Category Archives: Dermatosis Eritroskuamosa

Dermatitis Seboroik

Definisi
Dermatitis seboroik adalah golongan kelainan kulit yang didasari oleh faktor konstitusi dan bertempat predileksi di tempat seboroik.


Etiologi

Belum diketahui pasti.

 
Faktor Predisposisi
Status seboroik, infeksi Pityrosporum ovale, kelelahan, stres emosional.

 
Manifestasi Klinis
Lesi berupa eritema, skuama berminyak agak kekuningan, berbatas agak kurang tegas.

 

Bentuk yang ringan adalah pitiriasis sika (ketombe, dandruff) yang hanya mengenai kulit kepala berupa skuama halus dan kasar. Bentuk yang berminyak disebut pitiriasis steatoides, dapat disertai eritema dan krusta tebal. Rambut pada tempat tersebut mempunyai kecenderungan rontok, mulai di bagian verteks dan frontal, disebut alopesia seboroika. Pada bentuk yang berat terdapat bercak-bercak berskuama dan berminyak, disertai eksudasi dan krusta tebal. Sering meluas ke dahi, glabela, telinga posaurikular, dan leher. Pada daerah dahi batasnya sering cembung.

 

Pada bentuk yang lebih berat, seluruh kepala tertutup krusta kotor dan berbau tidak sedap. Pada bayi, skuama yang kekuningan dan kumpulan debris epitel yang lekat pada kulit disebut cradle cap.

 

Pada daerah supraorbital skuama halus dapat terlihat di alis mata, kulit di bawahnya eritematosa dan gatal, disertai bercak skuama kekuningan. Dapat pula terjadi blefaritis, yakni pinggiran kelopak mata merah disertai skuama halus.

 

Tempat predileksi adalah kepala, dahi, glabela, telinga posaurikular, liang telinga luar, leher, lipatan nasolabial, daerah sternal, areola mammae, lipatan di bawah mammae pada wanita, interskapular, umbilikus, lipat paha, dan daerah anogenital. Pada daerah pipi, hidung, dan dahi kelainan dapat berupa papul.

 

Dermatitis seboroik dapat bersama-sama dengan akneyang berat. Jika meluas dapat menjadi eritroderma, pada bayi disebut penyakit Leiner.

Diagnosis Banding

Psoriasis, kandidiasis, otomikosis, otitis eksterna.

 
Penatalaksanaan
o Sistemik: pada bentuk yang berat diberikan kortikosteroid (prednison 20-30 mg).

o Topikal: pada pitiriasis sika dan oleosa, 2-3 kali/minggu kulit kepala dikeramasi selama 5­-15 menit, dengan selenium sulfida (selsun) dalam bentuk sampo atau losio, krim. Jika terdapat skuama dan krusta yang tebal, dilepaskan. Obat lain yang dapat dipakai:

  • ter, misalnya likuor karbonas detergens 2-5 % atau krim pragmatar
  • resorsin 1-3 %
  • sulfur presipitatum 4 – 15 %, dapat digabung dengan asam salisil 3 – 6%
  • kortikosteroid, misalnya krim hidrokortison. Pada kasus dengan inilamasi berat dapat dipakai kortikosteroid yang lebih kuat, misalnya betametason-valerat, asalkan jangan terlalu lama karena efek sampingnya.

 

Obat-obat tersebut sebaiknya dipakai dalam krim.

 
Prognosis
Prognosis kurang baik karena adanya faktor konstitusi.

 

Eritroderma

Definisi
Eritroderma (dermatitis eksfoliativa) adalah kelainan kulit yang ditandai dengan adanya eritema seluruh/hampir seluruh tubuh, biasanya disertai skuama.

 
Etiologi
o Alergi obat, biasanya secara sistemik. Yang tersering adalah: penisilin dan derivatnya, sulfonamid, analgetik/antipiretik, dan tetrasiklin.

o Perluasan penyakit kulit, misalnya psoriasis, dermatitis seboroik, pemfigus foliaseus, dermatitis atopik, pitiriasis rubra pilaris, dan liken planus.

o Penyakit sistemik, termasuk keganasan.

Ada golongan yang tidak diketahui penyebabnya (5-10%).

 
Manifestasi Klinis
o Eritroderma akibat alergi obat, biasanya secara sistemik. Biasanya timbul secara akut dalam waktu 10 hari. Lesi awal berupa eritema menyeluruh, sedangkan skuama baru muncul saat penyembuhan.

o Eritroderma akibat perluasan penyakit kulit. Yang tersering adalah psoriasis dan derma­titis seboroik pada bayi (penyakit Leiner).

  • Eritroderma karena psoriasis. Ditemukan eritema yang tidak merata. Pada tempat predileksi psoriasis dapat ditemukan kelainan yang lebih eritematosa dan agak meninggi daripada sekitarnya dengan skuama yang lebih tebal. Dapat ditemukan pitting nail.
  • Penyakit Leiner (eritroderma deskuamativum). Usia pasien antara 4-20 minggu. Keadaan umum baik, biasanya tanpa keluhan. Kelainan kulit berupa eritema seluruh tubuh disertai skuama kasar.

o Eritroderma akibat penyakit sistemik, termasuk keganasan. Dapat ditemukan adanya penyakit pada alat dalam, infeksi dalam, dan infeksi fokal. Termasuk dalam golongan ini adalah sindrom Sezary.

 

Sindrom Sezary. Penyakit ini termasuk limfoma, diduga merupakan stadium dini mikosis fungoides. Penyebabnya belum diketahui, diduga berhubungan dengan infeksi virus HTLV-V dan dimasukkan ke dalam CTCL (Cutaneous T Cell Lymphoma). Sering menyerang orang dewasa, pada pria usia rata-rata 64 tahun sedangkan wanita 53 tahun.

 

Manifestasi klinis subyektif berupa rasa sangat gatal. Secara obyektif terdapat eritema berwarna merah membara menyeluruh disertai skuama kasar dan berlapis, terdapat infiltrasi pada kulit dan edema. Dapat ditemukan splenomegali, limfadenopati superfisial, alopesia, hiperpigmentasi, hiperkeratosis palmaris dan plantaris, serta kuku yang distrofik. Pada pemeriksaan laboratorium terdapat leukositosis, dapat timbul eosinofilia dan limfositosis. Terdapat limfosit atipik (sel Sezary) dalam darah, kelenjar getah bening, dan kulit. Pada biopsi ditemukan infiltrat pada dermis bagian atas dan sel Sezary.

 

Disebut sindrom Sezary jika jumlah sel Sezary yang beredar 1000/mm3 atau lebih. Bila di bawah 1000/mm3 disebut sindrom pre Sezary.

 

Penatalaksanaan

o Diet tinggi protein

o Sistemik:

  • Golongan 1 : kortikosteroid (prednison 3-4 x 10 mg). Penyembuhan beberapa hari sampai beberapa minggu.
  • Golongan 2: kortikosteroid (prednison 4 x 10-15 mg). Bila terjadi akibat pengobatan dengan ter pada psoriasis, obat harus dihentikan. Penyembuhan terjadi dalam beberapa minggu sampai beberapa bulan.
  • Penyakit Leiner: kortikosteroid (prednison 3 x 1-2 mg).
  • Sindrom Sezary: kortikosteroid (prednison 30 mg) dan sitostatik (klorambusil 2-6 mg).

o Topikal: salep lanolin 10%.

 

Prognosis

Prognosis golongan 1 baik. Prognosis sindrom Sezary buruk, kematian disebabkan infeksi atau penyakit berkembang menjadi mikosis fungoides.

 

Pitiriasis Rosea

Definisi
Penyakit kulit ini dimulai dengan lesi inisial berbentuk eritema dan skuama halus, disusul lesi-lesi yang lebih kecil di badan, lengan, dan paha atas yang tersusun sesuai lipatan kulit, biasanya menyembuh dalam waktu 3-8 minggu.

 
Etiologi
Belum diketahui. Ada hipotesis penyebabnya adalah virus karena sifat penyakitnya swasirna (self limitting disease).

 
Manifestasi Klinis
Pada umumnya tidak terdapat gejala konstitusi. Sebagian pasien mengeluh gatal ringan. Pitiriasis berarti skuama halus. Penyakit dimulai dengan lesi inisial (herald patch atau medalion), umumnya di badan, soliter, bentuk oval dan anular, diameter 3 cm. Lesi berupa eritema dengan skuama halus di tepi. Lesi inisial tersebut sering tidak seluruhnya eritematosa, tetapi bentuknya masih oval dan di tengahnya tampak hipopigmentasi. Lesi berikutnya timbul 4-10 hari setelah lesi inisial, ruam seperti lesi pertama dengan ukuran lebih kecil, susunan sejajar kosta pada punggung (menyerupai cemara terbalik), timbul serentak atau dalam beberapa hari. Tempat predileksinya adalah badan, lengan atas bagian proksimal, dan paha atas (seperti pakaian renang wanita jaman dahulu). Pada anak-anak dapat muncul sebagai urtika, vesikel, dan papul.

 
Diagnosis Banding
Tinea korporis

 
Penatalaksanaan
Pengobatan bersifat simtomatik. Untuk gatalnya, secara sistemik pasien diberi sedativa sedangkan secara topikal diberi bedak asam salisilat yang dibubuhi mentol ½ -1%.

 
Prognosis
Prognosis baik karena sembuh spontan dalam waktu 3-8 minggu.

 

Psoriasis

Definisi

Psoriasis ialah penyakit yang bersifat kronis dan residif, ditandai dengan adanya bercak-­bercak eritema berbatas tegas dengan skuama yang kasar, berlapis-lapis dan transparan disertai fenomena tetesan lilin dan Auspitz.
Sinonim
Psoriasis vulgaris

 
Epidemiologi
Kasus psoriasis makin sering dijumpai. Meskipun tidak menyebabkan kematian, penyakit ini menyebabkan gangguan kosmetik, terlebih lagi mengingat perjalanan penyakitnya menahun dan residif. Insidens pada orang kulit putih lebih tinggi daripada kulit berwama. Insidens pada pria agak lebih banyak daripada wanita. Psoriasis terdapat pada semua usia, tetapi umumnya pada orang dewasa.

 
Etiologi
Etiologi belum diketahui, yangjelas ialah waktu pulih (turn over time) epidermis dipercepat menjadi 3-4 hari, sedangkan pada kulit normal lamanya 27 hari. Pada sebagian pasien terdapat faktor herediter yang bersifat dominan. Faktor fisik dikatakan mempercepat terjadinya residif.

 

Infeksi fokal mempunyai hubungan erat dengan salah satu bentuk psoriasis, yaitu psoriasis gutata. Hubungannya dengan psoriasis vulgaris tidak jelas. Pernah dilaporkan kasus-kasus psoriasis gutata yang menyembuh setelah dilakukan tonsilektomi.

 
Manifestasi Klinis
Keadaan umum tidak dipengaruhi, kecuali pada psoriasis yang menjadi eritroderma. Sebagian pasien mengeluh gatal ringan. Tempat predileksi pada kulit kepala, perbatasan daerah dahi dan rambut, ekstremitas bagian ekstensor terutama siku serta lutut, dan daerah lumbosakral.

 

Kelainan kulit terdiri atas bercak-bercak eritema yang meninggi dengan skuama di atasnya. Eritema berbatas tegas dan merata, tetapi pada stadium penyembuhan sering eritema yang di tengah menghilang dan hanya terdapat di pinggir. Skuama berlapis-lapis, kasar dan berwarna putih seperti mika, serta transparan. Besar kelainan bervariasi mulai dari lentikular, numular sampai plakat dan dapat berkonfluensi. Jika seluruhnya atau sebagian besar lentikular disebut psoriasis gutata, biasanya terdapat pada anak-anak dan dewasa muda dan umumriya terjadi setelah adanya infeksi akut oleh streptokok.

 

Pada psoriasis terdapat fenomena tetesan lilin, Auspitz dan Kobner (isomorfik). Kedua fenomena yang disebut lebih dahulu dianggap khas, sedangkan yang terakhir tak khas, hanya kira-kira 47% yang positif dan didapati pula pada penyakit lain, misalnya liken pla­nus dan veruka plana juvenilis.

 

Fenomena tetesan lilin ialah skuama yang berubah warna menjadi putih setelah digores, seperti lilin yang digores, akibat berubahnya indeks bias cahaya pada lapisan skuama. Cara menggores dapat dilakukan dengan pinggir gelas alas. Pada fenomena Auspitz tampak senun atau darah berbintik-bintik akibat papilomatosis. Cara mengerjakannya sebagai berikut: skuama yang berlapis-lapis itu dikerok dengan pinggir gelas alas hingga skuama habis. Pengerokan harus dilakukan perlahan-lahan karena jika terlalu dalam tidak akan tampak perdarahan yang berbintik-bintik, melainkan perdarahan yang merata. Trauma pada kulit normal pasien psoriasis, misalnya garukan dapat menyebabkan kelainan yang sama dengan kelainan psoriasis dan disebut fenomena Kobner .

 

Psoriasis juga dapat menyebabkan kelainan kuku, yakni sebanyak kira-kira 50%, yang khas adalah pitting nail (nail pit) berupa lekukan-lekukan miliar. Kelainan yang tak khas ialah kuku yang keruh, tebal, bagian distalnya terangkat karena terdapat lapisan tanduk di bawahnya, dan onikolisis.

 

Selain menimbulkan kelainan pada kulit dan kuku, penyakit ini dapat pula menyebabkan kelainan pada sendi. Umumnya bersifat poliartikular, tempat predileksi pada sendi interfalangs distal. Banyak terdapat pada usia 30 – 50 tahun. Sendi membesar, kemudian terjadi ankilosis dan lesi kistik subkorteks. Kelainan pada mukosa jarang ditemukan dan tidak penting untuk diagnosis sehingga tidak dibicarakan.

 
Variasi Bentuk Klinis
Pada psoriasis terdapat beberapa variasi bentuk klinis.

o Psoriasis inversus (psoriasis fleksural). Tempat predileksi pada daerah fleksor sesuai dengan namanya.

o Psoriasis eksudativa. Sangat jarang. Biasanya kelainan psoriasis kering, tetapi pada bentuk ini kelainannya membasah seperti dermatitis akut.

o Psoriasis seboroik (seboriasis). Gambaran klinisnya merupakan gabungan psoriasis dan dermatitis seboroik, skuama yang biasanya kering menjadi agak berminyak dan agak lunak. Kecuali berlokasi pada tempat yang lazim, juga terdapat pada tempat seboroik.

o Psoriasis pustulosa. Ada dua anggapan mengenai psoriasis pustulosa, pertama sebagai penyakit tersendiri, kedua sebagai varian psoriasis. Terdapat dua bentuk psoriasis pustulosa, yaitu psoriasis tipe Barber (terlokalisasi) dan psoriasis pustulosa generalisata tipe Zumbusch.

Pada psoriasis pustulosa tipe Barber terdapat pustul-pustul miliar dan steril pada telapak tangan dan telapak kaki. Pada psoriasis pustulosa tipe Zumbusch juga terdapat pustul pada kelainan yang normal. Pustul tersebut bergerombol, dapat sirsinar, disertai gejala konstitusi (tampak sakit dan demam) serta terdapat leukositosis, kemudian menjadi eritroderma. Penyebabnya tidak diketahui pasti, dapat terjadi karena penghentian pengobatan kortikosteroid secara sistemik atau pengobatan topikal yang terlalu kuat.

o Eritroderma psoriatika. Dapat disebabkan oleh pengobatan topikal dengan konsentrasi terlalu kuat atau oleh penyakit itu sendiri yang meluas. Biasanya lesi psoriasis yang khas tidak tampak lagi karena terdapat eritema dan skuama tebal yang menyeluruh. Adakalanya lesi psoriasis masih tampak samar-samar pada tempat predileksi psoriasis, yakni lebih eritematosa dan kulitnya lebih meninggi.

 
Histopatologi
Gambaran histopatologis psoriasis khas, yakni hiperkeratosis, parakeratosis, dan akantosis. Pada stratum spinosum terdapat kelompok leukosit yang disebut abses Munro. Selain itu terdapat papilomatosis dan vasodilatasi di subepidermis.
Diagnosis Banding
Jika gambaran klinis khas, diagnosis tidak sulit ditegakkan. Jika tidak khas, maka harus dibedakan dengan beberapa penyakit lain yang tergolong dermatosis eritroskuamosa. Pada stadium penyembuhan dapat terjadi hanya dipinggir hingga menyerupai dermatofitosis. Perbedaannya ialah keluhan pada dermatofitosis gatal sekali dan pada sediaan langsung dengan KOH ditemukan jamur.

 

Sifilis stadium II dapat menyerupai psoriasis dan disebut sifillis psoriasiformis. Penyakit tersebut sekarang jarang terdapat. Perbedaannya, pada sifilis terdapat sanggama tersangka (coitus suspectus), pembesaran kelenjar getah bening menyeluruh, dan tes serologi untuk sifilis (T.S.S.) positif.

 

Dermatitis seboroik berbeda dengan psoriasis karena skuamanya berminyak dan kekuning-kuningan dan bertempat predileksi pada tempat yang seboroik.

 

Jika gambaran klinisnya tak khas, dilakukan biopsi. Dalam praktek, adakalanya setelah dilakukan biopsi beberapa kali baru tampak gambaran histopatologik yang khas.

 
Penatalaksanaan
Karena penyebab psoriasis belum diketahui pasti, maka belum ada obat pilihan. Dalam kepustakaan terdapat banyak cara pengobatan sebagian hanya berdasarkan empiris. Pso­riasis sebaiknya diobati secara topikal. Jika hasilnya tidak memuaskan, baru dipertimbangkan pengobatan sistemik karena efek samping pengobatam sistemik lebih banyak.

 
Sistemik
o Kortikosteroid. Hanya digunakan pada psoriasis eritrodermik dan psoriasis pustulosa generalisata. Dosis permulaan 40-60 mg prednison sehari. Jika telah ada perbaikan, diturunkan secara bertahap.

o Obat sitostatik. Yang biasa digunakan ialah metotreksat. Indikasinya ialah untuk psoriasis, psoriasis pustulosa, psoriasis artropatika dengan lesi kulit, dan eritroderma karena psoriasis yang sukar terkontrol dengan obat standar.

 

Kontraindikasinya ialah jika terdapat kelainan hati, ginjal, sistem hematopoetik, kehamilan, penyakit infeksi aktif (misalnya tuberkulosis), ulkus peptikum, kolitis ulserosa, dan psikosis.

 

Cara penggunaan metotreksat: mula-mula diberikan tes dosis inisial 5 mg per oral untuk mengetahui, apakah ada gejala sensitivitas atau gejala toksik. Jika tidak, diberikan dosis 3 x 2,5 mg, dengan interval l2 jam dalam seminggu dengan dosis total 7,5 mg. Jika tidak tampak perbaikan dosis dinaikkan 2,5-5 mg per minggu. Biasanya dengan dosis 3 x 5 mg per minggu telah tampak perbaikan. Cara lain ialah diberikan i.m 7,5-25 mg dosis tunggal setiap minggu. Cara tersebut lebih banyak menimbulkan efek samping daripada cara pertama. Jika penyakitnya telah telah terkontrol, dosis diturunkan atau masa inter­val diperpanjang, kemudian dihentikan dan kembali ke terapi topikal. Setiap 2 minggu diperiksa Hb, jumlah leukosit, hitungjenis, jumlah trombosit, dan urin lengkap. Setiap bulan diperiksa fungsi ginjal dan hati. Bila jumlah leukosit kurang dari 3.500/uL metotreksat dihentikan. Jika fungsi hati normal, biopsi hati dilakukan setiap dosis total mencapai 1,5 g. Jika abnormal, biopsi dikerjakan setiap dosis total mencapai 1 g.

 

Efek samping metotreksat antara lain nyeri kepala, alopesia, serta gangguan saluran cerna, sumsum tulang belakang, hati, dan limpa. Pada saluran cerna berupa nausea, nyeri lambung, stomatitis ulserosa, dan diare. Jika hebat dapat terjadi enteritis hemoragik dan perforasi intestinal. Depresi sumsum tulang berakibat timbulnya leukopenia, trombositopenia, kadang-kadang anemia. Pada hati dapat terjadi fibrosis dan sirosis.

o Levodopa. Obat ini sebenarnya dipakai untuk penyakit Parkinson. Menurut uji coba obat ini berhasil menyembuhkan kira-kira sejumlah 40% kasus psoriasis. Dosisnya antara 2 x 250 mg – 3 x 500 mg. Efek samping berupa mual, muntah, anoreksia, hipotensi, gangguan psikis, dan pada jantung.

o DDS. Dipakai untuk psoriasis pustulosa tipe Barber dengan dosis 2 x 100 mg sehari. Efek sampingnya ialah anemia hemolitik, methemoglobinemia, dan agranulositosis.

o Etretinat (tegison, tigason). Obat ini merupakan retinoid aromatik, digunakan bagi pso­riasis yang sukar disembuhkan dengan obat-obat lain mengingat efek sampingnya. Dapat pula digunakan untuk eritroderma psoriatika. Cara kerjanya belum diketahui pasti. Pada psoriasis obat tersebut mengurangi proliferasi sel epidermal pada lesi psoriasis dan kulit normal, namun tidak seluruh pasien dapat disembuhkan dengan obat ini.

o Siklosporin. Efeknya ialah imunosupresif. Dosisnya 6 mg/kg berat badan sehari. Bersifat nefrotoksik dan hepatotoksik. Hasil pengobatan untuk psoriasis baik, namun setelah obat dihentikan dapat terjadi kekambuhan.

 

Dosisnya bervariasi: pada bulan pertama diberikan 1 mg/kg, jika belum terjadi perbaikan dosis dapat dinaikkan menjadi 1,5 mg/kgBB.

 

Efek sampingnya sangat banyak, di antaranya atrofi kulit; selaput lendir mulut; mata, hidung mengering, peninggian lipid darah, gangguan fungsi hati, hiperostosis, dan teratogenik.

 

 
Topikal
o Preparat ter. Biasa digunakan dan mempunyai efek antiradang. Menurut asalnya preparat ter dibagi menjadi 3, yakni yang berasal dari:

§ fosil, misalnya iktiol

§ kayu, misalnya oleum kadini dan oleum ruski

§ batubara, misalnya liantral dan likuor karbonis detergens.

Preparat ter yang berasal dari fosil biasanya kurang efektif untuk psoriasis. Preparat yang cukup efektif ialah yang berasal dari batubara dan kayu. Ter dari batubara lebih efektif daripada ter dari kayu tetapi kemungkinan memberikan iritasijuga lebih besar.

 

Pada psoriasis yang telah menahun lebih baik digunakan ter yang berasal dari batubara karena lebih efektif dan kemungkinan timbulnya iritasi kecil. Sebaliknya, pada psoriasis akut dipilih ter dari kayu karenajika dipakai ter dari batubara dikhawatirkan akan terjadi iritasi dan menjadi eritroderma.

 

Ter yang berasal dari kayu kurang nyaman bagi pasien karena berbau kurang sedap dan berwarna coklat kehitaman. Sedangkan likuor karbonis detergens tidak demikian.

 

Konsentrasi yang biasa digunakan 2-5 %, dimulai dengan yang rendah, misalnya 2%. Jika tidak ada perbaikan, dinaikkan sampai 5%. Supaya lebih efektif, daya penetrasinya dipertinggi dengan cara menambahkan asam salisilat dengan konsentrasi 3-5 %. Sebagai vehikulum harus digunakan salep karena mempunyai daya penetrasi terbaik.

o Kortikosteroid. Kortkosteroid topikaljuga memberi hasil yang baik, namun harganya terlalu mahal. Harus dipilih golongan kortikosteroid yang poten, misalnya senyawa fluor. Jika lesi hanya beberapa dapat pula disuntikkan triamsinolon asetonid intrales seminggu sekali.

o Ditranol (antralin). Obat ini cukup efektif, namun mewarnai kulit dan pakaian Konsentrasi yang digunakan biasanya 0,2-0,8 % dalam pasta atau salep. Penyembuhan dalam 3 minggu.

o Pengobatan dengan penyinaran. Sinar ultraviolet mempunyai efek menghambat mitosis sehingga dapat digunakan untuk pengobatan psoriasis. Cara terbaik ialah penyinaran secara alarniah, tetapi tidak dapat diukur dan jika berlebihan akan memperhebat psoriasis. Karena itu, digunakan sinar ultraviolet artifisial, di antaranya sinar A yang dikenal sebagai UVA. Sinar tersebut dapat digunakan secara tersendiri atau dikombinasi dengan psoralen (8 – metoksipsoralen, metoksalen) dan disebut PUVA atau bersama-sama dengan preparat ter yang terkenal sebagai pengobatan cara Goeckerman.

 

PUVA juga dapat digunakan untuk eritroderma psoriatik dan psoriasis pustulosa. Beberapa penyelidik mengatakan, pada pemakaian yang lama mungkin terjadi kanker kulit.

 

Pengobatan cara Goeckerman menggunakan ter yang berasal dari batubara, misalnya likuor karbonas detergen dalam minyak, sampo, atau losio. Ter tersebut bersifat fotosensitizer dan dioleskan 2-3 kali sehari, lama pengobatan 4-6 minggu, penyembuhan terjadi setelah 3 minggu. Kecuali preparat ter, juga dapat digunakan ditranol.

 

 
Pengobatan Psoriasis Pustulosa
Kecuali dengan kortikosteroid sistemik, juga dapat diobati dengan DDS (diamino­difenilsulfon) dan klofazimin.

 

Dosis DDS 100 – 200 mg sehari, jika telah terjadi penyembuhan dosis diturunkan. Efek samping DDS antara lain agranulositosis, anemia hemolitik, methemoglobinemia, neuritis perifer, dan hepatotoksik. Dengan dosis 100 mg sehari umumnya tidak ada efek samping. Klofazimin diberikan dengan dosis 2 x 100 mg. Efek sampingnya ialah warna kecoklatan pada kulit, dan warna kekuningan pada sklera sehingga mirip ikterus.

 
Prognosis
Psoriasis tidak menyebabkan kematian, namun bersifat kronis dan residif.

 

Dermatosis Eritroskuamosa

Definisi
Dermatosis eritroskuamosa ialah penyakit kulit yang terutama ditandai dengan adanya eritema dan skuama, yaitu psoriasis, parapsoriasis, pitiriasis rosea, eritroderma, dermatitis seboroik, lupus eritematosus, dan dermatofitosis.