Category Archives: Telinga

Tumor Telinga

Tumor telingan paling banyak ditemukan di daun telinga dengan jenis karsinoma sel skuamosa.

 

Etiologi

Diduga akibat radiasi sinar ultraviolet matahari atau iritasi kronik.

 

Manifestasi Klinis

Nodul yang melekat erat dengan erosi pada permukaan tumor dan pembentukan ulkus ditutupi krusta super isial yang keras dengan pinggir yang tidak rata. Rasa nyeri telinga tidak terlalu hebat, kecuali bila telah mengenai tulang rawan di bawahnya.

 

Pada liang telinga atau telinga tengah tampak bersamaan infeksi kronik telinga. Permukaan merah, kadang tampak sebagai jaringan granulasi atau polip. Nyeri telinga sangat hebat bila membuka mulut, mengunyah, dan menguap. Kelenjar limfe retroaurikular dan preaurikular membesar.

 

Pemeriksaan Penunjang

Tomografi komputer untuk menunjukkan perluasan tumor. Biopsi jaringan atau jarum halus untuk mengetahui diagnosis pasti.

 

Komplikasi

Penyebaran ke organ vital sekitarnya.

 

Penatalaksanaan

Operasi dengan eksisi luas, bila perlu diseksi leher radikal. Radiasi pascaoperasi sebanyak 6.000 rad. Kemoterapi dengan obat kombinasi metotreksat, sisplatin, dan 5-fluorourasil

 

Perikondritis

Definisi

Perikondritis adalah radang pada tulang rawan daun telinga yang terjadi akibat trauma; pascaoperasi telinga; serta sebagai komplikasi hematoma daun telinga, otitis eksterna kronik, otitis media kronik, dan pseudokista.

 

Patofisiologi

Akibat peradangan, terjadi efusi serum dan pus ke dalam lapisan perikondrium dan tulang rawan dari telinga luar.

 

Manifestasi Klinis

Tampak dauri telinga membengkak, merah, panas, dirasakan nyeri, dan nyeri tekan. Pembengkakan ini dapat menjalar ke bagian belakang daun telinga, sehingga sangat menonjol. Terdapat demam, pembesaran kelenjar limfe regional, dan leukositosis. Se­rum yang terkumpul di lapisan subperikondrial menjadi purulen, sehingga terdapat fluktuasi difus atau terlokalisasi.

 

Penatalaksanaan

Pengobatan dengan antibiotik sering gagal karena kuman yang dituju, Pseudomonas aeruginosa, sering resisten terhadap sebagian besar antibiotik. Yang paling efektif adalah tobramisin diberikan bersama-sama tikarsilin secara sistemik, selama 2 minggu, dengan memantau fungsi ginjal. Antibiotik diberikan secara parenterai atau topikal. Sebaiknya dilakukan kultur sebelumnya.

Pada daun telinga diberikan kompres panas. Bila terdapat fluktuasi, dilakukan insisi secara steril dan diberi perban tekan selama 48 jam seperti pada hematoma daun telinga.

 

Komplikasi

Tulang rawan hancur dan menciut serta keriput, disebut telinga lisut (caulifower), sehingga perlu dilakukan rekonstruksi.

 

 

Penyakit Meniere

Definisi

Penyakit Meniere adalah suatu kelainan labirin yang etiologinya belum diketahui, dan mempunyai trias gejala yang khas, yaitu gangguan pendengaran, tinitus, dan serangan vertigo. Terutama terjadi pada wanita dewasa.

 

Etiologi

Diduga merupakan fenomena imunologi.

 

Patofisiologi

Hidrops (pembengkakan) endolimf akibat penyerapan endolimf dalam skala media oleh stria vaskularis terhambat.

 

Diagnosis Banding

Tumor nervus akustikus, sklerosis multipel, dan neuritis vestibular.

 

Manifestasi Klinis

Vertigo disertai muntah yang berlangsung antara 15 menit sampai beberapa jam dan berangsur membaik. Disertai pengurangan pendengaran, tinitus yang kadang menetap, dan rasa penuh di dalam telinga. Serangan pertama hebat sekali, dapat disertai gejala vegetatif. Serangan lanjutan lebih ringan meskipun frekuensinya bertambah. Mula-mula nada rendah akhirnya juga nada tinggi. Biasanya unilateral, kemudian mengenai telinga sebelahnya. Pada pemeriksaan telinga tidak ditemukan kelainan.

 

Tes penala: kesan tuli sensorineural.

 

Pemeriksaan Penunjang

o Tes gliserin: pasien diberikan minum gliserin 1,2 ml/kg BB setelah diperiksa tes kalori dan audiogram. Setelah 2 jam diperiksa kembali dan dibandingkan. Perbedaan bermakna menunjukkan adanya hidrops endolimf.

o Audiogram: tuli sensorineural, terutama nada rendah dan selanjutnya dapat ditemukan rekrutmen.

 

Penatalaksanaan

Pasien harus dirawat di rumah sakit, berbaring dalam posisi yang meringankan keluhan. Diberikan diet rendah garam dan pemberian diuretik ringan.

 

Obat-obat simtomatik antivertigo seperti dimenhidrinat 3 x 50 mg atau prometazin 3 x 25 mg, obat vasodilator perifer seperti papaverin dan betahistin, atau operasi shunt. Dapat pula diberikan obat antiiskemia dan neurotonik. Adaptasi dengan latihan dan fisioterapi.

 

 

Kelumpuhan Nervus Fasialis Perifer

Definisi

Kelumpuhan nervus fasialis (N. VII) adalah kelumpuhan otot-otot wajah, sehingga wajah pasien tampak tidak simetris pada waktu berbicara dan berekspresi. Hanya merupakan gejala sehingga harus dicari penyebab dan derajat kelumpuhannya untuk menentukan terapi dan prognosis.

 

Etiologi

Kongenital, infeksi (infeksi telinga tengah, infeksi intrakranial), tumor (tumor intrakranial atau ekstrakranial), trauma kepala, gangguan pembuluh darah (trombosis arteri karotis, arteri maksilaris, dan arteri serebri media), dan idiopatik (Bell’s palsy).

 

Diagnosis Banding

Penyakit kongenital (sindrom Mobius), infeksi (sindrom Ramsay-Hunt, herpes zoster oticus), trauma tulang temporal, lesi vaskular (aneurisma, trombosis), neoplasma (neuroma akustik, meningioma), dan idiopatik.

 

Manifestasi Klinis

Berdasarkan topografi letak lesi :

o Gejala kelumpuhan intratemporal tergantung dari letak lesi, dapat ditemukan kelumpuhan otot-otot wajah/muka, lagoftalmus, ada/tidaknya air mata pada sisi lesi, gangguan pengecap, hiperakusis, gejala neurologis pada lesi nuklear.

o Gejala kelumpuhan ekstratemporal biasanya karena gangguan pada kelenjar parotis, seperti trauma, radang, dan tumor.

 

Pemeriksaan Penunjang

Tujuannya menentukan letak lesi dan menentukan derajat kelumpuhannya, apakah harus dirujuk ke rumah sakit. Dilakukan pemeriksaan fungsi motor, pemeriksaan gustometer, tes Schirmer (meletakkan kertas lakmus pada bagian inferior konjungtiva dan dihitung banyaknya sekresi kelenjar lakrimalis), pemeriksaan eksitabilitas saraf kiri dan kanan, pemeriksaan refleks stapedius, audivestibular, radiologi, dan elektromiografi.

 

Penatalaksanaan

Bila gangguan hantaran ringan dan fungsi motor masih baik, terapi ditujukan untuk menghilangkan edema saraf dengan memakai obat-obatan anti edema/kortikosteroid, vasodilator, dan neurotonik serta fisioterapi.

 

Bila gangguan hantaran berat atau sudah terjadi denervasi total, harus segera dilakukan tindakan operatif dengan teknik dekompresi N. VII transmastoid.

 

 

Benda Asing di Liang Telinga

Manifestasi Klinis

Rasa tidak enak di telinga, tersumbat, dan pendengaran terganggu. Rasa nyeri akan timbul bila benda asing tersebut adalah serangga yang masuk dan bergerak serta melukai dinding liang telinga. Pada inspeksi telinga dengan atau tanpa corong telinga akan tampak benda asing tersebut.

 

Penatalaksanaan

Usaha pengeluaran harus dilakukan dengan hati-hati. Biasanya dijepit dengan pinset dan ditarik ke luar. Bila pasien tidak kooperatif dan berisiko merusak gendang telinga atau struktur telinga tengah, maka sebaiknya dilakukan anestesia umum. Anak harus dipegang hingga kepala tidak dapat bergerak. Binatang di liang telinga harus dimatikan lebih dulu dengan meneteskan pantokain, silokain, minyak, atau alkohol sebelum dikeluarkan. Biasanya cukup dengan memasukkan tampon basah ke liang telinga lalu meneteskan cairan, misalnya larutan rivanol di telinga lebih kurang 10 menit, kemudian diirigasi dengan air bersih untuk mengeluarkannya, atau dengan pinset atau kapas.

 

Benda asing yang besar ditarik dengan pengait serumen, sedangkan yang kecil diambil dengan cunam atau pengait.

 

Bila fasilitas tidak tersedia, dirujuk ke ahli THT karena dapat terjadi trauma membran timpani dan benda asing terdorong masuk dalam kavum timpani.

 

 

Sumbatan Serumen

Definisi

Sumbatan serumen adalah gangguan pendengaran yang timbul akibat penumpukan serumen di liang telinga dan menyebabkan rasa tertekan yang mengganggu.

 

Faktor Predisposisi

Dermatitis kronik liang telinga luar, liang telinga sempit, produksi serumen banyak dan kental, adanya benda asing di liang telinga, eksostosis di liang telinga, terdorongnya serumen oleh jari tangan atau ujung handuk setelah mandi, atau kebiasaan mengorek telinga.

 

Manifestasi Klinis

Telinga tersumbat sehingga pendengaran berkurang, Rasa nyeri apabila serumen keras membatu dan menekan dinding liang telinga. Tinitus dan vertigo bila serumen menekan membran timpani.

 

Penatalaksanaan

Pengeluaran serumen harus dilakukan dalam keadaan terlihat jelas. Bila serumen cair, maka dibersihkan dengan mempergunakan kapas yang dililitkan pada pelilit kapas. Serumen yang keras dikeluarkan dengan pengait, sedangkan bila sukar dapat diberikan tetes telinga karbogliserin 10% dulu selama 3 hari untuk melunakkannya. Bila serumen terlalu dalam, sehingga mendekati membran timpani, dilakukan irigasi telinga dengan air yang suhunya sesuai dengan suhu tubuh agar tidak timbul vertigo. Jika terdapat perforasi atau riwayat perforasi, tidak boleh diirigasi.

 

 

Tuli Akibat Bising

Definisi

Tuli akibat bising adalah tuli yang disebabkan paparan oleh bising yang cukup keras dalam jangka waktu cukup lama, biasanya diakibatkan oleh bising lingkungan kerja. Sifatnya tuli saraf koklea dan umumnya terjadi pada kedua telinga.

 

Patofisiologi

Bising dengan intensitas 85 dB atau lebih dapat mengakibatkan kerusakan pada reseptor pendengaran Corti di telinga dalam; terutama yang berfrekuensi 3.000-6.000 Hz.

 

Faktor Predisposisi

Intensitas bising yang lebih tinggi, frekuensi tinggi, lama terpapar di lingkungan bising (biasanya lebih dari 5 tahun), mendapat obat ototoksik, dan lain-lain.

 

Manifestasi Klinis

Kurang pendengaran, kadang tinitus, sukar menangkap percakapan dengan kekerasan biasa, bila sudah berat maka yang keras pun sukar dimengerti, pasien mengalami kesulitan mendengarkan dan memahami percakapan di tempat ramai (cocktail party deafness). Pemeriksaan otoskop tidak menunjukkan kelainan.

 

Tes penala: Rinne positif, Weber lateralisasi ke telinga yang pendengarannya lebih baik, dan Schwabach memendek.

 

Pemeriksaan Penunjang

Pada pemeriksaan audiometri nada murni terdapat kesan tuli sensorineural sedangkan pada pemeriksaan audiologi khusus terdapat fenomena rekrutmen yang patognomonik untuk tuli saraf koklea.

 

Penatalaksanaan

Pasien dianjurkan pindah bekerja atau memakai alat pelindung telinga. Karena bersifat menetap, dapat dicoba pemasangan alat bantu dengar. Psikoterapi untuk menerima keadaan. Latihan pendengaran dengan alat bantu dengar dibantu dengan membaca ucapan bibir, mimik, dan gerakan anggota badan, serta bahasa isyarat. Juga rehabilitasi suara. Bila terjadi tuli total bilateral dipertimbangkan untuk pemasangan implan koklea.

 

Prognosis

Kurang baik karena menetap dan tidak dapat diobati. Yang terpenting adalah pencegahan.

 

 

Tuli Mendadak

Definisi

Tuli mendadak adalah tuli yang terjadi secara tiba-tiba dan kedaruratan di bidang onkologi. Jenisnya adalah sensorineural, penyebabnya tidak dapat langsung diketahui, dari biasanya terjadi pada satu telinga. Merupakan kedaruratan di bidang otologi.

 

Etiologi

Iskemia koklea, infeksi virus (parotitis, campak, varicella zoster, Cytomegalovirus, dll), trauma kepala, trauma bising keras, perubahan tekanan atmosfir, obat ototoksik, penyakit Meniere, dan neuroma akustik.

 

Manifestasi Klinis

Tuli timbul mendadak atau menahun secara tidak jelas, kadang sementara atau berulang dalam serangan, tapi biasanya menetap. Tuli dapat unilateral atau bilateral, dapat disertai tinitus dan vertigo. Pada infeksi virus timbul mendadak dan biasanya pada satu telinga. Bila sementara dan tidak berat mungkin disebabkan spasme.

 

Pada pemeriksaan klinis tidak dijumpai kelainan telinga.

 

Tes Penala: Rinne positif, Weber lateralisasi ke telinga yang sehat, Schwabach memendek. Kesan tuli sensorineural.

 

Pemeriksaan Penunjang

Audiometri nada murni menunjukkan tuli sensorineural ringan sampai berat. Pemeriksaan audiometri tutur memberi hasil tuli sensorine.ural sedangkan pada audiometri impedans terdapat kesan tuli sensorineural koklea. Mungkin terdapat paresis kanal pada tes keseimbangan elektronistagmus. Foto tulang temporal proyeksi Stenvers atau tomografi komputer dibuat untuk mencari kemungkinan neuroma akustik. Pemeriksaan virologi dapat juga dilakukan.

 

Penatalaksanaan

o Tirah baring sempurna selama 2 minggu. Diperiksa apakah ada penyakit sistemik seperti diabetes melitus, kardiovaskular, dan sebagainya.

o Vasodilatansia yang cukup kuat, misalnya Complamin injeksi, 3 x 900 mg selama 4 hari, 3 x 600 mg selama 4 hari, dan 3 x 300 mg seiama 6 hari, disertai pemberian tablet Complamin 3 x 2 tablet peroral perhari.

o Prednison 4 x 10 mg, tapering off tiap 3 hari.

o Vitamin C forte 2 x 100 mg.

o Neurobion 3 x 1 tablet/hari.

o Diet rendah garam dan rendah kolesterol.

o Inhalasi oksigen 4 x 15 menit (2 liter/menit).

o Bila penyebabnya virus, diberikan obat antivirus.

o Evaluasi fungsi pendengaran dilakukan tiap minggu selama satu bulan.

o Bila tidak sembuh, pertimbangkan alat bantu dengar dan rehabilitasi pendengaran.

o Psikoterapi

o Pada pasien tuli total bilateral setelah usaha tersebut di atas tidak berhasil, dipertimbangkan pemasangan implan koklea.

o Bila terdapat kelainan darah atau penyumbatan pembuluh darah, dikonsulkan ke Bagian Penyakit Dalam.

o Bila diduga akibat neuroma akustik, dikonsulkan ke Bagian Bedah Saraf.

 

Prognosis

Penyembuhan dapat sebagian atau lengkap, tapi dapat juga tidak sembuh. Bila terapi dilakukan dalam 24 jam, makin besar kemungkinan sembuh. Bila lebih dari 2 minggu, kemungkinan sembuh menjadi kecil.

 

 

Presbikusis

Definisi

Presbikusis adalah tuli saraf sensorineural frekuensi tinggi, terjadi pada usia lanjut, simetris kiri dan kanan, disebabkan proses degenerasi di telinga dalam.

 

Etiologi

Terjadi akibat proses degenerasi yang berhubungan dengan faktor-faktor herediter, kebisingan lingkungan hidup dan kerja, penyakit sistemik, hipertensi, diabetes melitus, anemia, arteriosklerosis, infeksi, bising, gaya hidup, atau bersifat multifaktor. Biasanya terjadi pada usia lebih dari 60 tahun. Progresivitasnya dipengaruhi usia dan jenis kelamin.

 

Patofisiologi

Terjadi perubahan struktur koklea dan nervus akustik, berupa atrofi dan degenerasi sel­sel rambut penunjang pada organ Corti, disertai perubahan vaskular pada stria vaskularis. Jumlah dan ukuran sel-sel ganglion dan saraf juga berkurang.

 

Manifestasi Klinis

Pendengaran berkurang secara perlahan-lahan, progresif, dan simetris pada kedua telinga. Telinga berdenging. Pasien dapat mendengar suara percakapan tapi sulit memahaminya, terutama bila cepat dan latarnya riuh. Bila intensitas ditinggikan akan timbul rasa nyeri. Dapat disertai tinitus dan vertigo.

 

Pada pemeriksaan otoskop tampak membran timpani suram dan mobilitasnya berkurang.

 

Pemeriksaan Penunjang

Tes penala menunjukkan tuli sensorineural. Pemeriksaan audiometri nada murni menunjukkan tuli saraf nada tinggi, bilateral, dan simetris. Pemeriksaan audiometri tutur menunjukkan gangguan diskriminasi wicara.

 

Penatalaksanaan

Pemasangan alat bantu dengar dikombinasikan dengan latihan membaca ujaran dan latihan mendengar oleh ahli terapi wicara. Yang penting adalah pengertian dari orang sekitarnya untuk berbicara dengan pelan, jelas, dengan kata-kata yang pendek dan tidak keras.

 

 

Gangguan Pendengaran pada Bayi dan Anak

Definisi

Gangguan pendengaran pada bayi dan anak kadang disertai keterbelakangan mental, gangguan emosional, maupun afasia perkembangan. Dibedakan atas tuli sebagian atau tuli total, umumnya lebih dahulu diketahui sebagai keterlambatan bicara.

 

Etiologi

1. Masa prenatal

a. Genetik herediter

b. Nongenetik, seperti gangguan pada masa kehamilan (infeksi bakteri atau virus: TORCHS, campak, parotis), kelainan struktur anatomik (misalnya akibat obat-obat ototoksik, atresia liang telinga, aplasia koklea), dan kekurangan zat gizi.

2. Masa perinatal

Prematuritas, berat badan lahir rendah (< 2.500 gram), tindakan dengan alat pada proses kelahiran (ekstraksi vaktum, forsep), hiperbilirubinemia (> 20 mg/ 100 ml), asfiksia, dan anoksia otak merupakan faktor risiko terjadinya ketulian.

3. Masa postnatal

Adanya infeksi bakterial/viral seperti rubela, campak, parotis, infeksi otak, perdarahan pada telinga tengah, dan trauma temporal dapat menyebabkan tuli saraf atau tuli konduktif.

 

Ketulian yang terjadi akibat faktor prenatal dan perinatal biasanya adalah tuli saraf dengan derajat ketulian berat atau sangat berat dan bilateral. Deteksi dini relatif sulit karena membutuhkan waktu lama dan biaya besar. Skrining sebaiknya diprioritaskan pada anak-­anak dengan risiko tinggi. Joint Committee on Infant Hearing (1990) menetapkan pedoman risiko tinggi ketulian sebagai berikut :

1. Riwayat keluarga dengan gangguan pendengaran bawaan

2. Riwayat infeksi prenatal (TORCHS)

3. Kelainan anatomi telinga

4. Lahir prematur (< 37 minggu)

5. Berat badan rendah (< 1.500 gram)

6. Persalinan dengan tindakan

7. Hiperbilirubinemia (20 mg/dl atau lebih tinggi)

8. Asfiksia berat, nilai Apgar rendah (0-3).

 

Bayi dengan 3 macam faktor risiko di atas memiliki kecenderungan menderita ketulian 63 kali lebih besar daripada bayi normal.

 

Pemeriksaan pendengaran dilakukan pada usia sedini mungkin. Seorang anak harus diperiksa fungsi pendengarannya pada masa prasekolah agar dapat diketahui sebelum bersekolah. Secara normal seorang bayi telah siap berkomunikasi efektif pada usia 18 bulan, ini menjadi masa kritis untuk mengetahui adanya gangguan pendengaran. Dalam proses belajar bicara, masa paling penting adalah antara 2-3 tahun.

 
Pemeriksaan Penunjang
Terdapat berbagai jenis pemeriksaan, seperti free field test (menilai kemampuan anak dalam memberikan respons terhadap sumber bunyi tersebut), behavioral observation (0-6 bulan), conditioned test (2-4 tahun), audiometri nada murni (anak > 4 tahun yang kooperatif), dan BERA. Pemeriksaan BERA dapat memberikan informasi yang obyektif mengenai fungsi pendengaran bayi yang baru lahir.

 

Penatalaksanaan

Habilitasi harus dilakukan sedini mungkin. Anak dengan tuli saraf berat harus segera mulai memakai alat bantu dengar. Dilakukan pula penilaian tingkat kecerdasan oleh psikolog anak untuk dirujuk dalam pendidikannya.

 

Pemasangan implan koklea dilakukan pada keadaan tuli saraf berat bilateral atau tuli total bilateral (anak maupun dewasa) yang tidak mendapat manfaat dengan alat bantu dengar konvensional. Untuk anak dengan tuli saraf berat sejak lahir implan sebaiknya dipasang pada usia 2 tahun. Pascabedah dilakukan program rehabilitasi berupa latihan mendengar, terapi wicara, dan lain-lain selama kurang lebih 6 bulan. Juga dilakukan evaluasi pascabedah. Perangkat elektronik tersebut harus diperiksa dan dikalibrasi berkala (mapping) setiap 6 bulan untuk anak < 6 tahun dan setiap 12 bulan untuk anak yang berusia > 6 tahun.