Category Archives: Terapi Farmakologis Psikiatri

Obat Antipanik

Dalam membicarakan obat antipanik yang menjadi obat acuan adalah imipramin.

 

Penggolongan Obat Antipanik

o Obat antipanik trisiklik

Contoh: imipramin, klomipramin

o Obat antipanik benzodiazepin

Contoh: alprazolam

o Obat antipanik RIMA (Reversible Inhibitors of Monoamine oxydase-A)

Contoh: moklobemid

o Obat antipanik SSRI

Contoh: sertralin, fluoksetin, paroksetin, fluvoksamin.

 

Efek Samping

Efek samping obat antipanik golongan trisiklik dapat berupa:

o Efek antihistamin (sedasi, rasa mengantuk, kewaspadaan berkurang, kinerja psikomotor menurun, kemampuan kognitif menurun, dan lain-lain)

o Efek antikolinergik, (mulut kering, retensi urin, penglihatan kabur, konstipasi, sinus takikardi, dan lain-lain)

o Efek antiadrenergik alfa (perubahan EKG, hipotensi ortostatik)

o Efek neurotoksis (tremor halus, kejang, agitasi, insomnia).

 

Tidak boleh memberikan obat dalam jumlah besar kepada pasien gangguan panik yang disertai gejala depresi, di mana pasien seringkali sudah memiliki pikiran bunuh diri.

 

Cara Penggunaan

Semua jenis obat antipanik sama efektifnya dalam penanggulangan sindrom panik pada taraf sedang dan stadium awal.

 

Mulai dengan dosis rendah, secara perlahan-lahan dosis dinaikkan dalam beberapa minggu. Dosis efektif biasanya dicapai dalam waktu 2-3 bulan.

 

Dosis efektif untuk alprazolam umumnya sekitar 4 mg/hari, kadang-kadang 6 mg/hari. Untuk golongan trisiklik, dosis efektif biasanya sekitar 150-200 mg/hari.

 

Imipramin atau klomipramin dapat dimulai dengan 25-50 mg/hari (dosis tunggal malam hari), dinaikkan secara bertahap dengan penambahan 25 mg/hari dengan selang waktu beberapa hari sampai minggu, sampai tercapai dosis efektif (biasanya sekitar 150-200 mg/ hari). Dosis efektif dipertahankan sekitar 6 bulan, kemudian dikurangi perlahan-lahan sampai 1-2 bulan.

 

Batas lamanya pemberian obat umumnya selama 6-12 bulan, kemudian dihentikan secara bertahap selama 3 bulan bila keadaan pasien sudah memungkinkan (bebas gejala dalam kurun waktu tertentu).

 

Dalam waktu 3 bulan setelah bebas obat, sekitar 75% pasien menunjukkan gejala kambuh. Dalam keadaan ini, pemberian obat dengan dosis semula diulangi selama 2 tahun. Pengobatan gangguan panik biasanya berjangka waktu lama.

 

Obat Anti Obsesi-Kompulsi

Dalam membicarakan obat anti obsesi- kompulsi yang menjadi obat acuan adalah klomipramin.

 

Penggolongan Obat Anti Obsesi-Kompulsi

o Obat anti obsesi-kompulsi trisiklik

Contoh: klomipramin

o Obat anti obsesi-kompulsi SSRI.

Contoh: sertralin, paroksetin, fluvoksamin, fluoksetin.

 

Efek Samping

Efek samping obat anti obsesi-kompulsi, sama seperti obat antidepresi trisiklik, dapat berupa:

o Efek antihistamin (sedasi, rasa mengantuk, kewaspadaan berkurang, kinerja psikomotor menurun, kemampuan kognitif menurun, dan lain-lain)

o Efek antikolinergik (mulut kering, keluhan lambung, retensi urin, disuria, penglihatan kabur, konstipasi, gangguan fungsi seksual, sinus takikardi, dan lain-lain).

o Efek antiadrenergik alfa (perubahan EKG, hipotensi ortostatik)

o Efek neurotoksis (tremor halus, kejang epileptik, agitasi, insomnia)

 

Efek samping yang tidak berat umumnya dapat ditoleransi oleh pasien dan akan menghilang dalam waktu sekitar 3 minggu bila tetap diberikan datam dosis yang sama.

 

Cara Penggunaan

Sampai sekarang obat pilihan untuk gangguan obsesi kompulsi adalah klomipramin. Terhadap mereka yang peka dapat dialihkan ke golongan SSRI di mana relatif efek samping lebih aman.

 

Obat dimulai dengan dosis rendah. Klomipramin mulai dengan 25-50 mg/hari (dosis tunggal malam hari), dinaikkan secara bertahap dengan penambahan 25 mg/hari sampai tercapai dosis efektif (biasanya sampai 200-300 mg/hari).

 

Dosis pemeliharaan umumnya agak tinggi, meskipun bersifat individual, klomipramin sekitar 100-200 mg/hari dan sertralin 100 mg/hari.

 

Sebelum dihentikan, lakukan pengurangan dosis secara tapering off.

Meskipun respons dapat terlihat dalam 1-2 minggu, untuk mendapat hasil yang memadai setidaknya diperlukan waktu 2-3 bulan dengan dosis antara 75-225 mg/hari.

 

Obat Antiinsomnia

Obat antiinsomniamempunyai beberapa sinonim, antara lain hipnotis dan somnifasien.

 

Dalam membicarakan obat antiinsomniayang menjadi obat acuan adalah fenobarbital.

Efek Samping

o Efek samping: supresi susunan saraf pusat (SSP) pada saat tidur.

o Hati-hati pada pasien dengan insufisiensi pernapasan; uremia, dan gangguan fungsi hati, karena pada keadaan tersebut terjadi penurunan fungsi SSP sehingga dapat memudahkan timbulnya koma. Pada pasien usia lanjut dapat terjadi sedasi berlebihan sehingga risiko jatuh dan trauma menjadi besar, yang sering terjadi adalah fraktur panggul.

o Penggunaan lama obat golongan benzodiazepin dapat terjadi disinhibiting effect yang menyebabkan rage reaction (perilaku menyerang dan ganas).

 

Cara Penggunaan

Pemilihan:

o Untuk initial insomnia: sulit masuk ke dalam proses tidur, digunakan obat yang bersifat sleep inducing antiinsomnia, yaitu golongan benzodiazepin (short acting), misalnya pada gangguan ansietas

o Untuk delayed insomnia: proses tidur terlalu cepat berakhir dan sulit masuk kembali ke dalam proses tidur selanjutnya, digunakan obat yang bersifat prolong patent phase antiinsomnia, yaitu golongan heterosiklik antidepresan (trisiklik dan tetrasiklik), misalnya pada gangguan depresi

o Untuk broken insomnia: siklus proses tidur yang normal tidak utuh dan terpecah-­pecah menjadi beberapa bagian (multiple awakening), digunakan obat yang bersifat sleep maintaining antiinsomnia, yaitu golongan fenobarbital atau golongan benzodiazepin (long acting)

 

Pengaturan dosis:

o Pemberian tunggal dosis anjuran 15-30 menit sebelum pergi tidur

o Dosis awal dapat dinaikkan sampai mencapai dosis efektif dan dipertahankan sampai 1­2 minggu, kemudian secepatnya tapering off, untuk mencegah timbulnya rebound dan toleransi obat

o Pada usia lanjut dosis harus lebih kecil dan peningkatan dosis perlahan-lahan

o Pemakaian obat antiinsomniasebaiknya sekitar 1-2 minggu saja, tidak lebih dari 2 minggu, agar risiko ketergantungan kecil.

 

Kontraindikasi

o Sleep apnoe syndrome

o Gagal jantung kongestif

o Penyakit saluran penapasan kronik

 

Penggunaan benzodiazepin pada wanita hamil berisiko teratogenik, khususnya trimester pertama. Obat ini juga diekskresikan melalui ASI.

 

Obat Antiansietas

Obat antiansietas mempunyai beberapa sinonim, antara lain psikoleptik, transquilizer mi­nor, dan anksiolitik.

 

Dalam membicarakan obat antiansietas yang menjadi obat acuan adalah diazepam atau klordiazepoksid.

 

Efek Samping

Efek samping obat antiansietas dapat berupa:

o Sedasi (rasa mengantuk, kewaspadaan berkurang, kinerja psikomotor menurun, kemampuan kognitif melemah)

o Relaksasi otot (rasa lemas, cepat lelah, dan lain-lain)

o Potensi menimbulkan ketergantungan lebih rendah dari narkotika oleh karena at thera­peutic dose they have !ow reinforcing properties

o Potensi menimbulkan ketergantungan obat disebabkan oleh efek obat yang masih dapat dipertahankan setelah dosis terakhir berlangsung sangat singkat.

o Penghentian obat secara mendadak, akan menimbulkan gejala putus obat (rebound phenomenon); pasien menjadi iritabel, bingung, gelisah, insomnia, tremor, palpitasi, keringat dingin, konvulsi, dan lain-lain.

 

Cara Penggunaan

Beberapa spesifikasi:

o Klobazam untuk pasien dewasa dan usia lanjut yang ingin tetap aktif

o Lorazepam untuk pasien-pasien dengan kelainan fungsi hati atau ginjal

o Alprazolam efektif untuk ansietas antisipatorik, mula kerja lebih cepat, dan mempunyai komponen efek antidepresan

o Sulpirid-50, efektif untuk meredakan gejala somatik dari sindrom ansietas dan paling kecil risiko ketergantungan obat.

 

Mulai dengan dosis awal (dosis anjuran) kemudian naikkan dosis setiap 3-5 hari sampai mencapai dosis optimal. Dosis ini dipertahankan 2-3 minggu, kemudian diturunkan 1/8 x dosis awal setiap 2-4 minggu sehingga tercapai dosis pemeliharaan. Bila kambuh dinaikkan lagi dan bila tetap efektif pertahankan 4-8 minggu. Terakhir lakukan tapering off.

Pemberian obat tidak lebih dari 1-3 bulan pada sindrom ansietas yang disebabkan faktor eksternal.

 

Kontraindikasi

Pasien dengan hipersensitif terhadap benzodiazepin, glaukoma, miastenia gravis, insufisiensi paru kronik, penyakit ginjal, atau hati kronik.

 

Pada pasien usia lanjut dan anak, dapat terjadi reaksi yang berlawanan (paradoxal reaction) berupa kegelisahan, iritabilitas, disinhibisi, spastisitas otot meningkat, dan gangguan tidur.

 

Ketergantungan relatif lebih sering terjadi pada individu dengan riwayat peminum alkohol, penyalahgunaan obat, atau unstable personalities. Untuk mengurangi risiko ketergantungan obat, maksimum lama pemberian 3 bulan (100 hari) dalam rentang dosis terapeutik.

 

Obat Antimania

Obat antimania mempunyai beberapa sinonim, antara lain mood modulators, mood stabi­lizers, dan antimanik. Dalam membicarakan obat antimania yang menjadi obat acuan adalah litium karbonat.
Profil Efek Samping

Perlu diperhatikan bahwa efek samping litium berhubungan erat dengan dosis dan kondisi fisik pasien.

o Gejala efek samping yang dini pada pengobatan jangka lama:

o Mulut kering, haus, gangguan saluran cerna (mual, muntah, diare, feses lunak), kelemahan otot, poliuria, tremor halus (lebih nyata pada pasien usia lanjut dan penggunaan bersamaan dengan neuroleptik dan antidepresan)

o Tidak ada efek sedasi dan gangguan ekstrapiramidal.

o Efek samping lain: hipotiroidisme, peningkatan berat badan, perubahan fungsi tiroid (penurunan kadar tiroksin dan peningkatan kadar TSH), edema tungkai, leukositosis, rasa logam, gangguan daya ingat, dan konsentrasi pikiran.

o Gejala intoksikasi: (serum litium > 1,5 mEq/l)

o Gejala dini: muntah diare, tremor kasar, mengantuk, konsentrasi pikiran menurun , bicara sulit, mengucapkan kata tidak jelas dan gaya berjalan tidak stabil

o Dengan semakin beratnya intoksikasi terdapat gejala: kesadaran menurun (confu­sional state dapat sampai koma dengan hipertoni otot dan kedutan), oliguria, kejang-­kejang

o Penting sekali pengawasan kadar litium dalam darah (mEq/1)

o Faktor predisposisi terjadinya intoksikasi litium:

o Demam (berkeringat berlebihan}

o Diet rendah garam (pasien dengan hipertensi)

o Diare dan muntah-muntah

o Diet untuk menurunkan berat badan

o Pemakaian bersama diuretik, antireumatik obat antiinflamasi non steroid

o Tindakan mengatasi intoksikasi litium :

o Mengurangi faktor predisposisi

o Diuresis paksa dengan garam fisiologis (NaCl 0,9 %) diberikan secara intravena sebanyak 10 ml (1 ampul), bila perlu hemodialisis.

o Tindakan pencegahan intoksikasi litium dengan edukasi tentang faktor predisposisi, minum secukupnya (sekitar 2.500 ml per hari), bila berkeringat dan diuresis banyak harus diimbangi minum lebih banyak, mengenai gejala dini intoksikasi, dan kontrol rutin.

 

Cara Penggunaan

Pada mania akut diberikan haloperidol im atau tablet litium karbonat.

 

Pada gangguan afektif bipolar dengan serangan-serangan episodik mania/depresi diberi litium karbonat sebagai obat profilaksis. Dapat mengurangi frekuensi, berat, dan lamanya suatu kekambuhan.

 

Bila penggunaan litium karbonat tidak memungkinkan dapat digunakan karbamazepin, Obat ini terbukti ampuh untuk meredakan sindrom mania akut dan profilaksis serangan sindrom mania/depresi pada gangguan afektif bipolar.

 

Pada gangguan afektif unipolar, pencegahan kekambuhan dapat juga dengan obat antidepresi SSRI yang lebih ampuh daripada litium karbonat.

 

Penggunaan litium karbonat mulai dengan dosis 250-500 mg/hari, diberikan 1-2 kali sehari, dinaikkan 250 mg/hari setiap minggu. Serum litium diukur setiap minggu sampai diketahui kadar berefek klinis terapeutik (0,8-1,2 mEq/l). Biasanya dosis efektif dan optimal berkisar 1.000-1.500 mg/hari. Dipertahankan sekitar 2-3 bulan, kemudian diturunkan menjadi dosis pemeliharaan. Dosis awal harus lebih rendah pada pasien usia lanjut atau pasien dengan gangguan fisik yang mempengaruhi fungsi ginjal.

 

Pengukuran serum dilakukan dengan mengambil sampel darah pagi hari, yaitu sebelum makan obat dan sekitar 12 jam setelah dosis petang.

 

Kontraindikasi

Wanita hamil

 

Obat Antidepresan

Obat antidepresan mempunyai beberapa sinonim, antara lain timoleptik atau psychic ener­gizers. Dalam membicarakan obat antidepresi yang menjadi obat acuan adalah amitriptilin.

 
Efek Samping
Efek samping yang dapat diakibatkan oleh obat antidepresan antara lain:

1. Sedasi (rasa mengantuk, kewaspadaan berkurang, kinerja psikomotor menurun, kemampuan kognitif menurun, dan lain-lain)

2. Efek antikolinergik (mulut kering, retensi urin, penglihatan kabur, konstipasi, sinus takikardi, dll)

3. Efek antiadrenergik alfa (perubahan EKG, hipotensi)

4. Efek neurotoksis (tremor halus, gelisah, agitasi, insomnia)

 

Efek samping yang tidak berat biasanya berkurang setelah 2-3 minggu bila tetap diberikan dengan dosis yang sama.

 

Pada keadaan overdosis/intoksikasi trisiklik dapat terjadi Atropine Toxic Syndrome dengan gejala eksitasi susunan saraf pusat, hipertensi, hiperpireksia, konvulsi, toxic con­fusional state (confusion, delirium, disorientation). Tindakan untuk keadaan ini:

1. Bilas lambung

2. Diazepam 10 mg, im untuk mengatasi konvulsi

3. Prostigmin 0,5-1,0 mg im untuk mengatasi efek antikolinergik (dapat diulangi setiap 30­-45 menit sampai gejala mereda)

4. Monitoring EKG untuk deteksi kelainan jantung.

 

Cara Penggunaan

Pemilihan jenis obat berdasarkan toleransi pasien terhadap efek samping dan penyesuaian efek samping terhadap kondisi pasien (usia, penyakit fisik tertentu, jenis depresi).

 

Untuk sindrom depresi ringan dan sedang yang datang berobat jalan, pemilihan sebaiknya mengikuti urutan:

o Langkah 1 : golongan SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitor)

o Langkah 2 : golongan trisiklik

o Langkah 3 : golongan tetrasiklik, golongan atypical, golongan MAOI (Mono Amine Oxydase Inhibitor) reversibel

 

Litium digunakan pada unipolar recurrent depression. Untuk mencegah kekambuhan digunakan litium 0,4-0,8 mEq/l (profilaksis).

 

Kontraindikasi

o Penyakit jantung koroner

o Glaukoma, retensi urin, hipertensi prostat, gangguan fungsi hati, epilepsi

o Pada penggunaan litium, kelainan fungsi jantung, ginjal, dan kelenjar tiroid.

 

Obat Antipsikosis

Obat antipsikosis mempunyai beberapa sinonim, antara lain neuroleptik dan tranquilizer mayor. Dalam membicarakan obat antipsikosis, yang menjadi obat acuan adalah klorpromazin



Profil Efek Samping
Beberapa efek samping yang dapat ditimbulkan oleh obat antipsikosis adalah:

o Sedasi dan inhibisi psikomotor

o Gangguan otonom (hipotensi, antikolinergik/parasimpatolitik, berupa mulut kering, kesulitan miksi dan defekasi, hidung tersumbat, mata kabur, dan tekanan intraokutar meninggi, gangguan irama jantung .

o Gangguan ekstrapiramidal (distonia akut, akatisia, sindrom parkinson: tremor, bradikinesia rigiditas)

o Gangguan endrokrin (amenore, ginekomastia), biasanya untuk pemakaian jangka

 

Efek samping yang ireversibel: tardive dyskinesia (gerakan berulang involunter pada: lidah, wajah, mulut/rahang dan anggota gerak, dimana waktu tidur gejala tersebut menghilang). Biasanya terjadi pada penggunaan jangka panjang dan pasien lanjut usia. Bila terjadi, obat antipsikosis harus dihentikan perlahan-lahan, bisa dicoba pemberian obat reserpin 2,5 mg/hari (dopamine depleting agent). Obat pengganti antipsikosis yang paling baik adalah klozapin 5-100 mg/hari.

 

Pada pemakaian obat jangka panjang secara periodik harus dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk deteksi dini perubahan akibat efek samping obat.

 

Dapat terjadi sindrom neuroleptik maligna (SNM) yang dapat mengancam kehidupan terutama pada pasien dengan kondisi dehidrasi, kelelahan, atau malnutrisi. SNM ditandai dengan hiperpireksia, rigiditas, inkontinensia urin, dan perubahan status mental dan kesadaran. Apabila terjadi atasi dengan penghentian obat, perawatan suportif, dan agonis dopamin (bromokriptin 3 x 7,5-60 mg/hari, L-dopa 2 x 100 mg atau amantadin 200 mg/hari).

 
Cara Penggunaan
Dalam memilih pertimbangkan gejala psikosis yang dominan dan efek samping obat. Contohnya klorpromazin dan tiaridazin yang efek samping sedatifnya kuat terutama digunakan untuk sindrom psikosis dengan gejala dominan gaduh gelisah, hiperaktif, sulit tidur, kekacauan pikiran, perasaan, dan perilaku, dan lain-lain. Sedangkan trifluoperazin, flufenazin, dan haloperidol yang memiliki efek sedatif lemah digunakan untuk sindrom psikosis dengan gejala dominan apatis, menarik diri, perasaan tumpul, kehilangan minat dan inisiatif, hipoaktif, waham, halusinasi, dan lain-lain.

 

Obat dimulai dengan dosis awal sesuai dengan dosis anjuran. Dinaikkan dosisnya setiap 2-3 hari sampai mencapai dosis efektif (mulai timbul peredaan gejala). Evaluasi dilakukan tiap dua minggu dan bila perlu dosis dinaikkan, sampai mencapai dosis optimal. Dosis ini dipertahankan sekitar 8-12 minggu (stabilisasi), kemudian diturunkan setiap dua minggu, sampai mencapai dosis pemeliharaan. Dipertahankan 6 bulan sampai 2 tahun (diselingi masa bebas obat 1-2 hari/minggu). Kemudian tapering off, dosis diturunkan tiap 2-4 minggu dan dihentikan.

 

Obat antipsikosis long acting (flufenazin dekanoat 25 mg/ml atau haloperidol dekanoat 50 mg/ml im, untuk 2-4 minggu) sangat berguna untuk pasien yang tidak mau atau sulit teratur makan obat ataupun yang tidak efektif terhadap medikasi oral. Dosis mulai dengan 0,5 ml setiap 2 minggu pada bulan pertama, kemudian baru ditingkatkan menjadi l ml setiap bulan.

 

Penggunaan klorpromazin injeksi sering menimbulkan hipotensi ortostatik. Bila terjadi diatasi dengan injeksi nor-adrenalin (effortil im). Efek samping ini dapat dicegah dengan tidak langsung bangun setelah suntik atau tiduran selama 5-10 menit.

 

Haloperidol sering menimbulkan gejala ekstrapiramidal, maka diberikan tablet triheksifenidil (Artane®) 3-4 x 2 mg/hari atau sulfas atropin 0,5-0,75 mg im.

 
Kontraindikasi
Kontraindikasi untuk obat ini adalah penyakit hati, penyakit darah, epilepsi, kelainan jantung, febris yang tinggi, ketergantungan alkohol, penyakit susunan saraf pusat, dan gangguan kesadaran.