Category Archives: Gastroenterologi Anak

Konstipasi

Definisi
Konstipasi adalah kesulitan atau kelambatan pasase feses yang menyangkut konsistensi tinja dan frekuensi berhajat.

 
Patofisiologi
Dipengaruhi oleh diet, komposisi tinja, motilitas saluran cerna, dan obstruksi mekanis. Agar terjadi defekasi normal, anak harus merasakan tinja di dalam rektum, kemudian diafragma dan otot abdomen akan berkontraksi. Sfingter anus harus berelaksasi sebagai respons terhadap dorongan bolus tinja. Kelainan komponen-komponen yang mengatur defekasi normal akan menimbulkan konstipasi

 
Manifestasi Klinis
Mula timbul dan lamanya konstipasi:

o Konstipasi akut

Lama konstipasi : 1 – 4 minggu

Penyebab tersering : infeksi virus, obstruksi mekanis, dehidrasi, dan botulism infantil

o Konstipasi kronik

Lama konstipasi : lebih dari 1 bulan

Penyebab : biasanya fungsional, penyakit Hirschsprung

 

Harus dibedakan penyebab konstipasi fungsional ataukah mekanis (Hirschsprung atau lainnya). Yang khas pada Hirschsprung berupa gangguan pasase feses spontan di mana feses belum keluar dalam 48 jam setelah lahir atau lebih. Setiap saat dapat terjadi diare pada Hirschsprung akibat enterokolitis apalagi bila disertai dengan CSBS (Contaminated Small Bowel Syndrome). Konstipasi fungsional biasanya mulai setelah anak berumur lebih dari 2 tahun. Mula-mula keluar feses yang besar, namun karena sedemikian besar sehingga menghalangi atau sukar keluar. Pemakaian obat antikolinergik atau opiat dapat menyebabkan konstipasi akibat perangsangan terhadap sistem persarafan. Bila penyebabnya hipotiroidisme, dapat ditemukan hoarse cry dan hernia umbilikalis yang terjadi perlahan di sarnping konstipasi. Pada umur yang lebih lanjut dapat terjadi poliuri, polidipsi, atau fissura ani.

 

Pada anamnesis makanan ditanyakan apakah jumlah yang dimakan mengandung banyak serat, kebiasaan latihan fisik, saat dan posisi defekasi, adakah gangguan emosi pada penderita, serta adakah riwayat konstipasi pada anggota keluarga yang lain.

 

Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada pemeriksaan fisis:

o Bentuk feses

o Adakah keterlambatan pertumbuhan, dihubungkan dengan penyebab organik atau hipotiroidisme

o Pemeriksaan neurologis umum, dihubungkan dengan adanya inervasi sfingter ani atau striktur

o Adakah distensi abdomen, prominen pada Hirschsprung atau konstipasi fungsional yang lama

o Pemeriksaan rektal dapat ditemukan lesi stenosis atau dugaan Hirschsprung berupa rektum yang kosong dan pendek dan bila jari-jari dikeluarkan keluar gush yang tipik dari cairan dan gas. Pada konstipasi fungsional dapat diraba masa feses yang besar di bawah sphingter ani. Perhatikan adanya fissura in-ano atau lesi perianal lain.

 

Pemeriksaan Penunjang

o Pemeriksaan laboratorium: urin lengkap (terutama pada konstipasi kronik), dan pemeriksaan kemungkinan ke arah penyakit spesifik seperti hipotiroid, hiperkalsemi, dll.

o Barium enema, pada dugaan adanya lesi obstruksi distal.

o Manometri rektal, perlu untuk diagnosis Hirschsprung atau ultra short segment namun positif atau negatif palsu dapat terjadi pada bayi.

o Biopsi, pada Hirschsprung dapat ditemukan tidak adanya sel-sel ganglion, aktivitas kolinesterase meningkat.

 

Penatalaksanaan

1. Pengobatan kausal, pada Hirschsprung diperlukan tindakan bedah, sedangkan pada hipotiroidisme dan masalah tubular ginjal berupa terapi spesifik.

2. Simtomatik, terutama pada konstipasi fungsional ringan, berupa laksans seperti min­eral oil, laktulosa, natrium sulfosuksinat dan preparat senna pada kasus berat.

3. Konservatif untuk menjadikan feses lembek, berupa dietary fibre.

4. Kebiasaan buang air besar setiap hari atau ke toilet teratur 2 kali sehari dan lebih baik sesudah makan.

5. Sikap yang baik berupa fleksio pada paha untuk menaikkan tekanan intraabdomen dan evakuasi mudah tercapai dengan mengistirahatkan kaki.

6. Untuk fissura in-ano perlu salep anestesi dengan kortikostreroid.

7. Atasi penyebab psikologis. .

Sakit Perut

Definisi
Sakit perut merupakan gejala umum, dapat berasal dari lesi di dalam abdomen atau di luar abdomen (reffered pain).

 

Sakit perut berulang atau akut bersumber pada visera abdomen, organ lain di luar abdo­men, lesi pada spinal cord, gangguan metabolik, atau psikosomatik.

 

Etiologi

Penyebab sakit perut di Indonesia (Halimun dkk, 1983)

 

Patogenesis

Mekanisme timbulnya sakit perut yang organik, ialah :

1. Gangguan vaskular: emboli/trombus, ruptur, oklusi akibat torsi atau penekanan.

2. Peradangan.

3. Gangguan pasase/obstruksi organ yang berbentuk pembuluh, baik yang terdapat di dalam rongga peritoneal ataupun di retroperitoneal.

4. Penarikan, peregangan, dan pembentangan peritoneum viseralis.

 

Manifestasi Klinis

Pada bayi dan anak tergantung umur (Halimun, 1980) :

o 0 – 3 bulan : umumnya dengan muntah.

o 3 bulan – 2 tahun : muntah, tiba-tiba menjerit, menangis tanpa ada trauma.

o 2 – 5 tahun : sudah dapat menyatakan sakit perut, tetapi lokalisasi belum tepat

o di atas 5 tahun : dapat menerangkan sifat dan tempat yang dirasakan sakit.

Gejala sakit perut dibedakan dari waktu timbul, frekuensi, lokalisasi, penjalaran, lama, sifat, dan faktor yang menambah/mengurangi rasa sakit, serta gejala yang mengiringi.

 

Bila penyebab adalah kelainan organik, asal rasa sakit diketahui dengan memperhatikan:

1. Pembagian embrional traktus gastrointestinal berdasarkan vaskularisasi dan persarafannya menjadi fore gut, mid gut, dan hind gut yang mencerminkan letak sakit perut di bagian atas, tengah, dan bawah (Chamberlain & Reece, 1978).

2. Sakit yang berasal dari spasme otot polos biasanya berupa kolik yang sukar ditentukan lokasinya dengan tepat dan tidak dipengaruhi oleh batuk atau penekanan abdomen.

3. Sakit yang berasal dari iritasi peritoneal akan terasa di tempat iritasi, menetap, dan menghambat bila batuk atau ditekan perutnya.

4. Reffered pain dapat disebabkan oleh kelainan organ dalam rongga toraks karena baik organ di rongga toraks maupun di rongga abdomen sama-sama dipersarafi oleh n. vagus. Ditandai dengan gerakan pernafasan yang lemah sesisi.

 

Sakit Perut Berulang

Merupakan serangan sakit perut berulang sekurang-kurangnya 3 kali dalam jangka waktu 3 bulan sehingga aktivitasnya terganggu (Apley, 1975). Dipikirkan berhubungan erat dengan emosi.

 

Diagnosis

Pemeriksaan yang terbaik adalah pada waktu serangan.

1. Anamnesis yang baik dan teliti mengenai: rasa sakit, pola defekasi, muntah, pola kencing, siklus haid, penyakit sebelumnya, gangguan psikis. Tanda kedaruratan perut; sakit mendadak, kolik, tempat tertentu, jauh dari umbilikus, sakit bertambah bila bergerak, muntah hijau atau fekal.

2. Pemeriksaan fisik harus lengkap dengan titik berat pada abdomen. Bentuk perut diamati adanya asimetri, kembung, skapoid, atau gambaran usus; adanya ketegangan dinding perut sebelum/sesudah rangsang, massa tumor. Bagaimana bising usus seluruh perut. Perlu dicari tanda akut abdomen seperti dinding abdomen kaku, defence musculaire, nyeri tekan, nyeri lepas. Pada pemeriksaan di luar abdomen dicari kemungkinan hernia strangulata, pneumonia/infeksi traktus respiratorius atas atau bawah. Pemeriksaan colok dubur dilakukan untuk memeriksa perdarahan serta penonjolan atau nyeri cavum Douglasi.

3. Pemeriksaan laboratorium dan penunjang

  • Pemeriksaan rutin: urin, darah, tinja
  • Lanjutkan dengan pemeriksaan khusus: biakan urin, ureum/kreatinin atau IVP, bila terdapat kelainan
  • Perlu dicari sindrom malabsorbsi dan biakan tinja, bila terdapat diare
  • Foto polos abdomen posisi tegak maupun terlentang, terutama bila ada dugaan obstruksi intestinal
  • Foto toraks, pada keadaan sakit berat
  • Pada keadaan tertentu perlu pemeriksaan barium meal, barium enema, endoskopi, USG, EMG, EKG, EEG, scanning, dan konsultasi psikologis psikiatri

 
Penatalaksanaan
1. Tentukan apakah memerlukan tindakan bedah/tidak. Pada kedaruratan perut diperlukan tindakan bedah dan anak harus dirawat.

2. Bila tidak ditemukan kedaruratan perut, cari dan atasi penyebab sakit perut. Bila anak sangat kesakitan, berikan sedatif atau analgetik.

 

Muntah

Definisi
Muntah adalah pengeluaran isi lambung secara eksplusif melalui mulut dengan bantuan kontraksi otot-otot perut. Perlu dibedakan dengan regurgitasi, ruminasi, ataupun refluks esofagus. Regurgitasi adalah makanan yang dikeluarkan kembali ke mulut akibat gerakan antiperistaltik esofagus. Ruminasi yaitu pengeluaran makanan secara sadar untuk dikunyah kemudian ditelan kembali. Sedangkan refluks esofagus merupakan kembalinya isi lambung ke dalam esofagus dengan cara pasif yang dapat disebabkan oleh hipotoni sfingter esofagus bagian bawah, posisi abnormal sambungan esofagus dengan kardia, atau pengosongan isi lambung yang lambat.

 
Etiologi
Dalam usaha mencari etiologi, muntah pada anak harus dibedakan berdasarkan umur dan letak kelainan (saluran cerna, luar saluran cerna, atau bukan organik). Bila diduga berasal dari saluran cerna harus dibedakan pula apakah bersifat obstruksi atau non obstruksi. Hal ini sangat membantu dalam menegakkan diagnosis dan merencanakan tata lakasana lebih lanjut.

 

Patofisiologi

Muntah merupakan respons refleks simpatis terhadap berbagai rangsangan yang melibatkan aktivitas otot perut dan pernafasan. Pada saat muntah terjadi respons yang berlawanan

 

Proses muntah dibagi menjadi 3 fase berbeda, ysitu: nausea, retching, dan emesis (ekspulsif).

1. Nausea merupakan sensasi psikis yang dapat ditimbulkan akibat rangsangan pada organ dalam, labirin, atau emosi dan tidak selalu diikuti oleh retching atau muntah.

2. Retching merupakan fase di mana terjadi gerak nafas spasmodik dengan glotis tertutup, bersamaan dengan adanya usaha inspirasi dari otot dada dan diafragma sehingga menimbulkan tekanan intratoraks yang negatif.

3. Emesis (ekspulsi) terjadi bila fase retching mencapai puncaknya yang ditandai dengan kontraksi kuat otot perut, diikuti dengan bertambah turunnya diafragma, disertai dengan penekanan mekanisme antirefluks. Pada fase ini, pilorus dan antrum berkontraksi, fundus dan esofagus relaksasi, dan mulut terbuka.

 

Manifestasi Klinis

Perlu dibedakan antata muntah medis dengan muntah yang memerlukan pertolongan bedah segera. Tanda akut abdomen seperti nyeri perut yang mendahului muntah dan/atau berlangsung selama lebih dari 3 jam, muntah bercampur empedu, dan distensi abdomen merupakan petunjuk perlunya pertolongan bedah segera. Muntah dapat merupakan manifestasi awal dari berbagai penyakit. Oleh karena itu pendekatan untuk identifikasi masalah sangat penting, yang meliputi :

1. Usia dan jenis kelamin

2. Tentukan terlebih dahulu apa yang dihadapi: muntah/yang lain

3. Bagaimana keadaan gizi anak

4. Adakah faktor predisposisi

5. Apakah ada peyakit yang menyerang anak secara interkuren.

6. Bagaimana bentuk (isi) muntahan, apakah seperti susu/makanan asal (tanda isi dari esofaaus), atau telah merupakan susu yang telah menggumpat (isi lambung) atau mengandung empedu (isi duodenum), atau adakah darah.

7. Apakah saat muntah berhubungan dengan saat makan / minum.

8. Apakah perubahan posisi tubuh mempengaruhi muntah

9. Informasi diet: kualitas, kuantitas, dan frekuensi makan (terutama untuk anak kecil).

10. Bagaimana teknik pemberian minum.

11. Bagaimana kondisi psikososial di rumah.

Pemeriksaan fisik dilakukan sebagaimana lazimnya.

 

Pemeriksaan Penunjang

Sesuai keperluan, seperti analisis urin dan darah, foto polos abdomen maupun dengan kontras, USG, pielografi intra vena atau sistogram, endoskopi dengan biopsi, atau monitor­ing pH esofagus. Pemeriksaan psikiatri bila dijumpai kelainan tingkah laku.

 
Komplikasi
Kehilangan cairan dan elektrolit, aspirasi isi lambung, malnutrisi dan gagal tumbuh, sindrom Mallory-Weiss (robekan pada epitel gastroesophageal junction akibat muntah yang berulang), sindrom Boerhave (ruptur esofagus), dan esofagitis peptikum.

 
Penatalaksanaan
1. Mencari dan mengatasi penyebab.

2. Terapi suportif, seperti menghentikan makanan per oral dibantu dengan pemberian makanan/cairan sesuai kebutuhan baik secara oral seperti pemberian teh manis, oralit untuk sementara waktu ataupun pemberian secara parenteral.

3. Anti muntah: antihistamin (prometazin 0,5 mg/kgbb/hari), antikolinergik, fenotiazin (proklorperazin 0,25 mg/kg/hari), metoklopramid 0,5 mg/kg/hari, dan cisapride 0,2 mgl kg/hari.

 

Diare Persisten

Definisi

Diare persisten adalah episode diare yang mula-mula bersifat akut namun berlangsung selama 14 hari atau lebih. Diare persisten dibedakan dari diare melanjut, yaitu episode diare akut yang melanjut hingga berlangsung selama 7-14 hari.

 
Etiologi
Tidak ada penyebab mikroba tunggal walaupun Shigela, Cryptosporodium, dan E. Coli enteroagregatif mungkin punya peran lebih besar daripada penyebab lain.

 
Faktor Risiko
1. Umur muda (< 18 bulan)

2. Tidak mendapat ASI atau baru dikenalkan dengan susu sapi atau formula

3. Kurang gizi

4. Diare akut dengan etiologi bakteri invasif

5. Tata laksana diare akut yang tidak tepat

6. Melemahnya imunitas

 

Penatalaksanaan

1. Terapi cairan sesuai derajat dehidrasi. Derajat dehidrasi pada diare persisten ditetapkan sesuai dengan acuan “tata laksana diare akut”. Hanya perlu berhati-hati pada diare persisten yang disertai kurang energi protein (KEP) dan penyakit penyerta, yang dapat mengganggu penilaian indikator derajat dehidrasi

2. Anak dengan dehidrasi harus dirawat

3. Untuk anak yang lebih besar, boleh pulang dengan beberapa petunjuk. Bayi yang masih menyusu ASI pemberiannya tidak dihentikan

4. Identifikasi bakteri penyebab dan atasi dengan antibiotik yang sesuai. Pengobatan buta dengan antibiotik atau anti protozoa tidak efektif dan tidak harus diberikan. Anti diare (antimotilitas dan adsorben) harus tidak diberikan.

5. Mencari penyebab lain dan terapi sesuai dengan penyebabnya

 

Komplikasi

Dehidrasi, renjatan hipovolemik, hipokalemia, hipoglikemia, intoleransi laktosa sekunder, kejang, atau malnutrisi energi protein.

Disentri

Definisi

Disentri didefinisikan sebagai diare yang disertai darah dalam tinja.

 
Etiologi
Yang terpenting dan tersering adalah Shigella, khususnya S. flexneri dan S. dysenteriae tipe 1. Penyebab lain seperti Campylobacter jejuni terutama pada bayi dan lebih jarang adalah Salmonella (disentri yang disebabkannya tidak berat). Infeksi yang berat adalah oleh Escherecia coli enteroinvasif, namun jarang terjadi. Entamoeba histolytica menyebabkan disentri pada anak yang lebih besar, tetapi jarang pada balita.

 

Manifestasi Klinis

Diagnosis semata-mata pada terlihatnya darah di dalam tinja. Tinja mungkin juga mengandung leukosit polimorfonuklear yang terlihat dengan mikroskop dan mungkin mengandung lendir dalam jumlah banyak. Gambaran yang terakhir ini saja tidak cukup untuk mendiagnosis disentri. Pada beberapa episode sigelosis, pertama-tama tinja cair kemudian menjadi berdarah setelah satu atau dua hari.

 
Penatalaksanaan
1. Rawat inap pada disentri dengan faktor risiko menjadi berat (gangguan gizi berat, umur kurang dari 1 tahun, menderita campak pada 6 bulan terakhir)

2. Cairan diberikan sesuai derajat dehidrasi.

3. Gunakan antibiotik yang masih sensitif tehadap S. cholerae di tiap daerah.

4. Pemberian makanan mungkin sulit karena anak anoreksia, tapi harus diteruskan. Sebagai petunjuk umum, gunakan rencana pengobatan A.

5. Bila anak tidak mengalami perbaikan dalam 3 hari, ganti antimikroba lain.

 
Prognosis
Biasanya setelah pengobatan selama 5 hari tidak diperlukan tindak lanjut. Namun beberapa anak mempunyai risiko yang lebih tinggi dan harus diawasi yaitu: bayi, anak kurang gizi, anak yang tidak mendapat ASI, dan yang mengalami dehidrasi

Diare Akut Anak

Definisi
Diare adalah defekasi encer lebih dari tiga kali sehari dengan/tanpa darah dan/atau lendir dalam tinja. Diare akut adalah diare yang terjadi secara mendadak dan berlangsung kurang dari 7 hari pada bayi dan anak yang sebelumnya sehat

 
Etiologi
1. Infeksi: virus (Rotavirus, Adenovirus, Norwalk), bakteri (Shigella, Salmonella, E.Coli, Vibrio); parasit (protozoa: E. Histolytica, G. lamblia, Balantidium coli; cacing perut: Askaris, Trikuris, Strongiloideus; dan jamur: Kandida).

2. Malabsorpsi: karbohidrat (intoleransi laktosa), lemak, atau protein

3. Makanan: makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan

4. Imunodefisiensi

5. Psikologis: rasa takut dan cemas

Berdasarkan patofisiologinya, maka penyebab diare dibagi menjadi:

1. Diare sekresi, yang dapat disebabkan oleh infeksi virus, kuman patogen dan apatogen; hiperperistaltik usus halus akibat bahan kimia atau makanan, gangguan psikis, gangguan saraf, hawa dingin, alergi; dan defisiensi imun terutama IgA sekretorik.

2. Diare osmotik, yang dapat disebabkan oleh malabsorpsi makanan, kekurangan kalon protein (KKP), atau bayi berat badan lahir rendah dan bayi baru lahir.

Pada diare akan terjadi kekurangan air (dehidrasi), gangguan keseimbangan asam-basa (asidosis metabolik), yang secara klinis berupa pernapasan Kussmaul, hipoglikemia, gangguan gizi, dan gangguan sirkulasi.
Manifestasi Klinis
Awalnya anak menjadi cengeng, gelisah, suhu badan mungkin meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak ada, kemudian timbul diare. Tinja makin cair, mungkin mengandung darah dan/atau lendir, warna tinja berubah menjadi kehijau-hijauan karena tercampur empedu. Anus dan sekitarnya lecet karena tinja menjadi asam.

 

Gejala muntah dapat terjadi sebelum dan/atau sesudah diare. Bila telah banyak kehilangan air dan elektrolit terjadilah gejala dehidrasi. Berat badan turun. Pada bayi, ubun-ubun besar cekung. Tonus dan turgor kulit berkurang. Selaput lendir mulut dan bibir kering.

 

Pemeriksaan Penunjang

1. Pemeriksaan tinja: makroskopis dan mikroskopis, pH dan kadar gula jika diduga ada intoleransi gula (sugar intolerance), biakan kuman untuk mencari kuman penyebab dan uji resistensi terhadap berbagai antibiotika (pada diare persisten).

2. Pemeriksaan darah: darah perifer lengkap, analisis gas darah dan elektrolit (terutama Na, K, Ca, dan P serum pada diare yang disertai kejang).

3. Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin darah untuk mengetahui faal ginjal.

4. Duodenal intubation, untuk mengetahui kuman penyebab secara kuantitatif dan kualitatif terutama pada diare kronik.

 
Penatalaksanaan
Prinsip:

1. Diare cair membutuhkan penggantian cairan dan elektrolit tanpa melihat etiologinya.

Tujuan terapi rehidrasi untuk mengoreksi kekurangan cairan dan elektrolit secara cepat (terapi rehidrasi) kemudian mengganti cairan yang hilang sampai diarenya berhenti (terapi rumatan).

 

Jumlah cairan yang diberi harus sama denganjumlah cairan yang telah hilang melalui diare dan/atau muntah (previous water Iosses=PWL); ditambah dengan banyaknya cairan yang hilang melalui keringat, urin, dan pernapasan (normal water losses=NWL); dan ditambah dengan banyaknya cairan yang hilang melalui tinja dan muntah yang masih terus berlangsung (concomitant water Iosses=CWL). Jumlah ini tergantung pada derajat dehidrasi.

 

Jumlah ini tergantung pada derajat dehidrasi serta berat badan masing-masing anak atau golongan umur.

  • Jumlah cairan (ml) yang hilang pada anak umur < 2 tahun (BB 3-10 kg) sesuai dengan derajat dehidrasi

 

Dehidrasi PWL NWL CWL Jumlah

-ringan 50 100 25 175

-sedang 75 100 25 200

-berat 125 100 25 250

 

  • Jumlah cairan (ml) yang hilang pada anak umur 2-5 tahun (BB 10-15 kg) sesuai dengan derajat dehidrasi

 

Dehidrasi PWL NWL CWL Jumlah

-ringan 30 80 25 135

-sedang 50 80 25 155

-berat 80 80 25 185

 

  • Jumlah cairan (ml) yang hilang pada anak umur >15 tahun (BB 15-25 kg) sesuai dengan derajat dehidrasi

 

Dehidrasi PWL NWL CWL Jumlah

-ringan 25 65 25 115

-sedang 50 65 25 140

-berat 80 65 25 170

 

2. Makanan harus diteruskan bahkan ditingkatkan selama diare untuk menghindarkan efek buruk pada status gizi.

 

3. Antibiotik dan antiparasit tidak boleh digunakan secara rutin, tidak ada manfaatnya untuk kebanyakan kasus, termasuk diare berat dan diare dengan panas, kecuali pada:

  1. disentri, bila tidak berespon pikirkan kemungkinan amoebiasis
  2. suspek kolera dengan dehidrasi berat
  3. diare persisten

 

4. Obat-obat antidiare meliputi antimotilitas (misal loperamid, difenoksilat, kodein, opium), adsorben (mis. norit, kaolin, attapulgit). Antimuntah termasuk prometazin dan klorpromazin. Tidak satu pun obat-obat ini terbukti mempunyai efek yang nyata untuk diare akut dan beberapa malahan mempunyai efek yang membahayakan. Obat-obat ini tidak boleh diberikan pada anak < 5 tahun.

 

Rencana Pengobatan A

Digunakan untuk:

1. Mengatasi diare tanpa dehidrasi

2. Meneruskan terapi diare di rumah

3. Memberikan terapi awal bila anak terkena diare lagi

 

Tiga cara dasar terapi di rumah adalah sebagai berikut:

1. Berikan anak lebih banyak cairan daripada biasanya untuk mencegah dehidrasi

  • Gunakan cairan rumah tangga yang dianjurkan seperti cairan oralit, makanan cair (sup, air tajin, minuman yoghurt) atau air matang. Gunakan larutan oralit untuk anak seperti dijelaskan dalam kotak di bawah (catatan: jika anak berusia < 6 bulan dan belum makan makanan padat lebih baik diberi oralit dan air matang daripada makanan yang cair).
  • Berikan larutan ini sebanyak anak mau.
  • Teruskan pemberian larutan ini hingga diare berhenti.

2. Beri anak makanan untuk mencegah kurang gizi.

  • Teruskan ASl atau susu yang biasa diberikan.
  • Untuk anak < 6 bulan dan belum mendapat makanan padat dapat diberikan susu yang dicairkan dengan air yang sebanding selama 2 hari.
  • Bila anak > 6 bulan atau telah mendapat makanan padat:

§ berikan bubur atau campuran tepung lainnya, bila mungkin dicampur dengan kacang-kacangan, sayur, daging atau ikan, tambahkan 1 atau 2 sendok teh minyak sayur tiap porsi

§ berikan sari buah segar atau pisang halus untuk menambah kalium

§ berikan makanan yang segar, masak dan haluskan atau tumbuk dengan baik

§ dorong anak untuk makan, berikan makanan sedikitnya 6 kali sehari

§ berikan makanan yang sama setelah diare berhenti dan berikan makanan tambahan setiap hari selama 2 minggu

 

Bawa anak kepada petugas bila anak tidak membaik dalam 3 hari atau menderita sebagai rikut:

§ Buang air besar cair sering kali

§ Muntah berulang-ulang

§ Sangat haus sekali

§ Makan atau minum sedikit

§ Demam

§ Tinja berdarah

 

Jika anak akan diberi larutan diare di rumah, tunjukkan kepada ibu jumlah oralit yang diberikan iap habis buang air besar dan berikan oralit yang cukup untuk 2 hari.

 

Cara memberikan oralit:

1. Berikan sesendok teh tiap 1-2 menit untuk anak di bawah umur 2 tahun.

2. Berikan beberapa teguk dari gelas untuk anak lebih tua.

3. Bila anak muntah, tunggulah 10 menit. Kemudian berikan cairan lebih sedikit (misalnya sesendok tiap 1-2 menit).

4. Bila diare berlanjut setelah bungkus oralit habis, beritahu ibu untuk memberikan cairan lain seperti dijelaskan dalam cara pertama atau kembali kepada pertugas kesehatan untuk mendapatkan tambahan oralit.

Cairan oralit yang dianjurkan oleh WHO, tiap I liter mengandung 3, 5 g/l natrium klorida, 3,5 g/l natrium bikarbonat, I,5 g/l kalium klorida, dan 20 g/l glukosa. Elektrolit yang dikandung meliputi natrium 90 mMol/l, klorida 80 mMo1/l, kalium 20 mMol/l, bikarbonat 30 mMol/l, dan glukosa 111 mMo/liter.

 
Rencana Pengobatan B
Dalam 3 jam pertama, berikan 75 ml/kgBB atau bila berat badan anak tidak diketahui dan atau memudahkan dilapangan, berikan oralit.

o Bila anak menginginkan lebih banyak oralit, berikanlah.

o Dorong ibu untuk meneruskan ASI.

o Untuk bayi < 6 bulan yang tidak mendapat ASI, berikan juga 100-200 ml air masak selama masa ini.

 

Amati anak dengan seksama dan bantu ibu memberikan oralit

o Tunjukkan jumlah cairan yang harus diberikan.

o Tunjukkan cara memberikannya – sesendok teh tiap 1-2 menit untuk anak di bawah 2 tahun, beberapa teguk dari cangkir untuk anak yang lebih tua.

o Periksa dari waktu ke waktu bila ada masalah.

o Bila anak muntah tunggu 10 menit, kemudian teruskan pemberian oralit tetapi lebih lambat, misalnya sesendok tiap 2-3 menit.

o Bila kelopak mata anak bengkak, hentikan pemberian oralit dan berikan air masak atau ASI. Beri oralit sesuai rencana A bila bengkak telah hilang.

Setelah 3-4 jam, nilai kembali anak menggunakan bagan penilaian, kemudian pilih rencana A, B, atau C untuk melanjutkan pengobatan.

o Bila tidak ada dehidrasi, ganti ke rencana A. Bila dehidrasi telah hilang, anak biasanya kencing dan lelah kemudian mengantuk dan tidur.

o Bila tanda menunjukkan dehidrasi ringan/sedang, ulangi rencana B tetapi tawarkan makanan, susu, dan sari buah seperti rencana A.

o Bila tanda menunjukkan dehidrasi berat, ganti dengan rencana

 

Bila ibu harus pulang sebelum selesai rencana pengobatan B:

o Tunjukkan jumlah oralit yang harus dihabiskan dalam pengobatan 3 jam di rumah.

o Berikan bungkus oralit untuk rehidrasi dan untuk 2 hari lagi seperti dijelaskan dalam rencana A.

o Tunjukkan cara menyiapkan larutan oralit.

  • Memberikan oralit atau cairan lain hingga diare berhenti.
  • Memberi makan anak.
  • Membawa anak ke petugas kesehatan bila perlu.

 

Rencana Pengobatan C (Gambar 51.1)

Ikuti arah panah. Bila jawaban dari pertanyaan ya, teruskan ke kanan. Bila tidak, teruskan ke bawah.

 

Cairan intravena yang dianjurkan adalah larutan Ringer laktat. Bila tidak tersedia, garam faal (9 gram NaCl/l), larutan DG ana (25 gram atau 50 gram/l) atau Dekstrose 2 a (50 gram atau 100 gram/l) dapat digunakan. Larutan intravena yang mengandung hanya glukosa tidak boleh digunakan.

 

Pengobatan Tersangka Kolera

Anak (sekitar usia 2 tahun) yang tinggal di daerah endemik kolera harus diberi antibiotik. Antibiotik yang bisa digunakan adalah:

a. Tetrasiklin dengan dosis 12,5 mg/kgBB, 4 kali sehari, selama 3 hari, atau

b. Doksisiklin dengan dosis tunggal 300 mg namun tidak sesuai untuk anak di bawah 12 tahun, atau

c. Trimetoprim (TMP)-sulfametoksazol (SMX) dengan dosis 5 mg TMP + 25 mg SMX/ kgBB, 2 kali sehari selama 3 hari, atau

d. Bila berada di daerah resisten V. cholerae, dapat digunakan furozolidone dengan dosis 1,25 mg/kgBB, 4 kali sehari, selama 3 hari atau kloramfenikol.

 

Komplikasi

o Kelainan elektrolit dan asam basa

o Kegagalan upaya rehidrasi oral

o Kejang