Kolitis Ulseratif

  • Sharebar
Definisi
Merupakan penyakit usus inflamatorik, bersama dengan penyakit Crohn. Sesuai dengan namanya, kolitis ulseratif merupakan penyakit inflamasi kronik pada kolon yang sering kambuh.

 
Etiologi
Belum diketahui. Lebih sering diderita oleh wanita, terbanyak ditemukan pada usia antara 15 dan 20 tahun. Faktor predisposisi yang berkaitan adalah keturunan, imunologi, infeksi virus atau bakteri (masih spekulatif), dan lebih jarang ditemukan pada perokok. Selain itu, sebanyak 60-70% dari pasien yang diteliti, memiliki p-ANCA (antineutrophil cytoplasmic antibodies) yang berhubungan dengan HLA-DR2, atau bila p-ANCA negatif, sering ditemukan HLA-DR4.

 
Patofisiologi
Proses inflamasi yang terjadi biasanya dimulai di rektum, lalu dapat meluas ke proksimal namun tak pernah melewati kolon. Bila bagian rektum saja yang terkena atau meluas sampai sigmoid disebut proktitis atau proktosigmoiditis, sedangkan bila seluruh kolon terlibat disebut pankolitis.

 
Manifestasi Klinis
Berkaitan dengan luasnya area kolon yang terlibat serta derajat penyakit. Klasifikasi klinis kolitis ulseratif terbagi tiga.

 

Tabel klasifikasi klinis kolitis ulseratif

 

Gejala yang sering ditemukan adalah diare (walaupun ada laporan terjadi konstipasi), bila inflamasi meluas maka diare akan disertai mukus dan darah. Selain itu terdapat nyeri perut dan gejala konstitusional seperti demam, penurunan berat badan, dan anoreksia.

 

Pada pemeriksaan fisik terdapat nyeri tekan abdomen.

 
Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaan laboratorium hematologi dan biokimia terdapat peningkatan hitung jenis leukosit dan LED pada serangan berat. Pemeriksaan fungsi hepar diperlukan untuk mendeteksi adanya komplikasi.

 

Pada analisis dan kultur feses mungkin ditemukan parasit walau tanpa perdarahan rektum, dan adanya leukosit membuktikan terjadinya inflamasi atau infeksi. Tak ditemukamya mikroorganisme tak dapat menyingkirkan infeksi secara otomatis. Pada infeksi oleh Clostridium difficile, selain kultur, harus dilakukan pemeriksaan toksin.

 

Foto polos abdomen menunjukkan dilatasi kolon atau gambaran perforasi pada kasus kolitis yang fulminan. Sebaiknya dilakukan sigmoidoskopi dan biopsi bila terdapat kecurigaan kolitis. Akan terlihat kerusakan kripti akibat perubahan kronis pada penyakit usus inflamatorik. Bila tak ada kerusakan kripti, kemungkinan terjadi kolitis akibat infeksi.

 

Dilakukan kolonoskopi untuk melihat luasnya kerusakan, serta untuk menentukan diagnosis banding kolitis. Pada ileum terminal dilakukan intubasi untuk menentukan adanya inflamasi atau ulserasi. Pada kolitis aktif berat yang luas, lebih baik ditentukan secara klinis daripada kolonoskopi karena risiko perforasi.

 
Penatalaksanaan
a. Suportif

o Diet atau nutrisi yang bergizi secara oral atau parenteral

o Edukasi bagi pasien dan keluarga mengenai penyakit

b. Farmakologi

1. Simtomatis

o Rehidrasi : oralit, cairan infus (Ringer laktat, dekstrosa 5%, dekstrosa dalam NaCl 0,09%, dll.).

o Antispasmodik, antikolinergik: papaverin 3x/hari, mebeverin 3-4 tablet/hari, propantelin bromid 3×5 mg/hari, hiosin N-butilbromida (Buscopan® 3×1 tablet/ hari. Hati-hati dalam memberikan obat-obat di atas, jangan berlebihan.

o Obat antidiare: loperamid atau difenoksilat. Golongan obat ini dapat mengurangi pengeluaran tinja berlebihan dan melegakan urgensi rektal, namun dapat mengurangi dosis pemakaian steroid. Pada kolitis berat, antidiare merupakan kontraindikasi karena dapat mencetuskan megakolon toksik.

2. Obat-obat spesifik

o Sulfasalazin/Salisilazolsul-fapiridin

Diberikan berdasarkan umur, derajat penyakit dan toleransi obat. Dosis biasa 4 x 500 mg/hari, dinaikkan 2 x 500 mg pada hari kedua dan seterusnya sampai tercapai respons klinis. Dosis dewasa diberikan 4-8 x 2-3 tablet (@500 mg)/hari. Umumnya jarang diberikan melebihi 4 g/hari, selama 2-4 minggu dan bila remisi tercapai, dosis dapat diturunkan 2-3 g/hari lalu diteruskan lebih lama. Pada kasus refrakter atau berat, terapi diberikan lebih lama dengan dosis 16-20 tablet/hari. Jika timbul efek samping yang tidak diinginkan, segera turunkan dosis obat sampai setengahnya. Pemberian sebaiknya setelah makan.

o 5-ASA (asam 5-aminosalisilat/Salofak®)

Diberikan peroral 4 x 1-2 tablet (@ 250mg)/hari, atau dapat diberikan supositoria per rektal atau per enema (4 g).

o Kortikosteroid (misalnya prednison atau prednisolon)

Diberikan pada penyakit berat, kronik dan progresif yang tidak membaik dengan sulfasalazin atau obat lainnya. Kortikosteroid meningkatkan absorpsi natrium, menstimulasi aktivitas Na-K ATPase di kolon dan ileum, memiliki efek anti inflamasi, yang dapat memperbaiki inflamasi dan menyembuhkan diare. Obat dapat diberikan peroral, injeksi atau rektal. Dosis awal prednison 40-60 mg/hari, dalam dosis terbagi selama 3-6 minggu. Jika klinis membaik, yaitu diare berkurang, tak lagi terdapat darah dan lendir pada feses, serta terdapat gambaran sigmoidokolonoskopi mulai membaik, maka dosis diturunkan menjadi 30 mg/hari, selama 3-4 minggu. Jika gambaran sigmoidokolonoskopi telah normal kembali, diusahakan mulai menghentikan kortikosteroid selama 2-3 bulan, dengan menurunkan dosis perlahan.

c. Operatif

Indikasi dilakukan pembedahan pada kolitis ulseratif adalah:

o Kegagalan terapi medikamentosa.

o Megakolon toksik.

o Perforasi

o Perdarahan masif.

o Gejala kronik tak teratasi.

o Karsinoma atau risiko tinggi terkena karsinoma

Tak seperti pada penyakit Crohn, maka pembedahan pada kolitis ulseratif bersifat kuratif dan hanya 20% yang memerlukan pembedahan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

IMPORTANT! To be able to proceed, you need to solve the following simple math (so we know that you are a human) :-)

What is 3 + 6 ?
Please leave these two fields as-is: