Sifilis

  • Sharebar

Definisi

Sifilis ialah penyakit infeksi oleh Treponema pallidum dengan perjalanan penyakit yang kronis, adanya remisi dan eksaserbasi, dapat menyerang sennua organ dalam tubuh terutama sistem kardiovaskular, otak dan susunan saraf, serta dapat terjadi sifilis kongenital. Disebut juga Ma1 de Naples, morbus gallicus, lues venerea (Prat), disease of the isle of Espanole (Dias), Spanish of French disease, Italian or Neopolitan disease, raja singa, dll.


Etiologi
Treponema pallidum yang termasuk ordo Spirochaetaeas, famili Treponematoceae.



Patogenesis
Penularan terjadi melalui kontak langsung dengan lesi yang mengandung treponema. Tre­ponema dapat masuk (porte d’entree) melalui selaput lendir yang utuh atau kulit dengan lesi, kemudian masuk ke peredaran darah dan semua organ dalam tubuh. Infeksi bersifat sistemik dan manifestasinya akan tampak kemudian. Perkembangan penyakit sifilis berlangsung dari satu stadium ke stadium berikutnya. Sepuluh sampai 90 hari (umumnya 3­4 minggu) setelah terjadi infeksi, pada tempat masuk T. pallidum timbul lesi primer yang bertahan 1-5 minggu dan kemudian hilang sendiri. Kurang lebih 6 minggu (2 – 6 minggu) setelah lesi primer terdapat kelainan kulit dan selaput lendir yang pada permulaan menyeluruh, kemudian mengadakan konfluensi dan berbentuk khas. Kadang-kadang kelainan kulit hanya sedikit atau sepintas lalu.

 
Manifestasi Klinis
Klasifikasi Pembagian menurut WHO ialah sifilis dini dan lanjut dengan waktu di antaranya 2 tahun, ada yang mengatakan 4 tahun. Sifilis dini dapat menularkan penyakit karena terdapat T. pallidum pada lesi kulitnya, sedangkan sifilis lanjut tidak menular karena T. pallidum tidak ada. Pada ibu yang hamil, T. pallidum dapat masuk ke tubuh janin.

Pembagian sifilis secara klinis ialah sifilis kongenital dan sifilis didapat, atau dapat pula digolongkan berdasarkan stadium I, II, III sesuai dengan gejala-gejalanya, sifilis kardiovaskular, dan sifilis pada otak dan saraf.

 

Sifilis laten ialah keadaan yang secara klinis tidak ada tanda/gejala kecuali tes serologik yang positif dan meyakinkan. Sifilis laten ada yang dini ialah pada sifilis stadium I dan II dan eksaserbasi. Laten lanjut adalah masa antara stadium II dan stadium III dan antara stadium III dan IV

Syphillis d’emblee merupakan keadaan jika T. pallidum langsung melalui darah masuk ke tubuh calon pasien, misalnya pada transfusi darah dan sifilis bawaan.

Sifilis Stadium I

Tiga minggu (10-90 hari) setelah infeksi, timbul lesi pada tempat T. pallidum masuk. Lesi umumnya hanya satu. Terjadi afek primer berupa papul yang erosif, berukuran beberapa milimeter sampai 1-2 cm, berbentuk bulat atau bulat lonjong, dasarnya bersih, merah, kulit di sekitarnya tidak ada tanda-tanda radang, dan bila diraba ada pengerasan (indurasi) yang merupakan satu lapisan seperti sebuah kancing di bawah kain atau sehelai karton yang tipis. Kelainan ini tidak nyeri (indolen). Gejala tersebut sangat khas bagi sifilis stadium I afek primer. Erosi dapat berubah menjadi ulkus berdinding tegak lurus, sedangkan sifat lainnya seperti pada afek primer. Keadaan ini disebut ulkus durum, yang dapat menjadi fagedenik bila ulkusnya meluas ke samping dan ke dalam. Kadang-kadang hanya terdapat edema induratif pada pintu masuk T. pallidum, yang tersering pada labia mayora.

 

Sekitar 3 minggu kemudian terjadi penjalaran ke kelenjar inguinal medial. Kelenjar tersebut membesar, padat, kenyal pada perabaan, tidak nyeri, soliter, dan dapat digerakkan bebas dari sekitarnya. Keadaan ini disebut sebagai sifilis stadium I kompleks primer. Lesi umumnya terdapat pada alat kelamin, dapat juga ekstragenital seperti bibir, lidah, tonsil, puting susu, jari, dan anus, misalnya pada penularan ekstrakoital. Tanpa pengobatan, lesi dapat hilang spontan dalam 4-6 minggu, cepat atau lambat bergantung pada kecil-besarnya lesi.

 

Hasil pemeriksaan TSS pada sifilis stadium I dapat seronegatif atau seropositif. Seronegatif umumnya terdapat bilamana kompleks primer belum terjadi.

Dua hal yang sangat penting pada masa sifilis stadium I adalah:

a. Bila pasien sudah mendapat pengobatan berupa apapun secara lokal atau sistemik yang spesifik, T. pallidum akan menghilang pada tempat lesi, sehingga pasien diduga tidak menderita sifilis. Secara akademik harus dicari T. pallidum tiga kali (3 hari berturut-­turut).

b. Anamnesis yang cermat karena umumnya pada tiap lesi pada alat kelamin, meskipun bukan sifilis, bila diberi pengobatan lokal dapat terjadi indurasi palsu (pseudoindurasi).

 
Sifilis Stadium II
Pada umumnya bila gejala sifilis stadium II muncul, sifilis stadium I sudah sembuh. Waktu antara sifilis stadium I dan II umumnya 6-8 minggu. Kadang-kadang. terjadi masa transisi, yakni sifilis stadium I masih ada saat timbul gejala sifilis stadium II.

 

Sifat yang khas pada sifilis ialah jarang ada rasa gatal. Gejala konstitusi seperti nyeri kepala, demam subfebril, anoreksia, nyeri pada tulang, dan nyeri leher biasanya mendahului, kadang-kadang bersamaan dengan kelainan pada kulit. Kelainan kulit yang timbul berupa makula, papul, pustul, dan rupia. Tidak terdapat vesikel dan bula. Sifilis stadium II disebut sebagai the greatest immitator of all skin diseases. Selain kelainan kulit, pada stadium ini terdapat kelainan selaput lendir dan limfadenitis yang generalisata.

 

Diagnosis sifilis stadium II biasanya ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan serologik yang reaktif dan pemeriksaan lapangan gelap positif.

Sifilis Stadium III

Lesi yang khas adalah guma yang dapat terjadi 3-7 tahun setelah infeksi. Guma umumnya satu, dapat multipel, ukuran miliar sampai berdiameter beberapa sentimeter. Guma dapat timbul pada semua jaringan dan organ, membentuk nekrosis sentral dikelilingi jaringan granulasi dan pada bagian luarnya terdapat jaringan fibrosa, sifatnya destruktif. Guma mengalami supurasi dan memecah serta meninggalkan suatu ulkus dengan dinding curam dan dalam, dasarnya terdapatjaringan nekrotik berwarna kuning putih.

 

Sifilis stadium ini dapat merusak semua jaringan, tulang rawan pada hidung dan pala­tum. Guma juga dapat ditemukan di organ dalam, yakni lambung, hepar, lien, paru, testis, dll. Kelainan lain berapa nodus di bawah kulit, ukuran miliar sampai lentikular, merah, dan tidak nyeri tekan. Permukaan nodus dapat berskuama sehingga menyerupai psoriasis, tetapi tanda Auspitz negatif.

Sifilis Kongenital

T. pallidum dapat melalui plasenta dan masuk ke peredaran darah janin. Oleh karena masuk ke peredaran darah; pada sifilis kongenital tidak terdapat sifilis stadium I. Sifilis kongenital dibagi menjadi sifilis kongenital dini, lanjut, dan stigmata.

 

Sifilis kongenital dini dapat muncul beberapa minggu (3 minggu) setelah bayi dilahirkan. Kelainan berupa vesikel dan bula yang setelah memecah membentuk erosi yang ditutupi krusta. Kelainan ini sering terdapat di telapak tangan dan kaki, dan disebut pemfigus sifilitika. Bila kelainan muncul beberapa bulan setelah bayi dilahirkan, kelainan berupa papul dengan skuama yang menyerupai sifilis stadium II. Kelainan pada selaput lendir berupa sekret hidung yang sering bercampur darah. Kelainan pada tulang, terutama tulang panjang, berupa osteokondritis yang khas pada foto Rontgen. Bisa terdapat splenomegali dan pneumonia alba.

 

Sifilis kongenital lanjut terdapat pada usia lebih dari 2 tahun. Manifestasi klinis baru ditemukan pada usia 7-9 tahun dengan adanya trias Huthinson, yakni kelainan pada mata (keratitis interstisial yang dapat menyebabkan kebutaan); ketulian N VIII, dan gigi Hutchinson (insisivus I atas kanan dan kiri bentuknya seperti obeng). Kelainan lain berupa paresis, perforatum palatum durum, serta kelainan tulang tibia dan frontalis.

 

Stigmata terlihat pada sudut mulut berupa garis-garis yang jalannya radier, gigi Hutchinson, gigi molar pertama berbentuk seperti murbai, dan penonjolan tulang frontal kepala (frontal bossing).

 

Sifilis Kardiovaskular

Umumnya bermanifestasi 10-20 tahun setelah infeksi. Sejumlah 10% pasien sifilis akan mengalami fase ini. Pria dan orang dengan kulit berwarna lebih banyak terkena. Jantung dan pembuluh darah, yang terkena terutama yang besar. Kematian pada sifilis terjadi akibat kelainan sistem ini.

 

Biasanya disebabkan oleh nekrosis aorta yang berlanjut ke arah katup. Tanda-tanda sifilis kardiovaskular adalah insufisiensi aorta atau aneurisma, berbentuk kantong pada aorta torakal (aneurisme aorta torakales). Secara teliti harus diperiksa kemungkinan adanya hipetensi, arteriosklerosis, dan penyakit jantung rematik sebelumnya. Bila terdapat insufisiensi aorta tanpa kelainan katup pada seseorang berusia setengah baya disertai pemeriksaan serologis yang reaktif, pertama kali harus dipikirkan sifilis kardiovaskuler sampai dapat dibuktikan lebih lanjut. Pemeriksaan serologis umumnya reaktif.

 
Neurosifilis
Penyakit ini umumnya bermanifestasi dalam 10-20 tahun setelah infeksi, walaupun T. pallidum langsung bergerak setelah infeksi ke sistem otot dan saraf. Kelainan ini lebih banyak didapat pada orang kulit putih. Neurosifilis dibagi menjadi tiga jenis, bergantung kepada tipe dan tingkat kerusakan susunan saraf pusat.

1. Neurosifilis asimtomatik.

Pemeriksaan serologis reaktif. Tidak ada tanda dan gejala kerusakan susunan saraf pusat. Pemeriksaan sumsum tulang belakang menunjukkan kenaikan sel, protein total, dan tes serologis reaktif.

2. Neurosifilis meningovaskular.

Terdapat tanda dan gejala kerusakan susunan saraf pusat, berupa kerusakan pembuluh darah serebrum, infark dan ensefalomalasia dengan tanda-tanda adanya fokus neurologis sesuai dengan ukuran dan lokasi lesi. Pemeriksaan sumsum tulang belakang menunjukkan kenaikan sel, protein total, dan tes serologis reaktif.

3. Neurosifilis parenkimatosa, yang terdiri dari paresis dan tabes dorsalis.

Paresis. Tanda dan gejala paresis sangat hanyak dan selalu menunjukkan penyebaran kerusakan parenkimatosa. Perubahan sifat diri dapat terjadi, mulai dari yang ringan hingga psikotik. Terdapat tanda-tanda fokus neurologis. Pemeriksaan sumsum tulang belakang menunjukkan kenaikan sel, protein total, dan tes serologis reaktif.

Tabes dorsalis. Tanda dan gejala pertama tabes dorsalis akibat degenerasi kolumna posterior adalah parestesia, ataksia, arefleksia, gangguan kandungan kemih, impotensi, dan perasaan nyeri seperti dipotong-potong. Pemeriksaan cairan sumsum tulang belakang abnormal pada hampir semua penderita dan pemeriksaan serologis sebagian menunjukkan reaktif.

 

Pemeriksaan Penunjang

Diagnosis pasti sifilis ditegakkan bila dapat ditemukan T. pallidum. Pemeriksaan laboratorium dengan mikroskop lapangan gelap sampai 3 kali (3 hari secara berturut-turut). Pemeriksaan lain ialah menurut Burri, kerugiannya dikarenakan kuman telah mati. Tes serologik untuk sifilis (TSS) atau serologic test for syphillis (STS) yang klasik umumnya masih negatif pada saat lesi primer, dan menjadi positif setelah 1-4 minggu kemudian.

 

TSS dibagi dua, yakni nontreponemal (nonspesifik) dan treponemal (spesifik). Sebagai antigen pada TSS nonspesifik digunakan ekstrak jaringan, misalnya veneral disease re­search laboratory (VDRL), rapid plasma reagen (RPR), dan ikatan komplemen Wasser­mann/Kolmer. TSS nonspesifik akan menjadi negatif 3-8 bulan setelah pengobatan berhasil sehingga dapat digunakan untuk menilai keberhasilan pengobatan.

 

Pada TSS spesifik, sebagai antigen digunakan treponema atau ekstraknya, misalnya Treponema pallidum hemagglutination assay (TPHA) dan Treponema pallidum immunobilization (TPI). Walaupun diberikan pengobatan pada stadium dini, TSS spesifik akan tetap positif, bahkan dapat seumur hidup sehingga lebih bermakna untuk membantu diagnosis.

 
Diagnosis
Diagnosis berdasarkan anamnesis dan gambaran klinis, pemeriksaan mikroskop lapangan gelap atau pewarnaan Burri, pemeriksaan darah (TSS), pemeriksaan likuor serebrospinalis, dan pemeriksaan Rontgen.

 
Penatalaksanaan
1. Medikamentosa:

  • Sifilis primer dan sekunder

§ Penisilin benzatin G dosis 4,8 juta unit injeksi intramuskular (2,4 juta unit/kali) dan diberikan satu kali seminggu, atau

§ Penisilin prokain dalam aqua dengan dosis 600.000 unit injeksi intramuskular sehari selama 10 hari, atau

§ Penisilin prokain + 2% aluminium monostearat, dosis total 4,8 juta unit, diberikan 2,4 juta unit/kali sebanyak 2 kali seminggu.

  • Sifilis laten

§ Penisilin benzatin G dosis total 7,2 juta unit, atau

§ Penisilin G prokain dalam aqua dengan dosis total 12 juta unit (600.000 unit sehari), atau

§ Penisilin prokain + 2% aluminium monostearat, dosis total 7,2 juta unit (diberikan l,2 juta unit/kali, 2 kali seminggu).

  • Silis III

§ Penisilin benzatin G dosis total 9,6 juta unit, atau

§ Penisilin G prokain dalam aqua dengan dosis total 18 juta unit (600.000 unit sehari), atau

§ Penisilin prokain + 2% aluminium monostearat, dosis total 9,6 juta unit (diberikan 1,2 juta unit/kali, 2 kali seminggu).

  • Untuk pasien silis I dan II yang alergi terhadap penisilin, dapat diberikan:

§ Tetrasiklin* 500 mg per oral 4 kali sehari selama 15 hari, atau

§ Eritromisin 500 mg per oral 4 kali sehari selama 15 hari, atau

Untuk pasien silis laten lanjut (> 1 tahun) yang alergi terhadap penisilin, dapat diberikan:

§ Tetrasiklin* 500 mg per oral 4 kali sehari selama 30 hari, atau

§ Eritromisin 500 mg per oral 4 kali sehui selama 30 hari, atau

* Obat ini tidak boleh diberikan kepada wanita hamil, menyusui, dan anak-anak.

2. Pemantauan serologik dilakukan pada bulan I, II, VI, dan XII tahun pertama, dan setiap 6 bulan pada tahun kedua.

3. Nonmedikamentosa:

Memberikan pendidikan kepada pasien dengan menjelaskan hal-hal sebagai berikut:

  • Bahaya PMS dan komplikasinya
  • Pentingnya mematuhi pengobatan yang diberikan
  • Cara penularan PMS dan perlunya pengobatan untuk pasangan seks tetapnya
  • Hindari hubungan seksual sebelum sembuh, dan memakai kondom jika tak dapat menghindarkan lagi
  • Cara-cara menghindari infeksi PMS di masa datang

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

IMPORTANT! To be able to proceed, you need to solve the following simple math (so we know that you are a human) :-)

What is 12 + 15 ?
Please leave these two fields as-is: