Nyeri Kepala Pasca-Trauma

  • Sharebar

Pasien dengan nyeri kepala pasca-trauma sering membingungkan dokter yang menanganinya, sebab seringkali terjadi pasien dengan riwayat trauma kepala berat tidak mengeluh nyeri kepala sama sekali, sedangkan pasien dengan trauma kepala ringan mengeluh nyeri kepala hebat. Adalah penting untuk membedakan nyeri kepala pasca-trauma akut, nyeri kepala pasca-trauma kronis dan sindrom pasca-komosio.

 

Kriteria nyeri kepala pasca-trauma menurut komisi klasifikasi International Headache Society adalah bila terdapat riwayat trauma kepala yang jelas yang disertai minimal salah satu berikut ini:

o Kehilangan kesadaran

o Amnesia pasca-trauma yang berlangsung lebih dari 10 menit

o Kelainan ditemukan minimal dua dari hasil pemeriksaan berikut ini: pemeriksaan neurologis klinis, foto rontgen polos kepala, neuroimajing, potensial cetusan, cairan serebrospinal, tes fungsi vestibular, pemeriksaan neuropsikologis.

 

Manifestasi Klinis

Nyeri kepala pasca-trauma akut bila mula timbulnya nyeri kepala kurang dari 14 hari sejak sadar kembali (atau setelah trauma, jika tidak ada kehilangan kesadaran), dan hilangnya nyeri kepala dalam 8 minggu setelah sadar kembali (atau setelah trauma). Sedangkan nyeri kepala pasca-trauma kronis bila mula timbulnya lebih dari 14 hari setelah kejadian dan berlangsung terus lebih dari 8 minggu. Sindrom pasca komosio biasanya terdiri dari berbagai keluhan subyektif antara lain nyeri kepala, pusing, iritabel, kurang konsentrasi, mudah lelah, fotofobia, dan tidak tahan minum alkohol. Tanda obyektif yang dapat ditemukan adalah nistagmus. Sindrom ini biasanya sembuh spontan tetapi dapat berlangsung sampai bertahun-tahun. Penyebabnya sebagian besar psikogenik yaitu respons patofisiologis atau psikologis terhadap trauma terutama pada individu dengan premorbid neurotik atau emosi yang tidak stabil.

 

Manifestasi nyeri kepala pasca-trauma dapat berupa jenis tegang, migren, neuralgia oksipital, atau sefalgia disotonomik traumatik. Yang paling sering ditemukan adalah nyeri kepala tipe tegang yang bersifat terus menerus, nyeri seperti memakai ikat kepala yang terlalu kencang atau memakai topi baja yang kekecilan, tanpa adanya gejala neurologis yang obyektif, dapat disertai keluhan lain berupa vertigo, kepala ringan, sempoyongan, kecemasan, letih-lesu-lemah. Umumnya pasien yang menderita kelainan ini memiliki kepribadian hipokondriasis, depresi, histeria, atau skizofrenia. Nyeri kepala pasca-trauma tipe lainnya umumnya jarang dijumpai dan tidak berbeda jauh dengan yang non traumatik. Karena trauma leher juga dapat memicu nyeri kepala tipe tegang maka harus diperiksa apakah terdapat gangguan servikal (otot, ligamen, tulang), penyakit diskus atau spondilosis yang sudah ada sebelumnya. Meskipun demikian, setiap pasien yang menderita nyeri kepala pasca-trauma kepala atau leher harus menjalani pemeriksaan fisis neurologis yang lengkap dan bila perlu dilakukan pemeriksaan foto servikal dan neuroimajing (CT Scan atau resonansi magnetik)

 
Penatalaksanaan
o Pengobatan umumnya sama seperti nyeri kepala atau leher nontraumatik berupa analgetik nonnarkotik, relaksan otot, anticemas, antidepresan atau antimigren sesuai tipe nyeri kepalanya.

o Biofeedback dan terapi fisik seperti TENS (transcutaneous electric nerve stimulator) dapat membantu mempercepat penyembuhan. Kolar leher bermanfaat pada kasus nyeri servikal.

o Injeksi anestesi lokal pada titik-titik nyeri dapat membantu mempercepat penyembuhan.

o Psikoterapi dapat membantu pada kasus-kasus yang kronis dan berat.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

IMPORTANT! To be able to proceed, you need to solve the following simple math (so we know that you are a human) :-)

What is 13 + 13 ?
Please leave these two fields as-is: