Category Archives: Dermatitis

Dermatitis Statis

Definisi
Dermatitis statis atau dermatitis hipostatis merupakan salah satu jenis dermatitis sirkulatorius. Biasanya dermatitis statis merupakan dermatitis varikosum, sebab kausa utamanya ialah insufisiensi vena.

 
Etiologi
Semua keadaan yang menyebabkan stasis peredaran darah di tungkai bawah.

 
Manifestasi Klinis
Subyektif terdapat pruritus. Pada permulaan tampak edema pada pergelangan kaki, terutama pada sore hari sehabis bekerja. Hemosiderin ke luar dari pembuluh darah, sehingga terlihat bercak-bercak hiperpigmentasi kecoklat-coklatan pada bagian medial sepertiga bawah tungkai bawah. Periahan-lahan timbul dermatitis yang seringkali madidans.

 

Bila timbul infeksi sekunder, maka teraba indurasi subkutan dan kulit di atasnya berwarna coklat-merah. Karena terjadi pembendungan serta atrofi kulit, maka dengan mudah akan timbul ulkus. Faktor presipitasi timbulnya ulkus stasis ialah trauma ringan dan infeksi sekunder. Pada stadium lanjut dapat timbul ulkus stasis, maka subyektif terasa nyeri.

 
Penatalaksanaan
Terdiri atas pengobatan kausa kelainan sirkulasi diperbaiki misalnya dengan elevasi tungkai pada saat tidur. Terapi dermatitis diberikan sesuai dengan kondisinya.

 

Dermatitis Numularis

Etiologi
Etiologi tidak diketahui. Penyakit timbul pada pasien yang mempunyai kulit kering, serta mempunyai kepribadian yang tense dan anxious. Kadang-kadang didapati infeksi fokal.

 
Manifestasi Klinis
Subyektif sangat gatal. Obyektif terlihat dermatitis sebesar uang logam, terdiri atas eritema, edema, kadang-kadang ada vesikel, krusta atau papul. Tempat predileksi ialah ekstensor ekstremitas (terutama tungkai bawah), bahu dan bokong. Penyakit mempunyai kecenderungan residif.

 
Penatalaksanaan
Cari infeksi sebagai faktor pencetus fokal/sistemik, dapat diberikan prednison 20 mg sehari. Pengobatan topikal disesuaikan kondisi penyakit.

 

Dermatitis Atopik

Definisi
Dermatitis atopik dapat disebut juga ekzema konstitusional, ekzema fleksural, neurodermatitis diseminata, prurigo Besnier.

 
Etiologi
Terdapat stigmata atopi (herediter) pada pasien/anggota keluarga berupa:

a. Rinitis alergik, asma bronkial, hay fever.

b. Alergi terhadap pelbagai alergen protein (polivalen).

c. Pada kulit: dermatitis atopik, dermatografisme putih, dan kecenderungan timbul urtika

d. Reaksi abnormal terhadap perubahan suhu (hawa udara panas dingin) dan ketegangan (stres).

e. Resistensi menurun terhadap infeksi virus dan bakteri.

f. Lebih sensitif terhadap serum dan obat.

g. Kadang-kadang terdapat katarak juvenilis.

 

Faktor Predisposisi/Pencetus

Pasien biasanya gugup dan irritable. Faktor psikologis dan psikosomatis dapat menjadi faktor pencetus. Fenomena sensitisasi disebabkan oleh alergen per ingestionem, per inhalationem, atau kontak langsung.

 
Patogenesis
Belum diketahui dengan pasti. Histamin dianggap sebagai zat penting yang memberi reaksi dan menyebabkan pruritus. Histamin menghambat kemotaksis dan menekan produksi sel T.

 

Sel mast meningkat pada lesi dermatitis atopik kronis. Sel ini mempunyai kemampuan melepaskan histamin. Histamin sendiri tidak dapat menyebabkan lesi ekzematosa. Kemungkinan zat tersebut menyebabkan pruritus dan eritema, mungkin karena garukan akibat gatal menimbulkan lesi ekzematosa.

 

Pada pasien dermatitis atopik kapasitas untuk menghasilkan IgE secara berlebihan diturunkan secara genetik. Demikian pula defisiensi sel T penekan (supressor). Defisiensi sel ini menyebabkan produksi berlebih IgE.

Manifestasi Klinis

Subyektif selalu terdapat pruritus. Terdiri atas tiga bentuk, yaitu:

o Bentuk infantil (2 bulan – 2 tahun).

Karena letaknya di daerah pipi yang berkontak dengan payudara, secara salah sering disebut ekzema susu. Terdapat eritema berbatas tegas, dapat disertai papul-papul dan vesikel-vesikel miliar, yang menjadi erosif, eksudatif, dan berkrusta. Tempat predileksi kedua pipi, ekstremitas bagian ileksor dan ekstensor.

o Bentuk anak (3-10 tahun)

Pada anamnesis dapat didahulni bentuk infantil. Lesi tidak eksudatif lagi, sering disertai hiperkeratosis, hiperpigmentasi, dan hipopigmentasi. Tempat predileksi tengkuk, fleksor kubital, dan fleksorpopliteal.

o Bentuk dewasa ( 13-30 tahun)

Pada anamnesis terdapat bentuk infantil dan bentuk anak. Lesi selalu kering dan dapat disertai likenifikasi dan hiperpigmentasi. Tempat predileksi tengkuk serta daerah fleksor kubital dan popliteal.

 

Manifestasi lain berupa kuiit kering dan sukar berkeringat, gatal-gatal terutamajika

berkeringat. Berbagai kelainan yang dapat menyertainya ialah xerosis kutis, iktiosis, hiperlinearis palmaris et plantaris, pomfoliks, pitiriasis alba, keratosis pilaris (berupa papul-papul miliar, di tengahnya terdapat lekukan), dll.

 

Pemeriksaan Penunjang

o Darah perifer ditemukan eosinofilia dan peningkatan kadar IgE.

o Dermatografisme putih. Penggoresan pada kulit normal akan menimbulkan tiga respons, yakni berturut-turut akan terlihat garis merah di tempat penggoresan selam I S detik, warna merah di sekitarnya selama beberapa detik, dan edema timbul sesudah beberapa menit. Penggoresan pada pasien yang atopik akan bereaksi berlainan. Garis merah tidak disusul warna kemerahan, tetapi kepucatan selama 2 detik sampai 5 menit, sedangkan edema tidak timbul. Keadaan ini disebut dermatografisme putih. .

o Percobaan asetilkolin. Suntikan secara intrakutan solusio asetilkolin 1/5000 akan menyebabkan hiperemia pada orang normal. Pada orang dengan dermatitis atopik akan timbul vasokonstriksi, terlihat kepucatan selama 1 jam.

o Percobaan histamin. Jika histamin fosfat disuntikkan pada lesi, eritema akan berkurang dibandingkan orang lain sebagai kontrol. Kalau obat tersebut disuntikkan parenteral, tampak eritema bertambah pada kulit yang normal.

 

Diagnosis Banding

Diagnosis banding bentuk infantil adalah dermatitis seboroika, pada bentuk anak dan dewasa adalah neurodermatitissirkumskripta Vidal atau lazim disebut neurodermatitissaja.

 
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan seperti dermatitis pada umumnya, terutama menghindari faktor pencetus/faktor predisposisi. Bila eksudasi berat atau stadium akut diberi kompres, terbuka, bila dingin dapat diberikan krim kortikosteroid ringan sedang. Pada lesi kronis dan likenifikasi dapat diberikan salep kortikosteroid kuat. Antihistamin merupakan obat pilihan utama sebagai kompetitif histamin. Dapat digunakan golongan sedasi (klasik) maupun nonsedasi (AH baru).

 

Neurodermatitis Sirkumskripta

Sinonim Liken simpleks kronikus Vidal
Etiologi
Tidak diketahui.

 
Faktor Predisposisi
Penyakit ini biasanya timbul pada orang yang kurang istirahat, gangguan emosi, misalnya mudah gugup, cemas, dan iritable.

Manifestasi Klinis

Subyektif sangat gatal sehingga pasien suka menggaruk. Dengan menggaruk, maka timbul ekskoriasi dan ingin menggaruk lagi (scratch itch effect). Obyektif terlihat area sirkumskripta, dengan hiperpigmentasi, likenifikasi, dan papul-papul serta biasanya banyak bekas garukan. Lokasi tersering ialah bagian belakang dan lateral tengkuk, daerah ante-kubital, ante­popliteal, serta pergelangan kaki bagian anterior.

 
Diagnosis
Berdasarkan perjalanan penyakit yang kronis pada orang yang selalu hidup tidak tenang dengan gambaran klinis yang khas.

 
Penatalaksanaan
o Nonmedikamentosa: mengubah cara hidup, cukup istirahat, bila perlu konsul psikiatri.

o Medikamentosa: antihistamin dengan efek samping sedatif, topikal: salep yang bersifat antipruritus yang juga keratolitik, sebab lesi tebal, misalnya ditambah ter (likuor karbonis detergens 3%), atau kortikosteroid topikal golongan kuat.

 

Dermatitis Kontak

Definisi
Dermatitis kontak ialah dermatitis karena kontaktan eksternal, yang menimbulkan fenomen sensitisasi (alergik) atau toksik (iritan).

 
Etiologi
Sekret serangga, lipas, getah tumbuh-tumbuhan, dll. dapat menimbulkan dermatitis venenata yang berbentuk linear. Bahan kimia terdapat dalam banyak bahan. Soda dalam sabun, zat­-zat deterjen (misalnya lisol), desinfektan dan zat warna (untuk pakaian, sepatu dan lain-lairi dapat mengakibatkan dermatitis. Pada seorang ibu rumah tangga dapat timbul house-wife dermatitis, yang merupakan sebagian dermatitis tangan (hand dermatitis) yang sangai sering dijumpai. Bila dermatitis kontak terjadi di tempat pekerjaan, maka disebut dermatitiv akibat kerja (occupational dermatitis). Bila zat-zat dari pabrik menjadi kausa, maka dinamakan dermatitis industrial (industrial dermatitis).

 

Dermatitis pekerjaaii terlihat, misalnya di perusahaan batik, percetakan, pompa bensin, bengkel, studio potret, salon kecantikan, pabrik karet, pabrik plastik, dan sebagainya. Pada dermatitis akibat kerja seringkali nampak pula fisura, skuama, dan paronikia sebagai’ akibat iritasi kronik.

 

Di dalam rumah tangga dapat terjadi dermatitis karena insektisida, daun-daun, kunyit, kapur, sirih, minyak, balsam, dan pelbagai salep yang dapat dibeli secara bebas. Salep yang mengandung sulfonamid, penisilin, merkuri, atau sulfur dapat menimbulkan dermatitis. Dermatitis logam disebabkan oleh perhiasan, jam tangan, bingkai kacamata dan sebagainya.

 

Dermatitis pakaian disebabkan oleh pakaian wol, nilon, sutra, atau oleh pewarna pakaian. Lipstik, pewarna kuku, dan obat penghitam rambut serta berbagai kosmetik atau minyak parfiim dapat pula menyebabkan dermatitis kontak.

 

Dermatitis perioralis dapat disebabkan oleh getah buah, tapal gigi, obat kumur, dan sebagainya. Dermatitis karena sandal, terutama sandal karet dan kaos kaki nilon terlihat pula.

 
Patogenesis
Dermatitis kontak alergik termasuk reaksi tipe IV ialah hipersensitivitas tipe lambat. Patogenesisnya melalui 2 fase ialah fase induksi (fase sensitisasi) dan fase elisitasi. Fase induksi ialah saat kontak pertama alergen dengan kulit sampai limfosit mengenal dan memberi respons, memerlukan waktu 2-3 minggu. Fase elisitasi ialah saat terjadi pajanan ulang dengan alergen yang sama atau serupa sampai timbul gejala klinis.

 

Pada fase induksi, hapten (protein tak lengkap) berpenetrasi ke dalam kulit dan berikatan dengan protein karier membentuk antigen yang lengkap. Antigen ini ditangkap dan diproses lebih dahulu oleh makrofag dan sel Langerhans. Kemudian memacu reaksi limfosit T yang belum tersensitisasi di kulit, sehingga terjadi sensitisasi limfosit T, melalui saluran limfe, limfosit yang telah tersensitisasi berimigrasi ke darah parakortikal kelenjar getah bening regional untuk berdiferensiasi dan berproliferasi membentuk sel T efektor yang tersensitisasi secara spesifik dan sel memori. Kemudian sel-sel tersebut masuk ke dalam sirkulasi, sebagian kembali ke kulit dan sistem limfoid, tersebar di seluruh tubuh, menyebabkan keadaan sensitivitas yang sama di seluruh kulit tubuh.

 

Pada fase elisitasi, terjadi kontak ulang dengan hapten yang sama atau serupa. Sel efektor yang telah tersensitisasi mengeluarkan limfokin yang mampu menarik berbagai sel radang sehingga terjadi gejala klinis.
Manifestasi Klinis
Gambaran dermatitis mulai pada tempat terjadinya kontak dengan kulit, dapat menjadi generalisata. Kontak ulang mempercepat penyebarannya.
Pemeriksaan Penunjang
Bila penyakit sudah sembuh, dapat diadakan uji tempel (patch test). Pada daerah fleksor lengan bawah atau interskapular dioleskan alergen yang tersangka, yang menutup dengan kain kasa dan selofan impermeabel. Sesudah 24-48 jam dibaca, apakah terdapat reaksi atau tidak. Reaksi dinilai sebagai:

1 + ? eritema

2 + ? eritema, edema, papul

3 + ? eritema, edema, papul, vesikel

4 + ? sama dengan 3 +, tetapi disertai vesikel yang berkonfluensi

5 + ? sama dengan 4 plus, tetapi keadaan madidans dengan atau tanpa nekrosis

 
Diagnosis
Diagnosis berdasarkan atas anamnesis dan gambaran klinis. Uji tempel tidak dapat dilakukan pada stadium akut, karena akan memberatkan penyakit.

 
Penatalaksanaan
Proteksi terhadap zat penyebab dan penghindaran kontaktan merupakan tindakan penting. Antihistamin sistemik tidak diindikasikan pada stadium permulaan, sebab tidak ada pembebasan histamin. Pada stadium selanjutnya terjadi pembebasan histamin secara pasif. Kortikosteroid sistemik hanya diberikan bila penyakit berat, misalnya prednison 20 mg sehari. Terapi topikal digunakan sesuai dengan petunjuk umum pengobatan dermatitis.

 

Dermatitis

Definisi
Dermatitis merupakan epidermo-dermitis dengan gejala subyektifpruritus. Obyektif tampak inflamasi eritema, vesikulasi, eksudasi, dan pembentukan sisik. Tanda-tanda polimorfi tersebut tidak selalu timbul pada saat yang sama. Penyakit bertendensi residif dan menjadi kronis.

 
Sinonim
o Unitaris: ekzema dan dermatitis dianggap sinonim. Anggapan ini, yang berasal dari kontinen Eropa, tidak dianut lagi.

o Dualistis: ekzema dan dermatitis merupakan nama yang tidak sinonim. Anggapan dualistis sekarang dianut di semua negeri. Semua kelainan dianggap dermatitis dan dengan demikian dicari faktor-faktor penyebab. Yang dulu disebut ekzema ialah salah satu bentuk dermatitis, yakni yang dinamakan dermatitis atopik.

 
Etiologi
Penyebab dermatitis kadang-kadang tidak diketahui. Sebagian besar merupakan respons kulit terhadap agen-agen, misalnya zat kimia, protein, bakteri, dan fungus. Respons tersebut dapat berhubungan dengan alergi. Alergi ialah perubahan kemampuan tubuh yang didapat dan spesifik untuk bereaksi.

 

Reaksi alergi terjadi atas dasar interaksi antara antigen dan antibodi. Karena banyaknya agen penyebab, ada anggapan bahwa nama dermatitis digunakan sebagai nama `tong sampah’ (carch basker term). Banyak penyakit alergi yang disertai tanda-tanda polimorfi disebut dermatitis.

 

Manifestasi Klinis

Subyektif ada tanda-tanda radang akut, terutama pruritus (sebagai pengganti dolor). Selain itu terdapat pula kenaikan suhu (kalor), kemerahan (rubor), edema atau pembengkakan, dan gangguan fungsi kulit (fungsio lesa).

 

Obyektif, biasanya batas kelainan tidak tegas dan terdapat lesi polimorfi, yang dapat timbul secara serentak atau berturut-turut. Pada permulaan timbul eritema dan edema. Edema sangat jelas pada kulit yang longgar, misalnya muka (terutama palpebra dan bibir) dan genitalia eksterna. Infiltrasi biasanya terdiri atas papul.

 

Dermatitis madidans (basah) berarti terdapat eksudasi. Di sana-sini terdapat sumber dermatitis, artinya terdapat vesikel-vesikel pungtiformis yang berkelompok dan kemudian membesar. Kelainan tersebut dapat disertai bula atau pustul, jika disertai infeksi.

 

Dermatitis sika (kering) berarti tidak madidans. Bila gelembung-gelembung mengering, maka akan terlihat erosi atau ekskoriasi dengan krusta. Hal ini berarti dermatitis menjadi kering disebut dermatitis sika. Pada stadium tersebut terjadi deskuamasi, artinya timbul sisik-sisik. Bila proses menjadi kronis tampak likenifikasi dan sebagai sekuele terlihat hiperpigmentasi atau hipopigmentasi.

 
Histopatologi
Pada dermatitis akut kelainan di epidermis berupa vesikel atau bula, spongiosis, edema intrasel, dan eksositosis, terutama sel mononuklear. Kadang-kadang tampak krusta menutupi epidermis. Dermis sembab, pembuluh darah melebar, di sekitarnya terdapat sebukan sel radang mononuklear.

 

Kelainan pada stadium subakut hampir seperti pada stadium akut; jumlah vesikel sedikit dan lebih kecil, spongiosis masihjelas; kelainan di dermis menyerupai stadium akut.

 

Pada stadium kronis perubahan yang terlihat terutama akantosis, rere ridges memanjang, parakeratosis, dan hiperkeratosis. Spongiosis ringan kadang-kadang terlihat, sedangkan vesikel tidak lagi ditemukan. Perubahan dalam dermis berupa penebalan jaringan kolagen, fibroblas bertambah banyak, serta pembuluh darah kapiler bertambah dan dindingnya menebal. Sebukan sel radang menahun ditemukan di sekitar pembuluh darah dermis bagian atas.

 
Penatalaksanaan
o Sistemik

Pada kasus dermatitis ringan diberi antihistamin, atau kombinasi antihistamin­antiserotonin, antibradikinin, anti-SRS-A, dsb. Pada kasus berat dapat dipertimbangkan pemberian kortikosteroid.

o Topikal

Prinsip umum terapi topikal diuraikan di bawah ini:

- Dermatitis basah (madidans) harus diobati dengan kompres terbuka. Dermatitis kering (sika) diobati dengan krim atau salep.

- Makin berat atau akut penyakitnya, makin rendah persentase obat spesifik.

- Bila dermatitis akut, diberi kompres. Bila subakut, diberi losio (bedak kocok), pasta, krim, atau linimentum (pasta pendingin). Bila kronik, diberi salep.

- Pada dermatitis sika, bila superfisial, diberikan bedak, losio, krim atau pasta; bila kronik diberikan salep. Krim diberikan pada daerah berambut, sedangkan pasta pada daerah yang tidak berambut. Penetrasi salep lebih besar daripada krim.