Invaginasi

  • Sharebar
Definisi
Invaginasi adalah keadaan masuknya segmen usus ke segmen bagian distalnya yang mumnya akan berakhir dengan obstruksi usus strangulasi. Invaginasi dapat terjadi pada semua umur bahkan intrauterin, namun sebagian besar pada usia di bawah 1 tahun, terutama antara 3-10 bulan, laki-laki lebih sering daripada perempuan.

 
Etiologi
Sebagian besar tidak diketahui pasti. Diduga berhubungan dengan pembesaran kelenjar getah bening ileum terminal akibat infeksi viral di saluran napas maupun cerna. Pada kurang dari 10% kasus berhubungan dengan adanya polip, kista, divertikulum Meckel, dan nodul ktopik pankreas.

 
Patogenesis
Lebih dari 95% invaginasi terjadi di daerah ileosekal. Dapat pula terjadi di usus halus, dengan gejala yang lebih berat, serta kolon, yang gejalanya lebih ringan. Terjepitnya bagian usus dalam invaginasi menimbulkan strangulasi dan stasis vena sehingga timbul edema. Selanjutnya terjadi ekskresi mukus yang berlebihan dan pecahnya vena sehingga terjadi rembesan darah dari usus yang terjepit. Akibat invaginasi ini timbul obstruksi pada usus bagian proksimal.

 
Manifestasi Klinis
Umumnya bayi dalam keadaan sehat dan gizi baik. Pada tahap awal muncul gejala strangulasi berupa nyeri perut hebat yang tiba-tiba. Bayi menangis kesakitan saat serangan dan kembali normal di antara serangan. Terdapat muntah berisi makanan/minuman yang masuk dan keluamya darah bercampur lendir (red currant jelly) per rektum. Pada palpasi abdomen dapat teraba massa yang umumnya berbentuk seperti pisang (silindris).

 

Dalam keadaan lanjut muncul tanda obstruksi usus, yaitu distensi abdomen dan muntah hijau fekal, sedangkan massa intraabdomen sulit teraba lagi. Bila invaginasi panjang hingga ke daerah rektum, pada pemeriksaan colok dubur mungkin teraba ujung invaginat seperti porsio uterus, disebut pseudoporsio. Pada sarung tangan terdapat lendir dan darah.

 
Penatalaksanaan
Tata laksana umum adalah dengan pemasangan IVFD dan selang nasogastrik. Reduksi invaginasi dilakukan dengan barium enema menggunakan prinsip tekanan hidrostatik. Akan tampak gambaran cupping dan coiled spring yang menghilang bersamaan dengan terisinya ileum oleh barium. Reduksi dengan barium enema dikatakan berhasil bila barium cukup jauh mengisi ileum atau tampak jendela kolon. Bila reduksi dengan barium enema gagal, dilakukan operasi segera. Reduksi dengan barium enema ini hanya dilakukan bila tidak ada distensi abdomen yang hebat, tanda peritonitis, dan demam tinggi.

 

Pada kehidupan 12 minggu intrauterin terjadi penonjolan peritoneum melalui anulus inguinalis internus menuju ke skrotum melalui kanalis inguinalis. Penonjolan peri­toneum ini disebut sebagai prosesus vaginalis. Pada 90% anak, prosesus akan mengalami obliterasi sempurna kecuali bagian kecil yang menempel pada testis membentuk tunika vaginalis.

 

Bila prosesus vaginalis tidak mengalami obliterasi secara keseluruhan maupun sebagian, maka akan terjadi beberapa anomali yaitu: 1) hernia skrotalis, terjadi patensi sempurna; 2) hernia inguinalis, terjadi obliterasi pada bagian distal namun paten pada bagian proksimal: 3) hidrokel, terjadi obliterasi tidak sempurna dan terdapat daerah kecil yang terbuka pada cincin dalam sehingga cairan dari rongga peritoneal akan turun. Bila cairan masuk ke tunika vaginalis dapat terjadi hidrokel komunikans atau terisolasi. Bila cairan berkumpul setinggi funikuli disebut hidrokel funikuli.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

IMPORTANT! To be able to proceed, you need to solve the following simple math (so we know that you are a human) :-)

What is 5 + 15 ?
Please leave these two fields as-is: