Hemoroid

  • Sharebar
Definisi
Hemoroid adalah pelebaran varises satu segmen atau lebih vena-vena hemoroidales (Ba­con). Patologi keadaan ini dapat bermacam-macam, yaitu trombosis, ruptur, radang, ulserasi, dan nekrosis.

 
Pendarahan Daerah Anorektal
Drainase daerah anorektal adalah melalui vena-vena hemoroidales superior dan inferior. Vena hemoroidales superior mengembalikan darah ke v. mesenterika inferior dan berjalan submukosa dimulai dari daerah anorektal dan berada dalam bagian yang disebut kolumna lorgagni, berjalan memanjang secara radier sambil mengadakan anastomosis. Bila ini menjadi varises disebut hemoroid interna. Lokasi primer hemoroid interna (pasien berada dalam posisi litotomi) terdapat pada tiga tempat yaitu anterior kanan, posterior kanan, dan lateral kiri. Hemoroid yang lebih kecil terjadi di antara tempat-tempat tersebut.

 

Vv. hemoroidales inferior memulai venuler dan pleksus-pleksus kecil di daerah anus dan distal dari garis anorektal. Pleksus ini terbagi menjadi dua:

o menjadi vv. hemoroidales media yang menyalurkan darah surut ke v. pudenda intema,

o menjadi vv. hemoroidales inferior, berjalan di luar lapisan muskularis dan masuk ke v. hipogastrika.

Pleksus inilah yang menjadi varises dan disebut hemoroid eksterna.

 

Etiologi

Yang menjadi faktor predisposisi adalah herediter, anatomi, makanan, pekerjaan, psikis, dan senilitas. Sedangkan sebagai faktor presipitasi adalah faktor mekanis (kelainan sirkulasi parsial dan peningkatan tekanan intrabdominal), fisiologis dan radang.

 

Umumnya faktor etiologi tersebut tidak berdiri sendiri tetapi saling berkaitan.

 

Klasifikasi

Dibedakan atas hemoroid interna, hemoroid eksterna, dan gabungan keduanya. Hemoroid interna dibagi lagi menjadi 4 tingkat:

o Tingkat I: varises satu atau lebih v. hemoroidales interna dengan gejala perdarahan berwarna merah segar pada saat buang air besar.

o Tingkat II: varises dari satu atau lebih v. hemoroidales interna yang keluar dari dubur pada saat defekasi tetapi masih bisa masuk kembali dengan sendirinya.

o Tingkat III: seperti tingkat II tetapi tidak dapat masuk spontan, harus didorong kembali.

o Tingkat IV: telah terjadi inkarserasi.

 
Manifestasi Klinis
Tanda utama biasanya adalah perdarahan. Darah yang keluar berwarna merah segar, tidak bercampur dengan feses, dan jumlahnya bervariasi. Bila hemoroid bertambah besar maka dapat terjadi prolaps. Pada awalnya biasanya dapat tereduksi spontan. Pada tahap lanjut, pasien harus memasukkan sendiri setelah defekasi. Dan akhirnya sampai pada suatu keadaan di mana tidak dapat dimasukkan. Kotoran di pakaian dalam menjadi tanda hemoroid yang mengalami prolaps permanen. Kulit di daerah perianal akan mengalami iritasi. Nyeri akan terjadi bila timbul trombosis luas dengan edema dan peradangan.

 

Anamnesis harus dikaitkan dengan faktor obstipasi, defekasi yang keras, yang membutuhkan tekanan intraabdominal tinggi (mengejan), juga sering pasien harus duduk berjam-jam di WC, dan dapat disertai rasa nyeri yang merupakan gejala radang.

 

Hemoroid eksterna dapat dilihat dengan inspeksi, apalagi bila telah terjadi trombosis. Bila hemoroid interna mengalami prolaps, maka tonjolan yang ditutupi epitel penghasil musin akan dapat dilihat pada satu atau beberapa kuadran.

 

Selanjutnya secara sistematik dilakukan pemeriksaan dalam rektal secara digital dan dengan anoskopi. Pada pemeriksaan rektal secara digital mungkin tidak ditemukan apa-apa bila masih dalam stadium awal. Pemeriksaan anoskopi dilakukan untuk melihat hemoroid interna yang tidak mengalami penonjolan.

 

Pada pemeriksaan kita tidak boleh mengabaikan pemeriksaan umum karena keadaan ini dapat disebabkan oleh penyakit lain seperti sindrom hipertensi portal.

 
Diagnosis Banding
Perdarahan rektal juga terjadi pada karsinoma kolon dan rektum, kelainan divertikuler, polipus adenomatosa, kolitis ulserativa, dan kelainan lain pada kolon dan rektum. Pemeriksaan sigmoidoskopi sebaiknya dilakukan. Barium enema dan kolonoskopi juga dilakukan secara selektif, tergantung dari keluhan dan gejala yang ada.

 

Kondiloma perianal dan tumor anorektal mempunyai bentuk yang khas sehingga tidak sulit untuk membedakannya dengan hemoroid.

 
Penatalaksanaan
Kebanyakan pasien dengan hemoroid (tingkat I dan II) dapat diobati dengan tindakan lokal dan anjuran diet. Hilangkan faktor penyebab, misalnya obstipasi, dengan diet rendah sisa, banyak makan makanan berserat seperti buah dan sayur, banyak minum, dan mengurangi daging. Pasien dilarang makan makanan yang merangsang.

 

Bila ada infeksi berikan antibiotik per oral. Bila terdapat nyeri yang terus menerus dapat diberikan supositoria atau salep rektal untuk anestesi dan pelembab kulit. Untuk melancarkan defekasi saja dapat diberikan cairan parafm atau larutan magnesium sulfat 10%.

 

Bila dengan pengobatan di atas tidak ada perbaikan, diberikan terapi sklerosing dengan menyuntikkan zat sklerosing (sodium moruat 5% atau fenol). Satu hingga 2 cc zat sklerosing disuntikkan submukosa ke dalam jaringan longgar di atas hemoroid interna, pada kuadran yang terkena dengan harapan timbul inflamasi, fibrosis, dan terjadi jaringan parut lalu bemoroid mengecil. Injeksi dilakukan dengan jarum hemoroid panjang melalui anoskop, dan injeksi harus dilakukan di atas mucocutaneus junction. Hanya akan terjadi sedikit nyeri bila injeksi dilakukan pada tempat yang tepat. Komplikasi yang terjadi jarang, biasanya berupa pengelupasan mukosa, infeksi, proktitis akut, dan reaksi hipersensitif terhadap zat yang disuntikkan.

 

Kontraindikasi pengobatan ini adalah hemoroid eksterna, radang, dan adanya fibrosis bebat di sekitar hemoroid interna.

 

Untuk hemoroid yang melebar atau menonjol, ligasi adalah terapi terbaik (rubber band ligation). Komplikasi tersering dari terapi ini adalah nyeri sehingga ligasi harus dilepas. Untuk menghindari hal tersebut, alat ligasi harus dipasang setinggi mungkin dan diletakkan di atas mucocutaneous junction.

 

Hemoroid dapat dibuat nekrosis dengan cara membekukannya dengan CO2 atau N2O. Teknik ini tidak begitu banyak dipakai karena sulit mengontrol mukosa yang terkelupas dan timbulnya bau yang tidak enak dari anus.

 

Tindakan bedah diperlukan bagi pasien dengan keluhan kronis dan hemoroid derajat tiga atau empat. Prinsip utama hemoroidektomi adalah eksisi hanya pada jaringan yang menonjol dan eksisi konservatif kulit serta anoderm normal.

 

Selain itu ada beberapa teknik bedah lain.

 

Dilatasi anal harus dilakukan dengan anestesi untuk merusak lapisan submukosa pada kanal anus. Pengguna teknik ini percaya bahwa lapisan submukosa ini menimbulkan obstruksi partial yang berperan penting dalam pembentukan hemoroid.

 

Fotokoagulasi inframerah, diatermi bipolar, dan generator galvanis adalah cara penatalaksanaan yang lebih baru. Cara tersebut relatif lebih tidak sakit, tetapi semuanya menimbulkan jaringan parut yang menyebabkan fibrosis. Efektivitasnya dalam jangka panjang belum diketahui.

 

Teknik operasi Whitehead dilakukan dengan mengupas seluruh hemoroidales interna, membebaskan mukosa dari submukosa, dan melakukan reseksi. Lalu usahakan kontinuitas mukosa kembali.

 

Sedang pada teknik operasi Langenbeck, vena-vena hemoroidales interna dijepit radier dengan klem. Lakukan jahitan jelujur di bawah klem dengan chromic cat gut no. 2/0, eksisi jaringan di atas klem. Sesudah itu klem dilepas dan jepitan jelujur di bawah klem diikat. Di FKUI/RSCM lazim dipakai teknik Langenbeck karena mudah, serta tidak mengandung risiko timbulnya parut sirkuler yang bisa menyebabkan stenosis dan perdarahan minimal. Pascabedah pasien mendapat diet rendah sisa selama 3 hari.

 

Komplikasi

Komplikasi penyakit ini adalah perdarahan hebat, abses, fistula para anal, dan inkarserasi. Untuk hemoroid eksterna, pengobatannya selalu operatif. Tergantung keadaan, dapat dilakukan eksisi atau insisi trombus serta pengeluaran trombus.

 

Komplikasi jangka panjang adalah striktur ani karena eksisi yang berlebihan.

 

Prognosis

Dengan terapi yang tepat keluhan pasien dengan hemoroid dapat dihilangkan. Pendekatan konservatif harus dilakukan pada hampir setiap kasus. Hasil dari hemoroidektomi cukup memuaskan. Untuk terapi lanjutan, mengedan harus dikurangi untuk mencegah kekambuhan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

IMPORTANT! To be able to proceed, you need to solve the following simple math (so we know that you are a human) :-)

What is 4 + 4 ?
Please leave these two fields as-is: