Hepatitis A Akut

  • Sharebar

Insidens tertinggi hepatitis A adalah pada golongan usia 5-14 tahun. Banyak terjadi pada daerah perkotaan dan mengenai sekelompok orang misalnya keluarga. Penyakit ini merupakan endemis pada negara-negara dengan higiene dan sanitasi yang di bawah standar.

 

Hepatitis A menular dengan kontak langsung melalui penyebaran fekal-oral. Virus dikeluarkan melalui tinja pada 2-3 minggu sebelum dan 8 hari setelah timbulnya ikterus.

 

Manifestasi Klinis

Dibedakan menjadi 4 stadium yaitu masa inkubasi, pra-ikterik (prodromal), ikterik, dan fase penyembuhan. Masa inkubasi berlangsung selama 18-50 hari, dengan rata-rata kurang lebih 28 hari. Masa prodromal terjadi selama 4 hari sampai 1 minggu atau lebih.

 

Pada masa prodromal, gejalanya adalah fatigue, malaise, nafsu makan berkurang, mual, muntah, rasa tidak nyaman di daerah kanan atas, demam (biasanya < 39°C), merasa dingin, sakit kepala, gejala seperti flu, nasal discharge, sakit tengorok, dan batuk. Gejala yang jarang adalah penurunan berat badan ringan, artralgia, atau mononeuritis kranial atau perifer. Tanda yang ditemukan biasanya hepatomegali ringan yang nyeri tekan (70%), manifestasi ekstrahepatik lain pada kulit, sendi, atau splenomegali (5-20%).

 

Fase ikterik dimulai dengan urin yang berwama kuning tua, seperti teh, atau gelap, diikuti oleh feses yang berwarna seperti dempul (clay-coloured faeces), kemudian warna sklera dan kulit perlahan-lahan menjadi kuning. Gejala anoreksia, lesu, lelah, mual, dan muntah bertambah berat untuk sementara waktu. Dengan bertambah berat ikterus gejala tersebut berkurang dan timbul pruritus bersamaan dengan timbulnya ikterus atau hanya beberapa hari sesudahnya.

 

Penyakit ini biasanya sembuh sendiri. Ikterik menghilang dan warna feses kembali nor­mal dalam 4 minggu setelah onset. Komplikasi yang sering terjadi pada sebagian kecil pasien adalah hepatitis yang sangat berat atau fulminan (< 1%), kolestasis yang memanjang (prolonged acute cholestasis), relaps, dan manifestasi ekstrahepatik seperti vaskulitis kutaneus dan artritis.

 
Penatalaksanaan
Pasien dirawat bila ada dehidrasi berat dengan kesulitan masukan per oral, kadar SGOT-­SGPT > 10 kali nilai normal, perubahan perilaku atau penurunan kesadaran akibat ensefalopati hepatitis fulminan, dan prolong atau relapsing hepatitis.

 

Tidak ada terapi medikamentosa khusus karena pasien dapat sembuh sendiri (self lim­iting disease). Pemeriksaan kadar SGOT-SGPT dan bilirubin terkonyugasi diulang pada minggu ke-2 untuk melihat proses penyembuhan dan bulan ke-3 untuk kemungkinan pro­longed atau relapsing hepatitis. Pembatasan aktivitas fisik terutama yang bersifat kompetitif selama kadar SGOT-SGPT masih > 3 kali batas atas nilai normal.

 

Diet disesuaikan dengan kebutuhan dan hindarkan makanan yang sudah berjamur, yang mengandung zat pengawet yang hepatotoksik ataupun zat hepatotoksik lainnya. Biasanya antiemetik tidak diperlukan dan makan 5 atau 6 kali dalam porsi kecil lebih baik daripada 3 kali dalam porsi besar. Bila muntah berkepanjangan, pasien dapat diberikan antiemetik seperti metoklopramid, tetapi bila demikian perlu berhati-hati terhadap efek samping yang timbul karena dapat mengacaukan gejala klinis perburukan. Dalam keadaan klinis terdapat mual atau muntah pasien diberikan diet rendah lemak. Vitamin K diberikan bila terdapat pemanjangan masa protrombin. Kortikosteroid tidak boleh digunakan. Pencegahan infeksi terhadap lingkungan harus diperhatikan.

 
Pencegahan
Pencegahan Umum
Pencegahan umum meliputi nasehat kepada pasien yaitu:

1. Perbaikan higiene makanan-minuman

2. Perbaikan higiene sanitasi lingkungan dan pribadi

3. Isolasi pasien (anak dilarang datang ke sekolah atau ke tempat penitipan anak, sampai dengan 2 minggu sesudah timbul gejala)

 
Pencegahan Khusus
Pencegahan khusus dengan cara:

1. Imunisasi pasif dengan imunoglobulin normal manusia (normal human immune globulin=NHIG). Perlindungan dengan cara ini bersifat sementara.

Indikasi profilaksis NIHG:

  1. Profilaksis pra paparan diberikan pada pengunjung dari daerah non endemis ke daerah endemis dan pengelola hewan yang bekerja dengan primata yang baru ditemukan
  2. Profilaksis pasca paparan diberikan pada individu kontak erat (serumah), kontak seksual, anak-anak dan staf di fasilitas penitipan anak yang ada infeksi HAV, anak sekolah yang diketahui ada transmisi HAV di kelasnya, dan individu di institusi­-institusi yang diketahui ada transmisi HAV di institusinya.

2. Imunisasi aktif dengan vaksin HAV yang diinaktivasi. Cara ketiga ini efektif untuk mengeliminasi hepatitis A endemik, karena tidak ada manusia yang menjadi karier kronis dan sampai saat ini belum diketahui adanya hewan yang menjadi reservoar HAV Sasaran utama adalah kelompok risiko tinggi (anak, tenaga medis, staf pekerja tempat penitipan anak, pekerja jasa boga, homoseksual, pengguna obat intravena, penderita penyakit hati kronik dan penderita koagulopati) dan kelompok rentan (kelompok sosial ekonomi tinggi). Pada anak idealnya diberikan pada usia = 2 tahun. Sayangnya harga vaksin ini masih mahal dan diperlukan pemeriksaan penyaring antibodi anti HAV sebelum dilakukan imunisasi (preimmunization antibody screening).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

IMPORTANT! To be able to proceed, you need to solve the following simple math (so we know that you are a human) :-)

What is 14 + 9 ?
Please leave these two fields as-is: