Nifas

  • Sharebar

Definisi

Masa nifas atau masa puerpurium adalah masa setelah partus selesai dan berakhir setelah kira-kira 6 minggu.

 

Perawatan dan Hal-hal yang Terjadi Selama Nifas

Wanita pascapersalinan harus cukup istirahat. Delapan jam pascapersalinan, ibu harus tidur telentang untuk mencegah perdarahan. Sesudah 8 jam, ibu boleh miring ke kiri atau ke kanan untuk mencegah trombosis. Ibu dan bayi ditempatkan pada satu kamar. Pada hari kedua, bila perlu dilakukan latihan senam. Pada hari ketiga umumnya sudah dapat duduk, pada hari keempat berjalan, dan pada hari kelima dapat dipulangkan. Makanan yang diberikan harus bermutu tinggi dan cukup kalori, cukup protein, serta banyak buah.

 

1. Genitalia interna dan eksterna

Alat-alat genitalia interna dan eksterrna akan berangsur pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil, yang disebut involusi.

o Setelah janin dilahirkan, fundus uteri setinggi pusat. Segera setelah plasenta lahir maka tinggi fundus uteri 2 jari bawah pusat. Pada hari ke-5 pascapersalinan, uterus kurang lebih setinggi 7 cm atas simfisis atau setengah simfisis-pusat, sesudah 12 hari uterus tidak dapat diraba lagi di atas simfisis.

o Bagian bekas implantasi plasenta merupakan luka kasar dan menonjol ke dalam kavum uteri yang berdiameter 7,5 cm dan sering disangka sebagai bagian plasenta yang tertinggal. Sesudah 2 minggu, diameternya menjadi 3,5 cm dan pada 6 minggu telah mencapai 2,4 mm.

o Berat uterus gravidus aterm kira-kira 1.000 g. Satu minggu pascapersalinan, menjadi kira-kira 500 g, 2 minggu pascapersalinan 300 g, dan setelah 6 minggu pascapersalinan 40 sampai 60 g (berat uterus normal kira-kira 30 g).

o Serviks agak terbuka seperti corong pada pascapersalinan dan konsistensinya lunak. Segera setelah melahirkan, tangan pemeriksa masih dapat dimasukkan ke dalam kavum uteri, setelah dua jam hanya dapat dimasukkan 2-3 jari, dan setelah satu minggu hanya dapat dimasukkan 1 jari.

o Endometrium mengalami perubahan, yaitu timbulnya trombosis, degenerasi, dan nekrosis di tempat implantasi plasenta.

o Ligamen, diafragma pelvis, serta fasia yang meregang sewaktu kehamilan dan partus berangsur-angsur kembali seperti semula. Ligamentum rotundum dapat mengendor sehingga pada hari ke-2 pascapersalinan harus dilakukan latihan senam. Otot-otot dinding perut akan berinvolusi pada 6-7 minggu pascapersalinan. Dinding vagina yang teregang akan kembali seperti sebelumnya kira-kira setelah tiga minggu.

o Luka jalan lahir, seperti bekas episiotomi yang telah dijahit, luka pada vagina dan serviks yang tidak luas akan sembuh primer. Infeksi dapat timbul dan dapat menyebabkan selulitis dan bila berlanjut dapat menimbulkan sepsis.

 

2. Suhu badan pascapersalinan dapat naik lebih dari 0,5oC dari keadaan normal tapi tidak lebih dari 39oC. Sesudah 12 jam pertama melahirkan, umumnya suhu badan kembali normal. Bila lebih dari 38,0oC, mungkin ada infeksi.

 

3. Nadi umumnya 60-80 denyut per menit dan segera setelah partus dapat terjadi takikardi. Bila terdapat takikardi dan badan tidak panas mungkin ada perdarahan berlebihan atau ada penyakit jantung. Pada masa nifas umumnya denyut nadi lebih labil dibanding suhu badan.

 

4. Hemokonsentrasi dapat terjadi pada hari ke-3 sampai 15 pascapersalinan.

 

5. Laktasi. Kelenjar mammae telah dipersiapkan semenjak kehamilan. Umumnya produksi air susu ibu (ASI) baru terjadi hari kedua atau ketiga pascapersalinan. Pada hari pertama keluar kolostrum, cairan kuning yang lebih kental daripada air susu, mengandung banyak protein albumin, globulin, dan benda-benda kolostrum. Bila bayi, meninggal, laktasi harus dihentikan dengan membalut kedua mammae hingga tertekan atau memberikan bromokriptin hingga hormon laktogenik tertekan. Kesulitan yang dapat terjadi selaina masa laktasi ialah:

o Puting rata. Sejak hamil, ibu dapat menarik-narik puting susu. lbu harus tetap menyusui agar puting selalu sering tertarik.

o Puting lecet. Puting lecet dapat disebabkan cara menyusui atau perawatan payudara yang tidak benar dan infeksi monilia. Penatalaksanaan dengan melakukan teknik menyusui yang benar, puting harus kering saat menyusui, puting diberi lanolin, monilia diterapi, dan menyusui pada payudara yang tidak lecet. Bila lecetnya luas, menyusui ditunda 24-48 jam dan ASI dikeluarkan dengan tangan atau dipompa.

o Payudara bengkak. Payudara bengkak disebabkan pengeluaran ASI tidak lancar karena bayi tidak cukup sering menyusui atau terlalu cepat disapih. Penatalaksanaan dengan menyusui lebih sering, kompres hangat, ASI dikeluarkan dengan pompa, dan pemberian analgesia.

o Mastitis. Payudara tampak edema, kemerahan, dan nyeri yang biasanya terjadi beberapa minggu setelah melahirkan. Penatalaksanaan dengan kompres hangat/dingin, pemberian antibiotik dan analgesia, menyusui tidak dihentikan.

o Abses payudara. Pada payudara dengan abses, ASI dipompa, abses diinsisi, diberikan antibiotik dan analgesia.

o Bayi tidak suka menyusui. Keadaan ini dapat disebabkan pancaran ASI terlalu kuat sehingga mulut bayi terlalu penuh, bingung puting pada bayi yang menyusui diselang-seling dengan susu botol, puting rata dan terlalu kecil, atau bayi mengantuk. Pancaran ASI terlalu kuat diatasi dengan menyusui lebih sering, memijat payudara sebelum menyusui, serta menyusui dengan telentang dengan bayi ditaruh di atas payudara. Pada bayi dengan bingung puting, hindari pemakaian dot botol dan gunakan sendok atau pipet untuk memberikan pengganti ASI. Pada bayi mengantuk yang sudah waktunya diberikan ASI, usahakan agar bayi terbangun.

 

6. Perasaan mulas sesudah partus akibat kontraksi uterus kadang sangat mengganggu selama 2-3 hari pascapersalinan dan biasanya lebih sering pada multipara dibanding primipara. Perasaan mulas lebih terasa saat menyusui, dapat pula timbul bila masih ada sisa selaput ketuban, sisa plasenta, atau gumpalan darah dalain kavum uteri. Pasien dapat diberikan analgesia atau sedatif.

7. Keadaan serviks, uterus, dan adneksa. Bila ada perdarahan, biasanya karena involusi uteri, dapat diberikan tablet ergometrin dan tirah baring untuk menghentikan perdarahan. Bila serviks tampak hiperemis, meradang, ada erosi, dan curiga ke arah keganasan, lakukan pemeriksaan sitologi. Bila tidak ada keganasan, lakukan kauterisasi kimiawi atau elektrik dan dapat juga dengan bedah beku.

 

8. Lokia adalah sekret dari kavum uteri dan vagina dalam masa nifas. Hari pertama dan kedua terdapat lokia rubra atau lokia kruenta, terdiri dari darah segar bercampur sisa selaput ketuban, sel desidua, sisa verniks kaseosa, lanugo, dan mekoneum. Hari berikutnya keluar lokia sanguinolenta berupa darah bercampur lendir. Setelah satu minggu, keluar lokia serosa berwarna kuning dan tidak mengandung darah. Setelah dua minggu keluar lokia alba yang hanya berupa cairan putih. Biasanya lokia berbau agak amis, bila berbau busuk mungkin terjadi lokiostasis (lokia yang tidak lancar keluar) dan infeksi.

 

9. Miksi harus secepatnya dilakukan sendiri. Bila kandung kemih penuh dan tidak bisa miksi sendiri, dilakukan kateterisasi. Bila perlu dipasang dauer catheter atau indwelling catheter untuk mengistirahatkan otot-otot kandung kencing. Dengan melakukan mobilisasi secepatnya, tak jarang kesulitan miksi dapat diatasi.

 

10. Defekasi harus ada dalam 3 hari pascapersalinan. Bila terjadi obstipasi dan timbul koprostase hingga skibala tertimbun di rektum, mungkin terjadi febris. Lakukan klisma atau berikan laksan peroral. Dengan melakukan mobilisasi sedini mungkin, tidak jarang kesulitan defekasi dapat diatasi.

 

11. Latihan senam dapat diberikan mulai hari kedua misalnya:

o Ibu telentang lalu kedua kaki ditekuk, kedua tangan ditaruh di atas dan menekan perut. Lakukan pernafasan dada lalu pernafasan perut

o Dengan posisi yang sama, angkat bokong lalu taruh kembali.

o Kedua kaki diluruskan dan disilangkan, lalu kencangkan otot seperti menahan miksi dan defekasi.

o Duduklah pada kursi, perlahan bungkukkan badan sambil tangan berusaha menyentuh tumit.

 

Ibu diharapkan kembali memeriksakan diri pada 6 minggu pascapersalinan. Pemeriksaan dilakukan untuk melihat keadaaan umum, keadaan payudara dan putingnya, dinding perut apakah ada hernia, keadaan perineum, kandung kemih apakah ada rektokel, tonus otot sfingter ani, dan adanya fluor albus.

 

Kelainan yang dapat ditemukan selama nifas ialah infeksi nifas, perdarahan pascapersalinan, dan eklampsia puerpurale.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

IMPORTANT! To be able to proceed, you need to solve the following simple math (so we know that you are a human) :-)

What is 14 + 8 ?
Please leave these two fields as-is: