Menopause

  • Sharebar

Masa yang bermula dari akhir masa reproduksi sampai awal masa senium, yaitu antara 40-65 tahun (45-55). Bila terjadi di bawah 40 tahun disebut klimakterium prekoks. Terbagi atas premenopause (4-5 tahun sebelum menopause, mulai ada keluhan klimakterik), menopause, dan pascamenopause (masa 3-5 tahun setelah menopause).

Manifestasi Klinis (Sindrom Kekurangan Estrogen)

o Pramenopause: perdarahan tidak teratur, seperti oligomenore, polimenore, dan hipermenore.

o Gangguan neurovegetatif gejolak panas (hot flushes), keringat banyak, rasa kedinginan, sakit kepala, desing dalam telinga, tekanan darah yang goyah, bernapas, jari-jari atrofi, gangguan usus (meteorismus).

o Gangguan psikis: mudah tersinggung, depresi, lekas lelah, semangat berkurang, susah tidur.

o Gangguan organik: infark miokard, aterosklerosis, osteoporosis, adipositas, kolpitis, uretrosistitis, disuria, dispareunia, artritis, gejala endokrinium berupa hipertirosis, defeminisasi, virilisasi, dan gangguan libido.

o Gangguan perdarahan

o Sekunder: timbul konflik dalam keluarga, ditempat kerja.

 
Diagnosis
o Umur dan gejala-gejala yang timbul.

o FSH dan LH (FSH= 10-12x/) (LH = 5-10x/), estrogen rendah.

o Kalsium, kolesterol.

o Foto tulang lumbal I.

o Sitologi (pap smear).

o Biopsi endometrium.

 

Penatalaksanaan

o Sedatif, psikofarmaka.

o Psikoterapi.

o Balneoterapi (diet).

o Hormonal. Sindrom klimakterik terjadi akibat kekurangan estrogen maka pengobatan yang tepat adalah pemberian estrogen.

 

Keadaan yang harus diketahui sebelum pemberian estrogen:

o Tekanan darah.

o Hasil pemeriksaan sitologi (pap smear).

o Adanya pembesaran uterus.

o Adanya varises berat di ekstremitas bagian bawah.

o Adanya obesitas.

o Fungsi kelenjar tiroid (BMR).

o Kadar Hb, kolesterol total, HDL, trigliserida, kalsium, fungsi hati.

 

Pemberian Estrogen

Mulailah selalu dengan estrogen lemah (estriol) dan dosis rendah yang efektif, berikan secara siklik, usahakan dikombinasi dengan progesteron. Lakukan pengawasan ketat (setiap 6-12 bulan), bila terjadi perdarahan atopik perlu dilakukan dilatase dan kuretase.

 

Bila terdapat keluhan nyeri dada, hipertensi kronik, hiperlipidemia, dan diabetes melitus, terlebih dahulu konsul ke Bagian Penyakit Dalam. Tidak semua keluhan dapat dihilangkan hanya dengan estrogen. Pelajari pula faktor-faktor yang dapat menimbulkan keluhan, seperti faktor psikis dan sosiobudaya.

 

Cara Pemberian

Ada dua kelompok pasien:

1. Haid masih teratur, tidak teratur (pramenopause), tetapi telah ada keluhan. Termasuk dalam kelompok ini juga pasien yang tidak pernah haid lagi, tetapi pada setiap pemberian estrogen/progesteron terjadi perdarahan.

2. Sudah lama tidak haid, diberikan estrogen/progesteron juga tidak haid. Uterus tidak bereaksi terhadap estrogen/progesteron. Termasuk dalam kelompok ini pasien yang telah diangkat uterusnya..

 

Penatalaksanaan Kelompok 1

Pada kelompok 1 perlu dicapai siklus haid yang bifasik (haid normal).

Ada beberapa cara pemberian:

a. Estrogen pada hari ke-5-30 siklus haid, progesteron pada hari ke 20-30 siklus haid,

b. Pil KB yang mengandung E+P. Setelah beberapa bulan pengobatan dihentikan, lihat apakah haid kembali normal dan keluhan hilang. Hal ini penting untuk memutuskan apakah pengobatan perlu dilanjutkan atau tidak.

 

Penatalaksanaan Kelompok 2

Ada beberapa cara pemberian:

a. Cukup pemberian estrogen saja (terutarna estriol) selama 3 minggu (1 minggu istirahat). Dalam masa istirahat lihat apakah keluhan hilang atau masih ada. Bila keluhan hilang hentikan pengobatan atau turunkan dosis. Bila keluhan tetap terapi diteruskan (dosis dinaikkan).

b. Mengingat estrogen juga mempengaruhi payudara (bahaya keganasan), dianjurkan pemberian progesteron meskipun estrogen yang digunakan lemah.

 

Efek Samping Pemberian Hormonal (Estrogen dan Progesteron) dan Cara Mengatasinya

Tidak perlu takut terhadap efek samping estrogen, selama pengobatan diberikan pula progesteron.

o Perdarahan bercak. Biasanya dosis estrogen rendah, naikkan dosis dengan memberikan 1 atau 2 tablet lagi. Bila dosis progesteron tinggi kurangi.

o Perdarahan banyak (atipik). Perlu dilatasi dan kuretase untuk menyingkirkan keganasan. Bila hasil PA menunjukkan hiperplasia adenomatosa, lanjutkan pengobatan dengan progesteron saja sebanyak 2×50 mg selama 3 bulan. Setelah 3 bulan, lakukan mikrokuretase ulang. Bila sembuh, lanjutkan dengan 3 bulan pemberian terapi sekuensial atau secara kombinasi selama 3 bulan untuk mencegah residif. Setelah itu lakukan mikrokuretase ulang. Bila terjadi kekambuhan, pertimbangkan histerektomi. Perdarahan/ hiperplasia biasanya dihubungkan dengan dosis estrogen yang tinggi.

Cara mudah untuk mengetahui apakah dosis estrogen yang diberikan tinggi adalah dengan memperhatikan keadaan sebagai berikut:

§ Bila pada pemberian E+P terjadi perdarahan, berarti dosis estrogen terlalu tinggi.

§ Bila tidak terjadi perdarahan berarti, dosis estrogen yang diberikan benar.

o Mual. Disebabkan dosis estrogen yang tinggi (pada pemakaian etinilestradiol). Kurangi dosisnya atau berikan setelah makan. Bila keluhan masih ada, coba pemberian pervaginam berupa krim.

o Sakit kepala (migren), nyeri payudara, leukore, peningkatan berat badan. Disebabkan dosis estrogen yang tinggi. Kurangi dosis estrogen. Bila keluhan masih ada, coba pemberian estrogen lemah (estriol). Bila keluhan tidak hilang hentikan pemberian estrogen. Dapat dicoba pemberian pervaginam berupa krim estrogen.

o Pruritus Berat. Hentikan pemberian estrogen.

 

Kontraindikasi Pemberian Estrogen

Tromboemboli, tromboflebitis, penyakit hati, kolelitiasis, sindrom Dubin Johnson/Rotor (gangguan sekresi bilirubin terkonjugasi), riwayat ikterus dalam kehamilan, kanker endometrium, kanker mammae, riwayat gangguan penglihatan, anemia berat, varises berat, dan penyakit ginjal.

 

Faktor Risiko

Adipositas, diabetes melitus, hipertensi, anovulasi (gangguan siklus haid), infertilitas, perokok, alkoholisme, hiperlipidemia.

 

Follow-up

Setiap tahun periksa tekanan darah, lakukan perabaan payudara pemeriksaan ginekologi (pap smear), cek kadar kolesterol trigliserid, dan kalsium. Setiap 3-5 tahun periksa mammografi.

 

Lama Pengobatan

Bila keluban tidak hilang setelah beberapa bulan pengobatan atau setelah dosis dinaikkan, hentikan pengobatan segera. Bila timbul lagi keluhan setelah pengobatan dihentikan, lanjutkan pengobatan. Pengobatan paling lama sampai 8-10 tahun (bila perlu 30-40 tahun).

 

PengobatanTambahan

Hampir semua pasien dengan sindrom klimakterik kehilangan kalsium (osteoporosis), mengalami hiperkolesterolemia (meningkatkan kejadian infark miokardial), serta memiliki risiko terjadi kanker endometrium atau payudara.

 

Pencegahan

Masukan kalsium 1.000- 1.500 mg/hari (1 liter susu/hari), mencegah peningkatan berat badan dengan olah raga (jalan kurang lebih 3 km/hari), kontrol rutin setahun sekali (pap smear), pemberian estrogen. Pemberian estrogen beberapa tahun menurunkan kejadian fraktur 50-60%, mencegah terjadinya penyakit kardiovaskular 45-50%. Pemberian estrogen segera dimulai pada masa perimenopause.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

IMPORTANT! To be able to proceed, you need to solve the following simple math (so we know that you are a human) :-)

What is 2 + 2 ?
Please leave these two fields as-is: