Elektrokardiografi

  • Sharebar
Definisi
Elektrokardiografi (EKG) adalah pencatatan potential bioelektrik yang dipancarkan jantung melalui elektroda-elektroda yang diletakkan pada posisi di permukaan tubuh.

 
Sadapan EKG
Terdapat dua jenis sadapan pada EKG:

1. Sadapan bipolar: merupakan beda potential antara dua elektroda. Terdiri dari:

o Sadapan I: berasal dari elektroda lengan kanan (Right Arm, RA) yang berkutub negatif dengan elektroda lengan kiri (Left Arm, LA) yang berkutub positif.

o Sadapan II: berasal dari elektroda lengan kanan yang berkutub negatif dengan elektroda tungkai kiri (Left Leg, LL) yang berkutub positif

o Sadapan III: berasal dari elektroda lengan kiri yang berkutub negatif dengan elektroda tungkai kiri (Left Leg, LL) yang berkutub positif

2. Sadapan unipolar: merupakan beda potensial antara satu elektroda aktif dan satu elektroda indiferen (potensial = 0). Terdiri dari:

a. Sadapan ekstremitas unipolar. Sadapan ini meliputi:

o aVR (augmented Voltage Right Arm). Elektroda (+) pada RA, elektroda (-) gabungan LL dan LA

o aVL (augmented Voltage Left Arm). Elektroda (+) pada LA, elektroda (-) gabungan LL dan RA

o aVF (augmented Voltage Foot). Elektroda (+) pada LL, elektroda (-) gabungan RA dan LA

b. Sadapan prekordial

 
Pemeriksaan EKG
1. Persiapan alat-alat yang dibutuhkan

a. Elektrokardiografi dengan perlengkapannya:

o Elektroda untuk pergelangan tangan dan kaki

o Elektroda isap prekordial

o Kabel untuk penghubung ke pasien dan kabel penghubung ke tanah (grounding)

o Sumber listrik

b. Kapas dan alkohol

c. Tempat tidur pasien. Perhatikan bahwa tempat tidur tidak bersentuhan dengan dinding yang mengandung kabel beraliran listrik.

d. Jeli atau pasta elektrolit.

2. Persiapan pasien

a. Pasien disuruh berbaring terlentang di tempat tidur. Idealnya pasien dalam keadaan santai, tidak terlalu kenyang atau pun lapar.

b. Kulit di kedua pergelangan tangan dan kaki dibersihkan dengan kapas beralkohol.

3. Persiapan ruangan

a. Suasana tempat pemeriksaan sebaiknya sejuk, tenang dan nyaman.

b. Alat-alat listrik yang ada dalam ruangan dapat mengganggu pemeriksaan.

4. Oleskan keempat elektroda pergelangan anggota gerak dan elektroda prekordial dengan jeli yang mengandung elektrolit secara merata dan pasanglah elektroda sesuai ketentuan yang berlaku.

5. Hubungkan kabel penghubung ke pasien dengan elektroda sebagai berikut:

a. Umumnya kabel bertanda garis merah (RA, right arm) dihubungkan dengan elektroda di pergelangan lengan kanan.

b. Umumnya kabel bertanda garis kuning (LA, left arm) dihubungkan dengan elektroda di pergelangan tangan kiri.

c. Umumnya kabel bertanda garis hijau (LL, left leg) dihubungkan dengan elektroda di pergelangan kaki kiri.

d. Umumnya kabel bertanda garis hitam (RL, right leg) dihubungkan dengan elektroda di pergelangan kaki kanan.

e. Kabel C1 -C6 dihubungkan dengan elektroda isap di V1 -V6.

6. Pencatatan EKG

a. Mulailah dengan penetapan kecepatan (standar 25 mm/detik) dan peneraan kepekaan alat.

b. Atur standar amplitudo pada 1 mV untuk semua sadapan, dan posisi tinta EKG di tengah-tengah kertas.

c. Dengan menekan tombol yang sesuai, dicatat secara berturut-turut:

o Sadapan standar Einthoven: I, II, III

o Sadapan augmented extremity leads: aVR, aVL, dan aVF

o Sadapan prekordial: V1 -V6

d. Bila terdapat perubahan amplitudo, tera alat untuk amplitudo yang diinginkan sehingga menunjukkan amplitudo yang seharusnya sebelum dimulai perekaman.

e. Setiap sadapan dicatat 3-5 siklus.

f. Apabila terdapat aritmia, dibuat rekaman pada sadapan II sepanjang 1 menit.

g. Periksa kembali hasil pencatatan.

h. Tera kembali 1 mV.

i. Cantumkan identitas (nama dan umur) serta waktu pemeriksaan (tanggal dan jam) pada kertas EKG.

7. Setelah selesai pencatatan, tara kembali alat. Bersihkan pasta yang menempel, lepas semua elektroda yang terpasang, dan matikan sumber listrik

 

Interpretasi Hasil EKG

Interpretasi hasil EKG tidak dapat dilepaskan dari keadaan klinis pasien. Berikut disampaikan interpretasi sederhana dan cepat. Beberapa kelainan EKG ditulis pada topik yang sesuai.

 

A. Satuan dalam Grafik EKG
Gambar Elektrokardiogram
B. Sistematika

1. Irama (Rhythm)

Tentukan irama sinus atau bukan. Irama sinus ditandai oleh adanya gelombang P yang diikuti oleh kompleks QRS. P di aVR biasanya negatif dan P di aVF positif

a. Irama sinus

Frekuensi atrium dan ventrikel yang sama dan teratur; gelombang P normal dan interval PR yang normal pula.

o Sinus bradikardi – irama sinus, frekuensi < 60.

o Sinus takikardi – irama sinus, frekuensi > 100.

o Sinus aritmia – irama sinus dengan variasi frekuensi, biasanya berhubungan dengan pernapasan. Frekuensi meningkat dengan inspirasi dan melambat dengan ekspirasi.

2. Laju QRS (frekuensi). Laju QRS berkisar antara 60-l00 kali/menit. Bila kurang dari 60 kali/menit disebut bradikardi, lebih dari 100 kali/menit disebut takikardi.

Cara menghitung laju QRS (dalam satuan kali/menit)

Frekuensi = 300/2 jumlah kotak besar

= 1.500/kotak kecil

= jumlah gelombang QRS dalam 30 kotak besar dikalikan 10.

3. Tentukan aksis EKG.

Periksa kompleks QRS misalnya di I dan aVF. Aksis normal berkisar antara -30 derajat sampai +110 derajat. Lebih dari -30 derajat disebut deviasi aksis kiri (Left Axis Deviation, LAD), lebih dari +110 derajat disebut deviasi aksis kanan (Right Axis Deviation, RAD), dan bila lebih dari +180 derajat disebut aksis superior.

4. Periksa gelombang P.

Gelombang P tegak (positif) di sadapan I, II, aVF, V2-6; terbalik di aVR; mungkin tegak, bifasik, atau terbalik (negatif) di III, aVL dan V 1.

5. Periksa gelombang Q

a. Gelombang q kecil biasanya terlihat di sadapan I, II, aVF dan V4-6. Durasinya < 0,03 detik dan tinggi/dalam/amplitudo tidak lebih dari 25% tinggi gelombang R dalam satu kompleks QRS. Gelombang Q dalam ukuran bervariasi normal di sadapan aVR.

b. Gelombang Q besar yaitu durasi 0,04 detik atau 25% lebih besar dari gelombang R dapat terlihat di III sendiri. Tidak dapat diambil kesimpulan dari hanya penemuan itu sendiri. Bila gelombang Q abnormal ditemukan juga di aVF, disamping pada sadapan III, bermakna untuk diagnosis.

c. Gelombang Q besar di aVL dapat saja normal. Tidak dapat diambil kesimpulan dari hanya penemuan itu sendiri. Gelombang Q yang abnormal ditemukan disadapan I atau prekordial adalah diagnostik.

d. Kompleks QS (seluruhnya negatif) seringkali normal di V1 dan kadang-kadang di V2.

6. Periksa gelombang R

Gelombang R merupakan gelombang yang dominan (terbesar) di sadapan I dan V4-6. Gelombang ini merupakan gelombang di sadapan I, II dan aVF pada posisi jantung vertikal dan di sadapan I dan aVL pada posisi jantung horizontal. Gelombang r kecil di V1 dan membesar secara progresif di sadapan V2-4.

7. Periksa gelombang S

Gelombang S merupakan gelombang yang dominan di sadapan V1-3. Gelombang ini menjadi kecil secara progresif mulai dari V3-6. Gelombang S mungkin ditemukan di sadapan I, II dan selalu lebih kecil daripada gelombang R pada masing-masing sadapan. Gelombang S merupakan gelombang yang dominan di sadapan III dan aVF pada posisi jantung horizontal dan di sadapan aVL poda posisi jantung vertikal. Gelombang ini dominan di aVR.

8. Periksa gelombang T

Gelombang T tegak di I, II, aVF dan V2-6 dan di aVR. Gelornbang itu mungkin tegak, bifasik, atau di III, aVL dan V1.

9. Periksa gelombang U

Gelombang U seringkali tidak terlihat. Apabila terlihat, gelombang ini merupakan gelombang defleksi tegak yang kecil dengan amplitudo rendah dibandingkan gelombang T pada sadapan yang sama. Gelombang ini biasanya terlihat di sadapan V2-4.

10. Periksa interval PR. Interval ini diukur dari awal gelombang P sampai ke awal gelombang q (atau gelombang R jika q tidak ditemukan). Normal 0,12-0,20 detik. Lebih dari 0,2 detik disebut blok AV derajat I.

11. Periksa interval QRS. Bila lebih dari 0,1 detik harus dicari apakah ada Right Bundle Branch Block (RBBB), Left Bundle Branch Block (LBBB) atau ventrikel ekstrasistolik. (Lihat kriteria RBBB, LBBB dan ventrikel ekstrasistolik).

12. Periksa segmen ST

Pengukuran dimulai dari akhir kompleks QRS sampai awal gelombang T. Biasanya isoelektrik. Segmen ini dapat meningkat sampai 1 mm atau turun sampai 0,5 mm.

 

Varian Normal EKG

Ada beberapa faktor tertentu yang mempengaruhi gambaran normal, namun perubahan tersebut masih dalam variasi normal. Faktor-faktor tersebut adalah:

A. Pernapasan

Pada pernapasan kadang terlihat tendensi deviasi jantung ke kiri pada sadapan III. Gelombang Q pada hantaran III sering muncul dalam dan lebar, dapat dihilangkan dengan bernapas dalam.

B. Bentuk tubuh

Pada tubuh yang kurus sering dijumpai deviasi jantung ke kanan, karena letak diafragma yang rendah. Gelombang P pada hantaran II, III, dan aVF tampak lebih besar. Sebaliknya pada orang yang gemuk, hamil, atau asites (diafragma terangkat ke atas), sering ditemukan deviasi jantung ke kiri.

C. Makan

Gambaran EKG segera setelah makan sering menunjukkan gelombang T yang mendatar atau sedikit terbalik pada hantaran ekstremitas dan prekordial V2-V5. Hal ini terutama tampak pada anak-anak.

D. Kerja fisik

Pengaruh kerja fisik adalah meningkatkan aktivitas simpatis. Frekuensi denyut jantung meningkat, tampak gambaran sinus takikardi pada EKG. Selain itu dapat ditemukan amplitudo gelombang P di hantaran II, III, aVF yang meningkat, interval RR, PR, dan QT memendek sesuai dengan peningkatan frekuensi detak jantung, deviasi jantung ke kanan, dan gelombang T yang mendatar di hampir semua hantaran. Gambaran serupa dapat ditemukan pasien hipertiroid dan emosi yang meningkat.

E. Usia

Frekuensi denyut jantung anak jauh lebih besar dibanding orang dewasa (usia 1 tahun 130-140 kali/menit, usia 6-9 tahun 100 kali/menit) sehingga semua interval akan memendek. Pada bayi baru lahir sering dijumpai deviasi ke kanan. Dengan meningkatnya usia, sumbu jantung bergeser menjadi vertikal dan intermediate. Di atas usia 40 tahun jantung berdeviasi ke kiri, dan di atas usia 70 tahun sumbu listrik berputar ke arah posterosuperior, nilai interval memanjang, amplitudo QRS dan gelombang T mengecil atau mendatar.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

IMPORTANT! To be able to proceed, you need to solve the following simple math (so we know that you are a human) :-)

What is 6 + 11 ?
Please leave these two fields as-is: