Nyeri Kepala Klaster

  • Sharebar

Definisi

Nyeri kepala klaster (cluster headache, sefalgia histaminik, nyeri kepala Horton) adalah nyeri kepala hebat yang periodik dan paroksismal, unilateral, biasanya terlokalisir di orbita, berlangsung singkat (15 menit-2 jam) tanpa gejala prodromal.

 

Patofisiologi

Patofisiologi nyeri kepala klaster yang masih banyak dianut sampai saat ini :

o Nyeri kepala klaster timbul karena vasodilatasi pada salah satu cabang arteri karotid eksterna yang diperantarai oleh histamin intrinsik (teori Horton)

o Serangan klaster merupakan suatu gangguan kondisi fisiologis otak dan struktur yang berkaitan dengannya, yang ditandai oleh disfungsi hipotalamus yang menyebabkan kelainan kronobiologis dan fungsi otonom. Ini menimbulkan defisiensi autoregulasi dari vasomotor dan gangguan respons kemoreseptor pada korpus karotikus terhadap kadar oksigen yang turun. Pada kondisi ini, serangan dapat dipicu oleh kadar oksigen yang terus menurun. Batang otak yang terlibat adalah setinggi pons dan medula oblon­gata serta nervus V, VII, IX, dan X. Perubahan pembuluh darah diperantarai oleh beberapa macam neuropeptida (substansia P, dll) terutama pada sinus kavernosus (teori Lee Kudrow, 1983)

 

Manifestasi Klinis

Nyeri kepala ini timbul secara berkelompok, setiap hari selama 3 minggu – 3 bulan, kemudian sembuh sampai berbulan atau bertahun-tahun. Nyeri bersifat tajam, menjemukan, dan menusuk serta diikuti oleh mual atau muntah. Nyeri kepala sering terjadi pada larut malam atau pagi hari dini hari sehingga membangunkan pasien dari tidurnya. Beberapa pasien mengalami wajah merah, sindrom Horner, hidung tersumbat, atau mata berair ipsilateral dari nyeri kepala. Laki-laki 5 kali lebih banyak terkena daripada wanita, dan kebanyakan pasien menderita serangan pertama pada usia 20-40 tahun. Pemicu nyeri kepala antara lain minum alkohol.

 

Penatalaksanaan

1. Ergotamin 2 x 1 mg atau 2 mg sebelum tidur berhasil pada beberapa kasus.

2. Metisergid. Sekitar 50-80% pasien membaik dengan obat ini, 4-8 mg sehari dalam dosis terbagi. Maksimum pemberian selama 3 bulan dengan memperhatikan efek sampingnya.

3. Siproheptadin. Jika metisergid tidak efektif, kontraindikatif atau tidak tersedia, maka siproheptadin 8-16 mg sehari dalam dosis terbagi, dapat diberikan.

4. Propanolol 40-160 mg sehari dalam dosis terbagi

5. Prednison 20-40 mg sehari, diikuti oleh penurunan bertahap untuk yang nyeri kepala klaster yang refrakter terhadap pengobatan.

6. Litium karbonat, 300 mg, 3-4 kali sehari bila metisergid tidak efektif, tetapi pemakaian obat ini menimbulkan efek toksik.

7. Inhalasi oksigen, 7 liter/menit selama 10 menit, dapat menghilangkan serangan akut pada 80% nyeri kepala klaster.

8. Dihidroergotamin intravena untuk menghilangkan serangan akut.

9. Indometasin, 25-50 mg, 3 kali sehari dapat efektif pada beberapa kasus

10. Kodein, 30-60 mg, 3-4 kali sehari untuk menghilangkan gejala nyeri kepala klaster

11. Penyekat kalsium seperti verapamil 80 mg, 3 kali sehari per oral, bermanfaat pada beberapa kasus.

12. Lidokain topikal 4 % diberikan 1 ml intranasal dapat menghilangkan nyeri kepala klaster pada beberapa pasien.

13. Desensitisasi histamin untuk kasus yang refrakter terhadap pengobatan, dilakukan 5-6 kali.

14. Tindakan bedah hanya diindikasikan pada kasus kasus yang refrakter terhadap semua pengobatan di atas.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

IMPORTANT! To be able to proceed, you need to solve the following simple math (so we know that you are a human) :-)

What is 8 + 9 ?
Please leave these two fields as-is: