Limfogranuloma Venereum

  • Sharebar
Definisi
Limfogranuloma venereum (LGV) adalah penyakit menular seksual yang mengenai sistem saluran pembuluh limfe dan kelenjar limfe, terutama pada daerah genital, inguinal, anus, dan rektum.

 

Etiologi

Chlamydia trachomatis

 

Manifestasi Klinis

LGV adalah penyakit sistemik yang primer menyerang sistem limfatik, manifestasi klinis dapat akut, subakut, atau kronik, dengan komplikasi pada stadium lanjut. Stadium dini terdiri dari lesi primer genital dan sindrom genital. Stadium lanjut dapat berupa sindrom ano-rektal dan elefantiasis genital (esthiomene).

Lesi primer genital

Setelah masa inkubasi antara 3-20 hari, akan terjadi lesi primer di genital yang bersifat tidak sakit, tidak khas, dan cepat hilang. Lesi primer dapat berbentuk erosi atau ulkus dangkal, papul-papul gerombolan vesikel kecil mirip lesi herpes, atau sebagai uretritis nonspesifik. Pada pria sering berlokasi di sulkus koronarius, frenulum, preputium, penis, uretra, dan skrotum. Pada wanita lebih sering terjadi pada dinding posterior vagina, portio, bagian posterior serviks, dan vulva. Lesi primer pada pria sering disertai oleh limfangitis pada bagian dorsal penis dan membentuk nodul limfangial yang lunak atau abses kecil.

Sindrom inguinal

Biasanya beberapa hari sampai minggu setelah lesi primer menghilang. Pada 2/3 kasus terjadi limfadenitis inguinal yang unilateral. Gejala sistemik seperti demam, menggigil, anoreksia, nausea, sakit kepala, sering menyertai sindrom ini.

Pada pemeriksaan klinis didapatkan:

§ kelenjar inguinal membesar, nyeri, dan teraba padat, kemudian berkembang menjadi peradangan sekitar kelenjar atau perilimfadenitis.

§ perlekatan antar kelenjar sehingga terbentuk paket, juga perlekatan kelenjar dengan kulit di atasnya, kulit tampak merah kebiruan, panas, dan nyeri.

§ perlunakan kelenjar yang tidak serentak ditandai dengan fluktuasi pada 75% kasus, dan terbentuk abses multipel.

§ abses pecah menjadi sinus dan fistel multipel pada 1/3 kasus, sedangkan yang lain mengalami involusi secara perlahan dan membentuk massa padat kenyal di daerah inguinal.

 

Beberapa bentuk spesifik yang dapat terjadi seperti pembesaran kelenjar di atas dan bawah ligamentum inguinal Pouparti sehingga tercentuk celah yang disebut sign of groove (Greenblatt’s sign). Terjadinya pembesaran kelenjar femoralis, inguinalis superfisial, dan profundus menyebabkan bentuk seperti tangga sehingga disebut ettage bubo. Pada penyembuhan fistel akan terbentuk parut yang khas di daerah inguinal.

Sindrom anorektal

Terutama pada wanita akibat penyebaran langsung dari lesi primer di vagina ke kelenjar limfe perirektal. Gejala awal adalah perdarahan anus yang diikuti oleh duh anal purulen disertai febris, nyeri saat defekasi, sakit perut bawah, konstipasi, dan diare. Bila tidak diobati dapat terjadi proktokolitis berat yang gejalanya mirip kolitis ulserosa dengan tanda-tanda fistel anal, abses perirektal, dan abses rektovaginal/rektovesikal. Pada pria, gejala proktitis menunjukkan kebiasaan homoseksual.

Sindrom genital

Dapat berupa edema vulva sepanjang klitoris sampai ke anus (elefantiasis labia) sebagai akibat peradangan kronis sehingga terjadi kerusakan saluran dan kelenjar limfe dan timbulnya edema limfe di daerah vulva.

 

Pada permukaan elefantiasis dapat terjadi tumor polipoid dan verukosa, dan karena tekanan paha dapat berbentuk pipih (disebut Buchblatt condyloma). Dapat pula terjadi fistel akibat ulserasi yang destruktif dan pecah ke dalam vagina atau vesika urinaria.

 

Pada pria dapat terjadi proses yang sama, namun jarang dijumpai. Manifetasi klinis berupa elefantiasis skrotum. Bila kerusakan saluran dan kelenjar limfe cukup luas dapat terjadi elefantiasis pada satu atau kedua tungkai.

 

Pemeriksaan Penunjang

1. Pewarnaan pus bubo dengan Giemsa untuk menemukan badan inklusi Chlamydia yang khas.

2. Tes Frei, yang berdasarkan pada reaksi lambat intradermal yang spesifik terhadap Chlamy­dia sehingga dapat memberi positif semu pada infeksi Chlamydia jenis lain.

3. Tes serologi, terdiri atas complement fixation test, radioisotop precipitation, dan mi­cro immunofluorescent typing.

4. Kultur jaringan untuk konfirmasi diagnosis, bahan pemeriksaan, dari aspirasi pus bubo yang belum pecah.

 
Diagnosis
Diagnosis LGV dapat ditegakkan berdasarkan gambaran klinis, pewarnaan Giemsa pus bubo, tes Frei, tes serologis, dan kultur jaringan.

 

Penatalaksanaan

1. Medikamentosa

§ Sulfonamida (pilihan utama) dengan dosis 3-5 g/hari selama 14 hari

§ Kotrimoksazol (trimetroprim 400 mg + sulfametoksazol 80 mg) dengan dosis 3 x 2 tablet/hari selama 7 hari

§ Doksisiklin (rekomendasi WHO saat ini), dosis 2 x 100 mglhari selama 14 hari.

§ Tetrasiklin, dosis 4 x 500 mg sampai 14 hari (obat alternatif)

§ Obat lain yang dapat dipakai: kloramfenikol, minoksiklin, dan rifampisin.

2. Pembedahan

Pada abses multipel yang berfluktuasi lebih baik aspirasi jarum daripada insisi karena dapat memperlambat penyembuhan. Untuk stadium lanjut dapat dilakukan:

§ Valvulektomi total atau labiektomi pada elefantiasis labia

§ Dilatasi dengan Bougie bila terjadi striktur rekti

§ Drainase pada abses perianal dan perirektal

§ Operasi plastik untuk elefantiasis penis dan skrotum

Pemeriksaan dan pengobatan mitra seks pasien.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

IMPORTANT! To be able to proceed, you need to solve the following simple math (so we know that you are a human) :-)

What is 13 + 6 ?
Please leave these two fields as-is: