Category Archives: Hidung

Epistaksis

Definisi
Epistaksis adalah perdarahan dari hidung yang dapat terjadi akibat sebab lokal atau sebab umum (kelainan sistemik). Epistaksis bukan suatu penyakit, melainkan gejala suatu kelainan.

 
Etiologi
Penyebab lokal:

o Trauma, misalnya mengorek hidung, terjatuh, terpukul, benda asing di hidung, trauma pembedahan, atau iritasi gas yang merangsang.

o Infeksi hidung dan sinus paranasal, seperti rinitis, sinusitis; serta granuloma spesifik, seperti lepra dan sifilis.

o Tumor, baik jinak maupun ganas pada hidung, sinus paranasal, dan nasofaring.

o Pengaruh lingkungan, misalnya perubahan tekanan atmosfir mendadak seperti pada penerbang dan penyelam (penyakit Caisson), atau lingkungan yang udaranya sangat dingin.

o Benda asing dan rinolit, dapat menyebabkan epistaksis ringan disertai ingus berbau busuk.

o Idiopatik, biasanya merupakan epistaksis yang ringan dan berulang pada anak dan remaja.

 

Penyebab sistemik:

o Penyakit kardiovaskular, seperti hipertensi dan kelainan pembuluh darah.

o Kelainan darah, seperti trombositopenia, hemofilia, dan leukemia.

o lnfeksi sistemik, seperti demam berdarah dengue, influenza, morbili, atau demam tifoid.

o Gangguan endokrin, seperti pada kehamilan, menars, dan menopause.

o Kelainan kongenital, seperti penyakit Osler (hereditary hemorrhagic telangiectasia)

 

Patofisiologi

Terdapat dua sumber perdarahan yaitu bagian anterior dan posterior.

 

Pada epistaksis anterior, perdarahan berasal dari pleksus Kiesselbach (yang paling banyak terjadi dan sering ditemukan pada anak-anak), atau dari arteri etmoidalis ante­rior. Biasanya perdarahan tidak begitu hebat dan bila pasien duduk darah akan keluar melalui lubang hidung. Sering kali dapat berhenti spontan dan mudah diatasi.

 

Pada epistaksis posterior, perdarahan berasal dari arteri sfenopalatina dan arteri etmoidalis posterior. Epistaksis posterior sering terjadi pada pasien usia lanjut yang menderita hipertensi, arteriosklerosis, atau penyakit kardiovaskular. Perdarahan biasanya hebat dan jarang berhenti spontan.

 

Penatalaksanaan

Tiga prinsip utama penanggulangan epistaksis:

1. Menghentikan perdarahan

2. Mencegah komplikasi

3. Mencegah berulangnya epistaksis

Alat-alat yang digunakan: lampu kepala, spekulum hidung, alat hisap, forsep bayonet, spatel lidah, kateter karet, pelilit kapas (cotton applicator), lampu spiritus, kapas, tam­pon posterior (tampon Bellocq), vaselin, salep antibiotik, larutan pantokain 2% atau semprotan silokain urttuk anestasi lokal, larutan adrenalin 1/10.000, larutan nitras argenti 20-30%, larutan triklorasetat 10%, atau elektrokauter.

 

Pertama-tama, keadaan umum dan tanda vital harus diperiksa, Anamnesis singkat sambil mempersiapkan alat, kemudian yang lengkap setelah perdarahan berhenti untuk membantu menentukan sebab perdarahan.

 

Menghentikan perdarahan secara aktif, seperti pemasangan tampon dan kaustik lebih baik daripada memberikan obat-obatan hemostatik sambil menunggu epistaksis berhenti.

 

Pasien diminta duduk tegak (agar tekanan vaskular berkurang dan mudah membatukkan darah di faring). Bila dalam keadaan lemah atau syok, pasien dibaringkan dengan bantal di belakang punggung. Sumber perdarahan dicari dengan bantuan alat hisap agar hidung bersih dari bekuan darah. Kemudian, pasang tampon anterior yang telah dibasahi dengan adrenalin dan lidokain atau pantokain untuk menghentikan perdarahan dan mengurangi rasa nyeri untuk tindakan selanjutnya. Biarkan 3-5 menit dan tentukan apakah sumber perdarahan di bagian anterior atau posterior.

 

Pada anak yang sering mengalami epistaksis ringan, perdarahan dihentikan dengan cara menekan kedua cuping hidung ke arah septum selama beberapa menit.

 
Perdarahan Anterior
Jika terlihat, sumber perdarahan dikaustik dengan larutan nitras argenti 20-30% (atau asam triklorasetat 10%) atau elektrokauter. Sebelumnya diberikan analgesik topikal. Bila dengan cara ini perdarahan masih terus berlangsung, maka diperlukan pemasangan tampon anterior, yaitu kapas atau kasa menyerupai pita dengan lebar kurang lebih ½ cm, yang diberi vaselin atau salep antibiotik agar tidak melekat sehingga tidak terjadi perdarahan ulang saat pencabutan. Tampon anterior dimasukkan melalui nares anterior, diletakkan berlapis mulai dari dasar sampai puncak rongga hidung, dan harus menekan tempat asal pendarahan. Tampon dipertahankan 1-2 hari.

 

Jika tidak ada penyakit yang mendasarinya, pasien diperbolehkan rawat jalan, dan diminta lebih banyak duduk serta mengangkat kepalanya sedikit pada malam hari. Pasien lanjut usia harus dirawat.

 
Pendarahan Posterior
Terjadi bila sebagian besar darah yang keluar masuk ke dalam faring, tampon anterior tidak dapat menghentikan perdarahan, dan pada pemeriksaan hidung tampak perdarahan di posterior superior.

 

Perdarahan posterior lebih sukar diatasi karena perdarahan biasanya hebat dan sukar melihat bagian posterior dari kavum nasi. Dilakukan pemasangan tampon posterior (tam­pon Bellocq), yaitu tampon yang mempunyai tiga utas benang, 1 utas di tiap ujung dan 1 utas di tengah. Tampon harus dapat menutup koana (nares posterior). Tampon dibuat dari kasa padat berbentuk bulat atau kubus dengan diameter kurang lebih 3 cm.

 

Untuk memasang tampon Bellocq, kateter karet dimasukkan melalui salah satu nares anterior sampai tampak di orofaring dan ditarik keluar melalui mulut. Ujung kateter diikat pada salah satu benang yang ada pada salah satu ujung tampon, kemudian kateter ditarik melalui hidung sampai benang keluar dari nares anterior Dengan cara yang sama benang yang lain dikeluarkan melalui lubang hidung sebelahnya. Benang yang keluar kemudian ditarik, dan dengan bantuan jari telunjuk tampon tersebut didorong ke arah nasofaring. Agar tidak bergerak, kedua benang yang keluar dari nares anterior kemudian diikat pada sebuah gulungan kasa di depan lubang hidung. Ujung benang yang keluar dari mulut, dilekatkan pada pipi. Benang tersebut berguna bila hendak mengeluarkan tampon. Jika dianggap perlu, dapat pula dipasang tampon anterior.

 

Pasien dengan tampon posterior harus dirawat dan tampon dikeluarkan dalam waktu 2-3 hari setelah pemasangan. Dapat diberikan analgesik atau sedatif yang tidak menyebabkan depresi pernapasan. Bila cara di atas dilakukan dengan baik, maka sebagian besar epistaksis dapat ditanggulangi.

 

Sebagai pengganti tampon posterior, dapat pula dipakai kateter Foley dengan balon.

 

Selain itu dapat pula dipakai obat-obatan hemostatik seperti vitamin K atau karbazokrom.

 

Pada epistaksis berat dan berulang yang tak dapat diatasi dengan pemasangan tampon, diperlukan ligasi arteri etmoidalis anterior dan posterior atau arteri maksila interna. Untuk ini pasien harus dirujuk ke rumah sakit.

 

Epistaksis akibat fraktur nasi atau septum nasi biasanya berlangsung singkat dan berhenti secara spontan. Kadang-kadang timbul kembali beberapa jam atau beberapa hari kemudian setelah edema berkurang. Sebaiknya pasien dirujuk untuk menjalani perawatan fraktur nasi dan ligasi bila diperlukan.

 

Pemeriksaan Penunjang

Untuk menilai keadaan umum dan mencari etiologi, dilakukan pemeriksaan darah tepi lengkap, fungsi hemostasis, uji faal hati dan ginjal. Dilakukan pemeriksaan foto hidung, sinus paranasal, dan nasofaring, setelah keadaan akut diatasi.

 
Cara pemasangan tampon Bellocq
 

Komplikasi

Dapat terjadi langsung akibat epistaksis sendiri atau akibat usaha penanggulangannya.

 

Akibat perdarahan hebat

1. Syok dan anemia

2. Tekanan darah yang turun mendadak dapat menimbulkan iskemia otak, insufisiensi koroner dan infark miokard, dan akhirnya kematian. Harus segera dilakukan pemberian infus atau transfusi darah.

 

Akibat pemasangan tampon

1. Pemasangan tampon dapat menimbulkan sinusitis, otitis media, bahkan septikemia. Oleh karena itu pada setiap pemasangan tampon harus selalu diberikan antibiotik dan setelah 2-3 hari harus dicabut meski akan dipasang tampon baru bila masih berdarah.

2. Sebagai akibat mengalirnya darah secara retrograd melalui tuba Eustachius, dapat terjadi hemotimpanum dan air mata yang berdarah.

3. Pada waktu pemasangan tampon Bellocq dapat terjadi laserasi palatum mole dan sudut bibir karena benang terlalu kencang dilekatkan.

 

Prognosis

Sembilan puluh persen kasus epistaksis dapat berhenti sendiri. Pada pasien hipertensi dengan/tanpa arteriosklerosis, biasanya perdarahan hebat, sering kambuh, dan prognosisnya buruk.

 

 

Benda Asing di Hidung

Benda Asing di Hidung

Sering terjadi pada anak-anak 2-4 tahun atau pasien dengan mental yang terbelakang.

 

Manifestasi Klinis

Hidung tersumbat oleh sekret mukopuru1en yang banyak dan berbau busuk di satu sisi rongga hidung, kanan atau kiri, tempat adanya benda asing. Setelah sekret hidung dihisap, benda asing akan tampak dalam kavum nasi. Kadang disertai rasa nyeri, demam, epistaksis, dan bersin. Pada pemeriksaan tampak edema dengan inflamasi mukosa hidung unilateral dan dapat terjadi ulserasi.

 

Bila benda asing tersebut adalah binatang lintah, terdapat epistaksis berulang yang sulit berhenti meskipun sudah diberikan koagulan. Pada rinoskopi anterior tampak benda asing berwama coklat tua, lunak pada perabaan, dan melekat erat pada mukosa hidung atau nasofaring.

 

Pemeriksaan Penunjang

Dilakukan pemeriksaan radiologi untuk benda asing radioopak yang tidak jelas pada rinoskopi anterior.

 

Penatalaksanaan

Benda asing dengan permukaan kasar dapat dikeluarkan memakai forsep. Bila benda asing bulat dan licin, misalnya manik-manik, dipergunakan pengait yang ujungnya tumpul. Bagian pengait yang bengkok dimasukkan ke dalam hidung bagian atas menyusuri atap kavum nasi, sampai menyentuh nasofaring. Setelah itu pengait diturunkan sedikit, sampai ke belakang obyek, kemudian ditarik ke depan. Dapat dipakai cunam Nortman atau wire loop. Bila tidak ada alat yang sesuai sebaiknya dirujuk ke rumah sakit atau ahli THT.

 

Untuk lintah, diteteskan dulu air tembakau agar terlepas dari mukosa hidung atau nasofaring, kemudian dijepit dengan pinset dan tarik ke luar.

 

Pemberian antibiotik sistemik selama 5-7 hari hanya bila ada infeksi hidung dan sinus.

 

Tidak dianjurkan mendorong ke arah nasofaring dengan tujuan agar masuk ke mulut, karena dapat terus masuk ke laring dan saluran napas bawah, sehingga timbul sesak napas dan kegawatan.

 

Komplikasi

Usaha mengeluarkan dengan alat yang tidak sesuai dapat mendorong benda asing ke belakang dan jika masuk ke saluran napas akan membahayakan.

 

 

 

 

 

 

Trauma Maksila

Manifestasi Klinis

Trauma yang paling serius melibatkan wajah dan mempunyai gejala khas berupa perubahan letak palatum, deformitas atau mobilitas hidung, epistaksis, atau perubahan/ deformitas sepertiga tengah muka.

Digunakan klasifikasi Le Fort untuk membantu diagnosis dan penatalaksanaannya:

Le Fort I : Trauma terbatas pada alveolus kiri, kanan, atau bilateral.

Le Fort II : Trauma piramid os maksila, hidung, zigoma; terjadi pemisahan bagian tengah muka dengan tulang kranium.

Le Fort IlI : Trauma mengenai tulang maksila, hidung, zigoma, orbita; terjadi pemisahan seluruh tulang muka dengan basis kranii.

 

Pada tempat trauma ditemukan edema, hematoma, laserasi, luka robek, epistaksis, perdarahan dari mulut, telinga, deformitas, paresis nervus fasialis, muka/pipi lebih mendatar, serta maloklusi. Pada perabaan ada rasa nyeri, krepitasi, diskontinuitas, pergeseran struktur tulang, dan kerangka tulang yang mudah digerakkan.

 

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan radiologi dalam posisi lateral dan Waters untuk melihat garis struktur dan posisi tulang-tulang maksila. Pemeriksaan tomografi komputer tiga dimensi untuk melihat posisi fragmen fraktur tulang serta perencanaan rekonstruksi.

 

Penatalaksanaan

Perhatikan kesadaran pasien secara teliti dan dipertahankan sampai stabil. Semua laserasi jaringan lunak dieksplorasi apakah ada fraktur atau kelanjutan trauma ke organ lain. Benda asing dikeluarkan dan dilakukan debridemen. Tulang yang fraktur direposisi dan difiksasi.

 

 

Trauma Hidung

Trauma Hidung

Berdasarkan waktu, trauma hidung terbagi atas trauma baru, di mana kalus belum terbentuk sempurna, dan trauma lama, bila kalus sudah mengeras (biasanya pada akhir minggu kedua setelah trauma).

 

Berdasarkan hubungan dengan dunia luar, disebut trauma terbuka bila kulit hidung terluka dan terdapat hubungan dengan dunia luar, dan trauma tertutup bila kulit di tempat trauma utuh.

 

Arah trauma harus diperhatikan karena akan menyebabkan kelainan yang berbeda. Dari lateral, bila ringan akan terjadi fraktur tulang hidung ipsilateral, sedangkan bila cukup keras akan menyebabkan deviasi septum nasi dan fraktur tulang hidung kontralateral. Dari frontal, dapat terjadi open book fracture dan fraktur serta terlipatnya septum nasi. Dari inferior, dapat timbul fraktur dan dislokasi septum nasi. Berdasarkan lokasi, terbagi atas dorsum nasi atau frontal etmoid.

 

Manifestasi Klinis

Dilakukan pemeriksaan kulit serta struktur hidung dan kavum nasi untuk mengungkapkan adanya deformitas, deviasi, ataupun kelainan bentuk. Pada tempat trauma akan tampak edema, ekimosis, hematom, laserasi, luka robek, atau perdarahan berupa bekuan darah ataupun hematom septum nasi. Pada palpasi fraktur terdapat krepitasi, deformitas, angulasi, dan nyeri.

 

Pemeriksaan Penunjang

Dilakukan pemeriksaaan radiologi posisi anteroposterior dan lateral, namun tidak semua garis fraktur dapat terlihat.

 

Komplikasi

Komplikasi segera yang bersifat sementara yaitu, edema, ekimosis, epistaksis, dan hematom.

 

Komplikasi lambat yang dapat terjadi adalah infeksi, obstruksi hidung, jaringan parut dan fibrosis, deformitas sekunder, sinekia, hidung pelana, obstruksi duktus nasolakrimalis, dan perforasi septum.

 

Penatalaksanaan

Sebagai tindakan penyelamat, mula-mula jalan napas harus dibebaskan dari semua sumbatan, kalau perlu intubasi atau trakeostomi. Bila syok, segera atasi dengan infus. Perdarahan harus segera ditanggulangi. Untuk mempertahankan fungsi hidung dan mencegah komplikasi, dilakukan reposisi hidung dengan anestesi lokal atau umum.

 

Prinsipnya reposisi dilakukan segera bila keadaan umum memungkinkan. Pada trauma hidung terbuka, perlu dilakukan eksplorasi di tempat luka. Fragmen tulang yang fraktur disusun kembali dan dilakukan fiksasi dengan kawat.

 

Pada kasus trauma frontoetmoid, walaupun tertutup, dilakukan eksplorasi supaya dapat menyusun kembali fragrnen tulang yang fraktur, kemudian dilakukan fiksasi antar tulang. Kasus ini sering disertai fraktur dasar orbita, sehingga terdapat diplopia.

 

Pada trauma hidung tertutup, dengan adanya edema dan hematoma yang luas, kadang diagnosis fraktur dan posisi fragmen tulang sulit ditegakkan. Sebaiknya ditunggu sampai akhir minggu pertama sehingga deformitas akan lebih jelas terlihat. Kemudian reposisi dilakukan secara tertutup, dalam waktu tidak lebih dari 2 minggu karena jika kalus sudah mengeras akan sukar direposisi. Reposisi septum dilakukan dengan cunam Ashe, untuk menggeser septum yang fraktur atau dislokasi ke garis median. Untuk melakukan reposisi prosesus frontalis os maksila dan os nasal dipakai cunam Walsham. Setelah yakin bentuknya baik dan berada di median, dilakukan fiksasi di dalam rongga hidung memakai tampon dan di atas hidung dipasang gips. Pada fraktur lama di mana kalus sudah mengeras, perlu dilakukan osteotomi dan dirujuk ke ahli THT.

 

Meskipun kelainan hidung ringan saja namun mudah terlihat, sehingga hal ini akan mempengaruhi keadaan psikis pasien. Untuk tujuan estetis, perlu dilakukan operasi untuk psikoterapi.

 

 

Polip Hidung

Definisi

Polip hidung adalah massa lunak, berwarna putih atau keabu-abuan yang terdapat dalam rongga hidung. Paling sering berasal dari sinus etmoid, multipel, dan bilateral. Biasanya pada orang dewasa. Pada anak mungkin merupakan gejala kistik fibrosis.

 

Polip koana adalah polip hidung yang berasal dari sinus maksila yang keluar melalui rongga hidung dan membesar di koana dan nasofaring.

 

Etiologi

Terjadi akibat reaksi hipersensitif atau reaksi alergi pada mukosa hidung.

 

Faktor Predisposisi

Alergi, sinusitis kronik, iritasi, sumbatan hidung oleh kelainan anatomi seperti deviasi sep­tum dan hipertrofi konka.

 

Patofisiologi

Mukosa hidung membengkak, terisi banyak cairan interselular dan sel radang, kemudian terdorong ke dalam rongga hidung oleh gaya berat.

 

Manifestasi Klinis

Sumbatan hidung yang menetap dan senakin lama semakin berat dan rinorea. Dapat terjadi hiposmia atau anosmia. Bila menyumbat ostium, dapat terjadi sinusitis dengan ingus purulen. Karena disebabkan alergi, gejala utama adalah bersin dan iritasi di hidung.

 

Pada pemeriksaan klinis tampak massa putih keabu-abuan atau kuning kemerahan dalam kavum nasi. Polip bertangkai sehingga mudah digerakkan, konsistensinya lunak, tidak nyeri bila ditekan, tidak mudah berdarah, dan tidak mengecil pada pemakaian vasokonstriktor.

 

Diagnosis Banding

Konka polipoid.

 

Penatalaksanaan

Bila polip masih kecil, dapat diobati secara konservatif dengan kortikosteroid sistemik atau oral, misalnya prednison 50 mg/hari atau deksametason selama 10 hari kemudian diturunkan perlahan. Secara lokal dapat disuntikkan ke dalam polip, misalnya triamsinolon asetonid atau prednisolon 0,5 ml tiap 5-7 hari sekali sampai hilang. Dapat dipakai secara topikal sebagai semprot hidung, misalnya beklometason dipropionat. Bila sudah besar, dilakukan ekstraksi polip dengan senar. Bila berulang-ulang dapat dirujuk untuk operasi etmoidektomi intranasal atau ekstranasal.

 

Pengobatan juga perlu ditujukan pada penyebabnya, dengan menghindari alergen penyebab.

 

Prognosis

Cenderung berulang.

 

 

Deviasi Septum

Definisi

Septum nasi yang tidak terletak lurus di tengah rongga hidung. Bila cukup berat, menyebabkan penyempitan pada satu sisi hidung sehingga fungsi hidung terganggu.

 

Etiologi

Trauma atau ketidakseimbangan pertumbuhan.

 

Manifestasi Klinis

Keluhan tersering adalah sumbatan hidung yang menetap, bisa unilateral atau bilateral, dan bertambah berat bila terserang flu atau rinitis. Pada sisi deviasi terdapat konka hipotrofi, sedangkan sebelahnya terjadi konka hipertrofi akibat kompensasi. Nyeri kepala dan sekitar mata, epistaksis, serta gangguan penciuman. Bila menyumbat ostium sinus, dapat terjadi sinusitis.

 

Pada pemeriksaan terlihat rongga hidung tidak sama besarnya antara kanan dan kiri. Dapat ditemukan deviasi berbentuk C atau S, dislokasi, penonjolan tulang atau rawan septum berbentuk krista atau spina, atau perlekatan (sinekia).

 

Penatalaksanaan

Bila tanpa gejala atau keluhan sangat ringan, tidak perlu dikoreksi. Jika keluhannya nyata dapat dirujuk untuk dilakukan reseksi submukosa atau septoplasti (reposisi septum).

 

 

Hipertrofi Adenoid

Definisi
Hipertrofi adenoid adalah pembesaran jaringan limfoid pada dinding posterior nasofaring dan termasuk dalam cincin Waldeyer. Seharusnya kelenjar ini mengalami resolusi spontan sehingga menghilang pada usia 18-20 tahun.

 

Manifestasi Klinis

Akibat dari hipertrofi akan timbul sumbatan koana, sumbatan tuba Eustachius, serta gejala umum. Akibat sumbatan koana, pasien akan bernapas melalui mulut, sehingga terjadi fasies adenoid (hidung kecil, gigi insisivus ke depan, arkus faring tinggi, dan pasien tampak seperti orang bodoh), faringitis, bronkitis, gangguan ventilasi dan drainase sinus paranasal sehingga terjadi sinusitis kronik.

 

Akibat sumbatan tuba Eutachius, terjadi otitis media akut residif, otitis media kronik, dan ketulian. Gejala urnum yang terjadi adalah obstruksi saluran napas atas, gangguan tidur, tidur ngorok, retardasi mental, dan pertumbuhan fisik kurang.

 

Pada rinoskopi anterior terlihat tertahannya gerak velum palatum mole pada waktu fonasi. Dapat dilakukan pemeriksaan foto tengkorak lateral. Pada anak sukar dilakukan rinoskopi posterior, sehingga dapat dikerjakan pemeriksaan digital berupa perabaan daerah nasofaring dengan jari. Akibat pemeriksaan mungkin anak akan muntah.

 

Komplikasi

Kor pulmonal.

 

Penatalaksanaan

Terapi bedah berupa adenoidektomi dengan cara kuretase memakai adenotom. Komplikasinya adalah perdarahan dan tuli konduktif, atau perdarahan bila kuretase kurang bersih.

 

Indikasi adenoidektomi :

o Obstruksi saluran napas atas dengan akibat gangguan tidur, kor pulmonal, atau sindrom apnea tidur.

o Nasofaringitis purulen kronik meski telah diobati adekuat.

o Adenoiditis kronik atau hipertrofi adenoid dengan efusi telinga tengah yang menetap atau aktif.

o Otitis media supuratif akut rekurens yang tidak bereaksi dengan antibiotik profilaksis.

o Kasus-kasus tertentu dari otitis media supuratif kronik pada anak-anak dengan hipertrofi adenoid.

o Kecurigaan adanya keganasan nasofaring.

 

 

Angiofibroma Nasofaring Belia

Definisi

Angiofibroma nasofaring adalah suatu tumor jinak nasofaring yang secara histologik jinak, secara klinis bersifat ganas karena mempunyai kemampuan mendestruksi tulang dan meluas ke jaringan sekitarnya, serta sangat mudah berdarah dan sulit dihentikan. Jarang ditemukan dan diperkirakan hanya 0,05% dari tumor leher dan kepala.

 

Etiologi

Belum jelas. Ada dua teori yaitu teori jaringan asal dan teori ketidakseimbangan hor­monal.

 

Manifestasi Klinis

Gejala yang sering ditemukan adalah sumbatan hidung yang progresif dan epistaksis berulang yang masif. Timbul rinorea kronik diikuti gangguan penciuman, rinolalia, dan anosmia. Tuli atau otalgia akibat okulasi pada tuba Eustachius, dan dapat terjadi otitis media. Sefalgia hebat terjadi bila tumor sudah meluas ke intrakranial. Dapat pula menyebabkan deformitas pada muka, disfagi, proptosis, dan gangguan visus.

 

Pada rinoskopi posterior terlihat massa tumor dengan konsistensi kenyal, warna bervariasi dari abu-abu sampai merah muda.

 

Pemeriksaan Penunjang

Dilakukan pemeriksaan radiologi konvensional (foto kepala potongan antero-posterior, lateral, dan posisi Waters), tomografi komputer, dan pemeriksaan arteriografi. Gambaran khasnya adalah tanda Holman Miller, yaitu pendorongan prosesus pterigoideus ke belakang, sehingga fisura pterigopalatina melebar. Arteriografi untuk metihat vaskularisasi tumor biasanya dilakukan sekaligus dengan embolisasi praoperasi.

 

Biopsi merupakan kontraindikasi sebab akan menyebabkan perdarahan masif.

 

Derajat perluasan tumor :

Stadium I Tumor di nasofaring

Stadium II Tumor meluas ke rongga hidung dan atau ke sinus sfenoid.

Stadium III Tumor meluas ke salah satu atau lebih dari sinus maksila dan etmoid, fossa pterigomaksila dan infratemporal, rongga mata dan atau pipi.

Stadium IV Tumor meluas ke rongga intrakranial.

 

Penatalaksanaan

Perbaiki keadaan umum, misalnya melalui transfusi atau pemasangan tampon hidung. Operasi adalah pilihan utama, selain radioterapi dan terapi hormonal yang hasilnya masih kontroversial. Pendekatan operasi dilakukan sesuai lokasi tumor dan perluasannya.

 

 

Karsinoma Nasofaring

Definisi
Karsinoma nasofaring adalah tumor ganas yang tumbuh di daerah nasofaring dengan predileksi di fosa Rossenmuller dan atap nasofaring. Merupakan tumor daerah kepala dan leher yang terbanyak ditemukan di Indonesia. Diagnosis dini cukup sulit karena letaknya yang tersembunyi dan berhubungan dengan banyak daerah vital.

 

Etiologi

Sudah hampir dipastikan disebabkan oleh virus Epstein Barr. Faktor ras, letak geografis, jenis kelamin (laki-laki), faktor lingkungan (iritasi bahan kimia, kebiasaan memasak dengan bahan/bumbu masakan tertentu, asap sejenis kayu tertentu), dan faktor genetik juga mempengaruhi.

 

Manifestasi Klinis

Gejala dibagi dalam 4 kelompok.

1. Gejala nasofaring sendiri, berupa epistaksis ringan, pilek, atau sumbatan hidung.

2. Gejala telinga, berupa tinitus, rasa tidak nyaman sampai nyeri di telinga.

3. Gejala saraf, berupa gangguan saraf otak, seperti diplopia, parestesia daerah pipi, neuralgia trigeminal, paresis/paralisis arkus faring, kelumpuhan otot bahu, dan sering tersedak.

4. Gejala atau metastasis di leher, berupa benjolan di leher.

 

Komplikasi

Metastasis jauh ke tulang, hati, dan paru dengan gejala khas nyeri pada tulang, batuk-­batuk, dan gangguan fungsi hati.

 

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan foto tengkorak potongan anteroposterior, lateral, dan Waters menunjukkan massa jaringan lunak di daerah nasofaring. Foto dasar tengkorak memperlihatkan destruksi atau erosi tulang di daerah fosa serebri media. Dapat pula dilakukan tomografi komputer daerah kepala dan leher serta pemeriksaan serologi IgA anti EA dan IgA anti VCA.

 

Diagnosis pasti dilakukan dengan biopsi dari hidung atau mulut. Pemeriksaan darah tepi, fungsi hati, ginjal, dan lain-lain dilakukan untuk mendeteksi metastasis.

 

Penatalaksanaan

Pengobatan utama adalah radioterapi. Sebagai tambahan dapat dilakukan diseksi leher, pemberian tetrasiklin, faktor transfer, interferon, kemoterapi, seroterapi, vaksin, dan anti virus. Sebagai terapi ajuvan terbaik adalah kemoterapi dengan kombinasi Sis-platinum sebagai inti. Diseksi leher radikal dilakukan bila benjolan di leher tidak menghilang dengan radiasi atau timbul kembali, dengan syarat tumor induknya sudah hilang.

 

Perawatan Paliatif

Rasa kering di mulut dapat terjadi sampai berbulan-bulan pascaradiasi akibat kerusakan kelenjar liur. Disarankan untuk makan banyak kuah, membawa minuman ke mana pun pergi, serta mencoba memakan dan mengunyah bahan asam sehingga merangsang keluarnya air liur. Dapat juga terjadi mukositis rongga mulut karena jamur, rasa kaku di leher karena fibrosis, sakit kepala, kehilangan nafsu makan, muntah, atau mual.

 

Pascapengobatan dapat pula timbul metastasis jauh pascapengobatan ke tulang, paru, hati, dan otak.

 

Pada keadaan tumor residif tidak banyak tindakan medis yang dapat dilakukan selain simtomatis untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.

 

Pencegahan

Dapat dilakukan vaksinasi (masih dalam percobaan), migrasi penduduk, mengubah kebiasaan hidup yang salah, dan berbagai hal yang berkaitan dengan kemungkinan faktor penyebab.

 

 

Tumor Sinus Ganas

Tumor Sinus Ganas yang sering ditemukan adalah karsinoma sel skuamosa, kemudian karsinoma anaplastik dan tumor yang berasal dari kelenjar. Lokasi tersering adalah sinus maksila, sinus etmoid, dan hidung. Tumor ganas di daerah ini relatif jarang bermetastasis ke kelenjar leher atau melalui darah.

 

Etiologi

Penyebabnya sampai saat ini belum diketahui. Rokok diduga berhubungan dengan timbulnya penyakit ini. Faktor-faktor yang diduga sebagai penyebab:

o Infeksi kronik hidung dan sinus paranasal

o Kontak dengan debu kayu pada pekerja mebel

o Kontak dengan bahan industri, seperti nikel, krom, gas mustard, dan isopropanolol

o Thorium dioksida yang dipakai sebagai cairan kontras pada pemeriksaan rontgen sinus maksila.

 

Manifestasi Klinis

Gejala tergantung asal tumor primer serta arah dan luas penyebaran tumor. Tumor jinak dan gejala dini tumor ganas dapat menyerupai rinitis dan sinusitis kronik.

 

Gejala dini menyerupai rinosinusitis kronik. Di dalam rongga hidung tumor menyebabkan gejala hidung, tersumbat dan epistaksis. Terdapat rinorea unilateral yang menetap. Bila sangat besar, tulang hidung akan terdesak sehingga bentuk hidung berubah. Bila meluas ke sinus etmoid atau lamina kribrosa, menimbulkan nyeri daerah frontal. Bila meluas ke orbita, menyebabkan proptosis, nyeri orbita, dan diplopia, mungkin teraba massa di orbita. Tumor yang meluas ke nasofaring dapat menyebabkan tuli konduktif akibat gangguan tuba Eustachius.

 

Di dalam sinus maksila, tumor biasanya tidak bergejala sampai meluas ke organ lain. Dapat menyebabkan rasa nyeri pada gigi atas, gigi goyah, gangguan oklusi atau pembengkakan dan laserasi di daerah palatum. Tumor ganas sinus maksila umumnya membuat deformitas dan asimetri pipi kanan dan kiri serta nyeri. Gejala pada hidung berupa sumbatan, epistaksis ringan, dan sekret hidung kental pada tumor jinak, sedangkan pada tumor ganas diikuti ingus berbau dan rasa nyeri. Gejala pada rongga mulut berupa nyeri gigi, gusi, gigi goyah, dan sebagainya. Gejala mata jarang terjadi.

 

Pada tumor di sinus etmoid, gejala mata adalah muncul setelah gejala hidung. Hanya sedikit terjadi deformitas muka. Tumor sinus frontal cenderung hanya memberikan gejala pada mata saja, sedangkan pada sinus sfenoid, umumnya memberikan gejala neurologik.

 

Dicari adanya massa di kavum nasi dan apakah dinding lateralnya terdorong ke me­dial. Perhatikan asimetri atau gigi goyah dan dengan palpasi cari nyeri tekan gigi rahang atas dan palatum. Dari rinoskopi posterior dilihat apakah ada massa di koana dan nasofaring. Obstruksi tuba Eustachius dicari. Periksa daerah pipi dan sulkus gingivobukal, apakah ada massa atau gangguan nervus infraorbitalis.

 

Kemungkinan kelainan saraf otak dan pembesaran kelenjar leher dicari.

 
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan foto sinus paranasal dan paru untuk melihat adanya metastasis. Dilakukan foto polos dengan posisi Caldwell, Waters, lateral, dan submentovertikal. Dicari gambaran perselubungan sinus, massa jaringan lunak, sklerosis dinding sinus, dan destruksi tulang. Dengan tomogram dapat terlihat jelas perluasan tumor dan destruksi tulang. Tomografi komputer dapat menunjukkan perluasan kejaringan lunak dan intrakranial.

 

Biopsi untuk diagnosis pasti dapat dilakukan melalui sinoskopi.

 

Penatalaksanaan

Pada tumor jinak dilakukan ekstirpasi sebersih mungkin. Pada tumor ganas terapi merupakan kombinasi operasi, radioterapi (sesudah atau sebelum operasi) dan kemoterapi. Kadang-kadang setelah operasi diperlukan rekonstruksi dengan protese (bedah plastik) dan rehabilitasi.