Creeping Eruption

  • Sharebar

Definisi

Creeping eruption (cutaneous larva migrans, dermatosis linearis migrans, sandworm dis­ease) sering terjadi pada anak-anak terutama yang sering berjalan tanpa alas kaki atau berhubungan dengan tanah atau pasir. Demikian pula para petani atau tentara sering mengalami hal yang sama. Penyakit ini banyak terdapat di daerah tropis atau subtropis yang hangat dan lembab.

 
Etiologi
Penyebab utama adalah larva yang berasal dari cacing tambang binatang anjing dan kucing, yaitu Ancylostoma braziliense dan Ancylostoma caninum.



Patogenesis
Nematoda hidup pada hospes, ovum terdapat pada kotoran binatang dan karena kelembaban berubah menjadi larva yang mampu mengadakan penetrasi ke kulit. Larva ini tinggal di kulit dan berjalan-jalan tanpa tujuan sepanjang dermoepidermal, setelah beberapa jam atau hari akan timbul gejala di kulit.

 
Manifestasi Klinis
Masuknya larva ke kulit biasanya disertai rasa gatal dan panas. Mula-mula timbul papul, diikuti lesi berbentuk khas berupa linear atau berkelok-kelok, menimbul dengan diameter 2­-3 mm, dan berwarna kemerahan. Adanya lesi papul yang eritematosa ini menunjukkan larva tersebut telah berada di kulit selama beberapa jam atau hari.

 

Perkembangan selanjutnya papul merah ini menjalar seperti benang berkelok-kelok, polisiklik, serpiginosa, menimbul, dan membentuk terowongan (burrow), mencapai panjang beberapa cm. Rasa gatal biasanya lebih hebat pada malam hari.

 

Lesi dapat timbul di berbagai tempat, tetapi tempat predileksi adalah di tungkai, plantar, tangan, anus, bokong, dan paha.

 
Diagnosis
Berdasarkan bentuk khas, yakni terdapatnya kelainan seperti benang yang lurus atau berkelok-kelok, menimbul, dan terdapat papul atau vesikel di atasnya.

 
Diagnosis Banding
Dermatofitosis, gigitan serangga, dan herpes zoster.

 
Penatalaksanaan
Antihelmintes berspektrum luas, misalnya tiabendazol (mintezol) 50 mg/kgBB/hari, sehari 2 kali, diberikan berturut-turut selama 2 hari, maksimum 3 gram sehari. Jika belum sembuh, dapat diulangi setelah beberapa hari. Efek sampingnya mual, pusing, dan muntah. Obat lain ialah albendazol, dosis sehari 400 mg sebagai dosis tunggal, diberikan 3 hari berturut-turut.

 

Cara terapi ialah cryotherapy menggunakan CO2 snow (dry ice) dengan penekanan selama 45 detik sampai 1 menit, dua hari berturut-turut. Penggunaan N2 liquid juga dicobakan. Cara beku dengan menyemprotkan kloretil sepanjang lesi. Cara tersebut agak sulit karena kita tidak mengetahui secara pasti di mana larva berada, dan bila terlalu lama dapat merusak jaringan sekitar. Pengobatan cara lama dan sudah ditinggalkan adalah dengan preparat antimon.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

IMPORTANT! To be able to proceed, you need to solve the following simple math (so we know that you are a human) :-)

What is 7 + 11 ?
Please leave these two fields as-is: