Hepatitis B Akut

  • Sharebar

Di Indonesia, jalur penularan infeksi VHB (virus hepatitis B) yang terbanyak adalah secara parenteral yaitu secara vertikal (transmisi maternal-neonatal) atau horisontal (kontak antar individu yang sangat erat dan lama, seksual, iatrogenik, penggunaan jarum suntik bersama). Hal ini dimungkinkan karena VHB dapat ditemukan pada hampir semua cairan tubuh pasien yaitu saliva, air mata, cairan semen, cairan serebrospinal, asites, air susu ibu (ASI), cairan sinovial, getah lambung, dan cairan pleura. Walaupun VHB ditemukan dalam ASI, konsentrasi VHB yang ditemukan rendah dan tidak berhubungan dengan risiko transmisi yang bermakna sehingga tidak beralasan untuk melarang pemberian ASI. Cara penularan virus ini dapat melalui pasien yang sedang terinfeksi secara akut maupun melalui seorang karier.

 

Manifestasi Klinis

Masa inkubasinya 6-8 minggu. Lamanya masa inkubasi ini tergantung dari faktor pejamu. Gejala infeksi VHB akut sangat jarang ditemukan pada masa anak, hanya terjadi pada 5% bayi, dan 5-15% anak berusia 1-5 tahun. Sedangkan pada anak yang lebih besar dan dewasa 33-50%. Pada kasus yang simtomatik akut, umumnya ditemukan malaise, anoreksia, rasa tidak enak di perut yang biasanya mendahului timbulnya ikterus, dan timbulnya dalam beberapa minggu sampai bulan setelah terpapar virus. HBsAg mulai terdeteksi dalam fase ini. Pada pemeriksaan fisis, umumnya hanya ditemukan hepatomegali. Gejala artralgia dan kemerahan pada kulit yang kadang-kadang timbul, dipikirkan berhubungan dengan pembentukan kompleks HBsAg-anti HBs. Hal di atas timbul sebelum terjadi peningkatan kadar SGPT dan manifestasi lain yang menunjukkan keterlibatan hati.

 

Penatalaksanaan

Prinsipnya adalah suportif dan pemantauan gejala penyakit. Pada awal periode simtomatik dianjurkan tirah baring. Pasien dirawat bila ada dehidrasi berat dengan kesulitan masukan per oral, kadar SGOT-SGPT > 10 kali nilai normal, atau bila ada kecurigaan hepatitis fulminan. Pemantauan dilakukan 6 bulan kemudian dengan memeriksa fungsi hati dan serologi VHB. Bila HBsAg saat itu positif dinyatakan sebagai pengidap kronis VHB.

 

Pencegahan

Pencegahan Umum

Upaya pencegahan umum terhadap kemungkinan transmisi horisontal meliputi:

1. Uji tapis donor darah dengan uji diagnosis yang sensitif

2. Sterilisasi instrumen secara adekuat

3. Tenaga medis selalu menggunakan sarung tangan

4. Mencegah kontak mikrolesi seperti yang dapat terjadi melalui pemakaian sikat gigi dan sisir, atau gigitan anak pengidap HVB

 

Upaya pencegahan umum terhadap kemungkinan transmisi vertikal meliputi:

1. Skrining ibu hamil pada awal dan trimester ketiga terutama pada ibu yang berisiko terinfeksi HVB

2. Ibu ditangani secara multidisipliner yaitu dokter ahli kandungan dan penyakit dalam

3. Segera setelah bayi lahir diberikan imunisasi hepatitis B

4. Tidak ada kontraindikasi menyusui

 

Pencegahan Khusus

1. Imunisasi pasif dengan hepatitis B imunoglobulin dapat menimbulkan imunitas sementara. Indikasi utama pemberian hepatitis B imunoglobulin adalah paparan akut terhadap HBV, seperti inokulasi darah yang mengandung antigen permukaan, tertelan atau terciprat pada mukosa dan konjungtiva. Pemberian profilaksis pada bayi yang berisiko untuk terinfeksi HBV dilakukan segera setelah lahir atau dalam waktu 12 jam setelah lahir. Dosis yang dianjurkan adalah 250-500 IU yang diberikan sedini mungkin setelah paparan, lebih baik dalam 2 x 24 jam. Biasanya sebanyak 3 ml (200 IU anti HBs tiap ml) untuk dewasa, sedangkan pada bayi baru lahir 1-2 ml. Sebaiknya tidak diberikan 7 hari setelah paparan. Disarankan pemberian dua dosis hepatitis B imunoglobulin 30 hari kemudian.

2. Imunisasi aktif. Prioritas utama imunisasi aktif adalah bayi baru lahir dilakukan segera setelah lahir. Anak yang belum pernah memperoleh imunisasi pada masa bayi, harus diimunisasi secepatnya (catch up immunization) paling lambat saat berusia 11-12 tahun. Selain itu diberikan juga pada kelompok yang berisiko tinggi untuk mendapatkan infeksi HBV meliputi individu yang mendapat transfusi darah atau produk darah berulang, pasien yang menjalani rawat inap yang lama, pasien dengan defisiensi imun atau menderita penyakit keganasan, pasien yang memerlukan akses ke sirkulasi berulang, individu yang bekerja atau tinggal di daerah endemik, anak-anak dari pengidap HVB, kontak serumah/erat, tenaga medis, dan perilaku seksual tertentu yaitu homoseksual dan berganti pasangan seks.

 

Vaksin hepatitis B sebaiknya diberikan di lengan atas (otot deltoid) pada anak besar atau bagian anterolateral paha pada bayi, bukan di bokong karena berdasarkan studi, titer antibodi pada mereka yang mendapat injeksi vaksin di otot deltoid 17 kali lebih tinggi dibandingkan dengan penyuntikan di bokong.

 

Untuk mencapai tingkat serokonversi yang tinggi dan konsentrasi antiHBs protektif (10 mIU/ml), imunisasi harus diberikan 3 kali. Jadwal pemberian 3 kali ini dapat bervariasi sebagai berikut:

1. Interval terpendek antara suntikan ke-1 dan ke-2 adalah 1 bulan, antara suntikan ke­2 dan ke-3 adalah 2 bulan, tetapi suntikan ke-3 tidak boleh diberikan sebelum bayi berusia 6 bulan.

2. Individu yang memperoleh imunisasi pada usia > 2 bulan, jarak antara suntikan ke­-1 dan ke-3 minimal 4 bulan.

3. Pada bayi, imunisasi harus lengkap tiga kali paling lambat pada usia 18 bulan. Pada anak besar atau remaja, imunisasi dapat diberikan dengan jadwal 0, l, 6 bulan atau 0, 2, 4 bulan.

 

Bilamana orang tua lupa membawa bayinya sesuai jadwal imunisasi, tiga dosis dapat dilengkapi tanpa harus mengulang dari awal ataupun melakukan pemeriksaan anti-HBs pasca-imunisasi. Jarak antara suntikan ke-2 dan ke-3 kurang dari satu tahun, tingkat konversinya tetap tinggi.

 

Memori sistem imun diperkirakan menetap paling tidak sampai 12 tahun pasca imunisasi. Dalam keadaan normal tidak dianjurkan untuk memberikan imunisasi booster.

 

Imunisasi pada keadaan khusus yaitu:

1. Bayi terlahir dari ibu pengidap HVB. Pemeriksaan anti HBs dan HBsAg dilakukan 1 bulan sesudah imunisasi ketiga. Bila anti HBs positif dan HBsAg negatif, pemeriksaan diulang pada usia 1, 3, 5, dan 10 tahun. Bila anti HBs negatif dan HBsAg positif dilakukan upaya kuratif.

2. Bayi kurang bulan (BKB) atau berat lahir rendah (BBLR). Pada keadaan ini ada jadwal khusus. Pada bayi dengan risiko rendah tertular HVB, dianjurkan untuk menunda imunisasi sampai bayi mencapai BB 2 kg atau usia 2 bulan. Sedangkan pada BKB/BBLR dari ibu pengidap HVB dan BKB/BBLR dengan sakit berat, imunisasi segera diberikan segera setelah lahir dan dilakukan pemeriksaan anti-HBs satu bulan sesudah imunisasi ke-3.

3. Mutan “a” loop pada gen HBs. Telah diidentifikasi adanya mutan pada gen HBs yang tidak dapat dinetralisasi oleh anti-HBs pasca-vaksinasi.

4. Non responder. Merupakan kelompok resipien yang tidak membentuk anti-HBs protektif setelah 3 kali imunisasi. Pada kelompok ini diberikan vaksinasi tambahan (kecuali HBsAg positif) 1 – 3 kali. Bila sesudah 3 kali vaksinasi tambahan tidak terjadi perubahan serokonversi, tidak perlu imunisasi tambahan lagi.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

IMPORTANT! To be able to proceed, you need to solve the following simple math (so we know that you are a human) :-)

What is 12 + 13 ?
Please leave these two fields as-is: