Category Archives: Tenggorok

Tumor Ganas Esofagus

Definisi

Karsinoma sel skuamosa merupakan tumor ganas esofagus yang paling sering ditemukan.

 

Etiologi

Tidak diketahui, berhubungan dengan makanan yang mengandung zat karsinogenik seperti nitrosamin, alkohol, tembakau, dan makanan berjamur. Riwayat tertelan zat korosif, peradangan kronik esofagus, pasca radiasi daerah leher, dan kelainan esofagus.

 

Manifestasi Klinis

Gejala awal sering kurang diperhatikan pasien. Gejala digolongkan dalam gejala sumbatan, gejala penyebaran tumor ke mediastinum, dan gejala metastasis ke kelenjar limfe. Odinofagia, disfagia progresif, mula-mula hanya makanan padat kemudian diikuti kesulitan menelan cairan. Disfagia biasanya timbul bila lumen esofagus sudah terisi massa tumor lebih dari 50%. Regurgitasi disertai bercak merah segar, dan penurunan berat badan. Bila tumor telah mencapai mediastinum akan timbul suara parau, nyeri di daerah retrosternal, punggung, servikal, dan gejala bronkopulmoner. Sesak napas, batuk, dan stridor ekspirasi jika tumor menginfiltrasi trakea.

 

Pada pemeriksaan fisik tampak pasien menjadi kurus karena gangguan menelan dan anoreksia Jika telah lanjut, terdapat pembesaran kelenjar getah bening daerah supraklavikula dan aksila, serta hepatomegali.

 

Pemeriksaan Penunjang

Pada pemeriksaan darah rutin: LED meningkat, gangguan faal hati dan ginjal.

 

Pada pemeriksaan radiologi dilakukan fluoroskopi posisi tegak dan miring untuk melihat kelenturan esofagus, foto polos toraks dengan posisi lateral, dan esofagogram dengan kontras ganda. Tanda khasnya adalah lumen yang sempit dan iregular, serta kekakuan dinding esofagus, tomografi komput, dan MRI dapat menentukan stadium tumor lebih tepat.

 

Pemeriksaan esofagoskopi untuk melihat bentuk, biopsi, dan pemeriksaan sitologi. Diagnosis pasti ditegakkan dengan biopsi dari massa tumor atau pemeriksaan sitologi.

 

Penatalaksanaan

Terapi tergantung lokasi, jenis, dan metastasis. Untuk pembedahan harus ditentukan apakah dapat dioperasi atau tidak berdasarkan keadaan umum pasien secara klinis, tidak adanya fiksasi tumor ke jaringan sekitar, atau tidak adanya metastasis ke organ lain.

 

Pada stadium dini, di mana besar tumor kurang dari 2 cm, dilakukan pembedahan enbloc esophagectomy. Pada stadium lanjut dilakukan tindakan paliatif agar pasien dapat menikmati makanan peroral, dengan operasi by pass berupa end to end esophagogastrostomy atau side to end esophagocolostomy, dilatasi esofagus dengan dilatator lentur/metal, dan intubasi esofagus.

 

Terapi radiasi diberikan untuk tujuan kuratif bagi pasien pasca bedah dengan sisa tumor dan yang menolak pembedahan. Radiasi paliatif diberikan untuk stadium lanjut.

 

Tumor Ganas Laring

Tumor Ganas Laring merupakan tumor ganas ketiga menurut jumlah tumor ganas di bidang THT dan lebih banyak terjadi pada pria berusia 50-70 tahun. Yang tersering adalah jenis karsinoma sel skuamosa.

 

Etiologi

Belum diketahui pasti.

 

Faktor Predisposisi

Rokok, alkohol, dan paparan sinar radioaktif.

 

Manifestasi Klinis

Suara parau yang diderita cukup lama, tidak hilang timbul, makin lama makin berat. Kadang terdapat hemoptisis. Sesak napas akibat tertutupnya jalan napas oleh tumor, batuk dengan riak bercampur darah, dan penurunan berat badan.

 

Dari pemeriksaan fisik tidak ada gejala khas pada stadium dini, tetapi penjalaran ke kelenjar limfe leher akan memperlihatkan perubahan kontur leher dan hilangnya krepitasi tulang-tulang rawan laring. Dengan laringoskop langsung atau tak langsung dapat dinilai lokasi tumor, penyebaran, dan dilakukan biopsi.

 

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan laboratorium darah rutin dan foto toraks untuk menilai keadaan paru, adanya proses spesifik, dan metastasis. Foto jaringan lunak leher dari lateral dan tomografi komputer untuk menilai keadaan tumor. Pemeriksaan patologi anatomi untuk diagnosis pasti dari biopsi langsung atau biopsi jarum halus kelenjar limfe leher.

 

Penatalaksanaan

Hasil pemeriksaan akan menentukan diagnosis dan stadium tumor berdasarkan Union International Contre le Cancer (LTICC) untuk menentukan tindakan penanggulangan. Sta­dium 1 dikirim untuk radiasi, stadium 2 dan 3 untuk operasi, dan stadium 4 operasi dengan rekonstruksi atau radiasi. Jenis pembedahannya adalah laringektomi totalis atau parsial, disertai diseksi leher radikal bila terdapat penjalaran ke kelenjar limfe leher. Pemakaian sitostatika belum memuaskan karena mahal dan tidak dapat diselesaikan karena keadaan umumnya memburuk.

 

Akibat laringektomi, pasien menjadi afoni dan bernapas melalui stoma permanen di leher. Sehingga perlu dilakukan rehabilitasi umum, melalui sosialisasi dan kemandirian, dan khusus, berupa rehabilitasi suara.

 

Prognosis

Dengan pengelolaan yang tepat, cepat, dan radikal, tumor ini mempunyai prognosis paling baik di antara tumor daerah traktus aerodigestivus.

 

 

Tumor Jinak Laring

Tumor Jinak Laring meliputi 5% dari semua jenis tumor laring. Yang tersering, terutama pada anak-anak, adalah bentuk papiloma laring.

 

Etiologi

Diduga virus.

 

Manifestasi Klinis

Suara parau, batuk, dan bila telah menutup rima glotis maka timbul sesak napas dengan stridor.

 

Penatalaksanaan

Ekstirpasi papiloma dengan bedah mikro atau sinar laser. Terapi kausal belum dilakukan karena etiologinya belum pasti. Juga diberikan vaksin dari massa tumor, obat anti virus, hormon, kalsium atau ID metionin. Radioterapi tidak dianjurkan karena dapat berubah menjadi ganas.

 

Prognosis

Sering berulang. Pada pasien dewasa dengan riwayat merokok dan papiloma berulang dapat berubah menjadi ganas, meskipun tidak pernah menjalani radiasi.

 

 

Benda Asing Esofagus

Definisi

Benda asing esofagus adalah benda, baik tajam atau tumpul, atau makanan yang tersangkut dan terjepit di esofagus karena tertelan, baik secara sengaja maupun tidak sengaja.

 

Etiologi

Pada anak penyebabnya antara lain anomali kongenital, termasuk stenosis kongenital, web, fistel trakeoesofagus, dan pelebaran pembuluh darah. Pada orang dewasa sering terjadi akibat mabuk, pemakai gigi palsu yang telah kehilangan sensasi rasa palatum, gangguan mental, dan psikosis.

 

Faktor Predisposisi

Untuk anak karena belum tumbuhnya gigi molar, koordinasi proses menelan dan sfingter laring belum sempurna pada usia 6 bulan sampai 1 tahun, retardasi mental, gangguan pertumbuhan, dan penyakit-penyakit neurologi lain yang mendasarinya. Pada orang dewasa, faktor predisposisinya adalah penyakit-penyakit esofagus yang menimbulkan gejala disfagia kronik, cara mengunyah yang salah dengan gigi palsu yang kurang baik pemasangannya, mabuk, dan intoksikasi.

 

Manifestasi Klinis

Gejala sumbatan tergantung pada ukuran, bentuk dan jenis benda asing, lokasi tersangkutnya, komplikasi yang timbul, dan lama tertelan. Mula-mula timbul nyeri di daerah leher, kemudian timbul rasa tidak enak di daerah substernal atau nyeri di punggung. Terdapat rasa tercekik, rasa tersumbat di tenggorok, batuk, muntah, disfagia, berat badan menurun, demam, odinofagia, hipersalivasi, regurgitasi, dan gangguan napas.

 

Pada pemeriksaan fisik terdapat kekakuan lokal pada leher bila benda asing terjepit akibat edema yang timbul progresif.

 

Pada anak-anak, terdapat gejala nyeri atau batuk. Pada pemeriksaan fisik ditemukan ronki, mengi, demam, abses leher, emfisema subkutan, berat badan menurun, gangguan pertumbuhan, dan obstruksi saluran napas.

 

Komplikasi

Laserasi mukosa, perdarahan, perforasi lokal dengan abses leher atau mediastinitis. Perforasi esofagus dapat menimbulkan selulitis lokal dan fistel esofagus. Gejala dan tanda perforasi esofagus antara lain emfisema subkutis atau mediastinum, krepitasi kulit di daerah leher atau dada, pembengkakan leher, kaku leher, demam, menggigil, gelisah, takikardi takipnea, nyeri yang menjalar ke punggung, retrosternal, dan epigastrium. Penjalaran ke pleura menimbulkan pneumotoraks dan piotoraks.

 

Bila lama berada di esofagus dapat menimbulkan jaringan granulasi dan radang periesofagus. Benda asing seperti batere alkali menimbulkan toksisitas intrinsik lokal dan sistemik dengan reaksi edema dan inflamasi lokal.

 

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan radiologi berupa foto polos esofagus servikal dan torakal anteroposterior dan lateral harus dilakukan pada semua pasien yang diduga tertelan benda asing. Bila benda asing radioopak mudah diketahui lokasinya, sedangkan bila radiolusen, dapat diketahui tanda inflamasi periesofagus atau hiperinflamasi hipofaring dan esofagus bagian proksimal. Esofagogram dilakukan untuk benda asing radiolusen, yang akan memperlihatkan filling defect persistent. Dapat dilakukan MRI dan tomografi komputer.

 

Tindakan endoskopi dilakukan untuk tujuan diagnostik dan terapi.

 

Penatalaksanaan

Pasien dirujuk ke rumah sakit untuk dilakukan esofagoskopi dengan memakai cunam yang sesuai agar benda asing tersebut dapat dikeluarkan. Kemudian dilakukan esofagoskopi ulang untuk menilai kelainan-kelainan esofagus yang telah ada sebelumnya.

 

Untuk benda asing tajam yang tidak bisa dikeluarkan dengan esofagoskopi harus segera dilakukan pembedahan sesuai lokasi benda asing tersebut. Bila dicurigai adanya perforasi kecil, segera dipasang pipa nasogaster agar pasien tidak menelan dan diberikan antibiotik berspektrum luas selama 7-10 hari agar tidak terjadi sepsis. Bila letak benda asing menetap selama 2 kali 24 jam maka benda asing tersebut harus dikeluarkan secara pembedahan.

 

 

Benda Asing di Saluran Napas

Definisi

Benda asing di dalam suatu organ adalah benda yang berasal dari luar tubuh atau dari dalam tubuh, yang dalam keadaan normal tidak ada. Dari semua kasus benda asing yang masuk ke dalam saluran cerna dan pernapasan anak-anak, sepertiga di antaranya tersangkut di saluran napas.

 

Benda asing di laring dan trakea lebih sering terjadi pada bayi kurang dari 1 tahun. Benda asing di bronkus paling sering berada di bronkus kanan, karena bronkus utama kanan lebih besar, mempunyai aliran udara lebih besar, dan membentuk sudut lebih kecil terhadap trakea dibandingkan bronkus utama kiri.

 

Faktor Predisposisi

Faktor personal (umur, jenis kelamin, pekerjaan, kondisi sosial, tempat tinggal), kegagalan mekanisme proteksi yang normal (tidur, kesadaran menurun, epilepsi, dan alkoholisme), faktor fisik (kelainan dan penyakit neurologik), proses menelan yang belum sempurna pada anak, faktor dental, medikal dan surgikal (tindakan bedah, ekstraksi gigi, belum tumbuhnya gigi molar pada anak yang berumur < 4 tahun), faktor kejiwaan (emosi, gangguan psikis), ukuran dan bentuk serta sifat benda asing, faktor kecerobohan (meletakkannya di mulut, persiapan makanan yang kurang baik, tergesa-gesa, makan sambil bermain), memberikan kacang atau permen pada anak yang gigi molarnya belum lengkap.

 

Patofisiologi

Saat benda atau makanan berada di dalam mulut, anak tertawa atau menjerit, sehingga saat inspirasi, laring terbuka dan benda asing masuk ke dalam laring. Saat benda asing terjepit di sfingter laring, pasien batuk paroksismal, tersumbat di trakea, mengi, dan sianosis. Setelah masuk ke dalam trakea atau bronkus, kadang terjadi fase asimtomatik selama 24 jam atau lebih diikuti fase pulmonum dengan gejala bergantung pada derajat sumbatan bronkus.

 

Benda asing organik seperti kacang mempunyai sifat higroskopik mudah melunak, mengembang oleh air, dan menyebabkan iritasi pada mukosa. Mukosa bronkus edema, meradang, dapat terjadi jaringan granulasi sehingga gejala sumbatan menghebat. Timbul laringotrakeo-bronkitis, toksemia, batuk, dan demam yang iregular.

 

Benda asing anorganik menimbulkan reaksi jaringan lebih ringan. Benda asing dari metal dan tipis memberikan gejala batuk spasmodik.

 

Manifestasi Klinis

Gejala sumbatan tergantung pada lokasi benda asing, derajat sumbatan, sifat, bentuk, dan ukuran benda asing. Terjadi 3 stadium:

1. Stadium pertama

Gejala permulaan berupa batuk-batuk hebat secara tiba-tiba, rasa tercekik, rasa tersumbat di tenggorok, bicara gagap, dan obstruksi jalan napas segera.

2. Stadium kedua

Interval asimtomatik karena refleks-refleks melemah dan gejala rangsangan akut menghilang. Berbahaya karena sering menyebabkan diagnosis aspirasi diabaikan atau terlambat.

3. Stadium ketiga

Telah terjadi gejala komplikasi dengan obstruksi, erosi, atau infeksi, sehingga timbul batuk-batuk, hemoptisis, pneumonia, dan abses paru.

 

Benda asing di laring dapat menimbulkan kegawatan bila menyumbat total, sehingga bisa terjadi kematian mendadak akibat asfiksia karena spasme laring, dengan gejala disfonia sampai afonia, apnea, dan sianosis. Sumbatan tidak total dapat menimbulkan suara parau, disfonia sampai afonia, batuk dengan sesak, odinofagia, mengi, sianosis, hemoptisis, dispnea dengan derajat bervariasi, dan rasa subyektif dari benda asing. Pasien gelisah dan memegang lehernya (V sign). Pada sumbatan parsial laring yang lama akan timbul gejala tambahan berupa stridor, selain batuk tiba-tiba, serak, dan sesak napas. Pada pemeriksaan fisik didapatkan gejala sumbatan laring (Jackson) yang terbagi dalam 4 stadium:

Stadium I : cekungan sedikit pada inspirasi di daerah suprasternal, kadang-kadang belum

ada stridor.

Stadium II : cekungan di suprasternal dan epigastrium, stridor mulai terdengar.

Stadium III : cekungan terdapat di suprasternal, epigastrium, interkostal, dan

supraklavikula. Stridor jelas terdengar dan anak tampak gelisah.

Stadium IV : cekungan bertambah dalam, sianosis, anak yang mula-mula gelisah, mulai

tampak bertambah lemah dan akhirnya diam dengan kesadaran menurun.

 

Benda asing di trakea memberikan gejala batuk tiba-tiba yang berulang-ulang dengan rasa tercekik, serak, dispnea, sianosis, rasa tersumbat di tenggorok, gejala patognomonik yaitu audible snap, palpatory thud, dan asthmatoid wheeze. Jika tersangkut di karina, dapat terjadi atelektasis di satu sisi paru dan emfisema di sisi yang lain.

 

Pasien dengan benda asing di bronkus umumnya datang pada fase asimtomatik. Kemudian benda asing bergerak ke perifer, sehingga udara yang masuk terganggu dan pada auskultasi terdengar ekspirasi memanjang dengan mengi. Dapat timbul emfisema, atelektasis, drowned lung, dan abses paru. Gejala fisik dapat bervariasi karena perubahan posisi benda asing. Keluhan batuk kronik dan sesak napas menyerupai gejala pasien asma atau bronkopneumonia.

 

Benda asing di orofaring dan hipofaring dapat tersangkut di tonsil, dasar lidah, valekula, sinus piriformis menimbulkan rasa nyeri pada waktu menelan. Benda asing di sinus piriformis menunjukkan tanda Jackson, yaitu akumulasi ludah di sinus piriformis tempat benda asing tersangkut.

 

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan foto leher dalam posisi tegak untuk menilai jaringan lunak leher serta toraks postero anterior dan lateral. Benda yang bersifat radioopak difoto segera setelah kejadian, sedangkan benda yang radiolusen dibuatkan setelah 24 jam kejadian, biasanya baru tampak tanda atelektasis atau emfisema. Endoskopi dilakukan atas indikasi diagnostik dan terapi. Bronkogram dipakai untuk benda asing radiolusen di perifer pada pandangan endoskopi serta menilai bronkiektasis. Pemeriksaan laboratorium darah berguna untuk mengetahui gangguan keseimbangan asam basa dan tanda infeksi traktus trakeobronkial. Cara terbaik untuk melihat saluran napas secara keseluruhan adalah video fluoroskopi. Gambaran emfisema obstruktif tampak sebagai pergeseran mediastinum ke sisi paru yang sehat saat ekspirasi dan pelebaran interkostal.

 

Komplikasi

Bila lama berada di bronkus, dapat timbul penyakit paru kronik supuratif, bronkiektasis, abses paru, dan jaringan granulasi yang menutupi benda asing. Sumbatan total laring yang berlangsung lebih dari 5 menit pada dewasa atau 8 menit akan menyebabkan kerusakan jaringan otak dan henti jantung.

 

Penatalaksanaan

Yang terbaik adalah pengangkatan segera dengan endoskopi dalam kondisi paling aman dan trauma yang minimum. Pasien dengan benda asing di laring harus ditolong segera karena dapat terjadi asfiksia segera. Pada anak dengan sumbatan total laring, anak dipegang dengan posisi terbalik, kepala ke bawah, kemudian daerah punggung/tengkuk dipukul, sehingga benda asing dapat dibatukkan ke luar. Cara lain dengan perasat Heimlich. Bila sumbatan tidak total, perasat ini tidak dapat digunakan. Pasien dirujuk ke rumah sakit untuk ditolong mengeluarkan dengan cunam dan laringoskop atau bronkoskop. Bila perlu dilakukan trakeostomi dulu.

 

Pasien dengan benda asing di trakea harus dirujuk ke rumah sakit dengan fasilitas bronskoskopi. Benda dikeluarkan dengan bronkoskopi secara segera pada pasien tidur telentang dalam posisi Trendelenburg, supaya tidak lebih turun ke bronkus. Benda asing dipegang dengan cunam yang sesuai dan dikeluarkan melalui laring, diusahakan sumbu panjang benda asing segaris trakea agar mudah. Bila bronkoskopi tidak ada, dilakukan trakeostomi dan benda asing dikeluarkan memakai cunam/alat penghisap melalui stoma tersebut. Bila tidak berhasil dirujuk ke rumah sakit dengan fasilitas endoskopi.

 

Benda asing di bronkus dikeluarkan dengan bronkoskop kaku atau serat optik dan cunam yang sesuai. Tindakan ini harus segera dilakukan, apalagi bila benda asing bersifat organik. Bila tidak dapat dikeluarkan, misalnya tajam, tidak rata, dan tersangkut pada jaringan, dapat dilakukan servikotomi atau torakotomi. Antibiotik dan kortikosteroid tidak rutin diberikan setelah endoskopi. Dilakukan fisioterapi dada pada kasus pneumonia, bronkitis purulenta, dan atelektasis. Pasien dipulangkan 24 jam setelah tindakan bila paru bersih dan tidak demam. Pasca bronkoskopi dibuat foto toraks hanya bila gejala pulmonum tidak menghilang. Pada keadaan tersebut perlu diselidiki lebih lanjut dan diobati secara tepat dan adekuat.

 

Benda asing di dasar lidah dilihat dengan kaca tenggorok yang besar. Pasien diminta menarik lidahnya sendiri dan pemeriksa memegang kaca tenggorok dengan tangan kiri, cunam dengan tangan kanan untuk mengambil benda tersebut. Bila perlu, dapat disemprotkan silokain atau pantokain. Untuk mengeluarkan benda asing di valekula dan sinus piriformis dilakukan laringoskopi langsung.

 

 

Esofagitis Erosif

Definisi

Esofagitis korosif adalah peradangan di esofagus yang disebabkan luka bakar karena zat kimia yang betsifst korosif, misalnya asam kuat, basa kuat, dan zat organik. Zat kimia tersebut dapat bersifat korosif sehingga timbul.kerusakan pada saluran yang dilaluinya, atau toksik yang hanya menimbulkan gejala keracunan bila telah diserap oleh darah.

 

Patofisiologi

Basa kuat menyebabkan nekrosis mencair sedangkan asam kuat menyebabkan nekrosis menggumpal. Kerusakan di lambung lebih berat daripada di esofagus pada asam kuat, sedangkan pada basa kuat terjadi sebaliknya. Zat organik menimbulkan edema di mukosa atau submukosa.

 

Manifestasi Klinis

Keluhan dan gejala tergantung jenis, konsentrasi, jumlah zat korosif, lamanya kontak dengan dinding esofagus, sengaja diminum atau tidak dan dimuntahkan atau tidak.

 

Berdasarkan beratnya luka bakar yang ditemukan dibagi atas :

1. Esofagitis korosif tanpa ulserasi; gejala gangguan menelan ringan dan pada esofagoskopi tampak mukosa hiperemis tanpa disertai ulserasi.

2. Esofagitis korosif dengan ulserasi ringan; keluhan disfagia ringan dan pada esofagoskopi tampak ulkus yang tidak dalam (mengenai mukosa saja).

3. Esofagitis korosif ulseratif sedang; ulkus sudah mengenai lapisan otot, biasanya ditemukan satu atau lebih ulkus.

4. Esofagitis korosif ulseratif berat tanpa komplikasi; terdapat pengelupasan mukosa serta nekrosis yang letaknya dalam, dan telah mengenai seluruh lapisan esofagus. Bila dibiarkan akan terjadi striktur.

5. Esofagitis korosif ulseratif berat dengan komplikasi; terdapat perforasi esofagus yang dapat menimbulkan mediastinitis dan peritonitis. Kadang terdapat tanda obstruksi jalan napas dan gangguan keseimbangan asam dan basa.

 

Berdasarkan gejala klinis dan perjalanan penyakitnya dibagi dalam:

1. Fase akut

Berlangsung 1-3 hari. Pada pemeriksaan fisik ditemukan luka bakar di daerah mulut, bibir, faring, kadang disertai perdarahan. Pasien mengeluh disfagia hebat, odinofagia, dan suhu badan yang meningkat. Perasaan terbakar di saluran cerna bagian atas, mual, muntah, erosi mukosa, kejang otot, kegagalan sirkulasi dan pernapasan.

2. Fase laten

Berlangsung 2-6 minggu. Keluhan pasien berkurang dan suhu menurun. Dapat menelan dengan baik, sebenarnya proses masih terus berjalan dengan membentuk jaringan parut.

3. Fase kronik

Setelah 1-3 tahun akan terjadi disfagia lagi karena terbentuk jaringan parut, sehingga terjadi striktur esofagus.

 

Komplikasi

Syok, koma, edema laring, pneumonia aspirasi, perforasi esofagus, mediastinitis, dan kematian.

 

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan foto toraks PA dan lateral untuk mendeteksi mediastinitis atau aspirasi pneumonia. Pada stadium akut, pemeriksaan dengan esofagogram tidak banyak membantu, kecuali bila dicurigai ada perforasi akut atau ruptur akibat tindakan. Esofagogram dibuat pada minggu kedua untuk melihat adanya striktur esofagus dan diulang 2 bulan kemudian.

 

Esofagoskopi untuk melihat adanya luka bakar di esofagus, biasanya dilakukan hari ketiga setelah kejadian.

 

Pemeriksaan elektrolit darah bila terdapat tanda gangguan elektrolit.

 

Penatalaksanaan

A. Bila tertelan zat korosif

Ditujukan untuk mencegah terjadinya striktur. Jika terdapat nyeri menelan, dipasang pipa hidung-lambung.

 

Pada fase akut dilakukan perawatan umum berupa perbaikan keadaan umum pasien, menjaga keseimbangan elektrolit, serta menjaga jalan napas. Jika terdapat gangguan keseimbangan elektrolit, diberikan infus aminofusin 600 sebanyak 2 botol, glukosa 10% 2 botol, NaCl 0,9% + KCl 5 meq/liter 1 botol. Untuk melindungi selaput lendir esofagus bila muntah dapat diberikan susu atau putih telur. Jika zat korosif yang tertelan diketahui jenisnya dan terjadi sebelum 6 jam, dapat dilakukan netralisasi dengan susu atau air jeruk untuk basa kuat dan antasida untuk asam kuat.

 

Antibiotik diberikan selama 2-3 minggu atau 5 hari bebas demam, biasanya penisilin dosis tinggi 1-1,2 juta unit/hari. Juga diberikan kortikosteroid sejak hari pertama untuk mencegah pembentukan fibrosis yang berlebihan, dengan dosis 200-300 mg sampai hari ketiga, kemudian tapering off tiap 2 hari. Dosis yang dipertahankan ialah 2 x 50 mg/hari. Jika mungkin terjadi perforasi, jangan diberikan steroid. Untuk nyeri dapat diberikan analgesik atau morfin.

 

Pada fase kronik bila telah terjadi striktur esofagus, dilakukan dilatasi dengan bantuan esofagoskop sekali seminggu atau dua minggu, setelah sebulan sekali 3 bulan, dan seterusnya sampai pasien dapat menelan makanan biasa. Jika hasil kurang memuaskan setelah 3 kali dilatasi, sebaiknya dilakukan reseksi esofagus dan dibuat anastomosis ujung ke ujung.

 

B. Bila tertelan zat organik

Diusahakan untuk mengurangi absorbsi zat organik yang tertelan dengan cara memberi susu, minum air biasa, atau pemberian norit. Kemudian faring dirangsang agar terjadi refleks muntah, dilakukan bilas lambung, dan pemberian obat pencahar.

 

 

Sumbatan Laring

Manifestasi Klinis

Benda asing di laring akan memberikan serangan batuk tiba-tiba segera setelah aspirasi benda asing terjadi. Pasiep gelisah dan memegang leher dengan jarinya (V sign), afoni, sukar bernapas sampai apnea. Tidak lama kemudian wajah membiru (sianosis).

 

Benda asing di trakea akan menimbulkan mengi, serangan batuk tiba-tiba dan sulit ditahan untuk periode panjang, diikuti periode asimtomatik. Dapat terdengar palpatory thud dan audible snap.

 

Komplikasi

Bila sumbatan total berlangsung lebih dari 5 menit pada dewasa atau 8 menit pada anak, akan terjadi kerusakan pada jaringan otak dan henti jantung.

 

Penatalaksanaan

Untuk mengatasi sumbatan laring maka intubasi endotrakea merupakan pilihan pertama. Jika ruangan perawatan intensif tidak tersedia, sebaiknya dilakukan trakeostomi atau krikotirotomi dahulu.

 

INTUBASI ENDOTRAKEA

Tindakan penyelamat nyawa dan dapat dilakukan tanpa atau dengan anestesi topikal dengan silokain 10%. Jangan melebihi 6 hari dan selanjutnya lebih baik dilakukan trakeostomi. Komplikasinya stenosis laring atau trakea.

 
Indikasi
1. Mengatasi sumbatan saluran napas atas

2. Membantu ventilasi

3. Memudahkan menghisap sekret dari traktus trakeobronkial

4. Mencegah aspirasi sekret yang ada di rongga mulut atau yang berasal dari lambung

 

TRAKEOSTOMI

Trakeostomi adalah tindakan membuat lubang pada dinding depan anterior trakea untuk bernapas. Dapat dilakukan darurat atau terencana.

 

Indikasi :

1. Mengatasi obstruksi laring

2. Mengurangi ruang rugi di saluran napas atas

3. Mempermudah penghisapan sekret dari bronkus yang tidak dapat dikeluarkan secara fisiologis

4. Memasang respirator

5. Mengambil benda asing dari subglotik, bila tidak memiliki bronkoskop.

 

Teknik Trakeostomi

o Pasien tidur telentang, bahu diganjal bantal kecil agar kepala mudah diekstensikan sehingga leher lurus dan trakea terletak di garis median dekat permukaan leher. Kulit daerah leher dibersihkan secara a dan antisepsis dan ditutup dengan kain steril.

o Disuntikkan obat anestetikum (novokain) di antara krikoid dengan fosa su­prasternal secara infiltrasi.

o Dibuat sayatan kulit berbentuk vertikal di garis tengah mulai di bawah krikoid sampai fosa suprasternal, atau horizontal pada pertengahan jarak antara kartilago krikoid dengan fosa suprasternal atau kurang lebih 2 jari di bawah krikoid orang dewasa. Sayatan kurang lebih 5 cm, jangan terlalu sempit agar tidak sukar mencari trakea dan mencegah terjadi emfisema kulit.

o Dengan gunting tumpul, kulit dan jaringan di bawahnya dipisahkan lapis demi lapis dan ditarik ke lateral sampai tampak trakea berupa pipa dengan susunan cincin-cincin tulang rawan berwarna putih. Ismus tiroid yang ditemukan diklem pada dua tempat dan dipotong di tengahnya. Sebelum dilepas, kedua tepinya diikat dan disisihkan ke lateral. Perdarahan dihentikan dan diikat bila perlu.

o Lakukan aspirasi dengan semprit berisi novokain, bila benar trakea maka waktu dilakukan aspirasi terasa ringan dan udara yang terhisap akan menimbulkan gelembung udara.

o Buat stoma dengan memotong cincin trakea ketiga dengan gunting tajam. Kemudian pasang kanul trakea dengan ukuran yang sesuai agar tidak sulit memasukkan atau mudah lepas. Fiksasi kanul dengan tali pada leher pasien dan tutup luka operasi dengan kain kasa.

o Untuk mengurangi refleks batuk dapat disuntikkan novokain sebanyak 1 ml ke dalam trakea.

 

Perawatan Pascatrakeostomi

Sekret di trakea dan kanul harus sering diisap keluar, dan kanul dalam dicuci sekurang-kurangnya 2 kali sehari, lalu segera dimasukkan lagi ke dalam kanul luar. Jika untuk jangka waktu lama, kanul luar harus dibersihkan 2 minggu sekali. Kain kasa di bawah kanul diganti setiap basah agar tidak terjadi dermatitis.

 

KRIKOTIROTOMI

Krikotirotomi adalah tindakan penyelamat yang lebih mudah dan lebih cepat dapat dilakukan pada pasien dalam keadaan gawat napas dan darurat dengan cara membelah membran krikotiroid.

 

Kontraindikasi­

Anak di bawah usia 12 tahun, tumor laring yang sudah meluas ke subglotik dan laringitis.

 

Komplikasi

Stenosis subglotik akan timbul bila dibiarkan terlalu lama, jadi sebaiknya diganti trakeostomi dalam waktu 48 jam.

 
Teknik krikotirotomi
o Pasien tidur telentang dengan kepala ekstensi, pada artikulasi atlanto oksipitalis.

o Identifikasi dan fiksasi puncak tulang rawan tiroid (Adams’ apple) dengan jari tangan kiri.

o Raba tulang rawan tiroid ke bawah sampai menemukan kartilago krikoid dengan telunjuk jari tangan kanan: Membran krikoid terletak di antara kedus tutang rawan ini.

o Infiltrasi daerah ini dengan anestetikum kemudian buat sayatan horizontal pada kulit.

o Jaringan di bawah sayatan dipisahkan tepat pada garis tengah.

o Setelah terlihat sebelah tepi bawah kartilago tiroid, tusukkan pisau dengan arah ke bawah untuk menghindari tersayatnya pita suara.

o Masukkan kanul bila tersedia, atau pipa plastik untuk sementara.

 

PERASAT HEIMLICH

Perasat Heimlich adalah suatu cara mengeluarkan benda asing yang menyumbat laring secara total atau benda asing ukuran besar yang terletak di hipofaring. Prinsipnya adalah memberi tekanan ke dalam dan atau rongga perut sehingga diafragma terdorong ke atas, kemudian udara dalam paru terdesak mendorong sumbatan laring ke luar. Komplikasi yang dapat terjadi adalah ruptur lambung, ruptur hati, dan fraktur iga .

 

Teknik Perasat Heimlich

o Penolong berdiri di belakang pasien sambil memeluk badannya. Tangan kanan dikepalkan dan dengan bantuan tangan kiri, kedua tangan diletakkan pada perut bagian atas. Rongga perut ditekan ke arah dalam dan atas dengan hentakan beberapa kali. Diharapkan dengan hentakan 4-5 kali benda asing akan tertempar keluar.

o Pada bayi penekanan cukup dengan memakai jari telunjuk dan jari tengah kedua tangan.

o Pada pasien yang tidak sadar atau terbaring, penolong berlutut dengan kaki pada kedua sisi pasien. Sebelumnya posisi muka pasien dan leher harus lurus. Kepalan tangan kanan diletakkan di bawah tangan kiri di daerah epi­gastrium. Dengan hentakan tangan kiri ke bawah dan ke atas beberapa kali udara dalam paru akan mendorong benda asing ke luar. Posisi muka pasien harus lurus, leher jangan ditekuk ke samping agar jalan napas merupakan garis lurus.

 

 

Laringitis Tuberkulosis

Etiologi

Hampir selalu disebabkan tuberkulosis paru. Setelah diobati biasanya tuberkulosis paru sembuh namun laringitis tuberkulosisnya menetap, karena struktur mukosa laring sangat lekat pada kartilago serta vaskularisasi tidak sebaik paru.

 

Manifestasi Klinis

Terdapat gejala demam, keringat malam, penurunan berat badan, rasa kering, panas, dan tertekan di daerah laring, suara parau berminggu-minggu dan pada stadium lanjut dapat afoni, batuk produktif, hemoptisis, nyeri menelan yang lebih hebat bila dibandingkan dengan nyeri karena radang lainnya, keadaan umum buruk, dan gejala-gejala proses aktif pada paru. Dapat timbul sumbatan jalan napas karena edema; tuberkuloma, atau paralisis pita suara.

 

Sesuai dengan stadium dari penyakit, pada laringoskop akan terlihat:

o Stadium infiltrasi; mukosa laring membengkak, hiperemis (bagian posterior), dan pucat. Terbentuk tuberkel di daerah submukosa, tampak sebagai bintik-bintik kebiruan. Tuberkel membesar menyatu sehingga mukosa di atasnya meregang. Bila pecah akan timbul ulkus.

o Stadium ulserasi; ulkus membesar; dangkal, dasarnya ditutupi perkijuan dan terasa nyeri.

o Stadium perikondritis; ulkus makin dalam mengenai kartilago laring, kartilago aritenoid, dan epiglotis. Terbentuk nanah yang berbau sampai terbentuk sekuester. Keadaan umum pasien sangat buruk, dapat meninggal.

o Stadium pembentukan tumor; terbentuk fibrotuberkulosis pada dinding posterior, pita suara, dan subglotik.

 

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksan laboratorium basil tahan asam dari sputum atau bilasan lambung, foto toraks menunjukkan tanda proses spesifik paru, laringoskopi langsung/tak langsung, dan pemeriksaan PA.

 

Diagnosis Banding

Laringitis luetika, karsinoma laring, aktinomikosis laring, dan lupus vulgaris laring.

 

Penatalaksanaan

Istirahat suara dan obat antituberkulosis primer dan sekunder. Trakeostomi bila timbul sumbatan jalan napas.

 

Prognosis

Bergantung pada keadaan sosial ekonomi pasien, kebiasaan hidup sehat, dan ketekunan berobat. Prognosis baik bila diagnosis dapat ditegakkan pada stadium dini.

 

 

Laringitis Kronik

Etiologi

Berdasarkan etiologi dapat dibagi atas laringitis kronik non spesifik dan spesifik.

 

Laringitis kronik nonspesifik dapat disebabkan faktor eksogen (rangsangan fisik oleh penyalahgunaan suara, rangsangan kimia, infeksi kronik saluran napas atas atau bawah, asap rokok) atau faktor endogen (bentuk tubuh, kelainan metabolik). Sedangkan yang spesifik disebabkan tuberkulosis dan sifilis.

 

Manifestasi Klinis

Suara parau yang menetap, rasa tersangkut di tenggorok sehingga sering mendehem tanpa sekret.

 

Pada pemeriksaan tampak mukosa laring hiperemis, tidak rata, dan menebal. Bila dicurigai tumor, dapat dilakukan biopsi.

 

Penatalaksanaan

Diminta untuk tidak banyak bicara dan mengobati peradangan di hidung, faring, serta bronkus yang mungkin menjadi penyebab. Diberikan antibiotik bila terdapat tanda infeksi dan ekspektoran. Untuk jangka pendek dapat diberikan steroid.

 

 

Laringitis Akut

Definisi
Umumnya merupakan kelanjutan dari rinofaringitis akut atau manifestasi dari radang saluran napas atas. Pada anak dapat menimbulkan sumbatan jalan napas dengan cepat karena rima glotisnya relatif lebih sempit.

 

Etiologi

Bakteri (lokal) atau virus (sistemik). Biasanya merupakan perluasan radang saluran napas atas oleh bakteri Haemophilus influenzae, stafilokok, siteptokok, dan pneumokok.

 

Faktor Predisposisi

Perubahan cuaca/suhu, gizi kurang/malnutrisi, imunisasi tidak lengkap, dan pemakaian suara berlebihan.

 

Manifestasi Klinis

Demam, malaise, gejala rinofaringitis, suara parau sampai afoni, nyeri ketika menelan atau berbicara, rasa kering di tenggorokan, batuk kering yang kelamaan disertai dahak kental, gejala sumbatan laring sampai sianosis.

 

Pada pemeriksaan, tampak mukosa laring hiperemis, membengkak, terutama di atas dan bawah pita suara. Biasanya tidak terbatas di laring, juga ada tanda radang akut di hidung, sinus paranasal, atau paru.

 

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan apusan dari laring untuk kultur dan uji resistensi pada kasus yang lama atau sering residif.

 

Penatalaksanaan

Istirahat bicara dan bersuara selama 2-3 hari, menghirup udara lembab, dan menghindari iritasi pada laring dan faring. Untuk terapi medikamentosa diberikan antibiotik penisilin anak 3 x 50 mg/kg BB dan dewasa 3 x 500 mg. Bila alergi dapat diganti eritromisin atau basitrasin. Dapat diberikan kortikosteroid untuk mengatasi edema. Dipasang pipa endotrakea atau trakeostomi bila terdapat sumbatan laring.