Category Archives: Penyakit Menular Seksual

AIDS

Definisi
AIDS (Acguired Immune Deficiency Syndrome) adalah kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh secara bertahap yang disebabkan oleh infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV).

 

Penyakit ini dicirikan dengan timbulnya berbagai penyakit infeksi bakteri, jamur, parasit, dan virus yang bersifat oportunistik atau keganasan seperti sarkoma kaposi dan limfoma primer di otak. Dengan ditegakkannya penyakit-penyakit tersebut, meskipun hasil pemeriksaan laboratorium untuk infeksi HIV belum dilakukan atau tidak dapat diambil kesimpulan, maka diagnosis AIDS telah dapat ditegakkan.

 
Etiologi
HIV merupakan retrovirus penyebab penyakit defisiensi imun ini. HIV ditemukan oleh Montagnier dkk pada tahun 1983.

 

 

Epidemiologi

Sampai Juli 1993 telah dilaporkan sekitar 718.894 kasus AIDS dari 182 negara di dunia ke Badan Kesehatan Dunia (WHO). Sedangkan WHO memperkirakan sekitar 2,5 juta kasus AIDS dan l4 juta HIV positif dengan perincian: Amerika Utara 1 juta; Amerika Latin l,5 juta; Eropa Barat 0,5 juta; Eropa Timur dan Asia Tengah 50.000; Afrika Utara dan Timur Tengah 75.000; Afrika Sub Sahara 8 juta; Asia Timur dan Pasifik 25.000; Asia Selatan dan Tenggara 1,5 juta; dan Australia 25.000. Diperkirakan pada tahun 2000 akan terdapat 40 juta HIV positif di seluruh dunia, termasuk 10 juta wanita dan anak-anak.

 

Di Indonesia kasus ASS pertama kali ditemulnn pada tanggal 5 April 1987 di Bali pada seorang wisatawan Belanda. Menurut Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman Depkes RI, jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS (+) per Januari 2000 adalah 1080 kasus yang terdiri dari 794 kasus HIV (+) dan 286 kasus AIDS.

 
Patogenesis
HIV masuk tubuh manusia terutama melalui darah, semen dan sekret vagina, serta transmisi dari ibu ke anak. Tiga cara penularan HIV adalah sbb:

1. Hubungan seksual, baik secara vaginal, oral, maupun anal dengan seorang pengidap. Ini adalah cara yang paling umum terjadi, meliputi 80-90% total kasus sedunia

2. Kontak langsung dengan darah, produk darah, atau jarum suntik. Transfusi darah/produk darah yang tercemar mempunyai risiko sampai > 90%, ditemukan 3-5% total kasus sedunia. Pemakaian jarum suntik tidak steril atau pemakaian bersama jarum suntik dan spuitnya pada pecandu narkotik berisiko 0,5-1%, ditemukan 5-10% total kasus sedunia. Penularan melalui kecelakaan tertusuk jarum pada petugas kesehatan mempunyai risiko 0,5% dan mencakup < 0,1 % total kasus sedunia.

3. Transmisi secara vertikal dari ibu hamil pengidap HIV kepada bayinya melalui plasenta. Risiko penularan dengan cara ini 25-40% dan terdapat < 0,1% total kasus sedunia.

 

Setelah masuk tubuh, virus menuju ke kelenjar limfe dan berada dalam sel dendritik selama beberapa hari. Kemudian terjadi sindrom retroviral akut seperti flu (serupa infeksi mononukleosis) disertai viremia hebat dengan keterlibatan berbagai kelenjar limfe. Pada tubuh timbul respons imun humoral maupun selular. Sindrom ini akan hilang sendiri setelah 1-3 minggu. Kadar virus yang tinggi dalam darah dapat diturunkan oleh sistem imun tubuh. Proses ini berlangsung berminggu-minggu sampai terjadi keseimbangan antara pembentukan virus baru dan upaya eliminasi oleh respons imun. Titik keseimbangan yang disebut set point ini penting karena menentukan perjalanan penyakit selanjutnya. Bila tinggi, perjalanan penyakit menuju AIDS akan berlangsung lebih cepat.

 

Serokonversi (perubahan antibodi negatif menjadi positif) terjadi 1-3 bulan setelah infeksi, tetapi pernah juga dilaporkan sampai 8 bulan. Kemudian pasien akan memasuki masa tanpa gejala. Dalam masa ini terjadi penurunan bertahap jumlah CD4 (jumlah normal 800-1.000/mm3) yang terjadi setelah replikasi persisten HIV dengan kadar RNA virus relatif konstan.

 

CD4 adalah reseptor pada limfosit T4 yang menjadi target sel utama HIV. Pada awalnya penurunan jumlah CD4 sekitar 30-60/mm3/tahun, tapi pada 2 tahun terakhir penurunan jumlah menjadi 50-100/mm3/tahun sehingga bila tanpa pengobatan rata-rata masa infeksi HIV sampai menjadi AIDS adalah 8-10 tahun, di mana jumlah CD4 akan mencapai kurang dari 200/mm3.

 

Manifestasi Klinis

Kondisi yang ditetapkan sebagai AIDS (CDC, 1993 revisi):

1. Keganasan:

o Sarkoma Kaposi

o Limfoma Burkitt

o Limfoma imunoblastik

o Limfoma primer pada otak

o Kanker leher rahim invasif

o Ensefalopati yang berhubungan dengan infeksi HIV

o Sindrom kelelahan karena infeksi HIV

o Penurunan imunitas yang hebat (CD4 < 200/mm3)

2. Infeksi oportunistik:

o Kandidosis pada bronkus, trakea, atau paru

o Kandidosis pada esofagus

o Koksidiodomikosis diseminata atau ekstrapulmoner

o Kriptokokosis ekstrapulmoner

o Kriptosporidiosis pada usus bersifat kronis (lebih dari 1 bulan)

o Infeksi Cytomegalovirus (selain herpes, limpa, atau kelenjar limfe) Cytomegalovirus retinitis (disertai kehilangan visus)

o Herpes simpleks (ulkus kronis lebih dari 1 bulan, bronkitis, pneumonitis, atau esofagitis)

o Histoplasmosis (diseminata atau ekstrapulmoner)

o Isosporiasis pada usus bersifat kronis (lebih dari 1 bulan)

o Mycobacterium avium complex atau M. kansasii diseminata atau ekstrapulmoner

o Mycobacterium (spesies lain atau tid’ak dapat ditentukan) diseminata atau ekstrapulmoner

o Mycobacterium tuberculosis (pada paru atau ekstrapulmoner)

o Pneumocystis carinii pneumonia

o Pneumonia rekurens

o Leukoensefalopati multifokal progresif

o Sahnonella septikemia rekurens

o Toksoplasmosis pada otak

 

Pemeriksaan Penunjang

Diagnosis laboratorium dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu:

1. Cara langsung, yaitu isolasi virus dari sampel. Umumnya dengan menggunakan mikroskop elektron dan deteksi antigen virus. Salah satu cara deteksi antigen virus adalah dengan Polymerase Chain Reaction (PCR). Penggunaan PCR antara lain untuk:

o Tes HIV pada bayi karena zat anti dari ibu masih ada pada bayi sehingga menghambat pemeriksaan serologis.

o Menetapkan status infeksi pada individu seronegatif

o Tes pada kelompok risiko tinggi sebelum terjadi serokonversi

o Tes konfirmasi untuk HIV-2 sebab sensitivitas ELISA untuk HIV-2 rendah

2. Cara tidak langsung, yaitu dengan melihat respons zat anti spesifik. Tes, misalnya:

o ELISA, sensitivitasnya tinggi (98,1-100 %). Biasanya memberikan hasil positif 2-3 bulan sesudah infeksi. Hasil positif harus dikonfirmasi dengan pemeriksaan West­ern blot.

o Western blot, spesifisitas tinggi (99,6-100 %). Namun, pemeriksaan ini cukup sulit, mahal, dan membutuhkan waktu sekitar 24 jam. Mutlak diperlukan untuk konfirmasi hasil pemeriksaan ELISA positif.

o Immunofluorescent assay (IFA)

o Radioimmunopraecipitation assay (RIPA)

 

Diagnosis

1. Diagnosis dini infeksi HIV

Diagnosis dini ditegakkan melalui pemeriksaan laboratorium dengan petunjuk gejala klinis atau adanya perilaku berisiko tinggi. Untuk diagnosis HIV, yang lazim dipakai adalah ELISA, Western blot, dan PCR.

2. Diagnosis AIDS

AIDS merupakan stadium akhir infeksi HIV. Pasien dinyatakan sebagai AIDS bila dalam perkembangan infeksi HIV selanjutnya menunjukkan infeksi dan kanker oprtunistik yang mengancam jiwa penderita (lihat kriteria kondisi yang ditetapkan sebagai AIDS oleh CDC, 1993). Selain itu, termasukjuga ensefalopati, sindrom kelelahan yang berkaitan dengan AIDS dan hitungan CD4 < 200/mm3.

 

Penatalaksanaan

1. Medikamentosa

Peningkatan survival pada pasien dengan manifestasi klinis dapat dicapai dengan diagnosis dini, pemberian zidovudin, pengobatan komplikasi, serta penggunaan antibioti sebagai profilaksis secara luas, khususnya untuk pneumonia karena P carinii.

a. Infeksi dini

CDC menyarankan pemberian antiretroviral pada keadaan asimtomatik bila CD4 < 300/mm3, dan CD4 < 500/mm3 pada keadaan simtomatik. Obat-obatan:

o Zidovudin (ZDV) merupakan analog nukleosida yang telah terbukti menurunkan angka kematian, insidens infeksi oportunistik, dan gejala-gejala umum pada pasien AIDS yang telah muncul gejala klinis. Zidovudin ini bekerja dengan cara menghamba replikasi HIV dengan menghambat kerja enzim reverse transcriptase. Obat ini menekan P24 antigenaemia, dan memproduksi a modest biasanya transient, meningkatkan hitung sel CD4.

CDC telah menyarankan pemakaian obat ini untuk infeksi HIV. Volberding menyarankan pemberian ZDV bila hitungan CD4 < 500/mm3 tanpa melihat ada tidaknya gejala. Dosis yang diberikan 500-600 mg/hari, pemberian 100 mg/4 jam sewaktu penderita terjaga.

Efek samping yang timbul antara lain anemia dan neutropenia, gangguan gastrointes­tinal, dan pada penggunaan jangka panjang dapat terjadi miopati dan masuknya virus dengan strain yang telah berkurang sensitivitasnya.

o Didanosis (DDI), digunakan bila penderita tidak toleran terhadap ZDV, atau sebagai pengganti bila ZDV sudah amat lama digunakan, atau bila pengobatan dengan ZDV tidak menunjukkan hasil.

Dosis 2 x 100 mg/l2 jam (BB < 60 kg) atau 2 x 125 mg/12 jam (BB > 60 kg).

b. Profilaksis

Indikasi pemberian profilaksis untuk Pneumocystis carinii pneumoniae (PCP) ialah bila CD4 < 200/mm3, terdapat kandidosis oral yang berlangsung lebih dari 2 minggu, atau pernah mengalami infeksi PCP di masa lalu. Sedangkan profilaksis pada tuberkulosis diberikan bila tes kulit PPD 5 mm dengan indurasi.

c. Stadium lanjut

Pada stadium ini banyak yang dapat terjadi, umumnya infeksi oportunistik yang mengancam jiwa. Oleh karena itu diperlukan penanganan multidisipliner. Obat yang dapat diberikan adalah ZDV dengan dosis awal 1000 mg/hari dalam 4-5 kali pemberian (BB 70 kg).

d. Pada fase terminal, yakni penyakit sudah tak teratasi, pengobatan yang diberikan hanya simtomatik dengan tujuan pasien merasa cukup enak, bebas dari rasa mual dan sesak, mengatasi infeksi yang ada, dan mengurangi rasa cemas.

2. Nonmedikamentosa

Mengingat hingga saat ini belum ditemukan vaksin yang dapat mencegah serta obat yang dapat mengatasi masalah ini, maka upaya pencegahan merupakan cara yang pa­ling tepat untuk menurunkan insidens penyakit ini. Upaya pencegahan ini dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:

o Pendidikan kepada kelompok yang berisiko terkena AIDS

o Anjuran bagi yang telah terinfeksi virus ini untuk tidak menyumbangkan darah, organ atau cairan semen, dan mengubah kebiasaan seksualnya guna mencegah terjadinya penularan

o Skrining darah donor terhadap adanya antibodi HIV

 

Limfogranuloma Venereum

Definisi
Limfogranuloma venereum (LGV) adalah penyakit menular seksual yang mengenai sistem saluran pembuluh limfe dan kelenjar limfe, terutama pada daerah genital, inguinal, anus, dan rektum.

 

Etiologi

Chlamydia trachomatis

 

Manifestasi Klinis

LGV adalah penyakit sistemik yang primer menyerang sistem limfatik, manifestasi klinis dapat akut, subakut, atau kronik, dengan komplikasi pada stadium lanjut. Stadium dini terdiri dari lesi primer genital dan sindrom genital. Stadium lanjut dapat berupa sindrom ano-rektal dan elefantiasis genital (esthiomene).

Lesi primer genital

Setelah masa inkubasi antara 3-20 hari, akan terjadi lesi primer di genital yang bersifat tidak sakit, tidak khas, dan cepat hilang. Lesi primer dapat berbentuk erosi atau ulkus dangkal, papul-papul gerombolan vesikel kecil mirip lesi herpes, atau sebagai uretritis nonspesifik. Pada pria sering berlokasi di sulkus koronarius, frenulum, preputium, penis, uretra, dan skrotum. Pada wanita lebih sering terjadi pada dinding posterior vagina, portio, bagian posterior serviks, dan vulva. Lesi primer pada pria sering disertai oleh limfangitis pada bagian dorsal penis dan membentuk nodul limfangial yang lunak atau abses kecil.

Sindrom inguinal

Biasanya beberapa hari sampai minggu setelah lesi primer menghilang. Pada 2/3 kasus terjadi limfadenitis inguinal yang unilateral. Gejala sistemik seperti demam, menggigil, anoreksia, nausea, sakit kepala, sering menyertai sindrom ini.

Pada pemeriksaan klinis didapatkan:

§ kelenjar inguinal membesar, nyeri, dan teraba padat, kemudian berkembang menjadi peradangan sekitar kelenjar atau perilimfadenitis.

§ perlekatan antar kelenjar sehingga terbentuk paket, juga perlekatan kelenjar dengan kulit di atasnya, kulit tampak merah kebiruan, panas, dan nyeri.

§ perlunakan kelenjar yang tidak serentak ditandai dengan fluktuasi pada 75% kasus, dan terbentuk abses multipel.

§ abses pecah menjadi sinus dan fistel multipel pada 1/3 kasus, sedangkan yang lain mengalami involusi secara perlahan dan membentuk massa padat kenyal di daerah inguinal.

 

Beberapa bentuk spesifik yang dapat terjadi seperti pembesaran kelenjar di atas dan bawah ligamentum inguinal Pouparti sehingga tercentuk celah yang disebut sign of groove (Greenblatt’s sign). Terjadinya pembesaran kelenjar femoralis, inguinalis superfisial, dan profundus menyebabkan bentuk seperti tangga sehingga disebut ettage bubo. Pada penyembuhan fistel akan terbentuk parut yang khas di daerah inguinal.

Sindrom anorektal

Terutama pada wanita akibat penyebaran langsung dari lesi primer di vagina ke kelenjar limfe perirektal. Gejala awal adalah perdarahan anus yang diikuti oleh duh anal purulen disertai febris, nyeri saat defekasi, sakit perut bawah, konstipasi, dan diare. Bila tidak diobati dapat terjadi proktokolitis berat yang gejalanya mirip kolitis ulserosa dengan tanda-tanda fistel anal, abses perirektal, dan abses rektovaginal/rektovesikal. Pada pria, gejala proktitis menunjukkan kebiasaan homoseksual.

Sindrom genital

Dapat berupa edema vulva sepanjang klitoris sampai ke anus (elefantiasis labia) sebagai akibat peradangan kronis sehingga terjadi kerusakan saluran dan kelenjar limfe dan timbulnya edema limfe di daerah vulva.

 

Pada permukaan elefantiasis dapat terjadi tumor polipoid dan verukosa, dan karena tekanan paha dapat berbentuk pipih (disebut Buchblatt condyloma). Dapat pula terjadi fistel akibat ulserasi yang destruktif dan pecah ke dalam vagina atau vesika urinaria.

 

Pada pria dapat terjadi proses yang sama, namun jarang dijumpai. Manifetasi klinis berupa elefantiasis skrotum. Bila kerusakan saluran dan kelenjar limfe cukup luas dapat terjadi elefantiasis pada satu atau kedua tungkai.

 

Pemeriksaan Penunjang

1. Pewarnaan pus bubo dengan Giemsa untuk menemukan badan inklusi Chlamydia yang khas.

2. Tes Frei, yang berdasarkan pada reaksi lambat intradermal yang spesifik terhadap Chlamy­dia sehingga dapat memberi positif semu pada infeksi Chlamydia jenis lain.

3. Tes serologi, terdiri atas complement fixation test, radioisotop precipitation, dan mi­cro immunofluorescent typing.

4. Kultur jaringan untuk konfirmasi diagnosis, bahan pemeriksaan, dari aspirasi pus bubo yang belum pecah.

 
Diagnosis
Diagnosis LGV dapat ditegakkan berdasarkan gambaran klinis, pewarnaan Giemsa pus bubo, tes Frei, tes serologis, dan kultur jaringan.

 

Penatalaksanaan

1. Medikamentosa

§ Sulfonamida (pilihan utama) dengan dosis 3-5 g/hari selama 14 hari

§ Kotrimoksazol (trimetroprim 400 mg + sulfametoksazol 80 mg) dengan dosis 3 x 2 tablet/hari selama 7 hari

§ Doksisiklin (rekomendasi WHO saat ini), dosis 2 x 100 mglhari selama 14 hari.

§ Tetrasiklin, dosis 4 x 500 mg sampai 14 hari (obat alternatif)

§ Obat lain yang dapat dipakai: kloramfenikol, minoksiklin, dan rifampisin.

2. Pembedahan

Pada abses multipel yang berfluktuasi lebih baik aspirasi jarum daripada insisi karena dapat memperlambat penyembuhan. Untuk stadium lanjut dapat dilakukan:

§ Valvulektomi total atau labiektomi pada elefantiasis labia

§ Dilatasi dengan Bougie bila terjadi striktur rekti

§ Drainase pada abses perianal dan perirektal

§ Operasi plastik untuk elefantiasis penis dan skrotum

Pemeriksaan dan pengobatan mitra seks pasien.

Ulkus Mole

Definisi
Ulkus mole adalah penyakit infeksi pada alat kelamin yang akut, setempat, disebabkan oleh Haemophilus ducreyi dengan gejala klinis yang khas berupa ulkus yang multipel, nyeri, pada tempat inokulasi, dan sering disertai pemanahan kelenjar getah bening regional. Disebut juga soft chancre, chancroid, soft sore.


Etiologi
Basil H. ducreyi merupakan basil negatif Gram. Karena lesi terbuka di daerah genital sering tertutup oleh infeksi sekunder, basil H. ducreyi lebih mudah dicari bila bahan pemeriksaan berupa nanah diambil dengan cara aspirasi abses kelenjar inguinal. Kuman ini sukar dibiak.

 
Patogenesis
Tempat masuk kuman adalah daerah yang sering atau mudah mengalami abrasi, erosi, atau ekskoriasi, yang disebabkan oleh trauma, infeksi lain, atau iritasi yang berhubungan dengan kurangnya higiene perorangan. Pada lesi, organisme terdapat dalam makrofag dan netrofil atau bebas berkelompok (mengumpul) dalam jaringan intertisial.

 

Belum pernah dilaporkan bahwa penyakit ini dapat menular ke bayi yang dilahirkan dari ibu dengan chancroid aktif pada waktu in partu.

 

Manifestasi Klinis

Masa inkubasi berkisar antara 1-14 hari, pada umumnya kurang dari 7 hari. Lesi kebanyakan multipel, biasanya pada daerah genital. Mula-mula kelainan kulit berupa papul, kemudian menjadi vesiko-pustul pada tempat inokulasi, cepat pecah menjadi ulkus.

 

Ulkus kecil, multipel, sangat nyeri (terutama bila terkena pakaian atau urin) tidak terdapat indurasi, berbentuk cawan, pinggir tidak rata, sering bergaung dan dikelilingi halo yang eritematosa. Ulkus sering tertutup jaringan nekrotik, dasar ulkus berupa jaringan granulasi yang mudah berdarah, dan pada perabaan terasa nyeri. Tempat predileksi pada pria ialah permukaan mukosa preputium, sulkus koronarius, frenulum penis, dan batang penis. Dapat juga timbul lesi di dalam uretra, skrotum, perineum, atau anus. Pada wanita sering mengenai labia, klitoris, fouchette, vestibuli, anus, dan serviks.

 

Gambaran ulkus mole pada wanita bervariasi. Ulkus tidak senyeri pada pria dan keluhan dapat berupa disuria, nyeri waktu defekasi, dispaurenia, atau duh tubuh vagina.

 

Lesi ekstragenital terdapat pada lidah, jari tangan, bibir, payudara, umbilikus dan konjungtiva.

 

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan sediaan apus diambil dari permukaan tepi ulkus yang bergaung, dengan pewarnaan Gram, Unna-Pappenheim, Wright, atau Giemsa ditemukan basil berkelompok atau berderet seperti rantai.

 

Biakan kuman dengan bahan diambil dari pus bubo atau lesi kemudian ditanam pada perbenihan/plat agar khusus, yaitu agar gonokok dan Muller Hinton.

 

Dapat pula dilakukan tes imunofluoresensi, biopsi, tes kulit Ito-Reenstierna, dan autoinokulasi.

 
Komplikasi
Dapat timbul mixed chancre, abses kelenjar inguinal, fimosis, parafimosis, fistula uretra, dan infeksi campuran. Bila terjadi infeksi campuran dengan Treponema pallidum disebut ulkus mikstum: mulanya menunjukkan gambaran ulkus mole tapi semakin berkurang nyerinya dan lebih berindurasi.

 
Diagnosis
Berdasarkan pada riwayat pasien, pemeriksaan fisis, serta pemeriksaan laboratorium untuk menentukan agen penyebabnya. Harus dipikirkan juga kemungkinan infeksi campuran. Pemeriksaan serologik dapat dilakukan untuk menyingkirkan sifilis.

 

Penatalaksanaan

1. Medikamentosa

o Untuk pengobatan sistemik dapat diberikan salah satu obat di bawah ini :

§ Siprofloksasin* 500 mg per oral dosis tunggal

§ Ofloksasin* 400 mg per oral dosis tunggal

§ Azitromisin 1 gram per oral dosis tunggal

§ Eritromisin 500 mg per oral 4 kali sehari selama 7 hari

§ Seftriakson 250 mg injeksi intramuskular sebagai dosis tunggal

§ Trimetoprim-Sulfametoksasol 80-400 mg, 2 x 2 tablet per oral selama 7 hari

* Dikontraindikasikan untuk wanita hamil, menyusui dan anak kurang dari 12 tahun.

o Sebagai pengobatan lokal dapat dilakukan kompres, rendam, atau irigasi dengan larutan salin yang akan membantu menghilangkan debris nekrotik dan mempercepat penyembuhan ulkus. Antiseptik lokal merupakan kontraindikasi karena dapat mengganggu pemeriksaan untuk diagnosis dini sifilis dengan mikroskop lapangan gelap. Aspirasi jarum dianjurkan untuk bubo berukuran 5 cm atau lebih dengan fluktuasi di bagian tengah untuk mencegah pecahnya bubo.

2. Nonmedikamentosa

Berikan pendidikan kepada pasien dengan menjelaskan hal-hal sebagai berikut:

o Bahaya penyakit menular seksual (PMS) dan komplikasinya

o Pentingnya mematuhi pengobatan yang diberikan

o Cara penularan PMS dan perlunya pengobatan untuk pasangan seks tetapnya

o Hindari hubungan seksual sebelum sembuh, dan memakai kondom jika tak dapat menghindarkan lagi

o Cara-cara menghindari infeksi PMS di masa datang

 

Kondiloma Akuminatum

Definisi
Kondiloma akuminatum adalah vegetasi oleh virus papiloma humanus (VPH) tipe tertentu, bertangkai dan permukaannya berjonjot.

 
Etiologi
Virus papiloma humanus (VPH), virus DNA yang tergolong dalam famili Papova. Tipe yang pernah ditemui adalah tipe 6, 1 l, 16, 18, 30, 31, 33, 35, 39, 41, 42, 44, 51, 52, dan 56. Tipe 6 dan 11 tersering dijumpai pada kondiloma akuminatum dan neoplasia intraepitelial serviks ringan. Tipe 16 dan 18 mempunyai potensi keganasan yang tinggi dan sering dijumpai pada kanker serviks. Sampai saat ini sudah dapat diidentifikasikan 80 tipe virus papiloma humanus.

 
Patogenesis
VPH masuk ke dalam tubuh melalui mikrolesi pada kulit sehingga kondiloma akuminatum sering timbul pada daerah yang mudah mengalami trauma pada saat hubungan seksual.

 

Manifestasi Klinis

Masa inkubasi berlangsung antara 1-8 bulan (rata-rata 2-3 bulan).

 

Terutama mengenai daerah lipatan yang lembab, misalnya daerah genitalia eksterna. Pada pria dapat mengenai perineum, sekitar anus, sulkus koronarius, glans penis, muara uretra eksterna, korpus dan pangkal penis. Pada wanita di daerah vulva dan sekitarnya, introitus vagina, kadang-kadang pada portio uteri. Adanya fluor albus dan kehamilan dapat mempercepat pertumbuhan penyakit.

 

Kelainan yang masih baru berupa vegetasi yang bertangkai dan berwarna kemerahan. Jika telah lama agak kehitaman, permukaannya berjonjot (papilomatosa) dan jika besar dapat dilakukan percobaan sondase. Bila timbul infeksi sekunder warna akan menjadi keabu­abuan dan berbau tidak enak. Giant condyloma pernah dilaporkan menimbulkan keganasan sehingga harus dilakukan biopsi.

 

Diagnosis Banding

Veruka vulgaris, kondiloma latum, dan karsinoma sel skuamosa.

 

Penatalaksanaan

Dapat dilakukan dengan kemoterapi, bedah listrik, bedah beku, bedah skalpel, laser CO2, interferon, dan imunoterapi. Pemilihan cara pengobatan bergantung pada besar, lokalisasi, jenis dan jumlah lesi serta keterampilan dokter yang melakukan pengobatan.

Secara kemoterapi, dapat diberikan:

o Tingtur podofilin 15-25 %. Setelah melindungi kulit di sekitarnya dengan vaselin atau pasta agar tidak terjadi iritasi, oleskan tingtur pada lesi dan biarkan selama 4-6 jam, kemudian cuci. Jika belum sembuh, dapat diulangi setelah 3 hari. Setiap kali pemberian jangan melebihi 0,3 cc karena dapat bersifat toksik dengan gejala mual, muntah, nyeri abdomen, gangguan napas, dll. Obat ini tidak boleh diberikan pada wanita hamil.

o Asam triklorasetat 50% dioleskan seminggu sekali, hati-hati karena dapat menimbulkan ulkus yang dalam. Dapat diberikan pada wanita yang hamil.

o 5-fluorourasil 1-5 % dalam krim, terutama untuk lesi pada meatus uretra. Diberikan setiap hari sampai lesi hilang, sebaiknya tidak miksi selama 2 jam setelah pengobatan.

 
Prognosis
Prognosis baik, walaupun sering residif.

 

 

Sifilis

Definisi

Sifilis ialah penyakit infeksi oleh Treponema pallidum dengan perjalanan penyakit yang kronis, adanya remisi dan eksaserbasi, dapat menyerang sennua organ dalam tubuh terutama sistem kardiovaskular, otak dan susunan saraf, serta dapat terjadi sifilis kongenital. Disebut juga Ma1 de Naples, morbus gallicus, lues venerea (Prat), disease of the isle of Espanole (Dias), Spanish of French disease, Italian or Neopolitan disease, raja singa, dll.


Etiologi
Treponema pallidum yang termasuk ordo Spirochaetaeas, famili Treponematoceae.



Patogenesis
Penularan terjadi melalui kontak langsung dengan lesi yang mengandung treponema. Tre­ponema dapat masuk (porte d’entree) melalui selaput lendir yang utuh atau kulit dengan lesi, kemudian masuk ke peredaran darah dan semua organ dalam tubuh. Infeksi bersifat sistemik dan manifestasinya akan tampak kemudian. Perkembangan penyakit sifilis berlangsung dari satu stadium ke stadium berikutnya. Sepuluh sampai 90 hari (umumnya 3­4 minggu) setelah terjadi infeksi, pada tempat masuk T. pallidum timbul lesi primer yang bertahan 1-5 minggu dan kemudian hilang sendiri. Kurang lebih 6 minggu (2 – 6 minggu) setelah lesi primer terdapat kelainan kulit dan selaput lendir yang pada permulaan menyeluruh, kemudian mengadakan konfluensi dan berbentuk khas. Kadang-kadang kelainan kulit hanya sedikit atau sepintas lalu.

 
Manifestasi Klinis
Klasifikasi Pembagian menurut WHO ialah sifilis dini dan lanjut dengan waktu di antaranya 2 tahun, ada yang mengatakan 4 tahun. Sifilis dini dapat menularkan penyakit karena terdapat T. pallidum pada lesi kulitnya, sedangkan sifilis lanjut tidak menular karena T. pallidum tidak ada. Pada ibu yang hamil, T. pallidum dapat masuk ke tubuh janin.

Pembagian sifilis secara klinis ialah sifilis kongenital dan sifilis didapat, atau dapat pula digolongkan berdasarkan stadium I, II, III sesuai dengan gejala-gejalanya, sifilis kardiovaskular, dan sifilis pada otak dan saraf.

 

Sifilis laten ialah keadaan yang secara klinis tidak ada tanda/gejala kecuali tes serologik yang positif dan meyakinkan. Sifilis laten ada yang dini ialah pada sifilis stadium I dan II dan eksaserbasi. Laten lanjut adalah masa antara stadium II dan stadium III dan antara stadium III dan IV

Syphillis d’emblee merupakan keadaan jika T. pallidum langsung melalui darah masuk ke tubuh calon pasien, misalnya pada transfusi darah dan sifilis bawaan.

Sifilis Stadium I

Tiga minggu (10-90 hari) setelah infeksi, timbul lesi pada tempat T. pallidum masuk. Lesi umumnya hanya satu. Terjadi afek primer berupa papul yang erosif, berukuran beberapa milimeter sampai 1-2 cm, berbentuk bulat atau bulat lonjong, dasarnya bersih, merah, kulit di sekitarnya tidak ada tanda-tanda radang, dan bila diraba ada pengerasan (indurasi) yang merupakan satu lapisan seperti sebuah kancing di bawah kain atau sehelai karton yang tipis. Kelainan ini tidak nyeri (indolen). Gejala tersebut sangat khas bagi sifilis stadium I afek primer. Erosi dapat berubah menjadi ulkus berdinding tegak lurus, sedangkan sifat lainnya seperti pada afek primer. Keadaan ini disebut ulkus durum, yang dapat menjadi fagedenik bila ulkusnya meluas ke samping dan ke dalam. Kadang-kadang hanya terdapat edema induratif pada pintu masuk T. pallidum, yang tersering pada labia mayora.

 

Sekitar 3 minggu kemudian terjadi penjalaran ke kelenjar inguinal medial. Kelenjar tersebut membesar, padat, kenyal pada perabaan, tidak nyeri, soliter, dan dapat digerakkan bebas dari sekitarnya. Keadaan ini disebut sebagai sifilis stadium I kompleks primer. Lesi umumnya terdapat pada alat kelamin, dapat juga ekstragenital seperti bibir, lidah, tonsil, puting susu, jari, dan anus, misalnya pada penularan ekstrakoital. Tanpa pengobatan, lesi dapat hilang spontan dalam 4-6 minggu, cepat atau lambat bergantung pada kecil-besarnya lesi.

 

Hasil pemeriksaan TSS pada sifilis stadium I dapat seronegatif atau seropositif. Seronegatif umumnya terdapat bilamana kompleks primer belum terjadi.

Dua hal yang sangat penting pada masa sifilis stadium I adalah:

a. Bila pasien sudah mendapat pengobatan berupa apapun secara lokal atau sistemik yang spesifik, T. pallidum akan menghilang pada tempat lesi, sehingga pasien diduga tidak menderita sifilis. Secara akademik harus dicari T. pallidum tiga kali (3 hari berturut-­turut).

b. Anamnesis yang cermat karena umumnya pada tiap lesi pada alat kelamin, meskipun bukan sifilis, bila diberi pengobatan lokal dapat terjadi indurasi palsu (pseudoindurasi).

 
Sifilis Stadium II
Pada umumnya bila gejala sifilis stadium II muncul, sifilis stadium I sudah sembuh. Waktu antara sifilis stadium I dan II umumnya 6-8 minggu. Kadang-kadang. terjadi masa transisi, yakni sifilis stadium I masih ada saat timbul gejala sifilis stadium II.

 

Sifat yang khas pada sifilis ialah jarang ada rasa gatal. Gejala konstitusi seperti nyeri kepala, demam subfebril, anoreksia, nyeri pada tulang, dan nyeri leher biasanya mendahului, kadang-kadang bersamaan dengan kelainan pada kulit. Kelainan kulit yang timbul berupa makula, papul, pustul, dan rupia. Tidak terdapat vesikel dan bula. Sifilis stadium II disebut sebagai the greatest immitator of all skin diseases. Selain kelainan kulit, pada stadium ini terdapat kelainan selaput lendir dan limfadenitis yang generalisata.

 

Diagnosis sifilis stadium II biasanya ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan serologik yang reaktif dan pemeriksaan lapangan gelap positif.

Sifilis Stadium III

Lesi yang khas adalah guma yang dapat terjadi 3-7 tahun setelah infeksi. Guma umumnya satu, dapat multipel, ukuran miliar sampai berdiameter beberapa sentimeter. Guma dapat timbul pada semua jaringan dan organ, membentuk nekrosis sentral dikelilingi jaringan granulasi dan pada bagian luarnya terdapat jaringan fibrosa, sifatnya destruktif. Guma mengalami supurasi dan memecah serta meninggalkan suatu ulkus dengan dinding curam dan dalam, dasarnya terdapatjaringan nekrotik berwarna kuning putih.

 

Sifilis stadium ini dapat merusak semua jaringan, tulang rawan pada hidung dan pala­tum. Guma juga dapat ditemukan di organ dalam, yakni lambung, hepar, lien, paru, testis, dll. Kelainan lain berapa nodus di bawah kulit, ukuran miliar sampai lentikular, merah, dan tidak nyeri tekan. Permukaan nodus dapat berskuama sehingga menyerupai psoriasis, tetapi tanda Auspitz negatif.

Sifilis Kongenital

T. pallidum dapat melalui plasenta dan masuk ke peredaran darah janin. Oleh karena masuk ke peredaran darah; pada sifilis kongenital tidak terdapat sifilis stadium I. Sifilis kongenital dibagi menjadi sifilis kongenital dini, lanjut, dan stigmata.

 

Sifilis kongenital dini dapat muncul beberapa minggu (3 minggu) setelah bayi dilahirkan. Kelainan berupa vesikel dan bula yang setelah memecah membentuk erosi yang ditutupi krusta. Kelainan ini sering terdapat di telapak tangan dan kaki, dan disebut pemfigus sifilitika. Bila kelainan muncul beberapa bulan setelah bayi dilahirkan, kelainan berupa papul dengan skuama yang menyerupai sifilis stadium II. Kelainan pada selaput lendir berupa sekret hidung yang sering bercampur darah. Kelainan pada tulang, terutama tulang panjang, berupa osteokondritis yang khas pada foto Rontgen. Bisa terdapat splenomegali dan pneumonia alba.

 

Sifilis kongenital lanjut terdapat pada usia lebih dari 2 tahun. Manifestasi klinis baru ditemukan pada usia 7-9 tahun dengan adanya trias Huthinson, yakni kelainan pada mata (keratitis interstisial yang dapat menyebabkan kebutaan); ketulian N VIII, dan gigi Hutchinson (insisivus I atas kanan dan kiri bentuknya seperti obeng). Kelainan lain berupa paresis, perforatum palatum durum, serta kelainan tulang tibia dan frontalis.

 

Stigmata terlihat pada sudut mulut berupa garis-garis yang jalannya radier, gigi Hutchinson, gigi molar pertama berbentuk seperti murbai, dan penonjolan tulang frontal kepala (frontal bossing).

 

Sifilis Kardiovaskular

Umumnya bermanifestasi 10-20 tahun setelah infeksi. Sejumlah 10% pasien sifilis akan mengalami fase ini. Pria dan orang dengan kulit berwarna lebih banyak terkena. Jantung dan pembuluh darah, yang terkena terutama yang besar. Kematian pada sifilis terjadi akibat kelainan sistem ini.

 

Biasanya disebabkan oleh nekrosis aorta yang berlanjut ke arah katup. Tanda-tanda sifilis kardiovaskular adalah insufisiensi aorta atau aneurisma, berbentuk kantong pada aorta torakal (aneurisme aorta torakales). Secara teliti harus diperiksa kemungkinan adanya hipetensi, arteriosklerosis, dan penyakit jantung rematik sebelumnya. Bila terdapat insufisiensi aorta tanpa kelainan katup pada seseorang berusia setengah baya disertai pemeriksaan serologis yang reaktif, pertama kali harus dipikirkan sifilis kardiovaskuler sampai dapat dibuktikan lebih lanjut. Pemeriksaan serologis umumnya reaktif.

 
Neurosifilis
Penyakit ini umumnya bermanifestasi dalam 10-20 tahun setelah infeksi, walaupun T. pallidum langsung bergerak setelah infeksi ke sistem otot dan saraf. Kelainan ini lebih banyak didapat pada orang kulit putih. Neurosifilis dibagi menjadi tiga jenis, bergantung kepada tipe dan tingkat kerusakan susunan saraf pusat.

1. Neurosifilis asimtomatik.

Pemeriksaan serologis reaktif. Tidak ada tanda dan gejala kerusakan susunan saraf pusat. Pemeriksaan sumsum tulang belakang menunjukkan kenaikan sel, protein total, dan tes serologis reaktif.

2. Neurosifilis meningovaskular.

Terdapat tanda dan gejala kerusakan susunan saraf pusat, berupa kerusakan pembuluh darah serebrum, infark dan ensefalomalasia dengan tanda-tanda adanya fokus neurologis sesuai dengan ukuran dan lokasi lesi. Pemeriksaan sumsum tulang belakang menunjukkan kenaikan sel, protein total, dan tes serologis reaktif.

3. Neurosifilis parenkimatosa, yang terdiri dari paresis dan tabes dorsalis.

Paresis. Tanda dan gejala paresis sangat hanyak dan selalu menunjukkan penyebaran kerusakan parenkimatosa. Perubahan sifat diri dapat terjadi, mulai dari yang ringan hingga psikotik. Terdapat tanda-tanda fokus neurologis. Pemeriksaan sumsum tulang belakang menunjukkan kenaikan sel, protein total, dan tes serologis reaktif.

Tabes dorsalis. Tanda dan gejala pertama tabes dorsalis akibat degenerasi kolumna posterior adalah parestesia, ataksia, arefleksia, gangguan kandungan kemih, impotensi, dan perasaan nyeri seperti dipotong-potong. Pemeriksaan cairan sumsum tulang belakang abnormal pada hampir semua penderita dan pemeriksaan serologis sebagian menunjukkan reaktif.

 

Pemeriksaan Penunjang

Diagnosis pasti sifilis ditegakkan bila dapat ditemukan T. pallidum. Pemeriksaan laboratorium dengan mikroskop lapangan gelap sampai 3 kali (3 hari secara berturut-turut). Pemeriksaan lain ialah menurut Burri, kerugiannya dikarenakan kuman telah mati. Tes serologik untuk sifilis (TSS) atau serologic test for syphillis (STS) yang klasik umumnya masih negatif pada saat lesi primer, dan menjadi positif setelah 1-4 minggu kemudian.

 

TSS dibagi dua, yakni nontreponemal (nonspesifik) dan treponemal (spesifik). Sebagai antigen pada TSS nonspesifik digunakan ekstrak jaringan, misalnya veneral disease re­search laboratory (VDRL), rapid plasma reagen (RPR), dan ikatan komplemen Wasser­mann/Kolmer. TSS nonspesifik akan menjadi negatif 3-8 bulan setelah pengobatan berhasil sehingga dapat digunakan untuk menilai keberhasilan pengobatan.

 

Pada TSS spesifik, sebagai antigen digunakan treponema atau ekstraknya, misalnya Treponema pallidum hemagglutination assay (TPHA) dan Treponema pallidum immunobilization (TPI). Walaupun diberikan pengobatan pada stadium dini, TSS spesifik akan tetap positif, bahkan dapat seumur hidup sehingga lebih bermakna untuk membantu diagnosis.

 
Diagnosis
Diagnosis berdasarkan anamnesis dan gambaran klinis, pemeriksaan mikroskop lapangan gelap atau pewarnaan Burri, pemeriksaan darah (TSS), pemeriksaan likuor serebrospinalis, dan pemeriksaan Rontgen.

 
Penatalaksanaan
1. Medikamentosa:

  • Sifilis primer dan sekunder

§ Penisilin benzatin G dosis 4,8 juta unit injeksi intramuskular (2,4 juta unit/kali) dan diberikan satu kali seminggu, atau

§ Penisilin prokain dalam aqua dengan dosis 600.000 unit injeksi intramuskular sehari selama 10 hari, atau

§ Penisilin prokain + 2% aluminium monostearat, dosis total 4,8 juta unit, diberikan 2,4 juta unit/kali sebanyak 2 kali seminggu.

  • Sifilis laten

§ Penisilin benzatin G dosis total 7,2 juta unit, atau

§ Penisilin G prokain dalam aqua dengan dosis total 12 juta unit (600.000 unit sehari), atau

§ Penisilin prokain + 2% aluminium monostearat, dosis total 7,2 juta unit (diberikan l,2 juta unit/kali, 2 kali seminggu).

  • Silis III

§ Penisilin benzatin G dosis total 9,6 juta unit, atau

§ Penisilin G prokain dalam aqua dengan dosis total 18 juta unit (600.000 unit sehari), atau

§ Penisilin prokain + 2% aluminium monostearat, dosis total 9,6 juta unit (diberikan 1,2 juta unit/kali, 2 kali seminggu).

  • Untuk pasien silis I dan II yang alergi terhadap penisilin, dapat diberikan:

§ Tetrasiklin* 500 mg per oral 4 kali sehari selama 15 hari, atau

§ Eritromisin 500 mg per oral 4 kali sehari selama 15 hari, atau

Untuk pasien silis laten lanjut (> 1 tahun) yang alergi terhadap penisilin, dapat diberikan:

§ Tetrasiklin* 500 mg per oral 4 kali sehari selama 30 hari, atau

§ Eritromisin 500 mg per oral 4 kali sehui selama 30 hari, atau

* Obat ini tidak boleh diberikan kepada wanita hamil, menyusui, dan anak-anak.

2. Pemantauan serologik dilakukan pada bulan I, II, VI, dan XII tahun pertama, dan setiap 6 bulan pada tahun kedua.

3. Nonmedikamentosa:

Memberikan pendidikan kepada pasien dengan menjelaskan hal-hal sebagai berikut:

  • Bahaya PMS dan komplikasinya
  • Pentingnya mematuhi pengobatan yang diberikan
  • Cara penularan PMS dan perlunya pengobatan untuk pasangan seks tetapnya
  • Hindari hubungan seksual sebelum sembuh, dan memakai kondom jika tak dapat menghindarkan lagi
  • Cara-cara menghindari infeksi PMS di masa datang

 

Herpes Simpleks

Definisi
Herpes simpleks adalah infeksi akut oleh virus herpes simpleks (virus herpes hominis) tipe I atau tipe II yang ditandai adanya vesikel berkelompok di atas kulit yang eritematosa di daerah mukokutan. Dapat berlangsung primer maupun rekurens. Herpes simpleks disebut juga fever blister, cold score, herpes febrilis, herpes labialis, herpes progenitalis (genitalis).

 
Etiologi
Virus Herpes simpleks (VHS) tipe I dan tipe II adalah virus Herpes hominis yang termasuk virus DNA.

 

Manifestasi Kiinis

Masa inkubasi umumnya berkisar antara 3-7 hari, tapi dapat lebih lama.

 

Infeksi Primer

Berlangsung kira-kira 3 minggu dan sering disertai gejala sistemik, misalnya demam, mal­aise, anoreksia, dan dapat ditemukan pembengkakan kelenjar getah bening regional.

 

Tempat predileksi VHS tipe I di daerah pinggang ke atas terutama di daerah mulut dan hidung, biasanya dimulai pada usia anak-anak. Inokulasi dapat terjadi secara kebetulan, misalnya kontak kulit pada perawat, dokter gigi, atau pada orang yang sering menggigit jari (herpetic Whitlow). Virus ini juga sebagai penyebab herpes ensefalitis.

 

Tempat predileksi VHS tipe II di daerah pinggang ke bawah, terutama di daerah genital, juga dapat menyebabkan herpes meningitisdan infeksi neonatus.

 

Cara hubungan seksual orogenital, dapat menyebabkan herpes pada daerah genital yang disebabkan oleh VHS tipe I atau di daerah mulut dan rongga mulut yang disebabkan oleh VHS tipe II.

 

Kelainan klinis yang dijumpai berupa vesikel berkelompok di atas kulit yang sembab dan eritematosa, berisi cairan jernih dan kemudian menjadi seropurulen, dapat menjadi krusta dan kadang-kadang mengalami ulserasi yang dangkal, biasanya sembuh tanpa sikatriks. Pada perabaan tidak terdapat indurasi. Kadang-kadang dapat timbul infeksi sekunder sehingga memberi gambaran yang tidak jelas.

Fase Laten

Tidak ditemukan gejala klinis, tetapi VHS dapat ditemukan dalam keadaan tidak aktif pada ganglion dorsalis. Penularan dapat terjadi pada fase ini, akibat pelepasan virus terus berlangsung meskipun dalam jumlah sedikit.

Infeksi Rekurens

Reaktivasi VHS pada ganglion dorsalis mencapai kulit sehingga menimbulkan gejala klinis. Dapat dipicu oleh trauma fisik (demam, infeksi, kurang tidur, hubungan seksual, dan sebagainya), trauma psikis (gangguan emosional), obat-obatan (kortikosteroid, imunosupresif), menstruasi, dan dapat pula timbul akibat jenis makanan dan minuman yang merangsang.

 

Gejala klinis yang timbul lebih ringan daripada infeksi primer dan berlangsung kira-kira 7-10 hari. Sering ditemukan gejala prodromal lokal sebelum timbul vesikel, berupa rasa panas, gatal, dan nyeri. Dapat timbul pada tempat yang sama (loco) atau tempat lain/tempat di sekitarnya (non loco).

 

Herpes Genitalis pada Kehamilan

Perlu perhatian yang serius, karena dapat menimbulkan kelainan atau kematian janin terutama, bila terjadi infeksi primer pada saat kehamilan. Kelainan yang timbul pada bayi dapat berupa ensefalitis, keratokonjungtivitis, atau hepatitis; dapat pula timbul lesi pada kulit. Sebaiknya dilakukan partus secara seksio sesaria bila pada saat melahirkan sang ibu menderita infeksi ini. Tindakan ini sebaiknya dilakukan sebelum ketuban pecah atau paling lambat enam jam setelah ketuban pecah.

 

Bila transmisi terjadi pada trimester I cenderung terjadi abortus; sedangkan bila pada trimester II, terjadi prematuritas. Selain itu dapat terjadi transmisi pada saat intrapartum.

 

Pemeriksaan Penunjang

Virus herpes dapat ditemukan pada vesikel dan dapat dibiak. Jika tidak ada lesi dapat diperiksa antibodi VHS. Pada percobaan Tzanck dengan pewarnaan Giemsa dari bahan, vesikel dapat ditemukan sel datia berinti banyak dan badan inklusi intranuklear.

 
Diagnosis Banding
Impetigo vesikobulosa, ulkus durum, ulkus mole, dan ulkus mikstum.

 

Penatalaksanaan

1. Medikamentosa

o Belum ada terapi radikal

o Pada episode pertama, berikan:

§ Asiklovir 200 mg per oral 5 kali sehari selama 7 hari, atau

§ Asiklovir 5 mg/kg BB, intravena tiap 8 jam selama 7 hari (bila gejala sistemik berat), atau

§ Preparat isoprinosin sebagai imunomodulator, atau

§ Asiklovir parenteral atau preparat adenin arabinosid (vitarabin) untuk penyakit yang lebih berat atau jika timbul komplikasi pada alat dalam.

o Pada episode rekurensi, umumnya tidak perlu diobati karena bisa membaik, namun bila perlu dapat diobati dengan krim asiklovir. Bila pasien dengan gejala berat dan lama, berikan asiklovir 200 mg per oral 5 kali sehari, selama 5 hari. Jika timbul ulserasi dapat dilakukan kompres.

2. Nonmedikamentosa

Memberikan pendidikan kepada pasien dengan menjelaskan hal-hal sebagai berikut:

§ bahaya PMS dan komplikasinya

§ pentingnya mematuhi pengobatan yang diberikan

§ cara penularan PMS dan perlunya pengobatan untuk pasangan seks tetapnya

§ hindari hubungan seksual sebelum sembuh, dan memakai kondom jika tak dapat menghindarkan lagi

§ cara-cara menghindari infeksi PMS di masa datang

 

Prognosis

Prognosis baik bila pengobatan dilakukan secara dini dan tepat, yakni masa penyakit berlangsung lebih singkat dan rekurens lebih jarang.

 

Kandidosis Vaginal

Definisi
Kandidosis vulvovaginal atau kandidosis vaginal adalah penyakit jamur yang bersifat akut atau subakut pada vagina dan atau vulva dan disebabkan oleh kandida, biasanya oleh C. albicans.

 
Patogenesis
Infeksi kandida dapat terjadi jika terdapat faktor predisposisi baik endogen maupun esksogen.

Faktor endogen yaitu:

o Perubahan fisiologik, seperti kehamilan, kegemukan, debilitas, endokrinopati dan penyakit kronik.

o Umur, misalnya orang tua dan bayi lebih mudah terkena.

o Imunologik/penyakit genetik

Faktor eksogen, antara lain:

o Iklim, panas dan kelembaban menyebabkan perspirasi meningkat

o Kebersihan kulit

o Kontak dengan pasien

o Iatrogenik, misal dengan penggunaan antibiotik jangka panjang

 

Manifestasi Klinis

Gejala khas adalah rasa gatal/iritasi disertai keputihan tidak berbau, atau berbau asam. Keputihan bisa banyak, putih keju, seperti kepala susu/krim, atau seperti susu pecah. Pada dinding vagina biasanya dijumpai gumpalan keju (cottage cheeses) yang menempel. Pada vulva dan atau vagina terdapat tanda-tanda radang, disertai maserasi, pseudomembran, fisura, dan lesi satelit papulopustular.

 

Pemeriksaan Penunjang

Pada pemeriksaan mikroskopik sekret vagina dengan sediaan basah KOH 10% dapat terlihat adanya bentuk ragi (yeast form): blastospora dan pseudohifa (seperti sosis panjang bersambung). Dengan pewarnaan Gram dapat ditemukan pseudohifa yang bersifat Gram positif dan blastospora.

 
Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan oada manifestasi klinis dan pemeriksaan mikroskopik.

 

Penatalaksanaan

1. Secara topikal, gunakan:

o Mikonazol/klotrimazol 200 mg intravaginal/ hari selama 3 hari

o Klotrimazol 500 mg intravaginal dosis tunggal

o Nistatin 100.000 IU intravaginal/hari selama 14 hari

o Untuk vulva dapat diberi krim klotrimazol 1% atau mikonazol 2% selama 7-14 hari, atau salep tiokonazol 6,5% sekali oles.

Untuk wanita hamil hanya dapat diberikan preparat azol topikal selama 7 hari.

2. Secara sistemik dapat digunakan ketokonazol dengan dosis 2 x 200 mg selama 5 hari (untuk dewasa).

 

Vaginosis Bakterialis

Etiologi

Penyakit ini disebabkan oleh Gardnerella vaginalis.


Patogenesis

Patogenesis masih belum jelas. G. vaginalis termasuk flora normal dalam vagina melekat pada dinding. Beberapa peneliti menyatakan terdapat hubungan yang erat antara kuman ini dengan bakteri anaerob pada patogenesis penyakit vaginosis bakterialis (VB).

 
Manifestasi Klinis
Pada wanita dengan VB, keluhan berupa adanya duh tubuh vagina ringan, melekat pada dinding vagina, dan berbau amis. Bau lebih menusuk setetah senggama dan darah menstruasi berbau abnormal. Dapat timbul rasa gatal dan terbakar akibat iritasi pada vagina dan sekitarnya, serta kemerahan dan edema pada vulva. Terdapat 50% kasus bersifat asimtomatik. Pada pemeriksaan terlihat adanya duh tubuh vagina bertambah, warna abu-abu homogen, berbau dan jarang berbusa. Gejala peradangan umum tidak ada.

 

Pada pria dapat terjadi prostatitis ringan sampai sedang, dengan atau tanpa uretritis. Gejalanya berupa piuria, hematuria, disuria, polakisuria, dan nokturia.

 

Pemeriksaan Penunjang

Dengan mikroskop, pada sediaan basah sekret vagina dengan larutan garam faal terlihat leukosit sedikit atau tidak ada, sel epitel banyak dan adanya kokobasil yang berkelompok. Terdapatnya clue cell (sel epitel vagina yang diliputi oleh kokobasil sehingga batas sel tidak jelas) adalah patognomonik.

 

Pada pewarnaan Gram dapat dilihat batang-batang kecil Gram negatif atau variabel Gram yang tak dapat dihitung jumlahnya dan banyak epitel dengan kokobasil tanpa ditemukan laktobasil.

 

Dapat dilakukan tes Sniff (tes amin), yaitu duh tubuh vagina berbau amis setelah ditambahkan 1 tetes larutan KOH 10 %.

 

Dapat pula dilakukan pemeriksaan kromatograti dan biakan.

 

Diagnosis

Diagnosis dibuat atas dasar ditemukannya clue cell, pH vagina di atas 4,5, tes amin positif, dan adanya G. vaginalis sebagai flora utama menggantikan laktobasilus.

 
Penatalaksanaan
1. Secara topikal, gunakan:

o Krim Sulfonamida tripel sebagai acid cream base dengan pH 3,9 dipakai setiap hari selama 7 hari. Namun, kesembuhan hanya sementara, yakni selama penggunaan pengobatan topikal. Atau

o Supositoria vaginal berisi tetrasiklin atau yodium povidon 76%.

2. Secara sistemik, berikan:

o Metronidazol 2-3 x 500 mg tiap hari selama 7 hari, atau

o Tinidazol 2 x 500 mg selama 5 hari, atau

o Amoksisilin atau ampisilin dengan dosis 4 x 500 mg per oral selama 5 hari. Pemberian ampisilin dan tetrasiklin merupakan predisposisi timbulnya kandidosis vaginal.

 

Trikomoniasis

Etiologi
Trikomoniasis adalah infeksi saluran urogenital yang dapat bersifat akut atau kronik dan disebabkan oleh Trichomonas vaginalis.



Patogenesis
T. vaginalis menimbulkan peradangan pada dinding saluran urogenital dengan cara invasi mencapai jaringan epitel dan subepitel.

 

Manifestasi Klinis

Masa tunasnya 4 hari sampai 3 minggu.

 

Pada wanita penyakit ini terutama mengenai dinding vagina di daerah forniks posterior. Pada kasus akut terlihat duh tubuh vagina seropurulen berwarna kekuning-kuningan atau kuning hijau berbau tidak enak dan berbusa. Dinding vagina kemerahan dan sembab, kadang-kadang terbentuk abses kecil yang tampak sebagai granulasi berwarna merah, dikenal sebagai strawberry appearance. Sekret yang banyak dapat menimbulkan iritasi pada lipat paha atau di sekitar genitalia eksterna. Dapat pula terjadi uretritis, bartolinitis, skenitis, dan sistitis. Pada kasus kronik gejala lebih ringan dan sekret biasanya tidak berbusa.

 

Pada laki-laki biasanya mengenai uretra dan gambaran klinisnya lebih ringan. Pada kasus akut gejalanya berupa disuria, poliuria, dan duh tubuh uretra mukopurulen. Kadang­-kadang pada urin ada benang-benang halus. Pada bentuk kronik, gejalanya tidak khas, berupa gatal pada uretra, disuria, dan urin keruh pada pagi hari.

 

Pemeriksaan Penunjang

Dapat dilakukan pemeriksaan mikroskopik sediaan basah, sediaan apus, serta biakan. Pada sediaan basah dengan garam faal dapat terlihat pergerakan aktif parasit yang masih hidup. Sediaan apus dipulas dengan Giemsa atau Gram dan bersifat Gram negatif. Pembiakan menggunakan bermacam-macam perbenihan yang mengandung serum.

 
Diagnosis
Diagnosis kurang tepat bila hanya berdasarkan gambaran klinis karena sering asimtomatik. Diagnosis etiologik sangat penting.

 

Penatalaksanaan

Pengobatan dilakukan secara topikal dan sistemik. Pengobatan secara topikal berupa irigasi dengan hidrogen peroksida 1-2% dan larutan asam laktat 4%, bahan supositoria yang bersifat trikomoniasidal, atau gel dan krim. Untuk pengobatan sistemik, obat yang sering digunakan antara lain metronidazol per oral, dosis tunggal 2 g atau 3 x 200 mg per hari selama 7 hari, nimorazol dan tinidazol per oral dengan dosis tunggal 2 g, dan ornidazol dosis tunggal 1½ g. Penderita dinyatakan sembuh bila keluhan dan gejala telah menghilang, serta parasit tidak ditemukan lagi pada pemeriksaan sediaan langsung.

 

Kehamilan trimester pertama merupakan kontra indikasi pemberian metronidazol. Namun, karena telah banyak bukti yang menunjukkan kaitan infeksi T. vaginalis dengan pecahnya ketuban sebelum waktunya serta tidak ada bukti bahwa metronidazol bersifat teratogenik pada manusia, maka metronidazol dapat diberikan dalam dosis efektif terendah pada trimester kedua dan ketiga.

 

Perlu dianjurkan terhadap pasangan seksualnya untuk melakukan pemeriksaan dan pengobatan, tidak melakukan hubungan seksual selama pengobatan sebelum dinyatakan sembuh dan menghindari pemakaian barang-barang yang mudah menimbulkan transmisi.

 

Infeksi Genital Non-Spesifik

Definisi
Pada pria sering disebut sebagai uretritis nonspesifik (UNS) oleh karena terutama mengenai uretra. Infeksi genital non-spesifik (IGNS) adalah penyakit hubungan seksual berupa peradangan di uretra, rektum, atau serviks yang disebabkan oleh mikroorganisme nonspesifik. Mikroorganisme spesifik adalah mikroorganisme yang dengan fasilitas laboratorium biasa/sederhana dapat ditemukan seketika, yaitu gonokok, Candida albicans, dan Trichomonas vaginalis.

 

Etiologi

Penyebab paling sering ialah Chlamydia trachomatis, Ureaplasma urealyticum, Myco­plasma hominis.


Patogenesis

Setiap mikroorganisme penyebab mempunyai patogenesis yang berbeda. C. trachomatis merupakan bakteri Gram negatif dan parasit intraobligat yang dalam perkembangannya mengalami 2 fase, yaitu fase noninfeksiosa dan fase penularan. U. urealyticum sering bersamaan dengan C. trachomatis atau M hominis .


Manifestasi Klinis

Pada pria. Gejala timbul biasanya 1-3 minggu setelah kontak seksual dan umumnya tidak seberat gonore. Berupa disuria ringan, perasaan tidak enak di uretra, sering kencing, dan keluarnya duh tubuh seropurulen. Dibandingkan dengan gonore, perjalanan penyakitnya lebih lama dan ada kecenderungan residif. Jika tidak terlihat keluarnya cairan duh tubuh, pemeriksaan laboratorium sangat diperlukan.

Pada wanita. Tersering terjadi di serviks. Umumnya tidak menunjukkan gejala. Sebagian kecil dengan keluhan keluarnya duh tubuh vagina, disuria ringan, sering kencing, nyeri di daerah pelvis dan dispareunia. Pada serviks terlihat tanda servisitis, yang disertai adanya folikel-folikel kecil yang mudah berdarah.

Pemeriksaan Penunjang

Penting untuk menyingkirkan mikroorganisme spesifik. Dasar untuk menegakkan diagno­sis IGNS ialah pemeriksaan laboratorium berupa apusan skret uretra/serviks. Pada pemeriksaan sekret uretra dengan pewarnaan Gram secara mikroskopis ditemukan leukosit > 5 per lapangan pandang dengan pembesaran 1000 kali. Sedangkan pada sekret serviks ditemukan leukosit > 30 per lapangan pandang dengan pembesaran 1000 kali. Tidak dijumpai diplokokus Gram negatif, dan pada pemeriksaan sediaan basah tidak didapatkan parasit Trichomonas vaginalis. Secara makroskopis dapat dilihat adanya benang-benang dalam urin.

 

Jika memungkinkan dapat dilakukan pembiakan untuk Chlamydia trachomatis pada kuning telur embrio ayam atau dengan McCoy cell, biakan sel Hela 229, dilanjutkan dengan pemeriksaan antigen. Dua cara pemeriksaan antigen secara langsung yang sudah dikenal adalah pewarnaan imunofluoresensi dan ELISA. Dapat pula dilakukan pemeriksaan polimerase chain reaction (PCR) dan ligase chain reaction.

 
Komplikasi
Hampir sama dengan gonore. Pada pria dapat terjadi prostatitis, vesikulitis, epididimitis, dan striktur uretra. Pada wanita dapat terjadi bartolinitis, proktitis, salpingitis, dan sistitis. Peritonitis dan hepatitis juga pernah dilaporkan.

 

Penatalaksanaan

Obat yang paling efektif adalah golongan tetrasiklin dan eritromisin. Indikasi eritromisin adalah untuk pasien yang tidak tahan tetrasiklin atau wanita hamil. Dosis tetrasiklin HCl dan eritromisin adalah 4 x 500 mg sehari selama 1 minggu atau 4 x 250 mg sehari selama 2 minggu. Alternatif lain adalah oksitetrasiklin 4 x 250 mg sehari selama 2 minggu, doksisiklin dan minosiklin dosis pertama 200 mg, dilanjutkan dengan 2 x 100 mg sehari selama 1-2 minggu. Kotrimoksasol, spiramisin, dan ofloksasin juga dapat digunakan.

 
Prognosis
Tanpa pengobatan, kadang-kadang penyakit dapat berkunang dan akhirnya sembuh sendiri (50-70% dalam waktu kurang lebih 3 bulan). Setelah pengobatan, kurang lebih 10% akan mengalami eksaserbasi atau rekurens.