Category Archives: Kelainan Mukosa Gigi

Pigmentasi

Mukosa mulut dapat mengalami diskolorasi dalam bentuk pseudomembran dengan peningkatan keratinisasi atau peningkatan vaskularisasi. Pigmentasi dapat terbatas pada tempat tertentu saja, difus, atau pada beberapa tempat. Dapat disebabkan pigmen yang bersifat endogen maupun eksogen. Berdasarkan warnanya, pigmentasi terbagi menjadi:

a. Lesi vaskular biru/ungu, contoh hemangioma, varises, angiosarkoma, sarkoma Kaposi, teleangiektasis.

b. Lesi melanotik coklat, contoh epulis, nevus biru, melanoma maligna, melanosis karena obat, pigmentasi fisiologis, pigmentasi cafe au lait, dll.

c. Lesi coklat yang berhubungan dengan hem, contoh ekimosis, petekie, hemokromatosis.

d. Pigmentasi abu-abu/hitam, contoh tatto amalgam, lidah berambut, menelan metal seperti merkuri, bismut.

 

Lesi Putih dan Lesi Merah

Definisi
Lesi putih merupakan suatu istilah yang menunjukkan perubahan mukosa dengan ciri khas adanya papila opak, pucat (putih), tanpa adanya tanda-tanda pembesaran, eritema, atau ulserasi.

 

Penyebab terjadinya suatu lesi putih adalah penebalan lapisan epitel, adanya material superfisial, adanya pemadatan struktur jaringan ikat di bawah epitel, atau kombinasi ketiganya.

 

A. Variasi struktur/mukosa mulut yang normal

1. Leukodema

Permukaannya halus, fleksibel, dan putih keabu-abuan. Umumnya terdapat pada mukosa bukal, kadang-kadang pada mukosa labial dan biasanya bilateral. Sedikit berlipat-lipat dan bila mukosa diregangkan warna putih akan hilang. Tidak perlu dilakukan tindakan apapun.

 

  1. Granula fordice

Terlihat gambaran titik-titik putih dengan luas 1 cm2. Merupakan struktur kelenjar sebasea yang ektopik dan biasanya multifokal. Diameter 2 mm dan warna kekuningan. Dapat terjadi pada semua usia dengan prevalensi 80-90% dan tidak ada predileksi jenis kelamin.

 

  1. Linea alba

Merupakan garis putih dimukosa bukal setinggi garis oklusal dengan kontur mengikuti keadaan gigi-geligi tapi sedikit mengalami keratinisasi.

 

B. Lesi ulseratif dengan pseudomembran

1. Luka tergigit

Dapat terjadi sewaktu-waktu pada saat pengunyahan atau karena kecelakaan. Biasanya terdapat di mukosa pipi, lidah, dan bibir. Secara klinis terlihat adanya ulkus yang dikelilingi lapisan putih terdiri dari jaringan nekrotik, lunak, bentuknya sama dengan gigi penyebab dan jika baru terjadi biasanya terdapat perdarahan. Penatalaksanaannya adalah penghalusan permukaan gigi yang tajam, pengontrolan agar tidak terjadi infeksi dengan antiseptik, dan pemberian orabase.

 

2. Habitual cheek biting

Trauma yang terjadi bersifat kronis dan dihubungkan dengan kebiasaan gugup yang tidak disadari, pergerakan lidah, dan rahang yang tidak terkontrol. Umumnya terjadi pada pasien dengan gangguan saraf motorik. Secara klinis lebih sering terlihat pada mukosa pipi; lesi tampak superfisial karena gosokan yang berulang-ulang, isapan, atau gerakan mengunyah berbatas jelas dan terasa kasar bila diraba. Penatalaksanaannya dengan pemberian obat kumur antiseptik dan terapi kelainan neuromuskular.

 

3. Luka bakar

Lesi putih yang terjadi karena trauma fisik termis dan dapat disebabkan makanan yang panas, asap rokok, instrumen gigi yang panas, dan lain-lain. Lesi putih ini nonkeratotik dan bersifat sementara. Ulkus berwarna abu-abu keputihan dan jika disebabkan makanan yang panas biasanya terletak di bagian tengah palatum durum. Luka bakar ini dapat terjadi karena obat analgesik asam asetilsalisilat yang sering diletakkan pada lipatan mukosa bukal untuk meredakan rasa sakit pulpitis dan periodontitis pada beberapa pasien. Bentuk lesi tidak teratur, putih, di mana pseudomembran dan seluruh mukosa pipi bisa terkena. Jika pseudomembran diangkat akan timbul rasa sakit dan daerah yang terangkat kasar serta berdarah. Penatalaksanaannya adalah dengan menghentikan aplikasi aspirin, mengontrol infeksi dengan antiseptik dan antibiotik, serta irigasi lesi dengan akuades untuk menghilangkan obat yang masuk.

 

4. Radiation mucocitis

Terjadi karena terapi radiasi pada keganasan daerah leher dan kepala yaag terjadi pada akhir minggu pertama radioterapi. Lesi berwarna merah difus terutama pada mukosa berkeratin tipis, lama-kelamaan terjadi pseudomembran, dan jika epitel terlepas akan terjadi ulkus. Penatalaksanaannya adalah mengontrol terjadinya infeksi sekunder, peningkatan kebersihan mulut, dan pemberian antiseptik dengan bahan dasar klorheksidin glukonat 0,12% dan antibiotik spektrum luas.

 

C. Lesi putih hiperkeratosis tanpa kecenderungan menjadi ganas

1. Stomatitis nikotina

Merupakan lesi spesifik pada perokok berat yang menggunakan pipa atau cerutu. Terjadi pada palatum dan terbatas pada daerah yang terpapar uap tembakau rokok. Pada tahap awal, mukosa tampak kemerahan tapi kemudian berubah menjadi putih keabu-abuan, menebal, dan berfisur. Penebalan terbatas pada muara kelenjar liur minor palatum yang tampak sebagai umbilicated nodule putih dengan bagian tengah merah dan dapat berubah menjadi coklat karena deposit tar. Lesi ini bersifat reversibel sehingga akan hilang jika kebiasaan merokok dihilangkan.

 

2. Traumatic keratosis

Suatu daerah yang terbatas pada mukosa mulut, berupa penebalan berwarna keputihan dan jelas berhubungan dengan iritasi lokal berupa gigi yang tajam, kawat gigi tiruan, dan lain-lain yang akan sembuh jika iritasi dihilangkan.

 

3. White sponge nevus

Merupakan penyakit keturunan autosom dominan yang dapat terjadi di mukosa mulut, genital, dan anal. Dalam mulut dapat terjadi di mukosa bukal, labial, alveolar ridge, dan dasar mulut. Banyak terdapat pada ras kulit putih, tidak ada predileksi jenis kelamin, dan terjadi pada orang dewasa.

 

D. Lesi putih dan lesi metah hiperkeratosis dengan kecenderungan menjadi ganas

l. Leukoplakia

Merupakan lesi putih keratolitik pada mukosa mulut, yang baik secara klinis maupun histopatologik, tidak dapat dimasukkan pada penyakit lain. Identik dengan eritroplakia dan sering dihubungkan dengan keganasan.

 

Etiologi

o Lokal, misalnya penggunaan tembakau, kandidosis

o Sistemik, misalnya sifilis tersier, defisiensi vitamin B dan asam folat, anemia, xerostomia, radiasi dan obat antikolinergik.

 

Leukoplakia dapat ditemukan pada berbagai tempat, terutama di mukosa bukal, gingiva, dan batas bibir kulit (vermillion). Lesi di dasar mulut dan lidah lebih jarang namun keganasan lebih tinggi. Semula lebih sering pada pria, namun sekarang perbandingannya lebih kurang sama, mungkin akibat perubahan kebiasaan merokok. Kedua lesi ini sering terjadi pada usia 60-70 tahun.

 

Manifestasi Klinis

1. Leukoplakia homogen. Secara keseluruhan tampak homogen dengan pola garis halus (crustae), berkerut, dan papilomatosa

2. Leukoplakia nonhomogen

o Eritroleukoplakia (eriosit): lesi berwarna putih merah.

o Nodular: permukaan lesi berbenjol-benjol seperti nodul

o Verukosa: pada permukaan lesi terdapat proyeksi-proyeksi tajam dari epitel.

 

Yang berpotensi menjadi ganas berturut-turut adalah eritroplakia, eritroleukoplakia, nodular leukoplakia, verukosa leukoplakia, dan homogen leukoptakia.

 

Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan sitologi atau biopsi untuk menentukan ada tidaknya displasia sel. Bila perlu, dilakukan biopsi ulang dalam waktu 6-12 bulan, terutama bila terdapat perubahan ukuran atau karakteristik lesi.

 

Penatalaksanaan

Dapat dengan dua cara yaitu terapi nonbedah dan terapi bedah. Terapi nonbedah dengan pemberian vitamin A 1 x 25.000 IU atau 50.000 IU/hari selama tiga bulan, vitamin E, makanan dengan kadar ß karoten tinggi, penghentian rokok dan pemakaian obat kumur beralkohol, serta pemakaian obat jamur selama 1-2 minggu.

 

2. Eritroplakia

Daerah mukosa yang kemerahan, memiliki tekstur seperti beludru, dan berdasarkan pemeriksaan klinis serta histopatologi tidak disebabkan inflamasi atau penyakit lain. Sebagian besar lesi ini, terutama yang berada di bawah lidah, dasar mulut, palatum molle, dan pilar faucial anterior memiliki kecenderungan menjadi ganas. Diduga sebagai lesi awal karsinoma sel skuamosa oral. Jarang ditemukan karena tidak mencolok dan asimtomatik, karena itu pemeriksaan mulut harus dilakukan dalam keadaan kering dan dengan teliti. Tidak memiliki predileksi jenis kelamin, meski mungkin berhubungan dengan kebiasaan merokok dan minuman keras.

 

Pemeriksaan Penunjang

Dilakukan pengolesan lesi dengan toluidin biru 1% topikal dengan swab atau kumur. Diagnosis pasti dengan biopsi.

 

Penatalaksanaan

Penatalaksanaan sama dengan leukoplakia. Biopsi harus dilakukan namun observasi selama 1-2 minggu sambil menghilangkan iritan yang dicurigai dapat diterima.

 

Diagnosis Banding

Kandidosis, stomatistis dentata, tuberkulosis, histoplasmosis, iritasi mekanis.

 

3. Liken Planus

Suatu penyakit yang mengenai kulit dan mukosa, bersifat kronik, dan mudah terjadi eksaserbasi. Etiologinya belum jelas tetapi diduga karena stres, pemakaian obat, dan defisiensi vitamin B kompleks jangka panjang.

 

Mirip dengan leukoplakia, namun liken planus lebih difus, distribusinya menyeluruh, terdapat minimal satu lesi seperti renda. Kelenturan kulit tidak berubah.

 

Manifestasi Klinis

o Kulit

Khas adanya papul dengan permukaan dan berbentuk poligonal, berwarna keungu-unguan, mengkilat, gatal, diameter 1 cm dan distribusinya terutama pada ekstremitas.

o Mukosa mulut

Distribusi lesi pada nukosa bukal, bibir, lidah, dan gingiva. Lesi biasanya bilateral tetapi tidak simetris. Bentuk lesinya bervariasi yaitu retikular, papular, lesi seperti plak, atopik, bula dan erosif.

 

Merupakan suatu kondisi prakanker karena pada pemeriksaan histopatologis terlihat adanya hiperkeratosis, parakeratosis, ortokeratosis, penebalan lapisan granulosum, rete pegs, dan degenerasi likuifaksi sel basal.

 

Penatalaksanaannya adalah menghilangkan faktor predisposisi, pemberian kortikosteroid, vitamin A dosis tinggi, dan obat-obat imunomodulator. Bila setelah pengobatan lesi tidak hilang maka harus dilakukan biopsi .

4. Reaksi Likenoid

Merupakan lesi yang identik dengan lesi liken planus tetapi disebabkan oleh pemakaian obat-obatan. Bila pemakaian obat dihentikan, maka lesi akan hilang. Obat-obatan yang dapat menginduksi adalah obat antihipertensi, antibiotik, antiparasit, antiartritis, obat antihiperglikemia, dan lain-lain. Anamnesis harus lengkap sehingga diketahui riwayat pemakaian obat pada pasien. Penatalaksanaannya adalah mengganti jenis obat.

5. Kandidosis

Kandidosis adalah lesi akibat infeksi Candida albicans dengan gambaran papul putih menyebar dan plak yang bila dirobek akan berdarah.

 

Faktor Predisposisi

Pemakaian obat seperti antibiotik spektrum luas, antibiotik multipel, kortikosteroid, sitotoksik, imunosupresif, antikolinergik; kelainan endokrin seperti diabetes melitus, hipotiroid, hipoparatiroid, hipoadrenalin, poliendokrinopati; kelainan hematologi seperti anemia aplastik, agranulositosis, limfoma, leukemia; defisiensi imun seperti HIV, hipoplasia timus; kelainan leukosit seperti leukopenia, agranulositosis, neutropenia; keganasan seperti leukemia, timoma, dan kanker lanjut; defisiensi nutrisi seperti defisiensi vitamin, malnutrisi, malabsorpsi; dan keadaan lain seperti kehamilan, usia lanjut, radioterapi.

Manifestasi Klinis

Papul putih menyebar dan plak yang bila dirobek akan berdarah.

 

Pemeriksaan Penunjang

Dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui adanya penyakit yang menjadi faktor predisposisi, contohnya:

o Urinalisa untuk mencari diabetes melitus

o Hematologi: pemeriksaan darah lengkap dan hitung jenis leukosit

o Serologi: HIV

 

Diagnosis Banding

Plak susu, debris makanan.

 

Penatalaksanaan

o Cari faktor predisposisi dan diterapi.

o Beri terapi oral atau sistemik dengan obat golongan azol, mikostatin oral 1-2 mg.

 

 

Lesi Ulseratif, Vesikular, dan Bula

Definisi
Banyak penyakit mulut yang memiliki gejala klinis lesi ulseratif, vesikular, dan bula. Untuk itu diperlukan keterangan tambahan tentang riwayat penyakit selain pemeriksaan klinis. Sedikitnya harus ditanyakan sejak kapan lesi itu muncul untuk membedakan apakah akut atau kronik, riwayat penyakit sebelumnya, dan banyaknya lesi yang ada. Penyakit mulut dengan manifestasi lesi ulseratif, vesikular, dan bula dapat dikelompokkan menjadi:

 

a. Lesi multipel akut

Lesi multipel akut dapat disebabkan virus Herpes simpleks 1 dan 2, virus varicella zoster, dan virus Coxsackie. Penyakit mulut yang termasuk lesi multipel akut adalah herpes simpleks primer, varisela, herpes zoster, eritema multiformis, stomatitis alergika, dan acute necrotizing ulcerative gingivitis.

 
Infeksi Herpes Simpleks Primer
Manifestasi Klinis
Pada infeksi Herpes simpfeks primer, 1 atau 2 hari setelah gejala prodromal (demam, malaise, sakit kepala) muncul vesikel-vesikel berdinding tipis dengan dasar inflamasi dan bila pecah akan menjadi ulkus terutama di mukosa berkeratin tebal, yaitu pala­tum durum, dorsal lidah, dan gingiva. Petanda lain adalah gingivitis marginal akut pada seluruh gingiva, inflamasi faring posterior, serta pembesaran kelenjar getah bening submandibula dan servikal. Lesi ekstraoral sama dengan lesi intraoral tetapi ditutupi krusta kekuningan dan terletak di daerah merah bibir dan sirkum oral.

 
Faktor Predisposisi
Rekurensi dapat terjadi karena virus laten pada saraf. Faktor predisposisi yang dapat mengaktifkan virus laten adalah demam, stres, trauma lokal pada ganglion saraf, alergi, defisiensi nutrisi, dan kelelahan fisik.

 

Penatalaksanaan

Pemberian asiklovir, terapi simtomatik, terapi suportif, dan pencegahan rekurensi dengan menghindarkan faktor-faktor predisposisi.

 
Infeksi Virus Varicella Zoster
Manifestasi Klinis
Infeksi virus Varicella zoster menyebabkan infeksi primer atau rekurens yang bersifat laten bila menyerang jaringan saraf. Virus Varicella zoster menimbulkan penyakit varisela dan herpes zoster. Petanda varisela adalah lesi mukopapular yang berkembang menjadi vesikel dengan dasar eritema dan cepat pecah menjadi ulkus di seluruh tubuh, termasuk mukosa mulut. Pada penderita herpes zoster akan didahului gejala prodromal selama 2 sampai 4 hari. Lalu muncul erupsi yang khas, yaitu vesikel berkelompok dengan dasar eritem sesuai dermatom saraf yang terkena dan lesi pada mukosa mulut maupun wajah akan timbul bila virus ini menyerang cabang ketiga atau cabang pertama nervus trigemi­nus. Herpes zoster ditegakkan berdasarkan riwayat nyeri dan adanya lesi yang khas, segmental, dan unilateral.

 
Komplikasi
Pada keadaan tertentu infeksi dapat sangat hebat sehingga menimbulkan komplikasi, yaitu:

  • Neuralgia pascaherpetik yaitu rasa sakit yang hebat akibat inflamasi fibrosis pada saraf sensoris.
  • Sindrom Ramsay Hunt, yaitu suatu kumpulan gejala kelumpuhan yang mengenai saraf motorik nervus fasialis (kelumpuhan muka).

 
Penatalaksanaan
Untuk penderita varisela maupun herpes zoster pada usia muda diberikan pengobatan simtomatis atau ditambah dengan asiklovir untuk mempercepat penyembuhan, dan mengurangi rasa nyeri. Beri vitamin neurotropik, dan lakukan perawatan lesi ekstraoral dengan antiseptik atau bedak salisil untuk mencegah infeksi sekunder yang dapat menyebabkan skar. Kortikosteroid prednison 3 x 5 mg selama 5 hari diberikan untuk mencegah komplikasi neuralgia maupun mengurangi komplikasi pada mata.

 
Eritema Multiforme
Etiologi
Eritema multiforme adalah penyakit inflamasi akut pada kulit dan mukosa yang menyebabkan berbagai bentuk lesi akibat deposit imunokompleks. Etiologinya belum jelas tetapi ada beberapa faktor yang diduga berperan yaitu obat-obatan golongan sulfa, penisilin, analgesik, antipiretik, mikroorganisme, penyakit autoimun, radiasi, psikis atau keganasan.

 
Patogenesis
Diduga merupakan suatu reaksi hipersensitivitas dan adanya deposit imunokompleks pada pembuluh darah superfisial kulit serta mukosa menyebabkan aktivasi komplemen, peningkatan permeabilitas pembuluh darah, dan penarikan leukosit yang akan melepaskan enzim proteolitik sehingga terjadi kerusakan jaringan.

Manifestasi Klinis

Kelainan ini timbul cepat dengan gejala prodromal kurang dari 48 jam. Lesi patognomonik adalah lesi target pada kulit yang terdiri dari bula dikelilingi oleh edema dan eritema. Lesi pada eritema multiforme lebih besar, tidak teratur, lebih dalam, biasanya berdarah, dan dapat terjadi pada semua mukosa mulut. Lesi pada bibir khas berbentuk lesi yang ditutupi krusta merah kehitaman.

 
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan kasus eritema multiforme yang ringan cukup dengan pengobatan suportif, seperti obat anestesi kumur dan diet makanan lunak. Sedangkan pada eritema multiforme sedang maupun berat memerlukan kortikosteroid, contohnya prednison atau metilprednisolon dengan dosis awal 30-50 mg/hari selama beberapa hari.

 
Acute Necrotizing Ulcerative Gingivitis
Acute necrotizing ulserative gingivitis adalah suatu infeksi bakteri khas yang mengenai papila dan tepi gingiva. Sering terjadi pada orang dewasa muda dekade dua.

 
Etiologi
Bakteri penyebab adalah Bacillus fusiformis dan Borellia vincentii. Adanya bakteri­-bakteri tersebut tidak selalu memberikan gejala, kadang gejala baru timbul bila ada faktor predisposisi yang menurunkan daya tahan jaringan mulut.

 
Faktor Predisposisi
Kebersihan mulut yang buruk sehingga terjadi penimbunan makanan dan karang gigi, merokok, emosi/stres, kelelahan fisik, dan penyakit kelainan darah.

 
Manifestasi Klinis
Terdapat rasa sakit akut pada gingiva yang menyeluruh, keluhan perdarahan gingiva, hilangnya pengecapan dan bau mulut, dan adanya gejala sistemik seperti sakit kepala, demam, dan limfadenopati.

Pada gingiva terlihat nekrosis yang menyeluruh atau lokal, terdapat pseudomembran, hilangnya papil interdental, jaringan mudah sekali berdarah, dan bagian mukosa mulut lain yang menempel pada gingiva, di mana lesi terdapat juga akan terkena sehingga timbul ulkus datar, multipel, dan teratur sebagai abkatch ulcera.

 

Penatalaksanaan

o Hilangkan gejala aktif dengan cara mematikan dan mengontrol bakteri dengan penisilin 4 x 500 mg/hari, kumur dengan H2O2 1,5-2%, dan pemberian roboransia vitamin C atau B kompleks.

  • Hilangkan atau memperbaiki faktor lokal atau sistemik.
  • Beri penyuluhan perbaikan kebersihan mulut dan pemeriksaan rutin.

 

b. Lesi multipel rekurens

Lesi multipel rekurens merupakan masalah yang tersering ditemukan pada penyakit mulut. Penyakit mulut yang termasuk lesi ini adalah stomatitis aftosa rekurens, sindrom Behcet, infeksi Herpes simpleks rekurens, eritema multiformis rekurens, dan neutrope­nia siklik.

 
Stomatitis Aftosa Rekurens
Etiologi
Stomatitis aftosa rekurens ditandai dengan ulserasi rekurens pada mukosa mulut tanpa petanda lain. Penyakit ini dapat dihubungkan dengan kelainan imunologi, kelainan hematologis, kelainan psikologis, maupun alergi.

 
Manifestasi Klinis
Berdasarkan penampakan lesi, stomatitis aftosa rekurens dapat dibagi menjadi ulserasi minor bila diameter kurang dari 1 cm dengan penyembuhan tanpa skar; ulserasi mayor bila diameter lebih dari 1 cm, penyembuhan lebih lama, dan meninggalkan skar; ulserasi herpetiformis bila ulserasi kecil-kecil dan berkumpul.

 
Penatalaksanaan
Harus disertai dengan terapi penyakit penyebabnya, selain diberikan emolien topikal, seperti orabase, pada kasus yang ringan dengan 2-3 lesi ulserasi minor. Pada kasus yang lebih berat dapat diberikan kortikosteroid, seperti triamsinolon atau fluosinolon topikal, sebanyak 3 atau 4 kali sehari setelah makan dan menjelang tidur. Pemberian tetrasiklin dapat diberikan untuk mengurangi rasa nyeri dan jumlah ulserasi. Bila tidak responsif terhadap kortikosteroid atau tetrasiklin, dapat diberikan dapson dan bila gagal juga maka diberikan talidomid.

Infeksi Herpes Simpleks Rekurens

Infeksi Herpes simpleks rekurens pada mulut, yaitu pada bibir atau intraoral terjadi pada pasien yang pernah menderita infeksi Herpes simpleks dan memiliki antibodi pelindung, sehingga disebut juga sebagai reaktivasi bukan reinfeksi. Pemicunya adalah demam, haid, sinar ultraviolet, stres, dan imunosupresi.

 
Manifestasi Klinis
Gejala yang muncul adalah gejala prodromal diikuti timbulnya vesikel-vesikel kecil berdiameter 1-3 mm yang berkelompok sebesar 1-2 cm pada bibir. Lesi pada in­traoral sama dengan lesi yang muncul pada bibir, tapi sangat cepat pecah sehingga membentuk ulserasi. Biasanya pada mukosa berkeratin tebal, yaitu gingiva, pala­tum, dan jembatan alveolar. Lesi akan bertambah besar dan menyebar ke mukosa di sekitarnya, pada daerah yang mengandung sedikit keratin, seperti mukosa rongga mulut, mukosa bibir, dan dasar rongga mulut. Penyakit ini akan sembuh dalam 1-2 minggu.

 
Penatalaksanaan
Tergantung keluhan pasien. Pemberian asiklovir 5 x 200 mg dapat diberikan sebagai profilaksis bukan saat penyakit ini kambuh.

 

c. Lesi multipel kronik

Penyakit mulut dengan manifestasi lesi multipel kronik adalah pemfigus, pemfigoid sikatrik, dan liken planus erosif.

 
Pemfigus
Penyakit autoimun yang melibatkan kulit dan mukosa dan ditandai dengan adanya bula intradermal. Ada 4 bentuk, yaitu pemfigus vulgaris, pemfigus vegetans, pemfigus foliaseus, dan pemfigus eritematosus. Bentuk lesi pada pemfigus tidak bulat, iregular, dan dangkal dengan tanda Nikolsky yang khas.

 
Penatalaksanaan
Pemberian kortikosteroid sistemik dosis tinggi bersama dengan imunosupresan seperti siklosporin atau azatioprin.

 

d. Ulkus traumatik

Lesi ini disebabkan trauma karena gigi, makanan, alat yang dipasang pada rongga mulut, panas, atau bahan kimia dan akan sembuh dalam 1 minggu. Lesi ini harus dibedakan dari karsinoma sel skuamosa.