hal yang memberi kepuasan atau kesenangan (tidak termasuk sekedar perasaan lega dari ketegangan)

d. Gagasan, bayangan pikiran, atau impuls tersebut harus merupakan pengulangan yang tidak menyenangkan

 

Ada kaitan erat antara gejala obsesi, terutama pikiran obsesi, dengan depresi. Pasien gangguan obsesi kompulsi seringkali juga menunjukkan gejala depresi, dan sebaliknya pasien gangguan depresi berulang dapat menunjukkan pikiran-pikiran obsesi selama epi­sode depresinya.

 

Gejala obsesi sekunder yang terjadi pada gangguan skizofrenia, sindrom Tourette, atau gangguan mental organik, harus dianggap sebagai bagian dari kondisi tersebut.

 

Perjalanan Penyakit dan Prognosis

Sebagian besar gejala muncul secara tiba-tiba, terutama setelah suatu peristiwa yang menyebabkan stres, seperti kehamilan, masalah seksual, atau kematian seorang sanak saudara.

 

Perjalanan penyakit biasanya lama dan bervariasi, beberapa berfluktuasi namun ada pula yang konstan.

 

Prognosis buruk bila pasien mengalah pada kompulsi, berawal pada masa anak-anak, kompulsi yang aneh, perlu perawatan di RS, gangguan depresi berat yang menyertai, kepercayaan waham, adanya gagasan yang terlalu dipegang, dan adanya gangguan kepribadian.

 

Prognosis baik ditandai oleh penyesuaian sosial dan pekerjaan yang baik, adanya peristiwa pencetus, dan sifat gejala yang episodik.

 

Diagnosis

Untuk menegakkan diagnosis pasti, gejala-gejala obsesif atau tindakan kompulsi atau keduanya, harus ada hampir setiap hari sedikitnya dua minggu berturut-turut. Hal itu merupakan sumber penderitaan atau mengganggu aktivitas pasien.

 
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan meliputi farmakoterapi dan psikoterapi.

 

Pengobatan farmakoterapi standar adalah dengan obat spesifik serotonin seperti klomipramin atau penghambat ambilan kembali serotonin spesifik (SSRI) seperti fluoksetin. Bila terapi gagal, terapi dapat diperkuat dengan menambahkan litium atau penghambat monoamin oksidase (MAOI), khususnya fenelzin.

 

Psikoterapi meliputi terapi perilaku dengan desensitisasi dan terapi keluarga bila terdapat faktor disharmoni keluarga yang mempengaruhi timbulnya gangguan tersebut.

 

 

Gangguan Campuran Ansietas dan Depresi

Gangguan ini mencakup pasien yang memiliki gejala kecemasan dan depresi, tetapi tidak memenuhi kriteria diagnostik untuk suatu gangguan kecemasan maupun suatu gangguan mood. Kombinasi gejala depresi dan kecemasan menyebabkan gangguan fungsional yang bermakna pada orang yang terkena.

 

Etiologi

Empat bukti utama menyatakan bahwa gejala kecemasan dan gejala depresi berhubungan sebab akibat pada beberapa pasien yang terkena, yaitu:

1. Ditemukannya neuroendokrin yan.g sama pada gangguan depresi dan gangguan kecemasan, khususnya gangguan panik.

2. Hiperaktivitas sistem noradrenergik relevan sebab menyebab pada beberapa pasien dengan gangguan depresi dan pada beberapa pasien dengan gangguan panik.

3. Obat serotonergik berguna dalam mengobati gangguan depresi maupun kecemasan.

4. Gejala kecemasan dan depresi berhubungan secara genetik pada beberapa keluarga.

 

Manifestasi Klinis

Kombinasi beberapa gejala gangguan kecemasan dan beberapa gejala gangguan depresi. Di samping itu, gejala hiperaktivitas sistem saraf otonom, seperti keluhan gastrointestinal, sering ditemukan.

 

Perjalanan Penyakit dan Prognosis

Selama perjalanan penyakit, gejala kecemasan atau depresi mungkin bergantian muncul. Prognosis tidak diketahui saat ini.

 

Diagnosis

Kriteria untuk diagnosis pasti, adalah:

o Terdapat gejala-gejala ansietas maupun depresi, di mana masing-masing tidak menunjukkan rangkaian gejala yang cukup berat untuk menegakkan diagnosis tersendiri. Untuk ansietas, beberapa gejala otonom harus ditemukan walaupun tidak terus menerus, di samping rasa cemas atau kekhawatiran berlebihan.

o Bila ditemukan ansietas berat disertai depresi yang lebih ringan, maka harus dipertimbangkan kategori gangguan ansietas lainnya atau gangguan ansietas fobik.

o Bila ditemukan sindrom depresi dan ansietas yang cukup berat untuk menegakkan masing-masing diagnosis, maka kedua diagnosis tersebut harus dikemukakan dan diagnosis gangguan campuran tidak dapat digunakan. Jika hanya dapat dikemukakan satu diagnosis, maka gangguan depresi harus diutamakan.

o Bila gejala-gejala tersebut berkaitan erat dengan stres kehidupan yang jelas, maka harus digunakan kategori gangguan penyesuaian.

 

Penatalaksanaan

Pendekatan psikoterapi dapat berupa terapi kognitif atau modifikasi perilaku.

 

Farmakoterapi dapat termasuk obat antiansietas atau obat antidepresan atau keduanya. Di antara obat ansiolitik, penggunaan triazolobenzodiazepin mungkin diindikasikan karena efektivitas obat tersebut dalam mengobati depresi yang disertai kecemasan. Suatu obat yang mempengaruhi reseptor serotonin tipe-lA (5-HT1A), seperti buspiron, dapat diindikasikan. Di antara antidepresan, antidepresan serotonergik mungkin yang paling efektif.

 

 

Gangguan Neurosis Depresi

Definisi

Neurosis depresi menyatakan pola berpikir dan perilaku yang maladaptif dan berulang yang menyebabkan depresi. Pasien seringkali penuh kecemasan, obsesi, dan rentan terhadap somatisasi. Dalam klasifikasi menurut Pedoman Penatalaksanaan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) III, gangguan ini masuk dalam kategori diagnostik gangguan distimia dalam gangguan suasana perasaan (mood/afektif) menetap.

 

Etiologi

Terdapat faktor biologis yaitu kelainan tidur dan kelainan neuroendokrin.

 

Dilaporkan adanya kesalahan perkembangan kepribadian dan ego, yang memuncak dalam kesulitan beradaptasi pada masa remaja dan dewasa muda.

 

Manifestasi Klinis

Gangguan ini ditandai dengan perasaan muram, murung, kesedihan, atau berkurangnya dan tidak adanya minat pada aktivitas. Pasien kadang-kadang dapat sarkastik, nihilistik, memikirkan hal yang sedih, membutuhkan, dan mengeluh. Mereka dapat juga tegang, kaku, dan menolak intervensi terapeutik.

 

Gejala penyerta adalah perubahan nafsu makan dan pola tidur, harga diri yang rendah, hilangnya energi, retardasi psikomotor, penurunan dorongan seksual, dan preokupasi obsesi dengan masalah kesehatan.

 

 

Perjalanan Penyakit dan Prognosis

Kira-kira 50 persen pasien mengalami timbulnya gejala yang samar-samar sebelum usia 25 tahun. Prognosis bervariasi.

 

Diagnosis

Kriteria diagnostik memerlukan adanya mood yang terdepresi pada sebagian besar waktu untuk sekurangnya dua tahun (atau satu tahun untuk anak-anak dan remaja), untuk memenuhi kriteria diagnostik, pasien tidak boleh memiliki gejala yang lebih baik dilaporkan sebagai gangguan depresi berat. Pasien tidak boleh memiliki episode manik atau hipomanik.

 

Penatalaksanaan

Kombinasi farmakoterapi dan terapi kognitif maupun perilaku mungkin merupakan pengobatan yang paling efektif untuk gangguan ini.

 

 

Gangguan Cemas Menyeluruh

Gangguan Cemas Menyeluruh
Gangguan cemas menyeluruh adalah suatu kekhawatiran yang berlebihan dan dihayati disertai berbagai gejala somatik, yang menyebabkan gangguan bermakna dalam fungsi sosial atau pekerjaan atau penderitaan yang jelas bagi pasien.

 

Etiologi

Walaupun belum terbukti bahwa reseptor benzodiazepin abnormal, tetapi orang banyak melakukan penelitian pada lobus oksipitalis yang memiliki konsentrasi benzodiazepin tertinggi. Beberapa bukti menyatakan bahwa pasien dengan gangguan ini memiliki subsensitivitas pada reseptor adrenergik alfa-2.

 

Terdapat laporan menyatakan 50 % terjadi pada kembar monozigotik dan 15 % pada kembar dizigotik.

 

Pada gangguan ini terdapat hipotesis bahwa pasien mewujudkan respons secara tidak tepat dan tidak akurat terhadap bahaya yang dihadapinya. Dikatakan pula terdapat gejala konflik bawah sadar yang tidak terpecahkan.

 

Manifestasi Klinis

Gejala utamanya adalah kecemasan, ketegangan motorik, hiperaktivitas otonom, dan kewaspadaan kognitif. Ketegangan motorik sering dimanifestasikan dengan gemetar, gelisah, dan nyeri kepala. Hiperaktivitas dimanifestasikan oleh sesak napas, keringat berlebihan, palpitasi, dan gejala gastrointestinal. Gejala lain adalah mudah tersinggung dan dikejutkan. Pasien seringkali datang ke dokter umum atau penyakit dalam dengan keluhan somatik yang spesifik.

 

Gambar diagnosis gejala cemas (bila disertai gejala psikotik, mengikuti skema diagnosis psikotik).

 

Perjalanan Penyakit dan Prognosis

Perjalanan penyakit dan prognosis gangguan sukar diperkirakan. Gangguan ini adalah suatu keadaan kronik yang mungkin berlangsung seumur hidup.

 

Diagnosis

Kriteria untuk diagnosis pasti adalah:

o Ansietas sebagai gejala primer yang berlangsung hampir setiap hari sampai beberapa bulan

o Mencakup gejala kecemasan, ketegangan motorik, dan hiperaktivitas otonomik

o Pada anak-anak sering terlihat adanya kebutuhan berlebihan untuk ditenangkan serta keluhan somatik berulang yang menonjol

o Gejala lain yang sifatnya sementara seperti depresi selama tidak memenuhi kriteria lengkap dari gangguan jiwa lain.

 


Terapi
­Pengobatan yang efektif adalah kombinasi psikoterapi, farmakoterapi, dan pendekatan suportif.

 

Pendekatan psikoterapi utama adalah terapi kognitif perilaku, suportif, dan berorientasi tilikan. Dua obat utama adalah buspiron dan benzodiazepin.

 

 

Gangguan Panik

Definisi
Gangguan panik adalah gangguan yang ditandai dengan terjadinya serangan panik yang spontan dan tidak diperkirakan.

 
Etiologi
Terdapat hipotesis yang melibatkan disregulasi sistem saraf perifer dan pusat di dalam patofisiologi gangguan panik. Dilaporkan adanya peningkatan tonus simpatik pada beberapa orang dengan gangguan panik. Sistem neurotransmiter utama yang terlibat adalah norepinefrin, serotonin, dan gamma-aminobutyric acid (GABA).

 

Dalam lingkungan penelitian telah ditemukan zat penyebab panik (seringkali disebut panikogen) yang menyebabkan stimulasi respirasi dan pergeseran keseimbangan asam basa.

 

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa infus laktat, PET scan, dan prolaps valvula mitral ditemukan pada pasien dan diperkirakan menjadi penyebab/faktor biologik pada gangguan ini.

 

Ada petunjuk kuat faktor genetik ikut berperan. Angka prevalensi tinggi pada anak dengan orang tua yang menderita gangguan panik. Demikian juga pada kembar monozigot.

 

Teori psikososial menyatakan bahwa panik terjadi karena kegagalan mekanisme pertahanan terhadap impuls yang menyebabkan kecemasan.

 

Manifestasi Klinis

Serangan sering dimulai dengan periode gejala yang meningkat dengan cepat selama 10 menit. Pasien biasanya tidak mampu menyebutkan sumber ketakutannya. Pasien seringkali mencoba meninggalkan situasi di mana ia berada untuk meminta bantuan. Serangan biasanya berlangsung selama 20-30 menit dan jarang lebih lama dari 1 jam. Gejala mungkin menghilang dengan cepat atau bertahap. Di antara serangan ia mungkin memiliki kecemasan yang lebih dahulu terhadap serangan lain.

 

Serangan panik adalah periode kecemasan atau ketakutan yang kuat dan relatif singkat (biasanya kurang dari satu tahun), yang disertai gejala somatik tertentu. Gangguan panik sering berlanjut menjadi agorafobia dengan serangan panik.

 

Gejala somatik saat panik:

a. Palpitasi,

b. Berkeringat,

c. Gemetar atau berguncang,

d. Rasa sesak napas atau tertahan,

e. Perasaan tercekik,

f. Nyeri dada atau perasaan tidak nyaman,

g. Mual atau gangguan perut,

h. Pusing, bergoyang, melayang, atau pingsan,

i. Derealisasi atau depersonalisasi,

j. Ketakutan kehilangan kendali atau menjadi gila,

k. Rasa takut mati,

l. Parestesi (mati rasa atau sensasi geli),

m. Menggigil atau perasaan panas.

 

Perjalanan Penyakit dan Prognosis

Gangguan panik biasanya muncul dalam masa remaja akhir atau masa dewasa awal. Biasanya kronik dan bervariasi tiap individu. Depresi dapat mempersulit. Walaupun pasien tidak cenderung berbicara tentang ide bunuh diri, mereka cenderung berisiko tinggi.

 

Pasien dengan fungsi pramorbid yang baik dan lama gejala singkat cenderung memiliki prognosis yang baik.

 

Diagnosis

Untuk diagnosis pasti, harus ditemukan adanya beberapa kali serangan dalam masa kira-kira satu bulan:

a. Pada keadaan-keadaan di mana sebenarnya secara obyektif tidak ada bahaya,

b. Tidak terbatas pada situasi yang telah diketahui atau yang dapat diduga sebelumnya,

c. Dengan keadaan yang relatif bebas dari gejala-gejala ansietas pada periode di antara serangan-serangan panik (meskipun demikian, umumnya dapat terjadi juga ansietas antisipatorik, yaitu ansietas yang terjadi setelah membayangkan sesuatu yang akan terjadi).

 
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan meliputi farmakoterapi dan psikoterapi. Perlu diketahui bahwa gejala panik baru tampak berkurang setelah minum obat 2-4 minggu. Psikoterapi meliputi terapi kognitif dan perilaku. Terapi psikososial lain yang dapat digunakan adalah terapi keluarga dan psikoterapi berorientasi tilikan. Perhatian khusus ditujukan kepada makna yang tak disadari terhadap panik.