Manajemen Laktasi

  • Sharebar

Agar laktasi berjalan baik, diperlukan manajemen yang baik dalam laktasi, meliputi perawatan payudara, praktek menyusui yang benar, serta dikenalinya masalah dalam laktasi dan penatalaksanaannya.

 

Perawatan Payudara

Sejak kehamilan 6-8 minggu terjadi perubahan pada payudara berupa pembesaran payudara, terasa lebih padat, kencang, sakit, dan tampak jelas gambaran pernbuluh darah di permukaan kulit yang bertambah serta melebar. Kelenjar Montgomery daerah aerola tampak lebih nyata dan menonjol.

 

Perawatan payudara yang diperlukan:

o Mengganti BH sejak hamil usia 2 bulan dengan ukuran lebih sesuai dan dapat menopang perkembangan payudara. Biasanya diperlukan BH dengan ukuran 2 nomor lebih besar.

o Latihan gerakan otot badan yang berfungsi menopang payudara untuk menunjang produksi ASI dan mempertahankan bentuk payudara setelah selesai masa laktasi. Bentuk latihan: duduk sila di lantai. Tangan kanan memegang bagian lengan bawah kiri (dekat siku), tangan kiri memegang lengan bawah kanan. Angkat kedua siku hingga sejajar pundak. Tekan pegangan tangan kuat-kuat ke arah siku sehingga terasa adanya tarikan pada otot dasar payudara.

o Menjaga higiene sehari-hari, termasuk payudara, khususnya daerah puting dan aerola.

o Setiap mandi, puting susu dan aerola tidak disabuni untuk menghindari keadaan kering dan kaku akibat hilangnya ‘pelumas’ yang dihasilkan kelenjar Montgomery.

o Lakukan persiapan puting susu agar lentur, kuat, dan tidak ada sumbatan sejak usia kehamilan 7 bulan, setiap hari sebanyak 2 kali. Cara melakukan: kompres masing-masing puting susu selama 2-3 menit dengan kapas dibasahi minyak. Tarik dan putar puting ke arah luar 20 kali, ke arah dalam 20 kali untuk masing-masing puting. Pijat daerah aerola untuk membuka saluran susu. Bila keluar cairan, oleskan ke puting dan sekitarnya. Bersihkan payudara dengan handuk lembut.

o Mengoreksi puting susu yang datar/terbenam agar menyembul keluar dengan bantuan pompa puting (nipple puller) pada minggu terakhir kehamilan sehingga siap untuk disusukan kepada bayi.

 

Beberapa hal yang perlu diperhatikan agar ibu hamil sehat dan mampu menyusui bayi:

o Gizi ibu hamil. Kebutuhan tambahan kalori wanita hamil lebih kurang 285 kalori, disesuaikan dengan kebutuhan wanita yang tidak sedang hamil/menyusui, yaitu: wanita dengan kerja ringan 1.900 kalori/hari, kerja sedang 2.100 kalori/hari, dan kerja berat 2.400 kalori/hari. Kecukupan gizi seimbang kira-kira 40 kalori/kg BB dengan komposisi protein 20-25%, lemak 10-25%, dan karbohidrat 50-60%. Jumlah cairan yang perlu diminum tidak banyak berbeda dari biasa, yaitu sekitar 2 liter/hari.

o Istirahat. Wanita hamil sebaiknya tidur 8 jam sehari. Kegiatan dan gerakan sehari-hari harus memperhatikan perubahan fisik dan mental yang terjadi. Di antara waktu kegiatan diperlukan istirahat guna melemaskan otot-otot. Bagi wanita bekerja, perlu diatur agar cuti hamil dan bersalin diambil sebanyak mungkin setelah bersalin sehingga dapat menyusui bayinya selama mungkin sebelum bekerja.

o Tidak merokok dan menjauhi asap rokok orang lain. Tidak minum alkohol dan mengurangi kopi serta minuman mengandung soda karena dapat mengurangi kemampuan usus menyerap kalsium dan zat besi.

o Pemakaian obat selama hamil hanya atas petunjuk bidan atau dokter, terutama menjelang persalinan agar tidak berpengaruh terhadap proses laktasi.

o Memperhatikan dan memeriksakan diri bila ada keluhan pada daerah gigi mulut karena dapat menjalar ke organ tubuh lain dan menganggu kehamilan.

o Memperhatikan kebersihan diri dan menggunakan pakaian nyaman, yaitu yang longgar, ringan, mudah dipakai, dan menyerap keringat.

o Sebaiknya sejak kehamilan 3 bulan terakhir telah memilih dan mengenal dokter yang akan mengawasi kesehatan anaknya kelak. Kerjasama antara tenaga penolong persalinan dan dokter anak harus dibina.

 

Praktek Menyusui

Tahap Proses Laktasi

o Pembentukan air susu pada kehamilan.

o Periode sesudah bayi lahir saat ASI dibentuk dan dikeluarkan, disebut masa laktasi.

 

Lama masa laktasi tergantung motivasi dan kemampuan penerapan manajemen laktasi. Perlu diperhatikan agar setiap bayi dalam 4-6 bulan pertama kehidupan hanya diberi ASI (termasuk kolostrum). Bayi dalam kondisi baik dirawat gabung dengan ibunya untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan fisik dan psikis bayi. Selama ASI belum keluar pada 2-3 hari setelah kelahiran, bayi sehat tidak perlu diberi makanan/cairan lain, tetapi hanya perlu mengisap kolostrum. Setelah usia 4-6 bulan, secara bertahap berikan makanan pendamping ASI. ASI dapat terus diberikan sampai anak usia 2 tahun.

 

Refleks-refleks Penting dalam Laktasi

Pada ibu:

o Refleks prolaktin. Sewaktu bayi menyusu, rangsangan dari ujung saraf sensoris puting susu dikirim ke hipotalamus yang akan memacu keluarnya hormon prolaktin yang kemudian merangsang sel kelenjar memproduksi ASI. Menyusukan dengan kerap adalah cara terbaik untuk mendapatkan ASI dalam jumlah banyak.

o Let down reflex, keluarnya air susu karena kontraksi mioepitel sekeliling duktus laktiferus dengan pengaruh oksitosin. Terjadinya refleks ini dipengaruhi jiwa ibu. Melalui refleks ini terjadi pula kontraksi rahim yang membantu lepasnya plasenta dan mengurangi perdarahan. Oleh karena itu, setelah dilahirkan, bayi perlu segera disusukan ibunya jika mungkin.

 

Pada bayi:

o Rooting reflex. Bayi baru lahir bila disentuh pipinya akan menoleh ke arah sentuhan. Bila bibirnya dirangsang/disentuh, dia akan membuka mulut dan berusaha mencari puting untuk menyusu.

o Refleks mengisap. Terjadi bila ada sesuatu yang merangsang langit-langit dalarn mulut bayi, biasanya puting susu.

o Refleks menelan. Timbul bila ada cairan di rongga mulut.

 

Langkah Menyusui yang Baik dan Benar

o Persiapan mental dan fisik. Ibu harus menyusui dalam keadaan tenang. Minum segelas air sebelum menyusui, hindari menyusui dalam keadaan lapar dan haus.

o Persiapan tempat dan alat, seperti kursi dengan sandaran punggung dan tangan serta bantalan untuk menopang tangan yang menggendong bayi.

o Sebelum menggendong bayi, tangan dicuci bersih. Sebelum menyusui, tekan daerah areola di antara telunjuk dan ibu jari sehingga keluar 2-3 tetes ASI, kemudian oleskan ke seluruh puting dan areola. Cara menyusui yang terbaik adalah bila ibu melepaskan kedua payudaranya dari pemakaian BH.

o Susukan bayi sesuai kebutuhan, jangan dijadwal. Biasanya kebutuhan terpenuhi dengan menyusui tiap 2-3 jam. Setiap menyusui, lakukan pada kedua payudara secara bergantian, masing-masing selama kurang lebih 10 menit. Mulai selalu dengan payudara sisi yang terakhir disusui sebelumnya. Periksa ASI sampai payudara terasa kosong.

o Setelah selesai, oleskan ASI seperti awal menyusui dan biarkan kering oleh udara sebelum memakai BH untuk mencegah lecet. Hal ini dapat dilakukan sambil menyangga bayi agar bersendawa. Menyendawakan bayi setelah menyusui harus selalu dilakukan untuk mengeluarkan udara dari lambung supaya bayi tidak muntah.

 

Yang perlu diperhatikan selama masa menyusui

o Nutrisi. Walau umumnya keadaan gizi ibu hanya mempengaruhi kuantitas dan bukan kualitas ASI, konsumsi makanan sebaiknya tidak dibatasi. Penurunan berat badan sesudah melahirkan jangan melebihi 0,5 kg setiap minggu. Pada 6 bulan pertama masa menyusui saat bayi hanya mendapat ASI, ibu perlu tambahan nutrisi 700 kalori/hari, 6 bulan selanjutnya 500 kalori, dan tahun kedua 400 kalori. Dalam menu sehari-hari ditambah makanan yang merangsang produksi ASI seperti daun katuk dan daup pepaya. Karena jumlah cairan lebih banyak, ibu menyusui dianjurkan minum 8-12 gelas sehari.

o Istirahat dan tidur cukup.

o Obat-obatan. Pemakaiannya dalam masa laktasi akan dibahas kemudian.

o Posisi ibu/bayi yang benar saat menyusui dapat dicapai bila bayi menyusui dengan tenang, menempel betul pada ibu. Mulut dan dagu bayi menempel betul pada payudara dan mulut membuka lebar sehingga sebagian besar areola tertutup mulut bayi, ASI diisap pelan-pelan dengan kuat. Puting susu ibu tidak terasa sakit dan puting dengan lengan bayi berada pada satu garis lurus.

o Penilaian kecukupan ASI pada bayi. Bayi sejak lahir sampai usia 4-6 bulan dianggap cukup mendapat ASI bila berat badan lahir pulih kembali setelah bayi berusia 2 minggu, kenaikan berat badan dan tinggi badan sesuai dengan kurva pertumbuhan. Bayi banyak mengompol, sampai 6 kali atau lebih dalam sehari. Tiap menyusu, bayi menyusu dengan kuat, kemudian melemah dan tertidur. Selain itu, payudara ibu terasa lunak setelah menyusui dibanding sebelum disusukan.

o Di luar waktu menyusui jangan berikan dot atau empeng. Berikan ASI dengan sendok bila ibu tidak dapat menyusui bayinya.

o Ibu bekerja. Masalah laktasi pada ibu bekerja akan dibahas kemudian.

o Makanan pendamping ASI hendaknya diberikan mulai usia bayi 4-6 bulan. Bila ibu bekerja, berikan pada jam kerja sehingga ASI dapat tetap diberikan saat ibu di rumah.

o Penyapihan bertahap dengan meningkatkan frekuensi makanan anak dan menurunkan frekuensi pemberian ASI dalam kurun waktu 2-3 bulan.

o Klinik laktasi. Pusat pelayanan kesehatan ibu dan anak harus memiliki pelayanan yang dapat meyakinkan bahwa setiap ibu menyusui selalu dapat berkonsultasi untuk setiap masalah laktasi yang dialami. Untuk itu, perlu diadakan klinik laktasi atau tenaga terlatih untuk membantunya pada sarana pelayanan kesehatan yang terdekat.

o Perlu dibina kelompok pendukung ASI di lingkungan masyarakat yang dapat menjadi sarana pendukung ibu agar dapat menyusui bayinya dengan baik, dibantu oleh tenaga kesehatan.

 

Masalah dalam Laktasi

Payudara Bengkak (Engorgement)

Payudara terasa lebih penuh/tegang dan nyeri sekitar hari ketiga atau keempat sesudah melahirkan akibat stasis di vena dan pembuluh limfe, tanda bahwa ASI mulai banyak disekresi. Sering terjadi pada payudara yang elastisitasnya kurang. Bila tidak dikeluarkan, ASI menumpuk dalam payudara sehingga areola menjadi lebih menonjol, puting lebih datar dan sukar diisap bayi. Kulit payudara nampak lebih merah mengkilat, ibu demam, dan payudara terasa nyeri sekali.

 

Untuk pencegahan, susukan bayi segera setelah lahir bila memungkinkan tanpa dijadwal (on demand). Keluarkan ASI dengan tangan/pompa bila produksi melebihi kebutuhan bayi. Lakukan perawatan payudara pascapersalinan secara teratur. Keluarkan sedikit ASI sebelum menyusui agar payudara lebih lembek sehingga puting lebih mudah ditangkap/diisap bayi. Untuk mengurangi rasa sakit pada payudara, berikan kompres dingin. Agar bayi mudah dalam mengisap/menangkap puting susu, sebelum menyusui berikan kompres hangat kira-kira 5 menit kemudian lakukan masase dari tepi ke arah puting hingga ASI keluar. Setelah itu, baru susukan bayi. Jangan berhenti menyusui dalam keadaan ini. Untuk mengurangi peningkatan peredaran darah dan terjadinya stasis di vena dan pembuluh limfe dalam payudara, lakukan pengurutan (masase) payudara, dimulai dari puting ke arah korpus.

 

Kelainan Puting Susu

o Puting susu datar. Bila areola dijepit antara jari telunjuk dan ibu jari di belakang puting susu, puting normal akan menonjol ke luar. Bila tidak, berarti puting datar. Saat laktasi puting menjadi lebih tegang/menonjol karena rangsang bayi menyebabkan otot polos puting berkontraksi. Namun, puting masih sulit ditangkap/diisap oleh mulut bayi.

o Puting susu terpendam dan puting susu tertarik ke dalam. Dapat terjadi pada tumor dan penyempitan saluran air susu. Kelainan ini seharusnya diketahui sejak hamil/sebelumnya sehingga dapat diperbaiki dengan gerakan menurut Hoffman, yaitu dengan meletakkan kedua jari telunjuk/ibu jari di areola mammae kemudian diurut (masase) ke arah berlawanan. Perawatan payudara pranatal dilakukan secara teratur. Bila tidak dapat dikoreksi, ASI dikeluarkan dengan manual/pompa, kemudian diberikan dengan sendok/gelas/pipet.

 

Puting Susu Nyeri (Sore Nipple) dan Lecet (Cracked Nipple)

Penyebabnya adalah:

o Puting tidak masuk ke mulut bayi sampai areola.

o Iritasi akibat membersihkan puting dengan sabun, lotion, krim, alkohol, dll.

o Bayi dengan tali lidah (frenulum linguae) pendek sehingga sulit mengisap sampai areola, hanya sampai puting.

o Menghentikan menyusu (mengisap) kurang hati-hati.

Dapat sembuh bila teknik menyusui benar, yaitu bibir bayi menutup areola sehingga tidak nampak dari luar, puting di atas lidah bayi, dan areola di antara gusi atas dan bawah.

 

Sebagai penatalaksanaan, jangan membersihkan puting susu dengan sabun, alkohol, lotion, krim, dan obat-obat iritan lainnya. Setelah selesai menyusu, lepaskan isapan bayi dengan menekan dagu bayi atau pijit hidungnya atau masukkan jari kelingking ibu yang bersih ke mulut bayi. Tetap menyusui bayi mulai dari puting yang tidak sakit. Hindari tekanan lokal pada puting dengan cara mengubah-ubah posisi menyusui. Untuk puting yang sakit, kurangi frekuensi dan lama menyusui. Sebelum diisap, puting yang lecet diolesi es untuk mengurangi rasa sakit. Untuk menghindari payudara bengkak, ASI dikeluarkan dengan manual kemudian diberikan dengan sendok, gelas, atau pipet.

 

Bila dengan tindakan tersebut puting tetap nyeri, cari sebab lain, misalnya moniliasis. Puting susu lecet akan memudahkan infeksi payudara (mastitis).

 

Saluran Air Susu Tersumbat (Obstructive Duct)

Terjadi sumbatan pada satu/lebih saluran air susu yang dapat disebabkan tekanan jari waktu menyusui, pemakaian BH terlalu ketat, maupun komplikasi payudara bengkak yang berlanjut sehingga ASI dalam saluran air susu tidak segera dikeluarkan dan menjadi sumbatan.

 

Hal ini diatasi dengan perawatan payudara pascapersalinan secara teratur dan gunakan BH yang menopang payudara, bukan menekan. Keluarkan ASI dengan manual/pompa setiap selesai menyusui bila payudara masih terasa penuh. Berikan kompres hangat pada payudara sebelum menyusui untuk mempermudah bayi mengisap puting susu. Berikan kompres dingin sesudah menyusui untuk mengurangi rasa sakit/bengkak.

 

Radang Payudara (Mastitis)

Timbul reaksi sistemik seperti demam, terjadi 1-3 minggu setelah melahirkan sebagai komplikasi sumbatan saluran air susu. Biasanya diawali dengan puting susu lecet/luka. Gejala yang bisa diamati: kulit lebih merah, payudara lebih keras serta nyeri dan berbenjol-benjol.

 

Pada kasus ini, usahakan ibu tetap menyusui bayi agar tidak terjadi stasis dalam payudara yang dapat berkomplikasi menjadi abses. Berikan antibiotika dan analgesik serta banyak minum dan istirahat. Lakukan senam laktasi, yaitu menggerakkan lengan secara berputar sehingga sendi bahu ikut bergerak ke arah yang sama guna membantu memperlancar peredaran darah dan limfe di payudara.

 

Abses Payudara

Terjadi sebagai komplikasi mastitis akibat meluasnya peradangan. Sakit ibu tampak lebih parah, payudara lebih merah mengkilat, benjolan tidak sekeras mastitis, tapi lebih penuh/bengkak berisi cairan.

 

Kasus ini perlu dirujuk ke dokter ahli. Mungkin perlu dilakukan insisi untuk drainase, pemberian antibiotik dosis tinggi dan analgesik. Ibu dianjurkan banyak minum dan istirahat. Bayi dihentikan menyusui untuk sementara pada payudara yang sakit dan setelah sembuh dapat disusukan kembali. Tetapi, bayi tetap menyusui tanpa dijadwal pada payudara yang sehat.

 

Air Susu lbu Kurang

Menilai kecukupan ASI bukan dari seringnya bayi menangis, ingin selalu menyusu pada ibunya, atau payudara yang terasa kosong/lembek meski produksi ASI cukup lancar, melainkan dari kenaikan berat badan bayi. Bila gizi ibu cukup, cara menyusui benar, percaya diri akan kemauan dan kemampuan menyusui bayinya, serta tidak memiliki kelainan payudara, pada 4-6 bulan pertama usia bayi akan terjadi kenaikan berat badan yang baik. Hal ini dapat dipantau dengan melihat KMS bayi. Kenaikan berat badan yang tidak sesuai biasanya karena jumlah ASI tidak cukup sehingga perlu tambahan sumber gizi lain.

 

Bayi Bingung Puting

Terjadi karena bayi diberi susu formula dalam botol bergantian dengan menyusu pada ibu. Mekanisme menyusu dan minum dari botol sangat berlainan. Bayi yang minum susu botol tidak perlu berusaha keras karena susu dapat terus keluar tanpa diisap. Oleh sebab itu, bayi yang terbiasa minum susu botol sulit/enggan menyusu dari ibunya.

 

Tanda bingung puting adalah bayi mengisap puting seperti mengisap dot, terputus-putus/sebentar-sebentar. Bayi dapat pula menolak menyusu ibu.

 

Untuk mencegah bayi bingung puting, usahakan bayi hanya menyusu ibu dengan cara menyusui yang benar, lebih sering dan lama, serta tak terjadwal (on demand). Ibu perlu lebih sabar dan telaten waktu menyusui serta melakukan perawatan payudara pascakelahiran secara sistematis dan teratur.

 

Bayi Enggan Menyusu

Penyebab bayi enggan menyusu:

o Hidung tertutup lendir/ingus karena pilek sehingga sulit mengisap/bernapas.

o Bayi dengan sariawan/moniliasis, nyeri untuk mengisap.

o Terlambat dimulainya menyusu waktu dirumah sakit karena tidak dirawat gabung.

o Ditinggalkan lama karena ibu sakit atau bekerja.

o Bayi bingung puting karena di samping menyusui diberi minuman dalam botol.

o Bayi dengan prelacteal feeding atau mendapat makanan tambahan terlalu dini.

o Teknik menyusui yang salah.

o ASI kurang lancar atau terlalu deras.

o Bayi dengan frenulum linguae (tali lidah) pendek.

Penanggulangan kasus ini adalah dengan mengajarkan ibu cara yang baik untuk membersihkan lubang hidung bayi pilek. Berikan pengobatan bila mulut bayi sariawan/ moniliasis. Selain itu, berikan lebih banyak kesempatan pada ibu untuk merawat bayinya sendiri agar lebih mengenal sifat/cirinya.

 

Jangan memberikan makanan tambahan terlalu dini. Bila ASI terlalu deras, keluarkan sedikit sebelum menyusui, kemudian bayi disusukan dengan posisi tegak/berdiri. Sedangkan, bila kurang lancar, susui bayi lebih sering dan lama (on demand). Waktu menyusui posisi kepala bayi lebih didekatkan pada payudara, tangan ibu menahan kepala bayi agar tetap pada posisinya sehingga ASI dapat keluar lebih sempurna. Pada frenulum linguae pendek dilakukan tindakan operatif.

 

Bayi Sering Menangis

Menangis merupakan cara bayi berkomunikasi sehingga bila seorang bayi menangis, pasti ada sebabnya dan perlu ditolong. Penyebabnya mungkin sekali adalah lapar, kesepian, bosan, popok basah/kotor atau sakit. Delapan puluh persen dari penyebab tersebut dapat ditanggulangi dengan menyusukan bayi dan teknik menyusu yang benar.

 

Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)

BBLR adalah bayi lahir dengan berat badan kurang dari 2500 g tanpa memperhatikan umur kehamilan. Pada BBLR sering ditemui refleks mengisap/menelan lemah, bahkan kadang-kadang tidak ada, bayi cepat lelah, saat menyusu sering tersedak atau malas mengisap, dll.

 

Penanggulangannya adalah dengan memberi dukungan agar ibu mau dan mampu menyusui bayinya. Usahakan agar waktu menyusui singkat (2-3 menit), tetapi sering (tiap 1-2 jam), dan bayi selalu dalam keadaan hangat. Ibu dianjurkan melaksanakan perawat payudara pascakelahiran secara sistematis dan teratur.

 

Kepala bayi ditahan supaya tetap menempel pada payudara. Ambil posisi memegang bola, yaitu memegang kepala bayi dengan salah satu tangan, seluruh badan berada di lengan ibu, kedua kaki bayi menghadap punggung ibu. Waktu menyusui, menahan di bawah dagu akan merangsang bayi untuk mengisap. Sebelum bayi disusui, lakukan pengurutan payudara supaya ASI mengalir. Kalau perlu, bayi dibantu lactaid untuk melatih belajar mengisap dan menelan.

 

Bayi Kembar

Yakinkan ibu ia mampu memproduksi ASI bagi anak kembarnya. Produksi ASI akan lebih banyak karena rangsangan/isapan oleh bayi kembar lebih sering. Bila salah seorang bayi terpaksa ditinggal di rumah sakit, ibu dapat menyusui yang satu dan memompa ASI untuk yang lain. Biasanya salah satu bayi lebih kuat mengisap daripada yang lain sehingga jangan ditentukan satu payudara untuk masing-masing. Agar rangsangan kedua payudara sama, susukan keduanya dari payudara secara bergantian. Bayi dapat disusui bersama atau bergantian. Bila bersama, ibu dapat mengambil posisi memegang bola, kombinasi atau biasa.

 

Posisi kombinasi yaitu satu bayi disusui dengan posisi biasa, sedangkan lainnya dengan posisi memegang bola. Posisi biasa sebaiknya dengan memangku bayi, kepala atau tengkuk berada di siku ibu bagian dalam, lengan menopang punggung dan tangan memegang pantat.

 

Perhatikan agar perut bayi berhadapan dengan perut ibu, kepala/muka bayi menghadap payudara, areola tidak tampak, dagu lebih mendekat payudara, dan bila diisap tidak sakit. Bila bayi terpaksa disusui bergantian, mulai dengan bayi yang lebih kecil.

Ibu perlu mencukupi kebutuhan gizinya agar produksi cukup serta status gizi ibu terpelihara baik.

 

Bayi Sumbing

Susukan bayi dengan sumbing palatum mole dalam posisi bayi tegak/berdiri agar ASI tidak masuk ke dalam hidung. Bila sumbing pada bibir atas, bayi disusukan sambil ibu menutup sumbing dengan jari agar pengisapan sempurna. Bayi dengan sumbing palatum durum dan bibir sulit mengisap puting susu dengan sempurna. ASI dapat dikeluarkan dengan manual/pompa kemudian diberikan dengan sendok/pipet atau botol. Ukuran dot harus lebih panjang dari biasa, yaitu dengan bentuk seperti puting susu sapi atau kambing. Bila sulit diperoleh, dapat digunakan dua dot yang dipasang dan disambung menjadi satu.

 

Ikterus pada Neonatus

Ikterus pada neonatus dapat fisiologis maupun patologis. Ikterus fisiologis terjadi sekitar hari ketiga/keempat sesudah kelahiran dan membaik pada usia 7- 10 hari. Ikterus patologis terjadi pada 24 jam pertama setelah bayi dilahirkan, dapat terjadi karena infeksi atau intoksikasi obat.

 

Ikterus karena ASI umumnya terjadi pada usia bayi 4 hari atau lebih dan dapat berlangsung lama, disebabkan hormon pregnane-3-alfa-20-beta-diol dalam ASI. Bayi dapat tetap sehat, tetapi kadar bilirubin darahnya perlu dipantau.

 

ASI tetap dapat diberikan bila:

a. kadar bilirubin darah bayi kurang atau sama dengan 15 mg/100 ml dalam minggu pertama.

b. kadar bilirubin darah kurang atau sama dengan 18 mg/l00 ml dalam minggu kedua.

c. kadar bilirubin darah kurang atau sama dengan 20 mg/100 ml dalam minggu-minggu selanjutnya.

 

Bila kadar bilirubin lebih dari yang tersebut di atas, pemberian ASI dihentikan sementara (24-36 jam), kemudian bayi disusukan kembali. Selama menyusui dihentikan, ASI tetap dikeluarkan dengan manual/pompa untuk mempertahankan produksinya.

 

Laktasi pada Persalinan dengan Seksio Sesarea

lbu yang mengalami tindakan seksio sesarea tidak mungkin segera dapat menyusui bayinya karena belum sadar akibat pembiusan. Bila keadaan ibu membaik (sadar), penyusuan dini dapat segera dimulai dengan bantuan perawat.

 

Pada seksio sesarea dengan anestesi umum, narkosis yang diterima ibu sampai ke bayi melalui plasenta. Bila keadaan ibu dan anak sudah membaik, dapat di lakukan rawat gabung.

 

Posisi menyusui yang dianjurkan adalah ibu dalam posisi berbaring miring dengan bahu dan kepala yang ditopang bantal. Bayi disusukan dengan kaki ke arah kepala ibu. Bila ibu sudah dapat duduk, bayi ditidurkan di bantal di atas pangkuan ibu dengan posisi kaki bayi mengarah ke belakang ibu di bawah lengan ibu.

 

Laktasi pada Ibu Bekerja

Yang perlu diperhatikan adalah perlunya menjelaskan keuntungan pemberian ASI sebanyak-banyaknya bagi bayi. Nasihati ibu agar selama masa cuti, bayi memperoleh ASI sebanyak-banyaknya.

 

Sewaktu ibu mulai bekerja, nasihati agar selama ibu di rumah, bayi diberi kesempatan menyusu ibu saja. Anjurkan ibu menyusui bayi pada jam bekerja bila ada fasilitas penitipan bayi di lingkungan kerja. Bila terpaksa meninggalkan bayi di rumah, ibu dianjurkan mengeluarkan ASI-nya selama di tempat kerja dengan tangan/pompa untuk menghindari pembengkakan payudara. ASI disimpan di lemari pendingin dan diberikan pada bayi bila mungkin. Sebelum berangkat kerja ibu harus menyusui bayi dengan kedua payudara. Setelah datang di rumah, bayi segera disusui.

 

Masalah Obat dalam Laktasi

Ada beberapa teori mengenai ekskresi obat dalam ASI:

o Molekul yang kecil lebih mudah masuk ke dalam ASI dari pada molekul besar.

o Obat yang larut dalam lemak lebih mudah mencapai ASI daripada yang larut dalam air.

 

Kebanyakan obat diekskresi dalam ASI, tetapi yang dikonsumsi bayi hanya 0,001 -0,5% dari dosis obat yang dapat diberikan pada ibu.

 

Untuk memperkecil risiko akibat ekskresi obat dalam ASI, pilih obat dengan toksisitas rendah, waktu paruh pendek, dan efektif dalam dosis kecil. Ibu hamil/menyusui bila memerlukan obat perlu berkonsultasi kepada dokter (tenaga kesehatan).

 

Obat yang tidak boleh diberikan pada ibu menyusui adalah obat anti kanker, litium, atropin, preparat ergot, mariyuana, obat radioaktif, kloramfenikol, heroin, nikotin, tetrasiklin. Bila obat tersebut sangat diperlukan, pemberian ASI harus dihentikan.

 

Obat tidak mempengaruhi kualitas/komposisi ASI, melainkan kuantitas ASI. Obat yang secara tidak langsung memacu sekresi ASI adalah golongan fenotiazin, misalnya klorpromazin karena menekan sekresi faktor penghambat prolaktin. Meski demikian, belum ada obat yang dapat dipakai dengan aman untuk meningkatkan sekresi ASI. Estrogen menghambat sekresi ASI sehingga obat kontrasepsi yang mengandung estrogen jangan diberikan pada ibu dalam masa laktasi.

 

Oksitosin dapat memacu keluarnya ASI dari kelenjar susu. Preparat oksitosin kadang-kadang diberikan pada ibu dengan sumbatan duktus laktiferus disertai masase payudara ke arah puting susu sementara bayi menyusu.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

IMPORTANT! To be able to proceed, you need to solve the following simple math (so we know that you are a human) :-)

What is 6 + 2 ?
Please leave these two fields as-is: