Diabetes Melitus Gestasional

  • Sharebar

Definisi

Diabetes melitus gestasional (DMG) adalah intoleransi karbohidrat ringan (toleransi glukosa terganggu) maupun berat (diabetes melitus), terjadi atau diketahui pertama kali saat kehamilan berlangsung. Definisi ini mencakup pasien yang sudah mengidap diabetes melitus (tetapi belum terdeteksi) yang baru diketahui saat kehamilan ini dan yang benar-benar menderita DM akibat hamil (DMG sesuai definisi lama WHO 1980). Sesudah kehamilan selesai, kondisi pasti ditentukan berdasarkan tes toleransi glukosa oral (TTGO).

 

Di Indonesia dengan menggunakan kriteria diagnosis O’Sullivan-Mahan dilaporkan prevalensi DMG antam 1,9-3,6 %.

 

Patofisiologi

Selain perubahan hormonal dan metabolik yang normal, pada kehamilan didapatkan jumlah/fungsi insulin ibu yang tidak optimal sehingga terjadi berbagai kelainan yang menyebabkan berbagai komplikasi pada ibu dan janin.

 

Diagnosis

Deteksi dini sangat diperlukan untuk menjaring DMG agar dapat dikelola sebaik-baiknya. Terutama dilakukan pada ibu dengan faktor risiko berupa beberapa kali keguguran, riwayat pernah melahirkan anak mati tanpa sebab jelas, riwayat pernah melahirkan bayi dengan cacat bawaan, pernah melahirkan bayi > 4.000 g, riwayat preeklampsia, dan polihidramnion. Juga terdapat riwayat ibu: umur ibu hamil > 30 tahun, riwayat DM dalam keluarga, riwayat DMG/TGT pada kehamilan sebelumnya, obesitas, riwayat berat badan lahir > 4500 g, dan infeksi saluran kemih berulang selama hamil. PERKENI menganjurkan pemeriksaan sejak awal asuhan antenatal dan diulang pada usia kehamilan 26-28 minggu (hasil positif tertinggi) bila hasilnya negatif. Pemeriksaan berdasarkan modifikasi WHO-PERKENI yang dianjurkan adalah pemeriksaan kadar glukosa 2 jam pasca beban glukosa 75 g dan hasilnya digolongkan dalam kriteria sebagai berikut:

 

Glukosa darah Kriteria

>200 mg/dl Diabetes melitus

140-200 mg/dl Toleransi glukosa terganggu:

<140 mg/dl Normal

 

Komplikasi

Maternal: infeksi saluran kemih, hidramnion, hipertensi kronik, preeklampsia, kematian ibu.

Fetal: abortus spontan, kelainan kongenital, insufisiensi plasenta, makrosomia, kematian intrauterin.

Neonatal: prematuritas, kematian intrauterin, kematian neonatal, trauma lahir, hipoglikemia, hipomagnesemia, hipokalsemia, hiperbilirubinemia, sindroma gawat napas, polisitemia.

 

Penatalaksanaan

Prinsipnya adalah mencapai sasaran normoglikemia, yaitu kadar glukosa darah puasa < 105 mg/dl, dua jam sesudah makan <120 mg/dl, dan kadar HbA1c < 6%. Selain itu juga menjaga agar tidak ada episode hipoglikemia, tidak ada ketonuria, dan pertumbuhan fetus normal. Pantau kadar glukosa darah minimal 2 kali seminggu dan kadar Hb glikosilat. Ajarkan pasien memantau gula darah sendiri di rumah dan anjurkan untuk kontrol 2-4 minggu sekali, bahkan lebih sering lagi saat mendekati persalinan.

 

Untuk mencapai sasaran tersebut dapat dilakukan perencanaan makan yang sesuai dengan kebutuhan, pemantauan glukosa darah sendiri di rumah, dan pemberian insulin bila perlu. Obat hipoglikemik oral tidak dipakai saat hamil dan menyusui mengingat efek teratogenitas dan dikeluarkan melalui ASI.

 

Trimester pertama usahakan kenaikan berat badan 1-2,5 kg, dan selanjutnya sekitar 0,5 kg per minggu. Secara umum pada akhir kehamilan berat badan ibu naik sekitar 10- 12 kg.

 

Perencanaan Makan

Sampai saat ini belum ada daftar perencanaan makan untuk wanita hamil versi Indonesia. Cara yang disusun sama dengan perencanaan makan pasien diabetes yang tidak hamil, yaitu makanan yang seimbang.

 

Jumlah kalori yang dianjurkan 35 kal/kg BB ideal, kecuali pada penderita gemuk, pertimbangkan kalori yang sedikit lebih rendah. Kebutuhan kalori merupakan jumlah keseluruhan kalori yang diperhitungkan dari kalori basal 25 kal/kg BB ideal, kalori untuk kegiatan jasmani 10-30%, dan penambahan kalori untuk pertumbuhan janin yang sedang dikandung 300 kal/hari, bila menyusui 500 kal/hari.

 

Komposisi dan pembagian porsi makanan selama sehari sama dengan yang dianjurkan pada wanita tidak hamil.

 

Insulin

Bila dengan perencanaan makan selama dua minggu tidak tercapai sasaran normoglikemia, insulin harus segera dimulai. Cara pemberian sama dengan pasien DM lain, tujuannya mencapai kadar glukosa sebaik mungkin sampai sasaran yang ditentukan, tanpa episode hipoglikemia. Untuk mencegah timbulnya antibodi terhadap insulin yang dapat menembus sawar ari, harus dipakai insulin manusia. Dimulai dengan dosis kecil, bertambah dengan meningkatnya usia kehamilan.

 

Umumnya pada DMG cukup diberikan insulin kerja menengah dosis rendah satu atau dua kali sehari.

 

Penatalaksanaan Obstetri

Pantau ibu dan janin dengan mengukur tinggi fundus uteri mendengar bunyi jantung janin, dan secara khusus memakai USG dan KTG. Nilai janin secara menyeluruh dengan skor fungsi dinamik janin plasenta (FDJP). Skor kurang dari 5 merupakan tanda gawat janin. Lakukan penilaian setiap akhir minggu sejak usia kehamilan 36 minggu. Adanya makrosomia, pertumbuhan janin terharnbat, dan gawat janin merupakan indikasi seksio sesaria. Janin sehat (skor FDJP lebih dari 9) dapat dilahirkan pada umur kehamilan cukup waktu (40-42 minggu) dengan persalinan biasa.

 

Ibu hamil dengan DMG tidak perlu dirawat bila keadaan diabetesnya terkendali baik, namun harus selalu diperhatikan gerak janin (normal >20 kali/12 jam). Bila diperlukan terminasi kehamilan, lakukan amniosentesis dahulu untuk memastikan kematangan janin (bila usia kehamilan kurang dari 38 minggu). Kehamilan dengan DMG yang berkomplikasi harus dirawat sejak usia kehamilan 34 minggu dan biasanya memerlukan insulin.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

IMPORTANT! To be able to proceed, you need to solve the following simple math (so we know that you are a human) :-)

What is 11 + 12 ?
Please leave these two fields as-is: