Hematemesis Melena

  • Sharebar

Definisi

Perdarahan saluran cerna bagian atas (SCBA) merupakan keadaan gawat darurat yang sering dijumpai di tiap rumah sakit di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Perdarahan dapat terjadi antara lain karena pecahnya varises esofagus, gastritis erosif, atau ulkus peptikum. Delapan puluh enam persen dari angka kematian akibat perdarahan SCBA di Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM berasal dari pecahnya varises esofagus akibat penyakit sirosis hati dan hepatoma.

 

Perdarahan SCBA dapat bermanifestasi sebagai hematemesis, melena, atau keduanya. Di Indonesia sebagian besar (70-85%) hematemesis disebabkan oleh pecahnya varises esofagus yang terjadi pada pasien sirosis hati, sehingga prognosisnya tergantung dari penyakit yang mendasarinya.

 

Walaupun sebagian besar perdarahan akan berhenti sendiri, tetapi sebaiknya perdarahan saluran cerna dianggap sebagai suatu keadaan serius yang setiap saat dapat membahayakan pasien. Setiap pasien dengan perdarahan harus dirawat di rumah sakit tanpa kecuali, walau pun perdarahan dapat berhenti secara spontan. Hal ini harus ditanggulangi dengan seksama dan secara optimal untuk mencegah perdarahan lebih banyak, syok hemoragik, dan akibat lain yang berhubungan dengan perdarahan tersebut, termasuk kematian pasien.

 

Diagnosis

Langkah yang dapat dijalankan adalah anamnesis yang akurat tentang perdarahan saluran cerna bagian atas dan perkiraan volume yang hilang, adanya pemakaian obat antiinflamsi, penyakit hati, dll.

 

Pemeriksaan fisik dapat memperlihatkan stigmata penyebab perdarahan, seperti stigmata sirosis, anemia, akral dingin, dsb. Status hemodinamik saat masuk ditentukan dan dipantau karena hal ini mempengaruhi prognosis.

 

Pemeriksaan laboratorium berupa kadar Hb, Ht, trombosit, atau gangguan koagulasi.

 

Penatalaksanaan

Langkah resusitasi berupa pemasangan jalur intravena dengan cairan fisiologis, bila perlu transfusi PRC, darah lengkap (whole blood), packed cell, dan FFP.

 

Tindakan yang paling sederhana untuk menghentikan perdarahan saluran cerna bagian atas adalah bilas lambung dengan air es melalui pipa nasogastrik (nasogastric tube, NGT). Pemasangan pipa nasogastrik dikerjakan melalui lubang hidung pasien, kemudian aspirasi isi lambung. Bila pada aspirasi terdapat darah, selanjutnya dilakukan bila dengan air es sampai isi lambung tampak bersih dari darah atau tampak lebih jernih warnanya. Tindakan tersebut disebut gastric spooling. Ada 5 manfaat dari tindakan ini, yaitu:

1. Tindakan diagnostik dan pemantauan apakah perdarahan masih berlangsung terus atau tidak.

2. Menghentikan perdarahan (efek vasokonstriksi dari es).

3. Memudahkan pemberian obat-obatan oral ke dalam lambung.

4. Membersihkan darah dari lambung untuk mencegah koma hepatik.

5. Persiapan endoskopi.

Pada perdarahan saluran cerna ini dianggap terdapat gangguan hemostasis berupa defisiensi kompleks protrombin sehingga diberikan vitamin K parenteral dan bila diduga terdapat fibrinolisis sekunder dapat diberikan asam traneksamat parenteral.

 

Produksi asam lambung yang meningkat karena stres fisik maupun psikis pemberian antasid dan antagonis reseptor H2 (ranitidin, famotidin, atau roksatidin). Antasida diharapkan bermanfaat untuk menekan asam lambung yang sudah berada di lambung, sedangkan antagonis reseptor H2 untuk menekan produksi asam larnbung. Selain itu pertimbangan bahwa proses koagulasi atau pembentukan fibrin akan terganggu oleh asam, maka diberikan antisekresi asam lambung, mulai dari antagonis reseptor H2 sampai penghambat pompa proton (omeprazol, lanzoprazol, pantoprazol). Di samping itu obat-obat yang bersifat meningkatkan defensi mukosa (sukralfat) yang dapat dipakai sebagai regimen alternatif

 

Pemberian obat yang bersifat vasoaktif akan mengurangi aliran darah sehingga diharapkan proses perdarahan berkurang atau berhenti. Dapat dipakai somatostatin, atau okreotid. Vasopresin bekerja sebagai vasokonstriktor pembuluh splanknik, sedangkan somatostatin dan okreotid melalui efek menghambat sekresi asam lambung dan pepsin, menurunkan aliran darah di lambung, dan merangsang sekresi mukus lambung.

 

Salah satu yang dikhawatirkan pada pasien sirosis hati yang mengalami perdarahan varises esofagus adalah terjadinya koma hepatik akibat pencernaan darah pasien di dalam kolon, sehingga diberikan neomisin untuk mensterilisasi usus agar bakteri yang mencerna darah mati, selain itu juga diberi pencahar atau laksan agar darah yang ada dalam saluran pencernaan pasien dapat dikeluarkan dengan cepat. Sebagai perawatan dilakukan klisma pagi dan sore untuk memperlancar proses defekasi.

 

Sengstaken-Blakemore tube

Pemasangan Sengstaken-Blakemore tube (SB tube) dapat dikerjakan pada kasus yang diduga terdapat varises esofagus. SB tube terdiri dari 2 balon (lambung dan esofagus). Balon lambung berfungsi sebagai jangkar agar SB tube tidak keluar saat balon esofagus dikembangkan. Balon esofagus tersebut secara mekanik menekan langsung pembuluh darah varises yang robek dan berdarah. Balon SB tube memiliki 3 lumen, yaitu untuk balon lambung, balon esofagus, dan untuk memasukkan obat-obatan atau makanan ke dalam lambung atau untuk membilas lambung dengan air es. Komplikasi yang dapat terjadi adalah pneumonia aspirasi, kerusakan esofagus, dan obstruksi jalan napas.

 

Prosedur Endoskopi

Endoskopi merupakan sarana diagnostik yang paling akurat. Harus dipertimbangkan kapan perlu dilakukan prosedur ini. Apakah pemeriksaan endoskopi darurat akan merubah pola penatalaksanaan saat itu. Apakah dukungan sarana personal dan sarana medik saat itu cukup baik sehingga dapat mengantisipasi bila terjadi perburukan. Terdapat laporan bahwa risiko endoskopi darurat pada perdarahan saluran cerna bagian atas sepuluh kali lebih besar daripada endoskopi elektif. Di sisi lain akurasi diagnosis yang telah dicapai dengan kemajuan teknologi canggih ini ternyata tidak menurunkan angka kematian keseluruhan pada perdarahan saluran cerna bagian atas.

 

Endoskopi darurat dikerjakan bila didapatkan situasi di mana hasil pemeriksaan akan mengubah prinsip penatalaksanaannya, terutama tindakan bedah. Untuk endoskopi darurat pada perdarahan diperlukan endoskopi berlumen lebar dan ganda sehingga memungkinkan penghisapan bekuan darah yang menghalangi lapangan pandang dalam mengidentifikasi sumber perdarahan ataupun terapeutik.

 

Terapi endoskopi dibagi atas 4 modalitas, yaitu terapi topikal, terapi mekanik, terapi injeksi, dan terapi termal. Pada terapi mekanik digunakan hemoklip untuk menjepit tempat perdarahan atau melalui kabel elektrokauter. Teknik pengikatan dengan rubber band banyak digunakan dalam proses pengikatan varises.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

IMPORTANT! To be able to proceed, you need to solve the following simple math (so we know that you are a human) :-)

What is 13 + 3 ?
Please leave these two fields as-is: