Hemoptisis

  • Sharebar
Definisi
Hemoptisis atau batuk darah adalah ekspektorasi darah atau mukus yang berdarah. Bila ditemukan gejala ini, maka pasien harus diawasi dengan ketat karena tidak dapat dipastikan akan berhenti atau berlanjut, dan harus dicari asal serta sebab perdarahan.

 
Etiologi
Tuberkulosis adalah penyebab utama hemoptisis pada negara dengan angka pasien tuberkulosis yang tinggi, misalnya Indonesia. Penyebab lain adalah bronkiektasis, abses paru, karsinoma paru, bronkitis kronik, dan sebagainya.

 
Patofisiologi
Secara anatomis, asal perdarahan berbeda untuk setiap proses patologis tertentu. Misalnya pada tuberkulosis, perdarahan mungkin terjadi karena robekan aneurisma arteri pulmonalis pada dinding kavitas (aneurisma Rassmussen), karena pecahnya anastomosis bronkopulmonal, atau karena proses erosif pada arteri bronkialis yang membesar. Perdarahan akibat ulserasi mukosa bronkus juga bisa terjadi, namun jarang masif. Sedangkan pada bronkitis, perdarahan berasal dari pembuluh darah superfisial di mukosa.

 
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan foto toraks dapat membantu menegakkan diagnosis penyakit yang mendasari, mengetahui asal perdarahan (kanan atau kiri), dan adanya aspirasi. Pemeriksaan laboratorium darah tepi dapat membantu memperkirakan beratnya perdarahan dan perlu tidaknya dilakukan transfusi darah. Pemeriksaan masa perdarahan atau masa pembekuan tidak dikerjakan secara rutin.

 
Komplikasi
Asfiksia, syok hemoragik, dan penyebaran penyakit ke sisi paru yang sehat.

 
Penatalaksanaan
Setiap pasien hemoptisis harus dirawat untuk observasi dan evaluasi lebih lanjut. Hal-hal yang perlu dievaluasi adalah:

1. Banyaknya/jumlah perdarahan yang terjadi.

Saat terjadinya batuk dicatat dan setiap darah yang dibatukkan harus dikumpulkan dalam pot pengukur untuk mengetahui jumlahnya secara tepat dalarn suatu periode tertentu (biasanya 24 jam). Harus diingat bahwa jumlah darah yang dikeluarkan tidak selalu menggambarkan jumlah perdarahan yang terjadi karena mungkin saja sebagian darah tertinggal atau terjadi aspirasi dalam paru/saluran napas.

2. Pemeriksaan fisik.

Diperhatikan adanya insufisiensi pernapasan atau sirkulasi, berupa hipotensi sistemik/syok, penurunan kesadaran, takikardi, takipnea/sesak napas, sianosis, dan lain-lain. Bila ditemukan ronki basah difus di lapangan bawah paru perlu dicurigai telah terjadi aspirasi yang akan mengganggu pernapasan.

 

Penatalaksanaan pasien hemoptisis bergantung dari beratnya perdarahan yang terjadi dan keadaan klinis (kecenderungan perdarahan untuk berhenti/bertambah, tanda-tanda asfiksia/gangguan fungsi paru dan lain-lain. Bila tidak/kurang masif dapat ditangani secara konservatif yang bertujuan menghentikan perdarahan yang terjadi dan mengganti darah yang hilang dengan transfusi atau pemberian cairan pengganti. Langkah-langkah yang dilakukan adalah:

1. Menenangkan pasien sehingga perdarahan lebih mudah berhenti dan tidak takut-takut membatukkan darah di saluran napas.

2. Pasien diminta berbaring pada posisi bagian paru yang sakit dan sedikit Trendelenburg, terutama bila refleks batuknya tidak adekuat.

3. Jalan napas dijaga agar tetap terbuka. Bila ada tanda-tanda sumbatan, lakukan penghisapan. Bila perlu dipasang pipa endotrakeal. Pemberian oksigen hanya berarti bila jalan napas telah bebas hambatan.

4. Pemasangan jalur intravena untuk penggantian cairan atau pemberian obat intravena.

5. Pemberian obat hemostatik belum jelas manfaatnya, namun dapat diberikan misalnya asam traneksamat, karbazokrom, atau koagulan lain seperti vitamin K, vitamin C, baik bolus maupun drip intravena.

6. Bila pasien gelisah dapat diberikan obat dengan efek sedasi ringan. Obat penekan refleks batuk hanya diberikan bila terjadi batuk yang berlebihan dan merangsang timbulnya perdarahan yang lebih banyak. Yang dianjurkan adalah kodein sulfat 10-20 mg tiap 3-4 jam..

7. Transfusi darah dilakukan bila Ht turun di bawah nilai 25-30% atau Hb di bawah 10 g% sedangkan perdarahan masih berlangsung.

 

Perdarahan yang masif dan mengancam jiwa memerlukan usaha agresif invasif, berupa bronkoskopi atau operasi sito. Indikasi pembedahan segera untuk hemoptisi masif adalah:

1. Bila batuk darah lebih dari 600 ml/24jam dan dalam pengamatan tidak berhenti.

2. Bila batuk darah kurang dari 600 ml/24 jam tetapi lebih dari 250 ml/24 jam, kadar Hb kurang dari 10 g% dan berlangsung terus.

3. Bila batuk darah kurang dari 600 ml/ 24 jam tetapi lebih dari 250 ml/ 24 jam, Hb lebih dari 10 g% tetapi dalam observasi selama 48 jam perdarahan tidak berhenti.

 

Sebelum dilakukan pembedahan segera, sumber atau asal perdarahan harus sudah diketahui melalui bronkoskopi, bila perlu dilakukan di atas meja operasi. Toleransi operasi berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan penunjang seperti foto toraks, spirometri, dan analisis gas darah juga harus menunjang.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

IMPORTANT! To be able to proceed, you need to solve the following simple math (so we know that you are a human) :-)

What is 14 + 14 ?
Please leave these two fields as-is: