Fraktur Femur

  • Sharebar

Dibagi menjadi:

1. Fraktur batang femur

2. Fraktur kolum femur

 

Fraktur Batang Femur

Fraktur batang femur mempunyai insidens yang cukup tinggi di antara jenis jenis patah tulang. Umumnya fraktur femur terjadi pada batang femur 1/3 tengah. Fraktur di daerah kaput, kolum, trokanter, subtrokanter, suprakondilus biasanya memerlukan tindakan operatif.

 
Manifestasi Klinis
Daerah paha yang patah tulangnya sangat membengkak, ditemukan tanda functio laesa, nyeri tekan, dan nyeri gerak. Tampak adanya deformitas angulasi ke lateral atau angulasi anterior, endo/eksorotasi. Ditemukan adanya perpendekan tungkai bawah. Pada fraktur 1/3 tengah femur, saat pemeriksaan harus diperhatikan pula kemungkinan adanya dislokasi sendi panggul dan robeknya ligamentum di daerah lutut. Selain itu periksa juga keadaan nervus siatika dan arteri dorsalis pedis.

 

Penatalaksanaan

Pada fraktur femur tertutup, untuk sementara dilakukan traksi kulit dengan metode ekstensi Buck, atau didahului pemakaian Thomas splint, tungkai ditraksi dalam keadaan ekstensi. Tujuan traksi kulit tersebut untuk mengurangi rasa sakit dan mencegah kerusakan jaringan lunak lebih lanjut di sekitar daerah yang patah.

 

Setelah dilakukan traksi kulit dapat dipilih pengobatan non-operatif atau operatif. Fraktur batang femur pada anak-anak umumnya dengan terapi non-operatif, karena akan menyambung baik. Perpendekan kurang dari 2 cm masih dapat diterima karena di kemudian hari akan sama panjangnya dengan tungkai yang normal. Hal ini dimungkinkan karena daya proses remodeling pada anak-anak.

a. Pengobatan non-operatif

Dilakukan traksi skeletal, yang sering metode Perkin dan metode balance skeletal trac­tion, pada anak di bawah 3 tahun digunakan traksi kulit Bryant, sedangkan pada anak usia 3 – 13 tahun dengan traksi Russell.

o Metode Perkin. Pasien tidur telentang. Satu jari di bawah tuberositas tibia dibor dengan Steinman pin, lalu ditarik dengan tali. Paha ditopang dengan 3 – 4 bantal. Tarikan dipertahankan sampai 12 minggu lebih sampai terbentuk kalus yang cukup kuat. Sementara itu tungkai bawah dapat dilatih untuk gerakan ekstensi dan fleksi.

o Metode balance skeletal traction. Pasien tidur telentang. Satu jari di bawah tuber­ositas tibia dibor dengan Steinman pin. Paha ditopang dengan Thomas splint, sedang tungkai bawah ditopang oleh Pearson attachment. Tarikan dipertahankan sampai 12 minggu atau lebih sampai tulangnya membentuk kalus yang cukup. Kadang-kadang untuk mempersingkat waktu rawat, setelah ditraksi 8 minggu, di pasang gips hemispica atau cast bracing.

o Traksi kulit Bryant. Anak tidur telentang di tempat tidur. Kedua tungkai dipasang traksi kulit, kemudian ditegakkan ke atas, ditarik dengan tali yang diberi beban 1 – 2 kg sampai kedua bokong anak tersebut terangkat dari tempat tidur.

o Traksi Russel. Anak tidur telentang. Dipasang plester dari batas lutut. Dipasang sling di daerah popliteal, sling dihubungkan dengan tali yang dihubungkan dengan beban penarik. Untuk mempersingkat waktu rawat, setelah 4 minggu ditraksi, dipasang gips hemispica karena kalus yang terbentuk belum kuat benar.

b. Operatif

Indikasi operasi antara lain:

o Penanggulangan non-operatif gagal

o Fraktur multipel

o Robeknya arteri femoralis

o Fraktur patologik

o Fraktur pada orang-orang tua.

 

Pada fraktur femur 1/3 tengah sangat baik untuk dipasang intramedullary nail. Terdapat bermacam-macam intramedullary nail untuk femur, di antaranya Kuntscher nail, AO nail, dan interlocking nail.

 

Operasi dapat dilakukan dengan cara terbuka atau cara tertutup. Cara terbuka yaitu dengan menyayat kulit-fasia sampai ke tulang yang patah. Pen dipasang secara retrograd. Cara interlocking nail dilakukan tanpa menyayat di daerah yang patah. Pen dimasukkan melalui ujung trokanter mayor dengan bantuan image intensifier. Tulang dapat direposisi dan pen dapat masuk ke dalam fragmen bagian distal melalui guide tube. Keuntungan cara ini tidak menimbulkan bekas sayatan lebar dan perdarahan terbatas.

 
Komplikasi
Komplikasi dini dari fraktur femur ini dapat terjadi syok, dan emboli lemak. Sedangkan komplikasi lambat yang dapat terjadi delayed union, non-union, malunion, kekakukan sendi lutut, infeksi, dan gangguan saraf perifer akibat traksi yang berlebihan.

 

Fraktur Kolum Femur

Dapat terjadi akibat trauma langsung, pasien terjatuh dengan posisi miring dan trokanter mayor langsung terbentur pada benda keras seperti jalanan. Pada trauma tidak langsung, fraktur kolum femur terjadi karena gerakan eksorotasi yang mendadak dari tungkai bawah. Kebanyakan fraktur ini terjadi pada wanita tua yang tulangnya sudah mengalami osteoroporosis.

 

Fraktur kurang stabil bila arah sudut garis patah lebih besar dari 30° (tipe II atau tipe III menurut Pauwel). Fraktur subkapital yang kurang stabil atau fraktur pada pasien tua lebih besar kemungkinannya untuk terjadinya nekrosis avaskular.

 
Manifestasi Klinis
Pada pasien muda biasanya mempunyai riwayat kecelakaan berat, sedangkan pasien tua biasanya hanya riwayat trauma ringan, misalnya terpeleset. Pasien tak dapat berdiri karena sakit pada panggul. Posisi panggul dalam keadaan fleksi dan endorotasi. Tungkai yang cedera dalam posisi abduksi, fleksi, dan eksorotasi, kadang juga terjadi pemendekan. Pada palpasi sering ditemukan adanya hematoma di panggul. Pada tipe impaksi biasanya pasien masih bisa berjalan disertai sakit yang tidak begitu hebat. Tungkai masih tetap dalam posisi netral.

 
Penatalaksanaan
Konservatif dengan traksi kulit selama 3 minggu, dilanjutkan latihan jalan dengan tongkat (do nothing) atau operasi prostesis Austin Moore hemi artroplasti (do something).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

IMPORTANT! To be able to proceed, you need to solve the following simple math (so we know that you are a human) :-)

What is 10 + 12 ?
Please leave these two fields as-is: