Category Archives: Pulmonologi

Bronkiolitis Akut

Definisi
Bronkiolitis akut adalah penyakit obstruktif akibat inflamasi akut pada saluran napas kecil (bronkiolus), terjadi pada anak berusia kurang dari 2 tahun dengan insidens tertinggi sekitar usia 6 bulan.

 

Etiologi

Respiratory syncytial virus (RSV) pada 50% sampai 90% kasus. Selain itu, parainfluenza, mikoplasma, adenovirus. Sangat jarang infeksi primer bakteri.

 
Patogenesis
Invasi virus menyebabkan obstruksi bronkiolus akibat akumulasi mukus, debris dan edema. Terjadi resistensi aliran udara pernapasan berbanding terbalik (dengan radius lumen pangkat empat), baik pada fase inspirasi maupun fase ekspirasi. Terdapat mekanisme klep yaitu terperangkapnya udara yang menimbulkan overinflasi dada. Pertukaran udara yang terganggu menyebabkan ventilasi berkurang dan hipoksemia, peningkatan frekuensi napas sebagai kompensasi. Pada keadaan sangat berat dapat terjadi hiperkapnia. Obstruksi total dan terserapnya udara dapat menyebabkan atelektasis.

 

Gangguan respiratorik jangka panjang pasca bronkiolitis dapat timbul berupa batuk berulang, mengi, dan hiperreaktivitas bronkus, yang cenderung membaik sebelum usia sekolah. Komplikasi jangka panjang lain yaitu bronkiolitis obliterans dan sindrom paru hiperlusen unilateral (Sindrom Swyer-James), sering dihubungkan dengan adenovirus.

 

Manifestasi Klinis

Biasanya didahului infeksi saluran napas atas dengan batuk pilek, tanpa demam atau hanya subfebris. Sesak napas makin hebat, disertai napas cepat dan dangkal. Terdapat dispnu dengan expiratory effort, retraksi otot bantu napas, napas cepat dangkal disertai napas cuping hidung, sianosis sekitar hidung dan mulut, gelisah, ekspirium memanjang atau mengi; jika obstruksi hebat suara napas nyaris tak terdengar, ronki basah halus nyaring kadang terdengar pada akhir atau awal ekspirasi, suara perkusi paru hipersonor.

 

Pemeriksaan Penunjang

o Foto dada AP dan lateral: hiperinflasi paru, diameter anteroposterior membesar pada foto lateral, dapat terlihat bercak konsolidasi yang tersebar.

o Analisis gas darah: hiperkarbia sebagai tanda air trapping, asidosis metabolik, atau respiratorik.

o Pemeriksaan deteksi cepat antigen RSV yang dapat dikerjakan secara bed side.

 
Penatalaksanaan
o Oksigen 1-2 L/menit.

o IVFD:

  • neonatus: dekstrose 10% : NaCl 0,9%=4 : l, + KCl 1-2 mEq/kgBB/hari
  • bayi > 1 bulan: dekstrose 10% : NaCl 0,9% = 3 : 1 , + KCl 10 mEq/500 ml cairan

Jumlah cairan sesuai berat badan, kenaikan suhu, dan status hidrasi

o Koreksi gangguan asam basa dan elektrolit

o Antibiotik sebenarnya tidak diperlukan, tetapi karena sukar dibedakan dengan pneu­monia interstisialis, antibiotik tetap diberikan.

Untuk kasus bronkiolitis community base:

  • Ampisilin 100 mg/kgBB/hari dalam 4 kali pemberian
  • Kloramfenikol 75 mg/kgBB/hari dalam 4 kali pemberian

Untuk kasus bronkiolitis hospital base:

  • Sefotaksim 100 mg/kgBB/hari dalam 2 kali pemberian
  • Amikasin 10-15 mg/kgBB/hari dalam 2 kali pemberian

o Steroid: deksametason 0,5 mg/kgBB inisial, dilanjutkan 0,5 mg/kgBB/hari dibagi 3-4 dosis. Inhalasi dengan salin normal dan beta agonis untuk memperbaiki transpor mukosilier.

 

Hemoptisis

Definisi
Hemoptisis atau batuk darah adalah ekspektorasi darah atau mukus yang berdarah. Bila ditemukan gejala ini, maka pasien harus diawasi dengan ketat karena tidak dapat dipastikan akan berhenti atau berlanjut, dan harus dicari asal serta sebab perdarahan.

 
Etiologi
Tuberkulosis adalah penyebab utama hemoptisis pada negara dengan angka pasien tuberkulosis yang tinggi, misalnya Indonesia. Penyebab lain adalah bronkiektasis, abses paru, karsinoma paru, bronkitis kronik, dan sebagainya.

 
Patofisiologi
Secara anatomis, asal perdarahan berbeda untuk setiap proses patologis tertentu. Misalnya pada tuberkulosis, perdarahan mungkin terjadi karena robekan aneurisma arteri pulmonalis pada dinding kavitas (aneurisma Rassmussen), karena pecahnya anastomosis bronkopulmonal, atau karena proses erosif pada arteri bronkialis yang membesar. Perdarahan akibat ulserasi mukosa bronkus juga bisa terjadi, namun jarang masif. Sedangkan pada bronkitis, perdarahan berasal dari pembuluh darah superfisial di mukosa.

 
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan foto toraks dapat membantu menegakkan diagnosis penyakit yang mendasari, mengetahui asal perdarahan (kanan atau kiri), dan adanya aspirasi. Pemeriksaan laboratorium darah tepi dapat membantu memperkirakan beratnya perdarahan dan perlu tidaknya dilakukan transfusi darah. Pemeriksaan masa perdarahan atau masa pembekuan tidak dikerjakan secara rutin.

 
Komplikasi
Asfiksia, syok hemoragik, dan penyebaran penyakit ke sisi paru yang sehat.

 
Penatalaksanaan
Setiap pasien hemoptisis harus dirawat untuk observasi dan evaluasi lebih lanjut. Hal-hal yang perlu dievaluasi adalah:

1. Banyaknya/jumlah perdarahan yang terjadi.

Saat terjadinya batuk dicatat dan setiap darah yang dibatukkan harus dikumpulkan dalam pot pengukur untuk mengetahui jumlahnya secara tepat dalarn suatu periode tertentu (biasanya 24 jam). Harus diingat bahwa jumlah darah yang dikeluarkan tidak selalu menggambarkan jumlah perdarahan yang terjadi karena mungkin saja sebagian darah tertinggal atau terjadi aspirasi dalam paru/saluran napas.

2. Pemeriksaan fisik.

Diperhatikan adanya insufisiensi pernapasan atau sirkulasi, berupa hipotensi sistemik/syok, penurunan kesadaran, takikardi, takipnea/sesak napas, sianosis, dan lain-lain. Bila ditemukan ronki basah difus di lapangan bawah paru perlu dicurigai telah terjadi aspirasi yang akan mengganggu pernapasan.

 

Penatalaksanaan pasien hemoptisis bergantung dari beratnya perdarahan yang terjadi dan keadaan klinis (kecenderungan perdarahan untuk berhenti/bertambah, tanda-tanda asfiksia/gangguan fungsi paru dan lain-lain. Bila tidak/kurang masif dapat ditangani secara konservatif yang bertujuan menghentikan perdarahan yang terjadi dan mengganti darah yang hilang dengan transfusi atau pemberian cairan pengganti. Langkah-langkah yang dilakukan adalah:

1. Menenangkan pasien sehingga perdarahan lebih mudah berhenti dan tidak takut-takut membatukkan darah di saluran napas.

2. Pasien diminta berbaring pada posisi bagian paru yang sakit dan sedikit Trendelenburg, terutama bila refleks batuknya tidak adekuat.

3. Jalan napas dijaga agar tetap terbuka. Bila ada tanda-tanda sumbatan, lakukan penghisapan. Bila perlu dipasang pipa endotrakeal. Pemberian oksigen hanya berarti bila jalan napas telah bebas hambatan.

4. Pemasangan jalur intravena untuk penggantian cairan atau pemberian obat intravena.

5. Pemberian obat hemostatik belum jelas manfaatnya, namun dapat diberikan misalnya asam traneksamat, karbazokrom, atau koagulan lain seperti vitamin K, vitamin C, baik bolus maupun drip intravena.

6. Bila pasien gelisah dapat diberikan obat dengan efek sedasi ringan. Obat penekan refleks batuk hanya diberikan bila terjadi batuk yang berlebihan dan merangsang timbulnya perdarahan yang lebih banyak. Yang dianjurkan adalah kodein sulfat 10-20 mg tiap 3-4 jam..

7. Transfusi darah dilakukan bila Ht turun di bawah nilai 25-30% atau Hb di bawah 10 g% sedangkan perdarahan masih berlangsung.

 

Perdarahan yang masif dan mengancam jiwa memerlukan usaha agresif invasif, berupa bronkoskopi atau operasi sito. Indikasi pembedahan segera untuk hemoptisi masif adalah:

1. Bila batuk darah lebih dari 600 ml/24jam dan dalam pengamatan tidak berhenti.

2. Bila batuk darah kurang dari 600 ml/24 jam tetapi lebih dari 250 ml/24 jam, kadar Hb kurang dari 10 g% dan berlangsung terus.

3. Bila batuk darah kurang dari 600 ml/ 24 jam tetapi lebih dari 250 ml/ 24 jam, Hb lebih dari 10 g% tetapi dalam observasi selama 48 jam perdarahan tidak berhenti.

 

Sebelum dilakukan pembedahan segera, sumber atau asal perdarahan harus sudah diketahui melalui bronkoskopi, bila perlu dilakukan di atas meja operasi. Toleransi operasi berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan penunjang seperti foto toraks, spirometri, dan analisis gas darah juga harus menunjang.

 

Efusi Pleura

Definisi
Efusi pleura adalah terkumpulnya cairan abnormal dalam kavum pleura

 
Etiologi
1. Neoplasma, seperti neoplasma bronkogenik dan metastatik

2. Kardiovaskular, seperti gagal jantung kongestif, embolus pulmonar, dan perikarditis

3. Penyakit pada abdomen, seperti pankreatitis, asites, abses, dan sindrom Meigs

4. Infeksi yang disebabkan bakteri, virus, jamur, mikobakterial, dan parasit

5. Trauma

6. Lain-lain seperti lupus eritematosus sistemik, reumatoid artritis, sindrom nefrotik, dan uremia

 

Diagnosis

1. Anamnesis: adanya keluhan nyeri dada dan dispnea.

2. Pemeriksaan fisik: pada daerah efusi, fremitus tidak ada, perkusi redup, suara napas berkurang

3. Pemeriksaan laboratorium: analisis cairan efusi, yang diambil lewat torakosentesis. Kriteria transudat dan eksudat dapat dilihat dari tabel di bawah ini.

4. Pemeriksaan radiologi

Dalam foto toraks terlihat hilangnya sudut kostofrenikus dan akan terlihat permukaan, yang melengkung jika jumlah cairan efusi lebih dari 300 ml, pergeseran mediastinum kadang ditemukan.

 
Komplikasi
Infeksi dan fibrosis paru

 
Tabel perbedaan transudat dan eksudat
Penatalaksanaan
1. Drainase cairan jika efusi pleura menimbulkan gejala subyektif seperti nyeri, dispnea dan lain-lain. Cairan efusi sebanyak 1-1,5 liter perlu dikeluarkan segera untuk mencegah meningkatnya edema paru, jika jumlah cairan efusi lebih banyak maka pengeluaran cairan berikutnya baru dapat dilakukan 1 jam kemudian.

2. Antibiotik, jika terdapat empiema.

3. Pleurodesis

4. Operatif

 

Bronkiektasis

Definisi
Bronkiektasis merupakan kelainan morfologis yang terdiri dari pelebaran bronkus yang abnormal dan menetap disebabkan kerusakan komponen elastis dan muskular dinding bronkus. Bronkiektasis diklasifikasikan dalam bronkiektasis silindris, fusiform, dan kistik atau sakular.

 

Etiologi dan Predisposisi

Bronkiektasis biasanya didapat pada masa anak-anak. Kerusakan bronkus pada penyakit ini hampir selalu disebabkan oleh infeksi. Penyebab infeksi tersering adalah H. influenzae dan P. aeruginosa. Infeksi oleh bakteri lain, seperti Klebsiela dan Staphylococcus aureus disebabkan oleh absen atau terlambatnya pemberian antibiotik pada pengobatan pneumonia. Bronkiektasis ditemukan pula pada pasien dengan infeksi Human Immunodeficiency virus (HIV) atau virus lainnya, seperti adenovirus atau virus influenza.

 

Faktor penyebab noninfeksi yang dapat menyebabkan penyakit ini adalah paparan substansi toksik, misalnya terhirupnya gas toksik (amonia, aspirasi asam dari cairan lambung, dan lain-lain). Kemungkinan adanya faktor imun yang terlibat belum diketahui dengan pasti karena bronkiektasis dapat ditemukan pula pada pasien kolitis ulseratif, reumatoid artritis, dan sindrom Sjogren.

 

Faktor predisposisi terjadinya bronkiektasis dapat dibagi menjadi tiga, yaitu:

1. Kekurangan mekanisme pertahanan yang didapat atau kongenital, biasanya kelainan imunologi berupa kekurangan globulin ? atau kelainan imunitas selular atau kekurangan a-1 antitripsin.

2. Kelainan struktur kongenital seperti fibrosis kistik, sindrom Kartagener, kekurangan kartilago bronkus, dan kifoskoliosis kongenital.

3. Penyakit paru primer seperti tumor paru, benda asing, atau tuberkulosis paru.

 
Manifestasi Klinis
Gejala sering dirnulai pada saat anak-anak, 60% gejala timbul sejak pasien berusia 10 tahun. Gejala yang timbul tergantung dari luas, berat, lokasi, serta ada atau tidaknya komplikasi. Gejala tersering adalah batuk kronik dengan sputum yang banyak. Batuk dan pengeluaran sputum dialami paling sering pada pagi hari, setelah tiduran atau berbaring pada posisi yang berlawanan dengan sisi yang mengandung kelainan bronkiektasis.

 

Pada bronkiektasis ringan atau yang hanya mengenai satu lobus saja, mungkin tidak terdapat gejala. Kalau pun ada, biasanya batuk bersputum yang menyertai batuk-pilek selama 1-2 minggu. Komplikasi pneumonia jarang dan progresivitasnya lambat.

 

Pada bronkiektasis berat, pasien mengalami batuk terus-menerus dengan sputum yang banyak (200-300 ml) yang bertambah berat bila terjadi infeksi saluran napas atas. Biasanya dapat diikuti dengan demam, tidak ada nafsu makan, penurunan berat badan, anemia, nyeri pleura, dan lemah badan. Sesak napas dan sianosis timbul pada kelainan yang luas. Hemoptisis mungkin merupakan satu-satunya gejala, sebab itu bronkiektasis harus dipikirkan bila terdapat hemoptisis yang tidak jelas sebabnya.

 

Pada pemeriksaan fisik, yang terpenting adalah terdapat ronki basah sedang sampai kasar pada daerah yang terkena dan menetap pada pemeriksaan yang berulang. Kadang-kadang dapat ditemukan ronki kering dan bising mengi. Ditemukan perkusi yang redup dan suara napas yang melemah bila terdapat komplikasi empiema. Jari tabuh didapatkan pada 30-50% kasus. Pada kasus yang berat mungkin terdapat sianosis dan tanda kor pulmonal.

 
Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium

Sputum biasanya berlapis tiga. Lapisan atas terdiri dari busa, lapisan tengah adalah sereus, dan lapisan bawah terdiri dari pus dan sel-sel rusak. Sputum yang berbau busuk menunjukkan infeksi oleh kuman anaerob. Pemeriksaan darah tepi menunjukkan hasil dalam batas normal, demikian pula dengan pemeriksaan urin dan EKG, kecuali pada kasus lanjut.

2. Pemeriksaan radiologi

Foto toraks normal tidak menyingkirkan kemungkinan penyakit ini. Biasanya didapatkan corakan paru menjadi lebih kasar dan batas-batas corakan menjadi kabur, daerah yang terkena corakan tampak mengelompok, kadang-kadang ada gambaran sarang tawon serta gambaran kistik yang berdiameter sampai 2 cm dan kadang-kadang terdapat garis-garis batas permukaan udara-cairan.

 
Diagnosis
Diagnosis pasti ditegakkan berdasarkan pemeriksaan bronkografi dan patologi.

 
Penatalaksanaan
Terapi yang dilakukan bertujuan untuk:

1. Meningkatkan pengeluaran sekret trakeobronkial. Drainase postural dan latihan fisioterapi untuk pernapasan dan batuk yang produktif, agar sekret dapat dikeluarkan secara maksimal.

2. Mengontrol infeksi, terutama pada fase eksaserbasi akut. Pilihan antibiotik berdasarkan pemeriksaan bakteri dari sputum dan resistensinya. Sementara menunggu hasil biakan kuman, dapat diberikan antibiotik spektrum luas seperti ampisilin, kotrimoksazol, dan amoksisilin. Antibiotik diberikan sampai produksi sputum minimal dan tidak purulen. Pengobatan diperlukan untuk waktu yang lama bila infeksi paru yang diderita telah lanjut.

3. Mengembalikan aliran udara pada saluran napas yang mengalami obstruksi. Bronkodilator diberikan selain untuk mengatasi bronkospasme, juga untuk memperbaiki drainase sekret. Alat pelembab dan nebulizer dapat dipakai untuk melembabkan sekret. Bronkoskopi kadang-kadang perlu untuk pengangkatan benda asing atau sumbatan mukus. Pasien dianjurkan untuk menghindari rangsangan bronkus dari asap rokok dan polusi udara yang tercemar berat dan mencegah pemakaian obat sedatif dan obat yang menekan refleks batuk.

 

Operasi hanya dilakukan bila pasien tidak menunjukkan perbaikan klinis yang jelas setelah mendapat pengobatan konservatif yang adekuat selama 1 tahun atau timbul hemoptisis yang masif. Pertimbangan operasi berdasarkan fungsi pernapasan, umur, keadaan mental, luasnya bronkiektasis, keadaan bronkus pasien lainnya, kemampuan ahli bedah, dan hasil terhadap pengobatan.

 

Penyakit Paru Obstruktif Kronik

Definisi
Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) adalah penyakit obstruksi jalan napas karena bronkitis kronik atau emfisema (American Thoracic Society 1995). Obstruksi tersebut umumnya bersifat progresif, bisa disertai hiperaktivitas bronkus dan sebagian bersifat reversibel.

 

Bronkitis kronik ditandai dengan batuk-batuk hampir setiap hari disertai pengeluaran dahak, sekurang-kurangnya 3 bulan berturut-turut dalam satu tahun, dan paling sedikit selama 2 tahun. Gejala ini perlu dibedakan dari tuberkulosis paru, bronkiektasis, tumor paru dan asma bronkial.

 

Ernfisema adalah suatu perubahan anatomis paru-paru yang ditandai dengan melebarnya secara abnormal saluran udara sebelah distal bronkus terminal, disertai kerusakan dinding alveolus.

 
Etiologi
Faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya PPOK adalah:

1. Kebiasaan merokok

2. Polusi udara

3. Paparan debu, asap, dan gas-gas kimiawi akibat kerja

4. Riwayat infeksi saluran napas

5. Bersifat genetik yaitu defisiensi a-1 antitripsin

 
Patofisiologi
Pada bronkitis kronik maupun emfisema terjadi penyempitan saluran nafas. Penyempitan ini dapat mengakibatkan obstruksi jalan napas dan menimbulkan sesak. Pada bronkhitis kronik, saluran pernapasan kecil yang berdiameter kurang dari 2 mm menjadi lebih sempit, berkelok-kelok, dan berobliterasi. Penyempitan ini terjadi karena metaplasia sel goblet. Saluran napas besar juga menyempit karena hipertrofi dan hiperplasi kelenjar mukus. Pada emfisema paru penyempitan saluran napas disebabkan oleh berkurangnya elastisitas paru-paru.

 
Manifestasi Klinis
1. Batuk

2. Sputum putih atau mukoid, jika ada infeksi menjadi purulen atau mukopurulen

3. Sesak, sampai menggunakan otot-otot pernapasan tambahan untuk bernapas.

 
Komplikasi
Infeksi yang berulang, pneumotoraks spontan, eritrositosis karena keadaan hipoksia kronik, gagal napas, dan kor pulmonal.

 
Diagnosis
1. Anamnesis: riwayat penyakit yang ditandai 3 gejala klinis di atas dan faktor-faktor penyebab.

2. Pemeriksaan fisik:

o Pasien biasanya tampak kurus dengan barrel-shaped chest (diameter anteroposterior dada meningkat)

o Fremitus taktil dada berkurang atau tidak ada.

o Perkusi dada hipersonor, peranjakan hati mengecil, batas paru hati lebih rendah, pekak jantung berkurang.

o Suara nafas berkurang dengan ekspirasi memanjang.

3. Pemeriksaan radiologi

4. Foto toraks pada bronkitis kronik memperlihatkan tubular shadow berupa bayangan garis-garis yang paralel keluar dari hilus menuju apeks paru dan corakan paru yang bertambah.

5. Pada emfisema paru, foto toraks menunjukkan adanya overinflasi dengan gambaran diafragma yang rendah dan datar, penciutan pembuluh darah pulmonal, dan penambahan corakan ke distal.

4. Pemeriksaan fungsi paru

5. Pemeriksaan gas darah

6. Pemeriksaan EKG

7. Pemeriksaan laboratorium darah: hitung sel darah putih.

 
Penatalaksanaan
1. Pencegahan: mencegah kebiasaan merokok, infeksi, dan polusi udara.

2. Terapi eksaserbasi akut dilakukan dengan:

a. Antibiotik, karena eksaserbasi akut biasanya disertai infeksi.

o Infeksi ini umumnya disebabkan oleh H. influenza dan S. pneumonia, maka digunakan ampislin 4 x 0,25-0,5 g/hari atau eritromisin 4 x 0,5 g/hari.

o Augmentin (amoksisilin dan asam klavulanat) dapat diberikan jika kuman penyebab infeksinya adalah H. influenzae dan B. catarhalis yang memproduksi ß-laktamase.

Pemberian antibiotik seperti kotrimoksasol, amoksisilin, atau doksisiklin pada pasien yang mengalami eksaserbasi akut terbukti mempercepat penyembuhan dan membantu mempercepat kenaikan peak flow rate. Namun hanya dalam 7-10 hari selama periode eksaserbasi. Bila terdapat infeksi sekunder atau tanda-tanda pneumonia, maka dianjurkan antibiotik yang lebih kuat.

b. Terapi oksigen diberikan jika terdapat kegagalan pernapasan karena hiperkapnia dan berkurangnya sensitivitas terhadap CO2.

c. Fisioterapi membantu pasien untuk mengeluarkan sputum dengan baik.

d. Bronkodilator, untuk mengatasi obstruksi jalan napas, termasuk di dalamnya golongan adrenergik ß dan antikolinergik. Pada pasien dapat diberikan salbutamol 5 mg dan atau ipratropium bromida 250 µg diberikan tiap 6 jam dengan nebulizer atau aminofilin 0,25-0,5 g iv secara perlahan.

3. Terapi jangka panjang dilakukan dengan:

a. Antibiotik untuk kemoterapi preventif jangka panjang, ampisilin 4 x 0,25-0,5 g/hari dapat menurunkan kejadian eksaserbasi akut.

b. Bronkodilator, tergantung tingkat reversibilitas obstruksi saluran napas tiap pasien maka sebelum pemberian obat ini dibutuhkan pemeriksaan obyektif dari fungsi faal paru.

c. Fisioterapi

d. Latihan fisik untuk meningkatkan toleransi aktivitas fisik.

e. Mukolitik dan ekspektoran

f. Terapi oksigen jangka panjang bagi pasien yang mengalami gagal napas tipe II dengan PaO2 < 7,3 kPa (55 mmHg).

g. Rehabilitasi, pasien cenderung menemui kesulitan bekerja, merasa sendiri dan terisolasi, untuk itu perlu kegiatan sosialisasi agar terhindar dari depresi. Rehabilitasi untuk pasien PPOK adalah:

o Fisioterapi

o Rehabilitasi psikis

o Rehabilitasi pekerjaan.

 
Prognosis
Pada eksaserbasi akut, prognosis baik dengan terapi. Pada pasien bronkitis kronik dan emfisema lanjut dan FEV1 < 1 liter survival rate selama 5 -10 tahun mencapai 40%.

 

Asma Bronkial

Definisi
Asma merupakan gangguan inflamasi kronik jalan napas yang melibatkan berbagai sel inflamasi. Dasar penyakit ini adalah hiperaktivitas bronkus dalam berbagai tingkat, obstruksi jalan napas, dan gejala pernapasan (mengi dan sesak). Obstruksi jalan napas umumnya bersifat reversibel, namun dapat menjadi kurang reversibel bahkan relatif nonreversibel tergantung berat dan lamanya penyakit.

 
Manifestasi Klinis
Gejala yang timbul biasanya berhubungan dengan beratnya derajat hiperaktivitas bronkus. Obstruksi jalan nafas dapat reversibel secara spontan maupun dengan pengobatan. Gejala-gejala asma antara lain:

1. Bising mengi (wheezing) yang terdengar dengan atau tanpa stetoskop.

2. Batuk produktif, sering pada malam hari.

3. Napas atau dada seperti tertekan.

Gejalanya bersifat paroksismal, yaitu membaik pada siang hari dan memburuk pada malam.

 
Diagnosis
Diagnosis asma berdasarkan:

1. Anamnesis: riwayat perjalanan penyakit, faktor-faktor yang berpengaruh terhadap asma, riwayat keluarga dan riwayat adanya alergi, serta gejala klinis.

2. Pemeriksaan fisik.

3. Pemeriksaan laboratorium: darah (terutama eosinofil, IgE total, IgE spesifik), sputum (eosinofil, spiral Curshman, kristal Charcot-Leyden).

4. Tes fungsi paru dengan spirometri atau peak flow meter untuk menentukan adanya obstruksi jalan napas.

Komplikasi

Pneumotoraks, pneumomediastinum dan emfisema subkutis, atelektasis, aspergilosis bronkopulmonar alergik, gagal nafas, bronkitis, dan fraktur iga.

 
Penatalaksanaan
Tujuan terapi asma adalah:

1. Menyembuhkan dan mengendalikan gejala asma.

2. Mencegah kekambuhan.

3. Mengupayakan fungsi paru senormal mungkin serta mempertahankannya.

4. Mengupayakan aktivitas harian pada tingkat normal termasuk melakukan exercise.

5. Menghindari efek samping obat asma.

6. Mencegah obstruksi jalan napas yang ireversibel.

 

Tabel pengobatan asma jangka panjang berdasarkan berat penyakit

 

Yang termasuk obat antiasma adalah:

1. Bronkodilator

a. Agonis ß 2

Obat ini mempunyai efek bronkodilatasi. Terbutalin, salbutamol, dan feneterol memiliki lama kerja 4-6 jam, sedangkan agonis ß 2 long-acting bekerja lebih dari 12 jam, seperti salmeterol, formoterol, bambuterol dan lain-lain. Bentuk aerosol dan inhalasi memberikan efek bronkodilatasi yang sama dengan dosis yang jauh lebih kecil yaitu sepersepuluh dosis oral dan pemberiannya lokal.

b. Metilxantin

Teofilin termasuk golongan ini. Efek bronkodilatornya berkaitan dengan konsentrasinya di dalam serum. Efek samping obat ini dapat ditekan dengan pemantauan kadar teofilin serum dalam pengobatan jangka panjang.

c. Antikolinergik

Golongan ini menurunkan tonus vagus intrinsik dari saluran napas.

 

2. Antiinflamasi

Antiinflamasi menghambat inflamasi jalan napas dan mempunyai efek supresi dan profilaksis.

a. Kortikosteroid

b. Natrium kromolin (sodium cromoglycate) merupakan antiinflamasi nonsteroid.

 
Tabel terapi serangan asma
 

Terapi awal, yaitu:

1. Oksigen 4-6 liter/menit.

2. Agonis ß 2 (salbutamol 5 mg atau feneterol 2,5 mg atau terbutalin 10 mg) inhalasi nebulasi dan pemberiannya dapat diulang setiap 20 menit sampai 1 jam. Pemberian agonis ß 2 dapat secara subkutan atau iv dengan dosis salbutamol 0,25 mg atau terbutalin 0,25 mg dalam larutan dekstrosa 5% dan diberikan perlahan.

3. Aminofilin bolus iv 5-6 mg/kg BB, jika sudah menggunakan obat ini dalam 12 jam sebelumnya maka cukup diberikan setengah dosis.

4. Kortikosteroid hidrokortison 100-200 mg iv jika tidak ada respons segera atau pasien sedang menggunakan steroid oral atau dalam serangan sangat berat.

 

Respons terhadap terapi awal baik, jika didapatkan keadaan berikut:

1. Respons menetap selama 60 menit setelah pengobatan.

2. Pemeriksaan fisik normal.

3. Arus puncak ekspirasi (APE) > 70%.

Jika respons tidak ada atau tidak baik terhadap terapi awal maka pasien sebaiknya dirawat di rumah sakit.

 

Terapi asma kronik adalah sebagai berikut:

1. Asma ringan: agonis ß 2 inhalasi bila perlu atau agonis ß 2 oral sebelum exercise atau terpapar alergen.

2. Asma sedang: antiinflamasi setiap hari dan agonis ß 2 inhalasi bila perlu.

3. Asma berat: steroid inhalasi setiap hari, teofilin slow release atau agonis ß 2 long acting, steroid oral selang sehari atau dosis tunggal harian dan agonis ß 2 inhalasi sesuai kebutuhan.

 

 

Tuberkulosis Paru

Definisi
Tuberkulosis (TB) paru adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dengan gejala yang sangat bervariasi.

 
Manifestasi Klinis
Gejala utama TB Paru adalah batuk lebih dari 4 minggu dengan atau tanpa sputum, malaise, gejala flu, demam derajat rendah, nyeri dada, dan batuk darah.

 

Pasien TB paru menampakkan gejala klinis, yaitu:

1. Tahap asimtomatis.

2. Gejala TB paru yang khas, kemudian stagnasi dan regresi.

3. Eksaserbasi yang memburuk.

4. Gejala berulang dan menjadi kronik.

 

Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan tanda-tanda:

1. Tanda-tanda infiltrat (redup, bronkial, ronki basah, dan lain-lain).

2. Tanda-tanda penarikan paru, diafragma, dan mediastinum.

3. Sekret di saluran nafas dan ronki.

4. Suara nafas amforik karena adanya kavitas yang berhubungan langsung dengan bronkus.

 
Diagnosis
1. Anamnesis dan pemeriksaan fisik

2. Laboratorium darah rutin (LED normal atau meningkat, limfositosis)

3. Foto toraks PA dan lateral. Gambaran foto toraks yang menunjang diagnosis TB, yaitu:

o Bayangan lesi terletak di lapangan atas paru atau segmen apikal lobus bawah.

o Bayangan berawan (patchy) atau berbercak (nodular).

o Adanya kavitas, tunggal atau ganda.

o Kelainan bilateral, terutama di lapangan atas paru.

o Adanya kalsifikasi.

o Bayangan menetap pada foto ulang beberapa minggu kemudian.

o Bayangan milier.

4. Pemeriksaan sputum BTA

Pemeriksaan sputum BTA memastikan diagnosis TB paru, namun pemeriksaan ini tidak sensitif karena hanya 30-70% pasien TB yang dapat didiagnosis berdasarkan pemeriksaan ini.

5. Tes PAP (Peroksidase Anti Peroksidase)

Merupakan uji serologi imunoperoksidase memakai alat histogen imunoperoksidase staining untuk menentukan adanya IgG spesifik terhadap basil TB.

6. Tes Mantoux/Tuberkulin

7. Teknik Polymerase Chain Reaction

Deteksi DNA kuman secara spesifik melalui amplifikasi dalam berbagai tahap sehingga dapat mendeteksi meskipun hanya ada 1 mikroorganisme dalam spesimen. Juga dapat mendeteksi adanya resistensi.

8. Becton Dickinson Diagnostic Instrument System (BACTEC)

Deteksi growth index berdasarkan CO2 yang dihasilkan dari metabolisme asam lemak oleh M. tuberculosis.

9. Enzyme Linked Immunosorbent Assay

Deteksi respons humoral, berupa proses antigen-antibodi yang terjadi. Pelaksanaannya rumit dan antibodi dapat menetap dalam waktu lama sehingga menimbulkan masalah.

10. MYCODOT

Deteksi antibodi memakai antigen lipoarabinomannan yang direkatkan pada suatu alat berbentuk seperti sisir plastik, kemudian dicelupkan dalam serum pasien. Bila terdapat antibodi spesifik dalam jumlah memadai maka warna sisir akan berubah.

 

Klasifikasi diagnostik TB adalah:

1. TB paru

a. BTA mikroskopis langsung (+) atau biakan (+), kelainan foto toraks menyokong TB, dan gejala klinis sesuai TB.

b. BTA mikroskopis langsung atau biakan (-), tetapi kelainan rontgen dan klinis sesuai TB dan memberikan perbaikan pada pengobatan awal anti TB (initial therapy). Pasien golongan ini memerlukan pengobatan yang adekuat

2. TB paru tersangka

Diagnosis pada tabap ini bersifat sementara sampai basil pemeriksaan BTA didapat (paling lambat 3 bulan). Pasien dengan BTA mikroskopis langsung (-) atau belum ada hasil pemeriksaan atau pemeriksaan belum lengkap, tetapi kelainan rontgen dan klinis sesuai TB paru. Pengobatan dengan anti TB sudah dapat dimulai.

3. Bekas TB (tidak sakit)

Ada riwayat TB pada pasien di masa lalu dengan atau tanpa pengobatan atau gambaran rontgen normal atau abnormal tetapi stabil pada foto serial dan sputum BTA (-). Kelompok ini tidak perlu diobati.

 
Penatalaksanaan
Obat anti TB (OAT)

OAT harus diberikan dalam kombinasi sedikitnya dua obat yang bersifat bakterisid dengan atau tanpa obat ketiga.

 

Tujuan pemberian OAT, antara lain:

1. Membuat konversi sputum-BTA positif menjadi negatif secepat mungkin melalui kegiatan bakterisid.

2. Mencegah kekambuhan dalam tahun pertama setelah pengobatan dengan kegiatan sterilisasi.

3. Menghilangkan atau mengurangi gejala dan lesi melalui perbaikan daya tahan imunologis.

 

Maka pengobatan TB dilakukan melalui 2 fase, yaitu:

a. Fase awal intensif, dengan kegiatan bakterisid untuk memusnahkan populasi kuman yang membelah dengan cepat.

b. Fase lanjutan, melalui kegiatan sterilisasi kuman pada pengobatan jangka pendek atau kegiatan bakteriostatik pada pengobatan konvensional.

OAT yang biasa digunakan antara lain isoniazid (INH), rifampisin (R), pirazimid (Z), dan streptomisin (S) yang bersifat bakterisid dan etambutol (E) yang bersifat bakteriostatik.

 

Penilaian keberhasilan pengobatan didasarkan pada hasil pemeriksaan bakteriologi, radiologi, dan klinis. Kesembuhan TB paru yang baik akan memperlihatkan sputum BTA adanya perbaikan radiologi, dan menghilangnya gejala.

 

Tabel panduan OAT pada TB Paru (WHO 1993)

 

Tabel dosis obat antituberkulosis

 
Pembedahan pada TB paru
Peranan pembedahan dengan adanya OAT yang poten telah berkurang. Indikasi pembedahan dibedakan menjadi indikasi mutlak dan indikasi relatif

 

Indikasi mutlak pembedahan adalah:

a. Semua pasien yang telah mendapat OAT adekuat tetapi sputum tetap positif

b. Pasien batuk darah masif tidak dapat diatasi dengan cara konservatif

c. Pasien dengan fistula bronkopleura dan empiema yang tidak dapat diatasi secara konservatif.

 

Indikasi relatif pembedahan adalah:

a. Pasien dengan sputum negatif dan batuk-batuk darah berulang.

b. Kerusakan 1 paru atau lobus dengan keluhan.

c. Sisa kavitas yang menetap.

 

Tabel daftar obat antituberkulosis

 

Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS)

Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS) adalah nama untuk suatu strategi yang dilaksanakan di pelayanan kesehatan dasar di dunia untuk mendeteksi dan menyembuhkan pasien TB.

Strategi ini terdiri dari 5 komponen, yaitu:

1. Dukungan politik para pimpinan wilayah di setiap jenjang sehingga prograrn ini menjadi salah satu prioritas dan pendanaan pun akan tersedia.

2. Mikroskop sebagai komponen utama untuk mendiagnosa TB melalui pemeriksaan sputum langsung pasien tersangka dengan penemuan secara pasif.

3. Pengawas Minum Obat (PMO) yaitu orang yang dikenal dan dipercaya baik oleh pasien maupun petugas kesehatan yang akan ikut mengawasi pasien minum seluruh obatnya sehingga dapat dipastikan bahwa pasien betul minum obatnya dan diharapkan sembuh pada akhir masa pengobatannya.

4. Pencatatan dan pelaporan dengan baik dan benar sebagai bagian dari sistem surveilans penyakit ini sehingga pemantauan pasien dapat berjalan.

5. Paduan obat anti TB jangka pendek yang benar, termasuk dosis dan jangka waktu yang tepat, sangat penting untuk keberhasilan pengobatan. Termasuk terjaminnya kelangsungan persediaan paduan obat ini. Paduan yang yang berlaku di Indonesia sesuai dengan anjuran WHO terdapat dalam tabel.