Category Archives: Mikosis Superfisialis

Kandidosis

Definisi
Kandidosis (kandidiasis, moniliasis, thrush) adalah penyakit jamur yang bersifat akut atau subakut disebabkan oleh spesies Candida dan dapat mengenai mulut, vagina, kulit, kuku, bronki, atau paru, kadang-kadang dapat menyebabkan septikemia, endokarditis, atau men­ingitis.

 
Epidemiologi
Penyakit ini terdapat di seluruh dunia dapat menyerang semua umur, baik laki-iaki maupun perempuan. Jamur penyebabnya terdapat pada orang sehat sebagai saprofit.

 
Etiologi
Yang tersering ialah Candida albicans yang dapat diisolasi dari kulit, mulut, selaput mukosa vagina, dan feses orang normal. Sebagai penyebab endokarditis kandidosis ialah C. parapsilosis dan penyebab kandidosis septikemia adalah C. tropicalis.

 
Faktor Predisposisi
Infeksi kandida dapat terjadi bila ada faktor yang menyuburkan pertumbuhan kandida atau ada yang memudahkan terjadinya invasi jaringan, karena daya tahan yang lemah. Faktor-­faktor ini ada yang merupakan faktor endogen maupun eksogen.

 

Faktor endogen:

1. Perubahan fisiologik

a. Kehamilan atau yang menyerupai kehamilan, karena perubahan pH dalam vagina

b. Kegemukan, karena banyak keringat

c. Debilitas

d. Iatrogenik, yaitu obat, alat atau tindakan untuk menolong pasien seperti antibiotik, kortikosteroid, sitostatik, gigi tiruan penuh (denture), kateter, infus, realimentasi intravena, operasi, dan radiasi.

e. Endokrinopati misalnya hipotiroid, timoma, hipogamaglobinemia

f. Diabetes melitus

g. Penyakit kronik: tuberkulosis, lupus eritematosus dengan keadaan umum yang buruk, leukemia, atau keganasan lain

2. Umur: orang tua dan bayi lebih mudah terkena infeksi karena status imunologiknya tidak sempurna, bayi baru lahir, terutama yang prematur.

3. Imunologik: penyakit genetik

 

Faktor eksogen:

1. Iklim, panas, dan kelembaban menyebabkan perspirasi meningkat

2. Kebersihan kulit

3. Kebiasaan berendam kaki dalam air yang terlalu lama menimbulkan maserasi dan memudahkan masuknya jamur

4. Kontak dengan penderita, misalnya pada trush dan balanopostitis

 
Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis kandidosis tergantung pada lokasi yang terkena, seperti tersebut di bawah ini:

1. Kandidosis selaput lendir

a. Thrush

Biasanya mengenai bayi melalui kontak dengan vagina ibunya, tampak pseudomembran putih coklat muda kelabu yang menutup lidah, palatum mole, pipi bagian dalam, dan permukaan rongga mulut yang lain. Lesi dapat terpisah-pisah; dan tampak seperti kepala susu pada rongga mulut. Bila pseudomembran terlepas dari dasarnya tampak daerah yang basah dan merah.

 

Pada glositis kronik lidah tampak halus dengan papila yang atrofik atau lesi berwarna putih di tepi atau di bawah permukaan lidah. Bercak putih ini tidak tampak jelas bila pasien sering merokok.

 

Pada orang dewasa biasanya mengenai mukosa pipi dan lidah. Tampak atrofi papil lidah, permukaan lidah menjadi licin dan berwarna merah cerah.

b. Perleche (keilitis angular)

Lesi berupa fisur pada sudut mulut, lesi ini mengalami maserasi, erosi, basah, dan dasarnya eritematosa. Biasanya bilateral. Kemungkinan ada anemia defisiensi besi. Biasanya terjadi pada anak-anak yang menghisapjempol.

c. Vulvovaginitis

Biasanya sering terdapat pada pasien diabetes melitus karena kadar gula darah dan urin yang tinggi dan pada wanita hamil karena penimbunan glikogen dalam epitel vagina. Gejala berupa pruritus hebat, rasa terbakar, labia eritema dan maserasi. Serviks hiperemis, edema dan erosif serta terdapat vesikel-vesikel yang kecil pada permukaan. Duh vagina biasanya kental.

d. Balanitis atau balanopostitis

Pasien mendapat infeksi karena kontak seksual dengan wanitanya yang menderita vulvovaginitis, lesi berupa erosi, pustula dengan dindingnya yang tipis, terdapat pada glans penis dan sulkus koronarius glandis.

e. Kandidosis mukokutan kronik

Penyakit ini timbul karena adanya kekurangan fungsi leukosit atau sistem hormonal, biasanya terdapat pada pasien dengan bermacam-macam defisiensi yang bersifat genetik, umumnya terdapat pada anak-anak. Gambaran klinisnya mirip pasien dengan defek poliendokrin.

 

2. Kandidosis kutis

a. Kandidosis interniginosa

Lesi di daerah lipatan kulit ketiak, lipat paha, intergluteal, lipat payudara, antara jari tangan atau kaki, glans penis, dan umbilikus, berupa bercak vang berbatas tegas, bersisik, basah, dan eritematosa. Lesi tersebut dikelilingi oleh satelit berupa vesikel-vesikel dan pustul-pustul kecil atau bula yang bila pecah meninggalkan daerah yang erosif, dengan pinggir yang kasar dan berkembang seperti lesi primer.

b. Kandidosis perianal

Lesi berupa maserasi seperti infeksi dermatofit tipe basah. Penyakit ini menimbulkan pruritus ani. Terdapat dermatitis perianal berupa eritema dan maserasi yang sangat gatal dan terbakar.

c. Kandidosis kutis generalisata

Lesi terdapat pada glabrous skin, biasanya juga di lipat payudara, intergluteal, dan umbilikus. Sering disertai glositis, stomatitis, dan paronikia.

d. Paronikia dan onikomikosis

Sering diderita oleh orang-orang yang pekerjaannya berhubungan dengan air. Lesi berupa kemerahan, pembengkakan yang tidak bernanah, kuku menjadi tebal, mengeras dan berlekuk-lekuk, kadang-kadang berwarna kecoklatan, tidak rapuh, tetap berkilat dan tidak terdapat sisajaringan di bawah kuku seperti pada tinea unguium. Merupakan inflamasi kronik pada lipatan kuku yang menghasilkan pus, erosi pada pinggir lateral kuku, penebalan dan warna kecoktatan pada lempeng kuku.

e. Diaper-rash

Kelainan pada kulit daerah bokong yang sering terdapat pada bayi yang popoknya selalu basah dan jarang diganti dan juga sering diderita neonatus sebagai gejala sisa dennatitis oral dan perianal. Gejalanya terdapat makula dan vesikel-vesikel dengan maserasi pada daerah yang tertutup popok menyebabkan rasa gatal seperti terbakar dan tidak nyaman. Diagnosis ditegakkan dengan adanya lesi satelit yang eritematosa.

f. Kandidosis granulomatosa

Penyakit ini sering menyerang anak-anak, lesi berupa papul kemerahan tertutup krusta tebal berwarna kuning kecoklatan dan melekat erat pada dasarnya. Krusta ini dapat menimbul seperti tanduk sepanjang 2 cm, lokalisasinya sering terdapat di muka, kepala, kuku, badan, tungkai, dan faring.

 

Catatan: Manifestasi klinis pada kandidosis sistemik dapat berupa seringnya timbul demam yang tidak diketahui penyebabnya, infiltrasi pulmonal, perdarahan gastrointestinal, endokarditis, gagal ginjal, meningitis, osteomielitis, endoftalmitis, peritonitis atau eksantema papulodiseminata. Pada kulit ditemukan makula, eritema dengan papul pustul dan vesikel hemoragik yang berkembang menjadi nekrosis dan lesi ulserasi.

a. Endokarditis

Sering terdapat pada morfinis sebagai akibat komplikasi penyuntikan yang dilakukan sendiri, juga dapat diderita pasien pasca-operasi jantung.

b. Meningitis

Terjadi karena penyebaran hematogen jamur, gejalanya sama dengan meningi­tis tuberkulosis atau karena bakteri lain.

 

3. Reaksi id (kandidid)

Reaksi terjadi karena adanya metabolit kandida, klinisnya bsrupa vesikel-vesikel yang bergerombol, terdapat pada sela jari tangan atau bagian badan yang lain, mirip dermatofitid.

 

Pemeriksaan Penunjang

1. Pemeriksaan langsung

Kerokan kulit atau usapan mukokutan diperiksa dengan larutan KOH 10% atau dengan pewarnaan Gram, terlihat gambaran Gram positif, sel ragi, blastospora, atau hifa semu.

2. Pemeriksaan biakan

Bahan yang akan diperiksa ditanam dalam agar dekstrosa glukosa Sabouraud, dapat pula agar ini dibubuhi antibiotik (kloramfenikol) untuk mencegah pertumbuhan bakteri. Perbenihan disimpan dalam suhu kamar atau lemari suhu 37oC, koloni tumbuh setelah 24-48 jam, berupa yeast like colony.

 

Diagnosis Banding

1. Kandidosis kutis lokalisata dengan:

a. Eritrasma: lesi di lipatan, lesi lebih merah, batas tegas, kering tidak ada satelit, pemeriksaan dengan lampu Wood positif.

b. Dermatitis interniginosa.

c. Dermatofitosis (tinea).

2. Kandidosis kuku dengan tinea unguium.

3. Kandidosis vulvovaginitis dengan:

a. Trikomonas vaginalis

b. Gonore akut

c. Leukoplakia

d. Liken planus

 
Penatalaksanaan
1. Menghindari atau menghilangkan faktor predisposisi.

2. Topikal:

a. Larutan ungu gentian 1/2 – 1% untuk selaput lendir, 1-2% untuk kulit, dioleskan sehari 2 kali selama 3 hari.

b. Nistatin: berupa krim, salep, emulsi

c. Amfoterisin B

d. Grup azol antara lain:

o Mikonazol 2% berupa krim atau bedak

o Klotrimazol 1 % berupa bedak, larutan dan krim

o Tiokonazol, bufonazol, isikonazol

o Siklopiroksolamin 1 % larutan, krim

o Antimikotik lain yang berspektrum luas

3. Sistemik:

a. Tablet nistatin untuk menghilangkan infeksi fokal dalam saluran cema, obat ini tidak diserap oteh usus.

b. Ketokonazol, bila dipakai untuk kandidosis vagina dosisnya 2 x 200 mg selama 5 hari (untuk orang dewasa)

c. Itrakonazol: bila dipakai untuk kandidosis vulvovaginitis dosis tunggal 300 mg (untuk orang dewasa)

 
Prognosis
Umumnya baik, bergantung pada berat ringannya faktor predisposisi.

 

Piedra

Definisi
Piedra adalah penyakit jamur pada rambut yang ditandai dengan benjolan (nodus) sepanjang rambut. Kelainan ini disebut juga black piedra, white piedra, tinea nodosa, piedra nostros, trikomikosis nodularis, trikomikosis nodosa, chiqnon disease, Beigel disease.

 
Etiologi
Piedra disebabkan oleh Piedraia hortai (black piedra) atau Trichosporon beigelii (white piedra). Jamur penyebab umumnya terdapat di tanah dan tumbuhan, dan dapat menginfeksi rambut manusia dan bulu hewan. Di Indonesia hingga sekarang hanya ditemukan piedra hitam.

 
Manifestasi Klinis
Penyakit ini tidak menimbulkan keluhan kecuali dari segi kosmetik. Butiran keras, ireguler, kasar berwarna coklat kehitaman dengan ukuran bervariasi beberapa mikron sampai milimeter. Kadang-kadang helai rambut pecah dan putus dan bila rambut disisir terdengar suara metal

 

Piedra hanya menyerang rambut kepala, janggut, dan kumis. Krusta melekat erat pada rambut yang terserang.

 
Diagnosis
Pemeriksaan mikroskopik dengan KOH 10% memperlihatkan hifa berwarna coklat-hitam dan struktur askospora dan askus jamur.

 
Penatalaksanaan
Sebenarnya pengobatan cukup dengan menggunting rambut yang terkena. Bahan antijamur antara lain larutan sublimat 1:2000, formalin 2% yang digunakan sebagai pencuci rambut dapat mencegah rekurensi. Sampo ketokonazol dapat juga digunakan.

 
Prognosis
Prognosis baik.

 

Pitiriasis Versikolor

Definisi
Pitiriasis versikolor adalah penyakit jamur superfisial kronik, berupa bercak berskuama halus berwarna putih dapat kemerahan maupun coklat sampai coklat hitam, terutama meliputi badan dan kadang-kadang dapat menyerang ketiak, lipat paha, lengan, tungkai atas, leher, muka, dan kulit kepala yang berambut.

 

Pitiriasis versikolor disebut juga tinea versikolor, kromofitosis, dermatomikosis, liver spots, tinea flava, pitiriasis versikolor flava dan panu.

 
Etiologi
Pitiriasis versikolor disebabkan oleh Malassezia furfur Robin atau disebut juga Pityrosporum orbiculare.

 
Epidemiologi
Pitiriasis versikolor merupakan penyakit universal dan terutama ditemukan di daerah tropis.

 
Manifestasi Klinis
Kelainan kulit pitiriasis versikolor sangat superfisial dan ditemukan terutama di badan. Kelainan ini terlihat sebagai bercak-bercak kecoklatan atau kekuningan pada kulit pucat dan hipopigmentasi pada kulit berwarna, bentuk tidak teratur sampai teratur, batas jelas sampai difus. Bercak-bercak tersebut bertluoresensi bila dilihat dengan lampu Wood. Bentuk papulo-vesikular dapat terlihat walaupun jarang. Kelainan biasanya asimtomatik sehingga adakalanya pasien tidak mengetahui bahwa ia berpenyakit tersebut.

 

Kadang-kadang pasien dapat merasakan gatal ringan. Pseudoakromia yang merupakan akibat tidak terkena sinar matahari atau kemungkinan pengaruh toksis jamur terhadap pembentukan pigmen, sering dikeluhkan.

 
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan atas dasar gambaran klinis, pemeriksaan tluoresensi, lesi kulit dengan lampu Wood, dan sediaan langsung. Fluoresensi lesi kulit pada pemeriksaan lampu Wood berwarna kuning keemasan dan pada sediaan langsung kerokan kulit dengan larutan KOH 20% terlihat campuran hifa pendek dan spora-spora bulat yang dapat berkelompok.

 
Diagnosis Banding
Penyakit ini harus dibedakan dengan dermatitis seboroika, eritrasma, sifilis II, akromia parasitik dari Pardo-Castello dan Dominiquez, morbus Hansen, pitiriasis alba, pitiriasis rosea serta vitiligo.

 
Penatalaksanaan
1. Obat Topikal

Dapat dipakai misalnya suspensi selenium sulfida 2,5% dalam bentuk losio atau bentuk sampo dipakai 2-3 kali seminggu. Obat digosokkan pada lesi dan didiamkan 15-30 menit sebelum mandi.

 

Obat-obat lain ialah salisil spiritus 10%; derivat-derivat azol, misalnya mikonazol, , krotrimazol, isokonazol, dan ekonazol; sulfur presipitatum dalam bedak kocok 4-20% tolsiklat; tolnaftat, dan haloprogin. Larutan tiosulfas natrikus 25% dapat pula digunakan; dioleskan sehari 2 kaii sehabis mandi selama 2 minggu, tetapi obat ini berbau tidak enak.

 

2. Obat Sistemik

Obat ini digunakan jika lesi sulit disembuhkan atau luas. Ketokonazol dapat dipertimbangkan dengan dosis 1 kali 200 mg sehari selama 10 hari.

 
Pencegahan
Mengingat penyakit ini sering kambuh terutama bila faktor predisposisi tidak dapat dihindari maka diperlukan upaya pencegahan dengan suspensi selenium sulfida 2,5% dalam bentuk losio atau ketokonazol dosis tunggal 400 mg/bulan.

 
Prognosis
Prognosis baik bila pengobatan dilakukan menyeluruh, tekun, dan konsisten. Bercak hipopigmentasi dapat menetap selama beberapa minggu atau bulan hingga pigmen yang hilang diganti melalui paparan ultraviolet.

 

 

Reaksi Id

Definisi
Dermatophytid atau reaksi ‘id’ adalah reaksi tubuh baik bersifat umum atau terlokalisasi terhadap antigen jamur.

 
Etiologi
Reaksi ‘id’ merupakan manifestasi alergi suatu peradangan. Reaksi ini dapat terjadi pada tinea kapitis, tinea pedis atau tinea di tempat lain. Jika reaksi ini terjadi, infeksi primernya biasanya merupakan peradangan akut, misalnya pada kerion atau bula pada tinea pedis.

 
Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis bervariasi dari ringan hingga berat. Pada reaksi ringan, gejala yang timbul berupa vesikel pada telapak tangan atau bagian samping jari-jari yang disertai dengan rasa gatal. Bentuk ini merupakan bentuk yang paling sering dijumpai.

 

Pada kasus yang sangat jarang, reaksi dapat timbul lebih berat. Reaksi ini diawali dengan demam, anoreksia, adenopati generalisata, pembesaran limpa, dan leukositosis. Lesi terutama di tubuh berupa papul-papul berkelompok dengan rasa gatal dan kadang-kadang sakit. Erupsi reaksi ini dapat pula menyerupai morbili atau scarlatini, namunjarang. Tipe ini biasanya terjadi pada tinea kapitis dengan atau tanpa kerion.

 

Pada lesi tersebut tidak ditemukan jamur penyebab, namun dapat ditemukan bakteri jika terjadi infeksi sekunder. Selain itu pada uji kulit dengan trichophytin memperlihatkan reaksi positif Trichophytin merupakan antigen yang didapat dari kutur dermatofit.

 
Penatalaksanaan
Pada reaksi ringan, pengobatan pada fokus infeksi dapat menghilangkan reaksi tersebut. Sedangkan pada reaksi yang berat, diperlukan pengobatan dengan kortikosteroid oral, seperti prednison selama beberapa hari.

 

Tinea Unguium

Definisi
Tinea unguium (ringworm of the nail) adalah kelainan lempeng kuku yang disebabkan oleh invasi/infeksi jamur dermatofit. Sedangkan onikomikosis adalah invasi/infeksi pada kuku yang disebabkan oleh jamur yang termasuk dermatofit, kandida, dan kapang yang lain.

 
Etiologi
Penyebab tersering adalah Trichophyton rubrum, diikuti oleh Trichophyton mentagrophytes varian interdigitale, dan Epidermophyton floccosum. T. rubrum tersering ditemukan pada kuku tangan, sedangkan T. Mentagrophytes terutama pada kuku kaki.
Faktor Predisposisi
Beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi terjadinya tinea unguium adalah trauma, hiperhidrosis palmar dan plantar, keadaan imonusupresi, gangguan sirkulasi perifer, distrofi lempeng kuku oleh berbagai sebab, dan salah posisi perlekatan perifer kuku ke lipat kuku dan hiponikium. Biasanya pasien tinea unguium mempunyai dermatofitosis di tempat lain yang sudah sembuh atau yang belum. Kuku kaki lebih sering diserang daripada kuku tangan.

Manifestasi Klinis

1. Bentuk subungual distalis. Bentuk ini paling sering ditemukan dan mulai berkembang pada stratum korneum hiponikium pada batas distal lempeng kuku. Selanjutnya infeksi berjalan ke arah yang paling dekat dengan alas kuku dan menyerang permukaan ventral lempeng kuku dengan perjalanan kronik. Pada kuku dengan bagian distal tampak bercak putih atau kuning, diikuti hiperkeratosis subungual dengan masa kuning keabuan yang menyebabkan permukaan bebas kuku terangkat. Lesi meluas ke matriks kuku sehingga terjadi penebalan regio subungual. Lebih lanjut dapat terjadi onikolisis.

2. Bentuk lateralis. Penyakit ini mulai dengan perubahan bagian alur lateral kuku yang menjadi kuning. Lesi meluas ke bagian distal atau proksimal kuku. Kemudian terjadi paronikia (peradangan jaringan sekitar kuku).

3. Leukonikia trikofita atau leukonikia mikotika. Kelainan kuku pada bentuk ini merupakan leukonikia atau keputihan di permukaan kuku yang dapat dikerok untuk dibuktikan adanya elemen jamur. Biasanya didapatkan pada kuku kaki, berupa bercak putih superfisialis dan berbatas tegas.

4. Bentuk subungual proksimalis. Bentuk ini mulai dari pangkal kuku bagian proksimal terutama menyerang kuku dan membentuk gambaran klinis yang khas, yaitu terlihat kuku di bagian distal masih utuh, sedangkan bagian proksimal rusak.

5. Bentuk distrofi kuku total. Bentuk ini merupakan keadaan lanjut dari bentuk klinis di atas. Pada bentuk ini kerusakan terjadi pada seluruh lempeng kuku.

 
Penatalaksanaan
Pengobatan dapat secara topikal maupun sistemik, tetapi umumnya pengobatan topikal tidak efektif. Pengobatan topikal dapat diberikan bila hanya 1-2 kuku yang terkena dan tidak sampai menyerang matriks kuku.

Beberapa cara pengubatan topikal dapat digunakan:

1. Cara klasik menggunakan obat antidermatofit topikal dan sedapat mungkin menghilangkan bagian yang rusak misalnya dengan pengikiran atau kuretase kuku. Obat antidermatofit yang dapat dipakai antara lain golongan azol, haloprogin, siklopiroksilamin, dan alilamin. Solusio glutaraldehid 10 % dan krim tiabendazol 10 % dengan bebat oklusif juga dapat digunakan.

2. Avulsi (pengangkatan) kuku yang diikuti pemberian obat antidermatofit topikal. Avulsi kuku dapat dilakukan dengan bedah skapel atau bedah kimia, misalnya dengan menggunakan urea. Sediaan kombinasi urea 40 % dan bifonazol yang terdapat di beberapa negara juga dapat dipakai untuk cara ini.

3. Obat topikal lain antara lain cat kuku berisi siklopiroksolamin 5% dan cat kuku berisi amorofilin 5%.

 

Untuk pengobatan sistemik dapat dipakai:

1. Griseofulvin 0,5 – 1 gram/hari. Untuk infeksi kuku tangan dibutuhkan pengobatan rata­-rata 4-6 bulan, sedangkan untuk kuku kaki 8-18 bulan. Tetapi keberhasilan pengobatan ini rendah dan rekurensi tinggi.

2. Itrakonazol. Semula dianjurkan penggunaan dosis 200 mg per hari selama 3 bulan pada infeksi kuku kaki. Akhir-akhir ini penggunaan terapi pulse 400 mg per hari selama seminggu tiap bulan memberi hasil baik dalam 3 bulan.

3. Terbinafin. Dosis 250 mg per hari selama 1,5 bulan pada infeksi kuku tangan dan selama 3 bulan pada kuku kaki.

 

Kombinasi pengobatan sistemik dan topikal dapat meningkatkan angka kesembuhan selain mengurangi masa penggunaan obat sistemik, misalnya pada kombinasi griseofulvin dengan amorolfin cat kuku serta kombinasi griseofulvin dengan solusio tiokonazol.

 
Prognosis
Tinea unguium adalah dermatofitosis yang paling sukar dan lama disembuhkan; kelainan pada kuku kaki lebih sukar disembuhkan daripada kuku tangan.

 

Tinea Pedis et Manum

Definisi

Tinea pedis adalah infeksi dermatofit pada kaki, terutama di selajari dan telapak kaki terutama yang memakai kaus dan sepatu yang tertutup. Keadaan lembab dan panas merangsang pertumbuhan jamur. Tinea manum adalah dermatofitosis pada tangan. Semua bentuk di kaki dapat terjadi pada tangan.

 
Etiologi
Penyebab yang tersering yaitu T. rubrum. Selain itu T. mentagrophytes dan E. floccosum.

 
Manifestasi Klinis
Tinea pedis yang tersering adalah bentuk interdigitalis. Di antara jari IV danjari V terlihat fisura yang dilingkari sisik halus dan tipis, dapat meluas ke bawah jari (subdigital) dan telapak kaki. Kelainan kulit berupa kelompok vesikel. Sering terjadi maserasi pada sela jari terutama sisi lateral berupa kulit putih dan rapuh, berfisura dan sering disertai bau. Bila kulit yang mati dibersihkan, akan terlihat kulit baru yang pada umumnya telah diserang jamur. Bentuk klinis ini dapat berlangsung bertahun-tahun dengan menimbulkan sedikit keluhan atau tanpa keluhan. Pada suatu ketika dapat disertai infeksi sekunder oleh bakteri sehingga terjadi selulitis, limfangitis, limfadenitis dan erisipelas, dengan gejala-gejala konstitusi.

 

Bentuk lain ialah moccasin foot, tipe papuloskuamosa hiperkeratotik yang menahun. Pada seluruh kaki, dari telapak, tepi sampai punggung kaki terlihat kulit menebal dan bersisik; eritema biasanya ringan dan terutama terlihat pada bagian tepi lesi. Di bagian tepi lesi dapat pula dilihat papul dan kadang-kadang vesikel. Sering terdapat di daerah tumit, telapak kaki, dan kaki bagian lateral, dan biasanya bilateral.

 

Pada bentuk subakut terlihat vesikel, vesiko-pustul dan kadang-kadang bula. Kelainan ini mula-mula terdapat di pada daerah sela jari, kemudian meluas ke punggung kaki atau telapak kaki, dan jarang pada tumit. Lesi-lesi ini mungkin berasal dari perluasan lesi daerah interdigital. Isi vesikel berupa cairan jernih yang kental. Setelah pecah, vesikel tersebut meninggalkan sisik berbentuk lingkaran yang disebut kolaret. Infeksi sekunder dapat terjadi, sehingga dapat menyebabkan selulitis, limfangitis, dan kadang-kadang menyerupai erisipelas. Jamur terdapat pada bagian atap vesikel. Untuk menemukannya, sebaiknya diambil atap vesikel atau bula untuk diperiksa untuk diperiksa secara sediaan langsung atau untuk dibiak.

 

Bentuk yang terakhir adalah bentuk akut ulseratif pada telapak dengan maserasi, ma­didans, dan bau. Diagnosis tinea pedis lebih sulit karena pemeriksaan kerokan kulit dan kultur sering tidak ditemukan jamur.

 

Gambaran klinis tinea manum umumnya berupa telapak tangan yang hiperkeratotik, kulit kering, berskuama, biasanya unilateral. Inflamasi berupa vesikel atau bula jarang ditemukan. Kelainan ini perlu dibedakan antara lain dengan psoriasis, keratoderma pal­maris, dermatitis kontak, dan infeksi jamur nondermatofit.

 
Penatalaksanaan
Berhubung penyakit ini sering rekurens maka faktor predisposisi perlu dihindari. Kaus kaki yang dipakai dipilih kaus yang memungkinkan ventilasi dan diganti setiap hari. Kaki harus bersih dan kering. Hindari memakai sepatu teriutup, sernpit, sepatu olahraga dan sepatu plastik sepanjang hari. Kaki dan sela-sela jari dijaga agar selalu kering. Sesudah mandi dapat diberikan bedak dengan atau tanpa antijamur.

 

1. Obat topikal

Bila lesi basah, maka sebaiknya direndam dalam larutan kalium permanganat 1/5.000 atau larutan asam asetat 0,25% selama 15-30 menit, 2-4 kali sehari. Atap vesikel dan bula dipecahkan untuk mengurangi keluhan. Bila peradangan hebat dikombinasikan dengan obat antibiotik sistemik.

 

Kalau peradangan sudah berkurang, diberikan obat topikal antijamur berspektrum luas antara lain, haloprogin, klotrimazol, mikonazol, bifonazol, atau ketokonazol.

 

Pada tinea pedis tipe papuloskuamosa dengan hiperkeratosis, obat anti jamur topikal sukar menembus kulit.

 

2. Obat sistemik

Biasanya tidak digunakan. Namun, bila digunakan harus dikombinasi dengan obat­obat antijamur topikal. Obat-obat sistemik tersebut antara lain griseofulvin, ketokonazol, itrakonazol, dan terbinafin.

 
Prognosis
Infeksi kronik tidak jarang terjadi jika penyebabnya adalah Trichophyton rubrum. Persistensi dan eksaserbasi akan sering terdapat, bila terdapat infeksi subklinis Trichophyron mentagrophytes varian interdigitale.

 

Tinea Kruris

Definisi

Tinea kruris (eczema marginatum, dhobie itch, jockey itch, ringworm of the groin) adalah dermatofitosis pada lipat paha, daerah perineum, dan sekitar anus.

 
Etiologi
Penyebab yang sering yaitu T. rubrum, T. mentagrophytes, atau E. fIoccosum.


Manifestasi Klinis
Kelainan ini dapat bersifat akut atau menahun, bahkan seumur hidup. Lesi kulit dapat terbatas pada daerah genito-krural, atau meluas ke sekitar anus, daerah gluteus dan perut bagian bawah, atau bagian tubuh lain.

 

Lesi umumnya bilateral namun tidak selalu simetris. Biasanya disertai rasa gatal dan kadang-kadang rasa panas. Kelainan kulit yang tampak pada sela paha merupakan lesi berbatas tegas. Peradangan pada tepi lebih nyata daripada daerah tengah. Efloresensi bermacam-macam (polimorfi). Pada bentuk kronis, lesi kulit hanya berupa bercak hiperpigmentasi dengan sedikit skuama. Erosi dan keluarnya cairan biasanya akibat garukan.

 
Penatalaksanaan
Prinsip pengobatan pada tinea kruris kurang lebih sama dengan prinsip pengobatan pada tinea korporis.

1. Obat topikal

Merupakan pilihan utama. Seperti pada pengobatan tinea korporis, obat-obat klasik, derivat imidazol, dan derivat alilamin dapat digunakan dengan cara pengobatan dan lama pengobatan yang kurang lebih sama.

2. Obat sistemik

Pengobatan sistemik hanya diberikan atas indikasi tertentu misalnya lesi yang luas atau reclacitrant karena pemakaian obat topikal saja sudah cukup efektif. Obat yang dipakai antara lain griseofulvin, ketokonazol, itrakonazol, flukonazol serta terbinafin.

 
Prognosis
Prognosis bergantung pada etiologi, faktor predisposisi dan status imun pasien.

 

Tinea Korporis

Definisi
Tinea korporis (tinea sirsinata, tinea glabrosa, Scherende Flechte, kurap, herpes sircine trichophytique, ringworm of the body) merupakan dermatofitosis pada kulit berambut halus (glabrous skin). Tinea ini meliputi semua dermafitosis superfisialis yang tidak termasuk bentuk tinea kapitis, barbe, kruris, pedis et manum, dan unguium.

 
Etiologi
M. canis, T. rubrum, T. tonsurans, dan T, mentagrophytes sering menyebabkan kelainan ini

 

Manifestasi Klinis

Predileksi tinea ini adalah di daerah leher, ekstremitas, dan badan. Lesi dapat berupa:

1. Lesi anular, bulat atau bulat lonjong, berbatas tegas karena terjadi konfluensi beberapa lesi, pinggir lesi polisiklik dan agak meninggi. Lesi nampak eritema dengan skuama kadang-kadang dengan papul dan vesikel di tepi. Daerah tengah biasanya lebih tenang. Kadang-kadang terlihat erosi dan krusta akibat garukan. Bila menahun, tanda-tanda aktif menghilang, tampak hiperpigmentasi, skuama, dan likenifikasi.

2. Tinea imbrikata (Tokelau) mulai dengan papul berwarna coklat, perlahan-lahan membesar. Stratum korneum bagian tengah terlepas dari dasar dan melebar. Proses ini setelah beberapa waktu mulai lagi dari bagian tengah, sehingga terbentuk lingkaran-lingkaran skuama yang konsentris. Bila dengan jari tangan kita meraba dari bagian tengah ke arah luar, akan teraba jelas skuama yang menghadap ke dalam. Lingkaran-lingkaran skuama konsentris bila menjadi besar dapat bertemu dengan lingkaran-lingkaran di sebelahnya sehingga membentuk pinggir yang polisiklik. Pada permulaan infeksi pasien dapat merasa sangat gatal, tapi bila menahun tidak ada keluhan. Pada kasus menahun, lesi kulit kadang-­kadang dapat menyerupai iktiosis. Kulit kepala pasien dapat terserang, akan tetapi rambut biasanya tidak.

3. Tinea favosa atau favus biasanya dimulai di kepala sebagai titik kecil di bawah kulit yang berwarna merah kuning dan berkembang menjadi krusta berbentuk cawan (skutula) dengan berbagai ukuran. Krusta tersebut biasanya ditembus oleh satu atau dua rambut dan bila krusta diangkat terlihat dasar yang cekung merah dan membasah. Rambut kemudian tidak berkilat lagi dan akhirnya terlepas. Bila tidak diobati, penyakit ini meluas ke seluruh kepala dan meninggalkan parut dan botak. Berlainan dengan tinea korporis, yang disebabkan oleh jamur lain, favus tidak menyembuh pada usia akil balik. Biasanya dapat tercium bau tikus (mousy odor). Pada kulit dapat sebagai kelainan papulovesikel dan papuloskuamosa, disertai kelainan berbentuk cawan yang khas, kemudian menjadi jaringan parut.

 

Bentuk lebih berat dapat berupa granuloma (granuloma Majochi), dapat terjadi pada gangguan fungsi imun selular lokal atau sistemik. Granuloma dapat kecil hanya di sekitar folikel rambut tetapi dapat meluas dan membentuk vegetasi. Dapat terjadi pada wanita yang biasa mencukur rambut kaki.

 

Penatalaksanaan

Pada tinea korporis dengan lesi terbatas, cukup diberikan obat topikal. Lama pengobatan bervariasi antara 1 sampai dengan 4 minggu bergantung jenis obat. Obat oral atau kombinasi obat oral dan topikal diperlukan pada tinea glabrosa yang luas atau kronik rekurens.

 

Pada keadaan inflamasi menonjol dan rasa gatal berat, kombinasi antimikotik dengan kortikosteroid jangka pendek akan mempercepat perbaikan klinis dan mengurangi keluhan pasien.

1. Obat topikal

Pengobatan topikal merupakan pilihan utama. Efektivitas obat topikal dipengamhi oleh mekanisme kerja, viskositas, hidrofobisitas dan asiditas formulasi obat tersebut. Selain obat-obat klasik, obat-obat derivat imidazol dan alilamin dapat digunakan untuk mengatasi masalah tinea korporis ini. Efektivitas obat yang termasuk golongan imidazol kurang lebih sama. Pemberian obat dianjurkan selama 3-4 minggu atau sampai hasil kultur negatif. Selanjutnya dianjurkan juga untuk meneruskan pengobatan selama 7-10 hari setelah penyembuhan klinis dan mikologis dengan maksud mengurangi kekambuhan.

2. Obat sistemik

a. Griseofulvin

Griseofulvin merupakan obat sistemik pilihan pertama.

b. Ketokonazol

Ketokonazol digunakan untuk mengobati tinea korporis yang resisten terhadap griseofulvin atau terapi topikal.

c. Obat-obat yang relatif baru seperti itrakonazol serta terbinalin dikatakan cukup memuaskan untuk pengobatan tinea korporis.

 
Prognosis
Prognosis bergantung pada etiologi, faktor predisposisi dan status imun pasien. Tinea korporis dapat sembuh sendiri dalam beberapa bulan.

 

Tinea Kapitis

Definisi

Tinea kapitis (ringworm of the scalp) adalah kelainan pada kulit dan rambut kepala, alis, dan bulu mata.

 
Etiologi
Tinea kapitis disebabkan oleh beberapa spesies Trychophyton dan Microsporum. Di Indo­nesia penyebab terbanyak adalah M. canis dan T. tonsurans.

 
Manifestasi Klinis
Gambaran klinis bervariasi dari lesi yang hanya berupa skuama ringan sampai berupa alopesia luas. Kelainan dapat pula berupa lesi supuratif dengan proses peradangan berat yang disebut kerion. Secara lebih rinci masing-masing spesies penyebab dapat menimbulkan gejala klinis yang berbeda.

Gambaran klinis tersebut dapat berupa:

1. Grey parch ringworm merupakan lesi dimulai dari papul eritematosa yang kecil di sekitar rambut. Papul ini melebar dan membentuk bercak, yang menjadi pucat dan bersisik. Keluhan gatal. Warna rambut abu-abu dan tidak berkilat. Rambut mudah patah (beberapa milimeter di atas kulit kepala) dan terlepas dari akarnya, sehingga mudah dicabut dengan pinset tanpa rasa nyeri. Dapat alopesia setempat, batas lesi tidak tegas. Diameter lesi antara 2-6 cm yang dapat meluas hingga seluruh kepala. Pemeriksaan dengan lampu Wood fluoresensi hijau kekuning-kuningan pada rambut yang sakit melampaui batas­-batas grey patch. Kelainan ini disebabkan oleh M. canis, M audoinii, atau M. ferrugineum.

2. Black dot ringworm adalah rambut terkena peradangan pada muara folikel dan patah meninggalkan bintik-bintik hitam pada alopesia yang penuh spora. Awal hanya 2 atau 3 helai rambut, tidak semua rambut terkena. Lesi dapat multipel dan tersebar di seluruh kulit kepala. Diameter lesi ini mencapai 0,5 – 1 cm. Umumnya tidak berbatas tegas. Bentuk ini disebabkan T. tortsurans, T. violaceum atau T. soudanense.

3. Kerion adalah reaksi peradangan akut yang berat berupa pembengkakan menyerupai sarang lebah dengan sebukan sel radang yang padat di sekitarnya dan disertai pembesaran kelenjar getah bening regional. Pada pemeriksaan teraba pembengkakan, nyeri dan pus keluar dari folikel. Kerion dapat menimbulkan alopesia permanen dan jaringan parut. M. canis, T. mentagrophyters, T. tonsurans, M. gypseum, atau T. verrucosum dapat menyebabkan kelainan ini.

 

Yang berisiko tinggi adalah sosioekonomi rendah. Penyakit ini menular, meskipun cara penularannya masih diperdebatkan. Anak-anak sering tertular dari temannya dan penularan dapatjuga terjadi pada satu keluarga. Penyebab dapat diisolasi dari sisir, sikat, kursi, topi dan alat-alat pencukur rambut. Mula-mula jamur tersebut mengadakan kolonisasi pada permukaan kulit lalu terjadi reaksi peradangan bergantung pada hospes, genera/spesies jamur penyebab dan lokasi lesi. Organisme tersebut bertahan bertahun-tahun pada tubuh pasien, sehingga orang tersebut menjadi karier. Ketegangan atau trauma dapat menimbulkan eksaserbasi.

 
Penatalaksanaan
Perlu diperhatikan faktor predisposisi, faktor sumber penularan, faktor pasien, dan faktor obat. Mengingat lokasi jamur dalam folikel rambut, maka diberikan obat oral, kecuali bila tidak ada kontraindikasi. Untuk mencegah penyebaran spora, berikan obat topikal berupa sampo. Sebagai sampo dapat digunakan selenium sulfida, sampo povidone iodine atau sampo yang mengandung derivat azol. Pemberian 2 kali seminggu dapat mencegah penularan dan perluasan infeksi serta bermanfaat mempercepat kultur negatif

 

Pengobatan sistemik dengan griseofulvin microsize dengan dosis yang direkomendasikan. Lama pemberian 6-8 minggu. Pengobatan sistemik juga dapat menggunakan ketokonazol atau itrakonazol. Dosis ketokonazol 200 mg/hari dengan lama pemberian 4-6 minggu. Dosis itrakonazol 100 mg/hari dengan lama pemberian 5 minggu. Obat oral lain yang dilaporkan efektif adalah derivat alilamin (terbinafin). Dosis berkisar 62,5 -250 mg/hari tergantung berat badan pasien.

 

Kortikosteroid oral dapat dipertimbangkan penggunaannya dalam keadaan-keadaan tertentu, untuk menghindari reaksi ‘id’ dan mengurangi peradangan. Penggunaan kortikosteroid oral misalnya pada bentuk kerion dapat diberikan prednisolon 20 mg/hari digunakan jangka pendek (selama +_ 5 hari) untuk mengurangi gejala inflamasi dan sisa alopesia.

 
Prognosis
Infeksi jamur yang ringan dapat sembuh spontan. Reaksi peradangan yang hebat lebih mudah sembuh terutama yang disebabkan spesies zoofilik. Infeksi ektotriks kadang-kadang dapat sembuh tanpa pengobatan. Infeksi endotriks dapat berjalan kronis dan berlangsung sampai dewasa.

 

Dermatofitosis

Dermatofitosis adalah penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk, misalnya stra­tum korneum pada epidermis, rambut, dan kuku, yang disebabkan golongan jamur dermatofita. Disebut juga sebagai tinea, ringworm, kurap, teigne, herpes sirsinata.

 
Etiologi
Golongan jamur dermatofita merupakan kelompok jamur berfilamen, yang terbagi dalam 3 genus yaitu Trychophyton, Mycrosporum, dan Epidermophyton. Jamur ini dapat menginfeksi jaringan keratin manusia maupun binatang.

 
Patogenesis
Infeksi dimulai dengan kolonisasi hifa atau cabang-cabangnya di dalam jaringan keratin yang mati. Hifa ini menghasilkan enzim keratolitik yang berdifusi ke dalam jaringan epider­mis dan menimbulkan reaksi peradangan. Pertumbuhan jamur dengan pola radial di dalam stratum korneum menyebabkan timbulnya lesi kulit sirsinar dengan batas yang jelas dan meninggi yang disebut ringworm.
Manifestasi Klinis
Secara klinis dermatofitosis dibagi berdasarkan bagian tubuh yang terkena, yakni tinea kapitis (skalp, rambut, alis, bulu mata), tinea korporis (badan dan anggota badan, selain tangan, kaki dan daerah tinea kruris), tinea kruris (genitokrural sampai dengan bokong, pubis, paha atas medial), tinea barbe (daerah jenggot/jambang), tinea manum (tangan dan telapak tangan), tinea pedis (kaki dan telapak kaki) dan tinea unguium (kuku).

 

Gambaran klinis bervariasi bergantung pada lokasi kelainan, respons imun selular pasien terhadap penyebab, serta jenis spesies dan galur penyebab. Morfologi khas yaitu kelainan yang berbatas tegas, terdiri atas bermacam-macam efloresensi (polimorfi), bagian tepinya lebih aktif. Kelainan terasa gatal.

 

Pada beberapa keadaan, gambaran klinis tidak khas dan sulit didiagnosis, misalnya akibat infeksi sekunder atau pengobatan dengan kortikosteroid. Dermatofitosis dengan gambaran klinis tidak khas disebut tinea inkognito.

 
Pemeriksaan Penunjang
Bahan pemeriksaan berupa kerokan kulit, rambut, dan kuku. Terlebih dahulu tempat kelainan dibersihkan dengan alkohol 70%, kemudian untuk:

1. Kulit berambut halus (glabrous skin). Kelainan dikemk dengan pisau tumpul steril. Sisik kulit dikumpulkan pada gelas obyek.

2. Kulit berambut. Spesimen yang harus diambil adalah skuama, tunggul rambut dan isi sumbat folikel. Sampel rambut diambil dengan forsep dan skuama dikerok dengan skapel tumpul. Rambut yang diambil adalah rambut yang goyah (mudah dicabut) pada daerah lesi. Pemeriksaan dengan lampu Wood dilakukan sebelum pengumpulan bahan untuk melihat kemungkinan adanya fluoresensi di daerah lesi pada kasus-kasus tinea kapitis tertentu.

3. Kuku. Bahan diambil dari permukaan kuku yang sakit, dipotong atau dikerok sedalam­-dalamnya sehingga mengenai seluruh tebal kuku. Bahan di bawah kuku diambil juga. Pada leukonikia, cukup kerok permukaan kuku yang sakit.

 

Sediaan basah dibuat dengan meletakkan bahan di atas gelas obyek, kemudian ditambah 1-2 tetes larutan KOH 20%. Tunggu 15-20 menit untuk melarutkan jaringan. Pemanasan di atas api kecil mempercepat proses pelarutan. Pada saat mulai keluar uap, pemanasan cukup. Bila terjadi penguapan, akan terbentuk kristal KOH sehingga mengganggu pembacaan. Teknik lain yaitu dengan penambahan dimetil sulfoksida (DMSO) 40% pada KOH akan mempercepat penjernihan sediaan tanpa pemanasan. Untuk melihat elemen jamur lebih nyata, ditambahkan zat warna pada sediaan KOH, misalnya tinta Parker superchrom blue black.

 

Pemeriksaan langsung sediaan basah dilakukan dengan mikroskop, mula-mula dengan pembesaran 10 x 10, kemudian 10 x 45. Pemeriksaan dengan pembesaran 10 x 100 biasanya tidak diperlukan.

 

Pada sediaan kulit dan kuku yang terlihat adalah hifa, sebagai dua garis sejajar, terbagi oleh sekat dan bercabang, maupun spora berderet (artrospora) pada kelainan kulit lama dan/atau sudah diobati. Pada sediaan rambut yang dilihat adalah spora kecil (mikrospora) atau besar (makrospora). Spora dapat tersusun di luar rambut (ektotriks) atau di dalam rambut (endotriks). Kadang-kadang dapat terlihat pula hifa pada sediaan rambut.

 

Pembiakan dapat dilakukan pada medium agar dekstrosa Sabouraud, dapat ditambahkan klioramfenikol dan sikloheksimid untuk menghindarkan kontaminasi bakteri maupun jamur kontaminan. Selain itu dapat pula digunakan Dermatophyte Test Medium (DTM) yang bila ditumbuhi dermatofit akan berubah warna karena pengaruh metabolit dermatofit.

 
Penatalaksanaan
Tujuan pengobatan meliputi:

a. Menyembuhkan penyakit, yaitu hilangnya gejala klinis dan pemeriksaan mikologi negatif

b. Mencegah perkembangan penyakit menjadi kronis

c. Mencegah kekambuhan

 

Strategi pengobatan meliputi:

a. Diagnosis yang tepat

b. Menghilangkan atau mencegah faktor-faktor predisposisi. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah kelembaban karena keringat atau lingkungan yang panas, iritasi oleh baju, orang sakit yang berbaring lama, friksi lipatan kulit pada orang gemuk, imunitas rendah, baik karena penyakit (misalnya diabetes melitus) maupun akibat pengobatan misalnya kortikosteroid, sitostatik.

c. Penentuan obat dilakukan dengan mempertimbangkan efektivitas, keamanan, daerah yang terkena yakni lokasi dan luas lesi, stadium penyakit (akut, subakut, atau kronis), jamur penyebab, karena adanya perbedaan kepekaan terhadap obat, serta harga sehingga dapat ditentukan apakah akan diberikan obat oral, topikal, atau kombinasi.

d. Menghilangkan sumber penularan baik dari manusia, hewan, tanah maupun benda di sekeliling yang mengandung elemen jamur. Spora dermatofit dapat bertahan hidup dalam skuama untuk waktu yang lama.

e. Mengoptimalkan kepatuhan pasien,dengan menerangkan perjalanan penyakitnya, pemilihan obat yang tepat yang dapat diterima oleh pasien, dan bila dianggap perlu diterangkan juga tentang biaya pengobatan.

f. Mengefektiikan cara penggunaan obat.

  1. Bersihkan lesi kulit dengan air dan sabun lunak terutama di daerah berkrusta dan berskuama. Kemudian keringkan.
  2. Oleskan obat satu lapis tipis menutupi lesi dan lebih kurang 1 inci ke arah luar lesi.
  3. Oleskan obat 2 kali sehari, pagi dan malam hari, kecuali pada beberapajenis obat cukup diberikan sekali sehari.

 

Obat-obat sistemik dan topikal yang dapat digunakan antara lain:

1. Sistemik

  1. Griseofulvin bersifat fungistatik dan bekerja hanya terhadap dermatofit. Dosis 0,5-1 gram untuk orang dewasa dan 0,25-0,5 gram untuk anak-anak sehari atau 10-25 mg,i kgBB, dosis tunggal atau terbagi dan absorpsi meningkat bila diberikan bersama makanan berlemak. Sediaan microsize 500 mg setara dengan sediaan ultramicrosize 333 mg. Lama pengobatan bergantung pada lokasi, penyebab, dan keadaan imunitas. Obat diberikan sampai gejala klinis membaik, biasanya lebih kurang satu bulan. Efek samping biasanya ringan, misalnya sakit kepala, mual atau diare, dan reaksi fotosensitivitas pada kulit. Kontraindikasi penggunaan griseofulvin adalah kehamilan, hipersensitifterhadap griseofulvin, porfiria, dan kegagalan hepatoselular. Hati-hati bila dimakan bersamaan dengan warfarin dan fenobarbital.
  2. Golongan azol

Ketokonazol efektif untuk dermatofitosis. Pada kasus-kasus resisten terhadap griseofulvin, obat tersebut dapat diberikan 200 mg per hari seiama 3-4 minggu pada pagi hari setelah makan. Ketokonazol merupakan kontraindikasi untuk pasien kelainan hati.

 

Itrakonazol merupakan derivat triazol yang berspektrum aktivitas in vitro luas dan bersifat fungistatik. Dosis 100 mg per hari selama dua minggu atau 200 mg per hari selama 1 minggu memberi hasil baik pada tinea glabrosa. Hepatotoksisitas jarang terjadi dibandingkan ketokonazol. Itrakonazol digunakan untuk terapi denyut (pulse dose) pada tinea unguium, dengan dosis 400 mg per hari selama seminggu tiap bulan dalam 2-3 bulan.

  1. Derivat alilamin

Terbinafin digunakan per oral, efektif untuk dermatofitosis, dan bersifat fungisidal tetapi tidak efektif untuk kandida. Dosis dewasa umumnya 250 mgJhari dengan lama pengobatan tergantung padajenis kelainan. Obat ini relatif tidak hepatotoksik, efek samping umumnya berupa gangguan gastrointestinal.

 

2. Topikal

  1. Obat-obat klasik yang telah digunakan sebelum tahun 60-an bersifat keratolitik dan antimikotik lemah, misalnya salap Whitfield, asam salisilat 2-4%, asam benzoat 6­12%, sulfur 4-6%, vioform 3%, asam undesilenat 2-5%, dan zat warna (hijau brilian 1 % dalam cat Castellani), tolnaftat 2%, tolsiklat 1 %, kliokuinol 1 %, dan haloprogin 1 %. Penggunaan obat ini umumnya 2-3 kali per hari selama 5 minggu.
  2. Golongan azol

Obat golongan ini bersifat fungistatik dan mempunyai spektrum antijamur luas tidak hanya terhadap dermatoflt. Termasuk golongan ini antara lain klotrimazol, mikonazol, oksikonazol, ekonazol, sulkonazol, isokonazol, tiokonazol, bifonazol, dan ketokonazol.

  1. Siklopiroksolamin

Obat ini merupakan derivat piridon yang mempunyai spektrum antijamur luas.

  1. Alilamin

Derivat alilamin bersifat fungisidal dengan aktivitas tinggi terhadap dermatofit, tetapi kurang kuat pada kandida. Derivat alilamin yang pertama, naftifin digunakan secara topikal sekali tiap hari. Naftifin ternyata mempunyai efek antiinflamasi selain anti jamur. Derivat berikutnya adalah terbinafin yang mempunyai efek fungisidal lebih besar daripada naftifin sehingga cukup digunakan selama 1 minggu pada tinea glabrosa, tetapi ia tidak mempunyai efek antiinflamasi. Terakhir adalah butenafin suatu derivat benzilamin dengan struktur kimia dan cara kerja seperti golongan alilamin dan efek fungisidal serupa terbinafin.

3. Dianjurkan pula tindakan pemotongan rambut pada tinea kapitis.

 
Prognosis
Umumnya baik, kecuali faktor predisposisi sulit dihilangkan.