Erupsi Alergi Obat

  • Sharebar
Definisi
Erupsi alergi obat (allergic drug eruption) ialah reaksi alergi pada kulit atau daerah mukokutan yang terjadi sebagai akibat pemberian obat.

 
Patogenesis
Mekanisme terjadinya erupsi alergi obat dapat terjadi secara nonimunologik dan imunologik (alergik), tetapi sebagian besar merapakan reaksi imunologik. Pada mekanisme imunologik, erupsi alergi obat terjadi pada pemberian obat kepada pasien yang sudah tersensitasi dengan obat tersebut. Obat dengan berat molekul yang rendah awalnya berperan sebagai antigen yang tidak lengkap (hapten). Obat atau metabolitnya yang berupa hapten ini harus berkonjugasi dahulu dengan protein, misalnya jaringan, serum, atau protein dari membran sel untuk membentuk antigen, yaitu kompleks hapten protein. Obat dengan berat molekul yang tinggi dapat berfungsi langsung sebagai antigen lengkap.

 

Obat-obat yang sering menyebabkan alergi ialah penisilin dan derivatnya (ampisilin, amoksisilin, kloksasilin), sulfonamid, golongan analgetik dan antipiretik, misalnya asam salisilat, metamizol, metampiron, parasetamol, fenilbutazon, piramidon, dan tetrasiklin.

 

Ada 4 tipe reaksi alergi terhadap obat (Coombs dan Gell).

 
Manifestasi Klinis
Alergi terhadap satu macam obat dapat memberikan gambaran klinis yang beraneka ragam. Sebaiknya, gambaran klinis yang sama dapat disebabkan oleh alergi pelbagai macam obat.

o Urtikaria, terdiri atas urtika berupa eritema dan edema yang berbatas tegas akibat tertimbunnya serum dan disertai rasa gatal. Urtikaria dapat disebabkan alergi terhadap hawa udara, makanan, dan infeksi fokal lain.

o Eritema, yaitu kemerahan pada kulit akibat melebarnya pembuluh darah yang akan hilang pada penekanan. Ukuran eritema dapat bermacam-macam, bila besarnya lentikular disebut eritema morbiliformis dan bila besamya numular disebut eritema skarlatiniformis. Eritema pada erupsi alergi obat berbeda dengan penyakit morbili di mana pada morbili terdapat demam tinggi dan tidak terdapat rasa gatal.

o Dermatitis medikamentosa dengan gambaran klinis berupa dermatitis akut, yaitu efloresensi polimorfi, membasah, dan berbatas tegas. Kelainan kulit terjadi menyeluruh dan simetris.

o Purpura, yaitu perdarahan di dalam kulit yang disebabkan oleh peningkatan permeabilitas kapiler berupa kemerahan yang tidak hilang bila ditekan. Purpura dapat terjadi bersama­-sama dengan eritema. Purpura dapat disebabkan oleh penyakit yang menyebabkan faktor pembekuan darah terganggu.

o Eksantema fikstum (fixed exanthem, fixed drug eruption), kelainan ini berupa eritema dan vesikel berbentuk bulat atau lonjong berukuran numular. Dapat berupa bercak hiperpigmentasi yang lama baru menghilang bahkan sering menetap. Disebut eksantema fikstum karena kelainan ini akan timbul berkali-kali (residif) pada tempat yang sama jika mengalami alergi obat. Tempat predileksi di sekitar mulut, terutama di daerah bibir dan daerah penis pada laki-laki, sehingga sering disangka penyakit kelamin.

o Eritema nodosum, kelainan ini berupa eritema dan nodus-nodus yang nyeri diserta gejala umum berupa demam dan malaise. Tempat predileksi di daerah ekstensor tungkai bawah. Eritema nodosum juga dapat disebabkan oleh penyakit lain, misalnya tuberkulosis, infeksi streptokok, dan lepra.

o Eritroderma, yaitu eritema di seluruh tubuh atau hampir seluruh tubuh yang biasanya disertai skuama. Selain akibat alergi obat, kelainan ini juga dapat disebabkan oleh berbagai penyakit lain, misalnya meluasnya dermatosis yang sudah ada pada psoriasis, penyakit sistemik berupa keganasan pada sistem limforetikular (penyakit Hodgkin, leukemia). Pada eritroderma karena alergi obat terlihat adanya eritema tanpa skuama; skuama baru timbul pada stadium penyembuhan.

o Kelainan lain yang dapat terjadi adalah eritema multiforme, sindrom Stevens Johnson, dan nekrolisis epidemal toksik (sindrom Lyell).

 
Diagnosis
Dasar diagnosis erupsi alergi obat ialah didapatkan riwayat penggunaan obat-obat disertai kelainan kulit yang timbul baik secara akut maupun yang timbul beberapa hari sesudah penggunaan obat. Rasa gatal dapat terjadi disertai demam yang biasanya subfebril. Distribusi kelainan kulit yang ditemukan dapat menyeluruh dan simetrik dengan berbagai bentuk kelainan yang timbul.

 

Saat ini belum ditemukan cara yang cukup sensitif dan dapat diandalkan untuk mendeteksi erupsi alergi obat.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilaksanakan untuk memastikan penyebab erupsi obat alergik adalah:

1. Pemeriksaan in vivo

  • Uji tempel (patch test)
  • Uji tusuk (prick/scratch test)
  • Uji provokasi (exposure test)

Pemeriksaan ini memerlukan persiapan untuk menghadapi kemungkinan reaksi anafilaktik.

2. Pemeriksaan in vitro

  1. Yang diperantarai antibodi:

o Hemaglutinasi pasif

o Radio immunoassay

o Degranulasi basofil

o Tes fiksasi komplemen

  1. Yang diperantarai sel:

o Tes transformasi limfosit

o Leucocyte migration inhibition test

Pemilihan pemeriksaan penunjang didasarkan atas mekanisme imunologik yang mendasari erupsi obat.

 

Pengobatan

Sistemik

o Kortikosteroid. Pada kelainan urtikaria, eritema, dermatitis medikamentosa fikstum dosis standar untuk orang dewasa ialah 3 x 10 mg prednison sehari ( 1 tablet = 5 mg). Pada eritrodermia dosisnya ialah 3-4 x 10 mg sehari.

o Antihistamin. Antihistamin yang bersifat sedatif dapat juga diberikan, jika terdapat rasa gatal. Kecuali pada urtikaria, efeknya kurang kalau dibandingkan dengan kortikosteroid.

 
Topikal
Pengobatan topikal bergantung pada keadaan kelainan kulit. Bila kulit dalam keadaan kering, seperti pada eritema dan urtikaria, dapat diberikan bedak seperti bedak salisilat 2% ditambah dengan obat antipruritus, misalnya mentol ½ -2% untuk mengurangi rasa gatal. Bila kulit basah seperti pada dermatitis medikamentosa dapat digunakan kompres misalnya kompres larutan asam salisilat 1o/oo.

 

Purpura dan eritema nodosum memerlukan pengobatan topikal. Pada eksantema fikstum, bila kelainan kulit membasah dapat diberi kompres dan bila kering dapat diberi krim kortikosteroid, misalnya krim hidrokortison 1 % atau 2 1/2 %.

 

Pada eritroderma dengan eritema yang menyeluruh dan skuamasi, dapat diberi emolien, misalnya salep lanolin 10% yang dioleskan sebagian-sebagian.

 

Prognosis

Erupsi alergi obat akan sembuh dalam 2 minggu bila penyebabnya dapat diketahui dan segera disingkirkan. Beberapa reaksi seperti anafilaktik, eritroderma eksfoliatif, sindrom Stevens-Johnson, atau nekrolisis epidermal toksik dapat mengancam hidup, tergantung pada luas kulit yang terkena.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

IMPORTANT! To be able to proceed, you need to solve the following simple math (so we know that you are a human) :-)

What is 14 + 15 ?
Please leave these two fields as-is: